흥부놀부 (Heungbu Nolbu)
Paper Sastra
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Tugas 2 Sebelum UAS Pengantar Sastra
RAISA NURUL NOVIANA 222007446120 YENI ROSITA 212007436022 ARIANI DEVITA SARI 222007446035 SISKA INDAH PRATIWI 222007416015 ANGGI LUTHFI RISKYA 222007416031
PROGRAM STUDI BAHASA KOREA FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA
2023
흥부놀부 (Heungbu Nolbu)
흥부전 adalah novel klasik Korea yang terkenal pada masa akhir Dinasti Joseon (1392 – 1896). Novel ini termasuk salah satu novel khas 한글소설 dalam cabang 판소리계소설 yang biasa ditampilkan dalam pertunjukan pansori dan dituliskan ke dalam bentuk teks.
Berkisah tentang seorang kakak yang kaya raya tetapi serakah Nolbu dan adik baik hati yang miskin Heungbu. 판소리계소설 secara umum berisi tokoh nyata yang digambarkan dengan manusia biasa dan bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Kisah ini tidak diketahui penulisnya, tetapi pada kala itu penyebarannya ditelusuri melalui mulut ke mulut. Dengan demikian novel 흥부전yang ditulis sebenarnya telah ditemukan sejak masa Joseon awal.
Novel Heungbu yang sekarang adalah kesimpulan cerita dari cabang 고유설화 dongeng tradisional, 외래설화 dongeng asing, 몽고설화 dongeng rakyat Mongol dan 불교설화 dongeng agama Buddha. Terdapat pula novel 박타는 처녀 설화 dari Mongol yang isi ceritanya sangat mirip dengan 흥부전. Bentuk dasar dari novel 흥부전 ini merupakan gabungan dari kisah persaudaran kakak beradik yang baik hati dan jahat, kisah seekor hewan yang membalas budi kepada manusia dan juga kisah penemuan harta karun yang melimpah ruah. Informasi mengenai daerah asal novel ini pun banyak versinya. Namun, daerah asal novel ini lebih sering disebutkan dari provinsi Jeolla, Gyeongsang atau Chungcheong atau Jeolla dan Gyeongsang saja dibanding secara spesifik dari kota Namwon provinsi Jeolla bagian utara.
Dikisahkan Heungbu dan Nolbu lahir dan tumbuh dari orang tua yang sama tetapi watak mereka sangat amat berbeda. Heungbu berwatak baik hati, berbakti kepada orang tua dan menghormati kakaknya. Sedangkan Nolbu sangat berkebalikan, dia memiliki watak tidak bermoral, tidak berperasaan dan jahat. Watak Heungbu mewakili penggambaran kaum terpinggirkan dan orang-orang miskin pada masa Joseon. Sementara watak Nolbu mewakili penggambaran kaum bangsawan pada masa Joseon yang serakah dan sangat cinta pada uang.
Orang tua Heungbu dan Nolbu meninggalkan wasiat setelah meninggal karena penyakit kepada mereka berdua. "Tanah yang terkena cahaya matahari itu milik Heungbu dan semua sisanya adalah milik Nolbu, tapi sebagai gantinya kamu harus menjaga adikmu. Meskipun aku mati kalian harus tinggal bersama dengan bahagia dan hidup rukun di rumah ini." Nolbu yang serakah tidak menepati wasiat dari orang tuanya dan berniat menguasai seluruh harta
peninggalan orang tuanya. Nolbu menganggap Heungbu tidak memikirkan cara untuk mencari nafkah dan hanya hidup bermalas-malasan, sehari-hari makan dan bermain saja.
Watak Heungbu yang malas ini juga dikritik sebagai kepala keluarga yang tidak kompeten karena tidak memiliki pemikiran yang realistis dan kurangnya tanggung jawab secara ekonomi. Meskipun begitu, sifat mulia Heungbu seperti berbakti kepada orang tua, bersikap baik terhadap tetangga, suka memberi makan orang yang kelaparan, memberikan pakaian kepada orang yang kedinginan, membantu orang tua dan anaknya yang tersesat dan banyak hal baik lainnya menunjukkan bahwa Heungbu menganggap nilai-nilai kehidupan penting dan menerapkannya dalam sehari-hari sehingga dinilai memiliki perilaku yang mulia karena kesan mereka yang baik di mata orang-orang sekitar. Di sisi lain, meskipun sifat Nolbu yang buruk sosoknya dinilai gigih dalam menjalani hidup dengan tulus dan giat mencari nafkah.
Nolbu berhasil mengusir Heungbu dan menguasai seluruh harta peninggalan sehingga Heungbu keluar dengan tangan kosong. Bagian cerita ini diartikan sebagai cerminan dari banyaknya kasus persaudaraan pada masa Joseon yang mengalami kesenjangan status sosial di dalamnya. Kesenjangan status sosial ini salah satunya dipengaruhi karena adanya perubahan dalam sistem warisan yang mana pada masa periode awal sistem warisan masih dibagikan secara merata tanpa membedakan anak perempuan dan anak laki-laki, anak sulung maupun anak kedua anak bungsu dan seterusnya. Salah satu alasan Heungbu diusir oleh Nolbu dan tidak punya pilihan selain keluar rumah dengan tangan kosong adalah karena Heungbu bukan anak laki-laki tertua. Sistem warisan ini kemudian mengalami perubahan karena adanya invasi Jepang ke Korea dan invasi Manchuria ke Korea yang sama-sama terjadi pada tahun 1592. Perang ini menyadarkan masyarakat bahwa ada kontrakdisi dalam status sosial sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kelas penguasa pun hilang. Kelas penguasa Yangban yang hanya berfokus dalam memperkuat tatanan pemerintahan sampai memperjelas peran dan batasan kelas atas dan bawah ini dianggap egois karena mereka hanya peduli dalam mempertahankan kekuasaan mereka. Setelah abad ke-17 anak perempuan sudah tidak boleh melakukan ritual persembahan nenek moyang sehingga pada abad ke-18 warisan keluarga pun diberikan kepada anak sulung laki-laki.
Selain ditekan karena kondisi Heungbu yang harus memberi makan 29 anaknya, hati Heungbu tergerak saat melihat istrinya yang menangis karena kemiskinannya ini. Kemudian Heungbu pun pergi ke rumah Nolbu, diminta istrinya, untuk meminta beras demi anak- anaknya. Seketika di sana, Nolbu berpura-pura tidak mengenal adiknya itu, padahal Heungbu
sudah memohon belas kasihan agar diberikan beras oleh kakaknya. Bukan beras yang didapat Heungbu melainkan cambukan dari Nolbu. Heungbu kaget dan berlari ke arah dapur dan tidak sengaja berpapasan dengan istri Nolbu yang sedang menanak nasi. Heungbu pun memohon kepada kakak iparnya itu untuk diberikan semangkuk nasi. Mendengar permohonan Heungbu, kakak iparnya itu justru menampar pipi Heungbu dengan centong nasi yang ada bulir-bulir nasinya. Melihat sisa nasi yang menempel karena tamparan tersebut, Heungbu yang kelaparan mengambil sisa nasi itu dan memakannya. Setelah itu Heungbu meminta kakak iparnya itu untuk menamparnya sekali lagi di pipi sisi lainnya.
Adegan Heungbu ditampar istri Nolbu ini sangat fenomenal. Heungbu yang seharusnya merasa kesal karena ditampar oleh istri Nolbu justru berterima kasih dan merasa bersyukur. Hal ini mengindikasikan bahwa kita harus terus merasa optimis dan positif meski sedang mengalami situasi yang sulit. Selain itu, adegan ini juga ditampilkan dengan gaya komedi sehingga menimbulkan gelak tawa para penonton. Kemisikanan keluarga Heungbu yang ditampilkan dengan jenaka ini menunjukkan bahwa adanya keinginan orang-orang untuk dapat hidup sejahtera dan keluar dari keputusasaan.
Kontradiksi kehidupan terlihat pula pada watak istri Heungbu dan istri Nolbu. Istri Heungbu yang berwatak tidak jauh berbeda dengan Heungbu, yaitu baik hati, dan selalu mendampingi suaminya dalam keadaan senang maupun susah. Sementara istri Nolbu digambarkan berwatak kikir dan suka merendahkan orang lain seperti contohnya mengabaikan kesusahaan yang dialami Heungbu.
Nasib Heungbu rupanya tidak selamanya sengsara. Dikisahkan suatu ketika Heungbu menyelamatkan 제비, anak burung walet, yang hampir dimakan oleh ular. Ketulusan hati Heungbu dalam merawat 제비 pun dibalas oleh raja yang mendengar kejadian ini. Raja pun menyuruh 제비 memberikan benih labu untuk ditanam keluarga Heungbu agar mereka bisa keluar dari kemiskinan. Hanya dalam waktu singkat, benih itu berubah menjadi empat buah labu yang besar. Keluarga Heungbu yang memotong labu itu tersentak karena melihat isi labu yang penuh dengan keajaiban. Labu pertama berisi pemuda yang memberikan sebotol obat herbal dan resep mujarab. Labu kedua dipenuhi dengan harta karun berlimpah. Labu ketiga berisi puluhan orang yang akan membangun rumah yang besar untuk keluarga Heungbu.
Labu terakhir berisi orang-orang yang akan membantu pekerjaan mereka seperti menyiapkan makanan dan pakaian. Bagian cerita ini mengindikasikan bahwa tidak selamanya situasi yang menyedihkan akan terus berlangsung sebab dalam kehidupan ini ada kekuatan yang tidak terlihat, yaitu kekuatan yang menguasai alam dan kehidupan. Gambaran manusia dengan alam (제비, anak burung walet) ini menunjukkan bahwa persaudaraan manusia dengan alam akan mendatangkan keselamatan. Heungbu yang dengan tulus menyelamatkan anak burung walet pada akhirnya dianugerahi harta yang tiada habisnya. Bagi masyarakat Korea, persaudaraan dengan alam merupakan hal yang penting mengingat dalam setahun mereka harus berhadapan dengan perubahan empat musim. Burung walet biasanya datang pada musim semi dengan membuat sarang untuk berkembang biak di atap-atap rumah warga.
Setelah musim panas berlalu dan berganti menjadi musim gugur, kawanan burung walet itu biasanya kembali terbang untuk bermigrasi. Di cerita ini, burung walet tersebut berjanji akan kembali pada musim semi mendatang. Dapat dikatakan bahwa alam menyimpan ancaman terselubung. Oleh karena itu persaudaraan dengan alam adalah bagian dalam menciptakan harmoni kehidupan. Maka bagi masyarakat Korea harmoni keluarga adalah hal paling utama untuk mencapai kebahagiaan. Sejak saat itu keluarga Heungbu hidup dengan nyaman dan bahagia.
Kabar Heungbu yang menjadi kaya raya pun sampai ke telinga Nolbu dan istrinya.
Mereka berusaha mencari informasi bagaimana Heungbu bisa menjadi orang kaya. Nolbu pun sengaja mencari burung walet dan mematahkan kakinya kemudian berpura-pura baik membantu menyembuhkannya dengan harapan diberikan imbalan benih labu berisi hadiah.
Burung walet itu kemudian terbang menemui raja sambil kesakitan dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Raja kemudian memberikan benih labu dan meminta burung walet untuk mengantarkan kepada Nolbu pada musim semi. Nolbu dan istrinya menari-nari karena
tidak sabar menantikan panen labu. Setelah panen mereka memotong labu itu dengan susah payah. Labu pertama keluar petir besar bersama dengan seorang kakek berjanggut yang menagih hutang kepada Nolbu. Labu kedua muncul seorang biksu yang mendoakan kejelekan pada Nolbu. Labu ketiga muncul para pengemis yang menari-nari di halaman rumah Nolbu sekaligus meminta beras, minuman keras, dan juga uang kepada Nolbu. Pada labu terakhir muncul orang-orang yang membawa palu dan kapak untuk memukuli Nolbu dan juga istrinya. Begitu dilihat rupanya mereka yang muncul dari labu adalah orang-orang yang mengalami perlakuan tidak baik oleh Nolbu. Bagian cerita ini diartikan sebagai ‘hukuman’
atas perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan Nolbu sebab setiap kejahatan di dunia ini pasti mendapatkan ganjaran yang setimpal. Selain itu bentuk ‘hukuman’ ini merupakan usaha untuk memberi penyadaran bahwa kebaikan tidaklah dapat dikalahkan oleh kejahatan. Nolbu pun akhirnya menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar setelah diberi
‘hukuman’. Meskipun Nolbu melakukan perbuatan tercela tetapi pada akhirnya ada pemaafan dan berakhir hidup bahagia. Heungbu memaafkan semua perbuatan kakaknya itu dan akhirnya kakak beradik itu pun hidup berdampingan dan berbahagia. Bentuk pemaafan dan pertobatan untuk kembali ke jalan yang benar yang kemudian berakhir dengan kebahagiaan berkaitan dengan kesadaran akan pentingnya harmoni dalam kehidupan keluarga. Maka, ketertiban sosial harus dimulai dari kehidupan keluarga yang bahagia.
Dalam novel ini juga disebutkan tentang uang. Suatu hari Heungbu pergi ke kantor pemerintahan untuk meminjam beras, namun mereka tidak dapat memberi pinjaman beras kepada orang yang tidak memilik tanah. Heungbu sangat kecewa lalu bertemu dengan pegawai di sana dan mendapat tawaran pekerjaan untuk menggantikan seseorang yang terkena hukuman cambuk sebanyak 30 kali. Sebagai imbalannya dia mendapatkan uang sebanyak 30 nyang. Hal lain yang patut diperhatikan dalam perubahan ekonomi masyarakat pada akhir Dinasti Joseon adalah munculnya distribusi uang. Seiring perdagangan dalam negeri dan luar negeri yang berkembang pesat, mata uang resmi Dinasti Joseon, yang disebut 상평통보, dibuat pada tahun keempat pemerintahaan Raja Sukjong. Pada akhir abad ke-17 banyak uang beredar ke seluruh negeri. Distribusi uang ini telah memberikan kontribusi besar terhadap revitalisasi transaksi ekonomi untuk membeli dan menjual barang. Namun, ada kalanya distribusi mata uang di pasar menjadi langka karena kelas penguasa Yangban telah menumpuk uang di gudang dengan tujuan meningkatkan kekayaan mereka sendiri ataupun melakukan bisnis riba. Penimbunan uang ini mengindikasikan bahwa watak kelas penguasa yang serakah dan gila uang, dapat terlihat pada penggambaran karakter Nolbu. Dapat
dikatakan pula penindasan terhadap masyarakat lemah ini menjadikan hidup semakin sulit karena orang-orang yang membutuhkan uang tidak bisa mendapatkannya.
Pada akhir Dinasti Joseon terjadi banyak perubahan ekonomi: munculnya metode pertanian baru, pengembangan perdagangan dan industri juga reformasi dalam sistem perpajakan. Fenomena perubahan yang paling signifikan terjadi adalah jumlah petani yang mengumpulkan kekayaan meningkat tajam karena perekonomian yang berkembang pesat.
Akan tetapi, di sisi lain ada juga kaum bangsawan yang tidak bisa mendapatkan jabatan pemerintah dan bangkrut. Dengan begitu petani yang mengumpulkan kekayaan dapat meningkatkan status sosial mereka dengan uang, dan bangsawan yang jatuh miskin menjual barang mereka untuk mendapatkan penghasilan (mencari nafkah). Dapat disimpulkan masyarakat Joseon dikendalikan oleh status sosial, sehingga pada akhir Dinasti Joseon uang semakin berharga sehingga masyarakat dapat berkuasa. Caranya? sebagian kaum bangsawan dan para petani kaya meminjamkan tanah mereka kepada petani penggarap, lalu mengumpulkan hasil pertanian mereka sebagai imbalannya, dan mengambil untung setelah menjualnya ke pasar. Orang yang memiliki banyak uang membeli tanah dengan uang bagi hasil ini sehingga dengan mudahnya mereka mendapatkan kekayaan. Namun kehidupan petani miskin menjadi semakin miskin. Sebagai petani penggarap, keadaan mereka memburuk atau terpaksa luntang-lantung sebagai 화전민 (pengeruk ladang yang nomaden) atau pengembara/gelandangan.
흥부전 saat ini menjadi dongeng pengantar tidur yang populer di kalangan anak-anak.
Kisahnya yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari menjadikan novel ini dapat dinikmati oleh semua kalangan. Penggambaran yang jenaka dan sarat akan satir membuat novel ini terus dikenal sampai masa sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
Mahayana, Maman S. (2012). Cerita Rakyat Korea – Indonesia Sebagai Pembentuk Karakter.
Tuturan Vol. 1, No. 2 Juli 2012 : 97 – 112.
Yu Mi, Kim & Se Eun Bae. (2021). 흥부전 The Story of Heungbu. Gyeonggi-do: Darakwon Inc.
흥부와 놀부 무엇인가. (6 Juni 2023). Jdm0777.com.
http://www.jdm0777.com/paldogangsan/heungbu-nolbu.htm.
흥부전. (6 Juni 2023). Namu.wiki. https://namu.wiki/w/%ED%9D%A5%EB%B6%80%EC
%A0%84.
흥부전. (6 Juni 2023). Naver.com. https://terms.naver.com/entry.naver?
docId=2081886&cid=47303&categoryId=47303.