Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab genangan air berakhir di bawah lapisan perkerasan keras. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya dalam pada struktur perkerasan adalah besarnya gaya aksial, gaya geser dan momen akibat beban yang bekerja pada struktur perkerasan. Gaya-gaya dalam yang terjadi pada struktur perkerasan merangkum besarnya nilai gaya dalam yang terjadi pada setiap lapis perkerasan yang dapat mempengaruhi kekuatan struktur perkerasan itu sendiri, sehingga dari hasil evaluasi struktur perkerasan kaku dapat disimpulkan bahwa gaya aksial gaya, gaya geser dan momen maksimum terjadi pada lapisan atas konstruksi perkerasan yaitu perkerasan beton semen.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui penyebab terjadinya banjir air hujan dan air pasang di bawah lapis perkerasan kaku di Jalan Raya Kaligawe, (2) mengetahui cara mengatasi intrusi air hujan dan air pasang di bawah lapis perkerasan kaku. . lapisan perkerasan Jalan Raya Kaligawe dan (3) ) Mengetahui desain konstruksi yang optimal pada sambungan perkerasan kaku di daerah yang sering terjadi banjir rob. Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada LPPM UNISSULA yang telah mendanai penelitian ini. Karena penelitian ini belum selesai, kami berharap penelitian ini dapat dibiayai oleh LPPM UNISSULA untuk tahun berikutnya sehingga hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan langsung oleh para pemangku kepentingan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Unissula yang telah memfasilitasi pelaksanaan penelitian ini, khususnya Laboratorium Transportasi Fakultas Teknik Unissula. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penelitian ini, semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua, amin.
Latar Belakang
Permasalahan
Batasan Penelitian
Target Luaran Penelitian
Berdasarkan definisi Multilingual Technical Dictionary of Irrigation and Drainage yang dikeluarkan oleh International Commission on Irrigation and Drainage (ICID), pengertian banjir dapat diartikan sebagai debit aliran sungai yang relatif lebih tinggi dari biasanya; banjir yang terjadi di darat; pertumbuhan, penambahan dan luapan air yang biasanya tidak terjadi di dalam tanah. Banjir dapat diklasifikasikan berdasarkan: sumber air, mekanisme, posisi dan berdasarkan aspek penyebabnya (Ferad Puturuhu 2015), sebagai berikut. Penggolongan banjir berdasarkan sumber air yang tersimpan di dalam tanah menurut pendapat dibagi menjadi tiga.
Banjir dapat dikategorikan menurut mekanisme terjadinya dan menurut letak sumber banjir dalam hubungannya dengan luas wilayah yang digenanginya. banjir bandang; Banjir bandang dapat diartikan sebagai banjir yang disebabkan oleh meluasnya limpasan air dari daerah hulu di suatu daerah aliran sungai. 4) Klasifikasi banjir menurut penyebabnya. Banjir karena hujan berhari-hari yang berlangsung lama dengan intensitas rendah (hujan siklon atau frontal);
Banjir bandang, disebabkan oleh jenis hujan konvensional dengan intensitas tinggi dan terjadi di tempat-tempat yang topografinya curam di hulu sungai; Banjir yang disebabkan oleh pasang surut air laut di muara sungai atau di pertemuan dua sungai.
Genangan
Desain Konstruksi Perkerasan Kaku
Perkerasan Beton Semen Bersambung Tanpa Tulangan
Perkerasan Beton Semen Bersambung Dengan Tulangan
Perkerasan Beton Semen Menerus Dengan Tulangan
Perkerasan Beton Semen Prategang
Sambungan
Perencanaan sambungan pada perkerasan beton merupakan hal yang harus dilakukan, baik jenis perkerasan beton menerus tanpa atau dengan tulangan, maupun jenis perkerasan beton menerus dengan tulangan. Fungsi sambungan pada perkerasan beton terutama untuk mengontrol retak akibat susut dan ruang untuk muai. Penempatan sambungan akan menentukan lokasi dimana seharusnya terjadi retak akibat susut beton dan juga mengontrol perubahan perubahan suhu pada perkerasan jalan serta untuk keperluan konstruksi (aplikasi).
Pada arah melintang, sambungan menggunakan besi polos (dowel) yang berfungsi sebagai pemindah beban (transfer loading device). Besi halus di salah satu ujungnya harus bebas bergerak, sedangkan baja yang dideformasi secara longitudinal disebut tie rod digunakan, yang berfungsi sebagai pengikat pelat beton longitudinal.
Sambungan Susut (Constraction Joint)
Sambungan muai (Expansion Joint)
Sambungan ekspansi biasanya dibuat dengan pra-pembentukan, karena celahnya harus cukup lebar.
Sambungan Konstruksi (Construction Joint)
Jenis Kerusakan pada Perkerasan Kaku
Jenis kerusakan yang biasa dijumpai pada perkerasan kaku dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis kerusakan yang sejenis berdasarkan model kerusakannya.
Deformasi
Keruntuhan biasanya terjadi karena kurangnya transfer beban antara dua pelat, yang diikuti oleh kompresi atau penyusutan volume lapisan tanah di bawah pelat. Pemompaan adalah fenomena di mana air atau lumpur diekstraksi (dipompa) melalui sambungan atau retakan yang dibuat oleh defleksi pelat karena lalu lintas. Pemompaan dapat mengurangi daya dukung lapisan pondasi karena munculnya rongga di bawah pelat dan umumnya tidak dapat diamati secara visual, kecuali setelah hujan.
Tahap awal pemompaan subsoil material granular sama dengan saat pemompaan tanah berbutir halus. Rongga-rongga ini awalnya merupakan hasil dari pemadatan lapisan pondasi atau tanah dasar yang kurang baik, atau mungkin rongga-rongga tersebut berasal dari butir-butir halus yang menumpuk di lapisan pondasi akibat deformasi permanen yang berlebihan di bagian atas lapisan pondasi. Kemudian air masuk ke dalam rongga, jika material granular granular padat, maka material akan tetap berada di bawah pelat sampai terbawa oleh efek defleksi pelat akibat beban berulang dari lalu lintas.
Rocking adalah fenomena dimana terjadi gerakan vertikal pada persendian atau retakan akibat lalu lintas. Biasanya, goyangan terjadi karena penurunan atau pemompaan lapisan pendukung di bawah pelat, yang mengakibatkan
Retak (crack)
Retak memanjang adalah retakan yang tidak tersambung dan merambat sepanjang pelat, dimulai sebagai retakan tunggal atau rangkaian retakan yang hampir sejajar. Retakan tidak beraturan adalah retakan yang tidak berhubungan yang memiliki pola tidak beraturan dan umumnya merupakan retakan tunggal. Penurunan perkerasan adalah penurunan yang terjadi pada bahu di samping tepi pelat.
Gasket umumnya cukup buruk dengan hanya satu atau lebih kerusakan sedang. Untuk tingkat kerusakan ini belum ada definisi derajat kerusakannya, namun tetap dinilai sebagai kerusakan.
Lubang (pothole)
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian deskriptif yaitu dengan memfokuskan pada permasalahan yang ada dimana kondisi kerusakan di lokasi penelitian dapat diperoleh data yang akurat dan menyeluruh. Analisis yang digunakan adalah mengumpulkan data berupa data primer dan data sekunder yang kemudian disusun. Data primer merupakan data yang diperoleh melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lokasi penelitian.
Data panjang dan lebar tingkat kerusakan jalan, data ukuran panjang dan lebar untuk retak sudut, retak melintang, keausan agregat, berlubang, retak isi dan retak rambut.
Data Sekunder
Desain Konstruksi Perkerasan Kaku
Data Struktur Perkerasan Jalan
Selain itu, hasil keluaran dibandingkan dan dianalisis lebih lanjut untuk menilai stabilitas struktur perkerasan. Data sifat-sifat bahan jalan termasuk alas (lempung) merupakan data sekunder dari hasil studi literatur dan referensi yang berkaitan dengan topik penelitian.
Tahap Analisis Struktur Perkerasan
Analisis Struktur Perkerasan dengan PLAXIS 3D FOUNDATION
Geometri
Data sifat material lapisan perkerasan jalan termasuk tanah lapisan bawah (tanah liat) merupakan data sekunder dari hasil studi literatur dan referensi yang berkaitan dengan topik penelitian Gambar 4.4 Tampak samping struktur perkerasan 2) Memberikan masukan. Input data berupa ruang kerja, kontur geometri, pembebanan, lubang bor dan dataset material input.
Melakukan Perhitungan
Menampilkan hasil keluaran
Tahap Perbandingan Hasil Analisis
Analisis Penyebab Kerusakan Rigid Pavement
Penyebab Air Hujan dan Air Rob Masuk
Cara Mengatasi
Analisis Struktur Perkerasan Jalan Pembebanan Beban Gandar Rencana
Pada tahap ini dilakukan evaluasi berdasarkan hasil perbandingan output permukaan jalan yang kaku untuk mengetahui kinerja dan stabilitas kedua struktur permukaan jalan tersebut. Sebagai contoh bidang kontak beban roda dapat dilihat pada Gambar 5.4 seperti gambar di bawah ini. Koefisien reaksi subsoil (ks) yang digunakan untuk analisis struktur perkerasan dapat dihitung dari nilai CBR subsoil.
Menurut Oglesby, et al., (1996), nilai ks dapat ditentukan berdasarkan data CBR tanah karena terdapat korelasi non linier antara ks dan CBR seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.5. Dari data tersebut, besarnya modulus reaksi tanah dasar (ks) yang akan digunakan dalam analisis struktur perkerasan jalan adalah 43,433 KN/m3. Modulus elastisitas tanah dapat diukur dari korelasi antara modulus resiliensi tanah dasar dengan CBR, yaitu sebagai berikut.
Tanah dasar dalam analisis struktur perkerasan jalan ini berupa lempung, sehingga nilai ν berdasarkan tabel di atas berada pada kisaran 0,10-0,50. Dari data ks diketahui nilai ks adalah 43,433 kN/m3, sehingga dapat dihitung daya dukung tanah sebagai berikut. Lendutan maksimum yang diperbolehkan terjadi pada struktur perkerasan yang berada di atas substrat dari data ks diketahui nilai qu sebesar 1.085,825 kN/m2 dan ks sebesar 43.433 kN/m3, sehingga lendutan yang diperbolehkan adalah
Dengan demikian, lendutan yang diperbolehkan pada struktur paving yang terletak di atas tanah lapisan bawah adalah maksimal 2,5 cm. Analisis Struktural Data Umum dengan Program PLAXIS 3D FOUNDATION Analisis Struktural dengan Program PLAXIS 3D FOUNDATION dapat digunakan untuk.
Data Umum Analisis Struktur dengan Program PLAXIS 3D FOUNDATION Analisis struktur dengan program PLAXIS 3D FOUNDATION dapat dipakai untuk
40 perbaikan struktur perkerasan berdasarkan nilai tegangan dan lendutan yang dihasilkan dari suatu struktur perkerasan. Data umum lengkap mengenai analisis struktur dengan PLAXIS 3D FOUNDATION dapat dilihat pada Tabel 5.2 di bawah ini.
Analisis Struktur Perkerasan dengan Program PLAXIS 3D Data Sifat - Sifat Material Struktur Perkerasan
Evaluasi Hasil Analisis Struktur Perkerasan Jalan
Output Evaluasi analisis struktur perkerasan kaku dilakukan dengan membandingkan hasil output analisis, yang terdiri dari besarnya simpangan (defleksi), tegangan, dan gaya-gaya dalam yang terjadi jika analisis tersebut dihitung dengan program PLAXIS 3D FOUNDATION.
Evaluasi Perpindahan (Lendutan) Perkerasan Kaku dengan PLAXIS 3D FOUNDATION
Evaluasi Tegangan Perkerasan Kaku dengan PLAXIS 3D FOUNDATION Daya dukung tanah ultimit pada struktur perkerasan menggambarkan tentang batas
Berdasarkan hasil evaluasi pada Tabel 5.10 di atas dapat disimpulkan bahwa struktur perkerasan masih aman, sehingga struktur perkerasan merupakan proyek yang layak untuk dilaksanakan. Memperkirakan Gaya-Gaya Pada Perkerasan Kaku dengan PLAXIS 3D FOUNDATION Gaya-gaya dalam pada struktur perkerasan adalah gaya aksial, gaya geser dan gaya aksial.
Evaluasi Gaya Dalam Perkerasan Kaku dengan PLAXIS 3D FOUNDATION Gaya dalam pada struktur perkerasan merupakan besaran gaya aksial, gaya geser,
Luaran Yang Dicapai
Publikasi ilmiah merupakan salah satu keluaran penelitian, publikasi yang baik dimulai dengan pemilihan jurnal yang berkualitas. Jurnal berkualitas dapat ditandai dengan jurnal terindeks seperti Google Scholar, DOAJ, Scopus, Thomspon dan Reuters, jurnal terakreditasi nasional atau internasional sesuai kebutuhan dan untuk menghindari jurnal predator. Publikasi ilmiah penelitian ini diharapkan dapat ditargetkan untuk publikasi di jurnal/prosiding nasional maupun jurnal internasional.
Publikasi ini diharapkan dapat dipublikasikan di website Fakultas Teknik dan Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Kesimpulan
Saran
SURAT TUGAS
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG (UNISSULA)