• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektifitas penggunaan dosis kalsium karbonat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "efektifitas penggunaan dosis kalsium karbonat"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN DOSIS KALSIUM KARBONAT (CaCO

3

) DAN PAC (POLY ALUMUNIUM CLORIDE) DALAM MENJERNIHKAN AIR SUMUR GALI DI KELURAHAN LALOLARA

KECAMATAN KAMBU

Ranno Marlany Rachman1 dan Abdul Rahim Syaban2

1Program Studi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan,, FakultasTeknik, Universitas Halu Oleo Jl. HEA Mokodompit, Anduonohu, Kendari, Sulawesi Tenggara

2Akademi kesehatan Lingkungan, Yayasan Mandala Waluya

Jl. Jend. AH. Nasution, Kambu, Kec. Kambu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Air sumur gali oleh masyarakat digunakan sebagai sumber air minum dan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Air sumur gali yang digunakan masyarakat di Kelurahan Lalolara memiliki tingkat kekeruhan sebesar 56 NTU. Kekeruhan tersebut belum memenuhi persyaratan air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih sebesar 25 NTU. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan dosis Kalsium karbonat (CaCO3) dan Poly Alumunium Cloride (PAC) dalam menjernihkan sumur gali. Hasil penelitian untuk komposisi kapur maupun PAC untuk dosis 5g/L 10 gr/L, 15 g/L masih belum efektif menurunkan tingkat kekeruhan sesuai baku mutu peraturan yang ada, sedangkan untuk dosis dan 20 g/L sudah efektif menjernihkan air sumur gali sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

Kata Kunci: Air sumur, kapur, PAC.

ABSTRACT

Dug well water by the community is used as a source of drinking water and clean water for daily needs. The dug well water used by the community in the Lalolara Village has a turbidity level of 56 NTU. This turbidity has not met the clean water requirements based on the Minister of Health Regulation Number 32 the Year 2017 concerning Clean Water Quality Requirements of 25 NTU. The purpose of this study is to determine the use of Calcium Carbonate (CaCO3) and Poly Aluminum Chloride (PAC) doses in clearing dug wells. The results of the study for the composition of lime or PAC for a dose of 5g / L 10 gr / L, 15 g / L is still not effective in reducing the turbidity level in accordance with the existing quality standards, whereas for doses and 20 g / L it has been effective in purifying dug well water according to the provisions applicable regulation

Keywords: Lime, PAC, well water.

(2)

1. PENDAHULUAN

Air adalah kebutuhan yang penting bagi manusia. Supaya terus dapat digunakan oleh manusia dan mahluk hidup, air perlu dilindungi (Ali, 2013). Air yang digunakan bagi komsumsi manusia sebaiknya memenuhi syarat– syarat kesehatan (Zuhri, 2009). Peranan air yang sangat penting bagi kehidupan manusia, perlu adanya standar baku mutu terhadap kualitas air (Hapsari, 2015).

Pemerintah Republik Indonesia melalui Kepmen RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum (Widiyanti, dkk., 2017). Persyaratan tentang standar mutu air bersih, diatur dalam Permenkes No. 32 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih (Earnestly, 2018). Sumber air dapat berasal dari berbagai sumber antar lain rawa, danau, sungai, laut, dan sumur gali yang berasal dari air tanah (Asmadi, dkk., 2011). Sumur gali merupakan sumur yang masih digunakan oleh masyarakat pedesaan untuk keperluan sehari-hari (Hapsari, 2015). Air sumur gali umumnya memiliki kedalaman 2-10 meter dengan diameter tertentu dibuat dengan cara digali dengan alat sekop, cangkul dan alat pendukung lainnya (Sapulete, 2010).

Kalsium karbonat (CaCO3) merupakan salah satu bahan yang sering digunakan untuk penjernihan air. Penggunaan CaCO3 untuk menjernihkan air biasanya menggunakan takaran 28.3495 gram per 200.000 ml air. Air yang telah dicampur dengan CaCO3 dapat digunakan setelah didiamkan selama 24 jam agar terjadi flok sehingga air menjadi bening. Air akan berpengaruh terhadap penmabahan kapur terutama untuk kenaikan pH (Ghufran, dkk., 2007).

Penggunaan CaCO3 yang sering dilakukan oleh masyarakat selama ini hanya untuk menjernihkan air secara fisik dengan bahan kimia tambahan (Marni, 2015).

PAC merupakan koagulan zat kimia dengan muatan partikel negatif dan tersuspensi yang berperan dalam proses penjernihan air. PAC memiliki rumus kimia Aln(OH)mCl3n (Rahimah, 2018). PAC merupakan Aluminium chlorida dalam bentuk garam yang diperuntukkan untuk proses koagulasi dan flokulasi (Mayasari, 2019). Kecepatan PAC dalam mebentuk flok lebih cepat dibandingkan dengan koagulan pada umumnya, disebabkan oleh efektifnya aluminat yang merupakan gugus aktif untuk dapat mengikat koloid. Flok yang padat dihasilkan dari ikatan rantai polimer yang berasal dari gabungan polielektrolite, gabungan hidroksil pada rantai koloid yang memiliki sifat hidrofobik akan berpengaruh terhadap berat molekul, meskipun terjadi kelebihan beban karena kolam pengendapan ukurannya lebih kecil, daya tampung produksi mutlak tidak berpengaruh (Oktari, 2014).

WHO (World Health Organization) menyebutkan besaran air minum agar memenuhi syarat kesehatan yaitu 0,864 m3 per kapita per hari. Data indonesia tentang tentang persentase kebutuhan air bersih untuk konsumsi rumah tangga sekitar 20 liter/hari sebesar 14%

(Sastrawidjaya, 2009). Menurut Permen RI No 69 Tahun 2014 mengenai Hak Guna Air, Syarat kesehatan untuk besaran air minum yang cukup adalah 60 liter/orang perhari. Jumlah tersebut berdasarkan ketersediaan air di kota dan di pedesaan. Data indonesia tentang persentase kebutuhan air bersih untuk konsumsi rumah tangga sekitar 20 liter/hari sebesar 14%. Hal ini akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, karena tidak semua sumber air keperluan rumah tangga digunakan sebagai sumber air minum (Ghufran, 2007).

(3)

Lalolara merupakan kelurahan yang terletak di kota kendari pada Kecamatan Kambu, memiliki luas sebesar 2,96 km2 dimana wilayah kedua terluas di Kecamatan Kambu.

Berdasarkan Data BPS Tahun 2018 jumlah penduduk Kecamatan Kambu sebanyak 34.693 Jiwa sedangkan untuk jumlah penduduk di Kelurahan Lalolara sebesar 14.960. Masyarakat Kelurahan Lalolara masih banyak yang mengandalkan penggunaan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan air bersih termasuk air minum. Hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Puskesmas Mokoau di Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu menunjukkan bahwa sumber air bersih yang berasal dari sumur gali yang digunakan belum memenuhi syarat air bersih yang layak untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan CaCO3 dan PAC guna penjernihan air sumur gali di daerah Kelurahan Lalolara.

2. METODOLOGI PENELITIAN

2.1. Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu :

a. Variabel bebas (independent) yaitu yang mempengaruhi variabel terikat (dependent) pada penelitian ini variabel bebas menggunakan CaCO3 dan PAC

b. Variabel terikat (dependent), yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (dependent), pada penelitian ini variabel bebas yaitu air sumur gali

2.2. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif a. Definisi Operasional

1) Dosis 5 g/L CaCO3 dan PAC adalah dosis yang digunakan untuk penjernihkan air sesuai dengan baku mutu menurut peraturan yang berlaku.

2) Dosis 10 g/L CaCO3 dan PAC adalah dosis yang digunakan untuk penjernihkan air sesuai dengan baku mutu menurut peraturan yang berlaku.

3) Dosis 15 g/L CaCO3 dan PAC adalah dosis yang digunakan untuk penjernihkan air sesuai dengan baku mutu menurut peraturan yang berlaku.

4) Dosis 20 g/L CaCO3 dan PAC adalah dosis yang digunakan untuk penjernihkan air sesuai dengan baku mutu menurut peraturan yang berlaku.

b. Kriteria Objektif :

1) Ada penurunan kekeruhan setelah penambahan CaCO3 5 gram dan PAC 5 gram 2) Ada penurunan kekeruhan setelah penambahan CaCO3 10 gram dan PAC 10 gram 3) Ada penurunan kekeruhan setelah penambahan CaCO3 15 gram dan PAC 15 gram 4) Ada penurunan kekeruhan setelah penambahan CaCO3 20 gram dan PAC 20 gram c. Hipotesis Penelitian

1) Dosis 5 g/L

Ho : Tidak efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 5 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

Ha : Efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 5 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

2) Dosis 10 g/L

Ho : Tidak efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 10 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

Ha : Efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 10 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

3) Dosis 15 g/L

(4)

Ho : Tidak efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 15 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

Ha : Efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 15 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

4) Dosis 20 g/L

Ho : Tidak efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 20 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

Ha : Efektif pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis 20 g/L dalam menjernihkan air sumur gali

d. Jenis dan Desain Penelitian

Air sampel yang digunakan pada percobaan ini yaitu air sumur gali yang terdapat di Kelurahan Lalolara. Jenis penelitian menggunakan pre experimental method desain dengan jenis pre test dan post test desain satu kelompok. Adapun desain penelitiannya yaitu

Gambar 1. Design one group pretest post test Keterangan:

O1 = Pre test value O2 = Post test value X = Treatment

Rancangan penelitian dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. Desain Penelitian No sampel

Kadar Kejernihan Awal (NTU)

Hasil Pemeriksaan setelah pemberian CaCO3 dan PAC

dengan Dosis

5 g 10 g 15 g 20 g Perlakuan 1

Perlakuan 2 perlakuan 3

2.3. Analisis data a. Analisis Univariat

Analisis univariat untuk menggambarkan tingkat kejernihan air sumur gali sebelum perlakuan. Data yang diperoleh akan dibandingkan menggunakan syarat kualitas air bersih, yang diatur oleh Permenkes No 32 Tahun 2017 mengenai Persyaratan Kualitas Air Bersih.

b. Analisis Bevariat

Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis pengaruh variasi berbagai jumlah CaCO3 dan PAC yang diberikan untuk menjernihkan air dengan uji statistik yaitu uji T Pired berpasangan sebelum dan setelah perlakuan yang mana uji ini digunakan untuk mengetahui perbedaan pemberian dosis CaCO3 dan PAC yang berbeda-beda terhadap air sumur gali yang dijernihkan di daerah penelitian. Adapun rumus yang digunakan adalah:

(5)

t =

...(1)

Keterangan

Md = Mean dan selisih pre test dan post test Xd = selisih deviasi atas mean deviasi N = jumlah subjek pada sampel 𝛴X2 d = besaran kuadrat deviasi d.b. = ditetapkan dengan N-1

Interpresentasinya:

 Jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima berarti efektifnya variabel yang terikat

 Jika t hitung < t tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak efektifnya variabel yang bebas dan variabel yang terikat

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Analisis Univariat

Analisis univariat untuk mengetahui rata-rata penurunan dari masing-masing dosis dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengukuran kadar kejernihan No sampel

Kadar kejernihan awal (NTU)

Kadar Kejernihan Setelah Pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis

Baku Mutu*

Dosis 1 (5g)

Dosis 2 (10g)

Dosis 3 (15g)

Dosis 4

(20g) (NTU) Percobaan 1

56

48,17 NTU

37,15 NTU

32,19 NTU

17,24 NTU

25

Percobaan 2 42,21 28,09

NTU

25,07 NTU

12,01 NTU NTU

Percobaan 3 36,06

NTU

22,25 NTU

20,11

NTU 5,01 NTU Rata-rata

Percobaan

42,14 NTU

29,16 NTU

25,79 NTU

11,42

NTU 25

Penurunan 13,86 26,84

NTU

30,21 NTU

44,58 NTU NTU

Sumber: Data primer:

* Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017

Berdasarkan hasil penelitian Pada Tabel 1, sampel sumur air gali menunjukkan tingkat kejernihan awal yaitu 56 NTU setelah dilakukan pemberian CaCO3 dan PAC pada air sumur gali berturut-turut yaitu Dosis 1 (5 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 13,86 NTU atau 24,75 %, Dosis 2 (10 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 26,84 NTU atau 47,93 %, Dosis 3 (15 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 30,21 NTU atau 53,95 %, Dosis 4 (20 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 44,58 NTU atau 79,61 %.

(6)

3.2. Analisis Bivariat

Data yang diperoleh dari hasil laboratorium akan dianalisis secara analitik untuk mengetahui efektifitas penggunaan dosis CaCO3 dan PAC dalam menjernihkan air sumur gali yang dianalisis menggunakan uji T Pired Sample dengan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05), apabila uji normalitas data terpenuhi

3.2.1. Uji asumsi

a. Uji Normalitas Shapiro-Wilk

Analisis hasil uji normalitas Shapiro -Wilk dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk

Pretest Shapiro-Wil

Df Sig

Post 1 56 3 1.000

Poat 2 56 3 .780

Post 3 56 3 .817

Post 4 56 3 .817

Sumber : Data primer

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa hasil uji normalitas data diperoleh pada perlakuan Dosis (1) 5 g/L nilai Pvalue = 1,000 > 0,05, Dosis (2) 10 g/L nilai Pvalue = 0,780 > 0,05, Dosis (3) 15 g/L nilai Pvalue = 0,817 > 0,05, Dosis (4) 20 g/L nilai Pvalue = 0,817 > 0,05, dapat dinyatakan bahwa penggunaan dosis CaCO3 dan PAC dalam menjernihkan air sumur gali hasil datanya terdistribusi normal.

b. Hasil uji statistik Paired Samples Test

Analisis uji statistik paired samples test dapat dilihat pada Tebel 3 berikut:

Tabel 3. Hasil analisis uji statistik paired samples test

Perlakuan thit ttab Df Pvalue A

Pair 1 Pre-Post 4.041 2.920 2 0.056 0.005

Pair 2 Pre-Post 6.194 2.920 2 0.025 0.006

Pair 3 Pre-Post 8.716 2.920 2 0.013 0.007

Pair 4 Pre - Post 12.835 2.920 2 0.006 0.008 Sumber: Data primer

Berdasarkan Tabel 3, hasil uji statistik dengan menggunakan uji paired samples test pada perlakuan Dosis (1) 5 g/L diperoleh thitung > ttabel (4.041 > 2,920), Dosis 10 g/L (2) diperoleh thitung > ttabel (6,194> 2,920), Dosis 15 g/L (3) diperoleh thitung > ttabel (8,716> 2,920), Dosis 20 gr/L (4) diperoleh thitung > ttabel (12,835 > 2,920), yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima yang

(7)

artinya penggunaan dosis CaCO3 dan PAC efektif dalam menjernihkan air sumur di daerah studi.

Menurut Sutrisno (2010), kejernihan air dapat ditingkatkan dengan menambahkan koagulan untuk membantu proses flokulasi yang sulit untuk mengendap atau membutuhkan proses yang lama secara gravimetris. Pemberian koagulan pada air dengan tingkat kekeruhan tinggi yang dilakukan secara teratur sesuai dengan kebutuhan (dosis) yang tepat dapat menjernihkan air (Wityasari, 2016). CaO dan H2O yang bereaksi menghasilkan Ca(OH)2 yang memiliki sifat basa dan kapur memiliki kemampuan koagulasi yang kuat dan gabungan aluminat aktif dan sangat efektif untuk menarik koloid dan flok dengan bentuk lebih padat dan cepat mengendap, sehingga cocok digunakan untuk air yang tingkat kejernihannya rendah (Ningsih, dkk., 2014).

4. KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah

1. Pemberian variasi dosis CaCO3 dan PAC efektif dalam menjernihkan sumur gali di Kelurahan Lalolara Kecamatan kambu Kota Kendari.

2. Pemberian CaCO3 dan PAC dalam menjernihkan sumur air gali menunjukkan tingkat kejernihan awal yaitu 56 NTU setelah dilakukan pemberian CaCO3 dan PAC pada air sumur gali berturut-turut yaitu Dosis 1 (5 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 13,86 NTU atau 24,75 %, Dosis 2 (10 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 26,84 NTU atau 47,93 %, Dosis 3 (15 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 30,21 NTU atau 53,95 %, Dosis 4 (20 gram dosis CaCO3 dan PAC) penurunan sebesar 44,58 NTU atau 79,61 %.

3. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih, Dosis yang paling efektif untuk menurunkan tingkat kekeruhan pada air sumur gali di Kelurahan Lalolara adalah pemberian CaCO3 dan PAC dengan dosis sebesar 20 g/L karena sudah memenuhi syarat kualitas air bersih sebesar 25 NTU dengan presentase penurunan sebesar 79,61 %. Dari sampel air 56 NTU menjadi 11,42 NTU.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, A. (2013). Kajian kualitas air dan status mutu air sungai Metro di Kecamatan Sukun kota Malang. Bumi Lestari Journal of Environment, 13(2).

Asmadi, Khayan, dan Kasjono, H.S. (2011). Teknologi Pengolahan Air Bersih. Gosyen Publishing: Yogyakarta

Earnestly, F. (2018). Analisis Kadar Klorida, Amoniak Di Sumber Air Tanah Universitas Muhammadiyah Sumbar Padang. Jurnal Katalisator, 3(2), hal 89-95.

Ghufran, M., H. Kordi K.,dan Andi Baso Tancung. (2007). Pengelolaan Kualitas Air Jakarta : Rineka Cipta

Hapsari, D. (2015). Kajian Kualitas Air Sumur Gali dan Perilaku Masyarakat di Sekitar Pabrik Semen Kelurahan Karangtalun Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 7(1), hal 18-28.

(8)

Hapsari, D. (2015). Kajian Kualitas Air Sumur Gali dan Perilaku Masyarakat di Sekitar Pabrik Semen Kelurahan Karangtalun Kecamatan Cilacap Utara Kabupaten Cilacap. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 7(1), hal 18-28.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum

Marni, M. (2015). Pengaruh konsentrasi kapur (CaCO3) dan tawas Al2(SO4)3 terhadap pertumbuhan Bakteri Gram Positif. Disertasi Doktor. IAIN Palangka Raya.

Mayasari, R., Hastarina, M., dan Apriyani, E. (2019). Analisis Turbidity Terhadap Dosis Koagulan Dengan Metode Regresi Linear (Studi Kasus Di PDAM Tirta Musi Palembang). Jurnal Integrasi Sistem Industri (JISI), 6(2), hal 117-125.

Ningsih, R. P., Wahyuni, N., dan Destiarti, L. (2014). Sintesis hidroksiapatit dari cangkang kerang kepah (Polymesoda erosa) dengan variasi waktu pengadukan. Jurnal Kimia Khatulistiwa, 3(1).

Oktari, D. (2014). Rancang Bangun Unit Pengolahan Air Gambut Dengan Menggunakan Proses Aerasi, Koagulasi Dan Filtrasi Untuk Menurunkan Kandungan Organik dan Mn. Disertasi Doktor. Politeknik Negeri Sriwijaya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2014 Tentang Hak Guna Air Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih Rahimah, Z., Heldawati, H., dan Syauqiah, I. (2018). Pengolahan Limbah Deterjen Dengan

Metode Koagulasi-Flokulasi Menggunakan Koagulan Kapur dan PAC. Konversi, 5(2), hal 13-19.

Sapulete, M. R. (2010). Hubungan Antara Jarak Septic Tank Ke Sumur Gali Dan Kandungan Escherichia Coli Dalam Air Sumur Gali Di Kelurahan Tuminting Kecamatan Tuminting Kota Manado. Jurnal Biomedik (JBM), 2(3).

Sastrawidjaya A. (2009). Pencemaran Lingkungan. PT Rineka Cipta: Jakarta.

Sutrisno. (2010). Teknologi Penyediaan Air Bersih, Rineka Cipta. Jakarta

Widiyanti, N. L. P. M., Warpala, I. W. S., dan Suryanti, I. A. P. (2017). Parameter Fisik dan Jumlah Perkiraan Terdekat Coliform Air Danau Buyan Desa Pancasari Kecamatan Sukasada Buleleng. Jurnal Sains dan Teknologi (JST), 6(1).

Wityasari, N. (2016). Penentuan Dosis Optimum Poly Aluminium Chloride (PAC) Pada Pengolahan Air Bersih Di IPA Tegal Besar PDAM Jember.

Zuhri, S. (2009). Pemeriksaan Mikrobiologis Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Jebres Kota Surakarta. Disertasi Doktor. Universitas Muhammadiyyah Surakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Menganalisis dosis koagulan FeCl 3 yang paling efektif dalam menurunkan kadar COD limbah cair industri ciu.. Bagi

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sumur A, B dan C tidak memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang dikeluarkan oleh Menteri Kesebatan RI Nomor

Dosis abu daun mengkudu yang efektif meningkatkan kadar kalsium air hujan adalah dosis 1 gr, Karena pada dosis 1 gr menunjukkan peningkatan kadar kalsium yang tinggi

Dari grafik 12 diperoleh bahwa pada dosis optimum kombinasi koagulan Aluminium sulfat sebesar 40 ppm dengan PAC padat sebanyak 20 ppm belum menurunkan kekeruhan

Dari grafik 12 diperoleh bahwa pada dosis optimum kombinasi koagulan Aluminium sulfat sebesar 40 ppm dengan PAC padat sebanyak 20 ppm belum menurunkan kekeruhan

Judul Skripsi : Penggunaan Serbuk Bij Kelor ( Moringa oleifera Lam) untuk Menurunkan Kadar Cupri (Cu) dan Kromium (Cr) Air Sumur Gali secara

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan serbuk biji kelor dalam menurunkan kadar cupri (Cu) dan kromium (Cr) air sumur gali di jalan Bunga Teratai X Pasar 2

(2012) Efektivitas Biji Kelor ( Moringa oleifera) dalam Menurunkan Kadar Besi (Fe) dan Mangan ( Mn) Air Sumur Gali di Kelurahan Besar Kecamatan Medan Labuhan..