FAKTOR-FAKTOR PENGAMBILAN KEPUTUSAN DI RUMAH SAKIT
Muhammad Bismar [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang : Pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang kompleks dan sering didefinisikan sebagai suatu upaya memutuskan serangkaian tindakan tertentu. Pengambilan keputusan sering dianggap sinonim dengan manajemen. Tujuan : Untuk diketahui apa saja yang menjadi faktor-faktor pengambilan keputusan di rumah sakit. Metode : Jurnal ini menggunakan metode tersearch dan analisis dari berbagai sumber seperti buku teks, buku referensi jurnal dan e-book, dan juga di bandingkan dengan jurnal yang berhubungan dengan faktor-faktor
pengambilan keputusan di rumah sakit. Hasil : Dari hasil pembandingan beberapa jurnal diketahui bahwa Dalam melakukan asuhan keperawatan di rumah sakit seorang perawat harus membuat keputusan diagnostik yang terkait dengan tugasnya memberikan asuhan keperawatan.
Perawat selain memberikan asuhan keperawatan juga sering kali dituntut untuk dapat membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh klien. Kesimpulan : Pengambilan keputusan merupakan suatu proses berpikir dalam menentukan pilihan terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah dengan langkah-langkah yang berurutan. Oleh karena itu seorang perawat dituntut untuk dapat memutuskan sesuatu dengan baik dan tidak merugikan orang lain yang berlandasakan etika profesi keperawatan.
Kata kunci : Faktor pengambilan keputusan, rumah sakit ABSTRACT
Background: Decision making is a complex cognitive process and is often defined as an attempt to decide on a certain set of actions. Decision making is often considered synonymous with management. Purpose: To find out what are the factors for decision making in the hospital.
Methods: This journal uses search and analysis methods from various sources such as textbooks, journal reference books and e-books, and is also compared with journals related to decision- making factors in hospitals. Results: From the results of comparisons of several journals it is known that in carrying out nursing care in the hospital a nurse must make diagnostic decisions related to her duty to provide nursing care. In addition to providing nursing care, nurses are often required to assist in solving problems faced by clients. Conclusion: Decision making is a
thought process in determining the best option to solve a problem with sequential steps.
Therefore, a nurse is required to be able to decide something well and not to harm others based on the ethics of the nursing profession.
Key words: decision making factors, hospital
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang kompleks dan sering didefinisikan sebagai suatu upaya memutuskan serangkaian tindakan tertentu.
Pengambilan keputusan sering dianggap sinonim dengan manajemen (Marquis &
Huston, 2010).
Rumah Sakit menurut WHO adalah suatu bagian menyeluruh organisasi sosial dan medis, yang mempunyai fungsi pelayanan kesehatan lengkap kepada masyarakat baik kuratif maupun preventif pelayanan keluarnya menjangkau keluarga dan lingkungan rumah. Rumah sakit pun merupakan pusat untuk latihan tenaga kesehatan dan penelitian. Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap konsumen pemakai jasa sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk serta penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan yang telah diterapkan.
Unsur tersebut penting dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan. Dewasa ini masalah kesehatan telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, maka semakin meningkat pula tuntutan
masyarakat akan kualitas kesehatan. Hal ini menuntut penyedia jasa pelayanan kesehatan seperti rumah sakit untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang lebih baik, tidak hanya pelayanan yang bersifat penyembuhan penyakit tetapi juga mencakup pelayanan yang bersifat pencegahan untuk meningkatkan kualitas hidup serta memberikan kepuasan bagi konsumen selaku pengguna jasa kesehatan.
Rumah sakit sebagai institusi yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan mengalami perubahan. Pada awal perkembangannya, rumah sakit adalah lembaga yang berfungsi sosial, tetapi dengan adanya rumah sakit swasta, menjadikan rumah sakit lebih mengacu sebagai suatu industri yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan dengan melakukan pengelolaan yang berdasarkan pada manajemen badan usaha. Seiring dengan itu, terjadi persaingan antar rumah sakit milik pemerintah maupun rumah sakit milik swasta, semua berlomba- lomba untuk menarik konsumen dengan memberikan pelayanan yang lebih baik dibanding rumah sakit lain untuk mencapai kepuasan konsumen di rumah sakit agar mereka menggunakan jasa pelayanan kesehatan dari rumah sakit tersebut. Bagi kebanyakan masyarakat awam rumah sakit merupakan penyedia layanan yang terkenal
dengan kelengkapan prakter dokter, layanan 24 jam gawat darurat, dan juga layanan rawat inap. Keberadaan rumah sakit bertumbuh seiring dengan meningkatnya populasi.
METODE
Jurnal ini menggunakan metode tersearch dan analisis dari berbagai sumber seperti buku teks, buku referensi jurnal dan e-book, dan juga di bandingkan dengan jurnal yang berhubungan dengan faktor- faktor pengambilan keputusan di rumah sakit. Dari analisi berbagai sumber digunakan untuk mengetahui faktor- faktor pengambilan keputusan di rumah sakit.
Penulisan jurnal ini dimulai pada tanggal 22 September 2020. Pengolahan jurnal dilakukan dengan metode membandingkan beberapa jurnal yang berhubungan dengan faktor-faktor pengambilan keputusan di rumah sakit.
Untuk mengetahui apa saja faktor- faktor pengambilan keputusan di rumah sakit dan penulisan ini mengetahui bahwa faktor-faktor pengambilan keputusan di rumah sakit sangat penting oleh perawat di rumah sakit.
HASIL
Hasil dari beberapa jurnal, jurnal (Moordiningsih dan Faturochman:2006:3) Menurut Beach dan Connoly Pengambilan keputusan merupakan bagian dari suatu peristiwa yang meliputi diagnosa, seleksi tindakan dan implementasi.
Dapat diartikan bahwa pengambilan keputusan itu adalah sebuah proses yang dinamik, dimulai dari pencarian kompleks untuk informasi, penuh jalan memutar, memperkaya tanggapan dan pemilihan tentang segala arah mengumpulkan dan membuang informasi.
Dalam melakukan asuhan
keperawatan di rumah sakit seorang perawat harus membuat keputusan diagnostik yang terkait dengan tugasnya memberikan asuhan keperawatan. Perawat selain memberikan asuhan keperawatan juga sering kali dituntut untuk dapat membantu dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh klien.
PEMBAHASAN
Dari hasil perbandingan jurnal, pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah (Hasan 2002:10). Pengambilan keputusan suatu pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan yang melibatkan pencarian
informasi, penilaian pertimbangan yang diikuti proses penyesuaian diri dan pemahaman terhadap tujuan serta nilai-nilai yang mendasari keputusan tersebut dengan tujuan untuk meraih hasil terbaik.
Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Menurut Hasan (2002 : 14) dalam pengambilan keputusan ada beberapa faktor atau hal yang mempengaruhinya, faktor- faktor tersebut antara lain posisi atau kedudukan, masalah, situasi, kondisi dan tujuan.
a. Posisi/kedudukan
Dalam rangka pengambilan keputusan, posisi/kedudukan seseporang dapaat dilihat dalam hal berikut :
1) Letak posisi dalam hal ini apakah ia sebagai pembuat keputusan, penentu keputusan ataukah yang menjalani.
2) Tingkatan posisi, dalam hal ini apakah sebagai strategi, policy, peraturan, organisasional, operasional, teknis.
b. Masalah
Masalah adalah apa yang menjadi penghalang untuk tercapainya tujuan yang merupakan penyimpangan dari apa yang diharapkan, direncanakan,
atau dikehendaki dan harus diselesaikan.
c. Situasi
Situasi adalah keseluruhan faktor- faktor dalam keadaan yang berkaitan satu sama lain dan yang merasa sama-sama memancarkan pengaruh terhadap kita beserta apa yang hendak kita perbuat.
d. Kondisi
Kondisi adalah keseluruhan dari faktor-faktor yang secara bersama- sama menentukan gaya gerak, daya berbuat atau kemampuan kita.
Sebagian besar faktor-faktor tersebut merupakan sumber daya-sumber daya.
e. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai, baik tujuan perorangan, tujuan unit, tujuan organisasi, maupun tujuan usaha, pada umumnya telah ditentukan. Tujuan yang ditentukan dalam pengambilan keputusan merupakan tujuan antara atau objektif.
Menurut Terry (dalam Hasan, 2002:16), faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
a. Hal-hal yang berwujud dan tak berwujud, yang emosional maupun yang rasional.
b. Tujuan organisasi. Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan sebagai bahan dalam pencapaian tujuan dan organisasi.
c. Orientasi. Keputusan yang diambil tidak boleh memiliki orientasi kepada diri pribadi, tetapi harus lebih berorientasi kepada kepentingan organisasi.
d. Alternatif-alternatif tandingan.
Jarang sekali ada satu pilihan yang betul-betul memuaskan, karenanya harus dibuat alternatif-alternatif tandingan.
e. Tindakan. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental, karenanya harus diubah menjadi tindakan fisik.
f. Waktu. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan waktu dan proses yang cucup lama.
g. Kepraktisan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk memperoleh hasil yang optimal.
h. Pelembagaan. Setiap keputusan yang diambil harus dilembagakan agar
dapat diketahui tingkat
kebenarannya.
i. Kegiatan berikutnya. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian mata rantai kegiatan berikutnya.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan individual dapat dibedakan menjadi dua faktor utama, (Moordiningsih dan Faturochman,2006 : 6), yaitu :
a. Faktor internal, yang berasal dari dalam individu. Faktor internal meliputi kreaativitasi ndividu, persepsi, nilai-nilai yang dimiliki individu, motivasi dan kemampuan analisis permasalahan.
b. Faktor eksternal, yang berasal dari luar individu. Faktor eksternal meliputi tentang waktu dalam membuat keputusan, seperti peran pebgaruh sosial maupun peran kelompok.
Proses Pengambilan Keputusan
Lahirnya suatu keputusan tidak serta merta berlangsung secara sederhana , sebab sebuah keputusan itu selalu saja lahir berdasarkan dari proses yang memakan waktu, tenaga dan pikiran hingga akhirnya
terjadinya suatu pengkristalan dan lahirlah keputusan tersebut. Saat pengambilan keputusan adalah saat dimana kita sepenuhnya memilih kendali dalam bertindak sedangkan saat kejadian tak pasti adalah dimana saat sesuatu diluar didri kitalah yang menentukan apa yang akan terjadi artinya kendali diluar kemampuan kita. Selanjutnya yang dianggap penting adalah pertanggungjawaban dari keputusan itu sendiri kepada pihak yang berkepentingan (Fahmi,2011 ; 4).
Model Pengambilan Keputusan 1) Model Normatif
Menurut Swanburg (2000) model normatif untuk pembuatan keputusan ini tidak realistis karena asumsinya jelas memilih diantara alternative yang teridentifikasi. Ada tujuh langkah untuk membuat keputusan dalam model analisis ini: a) menemukan dan menganalisis masalah, b) mengidentifikasi semua alternatif yang memungkinkan, c) mengevaluasi pro dan kontra dari masing- masing alternatif, d) mengurutkan alternatif, e) memilih alternative yang dapat memaksimalkan kepuasaan, f) pelaksanaan, g) evaluasi.
2) Model Pohon Keputusan
Vroom menggunakan jawaban untuk tujuh pertanyaan diagnostik dalam bentuk pohon keputusan untuk mengidentifikasi tipe-tipe gaya kepemimpinan yang digunakan dalam model manajemen pembuatan keputusan. Pertanyaan berfokus pada perlindungan kualitas dan penerimaan keputusan dan kesesuaian yang adekuat dari informasi,keseuaian tujuan, struktur masalah, penerimaan oleh subordinat, konflik, keadilan, dan prioritas implementasi (Swanburg, 2000).
3) Model Deskriptif
Simon mengembangkan model ini didasarkan pada asumsi bahwa pembuat keputusan adalah seseorang yang melihat masalah secara rasional dalam membuat solusi yang bisa dilakukan yang didasarkan pada informasi yang diketahuinya. Model ini dapat digunakan untuk membuat berbagai keputusan yang informasinya tidak lengkap diakibatkan karena keterbatasan waktu, uang, atau orang dan kenyataan bahwa orang tidak selalu memilih yang paling baik (Swanburg, 2000).
Ada lima langkah pengambilan keputusan dalam model dekripsi (Swanburg, 2000) :
a) menetapkan tujuan yang dapat diterima,
b) menguraikan persepsi subjektif tentang masalah,
c) mengidentifikasi alternatif yang bisa diterima,
d) mengevaluasi setiap alternatif, e) menyeleksi alternatif,
f) menerapkan keputusan, g) evaluasi (Swanburg, 2000).
Langkah-langkah Pengambilan Keputusan
Manajemen keperawatan
membutuhkan keputusan yang dibuat oleh perawat manajer pada setiap tingkatan bagian dibangsal atau unit (Swanburg, 2000). Banyak waktu manajer dihabiskan untuk mengkaji isu, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan secara kritis.
Kualitas keputusan yang dibuat oleh pemimpin atau manajer merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan atau kegagalan mereka (Marquis & Huston, 2010).
Marquis & Huston (2010) menyebutkan untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, perlu digunakan model proses yang adekuat
sebagai dasar teori untuk memahami dan mengaplikasikan keterampilan berpikir kritis. Ada lima langkah kritis dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, yaitu:
a) Penetapan tujuan; Penetapan tujuan harus jelas dan konsisten dengan pernyataan filosofi individu atau organisasi. Jika aspek tersebut tidak terpenuhi, maka kemungkinan keputusan yang dibuat berkualitas buruk.
Handoko (2009) mengemukakan hal pertama yang harus dilakukan seorang manajer adalah menemukan dan memahami masalah untuk diselesaikan agar perumusan masalah menjadi jelas.
b) Mengumpulkan data secara cermat;
Setelah manajer menentukan atau merumuskan masalah dan tujuan, manajer harus menentukan data-data yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat (Handoko, 2009). Pengumpulan data dimulai dengan mengidentifikasi masalah atau kesempatan untuk mengambil keputusan dan berlanjut ke proses penyelesaian masalah. Ketika mengumpulkan informasi, manajer harus berhati-hati agar data yang dimilikinya dan orang lain tidak salah fakta (Marquis &
Huston, 2010).
c) Membuat banyak alternatif; Semakin banyak alternatif yang dapat dibuat dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, semakin besar kesempatan menghasilkan keputusan akhir. Dengan tidak membatasi hanya pada satu alternatif yang jelas, orang akan mampu untuk menerobos pola kebiasaan atau pengekangan berpikir dan memungkinkan munculnya gagasan baru (Merquis & Huston, 2010).
Menurut Handoko (2009) setelah membuat alternatif keputusan, manajer harus mengevaluasi alternatif tersebut untuk menilai keefektifitasannya, dan langkah selanjutnya adalah memilih alternatis terbaik yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan.
d) Berpikir logis; Selama proses penyelesaian masalah, seseorang harus menarik inferensi (simpulan) informasi dan mempertimbangakan informasi serta alternatif secara cermat. Kesalahan berlogika pada titik ini akan mengarahkan pada kualitas keputusan yang buruk. Ada beberapa cara berpikir yang tidak logis, seperti: terlalu menggeneralisasi, afirmasi konsekuensi, dan berargumen dengan analogi (Marquis & Huston, 2010).
e) Memilih dan bertindak secara efektif;
Mengumpulkan informasi yang adekuat, berpikir logis, memilih diantara banyak alternatif, dan memahami pengaruh nilai- nilai individu tidaklah cukup. Dalam analisis akhir, seseorang harus bertindak. Banyak orang yang menunda untuk bertindak karena mereka kurang berani untuk menghadapi konsekuensi pilihan yang mereka ambil (Marquis & Huston, 2010). Pada tahap ini manajer perlu memperhatikan berbagai resiko dan ketidakpastian sebagai konsekuensi keputusan yang telah dibuat, karena dengan mengambil langkah tersebut manajer dapat menentukan kegiatan- kegiatan yang diperlukan untuk menanggulangi hambatan dan tantangan yang akan terjadi (Handoko, 2009).
KESIMPULAN
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses berpikir dalam menentukan pilihan terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah dengan langkah-langkah yang berurutan. Oleh karena itu seorang perawat dituntut untuk dapat memutuskan sesuatu dengan baik dan tidak merugikan orang lain yang berlandasakan etika profesi keperawatan. Dalam pengambilan keputusan seorang perawat harus mampu mempertimbangkan segala aspek, baik dari
pasien, keluarga, tenaga kesehatan, psiko, sosial dan cultura yang diterapkan.
REFERENSI
Bandiyah, Siti. (2017). Keterampilan Dasar keperawatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Dewi Lukasyanti. 2006. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Keputusan Menggunakan Jasa pada Rumah Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Hastuti, W. (2017). Aplikasi Concept Mapping dalam Pemberian Asuhan Keperawatan di State Maternitas. Jurnal Keperawatan dan Pemikiran Ilmiah, 3(3), 19-22.
Heni. (2017). Berfikir Kritis Dalam Proses Keperawatan. Jurnal Keperawatan, 3(1), 26-29.
Indriasari , F. N. (2016). Hubungan Antara Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Motivasi Belajar Mahasiswa Program Study Ilmu Keperawatan. Jurnal Keperawatan Notokusumo, IV(1), 40-46.
Kowiyah. (2012). Kemampuan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan Dasar, 3(5), 175- 178.
Magdalena, Hilyah. (2017). Analisis Faktor-Faktor Pendukung Pengambilan Keputusan Memilih Rumah Sakit Rujukan di Bangka Belitung Dengan Analitycal Hierarchy. Fountain of Informatics Journal, 2(2), 46-55.
Simamora, R. H. (2019). Menjadi Perawat yang: CIH’HUY. Surakarta: Kekata Publisher.
Simamora, R. H. (2005). Hubungan Persepsi Perawat Pelaksana Terhadap Penerapan Fungsi Pengorganisasian Yang Dilakukan Oleh Kepala Ruangan Dengan Kinerjanya Diruang Rawat Inap RSUD Koja Jakarta Utara (Doctoral dissertation, Tesis FIK UI, Tidakdipublikasikan).
Sudono, dkk. (2017). Gambaran Kemampuan Berfikir Kritis Perawat Primer dalam Pelaksanaan Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit Islam Surakarta. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia, 10(1),81-84.
Sumijatun. (2013). Konsep Dasar dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Klinis.
Jakarta : Trans Info Media Jakarta.
Zulfikar, Muhammad, Abdul Ghofar.
(2010). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keputusan Pelanggan dalam
Memilih Kembali Jasa Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Jombang. Jurnal Edu Healt, 1(1), 65-78.