• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of EVALUASI KEBIJAKAN SOSIAL (STUDI PADA PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT) DI KOTA SERANG)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of EVALUASI KEBIJAKAN SOSIAL (STUDI PADA PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT) DI KOTA SERANG)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Vol 13 No 1, Februari Tahun 2023

EVALUASI KEBIJAKAN SOSIAL (STUDI PADA PROGRAM BANTUAN PANGAN NON TUNAI (BPNT) DI KOTA SERANG)

Indra Nizar Purnama1, Budi Hasanah2, Ahmad Sururi3 Universitas Serang Raya1,2,3

Corresponding Author: [email protected]

Informasi Artikel Abstract Article History;

Received: 10 07 2022 Revised: 15 09 2022 Accepted: 18 01 2023 Published: 12 02 2023

This research was motivated by several problems and obstacles encountered in the BPNT program in Serang City, especially in Kasemen District, such as the unsynchronized KPM data with those provided at the time of disbursement, weak apartment supervision in program implementation and ineffective coordination between program implementers. These various problems resulted in the ineffectiveness of the objectives and impact of implementing the BPNT program. The purpose of this study is to discuss the evaluation of social policies on the BNPT program in Serang City through an analysis of policy evaluation criteria which include the relevance of the BPNT program to needs and problems, effectiveness in producing the effects of change, efficiency in achieving goals and impacts and sustainability and long-term benefits. This research method uses a qualitative approach through interview and observation data collection techniques. Data analysis techniques used the process of data classification, labeling and categorizing based on research questions and interview transcripts for further data analysis. The results of the study show that the evaluation of social policies in the BNPT program in Serang City shows several criteria that have not been effective or successful. The level of successful evaluation is only on the relevance of the program while effectiveness, efficiency and sustainability show that it is not yet effective.

Research findings show the need for intensive coordination, policy innovation in boosting community capacity and skills and the importance of community and regional characteristics in the approach of social assistance programs.

Keywords:

BNPT, Policy Evaluation, Serang City

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi beberapa permasalahan dan hambatan yang ditemui dalam program BPNT di Kota Serang terutama di Kecamatan Kasemen, seperti belum sinkronnya data KPM dengan yang diberikan pada saat pencairan, lemahnya pengawasan apartur dalam pelaksanaan program dan belum efektifnya koordinasi antara pelaksana program. Berbagai permasalahan tersebut mengakibatkan tujuan dan dampak implementasi program BPNT menjadi tidak efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskusikan evaluasi kebijakan sosial pada program BNPT di Kota Serang melalui analisis kriteria evaluasi kebijakan yang meliputi Relevansi Program BPNT dengan kebutuhan dan masalah, Efektif dalam menghasilkan efek perubahan, Efisiensi dalam pencapaian tujuan dan dampak dan Keberlanjutan dan Manfaat Jangka Panjang.

(2)

Kata Kunci:

BNPT, Evaluasi Kebijakan, Kota Serang

Metode penelian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui Teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Teknik analisis data menggunakan proses klasifikasi data, pemberian label dan penyusunan kategori berdasarkan pertanyaan penelitian dan transkrip wawancara untuk selanjutnya dilakukan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi kebijakan sosial pada program BNPT di Kota Serang menunjukkan beberapa kriteria yang belum efektif atau berhasil.

Tingkat evaluasi yang berhasil hanya pada relevansi program sedangkan efektifitas, efisiensi dan keberlanjutan menunjukkan belum efektif.

Temuan Penelitian menunjukan dibutuhkanya koordinasi intensif, inovasi kebijakan dalam mendorong kapasitas dan keterampilan masyarakat dan pentingnya karakteristik masyarakat dan wilayah dalam pendekatan program bantuan sosial.

PENDAHULUAN

Kemiskinan merupakan fenomena dan masalah sosial yang terus-menerus dikaji serta menjadi perhatian pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. Salah satu faktor penyebab ketertinggalan dan penghambat dalam pembangunan suatu bangsa adalah karena tingginya angka kemiskinan. Kemiskinan dimaknai sebagai suatu kondisi yang menunjukkan ketidakmampuan individu dan rumah tangga dalam mengakses sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (Nallari & Griffith, 2011).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2022 sebesar 26,36 juta orang atau meningkat 0,20 juta orang terhadap Maret 2022 dan menurun 0,14 juta orang terhadap September 2021 (Badan Pusat Statistik, 2023). Disisi lain, Pemerintah Indonesia telah menargetkan tingkat kemiskinan di Indonesia sekitar 7% dan kemiskinan ekstrem mendekati 0% pada tahun 2024. Akan tetapi Badan Pusat Statistik (BPS) menilai hal tersebut sulit dicapai apabila tata kelola upaya penanggulangan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem tidak dilakukan perubahan (Susanto & Perwitasari, 2023) termasuk dalam hal ini ketepatan target dan sasaran program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

(3)

Salah satu program yang diimplementasikan oleh pemerintah untuk mendorong berbagai kebijakan dalam mengatasi permasalahan kemiskinan sebagai perwujudan kehadiran negara bagi masyarakat (Fatimah et al., 2022) adalah program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yaitu, bantuan sosial yang disalurkan secara nontunai dari pemerintah yang diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) setiap bulannya melalui rekening bank yang selanjutnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di E-Warong (Elektronik Gotong Royong) atau pedagang bahan pangan yang terdaftar memenuhi persyaratan dan bekerjasama dengan Bank Negara seperti, Bank BNI dan BTN. Program BNPT diatur dalam Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2010 Tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan dibentuknya Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) adalah bantuan pangan dalam bentuk non tunai yang diberikan oleh pemerintah kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) setiap bulannya, dengan menerapkan mekanisme akun elektronik sehingga, hanya dapat digunakan untuk membeli bahan pangan di pedagang bahan pangan/e-warong yang telah bekerjasama dengan bank Himbara. Adapun tujuan dari program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019 Tentang Penyaluran Bantuan Pangan Nontunai antara lain, untuk mengurangi beban pengeluaran KPM.

Prinsip utama dalam program BPNT adalah sebagai berikut: (a) Mudah dijangkau dan digunakan oleh KPM; (b) Memberikan pilihan dan kendali kepada KPM tentang kapan, berapa, jenis, kualitas dan harga bahan pangan (beras dan/atau telur) serta tempat membeli sesuai dengan preferensi (tidak diarahkan pada E-warong tertentu dan bahan pangan tidak dipaketkan); (c) Mendorong usaha eceran rakyat untuk memperoleh pelanggan dan peningkatan penghasilan dengan melayani KPM; (d) Memberikan akses jasa keuangan kepada usaha eceran rakyat dan kepada KPM; (e) E-warong dapat membeli pasokan bahan pangan dari berbagai sumber sehingga terdapat ruang alternatif pasokan yang lebih optimal. Sehingga bank penyalur bertugas menyalurkan

(4)

dana bantuan ke rekening KPM dan tidak bertugas menyalurkan bahan pangan kepada KPM, termasuk tidak melakukan pemesanan bahan pangan.

Program BPNT merupakan salah satu bentuk transfer tunai tanpa syarat (BLU) atau intervensi perlindungan sosial umum yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan menjadi penentu sosial utama kesehatan (Pega et al., 2015). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa program BPNT termasuk dalam kategori kebijakan sosial, dikarenakan bertujuan dan berorientasi pada aspek sosial. Secara komprehensif.

Pandangan (Devereux & Cook, 2009) mengatakan, bahwa kebijakan sosial secara luas berkaitan dengan penyediaan publik atas barang dan jasa (publik atau swasta) untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Selanjutnya menurut (Vargas-Hernandez et al., 2011), kebijakan sosial mengacu pada intervensi untuk mengubah, memelihara, atau menciptakan kondisi kehidupan yang kondusif bagi kesejahteraan manusia, beberapa kebijakan sosial diantaranya adalah pendidikan, kesehatan, perumahan, pekerjaan, dan makanan untuk semua orang.

Kebijakan sosial adalah prinsip/arahan tindakan yang dirancang untuk mempengaruhi:

i) Kualitas hidup secara keseluruhan dalam suatu masyarakat; ii) Keadaan hidup individu dan kelompok dalam masyarakat tersebut; dan iii) Sifat hubungan intra- masyarakat antara individu, kelompok, dan masyarakat secara keseluruhan.

Kota Serang merupakan salah kota di Provinsi Banten yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi, dan terkait dengan kebijakan sosial pemerintah yaitu program BPNT yang dilaksanakan di Kota Serang, dan berdasarkan data Dinas Sosial Kota Serang bahwa jumlah KPM yang telah bekerja sama dengan bank yang ditunjuk tercatat total jumlah penerima BPNT di Kota Serang per-Desember 2019-2021 sebanyak 13.873. Berikut adalah data penerima program BPNT di Kota Serang yang tersebar di enam kecamatan, yaitu sebagai berikut:

(5)

Table 1 Penerima Bantuan Non Tunai (BPNT) Di Kota Serang Pada tahun 2021

No Kecamatan Jumlah KPM

1 Serang 10.871

2 Cipocok Jaya 8.828

3 Kasemen 12.541

4 Taktakan 9.268

5 Curug 9.871

6 Walantaka 9.894

Total 61.273

Sumber: Dinas Sosial Kota Serang, 2021 (Angka bersifat Fluktatif)

Berdasarkan tabel 1, Kecamatan Kasemen memiliki jumlah KPM terbanyak yaitu sebesar 12.541. Sedangkan Kecamatan Serang berada di posisi kedua yaitu 10.871 KPM, dan kecamatan dengan jumlah KPM terendah yaitu Kecamatan Cipocok Jaya sebesar 8.828. Locus penelitian ini hanya akan menganalisis Kecamatan Kasemen dikarenakan tingginya jumlah KPM dan merupakan kantongnya kemiskinan di Kota Serang.

Hasil observasi yang telah dilakukan ditemukan fakta bahwa, Daerah Kasemen bisa dinilai miskin dan/atau terbelakang karena kondisi lingkungannya tidak berkembang sebagaimana bagian kota lainnya, bahkan cenderung masih bersifat semirural. Rumah tangga miskin atau RTM di wilayah Kasemen tercatat sebanyak 5.934 RTM. Berikut ini adalah data penerima BPNT di Kecamatan Kasemen tahun 2019-2020.

(6)

Table 2 Penerima Bantuan Pangan Non Tunai Di Kecamatan Kasemen Tahun 2019-2020

No Kelurahan Jumlah KPM

2019 2020

1 Kasemen 502 543

2 Warung Jaud 616 758

3 Mesjid Priyayi 456 558

4 Bendung 553 614

5 Terumbu 389 459

6 Sawah Luhur 399 453

7 Kilasah 669 717

8 Margaluyu 512 526

9 Kasunyatan 471 546

10 Banten 809 869

Total KPM 5.373 6.043

Sumber: Kantor Dinas Sosial Kota Serang, 2020

Berdasarkan hasil penelitian, masih terdapat beberapa permasalahan dan hambatan yang ditemui dalam program BPNT di Kota Serang terutama di Kecamatan Kasemen, seperti belum sinkronnya data KPM dengan yang diberikan pada saat pencairan, lemahnya pengawasan apartur dalam pelaksanaan program, dan belum efektifnya koordinasi antara pelaksana program. Berbagai permasalahan tersebut mengakibatkan tujuan dan dampak implementasi program BPNT menjadi tidak optimal. Oleh sebab itu, sebagai langkah strategis selanjutnya, peneliti berpandangan diperlukannya evaluasi kebijakan program BPNT yang bertujuan untuk mengurai tantangan dan menghubungkan sebelum dan pelaksanaan suatu program sekaligus menerapkan sistem evaluasi kebijakan yang berfokus pada seluruh siklus kebijakan (Mergaert &

Minto, 2015) & (Smismans, 2015).

Selain itu, evaluasi kebijakan bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas dan menyediakan data berkualitas secara andal untuk menginformasikan pengambilan keputusan (OECD, 2019). Sebaliknya, evaluasi kebijakan dapat membantu memahami hasil kinerja, dan menciptakan kesan “Memori Kebijakan” dengan mempertimbangkan tantangan dari pengalaman dan praktik baik yang dapat dimasukkan ke dalam upaya kinerja suatu program (Acquah et al., 2019) & (Kraan et al., 2013).

(7)

Beberapa penelitian tentang program BPNT sudah dilakukan seperti (Hermawan et al., 2021) dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa, pelaksanaan BPNT di Kota Yogyakarta secara umum berjalan efektif namun dengan catatan jika dilihat berdasarkan indikator prinsip 6 T. Dimensi administrasi menjadi dimensi yang belum berperforma baik dibandingkan dimensi lainnya. Apalagi dimensi-dimensi lain yang sudah efektif ternyata masih berpotensi menurun kinerjanya karena berbagai faktor berdasarkan. Berbeda dengan penelitian tersebut, (Risnandar & Broto, 2018) mengemukakan bahwa masih terdapat kesenjangan yang terjadi antara kinerja yang dihasilkan dengan harapan yang seharusnya diperoleh penerima manfaat dalam program BPNT.

Selanjutnya, hasil penelitian (Fadlurrohim et al., 2019) menunjukkan bahwa, penyaluran Bantuan Sosial Non Tunai dengan menggunakan sistem perbankan dapat mendukung perilaku produktif penerima bantuan serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas program bagi kemudahan mengontrol, memantau, dan mengurangi penyimpangan. Kemudian penelitian oleh (Aspar et al., 2020) mengatakan bahwa, bantuan nontunai yang dirasakan sangat membantu oleh para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) guna memenuhi kebutuhan dasar pangan di dalam kehidupan sehari- hari. Selanjutnya (Fatimah et al., 2022) dalam hasil penelitianya menyimpulkan bahwa, implementasi program BPNT untuk KPM di Kabupaten Kasemen, Kota Serang belum sepenuhnya terlaksana secara efektif dan berdasarkan analisis tata kelola yang dinamis maka perlu dilakukan penguatan budaya, kapabilitas, dan ketiga kemampuan kognitif serta mendorong pemerintahan yang efektif. Dukungan, kapasitas social, dan kemitraan publik-swasta. Sedangkan (Pramesti et al., 2019) mengemukakan, implementasi BPNT melalui E-Warong di Kota Tanjungpinang sudah optimal, hanya saja masih terdapat saldo dari KPM yang kosong serta kurang berdayanya KPM dalam menjalankan program. E-Warong karena harus bersaing dengan pihak swasta yakni agen Bank Himbara (BNI).

Beberapa penelitian terdahulu yang telah diuraiakan memiliki kesamaan dengan penelitian yang sedang dilakukan, akan tetapi penelitian dengan focus pada evaluasi kebijakan dalam program BPNT di Kota Serang belum pernah dilakukan. Oleh sebab itu,

(8)

penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan evaluasi kebijakan sosial pada program BNPT di Kota Serang melalui analisis kriteria evaluasi kebijakan menurut (Dige, 2017);

(Gasper, 2006); (Smismans, 2015) yang meliputi 1) Relevansi, sejauh mana tujuan (asli) (masih) sesuai dengan kebutuhan dan masalah; 2) Efektivitas, sejauh mana kebijakan/intervensi publik menghasilkan efek dan perubahan yang diamati dan ejauh mana efek yang diamati sesuai dengan tujuan; 3) Efisiensi, apakah biaya yang terlibat dibenarkan, mengingat perubahan dan efek yang dicapai; 4) Keberlanjutan, apakah kebijakan/intervensi publik memberikan manfaat bersih dalam jangka panjang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memeroleh pemahaman kebijakan sosial dalam program BPNT dalam perspektif evaluasi kebijakan. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive sampling dan telah diperoleh 10 informan yang memiliki informasi yang terkait dengan tema penelitian dan dipelajari secara mendalam (Patton, 2002). Adapun informan penelitian ini terdiri dari, anggota masyarakat sebanyak enam (6) orang; Aparatur Sipil Negara Dinas Sosial Kota Serang sebanyak satu (1) orang; dan agen E-Waroeng sebanyak tiga (3) orang. Selanjutnya teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Data dianalisis menggunakan analisis data kualitatif sistematis, melalui proses klasifikasi data, pemberian label dan penyusunan kategori berdasarkan pertanyaan penelitian, dan transkrip wawancara untuk selanjutnya dilakukan analisis data (Miles et al., 2014).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Relevansi Program BPNT dengan Kebutuhan dan Masalah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, program BPNT memiliki kesesuaian dengan kebutuhan dan permasalahan masyarakat di Kecamatan Kasemen Kota Serang. Salah satu faktor penyebabnya adalah dikarenakan masih tingginya tingkat pengangguran sehingga menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat dan besarnya jumlah keluarga prasejahtera atau miskin. Jika dikonfirmasi menurut pandangan (Vargas-Hernandez et al., 2011), bahwa kebijakan sosial bertujuan untuk menciptakan kondisi kehidupan yang kondusif bagi kesejahteraan manusia. Kemudian hasil penelitian tersebut

(9)

memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Gultom et al., 2021) yang mengatakan bahwa peran program BPNT sangat membantu dan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan suatu daerah.

Dalam konteks kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin, (Devereux & Cook, 2009) berpandangan pentingnya peran negara dalam penyediaan kesejahteraan, menyediakan informasi, dan mekanisme penanggulangan masyarakat miskin, sehingga diperlukan pendekatan alternatif untuk kebijakan sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Hal ini juga ditegaskan oleh (Pega et al., 2015), bahwa program BPNT merupakan salah satu bentuk transfer tunai tanpa syarat (BLU) atau intervensi perlindungan sosial umum yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan menjadi penentu sosial utama kesehatan.

Selanjutnya, relevansi hasil penelitian tersebut sudah sesuai dan berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2018 Pasal 1 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa kebijakan program BPNT ini diberikan kepada seseorang, keluarga, kelompok, atau masyarakat miskin, tidak mampu, dan/atau rentan terhadap resiko sosial. Dalam pelaksanaan program BNPT di Kecamatan Kota Serang, penerima sudah tepat sasaran, dikarenakan dalam persyaratan untuk menerima bantuan BPNT ini harus sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tercantum dalam Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin. Selain itu KPM BPNT diutamakan berasal dari peserta program keluarga harapan sebagaimana tercantul dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2018, sehingga mekanisme dalam menerima bantuan BPNT diawali dengan masyarakat terdaftar terlebih dahulu sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM), kemudian masyarakat berhak untuk menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Selain itu, penyaluran dana juga langsung masuk ke dalam akun elektronik yang sudah terintegrasi dengan Bank Himbara. Sehingga bantuan BPNT tersebut langsung masuk ke dalam akun elektronik penerima bantuan yang sudah terdaftar sebagai KPM.

(10)

Efektif dalam Menghasilkan Efek Perubahan

Hasil penelitian menunjukan bahwa, program BPNT belum menghasilkan efek perubahan bagi KPM, hal ini diketahui dari beberapa pernyataan informan yang mengatakan bahwa, dampak perubahan program BPNT masih bersifat jangka pendek dan belum memenuhi pendapatan keluarga prasejahtera dalam jangka panjang.

Berkaitan dengan hal tersebut (Risnandar & Broto, 2018) dalam hasil penelitiannya mengemukakan hal yang sama, bahwa masih terdapat kesenjangan yang terjadi antara kinerja yang dihasilkan dengan harapan yang seharusnya diperoleh penerima manfaat dalam program BPNT. Dalam hal ini, (Fatimah et al., 2022) mengatakan bahwa diperlukan dukungan pemerintah yang efektif, kapasitas sosial dan public private partnership sebagai upaya rekomendasi kebijakan dalam program BPNT bagi KPM di Kecamatan Kasemen Kota Serang.

Salah satu faktor penyebab belum efektifnya dampak perubahan, bahwa kebijakan sosial seperti BPNT diadopsi oleh pemerintah untuk kesejahteraan rakyat, akan tetapi program tersebut belum menyesuaikan berdasarkan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan masyarakat dalam konteks adat istiadat dan nilai-nilai masyarakat. Nilai-nilai pertama menyangkut berbagai unsur sosial-ekonomi, agama, budaya, dan politik. Dapat dilihat bahwa faktor-faktor tersebut secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi perumusan kebijakan sosial. Lebih tepatnya unsur-unsur menentukan kebijakan sosial masyarakat mana yang tepat. Selain itu (Hermawan et al., 2021) dalam hasil penelitian mengatakan, pentingnya menyempurnakan BPNT sesuai karakteristik masyarakat dan wilayah serta meningkatkan intensitas keterlibatan dan kinerja Bulog untuk mendukung BPNT dan urusan pangan nasional.

Efesiensi dalam Pencapaiaan Tujuan dan Dampak

Berdasarkan hasil penelitian, kriteria efisiensi dalam pencapain tujuan dan dampak belum cukup efektif, hal ini diketahui melalui indikator lemahnya pengawasan Dinas Sosial. Jika dikonformasi melalui pendapat (Bororing et al., 2022), maka terdapat kesamaan hasil penelitian bahwa pengawasan yang diterapkan belum menjawab keluhan dari masyarakat khusunya anggota penerima, karena dalam kegagalan aspek pengawasan, dalam hal ini Dinas Sosial tidak melakukan evaluasi secara menyeluruh.

(11)

Berdasarkan regulasi Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2018 dalam pelaksanaan BPNT terdapat Tim koordinasi Bantuan Sosial pangan kab/kota yang memiliki tugas untuk melakukan koordinasi perencanaan, anggaran, penggantian KPM program Bantuan Sosial pangan, sosialisasi, pelaksanaan penyaluran, pemantauan dan evaluasi, penanganan pengaduan, serta melaporkan hasilnya kepada tim koordinasi Bantuan Sosial pangan daerah provinsi dan pusat. Adapun beberapa fungsi dari tim koordinasi pangan tersebut antara lain memantau dan mengevaluasi pelaksanaan BPNT di kecamatan dan desa/ kelurahan; menangani pengaduan BPNT di daerah kabupaten/kota; melakukan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi tim koordinasi bantuan sosial pangan kecamatan dan perangkat desa/kelurahan/nama lain; dan melaporkan pelaksanaan BPNT kepada tim koordinasi Bantuan Sosial pangan daerah provinsi dan tim koordinasi Bantuan Sosial pangan Pusat.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya masih terdapat lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh tim koordinasi, hal tersebut mengakibatkan terjadinya permasalahan dimana masyarakat yang menjadi KPM dalam mendapatkan bantuan BPNT diarahkan ke salah satu warung tertentu, padahal dalam membelanjakan uang bantuan tersebut masyarakat yang menjadi KPM diberikan kebebasan dalam memilih e-warung mana saja dalam mendapatkan BPNT tersebut. Fenomena tersebut terjadi di kecamatan Curug, Kota Serang, dilansir dari www.siber.news masyarakat merasakan adanya intimidasi untuk belanja pada salah satu agen warung yang telah dipilihkan untuk membelanjakan uang bantuan sosial di warung tersebut. Warga juga mengakui bahwa hanya menerima uang senilai Rp. 400.000 dari tiga (3) pagu yang saharusnya mendapatkan Rp. 600.000,- (Sudrajat, 2022).

Adapun respon dari Dinas Sosial terkait dengan dugaan tersebut melalui salah satu staff Dinas Sosial yaitu Jatiah memberikan keterangan melalui pesan Whatsapp kepada pihak siber.news “Kepala Dinas tidak mau menanggapai masalah yang bukan kewenangan dan tanggung jawabnya. Untuk penyaluran BPNT ini kewenangan sepenuhnya ada pada PT

(12)

Pos, begitu juga dengan uang bantuan itu kalau sudah diterima oleh KPM itu menjadi sepenuhnya hak dari KPM itu untuk digunakan apapun juga. Jadi tidak ada Dinas Sosial mengarahkan atau memaksa apapun pada KPM. Penyalurannya saja tidak tahu termasuk KPM penerimanya juga tidak tahu hanya PT Pos yang tahu”, ungkap Kadinsos (Sudrajat, 2022).

Berdasarkan pernyataan tersebut menunjukan bahwa Dinas Sosial Kota Serang lepas tangan dan tidak bertanggung jawab atas permasalahan yang terjadi di Kecamatan Curug, Kota Serang tersebut. Hal tersebut bertentangan dengan Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2018 yang menyebutkan bahwa Dinas Sosial merupakan bagian tim koordinasi bantuan sosial pangan daerah yang memiliki tugas yaitu melakukan koordinasi perencanaan, anggaran, penggantian KPM program Bantuan Sosial pangan, sosialisasi, pelaksanaan penyaluran, pemantauan dan evaluasi, penanganan pengaduan, serta melaporkan hasilnya kepada tim koordinasi Bantuan Sosial Pangan daerah provinsi dan pusat.

Berkaitan dengan minimnya pengawasan dari Dinas Sosial Kota Serang, (Vargas- Hernandez et al., 2011) mengatakan disinilah pentingnya peran kebijakan sosial terkait dengan hambatan dalam program ekonomi, sosial, dan politik. Bahwa koordinasi dan koherensi kebijakan harus mempertimbangkan fakta bahwa ide-ide tentang kebijakan sosial dan perannya dalam pembangunan telah berubah dan mengalami permasalahan dari waktu ke waktu dan cenderung menunjukkan kesulitan dalam melakukan pendekatan terhadap penanggulangan kemiskinan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa koordinasi merupakan kata kunci untuk menyelesaikan permasalahan minimnya pengawasan sebagaimana permasalahan yang telah diuraikan.

Keberlanjutan dan manfaat Jangka Panjang

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa program BPNT belum memberikan dampak berkelanjutan dan manfaat jangka panjang. Hal ini disebabkan, karena implementasi program BPNT bersifat rutin dan belum dibarengi dengan kebijakan inovasi bagi masyarakat. Dalam hal ini program yang diberikan hanya untuk mengalokasikan bantuan akan tetapi belum memberikan upaya untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.

(13)

Dalam konteks peningkatan keterampilan masyarakat, (Hasanah et al., 2022) mengatakan dampak sosial ekonomi dalam konteks kewirausahaan sosial telah menghasilkan kapasitas dan kemandirian dalam membuka peluang usaha sehingga dukungan pemerintah Kota Serang dan kebijakan yang mampu mengakomodir peluang ekonomi dan merepresentasikan nilai-nilai sosial kewirausahaan di masa depan dapat menjadi peluang untuk dilaksanakan secara berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa, kebijakan sosial dapat terwujud secara berkelanjutan dan memiliki manfaat jangka panjang jika dibarengi dengan inovasi kebijakan untuk memberikan dampak yang strategis (Sururi, 2016). Disisi lain, proses inovasi, kerjasama, dan pemahaman pengetahuan sumber daya manusia yang dilaksanakan secara berkelanjutan merupakan faktor-faktor yang dapat mendukung evaluasi program kewirausahaan sosial (Hasanah et al., 2022).

Dengan demikian, alokasi dan penggunaan sumber daya untuk kebijakan sosial tidak selalu mencerminkan kepentingan pembuat kebijakan (pemerintah pusat atau daerah), akan tetapi mencerminkan kelompok-kelompok dalam masyarakat sebagai saran kebijakan sosial. Sebagaimana ditegaskan (Devereux & Cook, 2009) bahwa akan muncul keharmonisan antara kebutuhan masyarakat dan prioritas program bantuan sosial, di di satu sisi, akan terjadi peningkatan kapasitas individu dan rumah tangga.

Kesimpulan

Evaluasi kebijakan sosial pada program BNPT di Kota Serang menunjukkan beberapa kriteria yang belum efektif atau berhasil. Tingkat efektifitas atau keberhasilan hanya terjadi pada kriteria relevansi, atau program BNPT merupakan kebijakan sosial yang sesuai dengan kebutuhan dan masalah, sedangkan kriteria efektifitas dalam menghasilkan efek dan perubahan, efisiensi perubahan dan efek yang dicapai dan keberlanjutan dan manfaat jangka panjang menunjukkan tingkat keberhasilan yang rendah atau belum efektif. Temuan penelitian ini menunjukkan, pentingnya mendorong koordinasi antar sektor dan inovasi kebijakan yang mampu menumbuhkan kapasitas dan keterampilan masyarakat. Selain itu program BPNT diimplementasikan sesuai karakteristik masyarakat dan wilayah sehingga mampu meningkatkan intensitas dan keterlibatan masyarakat dalam program tersebut.

(14)

Referensi

Acquah, D., Lisek, K., & Jacobzone, S. (2019). The Role of Evidence Informed Policy Making in Delivering on Performance: Social Investment in New Zealand. OECD Journal on Budgeting, 19(1), 171–197. https://doi.org/10.1787/74fa8447-en

Aspar, A., M, S., & D.N, S. (2020). Implementasi Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) terhadap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kelurahan Bontoduri Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Washiyah: Jurnal Kajian Dakwah Dan Komunikasi, 1(2), 305–325.

Badan Pusat Statistik. (2023). Berita Resmi Statistik. Badan Pusat Statistik.

https://www.bps.go.id/website/materi_ind/materiBrsInd-20230116144354.pdf Bororing, T., Kimbal, A., & Kumayas, N. (2022). Pengawasan Dinas Sosial Dalam

Penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Di Kecamatan Modoinding.

Governance, 2(2).

Devereux, S., & Cook, S. (2009). Does social policy meet social needs? IDS Bulletin, 31(4), 63–73. https://doi.org/10.1111/j.1759-5436.2000.mp31004007.x

Dige, G. (2017). EEA Guidance Document—Policy Evaluation. European Environment Agency.

https://www.researchgate.net/publication/317594615_EEA_guidance_document _-_policy_evaluation

Fadlurrohim, I., Nulhaqim, S. A., & Sulastri, S. (2019). Implementasi Program Bantuan Pangan Non Tunai (Studi Kasus di Kota Cimahi). Share: Social Work Journal, 9(2), 122–129. https://doi.org/10.24198/share.v9i2.20326

Fatimah, M., Hasanah, B., & Sururi, A. (2022). Dynamic Governance Dalam Implementasi Program Bantuan Pangan Non Tunai Bagi Keluarga Penerima Manfaat. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), 3(1), 79–91.

Gasper, D. (2006). Policy Evaluation: From Managerialism and Econocracy to a Governance Perspective. In International Development Governance (1st Edition, p.

16). Routledge.

(15)

Gultom, H., Kindangen, P., & Kawung, G. M. (2021). Analisis pengaruh Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) terhadap kemiskinan di Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal Pembangunan Ekonomi Dan Keuangan Daerah, 21(1), 39–53.

Hasanah, B., Sururi, A., Prananda, D. P., & Noval, A. M. (2022). Evaluasi Program Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (Model Kewirausahaan Sosial Di Kota Serang). Jurnal Pamator: Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo, 15(2), 60–73.

Hermawan, I., Izzaty, I., Budiyanti, E., Sari, R., Sudarwati, Y., & Teja, M. (2021). Efektivitas Program Bantuan Pangan Nontunai di Kota Yogyakarta. Jurnal Ekonomi &

Kebijakan Publik, 12(2), 131–145. https://doi.org/10.22212/jekp.v12i2.2237 Kraan, D. J., Von Trapp, L., Kostyleva, V., Van Tuinen, J., & Morgner, M. (2013). Budgeting

in Ukraine. OECD Journal on Budgeting, 12(2), 69–140.

Mergaert, L., & Minto, R. (2015). Ex ante and ex post evaluations: Two sides of the same coin?: The Case of Gender Mainstreaming in EU Research Policy. European Journal of Risk Regulation, 6(1), 47–56.

Miles, M. B., Hubermen, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook (3rd ed.). Sage Publications.

Nallari, R., & Griffith, B. (2011). Understanding Growth and Poverty. Theory, Policy and Empirics. In Understanding Growth and Poverty. World Bank Publications.

OECD. (2019). Budgeting and Public Expenditures in OECD Countries 2019. OECD Publishing. https://doi.org/https://doi.org/10.1787/9789264307957-en

Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods. Sage Publications Inc.

Pega, F., Liu, S. Y., Walter, S., & Lhachimi, S. K. (2015). Unconditional Cash Transfers For Assistance In Humanitarian Disasters: Effect On Use Of Health Services And Health Outcomes In Low‐And Middle‐Income Countries. Cochrane Database of Systematic Reviews, 9. https://doi.org/10.1002/14651858.CD011247.pub2

Pramesti, R., Muhammad, A. S., & Safitri, D. P. (2019). Impelementasi Bantuan Pangan Non Tunai Melalui Elektronik Gotong Royong Di Kota Tanjungpinang. Spirit Publik:

Jurnal Administrasi Publik, 14(1), 81–93.

(16)

Risnandar, R., & Broto, A. W. (2018). Implementasi Program Bantuan Sosial Non Tunai Di Indonesia. Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 7(3), 189–204.

Smismans, S. (2015). Policy Evaluation In The EU: The Challenges Of Linking Ex Ante And Ex Post Appraisal. European Journal of Risk Regulation, 6(1), 6–26.

Sudrajat, D. (2022, March 11). Dinas Sosial Kota Serang Diduga Cuci Tangan Realisasi BPNT. Siber.News. https://siber.news/dinas-sosial-kota-serang-diduga-cuci- tangan-realisasi-bpnt/

Sururi, A. (2016). Inovasi Kebijakan Publik (Tinjauan Konseptual dan Empiris). Sawala:

Jurnal Administrasi Negara, 4(3), 1–14.

Susanto, V. Y., & Perwitasari, A. S. (2023, February 5). Wapres Optimis Pemerintah Capai Target Penurunan Kemiskinan pada 2024. Kominfo.

https://www.kominfo.go.id/content/detail/47232/wapres-optimis-pemerintah- capai-target-penurunan-kemiskinan-pada-2024/0/berita

Vargas-Hernandez, J., Noruzi, M. R., & Ali, I. F. N. H. (2011). What Is Policy, Social Policy And Social Policy Changing? International Journal of Business and Social Science, 2(10), 287–291.

Referensi

Dokumen terkait

Selain memudahkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pangan, Program BPNT juga memberikan peluang kepada masyarakat untuk tetap hidup karena tujuan BPNT adalah pemenuhan

BPNT adalah bantuan sosial pangan yang disalurkan dalam bentuk non tunai dari pemerintah kepada KPM/Keluarga Penerima Manfaat (sebutan untuk masyarakat miskin yang terdaftar

a) Efektivitas dari kata dasar efektif yang memili arti pencapaian akan sebuah keberhasilan guna mencapai keinginan yang telah ditentukan. Efektivitas mengandung

berpendapatan rendah; (2) Bantuan Pangan Non-Tunai yang dimaksud dalam kajian ini adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk nontunai dari Pemerintah yang

berpendapatan rendah; (2) Bantuan Pangan Non-Tunai yang dimaksud dalam kajian ini adalah bantuan sosial pangan dalam bentuk nontunai dari Pemerintah yang

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka agar Pelaksanaan Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dalam Pengentasan Kemiskinan di Kecamatan Medan Johor dapat

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan hasil uraian di atas, maka adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana Implementasi Program Bantuan Pangan Non Tunai BPNT di

Dengan teknik analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian untuk menguji signifikansi Pengaruh Program Keluarga Harapan PKH terhadap kemiskinan di Kelurahan Parit Rantang Kota