IRDA FIRDALITHA, A.Md. Keb.
WORKSHOP HIDROPONIK
2022
2
Tujuan Pembelajaran
Apa Pengertian Hidroponik?
Hidroponik
Inggris: hydroponic berasal dari kata Yunani
hydro yang berarti air
ponos yang artinya daya atau kerja
Secara keseluruhan Hidroponik dapat diartikan sebagai cara/sistem penanaman yang menggunakan media
tanam selain “tanah”
Beberapa Cara/Sistem Penanaman
• Geoponic
Cara/sistem bertanam konvensional dengan menggunakan media tanah seperti yang kita kenal selama ini (sawah, ladang, pekarangan dll)
• Hydroponic
Cara/sistem penanaman yang menggunakan media tanam selain
“tanah”. Hanya menggunakan larutan bernutrisi atau menggunakan substrat/media selain tanah
• Aquaponic
Cara/sistem bertanam secara hidroponik yang digabungkan dengan pemeliharaan ikan di kolam/aquarium dengan cara sirkulasi air kolam untuk suplai nutrisi tanaman hidroponik
• Aeroponic
Cara/sistem bertanam hidroponik dengan pengkabutan nutrisi langsung pada daerah perakaran tanaman tanpa menggunakan media tanam
4
Beberapa Alasan ber-hidroponik
Hemat 90% penggunaan air
Dapat diusahakan di berbagai tempat
Dapat diusahakan sepanjang tahun tanpa tergantung musim
Terhindar dari segala penyakit yang bersumber dari tanah (soil borne diseases), lebih bersih dan higienis.
Pemeliharaan lebih mudah, dapat terkontrol dengan baik,
Masa tanam lebih cepat panen
Tanpa Pestisida & Insektisida
HIDROPONIK VS KONVENSIONAL
Bekerja secara bersih, semua dalam keadaan steril
Nutrisi yang diberikan ke tanaman lebih efisien
Nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhkan tanaman, karena tidak ada zat lain
yang mungkin dapat bereaksi dengan nutrient
Tanaman bebas gulma
Bekerja tidak bersih, tidak dalam keadaan steril
Nutrisi yang diberikan ke tanaman kurang efisien
Nutrisi yang diberikan
dapat bereaksi dengan zat yang mungkin ada dalam tanah (karena tanah tidak steril)
Gulma sering tumbuh ditanah
6
Tanaman lebih jarang terkena hama dan penyakit
Pertumbuhan tanaman lebih terkontrol
Tanaman sayuran dapat
berproduksi dengan kuantitas dan kualitas yang tinggi
Lahan yang dibutuhkan sempit
Tanaman lebih sering terserang penyakit
Pertumbuhan tanaman kurang terkontrol
Kuantitas dan kualitas produksi tanaman kurang tinggi
Lahan yang dibutuhkan luas
HIDROPONIK VS KONVENSIONAL
Tanaman yang Bisa Dibudidayakan
8
Jenis Sayuran
Jenis Herbal
10
Jenis Buah-Buahan
6 SYSTEM HIDROPONIK
12
WICK SYSTEM
Sistem Wick adalah sistem yang paling sederhana Disebut juga sistem pasif dengan kondisi air
menggenang, yang berarti tidak ada bagian yang bergerak. Larutan nutrisi ditarik ke dalam media tumbuh dari wadah nutrisi dengan sumbu, biasanya sumbu yang digunakan berupa kain flanel atau jenis bahan lain yang mudah menyerap air.
Wick System
Berbagi media dapat digunakan dalam Sistem wick, sekam bakar, rockwool, perlite/vermikulit, atau dapat pula menggunakan hidroton juga zeolit.
Kelemahan terbesar dari sistem ini adalah jika tanaman besar dan menggunakan air lebih banyak dari daya serap sumbu.
Sedangkan dalam prosesnya meliputi, semai, pindah tanam ke sistem wick, perawatan dan panen
14
Contoh WICK SYSTEM
NFT SYSTEM
Prinsip dari system ini adalah tanaman tumbuh pada lapisan nutrisi yang dangkal dan tersirkulasi sehingga tanaman dapat memperoleh cukup air, nutrisi dan oksigen.
16
Contoh NFT SYSTEM
Sumber gambar :www.agroniaga.com
DFT SYSTEM
18
FLOATING RAFT SYSTEM (RAKIT APUNG)
Tanaman ditancapkan pada lubang styrofoam
yang mengapung diatas permukaaan larutan
nutrisi dalam suatu bak penampung atau
kolam sehingga akar tanaman terapung atau
terendam dalam larutan nutrisi
Contoh Floating Raft
Sumber gambar:
www.syndicatehomeandgarden.com 20
DRIP SYSTEM/FERTIGASI
Nutrisi diberikan dengan cara meneteskan air dan nutrisi secara terus menerus.
Pemberian nutrisi diarahkan langsung ke
daerah perakaran tanaman sehingga nutrisi
dapat segera terserap oleh tanaman.
Contoh Drip System/Fertigasi
Sumber gambar :sdhydroponics.com
22
EBB & FLOW SYSTEM (Flood and Drain)
Sistem EBB & Flow ( sistem pasang surut ) ini merupakan salah satu alat hidroponik yang unik karena prinsip kerjanya yaitu tanaman mendapatkan air, oksigen dan nutrisi melalui pompaan dari bak penampung yang dipompa melewati media kemudian membasahi akar tanaman (pasang), kemudian selang beberapa waktu air bersama nutrisi akan turun (surut) kembali melewati media menuju bak penampungan
Contoh EBB & FLOW SYSTEM
Sumber gambar :
www.syndicatehomeandgarden.com 24
AEOROPONICS SYSTEM
Air dan nutrisi yang akan diserap tanaman
diberikan dalam bentuk butiran kecil atau
kabut. Pengkabutan ini berasal dari pompa
dari bak penampungan yang disemprotkan
menggunakan nozzel sehingga nutrisi yang
diberikan akan lebih cepat terserap akar
tanaman.
Aeoroponics System
Penyemprotan dilakukan berdasarkan durasi waktu yang diatur menggunakan timer.
Penyemprotan dilakukan ke bagian akar tanaman yang sengaja digantung. Air dan nutrisi yang telah disemprot akan masuk menuju bak penampungan untuk disemprotkan kembali
26
CONTOH AEROPONICS SYSTEM
Sumber Gambar : www.flairform.com
Dan Google
Media tanam dalam Hydroponic
Media Tanam Hidroponik dibedakan menjadi media organik & non organik
1. Media Tanam Organik
Terbuat dari bahan-bahan organik dari lingkungan sekitar, diantaranya : Arang sekam, serbuk gergaji, sabut kelapa, akar pakis, arang, gambut dll
28
Media Tanam Organik
Sekam bakar
dibuat dari ampas / sekam padi yang dibakar
Cocopeat
dibuat dari serabut kelapa yang sudah melalui proses perendaman beberapa waktu untuk mengurangi kadar tanin di dalamnya.
Akar pakis
Berasal akar pakis yang dicacah halus
Serbuk gergaji
Berasal dari serbuk hasil gergajian kayu
Kelebihan Media Tanam Organik
Dapat menyimpan air dan nutrisi tinggi,
Baik bagi perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat (mikroriza dll),
Kemampuan menyangga pH tinggi,
Porus (aerasi optimal), sehingga akar mudah berkembang,
Banyak digunakan pada sistem drip irigasi,
Bobot ringan.
30
Kekurangan Media Tanam Organik
Kelembaban media cukup tinggi (jamur, bakteri, mudah berkembang biak),
Sterilitas media sulit dijamin,
Tidak permanen, hanya dapat digunakan beberapa kali, secara rutin harus diganti.
Mensterilkan Media Tanam Organik
Cuci bersih
Penggunaan tawas
Penggunaan cairan desinfektan
32
Media tanam dalam Hydroponic
2. Media Tanam AnOrganik
Terbuat dari bahan-bahan anorganik dari
lingkungan sekitar ( diantaranya :
Rockwool ,Hidroton, Perlite, zeolit,
kerikil, pasir)
Media Tanam AnOrganik
1.
Rockwool
Dibuat dari batu apung yang dipanaskan dan dibentuk serat serta wafer dengan spesifikasi khusus untuk tanaman sayuran maupun tanaman hias. Rockwoll memiliki kemampuan menahan air dan udara dalam jumlah banyak baik untuk mendukung perkembangan akar tanaman.
34
Media Tanam AnOrganik
2. Hidroton
Merupakan produk dari tanah liat, yang di proses melalui pemanasan dengan suhu tinggi lebih dari 1000 derajat Celcius, produk ini sangat populer di kalangan petani hidroponik di Jerman.
Hydroton memiliki pori2 kecil, seperti spons, sangat baik dalam masalah kelebihan air untuk mencegah overwatering.
Hydroton sangat inert, atau tidak memiliki kandungan
35
Media Tanam AnOrganik
3. Perlite
Merupakan kaca vulkanik amorf yang memiliki kandungan air yang relative tinggi, biasanya dibentuk oleh hidrasi obsidian, yang dimana cocok untuk untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dari bijinya
36
4. Zeolit
zeolit dibedakan menjadi dua jenis yaitu zeolit sintesis dan zeolit alam.
Zeolit sintesis adalah jenis material yang dibuat dengan rekayasa ilmiah melalui tahapan-tahapan prosedur yang cukup rumit dengan menggunakan bahan alumina, silika dan phosphat serta bahan tambahan yang lain.
Zeolit alam merupakan jenis mineral
zeolit yang diperoleh langsung dari 37
Media Tanam AnOrganik
38
Media Tanam AnOrganik
5. Kerikil
Penggunaan kerikil cukup baik untuk pertumbuhan akar karena terdapat ruang – ruang yang luas.
Biasanya digunakan untuk aliran air
sehingga dapat mengalir ke akar
tanaman hidroponik NFT.
Media Tanam AnOrganik
5. Pasir
Kelebihan media tanam menggunakan pasir, yaitu mudah untuk digunakan serta bisa meningkatkan sistem aerasi dan juga drainase media tumbuh.
mensterilkan pasir:
Ayak pasir
Bersihkan dgn air mengalir
Rebus
Sangrai sampai kering
Ciri-ciri pasir kering atau bisa dibilang sudah steril, yaitu apabila sudah terjadi perubahan warna pasir menjadi putih kering dari awalnya basah karena proses perebusan.
Kelebihan Media Tanam anOrganik
Permanen, dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama,
Porus, aerasi optimal,
Cepat meloloskan air, media tidak terlalu lembab,
Sterilitasnya lebih terjamin,
Jarang digunakan sebagai inang bagi jamur, bakteri, dan virus.
40
Kekurangan Media Tanam anOrganik
Bukan media yang baik bagi perkembangan mirco organisme bermanfaat seperti Mikoriza,
Bobot berat, karena umumnya berupa batuan,
Terlalu cepat mengalurkan air,
Kurang baik bagi perkembangan sistem perakaran
Peralatan Untuk Ber-Hidroponik
42
Peralatan Untuk Ber-Hidroponik
Contoh Hidroponik Sederhana
44
A + B mix
Makro:
Nitrogen (N)
Phospat (P)
Kalium (K)
Calsium (Ca)
Magnesium (Mg)
Sulpur (S)
Mikro:
Besi/Iron (Fe)
Mangan (Mn)
Boron(B)
Seng/Zing (Zn)
Molibdenum (Mo)
Nutrisi Hydroscopic
Mensistensi asam amino dlm pembentukan protein, klorofil, enzim. Di dalam jaringan sel daun & perkembangan batang.
Tanaman kerdil, daun berwarna hijau muda kekuningan lalu mengering.
N
Nitrogen
P
Phospho r
Merangsang pertumbuhan akar, pada
sayuran buah, akan memacu fase vegetative ke generative.
Warna daun tua, tepi daun , cabang serta batang berwarna ungu yg lambat laut ber- warna menguning.
Mengatur unsur-unsur mineral yang di- butuhkan tanaman.
Daun mengerut / keriting terutaman daun tua lalu mati. Buah tumbuh tak sempurna, kecil, mutu jelek & tak tahan simpan.
K Kalium
Merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar, mengeraskan batang tanaman,
pembentukan biji.
Tepi daun klorosis dan lambat laun menjalar kebatang, perakaran tak sempurna.
Mg Magnesi
um Ca
Calcium
Pembentukan krolofil , karbohidrat, lemak dan minyak-minyak.
Daun tanpak pucat dan kering, terdapat bercak-bercak kecoklatan pada daun.
Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar dan anakan.
Warna daun hijau muda dan tak merata, agak keputihan , berubah kuning kehiijauan.
Tanaman tumbuh lambat, kerdil, batang pendek & kurus.
S Sulfur
Defesiensi (Gejala
Kekurangan)
Fungsi Mineral
Unsur Makro:
46
Mineral Fungsi Defesiensi (Gejala Kekurangan)
Fe
Iron/besi
Diperlukan untuk sistesis klorofil, pem- bentukan protein, klorofil dan enzim
Daun muda berwarna kekuningan lalu ber- guguran, mati mulai dari pucuk.
Mn Mangan
Mendukung daya serap nitrogen dari tanaman.
Pertumbuhan tanaman lambat sehingga tampak kerdil.
Membentuk hormon tumbuh. Terdapat bercak kekuningan pada daun, daun pun berlubang, mengering, lalu mati.
Cu
Cure/tembaga
Mendorong terbentuknya hijau daun &
bahan utama dalam pembentukan enzim.
Ujung daun tumbuh tak merata,sering di- temukan layu, terkadang klorosis.
B Boron
Meningkatkan mutu tanaman & mem- bantu perkembangan bagian-bagian tanaman yg tubuh aktif.
Batang pecah, daun mengering & lurus, ujungnya kecoklatan, daun baru muncul kerdil, kuncup-kuncupmati & berwarna hitam.
Mo
Molibdenu
Mengikat nitrogen dari udara bebas Daun berubah jadi keriput & akar tanaman mati.
Zn
Zing/seng
Unsur Mikro:
47
48
Perawatan Tanaman Hidroponik
Perawatan Tanaman Hidroponik
50
Panen dan Pasca Panen
Sayuran
Panen dan Pasca Panen
Instalasi/Modu l
52
Praktek Yuk…
Praktek
Yuk…
1. Tahap Pembibitan
1. Potong Rockwool ukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 cm, sebaiknya dipotong
menggunakan gergaji besi. Debu dari potongan rockwool
mengakibatkan gatal.
Tahap Pembibitan
54
2. Basahi rockwool kemudian lubangi tengahnya dengan lidi/tusuk gigi
sedalam 3 mm dan masukkan benih kedalam lubang tersebut.
Setelah selesai tutup dengan
plastik gelap atau simpan dalam
tempat gelap.
Tahap Pembibitan
3. Cek pagi harinya apabila sudah
pecah/sprout segera jemur ke sinar matahari untuk mencegah
etiolasi/kutilang.
Jaga kelembapan benih setiap hari,
jika terlalu kering dapat disemprot
dengan air.
Tahap Pembibitan
4. Sekitar 10-14 hari akan tumbuh 4
daun sejati dan siap pindah ke system dengan menggunakan netpot.
56
2. Tahap Penanaman
1. Siapkan terlebih dahulu larutan
pupuk. 5 ml Larutan A + 5 ml larutan B.
Campurkan kedalam 1 liter air.
Banyaknya larutan yang dibuat
disesuaikan dengan
besar wadah yang
digunakan.
Tahap Penanaman
2. Masukkan benih beserta
rockwoolnya ke netpot, untuk
membantu serapan air nutrisi
menggunakan kain flanel
58
3. Tahap Perawatan
1. Setelah ditanam, sayur tersebut
diberikan konsumsi makanan
dengan larutan air bernutrisi dan PH
air yang sudah disesuaikan secara.
Tahap Perawatan
2. Letakkan sayuran
tersebut ditempat yang terkena matahari
langsung , jika
memungkinkan sayuran tersebut terlindung dari hujan . Lakukan
pengecekan tinggi
permukaan air larutan diwadah , jika kurang dapat ditambahkan
larutan yang baru.
604. Tahap Panen
1. Lebih kurang 30 – 40 hari sayuran yang
ditanam sudah dapat dipanen.
2. Cabut tanaman dari pot kecilnya ,
bersihkan pot dari sisa sisa akar sayur dan pot tersebut dapat
digunakan untuk penanaman
61
TERIMAKASIH…
62