• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efisiensi Biaya Pembangunan Rumah Layak Huni

N/A
N/A
Hilda Ari Ashara

Academic year: 2024

Membagikan " Efisiensi Biaya Pembangunan Rumah Layak Huni"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan infrastruktur merupakan suatu proses penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan berperan penting dalam meningkatkan ketahanan suatu negara terhadap bencana alam, perubahan iklim, dan tantangan lingkungan lainnya. Pembangunan infrastruktur tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga melibatkan perencanaan, perancangan, konstruksi, operasional, pemeliharaan, dan pengelolaan infrastruktur yang berkelanjutan.

Berdasarkan data Kementrian PUPR 81 juta penduduk Indonesia belum memiliki tempat tinggal dan saat ini pemerintah Indonesia terus melakukan pembangunan khususnya rumah layak huni. Dalam membangun rumah hunian selain mempertimbangkan bangunan yang kokoh kita juga perlu memperhatikan efisiensi biaya yang akan dikeluarkan. Adapun cara menekan biaya pembangunan yaitu dengan pemilihan material konstruksi yang murah tetapi juga bermutu tinggi, sehingga dapat menghasilkan bangunan yang berkualitas.

Batako merupakan salah satu material penyusun dinding yang saat ini banyak dipilih karena dinilai lebih efisien dalam segi pemasangan jika dibandingkan dengan penggunaan batu bata (Sahrul Harahap, 2021). Sebagai bahan bangunan, batako memiliki beberapa kelebihan seperti kuat tekan yang tinggi, tahan terhadap api dan gempa, serta mudah ditemukan dan diproduksi.

Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, inovasi dalam pembuatan batako ramah lingkungan semakin diminati. Beberapa inovasi yang dilakukan dalam pembuatan batako adalah penggunaan bahan tambah seperti limbah pertanian dan limbah industri.

Menurut Nyimas Laula (2014), angka yang dicapai dalam produksi tebu di Indonesia mencapai 2 juta ton. Dari proses produksi tersebut menghasilkan 90%

ampas tebu, 5% molase, dan 5% air. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, industri

(2)

5 tepung aren menghasilkan limbah sebanyak 659 ton per tahun atau setara dengan 2,19 ton per hari (Maulidina Juliano, 2020).

Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini dibuat inovasi penambahan abu ampas tebu sebagai subtitusi sebagian semen dan limbah onggok aren sebagai subtitusi sebagian pasir dalam pembuatan batako. Tebu memiliki salah satu kandungan yang sama dengan semen yaitu berupa silika. Kandungan silika pada abu ampas tebu sebesar 71% dan memiliki sifat pozollan yang dapat mengikat partikel (Yobel, 2018). Pada penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Amin (2014) penambahan serat aren dengan variasi penambahan sebesar 0,5 menghasilkan kuat tekan yang cukup tinggi sebesar 30,75 kg/cm2 . Oleh karena itu serat onggok aren dan abu ampas tebu dapat dijadikan inovasi dan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam upaya membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan modul ini adalah untuk menganalisis pengaruh subtitusi abu ampas tebu sebagai pengganti sebagian semen dan penambahan limbah onggok aren pada campuran batako. Didapat tujuan penyusunan modul ini adalah:

1. Untuk menganalisis bagaimana proses pengolahan limbah onggok aren dan abu ampas tebu yang dijadikan sebagai substitusi dalam pembuatan batako.

2. Menganalisis pengaruh penambahan limbah onggok aren dan abu ampas tebu sebagai subtitusi parsial semen pada batako terhadap kuat tekan dan penyerapan air.

1.3 Deskripsi Singkat

Materi ini membekali tentang pengetahuan mengenai pembuatan batako dengan campuran abu ampas tebu dan limbah onggok aren. Direncanakan inovasi batako ini memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan batako konvensional serta mampu menekan biaya penggunaan semen. Mutu rencana yang diharapkan pada batako ini mampu melebihi nilai mutu yang ditetapkan SNI 03- 0349-1949 sebesar 17 kg/cm2.

(3)

6 1.4 Materi Pokok

Materi pokok yang akan dibahas dalam modul pembuatan batako dengan campuran abu ampas tebu dan limbah onggok aren adalah sebagai berikut:

1. Metode pembuatan batako dengan penambahan limbah onggok aren dan abu ampas tebu.

2. Pengujian kuat tekan batako menggunakan Compression Test Machine.

3. Pengujian penyerapan air.

(4)

7

BAB II PEMBUATAN

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Batako

Batako adalah elemen bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen, pasir, air dengan atau tanpa bahan additive, dicetak sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding (Sunaryo Suratman, 1995:5).

Batako yang baik harus memenuhi persyaratan yang telah diatur dalam SNI 03-0349-1989 tentang bata beton dinding. Persyaratan tersebut mencakup nilai kuat tekan dan penyerapan air. Kuat tekan batako adalah kemampuan batako untuk menahan tekanan atau beban yang diberikan kepadanya tanpa mengalami kerusakan atau deformasi permanen. Nilai kuat tekan batako bervariasi tergantung pada jenis bahan, komposisi, dan proses pembuatan batako tersebut.

Kemampuan penyerapan air batako penting dalam konstruksi karena dapat mempengaruhi kekuatan dan ketahanan batako terhadap cuaca, kelembaban dan kerusakan akibat air. Semakin tinggi tingkat penyerapan air, semakin rentang batako terhadap perubahan suhu, keretakan, pembusukan dan kerusakan lainnya.

Tabel 2.1 Syarat Fisis Batako

Syarat Fisis Batako

Satuan Tingkat Mutu Bata Beton Pejal

Tingkat Mutu Bata Beton Berlubang

I II III IV I II III IV

Kuat tekan bruto

*rata-rata min

Kg/cm2 100 70 40 25 70 50 35 20

(5)

8 Syarat Fisis

Batako

Satuan Tingkat Mutu Bata Beton Pejal

Tingkat Mutu Bata Beton Berlubang

I II III IV I II III IV

Kuat tekan bruto masing-masing

benda uji min.

Kg/cm2 90 65 35 21 65 45 30 17

Penyerapan air rata-rata, maks

% 25 35 - - 25 35 - -

Sumber : SNI 03-0349-1989 2.1.2 Semen

Semen adalah bahan perekat yang digunakan untuk mengikat material bangunan. Semen terbuat dari bahan dasar utama yang disebut klinker. Selain klinker, semen juga dapat mengandung bahan tambahan seperti pozolan, silika, slag, atau bahan aditif lainnya. Bahan tambahan ini digunakan untuk mengubah sifat-sifat semen, seperti waktu pengerasan, kekuatan, dan daya tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu. Beberapa jenis semen yang umum digunakan diantaranya yaitu:

1. Semen Portland biasa (Ordinary Portland Cement, OPC) 2. Semen Portland tahan air (Portland Pozzolana Cement, PPC)

3. Semen tahan air dengan daya lekat yang tinggi (Portland Composite Cement, PCC)

4. Semen sulfoaluminate kalsium (Calcium Sulfoaluminate Cement, CSA) 5. Semen aluminat kalsium (Calcium Aluminate Cement, CAC).

Pada pembuatan batako ini menggunakan semen jenis PCC dengan merk Gresik.

Material semen ini telah memenuhi syarat SNI 15-2049-2004 tentang semen Portland.

(6)

9 2.1.3 Agregat Halus (Pasir)

Pasir adalah material alami yang terdiri dari partikel kecil yang terbentuk melalui proses pelapukan batuan. Komposisi kimia pasir dapat bervariasi tergantung pada sumbernya, namun secara umum, pasir terdiri dari mineral seperti silika, kuarsa, feldspar, dan mineral lainnya. Pasir memiliki sifat yang penting dalam konstruksi. Pasir yang baik untuk konstruksi umumnya harus bersih, bebas dari kandungan organik, dan tidak mengandung material yang dapat merusak seperti lumpur atau lempung.

2.1.4 Abu Ampas Tebu

Abu Ampas Tebu diperoleh dari sisa pembakaran dan memiliki kandungan silikat (SiO2), aluminat (Al2O3), Ferrit (Fe2O3) yang merupakan bahan utama untuk pembentuk semen portland dan termasuk sebagai pozzolan. Penelitian yang dilakukan oleh NurwajiWibowo (2006), diketahui ampas tebu apabila dibakar pada suhu 600 °C berhasil menaikkan unsur silika (SiO2), aluminat (Al2O3), ferrit (Fe2O3) sebesar 77,33% dan memenuhi syarat sebagai pozzolan.

2.1.5 Onggok Aren

Pohon aren atau pohon aren gula (Arenga pinnata) adalah sejenis pohon tropis yang dapat ditemukan di daerah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon aren menghasilkan batang yang didalamnya mengandung sari pati. Dari hasil pengolahan sari pati tersebut meninggalkan serat atau disebut dengan onggok aren.

2.1.6 Pengujian Material

Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan material yang sesuai dengan standart agar produk batako yang dihasilkan sesuai dengan SNI 03-0349-1989.

Pengujian metrial meliputi : 1. Uji Saringan

Uji saringan agregat halus dilaksanakan menggunakan mesin sieve shaker.

Pengujian saringan dimaksudkan untuk mendapatkan nilai modulus kehalusan.

Langkah pertama pengujian saringan yaitu menyiapkan pasir 1 kg yang telah dioven

(7)

10 selama 8 jam. Kemudian pasir dimasukkan kedalam saringan yang telah disusun berdasarkan diameter terbesar ke diameter terkecil dilanjutkan dengan mengayakan pasir menggunakan alat sieve shaker selama 10 menit. Kemudian catat agregat yang tertahan pada setiap saringan dan lakukan analisa perhitungan modulus kehalusan.

2. Uji Kocokan (Kadar Lumpur)

Untuk mengetahui besaran kadar lumpur pada pasir, maka dilakukan uji kocokan yaitu dengan dengan memasukkan pasir kering 130 cc ke dalam gelas ukur. Kemudian mengisi air sebanyak 250 cc kedalam gelas ukur tersebut.

Dilanjutkan dengan mengocok gelas yang terisi pasir dan air selama 30 menit dan diamkan selama 5 jam.

3. Uji NaOH (Lumpur Organis)

Pengujian NaOH dapat diketahui perubahan warna dari larutan NaOH dan ketinggian dari lumpur yang terkandung. Tata cara pengujian ini yaitu dengan cara memasukan pasir kering 150 cc pada gelas ukur kemudian menambahkan larutan NaOH hingga gelas ukur terisi 200 cc. Kemudian gelas ukur ditutup dan diamkan selama 24 jam. Hasil perubahan warna cairan NaOH :

a. Jernih sampai kuning tua : dapat dipakai

b. Merah muda : dapat dipakai

c. Coklat tua sampai merah kecoklatan : tidak dapat dipakai

2.1.7 Pengujian Benda Uji 1. Uji Kuat Tekan

Kuat tekan merupakan kemampuan suatu bahan untuk menahan tekanan atau gaya tekan tanpa mengalami deformasi atau kerusakan yang signifikan. ASTM C- 133-97 sebagai acuan pengujian kuat tekan batako dengan perhitungan sebagai berikut :

F

max= 𝑃 𝐴

(8)

11 P = Kuat Tekan (N/m2)

F = Gaya Permukaan Benda Uji (m2) A = Luas Permukaan (N)

2. Uji Absorpsi (Penyerapan Air)

Absorpsi atau penyerapan air adalah kemampuan material untuk menyerap dan mempertahankan jumlah air tertentu di dalamnya. Tingkat penyerapan air dapat bervariasi tergantung pada sifatnya seperti porositas, kepadatan, dan komposisi kimia. Semakin tinggi porositas batako, semakin tinggi kemampuannya untuk menyerap air. Oleh karena itu, batako yang lebih padat akan memiliki nilai penyerapan air yang lebih rendah. Daya serap air yang diizinkan berdasarkan SNI 03-0349-1989 maksimal 25%. Perhitungan prosentase daya serap air sebagai berikut :

Penyerapan Air (%) = = 𝑚𝑏−𝑚𝑘𝑚𝑏 𝑥 100%

mb = Massa basah benda uji (gr) mk = Massa kering benda uji (gr)

2.2 Standart Pembuatan Batako 2.2.1 Peralatan

1. Oven yang digunakan untuk mengeringkan pasir.

2. Satu set saringan dengan diameter lubang 0 – 9,5 mm dan alat sieve shaker yang digunakan untuk mendapatkan agregat halus lolos saringan no.4 (4,75 mm).

3. Timbangan digital kapasitas maksimum 30 kg dengan ketelitian 5 gr dan neraca ohaus dengan tingkat ketelitian 0,1 gr.

4. Wadah sebagai tempat mencampur bahan pembuatan batako dan cetok sebagai alat mengaduk bahan pembuatan batako.

5. Cetok yang digunakan untuk mengaduk campuran batako.

6. Bekisting kubus ukuran 15 x 15 x 15 cm yang berfungsi sebagai cetakan pembuatan benda uji.

(9)

12 7. Tongkat besi dengan berat 8 kg digunakan untuk memadatkan batako.

8. Alat Compression Test Machine merupakan alat yang digunakan untuk menguji kuat tekan benda uji.

2.2.2 Bahan 1. Semen

Semen yang digunakan pada pembuatan batako ini yaitu semen jenis PCC dengan merk Gresik.

2. Agregat Halus

Pada proses pembuatan batako ini menggunakan pasir muntilan yang telah lolos saringan no.4 (4,75 mm).

3. Onggok Aren

Onggok aren yang digunakan sudah melalui tahap pengeringan terlebih dahulu.

4. Abu Ampas Tebu

Abu dihasilkan dari pembakaran ampas tebu yang sebelumnya sudah dikeringkan dengan sinar matahari.

5. Air

Air yang digunakan berasal dari PDAM Universitas Diponegoro 6. Minyak Bekisting

Penggunaan minyak bekisting bertujuan untuk memudahkan pelepasan benda uji dari bekisting.

2.3 Metode Perencanaan Campuran 2.3.1 Pengujian Agregat Halus

A. Uji Saringan

1. Menyiapkan agregat halus kemudian dioven selama 8 jam.

2. Setelah 8 jam, agregat halus ditimbang sebanyak 1 kg.

(10)

13 Gambar 2.1 Penimbangan Agregat Halus

3. Selanjutnya masukan agregat halus ke saringan yang telah disusun.

Pengujian agregat menggunakan saringan dengan diameter 0,00 mm – 9,50 mm.

4. Kemudian agregat diayak menggunakan mesin sieve shaker selama 10 menit.

Gambar 2.2 Pengujian Agregat Halus Menggunakan Sieve Shaker 5. Selanjutnya menimbang hasil agregat yang tertahan pada setiap

saringan.

6. Melaksanakan analisa perhitungan uji agregat halus.

(11)

14 B. Uji Kocokan (Kadar Lumpur)

1. Menyiapkan pasir kering yang telah dioven.

2. Memasukan pasir ke dalam gelas ukur setinggi 130 cc.

3. Menuangkan air ke dalam gelas ukur hingga tinggi mencapai 250 cc.

4. Tutup rapat gelas ukur menggunakan plastik dan ikat menggunakan karet.

5. Kocok tabung gelas ukur hingga homogen selama 30 menit, kemudian diamkan selama 5 jam.

6. Setelah 5 jam, catat tinggi lapisan antara lumpur dengan tinggi pasir yang dipakai dan lakukan analisa.

Gambar 2.3 Hasil Pengujian Kadar Lumpur Sistem Kocokan

C. Uji NaOH

1. Menyiapkan pasir kering yang telah dioven, larutan NaOH dan gelas ukur.

2. Ambil pasir kering dan masukkan dalam gelas ukur setinggi 130 cc

(12)

15 3. Tuangkan NaOH setinggi 200 cc, kemudian tutup raat

menggunakan plastik dan karet.

4. Kocok tabung gelas selama 5 menit dan diamkan 24 jam.

5. Setelah didiamkan selama 24 jam dan lihatlah perubahan warna dari cairan NaOH tersebut. Catat tinggi lapisan antara lumpur dengan tinggi pasir pada percobaan tersebut.

Gambar 2.4 Hasil Pengujian NaOH

2.3.2 Mix Design Batako

Perencanaan mix design batako sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan batako sesuai dengan persyaratan yang telah diatur dalam SNI 03-0349-1989. Berdasarkan hasil survey ke produsen batako yang berada di wilayah Semarang, penulis melakukan penelitian pembuatan batako konvensional dengan komposisi perbandingan 1 PC : 6 PS dan FAS 0,35.

Penelitian ini akan menghasilkan 5 variasi batako dengan komposisi campuran yang berbeda-beda dan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

(13)

16 Tabel 2.2 Mix Design Batako

Variasi PC AT PS SA

Variasi 1 1 - 6 -

Variasi 2 0,975 0,025 0,99 0,01

Variasi 3 0,95 0,5 0,99 0,01

Variasi 4 0,925 0,75 0,99 0,01

Variasi 5 0,9 0,1 0,99 0,01

Keterangan :

PS = Semen PS = Pasir

AT = Abu Ampas Tebu SA = Serat Aren

2.4 Metode Pembuatan Benda Uji

Benda uji yang digunakan pada penelitian ini berupa kubus dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm sejumlah 30 buah dengan masing-masing 6 buah benda uji untuk setiap variasi. Langkah pembuatan benda uji sebagai berikut :

1. Menyiapkan semen, pasir, abu ampas tebu, serat aren, air dan alat yang akan digunakan.

2. Menimbang bahan menggunakan timbangan digital dengan berat masing- masing bahan sesuai dengan variasi yang akan dibuat.

Gambar 2.5 Penimbangan Abu Gambar 2.6 Penimbangan Ampas Tebu Serat Aren

(14)

17

Gambar 2.7 Penimbangan Pasir Gambar 2.8 Penimbangan Semen 3. Mencampurkan seluruh bahan yang telah ditimbang pada wadah dan aduk

hingga homogen, kemudian tambahkan air dan aduk kembali kurang lebih 20 menit hingga adonan homogen.

Gambar 2.9 Pencampuran Seluruh Bahan

4. Hasil campuran bahan tersebut dimasukan ke dalam cetakan benda uji kubus berukuran 15 x 15 x 15 cm dan lakukan penusukan berkali-kali agar benda uji yang dihasilkan padat dan tidak berongga.

(15)

18 Gambar 2.10 Pencetakan Benda Uji

5. Setelah cetakan terisi penuh, lepas bekisting secara perlahan.

Gambar 2.11 Pelepasan Bekisting

6. Mengeringkan batako dengan suhu ruang dan tidak terpapar sinar matahari.

(16)

19 Gambar 2.12 Pengeringan Batako

2.5 Metode Pengujian Benda Uji 2.5.1 Uji Kuat Tekan

Tata cara pengujian kuat tekan menggunakan acuan ASTM C-133-97 dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Memberi kode atau tanda pada masing-masing sampel benda uji batako.

2. Mencatat massa benda uji batako menggunakan neraca.

3. Memasukkan satu per satu sampel benda uji batako kedalam alat uji kuat tekan.

4. Menjalankan alat uji kuat tekan dan memantau hingga benda uji batako hancur.

5. Ketika benda uji batako hancur, maka batako sudah mencapai nilai kuat tekan maksimum.

6. Catat hasil kuat tekan masing-masing benda uji batako dan lakukan perhitungan kuat tekan menggunakan rumus :

𝑓′𝑐 =P A Dengan :

F’c = Kuat Tekan (Mpa) P = Beban Maksimum (Kg) A = Luas Permukaan (cm2)

(17)

20 2.5.2 Uji Penyerapan Air (Absorpsi)

Pengujian penyerapan air pada benda uji dimaksudkan untuk mengetahui daya serap air pada benda uji. Batako yang memiliki nilai daya serap air tinggi akan berdampak pada kualitas ruangan atau hunian, dimana ruangan tersebut akan memiliki tingkat kelembaban tinggi sehingga akan mengakibatkan tumbuhnya lumut atau jamur pada dinding. Uji penyerapan air mengacu pada SNI 03-0349-1989. Tata cara melakukan uji penyerapan air pada batako : 1. Mencantumkan tanda atau kode di setiap sampel benda uji batako.

2. Membersihkan sampel benda uji batako dengan kain lap.

3. Merendam sampel benda uji batako pada air selama dua puluh empat jam. Setelah itu, sampel dikeluarkan dari rendaman air dan sisa air yang menempel dilap menggunakan kain.

4. Menimbang sampel benda uji batako untuk mendapatkan berat basah sampel.

5. Mengeringkan sampel benda uji batako menggunakan oven selama 24 jam.

6. Menimbang sampel benda uji batako utuk mendapatkan berat kering sampel.

7. Menghitung prosentase penyerapan air batako dengan rumus :

(18)

21 BAB III

PENUTUP

3.1 Rangkuman

Penggunaan abu ampas tebu dan limbah onggok aren merupakan suatu inovasi baru dalam pembuatan batako ramah lingkungan. Adapun bahan yang digunakan yaitu berupa abu ampas tebu sebagai substitusi sebagian semen dan limbah onggok aren sebagai bahan tambah dalam inovasi pembuatan batako.

Jenis pengujian untuk bahan inovasi pembuatan batako berupa pengujian kuat tekan dan uji penyerapan air. Penambahan dua bahan tersebut dapat meningkatkan nilai kuat tekan batako optimal pada prosentase penambahan abu ampas tebu 7,5%

dan nilai penyerapan air yang masih memenuhi SNI 03-0349-1989.

(19)

22 DAFTAR PUSTAKA

Anhadi, Aulia Rahmina dan Hariadi Yulianto. 2018. Karakteristik Kuat Tekan dan Penyerapan Air Batako Dengan Penambahan Serbuk Kayu dan Fly Ash.

Harahap, Sahrul. 2021. “Analisa perbandingan biaya serta waktu pelaksanaan material dinding batu bata dan batako pada rumah type 36” Volume 3.

Padang : Universitas Graha Nusantara.

Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI) 1982 Pasal 6. Tentang batu cetak beton (bataton).

Ruang sipil. 2019. Agregat: Pengertian, Fungsi, Klasifikasi dan Gradasi.

(https://www.ruang-sipil.com/2019/09/agregat.html).

SNI 03-0349-1989 ,Bata Beton Untuk Pasangan Dinding, ICS 91.100.30, Badan Standardisasi Nasional Indonesia BSNI.

SNI 03-1750-1990, Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Lapangan, ICS 9 91.100.30, Badan Standardisasi Nasional Indonesia BSNI.

SNI 1737-1989-F, Tata Cara Pelaksanaan Aspal Beton, Badan Standardisasi Nasional Indonesia BSNI.

Supribadi, I K. Ilmu Bangunan Gedung. Seri Bangunan Sipil A. Bandung : Armico, 1987.

Yobel, 2018. "Pengaruh Abu Ampas Tebu sebagai Substitusi Semen pada Pembuatan Batako”. Skripsi. Medan : Universitas Medan Area.

Zulfa, 2014. “Optimasi kinerja akustik pada batako expose dengan campuran abu onggok aren”. Skripsi. Surakarta : Universitas Sebelas Maret.

(20)

23 GLOSARIUM

Ampas Tebu

Ampas tebu adalah limbah dari hasil ekstraksi (pemerahan) cairan tebu.

Batako

Batako adalah elemen bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen atau pasir, air dengan atau tanpa bahan tambahan additive, dicetak sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding.

Onggok Aren

Onggok aren adalah hasil sisa pengolahan sari pati yang terdapat pada batang pohon aren.

Pasir

Pasir adalah material alami yang terdiri dari partikel kecil yang terbentuk melalui proses pelapukan batuan.

Semen

Semen adalah bahan perekat yang digunakan untuk mengikat material bangunan yang terbuat dari bahan dasar utama klinker. Selain klinker, semen juga dapat mengandung bahan tambahan seperti pozolan, silika, slag, atau bahan aditif lainnya.

Uji Kuat Tekan

Uji kuat tekan merupakan pengujian mengetahui kemampuan suatu bahan untuk menahan tekanan atau gaya tekan tanpa mengalami deformasi atau kerusakan yang signifikan.

Uji Penyerapan Air

Absorpsi atau penyerapan air adalah kemampuan material untuk menyerap dan mempertahankan jumlah air tertentu di dalamnya.

Referensi

Dokumen terkait

Bersama ini kami sampaikan dengan hormat bahwa dalam rangka program pengentasan kemiskinan dibidang kesehatan khususnya bidang perumahan yang tidak layak huni,

Sehubungan dengan hasil Evaluasi Penawaran Paket Pekerjaan Pengawasan Pembangunan Rumah Rakyat Layak Huni di Kabupaten Supiori dengan (Kode Lelang : 3988041) , maka

Tujuan dilakukannya penelitian mengenai komunikasi nonverbal proksemik di rumah tidak layak huni ini adalah untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai komunikasi

Permasalahan yang akan diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana kondisi existing kerusakan Rumah Tidak Layak Huni di Kecamatan Jeumpa Kabupaten Aceh Barat Daya yang ditinjau dari

Pemenuhan hak rumah layak huni di Provinsi Riau sangat progresif, mengingat jumlah masyarakat miskin dan belum memiliki rumah sebanyak 314.692 rumah tangga (RT)

viii EVALUASI PROGRAM REHABILITAS RUMAH TIDAK LAYAK HUNI TAHUN 2021 DI KELURAHAN TANJUNG UNGGAT TANJUNGPINANG Oleh: Nur Halimah Nim: 180563201060 ABSTRAK Program Rumah Tidak

Sosialisasi PKS Rumah Layak Huni dan Implementasi Sistem Sikumbang Terbaru Divisi Penyaluran

Pemberitahuan terkait usulan perbaikan rumah tidak layak huni pada Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi Jawa Barat TA