• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat suku Tengger

N/A
N/A
Juwita Pratiwi

Academic year: 2023

Membagikan "Masyarakat suku Tengger"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Masyarakat suku Tengger merupakan penduduk asli Jawa yang mempunyai tatanan yang disepakati bersama (pranata) seperti adat, sosial, budaya, agama, kepercayaana, kesenian, bahasa, serta organisasi atau kelembagaan sendiri. Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Tengger bersumber dari nilai budaya, religi, dan adat istiadat setempat yang kemudian membentuk nilai-nilai kearifan lokal, salah satunya adalah kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan. Masyarakat Tengger telah lama melakukan strategi teknik pengelolaan, budidaya, produksi, serta pengobatan tradisional terhadap pemanfaatan keanekaragaman hayati sendiri mengingat bahwa masyarakat Tengger sebagian besar hidup pada sektor pertanian. Pengetahuan keanekaragaman flora serta pemanfaatannya oleh masyarakat Tengger tercermin dari berbagai bentuk pemanfaatan untuk berbagai keperluan meliputi jenis- jenis tumbuhan sebagai bahan pangan (75 jenis), bahan obat (121 jenis), bahan ritual (94 jenis), dan bahan buah-buahan (49 jenis), tanaman hias (140 jenis), pakan rumput (44 jenis) dan lain- lain. Pengetahuan tentang jenis-jenis hewan di lingkungan dan jenis hewan yang bermanfaat untuk masyarakat Tengger meliputi 120 jenis yang terdiri dari hewan mamalia, aves, reptil, ikan, arachinidae, dan hypnoptera.

Pengetahuan lokal oleh masyarakat Tengger dilakukan secara turun-temurun.

Pengetahuan yang dimiliki oleh orang tua biasanya diwariskan kepada anak-anaknya, di mana orang tua. Akan tetapi, tidak semua anak bisa memahami dan menerapkan pengetahuan mengenai pengetahuan lokal yang diwariskan oleh orang tuanya. Proses pewarisan pengetahuan lokal banyak dilakukan secara oral dan masuknya budaya modern ke masyarakat tradisional dikhawatirkan akan menyebabkan pengetahuan lokal akan mengalami erosi dan hilang. Hal ini mendorong bahwa pelaksanaan upaya pelestarian terhadap pengetahuan lokal perlu dilakukaan.

METODE

Penyusunan rencana aksi ini dilakukan menggunakan metode desk study. Metode desk study adalah metode pengumpulan data dan informasi melalui pemeriksaan, pengutipan, dan analisis data dan informasi menggunakan data hasil baseline study yang dalam hal ini berupa dokumen disertasi oleh Batoro (2012) dengan judul “Etnobiologi Masyarakat Tengger di Bromo Tengger Semeru Jawa Timur”. Untuk mendukung data dan informasi yang ada, penyusunan rencana aksi ini juga menggunakan berbagai literatur yang relevan.

Referensi

Dokumen terkait

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Penyakit yang Diobati dengan Menggunakan Obat Tradisional oleh Suku Tengger

Kegiatan penelitian tentaog etnozoologi masyarakat Teogger di Bromo Tengger Semeru, untuk mengetahui pengetahuan dao mengkaji fauna yang dimanfaatkan, digunakan untuk

Keanekaragaman flora yang terdapat di dalam kawasan taman nasional ini tergolong cukup tinggi, terdi- ri dari 323 jenis tumbuhan, juga memiliki berbagai jenis fauna,

Strategi utama pengembangan pendidikan konservasi bagi masyarakat suku Tengger di desa enclave TNBTS adalah dengan menyelenggarakan pendidikan konservasi berbasis

Pengetahuan tradisional yang ereka peroleh justru menjadi sistem nilai yang memandu orang Tengger d lam memanfaatkan sumberdaya alam, mengelola alam lingkungan (hutan

Pengetahuan atau penggunaan obat tradisional pada Suku Tengger Kecamatan Sukapura yang terdiri dari 5 desa yaitu Desa Ngadirejo, Desa Ngadas, Desa Jetak, Desa Wonotoro, dan

Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri bersumber dari nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang merupakan bentuk nilai-nilai kearifan

Etnobotani mempelajari suatu kelompok masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan dan lingkungannya, yang digunakan tidak hanya untuk keperluan ekonomi