PARADIGMA EKONOMI AGAMA BUDHA
Oleh :
KHILMI ZUHRONI
Disampaikan pada Mata Kuliah Ekonomi Multiparadigma
STKIP MUHAMMADIYAH SAMPIT
2020
PARADIGMA EKONOMI AGAMA BUDHA Oleh : Khimi Zuhroni
PENGANTAR
Budha merupakan salah satu agama tertua di dunia dan juga di Indonesia sebelum berkembangnya agama Islam yang dibawa diajarkan oleh seorang bijaksana Shidarta Gautama dari India. Di Indonesia bentuk pesatnya perkembangan agama Budha ditandai dengan berkuasanya kerajaan besar Sriwijaya serta prasasti monumental yang bernilai seni, budaya dan pengetahuan tinggi yaitu candi Borobudur. Bisa dikatakan peradaban yang dibangun oleh dasar agama sedemikian menonjol sehingga dapat menjadi fondasi mengembangkan suatu peradaban.
Civilization atau peradaban bermakna suatu kondisi masyarakat yang memiliki kemajuan (Maryam: 2002), baik ilmu maupun teknologi. Tentunya masyarakat masa itu telah memilikinya sehingga mampu membuat karya monumental yang sangat luar biasa bertaraf dunia. Agama dapat menjadi spirit untuk membangun suatu negara dan bisa juga lebih luas lagi untuk menjadi kalisator perdamaian dan persatuan dunia. Seperti yang dikembangkan oleh Islam, agama rahmatan lil' Dalam Hindu, manusia adalah spirit dan sumber dari spirit adalah agama.
Dengan demikian ada relasi secara langsung maupun tidak langsung keberadaan dalam kehidupan manusia. Seperti halnya yang digambarkan oleh max weber adanya keterkaitan agama (protestan) dalam ekonomi kapitalis di Eropa. Selanjutnya akan diulas tentang paradigma atau cara pandang agama Budha terhadap ekonomi disamping juga akan dengan nilai-nilai ajaran yang fundamental dari agama tersebut. Karena kemajuan yang dicapai berabad-abad lamanya oleh penguasa maupun masayarakat pemeluk agama Budha tidak lepas dari dukungan ekonomi. Manusia pada dasarnya adalah homo economicus, maka secara fitrah akan berupaya kepada kesejahteraan hidup. Terutama menghadapi persaingan global dalam dimensi ekonomi, antara dua kutub kapitalisme dan sosialisme.
SEKILAS TENTANG AGAMA BUDHA
Tidaklah mudah dalam mendefinisikan agama, apalagi kita menemukan kenyataaan agama sangat beragam. Pandangan seseorang terhadap agama ditentukan oleh pemahamannya terhadap agama itu sendiri (Shihab:2013). Ketika pengaruh gereja di Eropa merasa terusik dengan kehadiran para ilmuwan yang menentang tentang ajaran agamanya, maka timbul eksodus para cerdik pandai untuk meninggalkan agamanya. Karenanya,
menurut Emile Durkheim (2005), untuk mengerti seperti apa dan bagaimana agama paling primitif (sekalipun) dan sederhana yang dapat dikenali lewat observasi kita harus menentukan apa yang dimaksud dengan agama itu sendiri Jika tidak demikian kita akan terjebak dalam risiko melibatkan sistem ide dan berbagai praktek yang sebenarnya di luar wilayah agama (tidak bersifat religius), atau melewatkan fenomena religius tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah religius.
Selanjutnya berdasarkan penelitian yang mendalam di wilayah pedalaman Australia yang disarikan dalam bukunya “The elementary Forms of The Religious Life” Durkheim mendefinisikan bahwa agama adalah, pertama, merupakan kesatuan sistem kepercayaan dan praktek-praktek yang berkaitan dengan yang sakral, yaitu hal-hal yang disisihkan dan terlarang- kepercayaan dan praktek-praktek yang menyatukan seluruh orang yang menganut dan meyakini hal-hal tersebut dalam satu komunitas moral yang disebut gereja, atau sejenis dengannya, seperti Masjid, pura (Hindu), Vihara atau Candi untuk agama Budha. Kedua, bahwa ide agama tidak dapat dipisahkan dengan ide gereja (atau simbol agama-agama lainnya), mau tidak mau agama harus dikonsepsikan kepada hal yang benar- benar kolektif (Dukheim: 2005).
Sementara Shihab mendefeinisikan dengan mengutip Syaltut, bahwa “Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk pedoman hidup manusia”(Shihab: 2007). Tapi betapapun jelasnya pengertian ini kelihatannya, namun karena kebiasaan pikiran kita untuk berpihak pada ajaran agama sendiri, maka banyak fakta yang tidak masuk dalam definisi tersebut, namun tetap masuk wilayah agama (Durkheim: 2005).
Dalam agama-agama besar tertentu, ide tentang dewa-dewi dan roh ternyata tidak ada atau hanya memiliki peran sekunder dan tidak penting. Inilah yang terjadi pada Budhisme. Burnouf mengatakan bahwa, berlawanan dengan Brahmanisme, Budhisme menyatakan diri sebagai moralitas tanpa Tuhan dan ateisme tanpa hakikat. Budhisme tidak mengakui adanya Tuhan tempat manusia bergantung. Odelnberg menyebutnya, agama tanpa Tuhan (Durkheim: 2013). Seluruh esensi Budhisme terangkum dalam empat proposisi yang disebut dengan Empat Kebenaran Mulia: Proposisi pertama menyatakan eksistensi penderitaan terikat dengan perubahan abadi hal ikhwal, Kedua. Temukan penderitaan di dalam hasrat, Ketiga. menekan hasrat adalah solusi untuk menghilangkan penderitaan.
Keempat menempuh tiga laku untuk menghilangkan penderitaan, dan Keempat. Menempuh tiga laku yang harus ditempuh untuk menghilangkan penderitan yaitu, kejujuran, meditasi (bertapa), dan kebijaksanaan, yang merupakan pengetahuan sempurna dari doktrin ini.
Kemudian akhir dari perjalanan tersebut adalah pembebasan, keselamatan oleh nirwana.
(Durkheim, 2013:58). Ada yang menyebut empat kebenaran mulia ini dengan sederhana, yaitu; tentang penderitaan, sebab penderitaan, melenyapkan penderitaan, dan jalan menuju pelenyapan penderitaan. (Wiramiharja: 2009).
Penganut Budha ada yang menyebut atheis di atas, maksudnya mereka tidak mengakui bahwa Dewa Dewi adalah Tuhan. Kalaupun keberadaanya ada tidak mempengaruhi apa yang manusia lakukan, terutama bagi individu-individu yang sakral menganggap mereka lebih superior dari Dewa-dewi tersebut. Tinggi rendahnya status makhluk tidak ditentukan oleh kekuatanya menguasai sesuatu, tetapi seberapa jauh perjalanan manusia tersebut berupaya untuk mencapai keselamatan (Durkheim:2005).
Kemudian keselamatan adalah tanggungjwab pribadinya, dia tidak punya Tuhan untuk berterimakasih, maupun tempat untuk meminta pertolongan atas upaya penyelamatan penderitaannya. Pengikut Budha tidak pernah berdoa sebagai gantinya adalah bermeditasi untuk memaksimalkan kekuatan diri sendiri, mereka tidak menyangkal keberadaan indra, agni dan Varuna yang berkaitan dengan dewa dewi, yaitu; indra raja surga, agni dewa api, dan varuna dewa air. Tetapi keberadaan dewa dewi tersebut adalah berkaitan dengan kehidupan di dunia dan itu tidak ada artinya bagi mereka.
Meski ada yang pengikut Budha yang menganggap Budha bukanlah Tuhan seperti di paparkan di atas. Tetapi ada pengikut Budha lain yang mengkui bahwa Budha adalah Tuhan, memiliki Candi sendiri dan tempat pemujaan. Cara pemujaannya sangat sederhana yaitu hanya memberikan sesaji serta bunga-bunga dan memuja barang-barang sakrala dan patung-patung sakral. Ini adalah pemujaan sifatnya pengingat (commemorative cults).
Penuhanan Budha ini dikuti oleh Buddhisme Utara dan Selatan. Weber (2012) menjelaskan, salah satu cara menuju keselamatan adalah melewati aktivitas-aktivitas ritual dan upacara- upacara pemujaan murni, entah di pemujaan religius atau di kehidupan sehari-hari. Mereka mengangap Budha merupakan manusia yang memiliki kekuatan yang luar biasa melebihi manusia pada umumnya. Tetapi menurut Kern, ini merupakan kepercayaan masyarakat India kuno (juga agama lain) yaitu kepercayaan yang menganggap orang sakral memiliki anugerah kekuatan-kekuatan tertentu (Durkheim:2005).
Menurut catatan sejarah yang lain, bahwa agama Budha tidak lepas dari agama Hindu karena kedua agama tersebut lahir dari seseorang yang bijaksana yaitu Shidarta Ghautama yang lahir di Sebelah utara India dan melakukan kontemplasi di Asia Tenggara, sementara Weda di India selatan. Kemudian inti ajaran Budha adalah pencerahan. Budha artinya sendiri adalah yang dicerahi. Dasarnya adalah menuju keselamatan. Dalam
mencapai keselamatan orang harus menemukan kebenaran terlebih dahulu (Wiramihardja:
2009). Dan kebenaran yang mulia melalui proses penderitaan. Saat Ghautama keluar dari istana menjumpai orang yang renta, orang sakit, dan orang yang meninggal. Menurut Budha kesemuanya adalah penderitaan. Semua yang melekat pada dunia yang sifatnya kurang menyenangkan dalam hidup seperti kesedihan, kesengsaraan dan ketidakbahagiaan adalah penderitaan atau ‘Dukha’. Penyebab Dukha adalah adanya keinginana, meskipun keinginan, meskipun aanya keinginan yang baik yaitu ingin menuju nirwana dan kesejahteraan bersama. Keinginan penyebab penderitaan disebut tanha, yaitu keingan yang menyangkut diri sendiri, seperti keserakahan, egois, kepuasan tidak terbatas, dan haus kekuasaan (Wiramihadja:2009).
Untuk mencapai kebahagiaan orang harus melepaskan dari penderitaan. Dengan cara melepaskan keinginan dengan sempurna. Ada delapan langkah yang harus ditempuh, yiatu: Penglihatan yang benar, keinginan yang benar, perkatan yang benar, perbuatan yang benar, hidup yang benar, usaha yang benar, pikiran yang benar, dan semedi yang benar.
Kedelapan hal tersebut dirangkum ke dalam tiga kelompok, yaitu; kebijaksanaan, kelurusan dan semedi. Upaya melalui langkah-langkah tersebut dicapai melalui upaya pencerahan dengan jalan kontemplasi. Kontemplasi yang sering dilakukan Budha menghasilkan kesimpulan: “ semua yang ada dalam diri kita merupakan hasil yang kita pikirkan”.
Metafisika Budha tertulis dalam Dharmapala, antara lain menyatakan tiga ciri benda, yaitu bersifat fana, mengandung penderitaan, dan tanpa ego. (Wiramihardja: 2009)
Adapun tentang reinkarnasi, dalam agama Budha adalah disebabkan tanha (keinginan) yang masih melekat dalam diri seseorang. Keinginan tersebut yang menyebabkan manusia tidak bisa melepaskan dari dunia, dan menjadi penderitaan meski sudah meninggal. Maka keinginan duniawi tersebut harus terpenuhi dengan cara memasuki kehidupan berikutnya dalam diri orang lain, hal tesebut akan terjadi berulang kali sampai hilangnya keinginan duniawi dan memiliki harta. Untuk menghilangkan keinginan materi dunia tersebut dengan cara sesorang harus membersihkan batinnya. Apabila berhasil membersihkan batinnya maka seseorang akan mendapatkan pencerahan. Masa pencerahan atau penerangan adalah di mana seseorang sudah hilang keingan (nafsu) duniawinya menuju nirvana atau nibbana, istilahnya surga atau keabadian. Hal tersebut dijumpai pada para rahib atau bikhu di kuil dan biara. Rahib adalah satu tradisi kepemimpinan religius dalam sebagaian agama, secara struktural rahib di bawah biarawan. Kuil atau biara adalah tempat untuk membersihkan diri dari keinginan duniawi, tidak beristri atau bersuami (tidak menikah), menyepi dan menjauhkan diri dari keramaian, meninggalkan segala kenikmtan
dunia. Persis dengan tradisi sufistik dalam Islam. Tradisi sufi dalam Islam adalah (berusaha) menjauhkan hati dari godaan duniawi. Tetapi dalam sufisme masih diperbolehkan menikah bahkan dianjurkan tetap bekerja. Karena prinsip sufisme bukan anti dunia, melainkan berusaha tidak terpedaya oleh dunia. (Tim Baitul Kilmah: 2013).
PEMIKIRAN EKONOMI AGAMA BUDHA
Agama Budha memberikan dua pilihan hidup, yaitu menjadi seorang perumah tangga atau seorang samana, istilahnya bikhu dan bikhuni (sesorang memusatkan atau mengabdikan diri pada agama). Jika pilihannya adalah perumah tangga maka tidak akan lepas dari masalah ekonomi (Haudi dkk:2021). Karena harus mencukupi keluarga dan harus bekerja. Bekerja berarti bersentuhan dengan aktivitas ekonomi yang cenderung liberal dengan bersifat kapitalis dan materialistik. Pola hidup materialistik tidak sejalan dengan ajaran Budha yang cenderung hidup sederhana, bersahaja dan menerima apa adanya untuk kebahagiaan semua makhluk. Paradigma ekonomi Barat dan agama Budha memang berbeda di mana masing-masing memiliki tujuan yang sama untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Barat fokus pada materi sementara ajaran Budha kepada nilai mental spiritual, seperti altruisme, perhatian dan etika yang harus dimulai dari pribadi (personal) untuk mencapai keseimbangan.
Dengan paparan di atas secara spesifik bisa dikatakan Agama Budha tidak mengajarkan tentang ilmu ekonomi. Tetapi nilai-nilai ajaran Budha bisa mendasari seseorang pemeluk agama Budha dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Dengan prinsip spiritual itulah seorang ekonom Barat asal Jerman yang bernama Shumacher tertarik untuk menggali nilai ajaran Budha dalam ekonomi modern. Hal tersebut dilakukan berangkat dari keprihatinannya terhadap dominasi dua kutub ekonomi besar, kapitalisme dan sosialisme yang bersifat materialistik ingin menanamkan, menguasai, mengembangkan pengaruh sistem yang mereka anut kepada negara-negara yang ada di dunia, terutama negara dunia ketiga atau negara yang sedang berkembang sebagai sasaran empuk. Dalam pada itu, ilmu ekonomi juga bersifat materialistik dengan sederetan rumus matematika dan statistik, di man nilai-nalai insani di sisihkan (Armawi: 2008).
E.F.Schumacher lahir di Bonn Jerman tahun 1908. Pertama kali datang di Inggris untuk belajar ilmu ekonomi di New College Oxford, UK. Pada usia relatif muda 22 tahun sudah mengajar di Universitas Columbia, Amerika Serikat. Dia di kenal karena menulis artikel tentang multirateral clearing, yang berisi kritikan terhadap kebijakan ekonomi pada saat itu yang dipengaruhi oleh pemikiran John Maynard Keynes. Keynes saat itu
berpengaruh besar pada kebijakan ekonomi Inggris. Ia, Shumacher, pernah menetap lama di India, Burma dan Zambia pada tahun 1950-1960. Yang tujuannya adalah membantu dalam memecahkan an melaksanakan berbagai program pembangunan pedesaan (rural development) dan sekaligus menjabat sebagai penasehat ekonomi (Armawi: 2008).
Pengalaman bekerja di negara-negara berkembang tersebut kemudian memunculkan ekonomi berdasarkan ajaran Ghandi dan agama Budha. Tulisan Schumacher yang brilian adalah “Budhist Economics” yang mengangkat ekonomi rakyat kecil.
Berangkat dari keprihatinan terhadap permasalahan yang timbul di berbagai negara berkembang, maka Schumacher menawarkan Ekonomi dan teknologi yang berwajah kemanusiaan. Ia mengatakan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh ilmu pengetahuan dewasa ini dikarenakan oleh kekeliruan metafisik, sehingga ilmu tersebut akan semakin sempit dan tertutup dan tidak memiliki arah yang tepat. Ilmu ekonomi yang ada sekarang ini merupakan turunan dari meta-ekonomi yang berlandaskan pada filsafat materialisme aBarat. Untuk mencanangkan ekonomi berwajah humanis, maka Schumacher mencanangkan nilai-nila metafisik terlebih dahulu agar meta-ekonomi yang dihasilkan dapat memenuhi ilmu ekonomi yang berwajah kemanusiaan dan kelestarian. Karena meta- ekonomi membicarakan dua hal manusia dan lingkungan hidup (Armawi: 2008).
Berdasarkan bangunan metafisik agama Budha, Shumacher membentuk ilmu ekonomi atas dasar kesederhanaan. Ia juga mendapat inspirasi dari ajaran Ghandi yang menekankan tindakan tanpa kekerasan (a himsa). Ungkapan inspiratif Ghandi adalah”Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang tapi bukan untuk keserakahan”. Melihat realitas adalah sangat bertentangan dimana manusia telah berusaha dengan segala kemampuannya untuk menaklukkan bumi dan menguras isi kandungannya.
Schumacher mengatakan, seorang ekonom Buddhis akan menekankan penanaman pohon.
Oleh karena modernisasi dan pengejaran kekayaan tidak akan membawa kebahagiaan, ada kebutuhan akan jalan tengah, yaitu mata pencaharian benar berdasarkan meode lebih sederhana dan tidak terlalu kejam (Haudi dkk.: 2021). Oleh karena itu, kelestarian, kesederhanaan, keteguhan, keadilan, dan tidak-kerasan menuntut suatu kearifan (Armawi:
2008). Dengan begitu terjalin hubungan yang harmonis antar manusia dan Tuhan, karena porsoalan ekonomi tidak Ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi ada sesuatu yang lebih penting dari itu, yaitu nilai hidup dan kehidupan manusia.
Perpaduan berbagai pandangan di luar konteks ilmu ekonomi, seperti etika, nilai- nilai-nilai religius, keadaan sosial budaya yang bernafskan kemanusiaan akan memebentuk pola dan sistem ilmu ekonomi yang lebih kokoh dan mantap serta menyentuh realitas.
Pemikiran yang demikian bisa dikatagorikan sebagai pandangan yang bersifat holistik (Armawy: 2008). Karena dipengaruhi oleh Ghandi, maka pemikiran ekonomi Schumacher adalah ilmu ekonomi yang mementingkan rakyat kecil. Priorias kepad rakyat kecil dapat difahami karena mayoritas penduduk dunia adalah negara berkembang yang masih dalam keterbelakangan berbagai sektor, pendidikan, kesehatan dan kemapanan ekonomi juga tentunya. Untuk melepaskan mereka dari permaslahan hidup, tentunya sistem ekonomi dan teknologi yang digunakan haruslah sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan begitu, keharmonisan akan tercipta dari rakyat untuk rakyat tanpa kekerasan dan dilandasi oleh nilai-nilai kehidupan rohaniah atau spiritual selalu tumbuh dan berkembang secara baik (Armawy: 2008). Meminjam istilah Amstrong (2011), Agama adalah sebuah disiplin praktis yang mengajari kita menemukan kemampuan baru pikiran dan hati.
Dalam agama Budha, sila terdiri dari tiga unsur, yaitu ucapan benar, perbuatan benar dan mata pencaharian yang benar. Seorang perumah tangga Buddis tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Oleh karena itu, mendapatkan kekayaan merupakan hal yang wajar yang dilakukan oleh setiap individu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Agama Budha mengajarkan bahwa untuk mendapatkan kekayaan sesuai denagn jalan dhamma yang artinya kekayaan tidak di dapat dengan cara exploitasi, tetapi melalui usha sungguh- sungguh dan ketrampilan, dan usaha yang bermoral. Parameter mata pencaharian dikatakan baik adalah apabila bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga bermanfaat untuk orang lain. Demikian juga kekayaan yang diperoleh digunakan untuk kepentingan diri, keluarga, investasi, dan cadangan apabila membutuhkan (Haudi dkk.:
2021).
Sebagai pengetahuan, ekonomi Ghandi adalah aliran pemikiran ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan sosial ekonomi yang dikemukakan oleh pemimpin India Mahtama Ghandi. Hal ini sebagian besar ditandai dengan penolakan terhadap konsep manusia sebagai aktor rasional yang berusaha memaksimalkan kepentingan diri material yang mendasari pemikiran ekonomi klasik. Di mana sistem ekonomi Barat ( dan sedang) didasarkan pada apa yang didasarkan pada apa yang disebut “penggadaan keinginan’, Ghandi merasa bahwa ini tidak berkelanjutan dan menghancurkan semangat manusia.
Modelnya, sebaliknya ditujukan pada memenuhan kebutuhan – termasuk kebutuhan akan makna dan komunitas. Sebagai aliran ekonomi, mdel yang dikembangkan mengandung unsur proteksionisme, nasionalisme, kepatuhan pada prinsip-prinsip dan tujuan non kekeasan dan penlakan perang kelas demi harmoni sosial ekonomi. Ide-ide ekonomi Ghandi juga bertujuan mempromosikan perkembangan spiritual dan keselarasan dengan
penolakan materialisme. Istilah ekonomi Ghandi, dipopulerkan oleh Kumarappa, seorang pendukung dekat Ghandi. (Wikipedia.org.).
Suatu hari seorang pendeta Brahmin menemukan Buddha duduk bertapa di bawah sebuah pohon dan terkesima oleh ketenangan, keheningan, dan disiplin dirinya. Kesan mengenai kekuatan besar yang disalurkan secar kreatif menjadi kedamaian yang luar biasa ini mengingatkannya pada gajah bergading besar. “Apakah Anda dewa, Tuan?” tanya sang pendeta. “Apakah Anda malaikat... atau roh?” Tidak, jawab sang Buddha. Dia menjelaskan tentang dia hanya mengungkapkan potensi baru dalam kodrat manusia. Adalah mungkin hidup di dunia yang penuh konflik dan penderitaan ini secara damai dan selaras dengan sesama makhluk. Tidak ada gunanya memrcayai itu; engkau akan mnemukan kebenaran jika engkau mengamalkan metodenya, secara sistematis memotong akar egoisme. Engkau akan hidup di puncak kapasitasmu, mengaktifkanbagian-bagian jiwa yang tertidur, dan menjadi manusia yang sepenuhnya tercerahkan. “Ingatlah aku, “kata sang Budha kepada pendeta yang bertanya itu, “sebagai seorang yang terjaga.” (Amstrong: 2011).
PENUTUP
Agama Budha adalah agama non samawi atau ada yang mengatakan agama budaya.
Di mana lebih mengajarkan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Pencerahan adalah inti ajaran agama Budha, dasarnya adalah menuju keselamatan. Dalam mencapai keselamatan harus menemukan kebenaran. Ada empat kebenaran mulia yaitu, tentang penderitaan, sebab penderitaan, melenyapkan penderitaan dan tentang jalan menuju pelenyapan penderitaan atau “Dukha”. Penyebab Dukha adalah tanha atau keinginan. Reinkarnasi terjadi karena masih melakatnya tanha pada diri seseorang. Apabila seseorang sudah terbebas dari tanha maka akan mencapai nirwana (kebahagiaan). Dalam upaya terbebas dari tanha mencapai nirwana, tiga hal harus dilakukan oleh pemeluk agama Budha yaitu;
kebijakasanaan, kelurusan dan semedi.
Paradigma Ekonomi Agama Budha tidak dijelaskan secara spesifik. Melalui nilai- nilai spiritual yang dijalankan merupakan dasar utama untuk membangun ekonomi yang berbasis kemanusiaan. Paradigma human ekologis merupakan kesimpulan yang dibuat oleh Shumacher terhadap paradigma ekonomi agama Budha. Suatu pandangan ekonomi yang berwajah kemanusiaan dan kelestarian. Agama Budha sarat akan nilai spiritual dan kesederhanaan dimasukkan dalam sistem ekonomi yang berpihak pada masyarakat kecil
untuk melawan dominasi sistem ekonomi kapitalis dan sosialis yang cenderung materialistik.
DAFTAR REFERENSI
Amstrong, Karen. 2011. Masa Depan Tuhan. Jakarta: Mizan
Armawy, Armaidy. 2008. “Menengok Kembali Gagasan Pemikiran Ekonomi “Small is Beautiful”. Jurnal Ketahanan Nasional, Vol. XIII No. 02.
Armawy, Armaidy. 2008. ‘Mengenang 100 Tahun Schumacher Filsuf Ekonomi yang Human Ekologis’. Jurnal Filsafat Vol. 18 No. 3
Durkheim, 2005. The Elementary Forms of The Religious Life (Sejarah Agama). Diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Ircisod.
Haudi, Rudy dan Grace. 2021. ‘Konsep Ekonomi Dalam Perspektif Buddhis’. Jurnal JIAPAB Vol. 03 No.1
Maryam, Siti dkk, 2004. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: LESFI Shihab, M. Quraish. 2007. Membumikan Al Qur’an. Jakarta: Mizan Shihab, M. Quraish. 2013. Wawasan Al Qur’an. Jakarta: Mizan
Tim Baitul Kilmah, 2013. Ensiklopedia Pengetahuan Al Qur’an dan Hadits Jilid 7. Jakarta: Kamil Pustaka
Weber, Max. 2012. Sosiology Of Religion. Diterjemahkan oleh Yudi santoso. Yogyakarta:
IRCiSoD
Wiramihardja, Sutadjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: Refia Aditama