BAB I
PENERAPAN MANAJEMEN KURIKULUM
DI MADRASAH IBTIDAIYAH ADABIYAH II PALEMBANG A. Latar Belakang
Dunia Pendidikan Nasional sedang dihadapkan pada masalah yang sangat mendasar, terutama yang berkaitan dengan kurikulum. Di satu sisi, dituntut untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, agar menjadi wahana untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak Mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.1
Tujuan pendidikan Nasional di Indonesia tentu saja yang bersumber pada pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni Pancasila. Sebagai implikasi dari nilai-nilai filsafat pancasila yang dianut bangsa Indonesia, dicerminkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional seperti dalam UU no. 20 tahun 2003, yaitu:
“Pendidikan Nasional berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.(Pasal 2 dan 3). 2
Suatu realitas pendidikan sekarang di negeri ini, dunia pendidikan seakan mencari jati diri yang tepat dan tampakya masih kebingungan dalam mendapatkan
1 Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hlm. 113
2 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 51, ayat 1, hlm. 30
format yang pas untuk mengembangkan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik.
Dampaknya pencarian format ini terkesan menimbulkan masalah baru yang terjadi ditataran praktis pendidikan, dimana anak didik dan pendidik dibuat bingung dengan serangkaian kebijakan pendidikan yang selalu berubah-ubah.
Sebagai salah satu komponen penting pendidikan yang memang harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya agar mampu menempatkan dirinya dengan baik.
Petunjuk yang tepat, arahan yang pas memudahkan anak didik dan pendidik mampu menjalankan proses belajar mengajar dengan baik, dan acuan mampu mengembangkan dan membelajarkan anak didik untuk siap menghadapi kehidupan tentu akan menjadi sesuatu yang diidealkan.3 Manajemen diartikan sebagai sebuah proses yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk mengatur kegiatan-kegiatan melalui orang lain sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang tidak mungkin dilaksanakan satu orang saja.
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Dalam arti khusus menajemen dipakai bagi pimpinan dan kepemimpinan, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan memimpin dalam suatu organisasi. Dengan demikian, manajer ialah orang memimpin atau pemimpin.
3 Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 7
Manajemen adalah kemampuan atau keterampilan seseorang atau kelompok tertentu untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, dalam proses manajemen, kemampuan atau keterampilan seseorang dalam memimpin suatu kegiatan memegang peranan yang sangat penting dalam pencapai tujuan yang dicita- citakan.
Defenisi manajemen kebanyakan menyatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang di dalam pelaksanaannya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menonjolkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain. Dengan demikian terdapat tiga fokus untuk mengartikan manajemen yaitu:
1. Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya menjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan/keterampilan dan teknikal, manusiawi dan konseptual.
2. Manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang sistematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen.
3. Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.4
4 Tim Dosen Administrasi (Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia), Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm .86
Manajemen pendidikan merupakan proses manajemen dalam pelaksanaan tugas pendidikan dengan mendayagunakan segala sumber secara efisiensi untuk mencapai tujuan secara efektif. Manajemen pendidikan adalah suatu penataan bidang garapan pendidikan yang dilakukan melalui aktivitas perencanaan, pengorganisasian, penyususnan staf, pembinaan, pengkoordinasian, pengkomunikasiaan, pemotivasian, penganggaran, pengendalian, pengawasan, penilaian, dan pelaporan secara sistematis untuk mencapai tujuan pendidikan secara berkualitas.5 Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan perkembangan kehidupan peserta didik, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat. Berikut ini adalah manajemen menurut Islam yang dijelakan oleh Al-Qur’an dalam surat al-Isro’ ayat 36 yaitu:
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.6
Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa manajemen dalam pandangan Islam merupakan suatu aktivitas untuk mengelola sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab, yang dilakukan dengan pembagian tugas masing-masing sesuai dengan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
5 Ibid., hlm. 87-88
6 Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Keluarga, (Bandung: Fitrah Rabbani, 2012), hlm. 285
Landasan pengembangan kurikulum tidak hanya dipergunakan bagi para penyusun kurikulum (makro) atau kurikulum tertulis yang sering disebut juga sebagai kurikulum ideal, akan tetapi terutama harus dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para pelaksana kurikulum (mikro) yaitu para guru, kepala sekolah, pengawas pendidikan dan pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas-tugas pengelolaan pendidikan, sebagai bahan untuk dijadikan instrumen dalam melakukan pembinaan terhadap implementasi kurikulum disetiap jenis dan jenjang pendidikan/persekolahan.7
Dengan posisinya yang penting tersebut, maka dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan, dalam melakukan proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga dapat menfasilitasi tercapainya sasaran pendidikan dan pembelajaran secara efektif dan efisiensi.
Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian dari MBS.
Manajemen kurikulum dan program pengajaran mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu level Madrasah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran.
Disamping itu, madrasah juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan
7 Ibid., hlm. 190
setempat.8 Ada beberapa persoalan yang selama ini dihadapi guru dalam pendidikan dan pembelajaran di sekolah di antaranya:
1) Kurikulum yang ada di sekolah hanya dianggap sebagai rambu-rambu mengajar
2) Guru menggunakan kurikulum “taken for granted” (langsung jadi), sehingga
kurikulum bukan kreativitas guru untuk memberikan proses pembelajaran yang terbaik kepada siswa, tetapi sebagai tetib administrasi semata
3) Kepala sekolah tidak memahami kurikulum, sehingga saat ada perubahan dari
kurikulum KBK menuju KTSP tidak perubahan yang signifikan. Yang disebabkan tidak adanya kemandirian sekolah dan diperparah oleh lemahnya sumberdaya manusia.
Padahal tujuan dari KTSP adalah adanya kemandirian guru. Guru merupakan pengembang kurikulum bagi kelasnya, yang akan menterjemahkan, menjabarkan, dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum kepada peserta didik.
Dalam hal ini, tugas guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) akan tetapi lebih dari itu, yaitu membelajarkan anak supaya dapat berfikir integral dan komprehensif, untuk membentuk kompetensi dan mencapai makna tertinggi. Kegiatan tersebut bukan hanya berwujud pembelajaran di kelas tetapi dapat berwujud kepada kegiatan lain, seperti bimbingan belajar kepada peserta didik.
Pengembangan rencana pembelajaran dan pelaksanaan bimbingan, karena isi kurikulum bukan yang hanya dalam mata pelajaran saja, tetapi menjadi tanggung
8 Amilda dkk, Op Cit., hlm. 94
jawab sekolah untuk diberikan kepada peserta didik, seperti kerja keras, disiplin, kebiasaan belajar yang baik, dan jujur dalam belajar.
Seiring dengan hal tersebut, Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang mempunyai kekurangan dan tidak terorganisir pelaksanaan dalam menajemen kurikulum yang mana manajemen kurikulum sangat urgen dalam pendidikan suatu lembaga pendidikan terutama pendidikan Islam. Implementasi manajemen kurikulum yang harus dijalankan agar mata pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuluer dapat memberikan motivasi atau kemajuan terhadap siswa. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi yang semua harus terlaksana tanpa adanya yang tidak terlaksana semua secara sistematik. Guru, kepala sekolah, dan pengawas satuan pendidikan merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan yang terlibat langsung dalam mengembangkan, memantau, dan melaksanakan kurikulum sehingga pembelajaran dapat berjalan lancar dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini dibuktikan dengan guru yang kurang pahamnya dengan pengelolaan manajemen kurikulum, sehingga berdampak pada siswa yang terkadang jenuh dengan mata pelajaran dan tidak ada kegiatan ekstrakurikuler yang bisa menyalurkan bakat, minat, dan potesi siswa di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang. Dengan penjelasan tersebut, jelaslah bahwa manajemen kurikulum sangat menentukan sekali kemana arah yang akan dicapai demi keberhasilan dari suatu lembaga pendidikan Islam.
Dari latar belakang yang telah disampaikan sangat berkaitan erat dengan observasi awal yang telah dilakukan oleh penulis, dimana terdapat beberapa permasalahan yang membuat penulis tertarik untuk meneliti di madrasah tersebut
diantaranya manajemen kurikulum di sekolah yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum MI Adabiyah II Palembang tersebut Rencana pembelajaran yang dipengaruhi oleh kedisiplinan guru, penentuan kalender pendidik, kualitas guru. Hal ini dibuktikan dengan tidak terealisasinya manajemen kurikulum dengan baik dan kurang terkoordinir sehingga kurikulum tidak terealisasi secara penuh. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler tidak berkembang dengan baik yang sangat membantu dalam mengembangkan sesuai kebutuhan, potensi, bakat, dan minat siswa siswi di madrasah tersebut, Sehingga penulis menjadikan hal tersebut sebagai obyek penelitian khususnya manajemen kurikulum dengan menulis skripsi yang berjudul Penerapan Manajemen Kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang?
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang?
3. Bagaimana penerapan manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang?
C. Fokus Masalah
1. Judul lebih pada implementasi manajemen kurikulum yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan evaluasi kurikulum lebih membahas dalam kelas dan kegiatan guru di MI adabiyah II Palembang
2. Penelitian manajemen kurikulum lebih dispesifikan pelaksanaannya dilakukan oleh guru dalam pengelolaan kurikulum. Adapun penelitian penulis tentang RPP dan Silabus mata pelajaran Akidah Akhlak di kelas IV MI Adabiyah II Palembang
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang dicapai penulis dalam penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
b. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
c. Untuk mengetahui implementasi manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
2. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan mempunyai kegunaan baik dari segi teoritis maupun segi praktis sebagai berikut:
a. Kegunaan Teoritis
Dalam penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan. Pengembangan keilmuan Manajemen pendidikan, khususnya dalam mengetahui bagaimana manajemen kurikulum yang baik dan relevan pada masa sekarang.
b. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan lebih lanjut baik bagi peneliti maupun bagi masyarakat mengenai Untuk mengetahui bagaimana Manajemen Kurikulum yang baik dan relevan dengan masa sekarang, sehingga terciptanya mutu pendidikan yang memperioritaskan output yang mampu bersaing dalam lingkup nasional maupun internasional.
E. Kajian Pustaka
Sebagai referensi sebelum menyusun skripsi, berikut ini akan penulis cantumkan beberapa penelitian-penelitian yang terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini. Penelitian-penelitian tersebut antara lain :
Pertama, skripsi yang berjudul “Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 65 Palembang”, oleh Nadiyah Husni (2006), didalam skripsinya di jelaskan bahwa
kurikulum selama ini dirasakan perlu untuk diperbaharui. Materi yang terlalu banyak cenderung menyebabkan siswa terbebani untuk menerima materi tersebut dan pada akhirnya tujuan yang ingin di capai tidak dapat diwujudkan atau mungkin siswa menjadi stres dan bosan untuk belajar, apalagi di tambah dengan pendidik yang kurang kreatif dan inovatif untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi siswa. Menurut Asy Syaibani, ia mengemukakan bahwa:
“Kurikulum Pendidikan Islam Sejak Lama Telah Difungsikan Untuk Membimbing Generasi Dan Bakat-Bakat Mereka. Di samping diarahkan sebagai sarana untuk menciptakan suasana yang sesuai bagi kemajuan umat terutama untuk memenuhi kebutuhan tersedianya para ahli pikir, para pemimpin, teknokrat, pekerja dan para profesional”.
Kedua, skripsi yang berjudul “ Konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam Persfektif Pendidikan Islam”, oleh Nurbaiti (2004), di dalam skripsinya dijelaskan bahwa kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu di desentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang di sesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah dan kondisi daerah.
Hal ini memerlukan kemampuan bagi daerah dalam mengelola dan melaksanakan kurikulum dalam proses pengajaran, karena hal yang utama dalam lembaga pendidikan adalah kurikulum. Hilda Taba mengemukakan bahwa pada hakekatnya tiap kurikulum merupakan suatu cara untuk mempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dalam masyarakat. Jadi, kurikulum
adalah sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan pendidikan.
Ketiga, skripsi ini berjudul Studi Tentang Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam Pembelajaran PAI di Madrasah Aliyah Negeri 1 Semarang, (2011) yang ditulis oleh Imam Shofi’i skripsi ini membahas tentang pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi dalam pembelajaran PAI yang ada di MAN 1 Semarang, serta membahas tentang problematika dan solusi pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi dalam pembelajaran PAI di MAN 1 Semarang. Dalam skripsi yang Imam Shofi'i susun dengan skripsi yang peneliti susun ada perbedaan yaitu, pada pembahasan pelaksanaan KBK, problematika dan solusinya dan manajemen kurikulum PAI relevansinya dengan peningkatan mutu madrasah.
Keempat, skripsi yang berjudul “Kesiapan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Izzudin Palembang Dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Oleh Rika Rahmayani (2006), bahwasanya dalam menerapkan manajemen kurikulum berbasis kompetensi dipengaruhi oleh sistem belajar dengan modul, menggunakan keseluruhan sumber belajar, pengalaman lapangan, strategi belajar individual, kemudahan belajar dan belajar tuntas sehingga manajemen kurikulum di sekolah tersebut berjalan dengan baik.
Kelima, skripsi yang berjudul “ Konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi Pada Mata Pelajaran PAI SLTP” yang ditulis oleh Khoirun Nisa’ (2006), dijelaskan bahwa kurikulum merupakan sumber tolak ukur, kerangka strategis dan materi pendidikan bagi pencapaian tujuan pendidikan yang relevan dengan tuntutan
pembangunan. Sistem kurikulum meliputi tujuan-tujuan institusional, garis-garis besar program pengajaran atau silabus, pedoman guru dan buku pelajaran baku dan strategi belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam pengembangan kurikulum tidak lepas dari komponen utama yaitu tujuan, proses belajar mengajar dan penilaian. Dimana setiap komponen mempunyai hubungan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan sehingga kurikulum disebut sebagai suatu sistem. Tentunya dalam suatu sistem memerlukan langkah-langkah yang mampu mengikat semua komponen agar terlaksana secara sistematis dan terarah.
Keenam, skripsi ini Manajemen Kurikulum Di Taman Pendidikan al- Qur’an Al-Ikkhlash Tempel Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta (2009), di tulis oleh nur lela laluhun hasil pelaksanaan Kurikulum di TPA AL-Ikhlash dapat dilihat melalui ketercapaian standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator dan diwujudkan dalam bentuk huruf dan angka yang tertera dalam raport atau rekapitulasi nilai.
Pada penelitian diatas mengungkapkan berbagai pengembangan kurikulum dan juga problematika dari pelaksanaan dengan kurikulum, selain itu manajemen kuikulum yang membahas hanya kepada komponen kurikulum isi saja. Dalam skripsi yang peneliti teliti ini merupakan suatu rangkaian dari keseluruhan manajemen yang ada di sebuah lembaga pendidikan (madrasah). Manajemen-manajemen yang ada di lembaga pendidikan adalah sebagai suatu bentuk dari upaya peningkatan mutu. Dan yang peneliti teliti dan bahas dalam skripsi ini yaitu tentang manajemen kurikulum.
Sebagai salah satu manajemen yang mempunyai andil dalam meningkatkan mutu
madrasah selain dari manajemen lain yang telah diteliti. Dengan belum adanya secara khusus penelitian Manajemen Kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang, maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian berkenaan dengan manajemen kurikulum.
F. Definisi Operasional
Manajemen dalam bahasa Inggris “to manage” yaitu mengatur dan mengelola.9 Dalam arti khusus bermakna memimpin dan kepemimpinan, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mengelola lembaga atau organisasi yaitu memimpin dan menjalankan kepemimpinan dalam organisasi. Orang yang memimpin organisasi disebut manajer.10 Adapun manajemen secara luas adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber- sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. 11
Kurikulum berasal dari bahasa Latin, yakni curriculae yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Saat itu, kurikulum diartikan sebagai jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Maka, dalam pendidikan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran dan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.12
9 Malayu S.P.Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah (Jakarta: Gunung Agung, 1996), hlm. 1
10 A. M.Kadarman dan Yusuf Udaya, Pengantar Ilmu Manajemen (Jakarta: PT Prenhalindo), hlm. 6
11 Hikmat, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 1
12 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 16-18
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua kenis dan tingkat pendidikan.
Apabila kurikulum diuraiakan secara struktural maka akan terdapat paling tidak ada empat komponen yang lazim disebut dan selalu dipertimbangkan dalam pengembangan tiap kurikulum., yaitu tujuan kurikulum, isi kurikulum, proses belajar mengajar atau strategi pelaksanaan kurikulum, evaluasi atau penilaian”.13
Dari kata manajemen dan kurikulum, maka penulis menyimpulkan manajemen kurikulum adalah suatu proses usaha bersama (kerja sama) dalam suatu organisasi melalui proses yang sistematis dan terkoordinasi yang mengatur dan memperlancar pencapaian tujuan pembelajan secara efektif dan efisien.
G. Kerangka Teori
1. Manajemen dan Kurikum
Kata manajemen selalu dipakai untuk pimpinan suatu organisasi, dan tidak untuk pimpinan keluarga. Jadi untuk dapat mengerti manajemen, terlebih dahulu perlu tahu mengenai organisasi. Manajemen menurut Departemen Agama RI (1998/1999:1) adalah “suatu proses yang direncanakan untuk menjamin kerja sama, partisipasi, dan keterlibatan sejumlah orang dalam mencapai tujuan secara efektif.
13Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum disekolah, (Bandang: Sinar Baru, 1989), hlm. 21
Manajemen mengandung unsur pembimbingan, pengaruh, dan pengarahan sekelompok orang terhadap pencapaian sasaran umum”.14
Menurut M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.15 Menurut Zakiah Drajat memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.16
Menurut Dr. Addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang disitir oleh Al- Syaibani, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.17 Dalam perkembangan selanjutnya pengertian kurikulum tidak hanya terbatas pada program pendidikan namun juga dapat diartikan menurut fungsinya.
Pengertian kurikulum ini nampaknya lebih luas dari pengertian yang pertama, karena di sini kurikulum tidak hanya dipandang dalam artian mata pelajaran, namun juga mencakup seluruh program di dalam kegiatan pendidikan. Dengan memahami kurikulum, para pendidik dapat memilih dan menentukan tujuan pembelajaran,
14 Amilda dkk, Manajemen Pendidikan Islam, (Palembang: Grafika Telindo Press, 2010), hlm. 2-3
15 HM, Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 183
16 Zakiah Drajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 121 17 Oemar Muhammad al-Tourny al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, diterjemahkan, Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 485
metode, teknik, media pengajaran, dan alat evaluasi pengajaran yang sesuia dan tepat.
Untuk itu dalam melakukan kajian terhadap keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh tujuan yang realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik, intensitas pekerjaan yang realistis tinggi dan kurikulum yang tepat guna. Oleh karena itu sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidikan Islam memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya.
2. Manajemen Kurikulum
Manajemen Kurikulum adalah upaya untuk mengurus, mengatur, dan mengelola perangkat mata pelajaran yang akan diajarkan pada lembaga pendidikan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.18
E. Mulyasa menegaskan bahwa manajemen kurikulum yang bisa memprediksi gambaran dan keadaan masyarakat pada 10-20 tahun mendatang dapat meningkatkan relevansinya dengan tuntutan perkembangan kebutuhan masyarakat. Dari segi waktu, pemberian gambaran masyarakat masa depan ini didasarkan pada perkembangan masyarakat masa lampau, kemudian bergerak menuju perkembangan masyarakat masa sekarang.19 Jadi, kesinambungan perkembangan masa lalu dan masa sekarang memiliki kontribusi yang besar dalam memprediksi keadaan masa depan sebab, arah masa depan bisa dideteksi dari kedua masa tersebut. Hal ini relevan juga untuk memprediksi keadaan pendidikan yang akan terjadi di masa depan
18 http://eliadian.blogspot.com/2012/09/pengertian-manajemen-kurikulum.html, diakses pada tanggal 23 april 2013, pada pukul 13.30 WIB
19 Amilda dkk, Op Cit., hlm 96
Dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 39 ayat (2) menyebutkan bahwa:
“Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat (a) pendidikan Pancasila; (b) pendidikan Agama; dan (c) pendidikan kewarganegaraan. Di perguruan tinggi, pendidikan kewarganegaraan dijawantahkan salah satunya melalui mata kuliah pendidikan kewiraan yang diimplementasikan sejak UU No. 2/1989 diberlakukan sampai rezim orde baru runtuh.”20
Manajemen Kurikulum sebagai suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistematik, dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum. Dalam pelaksanaannya, manajemen kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Oleh karena itu, otonomi yang diberikan pada lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengelola kurikulum secara mandiri dengan memprioritaskan kebutuhan dan ketercapaian sasaran dalam visi dan misi lembaga pendidikan atau sekolah tidak mengabaikan kebijaksanaan nasional yang telah ditetapkan.21
Manajemen kurikulum dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi faktor yang mendukung dan faktor yang menghambat terlaksananya manajemen kurikulum di sekolah dengan baik yaitu:
a. Faktor Pendukung 1) Faktor peserta didik 2) Faktor politik 3) Faktor ekonomi
20 Tim ICCE UIN Jakarta, Demokrasi, Hak Asasi Manusia & Masyarakat Madani (Jakarta:
Prenada Media, 2003), hlm. 3
21 Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2009), hlm. 3
4) Faktor perkembangan teknologi b. Faktor Penghambat
a) Tidak ada kesinambungan antara pendidik di sekolah dan pendidik dari kebijakan atas
b) Kurangnya Sarana Prasarana c) Lemah pengawasan guru
d) Kualifikasi guru yang tidak sesuai dengan bidang pelajaran.22
Adapun fungsi dari manajemen kurikulum yaitu, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai tujuan yang maksimal, meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar didik, meningkatkan efektifitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, meningkatkan efesiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum. 23 Selain itu fungsi manajemen bagi kepala sekolah, guru, siswa, masyarakat serta penulis.
H. Metodologi Penelitian
22 Akhmad Sudrajat, Teori Pendidikan dan Kurikulum. [online]. Tersedia: http://
akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/teori-pendidikan-dan-kurikulum/. [15 April 2013]
23 Tim Dosen Administrasi (Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia), Op Cit., hlm.
193
Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Ada beberapa unsur metode penelitian yang harus dijelaskan yaitu
1. Penelelitian yang menggunakan informasi melalui pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan dokumentasi.24 Sehingga menghasilkan gambaran yang terorganisir dengan baik dan lengkap mengenai unit sosial tersebut.25 2. Penelitian ini bersifat deskriptif karena bermaksud mengumpulkan informasi
mengenai status gejala yang ada, dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai pengumpulan data. Data dalam penelitian kualitatif adalah data verbal, data verbal tersebut perlu diolah agar perlu menjadi ringkas dan sistematis.26
3. Subjek Penelitian
Yang dimaksud dengan subjek penelitian disini adalah sumber data dimana, Peneliti dapat memperoleh data yang diperlukan dalam rangka penelitian. Dalam mendapatkan sumber data dalam penelitian ini, yang menjadi sumber penelitian adalah:
24Abudin Nata, Metodology Study Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 125 25 Saifuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal.8.
26 Saiful Annur, Metodologi Penelitian Pendidikan,(Palembang: Rafah Press, 2011), hlm.
102
a. Kepala Sekolah
Sebagai informan utama untuk mengetahui bagaimana perannya dalam pengelolaan manajemen kurikulum serta untuk mengetahui manajemen kurikulum di MI Adabiyah II Palembang
b. Guru
Sebagai anggota yang menajalankan perintah maupun melaksanakan pengelolaan manajemen kurikulum yang berkaitan dengan materi dari suatu kurikulum. Guru di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
Penelitian ini penulis hanya menggunakan sample guru berjumlah 3 orang.
c. Pengawai
Sebagai anggota yang menjalankan perintah maupun melaksanakan manajemen kurikulum berkaitan dengan administrasi-administrasi sekolah. Pegawai di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang berjumlah 2 orang.
4. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui metode pengumpulan, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang telah ditetapkan.27 Dalam penelitian ini ada beberapa metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu:
27 Ibid., hlm. 308
a. Wawancara/ interview
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang atau bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Jadi, dengan wawancara, maka peneliti akan megetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi. Dalam hal ini penulis akan melakukan wawancara guna megetahui Implementasi Manajemen Kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
Penulis akan melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah, Pegawai dan sebagian Guru yang dianggap senior di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
b. Observasi
Nasution menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan.
Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. 28
Dalam penelitian ini metode observasi digunakan untuk mengamati Implementasi Manajemen Kurikulum dan mengumpulkan data antara lain:
Mengamati lokasi penelitian dan lingkungan sekitar Madrasah Ibtadiyah Adabiyah II Palembang untuk mendapat data tentang gambaran umum lokasi penelitian.
c. Dokumentasi
28 Wahyudi, Kepemimpinan Kepala dalam Organisasi Pembelajar (Learning Organization), (Pontianak: Alfabeta, 2009), hlm. 310
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.29 Metode ini digunakan untuk mengetahui data letak geografis, jumlah guru, keadaan siswa dan sarana prasarana serta keadaan kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
5. Metode Analisis Data
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang diceritakan kepada orang lain. Metode yang digunakan adalah deskriftif analitik yaitu metode dalam mengolah data-data yang telah dikumpulkan dengan menganalisisnya sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan dengan analisa data kualitatif.
a. Data
Dalam pengelolaan data ini penulis menggunakan cara pengelolaan data non statistik, karena data yang digunakan adalah data kualitatif. Dengan cara data setelah terkumpul dari lapangan lalu diperiksa keabsahannya dan keshahihannya kemudian diediting, data tersebut dimasukan kedalam aspek- aspek masalah yang disusun secara matriks.
b. Analisis Data
29 Ibid., hal 329
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan tekhnik analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Hubermen sebagai berikut30;
1) Reduksi Data Yaitu penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis dari lapangan melalui beberapa tahap, yaitu membuat ringkasan, mengkode, menulis tema, membuat tugas-tugas dan membuat memo.
2) Penyajian Data
Yaitu sebagai informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
3) Verifikasi atau Penarikan Kesimpulan
Yaitu makna-makna yang muncul dari data harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya yaitu merupakan validitasi.
I. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyampaian tujuan, pembahasan ini akan dibagi atas beberapa bab dan dibagi lagi atas beberapa sub bab.
Adapun sistematisnya sebagai berikut:
BAB satu, Pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, rumusan masalah, fokus masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, definisi oprasional, kerangka teori, metodologi penelitian, sistemastis pembahasan.
30 Sugiyono, Metode Penelitian Kuatitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 147
BAB kedua, merupakan landasan teori yang berisikan pengertian implementasi manajemen, kurikulum, manajemen kurikulum, prinsip-orinsip manajemen kurikulum, fungsi manajemen kurikulum, ruang lingkup manajemen kurikulum, dan faktor pendukung dan penghambat manajemen kurikulum.
BAB ketiga deskriptif lokasi penelitian yang berisikan sejarah berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang, visi dan misi MI Adabiyah II Palembang, profil sekolah, keadaan sarana dan prasarana, keadaan siswa, keadaan guru, dan Struktur organisasi dan tugasnya masing-masing di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang.
BAB keempat berisikan tentang pelaksanaan penelitian, hasil dan pembahasan, manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang dan faktor- faktor yang mempengaruhi manajemen kurikulum serta penerapan manajemen kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Adabiyah II Palembang. Adapun pembahasan dikaitkan dengan teori yang relevan.
BAB kelima, pada bab ini peneliti menarik kesimpulan dan saran dari uraian pada bab-bab sebelumnya, kemudian dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran- lampiran yang dianggap perlu.