EFEKTIVITAS KONSELING REALITAS UNTUK MENINGKATKAN SELF ESTEEM ANAK KORBAN BULLYING
Afan Rif’at Murat1, Muhammad Japar2, Nofi Nur Yuhenita3
1,3 Universitas Muhammadiyah Magelang
2 Universitas Muhammadiyah Surakarta
Co-Author: [email protected] - 081578636559
Info Artikel
▪ Masuk : tgl/bln/thn
▪ Revisi : tgl/bln/thn
▪ Diterima : tgl/bln/thn
Alamat Jurnal
▪ https://ojs.uniska- bjm.ac.id/index.php/
AN-NUR/index
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia disseminated below https://creativecommon s.org/licenses/by/4.0/
Abstract : This study aims to examine the effect of individual counseling with a reality approach on the self-esteem of children who are victims of bullying. This study uses a one group pretest and posttest design. The sampling technique used was purposive sampling, namely the youth of Dusun Gendolsari who had low self-esteem characteristics. The samples taken in this study were 5 people. The method of data collection is done by using a self-esteem questionnaire. The data analysis method used is the paired sample t-test parametric analysis. The results of this study indicate that individual counseling with a reality approach has an effect on increasing self-esteem. This is evidenced by the t-test results of -18,634 paired samples with a probability value of sig(2-tailed) 0.000<0.05. Based on the results of the analysis and discussion, there is a difference in the average score of the self-esteem scale of 31.73% from the results of the pretest and posttest. The results of the study can be concluded that individual counseling with a reality approach has an effect on increasing the self-esteem of children who are victims of bullying.
Keywords: reality counselling; self esteem
PENDAHULUAN
Perilaku bullying dapat terjadi di lingkungan sekolah atau di masyarakat dari perilaku bullying verbal dan bullying nonverbal. Misalnya, ada salah satu konseli yang dia mendapatkan perilaku perundungan verbal dan nonverbal yang berdampak pada self esteem yang rendah. Self esteem merupakan evaluasi seseorang dalam menilai dirinya sendiri, yakni seberapa puas seseorang dengan dirinya sendiri Johnson, dalam (Febrina, 2018). Self esteem menurut (Ghufron dan Risnawita, 2017) adalah penilaian diri yang dilakukan seseorang terhadap dirinya yang didasarkan pada hubungannya dengan orang lain. Aspek-aspek self esteem menurut Coopersmith (Santi, 2016) yakni: kekuatan (power), keberartian (significance), kebaikan/kebajikan (virtue), dan kemampuan (competence).
Berdasarkan dari hasil wawancara dan observasi, penulis memutuskan untuk memberikan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas. Pengertian Konseling Individu adalah pertemuan konselor dengan konseli secara individual, dimana terjadi hubungan konseling yang bernuansa rapport dan konselor berupaya memberikan bantuan untuk pengembangan pribadi konseli dan konseli dapat mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapinya. Menurut Samsul Munir dalam (Zulamri, 2019), konseling individu berarti pemberian nasehat atau penasihatan kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan tatap muka (face to face). Kesimpulan dari pernyataan tersebut adalah pertemuan konselor dengan konseli secara individual (bertatap muka) dalam rangka menyelesaikan masalah kehidupannya baik personal atau di lingkungannya. Pendekatan realitas adalah Kesimpulan dari penjelasan diatas bahwa pendekatan realitas diciptakan karena pendekatan psikoanalisis kurang efisien dan efektif. Pendekatan realitas merupakan model terapi dalam konseling yang sistemnya difokuskan pada tingkah laku sekarang. Pendekatan realitas menekankan pada perubahan tingkah laku yang lebih bertanggungjawab, dan memfokuskan pada masa kini dan tidak perlu menjelaskan atau melacak sejauh mungkin pada masa lalunya.
Fokus konseling realitas adalah pada apa yang disadari oleh individu dan kemudian menolong menaikan tingkat kesadarannya itu. Setelah individu menajdi sadar betapa tidak efektifnya perilaku yang telah dilakukan untuk menontrol dunia, mereka akan lebih terbuka untuk mempelajari alternative lain dari cara berperilaku menurut Suriani dalam (Kurniati, 2022). Pendekatan realitas memiliki pandangan positif bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk menentukan dan mengarahkan dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pemberian layanan ini diharapkan bisa lebih meningkatkan self esteem dari korban bullying (Muhyatun, 2019).
Konselor berperan sebagai guru dan model yang mengkonfrontasi konseli dengan cara yang dapat membantu konseli untuk berperilaku lebih realistis sehingga konseli dapat membentuk identitas keberhasilan dirinya. Maka dari itu pendekatan realitas merupakan suatu bentuk pendekatan modifikasi tingkah laku, yang mana modifikasi tingkah laku ini difokuskan pada perasaan dan tingkah laku saat ini serta mengarahkan konseli keluar dari masalahnya dan fokus pada tujuan hidupnya dimasa depan. lebih menekankan aspek-aspek kesadaran, bukan aspek-aspek ketidaksadaran. Dari beberapa konseli yang terpilih untuk melaksanakan kegiatan konseling individu dikarekan mereka mendapatkan perilaku bullying dan berdampak pada self esteem dari masing-masing konseli. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan pemberian layanan konseling individu dengan pendekatan realitas untuk meningkatkan self esteem pada korban bullying. Konseling individu pendekatan
realitas berfokus pada kondisi saat ini dari konseli yang mengalami tindakan bullying yang berdampak pada self esteem menjadi rendah. Melalui layanan konseling individu pendekatan realitas ini diharapkan dapat meningkatkan sikap penghargaan diri (self esteem) pada konseli dilihat dari dinamika psikologis dan setiap pertemuan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas.
Konseling individu dengan pendekatan realitas berfokus pada kondisi saat ini dari konseli yang mengalami tindakan bullying yang berdampak pada self esteem menjadi rendah.
Melalui layanan konseling individu pendekatan realitas ini diharapkan dapat meningkatkan sikap penghargaan diri (self esteem) pada konseli dilihat dari dinamika psikologis dari setiap pertemuan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan eksperimen. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest Posttest penelitian ini direncanakan menggunakan pendekatan desain eksperimen semu dikarenakan akan menguji konseling individu dengan pendekatan realitas terhadap self esteem anak korban perilaku bullying.
Sumber data dalam penelitian ini berupa data yang diperoleh responden melalui treatment atau perlakuan, observasi dan wawancara. Populasi dari penelitian ini berjumlah 30 anak dan sampel untuk penenlitian ini sejumlah 5 anak. Teknik pengumpulan data pada penelitian menggunakan wawancara, observasi dan angket self esteem. Kemudian untuk analisis data menggunakan hasil uji normalitas dan homogenitas yang kemudian dari hasil uji tersebut akan dilakukan hasil hipotesis parametric menggunakan paired sample t-test.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konseling individu dengan pendekatan realitas untuk meningkatkan self esteem anak koban bullying merupakan upaya pemberian layanan konselor kepada konseli untuk dapat menyelesaikan permasalahan dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Individu dapat meningkatkan self esteem untuk diri sendiri dan di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan pada tujuan dan hasil penelitian, maka akan dibahas data empiris tentang self esteem sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas, serta peningkatan self esteem pada anak. Data empiris menunjukan adanya perubahan kondisi sebelum dan sesudah diberikan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas anak mampu meningkatkan self esteem pada dirinya. Dinamika psikologis pada penelitian ini ditunjukan dari perubahan perilaku dan sikap konseli sebelum dan sesudah melakukan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas. Dilihat dari pemahaman terhadap permasalahan dan perubahan perilaku dari konseli di lingkungan masyarakat. Perilaku positif juga diungkapkan dan ditunjukan oleh konseli, pengetahuan mengenai tindakan bullying yang harus dihindari dan perilaku sosialisasi yang meningkat setelah dilakukan layanan konseling individu dengan pendekatan realitas.
Peningkatan self esteem anak secara keseluruhan dapat diketahui melalui hasil perbandingan pretest dan posttest yaitu 27,5% menjadi 36,58%. Peningkatan self esteem dipengaruhi oleh factor dari dalam diri dan dari luar diri. Motivasi dan dukungan kepada konseli untuk bersikap dan berperilaku dengan baik dan bisa lebih memperhatikan self esteem pada diri sendiri. Konseli dapat menyikapi sesuatu yang sudah terjadi pada saat sebelum melakukan pelayanan dan bisa memperoleh jalan keluar untuk kedepannya lebih baik lagi
dalam berbagai hal kebaikan dan tentunya dapat meningkatkan self esteem mengingat pentingnya self esteem pada diri sendiri.
Peningkatan self esteem dapat menciptakan perilaku dan tindakan pada konseli yang awalnya dia kurang memikirkan orang lain berubah menjadi perilaku yang lebih baik, dapat memahami dan menghindari perilaku atau tindakan bullying, memahami dan mengimplementasikan tindakan-tindakan yang bisa meningkatkan self esteem pada dirinya sendiri dan berguna bagi orang lain. Hasil evaluasi dan penugasan yang dikerjakan konseli dapat disimpulkan bahwa konseli dapat memahami materi dan dapat mengimplementasikan perilakunya depada diri sendiri dan lingkungan.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Penelitian ini dilakukan oleh Siti Nur’aini yang berjudul “Peningkatan self esteem peserta didik melalui Konseling Realitas kelas VIII C di SMP Negeri 28 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2017/2018”. Harga diri sangatlah penting bagi individu, individu memandang dirinya berharga dan pantas dihargai sebagai diri yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam kehidupannya peserta didik akan mengalami berbagai permasalahan dalam hidup salah satunya adalah harga diri, sehingga diharapkan permasalahan peserta didik tersebut bisa dibantu penyelesaiannya oleh guru agar peserta didik dapat mengatasi masalah dengan lebih mudah dengan bimbingan seorang guru yang akhirnya masalah harga diri ini tidak mengganggu perkembangan dan pertumbuhannya. Masalah pada penelitian ini adalah terdapat peserta didik yang memiliki harga diri (self esteem) rendah. Rumusan masalah adalah apakah konseling realitas efektif untuk meningkatkan self esteem pada peserta didik kelas VIII C di SMP N 28 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2017/2018. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas konseling realitas untuk meningkatkan self esteem pada peserta didik. Hasil rata-rata skor harga diri (self esteem) sebelum mengikuti layanan konseling realitas adalah 49.0000 dan setelah mengikuti layanan konseling realitas meningkat menjadi 78.0000 dengan selisih peningkatan 29.0000. Dari hasil uji-t df=2 dan thitung lebih besar dari ttabel (50,229-2,1630), maka (ho) ditolak dan (Ha) diterima, dengan demikian harga diri (self esteem) terdapat peningkatan dengan layanan konseling realitas. Keterkaitan dengan penelitian ini yakni self esteem meningkat dengan pendekatan realitas.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak semua konseli dapat menciptakan perilaku baru dengan cepat sehingga peneliti memberikan layanan kepada konseli berbeda dalam jumlah pertemuan dengan pendekatan realitas untuk meningkatkan self esteem pada anak. Adanya kesepakatan untuk mengekplorasi yang ada pada dirinya sendiri dan perilaku positif yang harus dikembangkan lagi dapat dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan..
Tabel 1. Tabel hasil pretest dan posttest No Nama Pretest Posttest Peningkatan
Nilai %
1 WFF 80 102 27,5
2 YAA 80 105 31,25
3 MIA 82 112 36,58
4 RA 80 104 30
5 AF 72 96 33,33
Tabel 1 menunjukan bahwa terjadi peningkatan skor skala self esteem pada kelompok eksperimen. Skor tertinggi 30 atau 36,58% dan skor terendah sebesar 22 atau 27,5%.
Perbandingan hasil pretest dan posttest membuktikan bahwa adanya intervensi dari peneliti memberikan layanan konseling individu pendekatan realitas pada kelompok eksperimen.
Berdasarkan hasil uji normalitas pada table menunjukan bahwa nilai signifikan asymp sig>0.05 dinyatakan normal dan jika nilai signifikansi asymp sig<0.05 dinyatakan tidak normal. Dengan hasil dari penelitian ini menunjukan nilai signifikansi asymp sig 0.200>0.05 sehingga penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdistribusi normal.
Berdasarkan uji homogenitas yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi 0.565>0.05 sehingga data penelitian ini memiliki varian yang bersifat homogen.
Berdasarkan dari Uji Normalitas dan Uji Homogenitas menunjukan bahwa penelitian ini berdistribusi normal dan bersifat homogen, maka peneliti memutuskan untuk melakukan Uji Paired Sampel Test. Dasar pengambilan keputusan, jika nilai Sig.(2-tailed) < 0.05 maka terdapat perbedaan signifikan antara hasil pretest dan posttest. Jika nilai Sig.(2-tailed) > 0.05, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar pretest dan posttest.
Berdasarkan hasil uji paired sampel t-test diatas menyatakan nilai t -18.634 dan nilai Sig.(2- tailed) 0.000<0.05 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara hasil pretest dan posttest. Maka dari itu, layanan konseling individu dengan pendekatan realitas berpengaruh untuk meningkatkan self esteem anak pada korban bullying.
Peningkatan self esteem anak secara keseluruhan dapat diketahui melalui hasil perbandiang pretest dan posttest yaitu 27,5% menjadi 36,58%. Peningkatan self esteem dipengaruhi oleh factor dari dalam diri dan dari luar diri. Motivasi dan dukungan kepada konseli untuk bersikap dan berperilaku dengan baik dan bisa lebih memperhatikan self esteem pada diri sendiri. Konseli dapat menyikapi sesuatu yang sudah terjadi pada saat sebelum melakukan pelayanan dan bisa memperoleh jalan keluar untuk kedepannya lebih baik lagi dalam berbagai hal kebaikan dan tentunya dapat meningkatkan self esteem mengingat pentingnya self esteem pada diri sendiri.
Peningkatan self esteem dapat menciptakan perilaku dan tindakan pada konseli yang awalnya dia kurang memikirkan orang lain berubah menjadi perilaku yang lebih baik, dapat memahami dan menghindari perilaku atau tindakan bullying, memahami dan mengimplementasikan tindakan-tindakan yang bisa meningkatkan self esteem pada dirinya sendiri dan berguna bagi orang lain (John W Santrock, 2010). Hasil evaluasi dan penugasan yang dikerjakan konseli dapat disimpulkan bahwa konseli dapat memahami materi dan dapat mengimplementasikan perilakunya depada diri sendiri dan lingkungan.
Tabel 2. Hasil uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Pretest Posttest
N 5 5
Normal Parametersa,b Mean 78.8000 103.8000 Std. Deviation 3.89872 5.76194
Most Extreme
Differences
Absolute .421 .218
Positive .206 .218
Negative -.421 -.177
Test Statistic -.421 .218
Asymp. Sig. (2-tailed) .004
c .200c
,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Tabel 3. Hasil uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
VAR00001 Based on Mean .303 1 8 .597
Based on Median .596 1 8 .462
Based on Median and with adjusted df
.596 1 7.891 .463
Based on trimmed mean .360 1 8 .565
Tabel 4. Hasil uji Homogenitas
Paired Samples Test Paired Differences
T df
Sig. (2- tailed) Mean
Std.
Deviation
Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 PRE –
POST
-25.00000 3.00000 1.34164 -28.725 -21.275 -18.634 4 .000
Hasil penelitian ini sejalan Nur’aini (2017) yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa harga diri (self esteem) pada siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknik konseling realita. Penelitian Pramesti (2015) juga menunjukkan bahwa tingkat self esteem siswa dapat memberi petunjuk bagi siswa dan guru agar siswa dan guru dapat bekerja sama dalam meningkatkan rasa harga diri (self esteem) pada diri siswa. Hal ini agar siswa mampu menghargai dirinya dan lebih percaya diri dalam mengekspresikan dirinya dalam bentuk prestasi dan tingkah laku yang positif. Ditemukannya hubungan positif dan signifikan antara self esteem dengan prestasi belajar mata pelajaran makanan kontinental pada, maka dapat memberikan petunjuk bahwa self esteem berhubungan terhadap prestasi belajar mata pelajaran makanan kontinetal pada siswa dan dengan teknik konseling realita dapat meningkatkan self esteem pada siswa.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa konseling individu dengan pendekatan realitas berpengaruh terhadap peningkatan self esteem anak. Hal ini dibuktikan adanya perbedaan hasil pretest dan posttest pada kelompok eksperimen.
Terjadi perubahan skor setelah dilakukan perlakuan dengan pendekatan realitas. Hasil pengamatan dan hasil evaluasi juga menunjukan adanya peningkatan self esteem, perilaku itu diantaranya, konseli mampu menemukan hal yang berarti pada dirinya yang tidak dipunyai oleh orang lain dan bisa untuk dia terapkan untuk kehidupan di lingkungan masyarakat atau di sekolah, menciptakan perilaku yang baru, dan mengembangkan perilaku positif di kehidupan sehari-hari serta lebih memperhatikan self esteem pada dirinya sendiri dan orang lain. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konseling individu dengan pendekatan realitas dapat meningkatkan self esteem anak korban bullying.
REFERENSI
Ghufron, M. N., & Risnawita, R. (2017). Teori-teori Psikologi. Yogyakarta : Ar-ruzz Media.
Febrina, D. T., Suharso , P. L., & Saleh , A. Y. (2018). Self esteem Remaja Awal: Temuan Baseline Dari Rencana Program Self Instructional Training Kompetensi Diri . Jurnal Psikologi Insight , 43-56.
Kurniati, A., & Supriyatna, A. (2022). Efektivitas Konseling Kelompok Realitas Teknik Want, Direction, Evaluation, dan Plant (WDEP) untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Menyelesaikan Skripsi. Jurnal Basicedu, 1938-1946.
Muhyatun, M. (2019). Upaya Preventif Perilaku Menyontek Siswa Melalui Layanan Dukungan Sistem. Jurnal Pendidikan Islam, 157-164.
Nur’aini, Siti. (2017). Peningkatan Self Esteem Pada Peserta Didik Melalui Konseling REalitas Kelas VII C di SMP Negeri 28 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2017/2018.
Thesis. Repositiry UIN Raden Intan Lampung.
Pramesti, Aturdian. (2015). Hubungan Antara Self Esteem TErhadap Prestasu Belajar Mata Pelakaran Makanan Kontinental Pada Siswa Jurusan Tata Boga KOnsentrasi Jasa Boga SMK Negeri 1 Sewon. Sktipsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Santi , N. N. (2016). Hubungan Self esteem dan Kecenderungan Narsisme Terhadap Pengguna Facebook Pada Mahasiswa PGSD UN PGRI Kediri. Jurnal Pendidikan Nusantara , 88-96.
Wilis , S. S. (2013). Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta.
Zulamri, M., & Juki, A. (2019). Pengaruh Layanan Konseling Individual Terhadap Keterbukaan Diri (Self Disclosure) Remaja Di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II B Pekanbaru. Jurnal At-Taujih , 19-36.