BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, menyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Taman kanak-kanak sebagai suatu bentuk lembaga pendidikan anak usia dini berada pada jalur pendidikan formal sebagai mana tertuang pada pasal 1, ayat (14) bahwa “pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditunjuk kepada anak sejak ia lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pembinaan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani anak, agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.
Taman kanak-kanak adalah suatu pendidikan anak usia dini yang
menyelenggarakan pendidikan anak usia 4-6 tahun pada masa kanak-kanak ini sangat penting bagi anak dalam menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi dirinya, masa tersebut adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan spikis yang merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan untuk mendasari pengembangan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri,
1
jenjang pendidikan selanjutnya.
Pada masa ini dikenal pula sebagai masa emas (Golden Age). Hal ini berarti pula peletakan proses pendidikan Taman Kanak-Kanak haruslah benar dan sesuai dengan karakter pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga dapat
dikembangkan dengan baik dan benar.
Salah satu upaya pemecahan berbagai masalah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan adalah dengan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan. Suatu penelitian yang dilakukan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, meningkatkan, meguji kebenaran dan mencari kembali suatu pegetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Dalam ilmu itu menggunakan konsep bilangan yang akan melibatkan proses berhitung. Untuk itu berhitung perlu dikuasai oleh setiap orang sebagai bekal dalam kehidupannya. Konsep bilangan merupakan bagian dari matematika dalam bidang ilmu ini untuk melatih supaya berpikir logis dan sistematis dalam menyelesaikan masalah.
Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan suatu penelitian yang di lakukan bahwa Sudjana (Sator, 2009:21) menjelaskan bahwa :
Penelitian sebagai suatu yang dilakukan secara sistematik untuk mengumpulkan,mengolah dan menyimpulkan data dengan menggunakan metode dan teknik tertentu dalam rangka mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi.permasalahan yang di hadapi yaitu perhatian anak pada saat proses belajar mengajar dapat mengarahkan peserta didik untuk memahami dan menguasai metode berhitung namun rendahnya pemahaman anak tentang konsep bilangan.
Dalam praktiknya belajar berhitung diperlukan alat bantu untuk media pembelajaran yang berfungsi untuk memudahkan peserta didik untuk belajar.
Dengan demikian anak akan merasa senang belajar sehingga perhatian anak pada pembelajaran konsep bilangan bisa terfokuskan.
Dengan melihat begitu pentingnya bimbingan dan pemeliharaan potensi anak pada usia ini, karena tanpa hubungan dengan hal-hal nyata pelajaran berhitung tingkat lanjut akan terlambat dan menjadi awal dan tidak bisa matematika.
Untuk itu guru sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan anak dalam mengenal angka dengan menggunakan media alam yang menarik agar mudah dilihat oleh anak dan tidak menutup kemungkinan akan melahirkan semangat anak untuk belajar, pemahaman konsep bilangan akan berkembang seiring waktu dan kesempatan untuk mengulang kerja dengan kelompok benda dan membandingkan jumlahnya.
Belajar konsep bilangan adalah langkah pertama dalam mengerti angka pada saat mulai menghitung, pengenalan konsep bilangan. Pengenalan konsep bilangan di taman kanak-kanak atau dikenal dengan pengenalan berhitung,di lakukan dengan melihat tahap-tahap perkembagan anak dan sesuai dengan usia anak pengenalan konsep bilangan dapat berupa menghitung, menyebutkan
biji-bijian, balok-balok dan dapat di kenalkan melalui bentuk geometri yaitu ; segi tiga, lingkaran, segi empat dan dapat menbandingkan berat ringan dan sebagainya untuk berhitung permulaan di taman kanak-kanak diawali dengan mengenal konsep bilangan dengan mengetahui anak dapat melakukan
penjumlahan, pengurangan dan mengenal bentuk dan melakukan pengukuran.
Untuk melakukan pengenalan bilangan pada anak di taman kanak-kanak diperlukan strategi yang cocok. Dengan demikian anak akan merasa senang sehingga perhatian anak pada pembelajaran konsep bilangan bisa terfokus.
Anak dapat meningkatkan kemampuan mereka karena adanya kesadaran pada diri mereka untuk belajar lebih giat lagi, dan sarana belajar yang bisa dilakukan adalah dengan cara ”Peningkatan Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan Melalui Kegiatan Bermain Media Bahan Alam”.
Adapun kelebihan jika menggunakan media bahan alam menurut Hary Soedarto ( 2005: 13) yaitu :
a). Mudah di dapat di lingkungan sekitar kita berada.
b). Mengurangi biaya dalam proses pembelajar tersebut, c) Dapat lebih mengetahui bahan-bahan alam yang ada di lingkungan sekitar, d) Dapat memamfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar kita sebagai sumber belajar, e).Dapat menumbuhkan kesadaran lingkungan.
Kelebihan menggunakan media bahan alam sangat mudah dan fleksibel digunakan karena banyaknya kelebihan yang di milikinya.
Tujuan dari pengenalan konsep bilangan diharapkan agar anak dapat berfikir secara logis dan sistematis sejak dini, melalui pengamatan terhadap benda-benda kongkrit, gambar-gambar yang ada di sekitar anak. Memiliki ketelitian, konsentrasi, dan daya apresiasi yang tinggi dan memiliki pemahaman konsep ruang dan waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan atau peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007:12) menegaskan bahwa:
Ciri-ciri yang menandai bahwa anak sudah menyenangi permainan berhitung antara lain,adalah secara spontan telah menunjukkan ketertarikan pada aktivitas permainan
berhitung,anak mulai menyebut urutan bilangan tanpa
pemahaman, anak mulai menghitung benda-benda disekitarnya secara spontan, anak mulai membanding-bandingkan benda yang ada di sekitarnya.anak mulai menjumlahkan atau mengurangi angka dan benda-benda yang ada di sekitarnya tanpa disengaja.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan anak-anak masih kurang dalam hal menyebut urutan lambang bilangan 1 sampai 10,
membilang/menunjuk lambang bilangan dengan benda-benda 1-10, menghubungkan lambang bilangan 1-10 dengan benda-benda. Hal ini disebabkan antara lain pembelajaran yang dilaksanakan guru tentang konsep bilangan di TK, menggunakan metode pembelajaran yang kurang variatif
Disisi lain, guru menemui kendala dalam pembelajaran ketika mengenalkan konsep bilangan dan lambangnya kepada anak, perhatian
konsentrasi yang baik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, guru harus mengamati anak dengan cermat dan menentukan
kemampuan, kebutuhan, minat dan cara belajar masing-masing anak.
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara pemikiran anak dan pengalamannya dengan bahan-bahan ajar, gagasan-gagasan dan orang- orang yang ada di sekitarnya. Pengalaman-pengalaman ini haruslah cocok dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan anak yang sedang
berkembang.
Berbagai cara yang telah diupayakan dalam pembelajaran mengenal konsep bilangan dan lambangnya ini misalnya dengan menggunakan metode ceramah, Tanya jawab, pembimbingan anak, pemberian tugas namun pada kenyataannya hasil belajar yang dicapai anak masih rendah. Hal ini dapat dibuktikan bahwa anak-anak belum mampu mengingat konsep bilangan dan lambangnya pada saat kegiatan pembelajaran.
Untuk meningkatkan kemampuan anak mengenal konsep bilangan dan lambangnya, maka peneliti mencoba menggunakan strategi pembelajaran melalui kegiatan bermain menggunakan media bahan alam. Hal ini dapat menarik minat dan semangat belajar anak mengenal konsep bilangan dan lambangnya. Setiap konsep bilangan
dan lambangnya yang dipelajari, disertai benda-benda yang menarik lalu menyampaikan atau mengenalkannnya kepada anak. Anak menjadi terkesan dan bersemangat dalam belajar. Dengan demikian, anak mudah mengingat setiap konsep bilangan dan lambangnya yang dipelajari. Diharapkan setelah semua konsep bilangan dan lambangnya dikenal, memudahkan anak untuk menghitung pada waktu yang akan datang
Pemilihan bermain media bahan alam dirancang agar dapat
memudahkan anak mengenal angka, selain itu penggunaan media bahan alam merupakan alat bermain yang sederhana, mudah dibuat dan didapatkan serta dapat dikreasikan dengan gambar-gambar sehingga dengan bermain dengan media bahan alam dapat merangsang anak agar mudah mengenal konsep bilangan, sehingga minat anak semakin kuat dalam mempelajari konsep bilangan serta merangsang kecerdasan dan ingatan anak. Selain itu anak mampu mengembangkan kemampuan kognitifnya, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan segenap potensi yang ada pada dirinya, anak juga akan banyak belajar dan berlatih mengenai urutan bilangan dan memahami konsep angka dengan baik. Oleh karena itu, penelitian ini penulis mengangkat judul “Peningkatan Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan Melalui Kegiatan Bermain Media Bahan Alam Pada Anak di Taman Kanak- Kanak Cokroaminoto Tangnga-Tangnga Kabupaten Majene”.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian ini adalah bagaimanakah peningkatan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak melalui kegiatan bermain media bahan alam di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui kegiatan bermain media bahan alam di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene.
D. Manfaat penelitian
Hasil penelitian diharapkan memberi manfaat : 1. Manfaat Teorietis :
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang pengenalan konsep bilangan 2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa
Anak di harapkan menjadi lebih termotivasi, aktif dalam proses belajar mengajar serta membantu anak dalam mengatasi masalah yang mereka temukan khususnya pada mengenal konsep bilangan.
b. Bagi guru
Dengan melaksanakan penelitian ini, guru sedikit demi sedikit dapat terdorong dan memanfaatkan strategi pembelajaran/metode pembelajaran yang dapat meningkatkan belajar agar anak tidak merasa jenuh.
c. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberi manfaat kepada sekolah dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan khususnya di Taman Kanak- Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka 1. Konsep Bilangan
a. Pengertian Konsep Bilangan
Menurut Sujiono (2007:76) memaparkan bahwa “Konsep bilangan adalah kemampuan tentang bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian persoalan mengenai bilangan”. Anak usia dini adalah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan berhitung pada jalur matematika, karena usia dini sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan.
Menurut Suriasumantri (1982; 191) pengertian konsep bilangan adalah:
Konsep bilangan adalah bahasa yang melambangkan
serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan.
Adapun paham yang menyatakan bahwa konsep bilangan merupakan bahasa artifial yang dikembangkan untuk menjawab kekurangan bahasa verbal yang bersifat alamiah dan matematika hanya akan mempunyai arti jika terdapat hubungan pola bentuk dan stuktur.
Menurut Andri Saleh (2009; 103) “bilangan adalah sebuah konsep dan pemikiran manusia terhadap perhitungan banyaknya suatu benda
misalnya setelah satu ada dua, setelah dua ada tiga, setelah tiga ada empat dan seterusnya”
Sedangkan menurut Paimin (1998:109) bahwa “ konsep bilangan adalah kemampuan tentang struktur dan hubungan-hubungannya
memerlukan simbol-simbol untuk membantu memanipulasi aturan-aturan melalui operasi yang di tetapkan”. Rasa ingin tahunya yang tinggi akan tersalurkan apabila mendapatkan stimulus/rangsangan yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Apabila berhitung diberikan dengan berbagai macam permainan tentu akan lebih efektif karena permainan berhitung di Tk di harapkan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif tetapi kesiapan mental sosial dan emosional. Pelaksanaannya harus dilakukan secara menarik dan bervariasi.
Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa konsep bilangan merupakan kemampuan, akan tetapi dimana suatu kebenaran dikembangkan berdasarkan alasan logis dengan menggunakan pembuktian dedukatif. Dalam memberikan kegiatan pengembangan daya pikir terutama untuk kegiatan persiapan pengenalan konsep bilangan, hendaknya guru memperhatikan masa peka anak dan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki yaitu dengan cara mengenal konsep bilangan 1-10 dengan menghubungkan konsep bilangan.
b. Pentingnya Mengenal Konsep Bilangan
mengetahui dasar-dasar matematika dan berguna untuk kehidupan anak dimasa yang akan datang, karena itu orang tua maupun guru harus bisa menstimulus kecerdasan-kecerdasan lainnya. Menurut Depdiknas (2007:2) bahwa
pentingnya mengenalkan konsep bilangan pada anak adalah sebagai berilkut:
1) Anak dapat berfikir logis dan sistematis sejak dini melalui pengamatan terhadap benda-benda kongkrit, gambar-gambar atau angka-angka yang terdapat disekitar anak.
2) Anak dapat menyesuaikan dan melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat yang dalam kesehariannya memerlukan keterampilan berhitung
3) Anak memiliki ketelitian, konsentrasi, abstraksi dan daya apresiasi yang tinggi.
4) Anak memiliki pemahaman konsep ruang dan waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan urutan suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya.
5) Memiliki kreativitas dan imajinasi dalam menciptakan sesuatu spontan.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat penulisan disimpulkan bahwa dalam memberikan kegiatan pengembangan daya pikir terutama untuk kegiatan persiapan pengenalan konsep bilangan, hendaknya guru memperhatikan masa peka anak dan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk
menghubungkan pengetahuan yang sudah di miliki yaitu dengan cara
mengenalkan konsep bilangan 1-10 dengan menghubungkan konsep bilangan, korelasi dalam pikiran ( hubungan antara angka ) yang terbentuk pada tahap ini sangat bermanfaat saat anak memasuki usia sekolah, terutama saat anak memasuki usia sekolah, terutama saat mempelajari penjumlahan.
Konsep bilangan merupakan salah satu bentuk perhitungan matematika yang memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir,
mengembangkan keterampilan untuk mencapai belajar mengajar pada matematika.
Berkenaan kejadian yang ada disekitar kita, baik itu berhubungan dengan mahluk hidup maupun benda mati. Oleh karena itu, konsep pengembangan berpikir ini mempunyai implikasi di dunia pendidikan, khususnya dalam merangsang pengelolaan pengembangan kegiatan di taman kanak-kanak.
Pendidikan seharusnya menggunakan alat-alat untuk melakukan perhitungan maka anak memiliki kemampuan untuk menyebut bilangan, kemampuan mengenal konsep bilangan dengan benda, dan kemampuan menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan.
c. Tujuan Peningkatan Konsep Bilangan
Dalam peningkatan mengenal konsep bilangan itu merupakan kegiatan setiap orang dilandasi dengan adanya perubahan yang ingin dicapai melalui belajar, pada dasarnya perubahan melalui yang di perhatikan oleh individu dengan lingkungannya dengan melalui suatu yang mengarah kepada tujuan, perubahan-perubahan yang di maksud dapat berupa perubahan, kemampuan, sikap keteranpilan, pemahaman dan aspek-aspek yang ada pada diri individu yang belajar perubahan tingkah laku itu secara berangsur-angsur oleh proses pendidikan dan latihan.
a.) Secara umum pengembangan konsep bilangan di TK
bertujuan agar anak dapat mengetahui dasar-dasar pembelajaran berhitung dalam suasana yang menarki, aman, nyaman dan menyenangkan, sehingga diharapkan nantinya anak akan memiliki kesiapan dalam mengikuti pengembangan konsep bilangan yang sesunggunya di jenjang sekolah selanjutnya. b.) Secara khusus anak dapat memiliki kemampuan berikut; (1).
dapat memahami konsep ruang dan waktu serta dapat
memperkirakan kemungkinan urutan suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya. (2). dapat berfikir logis dan sistematis sejak dini melalui pengamatan terhadap benda-benda kongrit, gambar- gambar ataupun angka-angka yang terdapat di sekitar anak. (3).
dapat berkreatifitas dan berimajinasi secara spontan.
Dengan bermain anak tumbuh dan berkembang pada aspek-aspek perkembangan dalam pengenalan konsep bilangan terutama pada aspek kognitif. Pembelajaran dengan bermain anak pun merasa memiliki kesenangan tersendiri, sehingga aspek kognitif yang sangat membutuhkan yang lebih besar untuk dilakukan sebagai strategis bermain. Bermain dapat membuat anak senang dengan alat peraga yang akan memperlancar kreatif anak dalam mengenal konsep bilangan.
Dalam merencanakan dan mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak melalui kegiatan bermain sambil belajar dan kemampuan yang diharapkan dalam aspek pengembangan kognitif yaitu mampu untuk berpikir logis dan kritis, memberi alasan memecahkan masalah.
Pembelajaran dengan bermain mempermudah anak untuk berpikir serta anak pun merasa memilki kesenangan tersendiri, sehingga aspek kognitif yang
sangat membutuhkan pemikiran yang lebih besar untuk di lakukan sebagai strategi bermain. Bermain yang dapat membuat anak senang dengan alat peraga yang akan dapat memperlancar kreatif anak dalam berhitung.
Keterampilan akan berguna dalam merencanakan dan mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak melalui kegiatan bermain sambil belajar.
Seorang guru taman kanak-kanak seharusnya selalu bersedia bermain dengan anak dan tidak menganggap aktifitas bermain sebagai hal yang sia-sia, aspek perkembangan kognitif meliputi ; menurut Arikunto (1998:34), yaitu:
(1)Mengelompokkan,memasankan benda yang sama dengan sejenis atau sesuai dengan pasangan (2).Membedakan beragam ukuran (3).Membedakan rasa,bau (4). Menyebutkan bilangan 1-10 (5). Membilang mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 (6). Mengelompokkan lebih dari 5 warna dan
membedakannya (7). Menyusun kepingan puzzel menjadi utuh (8).
Menghubungkan lambang bilangan dengan benda-benda sampai 10
Melihat anak dalam pengembangan kreativitas anak adalah mengenalkan dalam mengespresikan diri, menemukan alternative cara pemecahan
masalah, keterbukaan, dan kepuasan diri terhadap apa yang dilakukannya perubahan ini merupakan hasil dari pengalaman dalam proses pendidikan dan latihan.
d. Indikator Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan
Depdiknas (2006 :4) mengemukakan bahwa indikator adalah kompetensi dasar yang lebih spesifik dan operasional yang dapat dijadikan ukuran menilai ketercapaian hasil pembelajaran. Indikator adalah variable yang digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya
disimpulkan bahwa indikator adalah variable kompetensi dasar yang lebih spesifik dan operasional yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai hasil-hasil ketercapaian pembelajaran dan memungkinkan dilakukannya pengukurannya terhadap perubahan – perubahan dari waktu ke waktu.
Adapun indikator-indikator kemampuan konsep bilangan yang terdapat dalam kurikulum 2010 untuk kelompok A sebagai berikut :
1)Menyebut lambang bilangan dari 1 – 10 dengan benar.
2)Membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda-benda )1 – 10
3)Menghubungkan lambang bilangan dengan benda 1-10
2. Media Bahan Alam
a. Pengertian Media Bahan Alam
Menurut (Sumantri & Permana, 2001: 152) Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. Rossi dan Breidle mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti batu-batuan, daun-daunan, biji-bijian,dan sebagainya (Sanjaya, 2006: 163).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah
alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran untuk meyampaikan tujuan pembelajaran dari sumber belajar (guru) ke penerima belajar (anak).
Bahan alam yaitu bahan yang langsung diperoleh dari alam (Sudjana, 2011:1). Bahan alam adalah bahan yang diperoleh dari alam untuk membuat suatu produk atau karya. Bahan alam dapat dimanfaatkan sebagai media dalam belajar.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa media bahan alam adalah alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran untuk menyampaikan tujuan pembelajaran dari sumber belajar (guru) ke penerima belajar (anak) yang berasal dari lingkungan alam sekitar.
b. Jenis – Jenis Media Bahan Alam
Menurut Chayat (2010), jenis bahan-bahan alam yang dapat dimanfaatkan antara lain: batu- batuan, balok-balok, biji-bijian, daun -daunan dan lain sebagainya.
c. Konsekuensi Pendidikan Lingkungan Alam
Mempelajari pendidikan lingkungan alam sebagai sumber belajar bagi anak usia dini akan memberikan konsekuensi terhadap perkembangan anak itu sendiri, diantaranya “pengalaman ruang lingkup” dan “ruang pengelolaan” artinya, semakin banyak objek yang di perkenalkan kepada anak akan semakin banyak hal itu memberikan pengalaman hidup bagi anak, konsekuensi lainnya adalah semua tugas pendidikan lingkungan hidup membutuhkan landasan emosional yang memadai dari anak.
d. Bermain Dengan Benda
Anak pada tahap usia prasekolah memiliki daya khayal yang luar biasa.
Maka media alam merupakan salah satu alternatif pemilihan media yang merupakan alat permainan yang dapat digunakan dengan berbagai macam cara, membuat macam-macam, bentuk mengelompokkan benda-benda sesuai bentuk dengan warnanya. Alat permainan memang merupakan bahan bagi anak untuk mengembangkan dirinya yang menyangkut seluruh aspek perkembangan terutama di bidang ketekunan dan ketelitian semua alat yang dapat dimainkan anak sebagai alat bermain.
Beberapa fungsi pengembangan kreativitas anak yaitu akan megembangkan kognitif, kesehatan jiwa, estetika anak. Pengembangan kreativitas anak tidak hanya ada pada seluruh bidang kemampuan dasar seni melainkan ada pada seluruh bidang kemampuan dasar yaitu bidang
pengembangan bahasa, kognitif, serta fisik dan motorik. Penyelidikan vygostsky membenarkan adanya hubungan erat antara bermain dan perkembangan kognitif.
e. Langkah-Langkah Teknik Pembelajaran Dalam Kegiatan Bermain media Bahan Alam
Menurut Yudha ( 2005:71) mengatakan bahwa :
“Langkah –langkah dalam menggunakan bahan media alam yaitu :
1) Guru mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, Pada fase ini guru memilih dan memanfaatkan media alam berupa ; bijian-bijian, batu-batuan, daun-daunan serta balok berbentuk geometri yang akan dimanfaatkan guna mencapai tujuan.
2) Guru mengatur posisi duduk anak dengan rapi sebelum melaksanakan kegiatan.
Sebelum melakukan kegiatan guru terlebih dahulu mengatur posisi duduk anak dengan rapi
3) Guru menjelaskan dan membimbing anak dalam
melaksanakan kegiatan menggunakan media bahan alam, Pada fase ini, terlebih dahulu guru menjelaskan dan membimbing anak dalam kegiatan menggunakan media bahan alarn berupa; bijian-bijian, batu-batuan, daun-daunan agar anak dapat memahami dan mengerti dalam
melaksanakan kegiatan serta tujuan dari kegiatan ini.
4) Guru memotivasi anak dalam pelaksanaan pembelajaran, Guru selalu memberi motivasi kepada anak: setiap selesai melaksanakan kegiatan dengan cara memberikan pujian tepuk tangan dan acuan jempol bagi anak yang mampu melakukan kegiatan dan bagi anak yang kurang berhasil diberikan perhatian yang lebih maksimal agar anak lebih giat dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan selanjutnya 5) Guru mengamati dan melakukan penilaian dalam
menggunakan media bahan alam
Setelah melakukan kegiatan guru mengamati dan melakukan penilaian sejauh mana tujuan pengajaran tercapai, yang sekaligus dapat dinilai sejauh mana pengaruh media bahan alam sebagai alat dapat menunjang keberhasilan proses belajar anak.
Langkah-langkah ini dimaksudkan agar anak mengenali konsep sederhana dan juga mengenalkan konsep bilangan dengan benda-benda serta menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan.
matematika maka memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir,
mengembangkan keterampilan untuk mencapai belajar mengajar pada matematika.
Kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan di taman kanak-kanak Cokroaminoto kabupaten Majene masih rendah belum sesuai yang diharapkan dalam standar pendidikan anak usia dini karena anak belum mampu menyebut urutan lambang bilangan 1-10 dengan benar, membilang dan menunjuk benda 1 sampai 10, menghubungkan lambang bilangan dengan benda 1-10, untuk mengantisipasi hal tersebut, maka metode mengenal benda-benda melalui
penggunaan media bahan alam untuk mengembangkan konsep bilangan anak dan sistematika kegiatan yaitu dengan menggunakan benda-benda media bahan alam.
Selama bermain, berikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan temannya untuk bermain dengan menggunakan media bahan alam bersama. Amati perkembangan anak dalam bermain, anak akan mengembangkan kemampuan model yang lebih kompleks.
Dalam pembelajaran sehari-hari khususnya anak kelompok A Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene kondisi anak dalam hal mengenal konsep bilangan sangat rendah. Semua disebabkan pembelajaran atau metode yang disampaikan oleh guru kurang menarik. Media yang dipergunakan kurang bervariasi, sehingga anak merasa jenuh dan bosan belum adanya media yang
menarik terutama untuk meningkatkan kognitif anak. Sehingga kemampuan mengenal konsep bilangan anak masih rendah. Melihat kondisi yang seperti itu peneliti meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui kegiatan bermain media bahan alam.
Dengan kegiatan bermain media bahan alam ini diharapkan anak merasa tertarik dan muncul rasa ingin tahunya, sehingga dalam mengenalkan konsep bilangan dapat dilakukan dengan mudah dan anak merasa riang gembira dan tidak ada tekanan.
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media alam yang ada disekitar anak dapat kita gunakan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan. Karena dengan menggunakan media alam berupa batu-batuan, biji-bijian dan daun-daun, anak dapat menghitung benda tersebut, membedakan bentuk benda tersebut, Karena kecerdasan mengenal konsep bilangan pada anak usia dini adalah merupakan kemampuan atau kecakapan seorang anak dalam menalar, kemampuan menggunakan bilangan atau angka yang diajarkan melalui berhitung,
membedakan bentuk dan bermain dengan benda-benda yang ada di sekitar anak.
Rendahnya Kemampuan mengenal konsep bilangan Anak
Aspek Guru : 1. Kurang memotivasi anak 2. Media/bahan yang
digunakan kurang menarik dan kurang bervariasi
Aspek Anak
1. Belum dapat menyebut lambang bilangan 1 sampai 10 dengan benar 2. Belum dapat membilang dan
menunjuk benda (mengenal konsep bilangan 1-10
3. Belum dapat menghubungkan lambang bilangan dengan benda 1-10 Langkah - Langkah kegiatan Pelaksanaan
1. Guru mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Guru mengatur posisi duduk anak dengan rapi sebelum melaksanakan kegiatan
3. Guru menjelaskan dan membimbing anak dalam melaksanakan kegiatan menggunakan media bahan alam
4. Guru memotivasi anak dalam pelaksanaan pembelajaran
5. Guru mengamati dan melakukan penilaian dalam menggunakan media bahan alam
1. Anak mampu menyebut lambang bilangan 1 sampai 10 dengan benar
2. Anak mampu membilang dan menunjuk benda (mengenal) konsep bilangan 1-10
3. Menghubungkan lambang bilangan dengan benda 1- 10
Media bahan Alam : - Batu-Batuan - Daun-Daunan - Biji-Bijian
Peningkatan Kemampuan mengenal konsep bilangan anak
Gambar 2.1 Bagan Kerangkan Pikir
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah jika kegiatan bermain media bahan alam diterapkan, maka kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene dapat meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu penelitian ini mendeskripsikan hal yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui penggunaan media bahan alam di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian merupakan penilitian tindakan kelas, Arikunto (1998;76) menjelaskan penelitian tindakan kelas (PTK) adalah “penelitian yang dilakukan dengan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja di munculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama”.
Penelitian ini dilakukan antara guru kelas dan penelitian untuk mengambil keputusan yang melahirkan kesamaan tindakan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan. Kegiatan penelitian
meliputi; perencanaan tindakan, observasi, penilaian dan refleksi. Keempat tahap tersebut dilaksanakan dengan dua siklus. Kedua siklus tersebut untuk melatih kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak didik melalui kegiatan
24
bermain dengan media bahan alam. Tolak ukur penelitian ini adalah kemampuan berhitung anak didik masih rendah. Dari refleksi awal tersebut maka adanya peningkatan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak didik melalui kegiatan bermain dengan media bahan alam. Dan materi yang akan diteliti adalah materi penggunaan bahan media alam agar kemampuan berhitung anak berkembang.
B. Fokus Penelitian
1. Konsep bilangan adalah kemampuan tentang bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian persoalan mengenai bilangan dalam perhitungan aritmatika
2. Bermain dengan media alam merupakan salah satu alat/bahan alam dari tanaman yang ada disekitar lingkungan kita berupa biji-bijian, daun-daunan, serta batu-batuan yang digunakan dalam menunjang proses kegiatan
pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan
C. Setting Penelitian Dan Subyek Penelitian
Penelitian dilakukan di lokasi Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yang berlangsung selama dua bulan yaitu bulan Maret dan april yang dilaksanakan di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Tangnga- tangnga Kabupaten Majene. Sebagai subyek penelitian ini adalah anak
D. Prosedur dan Desain Penelitian
Kemmis dan Mc Teggart (Arikunto, 2007;16). Model penelitian ini terdiri atas 4 kelompok, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi
(pengamatan), refleksi, sementara rancangan penelitian ini di lakukan dalam 2 siklus.
Gambar 3.1 Siklus Penelitian Menurut Kemmis dan Mc Teggart (Arikunto, 2007:16).
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian berbasis kelas kolaboratif, yaitu satu orang teman bertindak sebagai kolaborator yang melaksanakan tindakan dan peneliti sebagai yang mengadakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan,
Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan dan Tindakan
Perencanaan
Refleksi
Perencanaan
SIKLUS II
Observasi/Pengamatan
Pelaksanaan dan Tindakan
Observasi/Pengamatan Kesimpulan
dengan itu membuat rencana pembelajaran yang akan diberikan kepada anak.
Dengan penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan empat kali tatap muka.
1) Siklus pertama, berlangsung selama dua kali tatap muka dengan lokasi waktu 2 x 30 menit
2) Siklus kedua, berlangsung dua kali tatap muka dengan alokasi waktu 2 x 30 menit.
Penelitian ini dilaksanakan disemester dua pada kelompok A1 berlangsung selama dua kali tatap muka yang dibagi dalam empat tahap yaitu: tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi a. Tahap Perencanaan
Tahap ini merupakan tahap dimana guru mulai membuat rencana kegiatan yang akan diberikan kepada anak didik dengan membuat rencana kegiatan harian, menentukan tema, dan sub tema yang akan diajarkan.
Menentukan indikator setiap kegiatan dan menentukan kegiatan yang menjadi fokus penelitian berdasarkan dari indikator yang akan dicapai. Dengan
menggunakan media bahan alam sebagai strategi dalam pembelajaran konsep bilangan kepada anak.
b. Pelaksanaan dan Tindakan
Ini merupakan dimana guru melaksanakan seluruh kegiatan yang telah disusun dalam rencana kegiatan harian yang telah dirumuskan dalam rencana pembelajaran dalam pelaksanaan tindakan ini peneliti, meminta teman sejawat untuk mengamati proses pembelajaran untuk menyamankan persepsi guru
rencana kegiatan harian, dalam tahap ini terhadap jenis kegiatan yang akan dilaksanakan.
c. Pengamatan
Ini merupakan di mana guru dapat menilai tujuan pembelajaran yang telah dicapai. Observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah di buat serta dilaksanakan evaluasi observasi ini di laksanakan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan setelah
pelaksanaan tindakan.
d. Refleksi
Dengan di peroleh dari hasil observasi dan evaluasi pada siklus I di kumpulkan dan di analisis, setelah di analisis apakah semua kegiatan pada siklus I telah berlangsung sesuai dengan yang di harapkan atau tidak, kegiatan yang sudah berhasil dengan baik di pertahankan dan yang belum berhasil di perbaiki pada siklus berikutnya. Pada tahap ini intinya adalah mendiskusikan dan mengkomunikasikan hasil pengamatan pembelajaran antara pelaksana tindakan dengan pengamat, memutuskan apakah tindakan di pandang selesai atau perlu di lanjutkan pada siklus berikutnya.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan prosedur bagaimana cara
mendapatkan dan mengumpulkan data yang diinginkan terutama adalah data dari
indikator-indikator keberhasilan tindakan penelitian, dengan menggunakan instrumen-instrumen penemuan data yang sesuai. Peneliti berperan sebagai pengumpul data.
Adapun teknik dan alat pengumpulan data pada penelitian ini adalah ; 1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian selama tindakan
berlangsung. Kegiatan ini dilakukan untuk mencatat beberapa hal terkait dengan hasil atau perubahan yang terjadi terhadap obyek penelitian.
2. Dokumentasi
Dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data tentang jumlah anak di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Kabupaten Majene dan data lain yang terkait dengan meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan melalui media bahan alam.
F. Teknik Analisis Data dan Indikator Keberhasilan 1. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik analisis kualitatif, yang salah satu modelnya adalah tekhnik analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Hibert (Jasruddin, dkk 2000 : 16). Analisis tersebut terdiri dari tiga komponen
kegiatan yang satu sama lain saling berkaitan dengan meliputi :
1. Reduksi data ; yaitu proses menyeleksi data dan mengelompokkan data.
3. Penarikan kesimpulan ; yaitu perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan sementara yang ditarik pada akhir siklus pertama ke kesimpulan yang telah direvisi pada akhir siklus berikutnya dan seterusnya.
2. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan meliputi indikator hasil mengajar guru dan belajar anak selama pembelajaran. Untuk itu peneliti dan guru kelas menentukan tingkat kriteria keberhasilan tindakan pada setiap siklus pembelajaran. Kriteria tersebut setiap anak dan guru menunjukkan kategori rata-rata baik pada aktifitas mengajar dan belajar anak di Taman Kanak-Kanak Cokroaminoto Tangnga-Tangnga Kabupaten Majene.
Tabel. 3.1 Indikator Keberhasilan
No Simbol Kategori Penilaian
1 ● Baik
2 √ Sedang
3 ○ Kurang
Indikator keberhasilan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah jika guru dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan melalui kegiatan bermain dengan media bahan alam secara baik dan kontinu dan secara klasikal mencapai 75% dari 13 anak