• Tidak ada hasil yang ditemukan

Farah Prihandini 13103241058

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "Farah Prihandini 13103241058"

Copied!
156
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Diagnosis Permasalahan Kelas

Kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (MCC). Kurangnya kemampuan membaca awal pada siswa menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mengadaptasi pembelajaran akademik terkait dengan kegiatan membaca. Belum diketahui apakah metode SAS merupakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan membaca permulaan pada siswa tunagrahita ringan di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Fokus Masalah

Rumusan Masalah

Bagaimana proses penerapan metode SAS dalam meningkatkan kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan pada kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta. Apa hasil peningkatan kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan pada kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta dengan menggunakan metode SAS.

Tujuan Penelitian

Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman mengenai penggunaan metode SAS pada keterampilan membaca awal siswa tunagrahita ringan. Hasil penelitian ini dapat membantu pembelajaran membaca awal dan meningkatkan motivasi membaca siswa tunagrahita ringan. Hasil penelitian ini menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih metode yang cocok bagi siswa tunagrahita ringan dalam kemampuan membaca awalnya.

Hasil penelitian ini dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan pembelajaran, khususnya pembelajaran membaca.

KAJIAN PUSTAKA

  • Kajian Teori Mengenai Membaca Permulaan
  • Kajian Teori Mengenai Tunagrahita Ringan
  • Kajian Teori Mengenai Metode Struktur Analitik Sintetik
  • Hasil Penelitian yang Relevan
  • Kerangka Berpikir
  • Hipotesis Tindakan

Berdasarkan pendapat di atas dijelaskan bahwa anak tunagrahita ringan mempunyai berbagai permasalahan kognitif. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini untuk memulai pembelajaran membaca menggunakan metode SAS bagi siswa tunagrahita ringan diawali dengan bercerita kontekstual. Peneliti berharap penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan.

Metode SAS dapat meningkatkan kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.

METODE PENELITIAN

Waktu Penelitian

Deskripsi Tempat Penelitian

Subjek dan Karakteristiknya

Objek penelitiannya adalah atribut, sifat atau objek penelitian ini adalah kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Skenario Tindakan

Pada setiap akhir siklus atau pada pertemuan ke-3 diberikan tes untuk mengukur kemampuan membaca awal siswa. Pada fase ini peneliti yang juga merupakan guru pendamping khusus berperan sebagai mitra pengajar dan guru kelas sebagai pengamat. Observasi dilakukan pada saat pelaksanaan tindakan dalam upaya mengetahui proses dan hasil pembelajaran membaca awal.

Kegiatan pembelajaran dengan objek yang diamati merupakan peristiwa yang menjadi indikator keberhasilan tindakan menggunakan metode SAS untuk meningkatkan keterampilan membaca awal siswa tunagrahita ringan di kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Data yang akan diamati adalah partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran membaca permulaan dengan metode SAS, serta upaya guru dalam menggunakan dan menggunakan metode SAS dalam pembelajaran membaca permulaan. Instrumen tes kemampuan membaca awal dengan metode SAS diberikan kepada siswa tunagrahita ringan yang mempunyai permasalahan pada kemampuan membaca awal. Grid instrumen tes kemampuan membaca awal bagi siswa tunagrahita ringan adalah sebagai berikut.

Skor (4) = siswa dapat secara mandiri menyebutkan huruf dengan benar Skor (3) = siswa dapat menyebutkan huruf dengan bantuan verbal. Hasil (3) = siswa dapat membaca suku kata pola K-V dengan bantuan verbal Skor (2) = siswa dapat membaca suku kata pola K-V dengan bantuan verbal dan nonverbal. Skor (3) = siswa dapat membaca contoh kata K-V-K-V dengan bantuan verbal Skor (2) = siswa dapat membaca contoh kata K-V-K-V dengan bantuan verbal dan nonverbal.

Observasi pembelajaran awal membaca dengan metode SAS dilakukan oleh guru kelas yang berperan sebagai pengamat. Kelas (1) = siswa mampu melaksanakan kegiatan sesuai lembar observasi dengan bantuan verbal dan nonverbal. Berdasarkan butir-butir di atas, maka penetapan kriteria evaluasi sehubungan dengan observasi partisipasi siswa dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menentukan rentang poin (nilai tertinggi - nilai terendah), 2) Menentukan jumlah kelas dari mata pelajaran tersebut. kategori, 3) Menghitung interval skor sesuai rumus (Setelah Sudjana, 2005: 47). Kisi-kisi instrumen pengamatan kinerja guru pada pembelajaran awal membaca menurut jenjang pembelajaran adalah sebagai berikut.

Kriteria penilaian atau penilaian lembar observasi kinerja guru dalam pembelajaran membaca awal dengan metode SAS bagi siswa tunagrahita ringan adalah sebagai berikut. Berdasarkan poin-poin di atas, maka penetapan kriteria evaluasi sehubungan dengan observasi kinerja guru dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Tes Kemampuan Membaca Permulaan  Variabel  Komponen  Indikator  No
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Tes Kemampuan Membaca Permulaan Variabel Komponen Indikator No

Kriteria Keberhasilan Tindakan

Perhitungan dari survei ini adalah skor tertinggi 24, skor terendah 8, dan jumlah kategori 3, jadi. Indikator keberhasilan proses partisipasi siswa terdiri dari tiga indikator, yaitu indikator kognitif, indikator afektif, dan indikator keterampilan. Indikator kinerja proses kinerja guru berkaitan dengan komponen awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir yang masing-masing mempunyai skor maksimal 3.

Indikator keberhasilan hasil kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan pada kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta adalah sebagai berikut. Berdasarkan indikator-indikator tersebut maka kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan membaca awal melalui metode SAS pada siswa tunagrahita ringan kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta sebelum diberikan tindakan dan setelah diberikan tindakan.

Teknik Analisis Data

Keterampilan Membaca Awal Kelas Khusus Mata Pelajaran Tunanetra Ringan di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta. Hasil tes pratindakan menjadi tolok ukur kemampuan awal subjek belajar membaca dini melalui metode SAS. Hasil penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita ringan melalui metode SAS saja.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa partisipasi siswa pada pembelajaran membaca awal menurut metode SAS mengalami peningkatan. Gambaran partisipasi siswa tunagrahita ringan pada pembelajaran awal membaca dengan metode SAS adalah sebagai berikut. Hasil Kemampuan Membaca Awal Penyandang Disabilitas Intelektual Ringan Kelas Khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Data observasi berupa partisipasi siswa dalam pembelajaran membaca permulaan menurut metode SAS, sedangkan data hasil tes merupakan data hasil setelah dilakukan tindakan siklus I terhadap kemampuan membaca awal siswa tunagrahita. . Guru mempersiapkan alat atau media yang akan digunakannya dalam pembelajaran awal membaca menurut metode SAS. Berikut tabel perbandingan peningkatan skor kinerja guru pada pembelajaran membaca awal dengan metode SAS pada siklus I dan siklus II sebagai berikut.

Berdasarkan hasil tindakan yang dilakukan maka kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan dengan menggunakan metode SAS adalah sebagai berikut. Hasil pasca tindakan siklus II terhadap kemampuan membaca awal siswa tunagrahita menggunakan metode SAS pada mata pelajaran ZF adalah sebagai berikut. Hasil pasca tindakan siklus II terhadap kemampuan membaca awal siswa tunagrahita dengan metode SAS pada mata pelajaran ZF dapat disajikan pada diagram berikut.

Analisis data yang dilakukan berupa hasil tes kemampuan membaca sebelum tindakan dan pasca tindakan.

Tabel 4. Kemampuan Awal Membaca Permulaan Subjek Tunagrahita Ringan   Kelas Khusus di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta
Tabel 4. Kemampuan Awal Membaca Permulaan Subjek Tunagrahita Ringan Kelas Khusus di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta

Pembahasan

Kemampuan membaca awal Subjek ZF meningkat setelah dilakukan tindakan pada Siklus II dibandingkan pada Siklus I. Metode SAS dimulai dengan melengkapi kalimat sederhana, kemudian memecahnya menjadi kata-kata hingga menjadi huruf, dan menyusun kembali huruf-huruf tersebut menjadi suku kata hingga menjadi huruf. jangan menjadi kalimat sederhana yang lengkap. Menurut (Sri Wahyuni, 2010:x) bahwa metode SAS adalah pembelajaran membaca, dimulai dari keseluruhan wacana kemudian berlanjut ke unsur-unsur yang lebih kecil.

Peningkatan kemampuan membaca awal pada siklus I didukung oleh peningkatan partisipasi dan pemahaman subjek selama proses pembelajaran. Peningkatan proses pengajaran juga didukung oleh peningkatan kinerja guru pada awal pembelajaran dengan membaca melalui metode SAS. Dalam penelitian ini guru dan siswa mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan aktif terkait membaca permulaan dengan menggunakan metode SAS.

Metode SAS dimulai dengan membuat kalimat yang benar-benar sederhana, kemudian memecahnya menjadi kata-kata hingga menjadi huruf, kemudian menggabungkan kembali huruf-huruf tersebut menjadi suku kata. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penerapan metode SAS dapat meningkatkan keterampilan membaca awal siswa tunagrahita ringan di kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta. Metode SAS melibatkan proses pengenalan kalimat lengkap dalam bagian-bagian kecil, pembentukan kembali huruf menjadi kalimat lengkap, dan kalimat tersebut didasarkan pada penguasaan bahasa siswa.

Hal ini senada dengan pendapat Sabarti Akharga M.K, dkk, bahwa dasar-dasar metode SAS adalah: 1) pada dasarnya bahasa adalah lisan, bukan tulisan, 2) unsur kebahasaan terkecil yang mempunyai makna adalah kalimat. Berdasarkan hasil pencapaian subjek setelah diberikan 2 siklus tindakan, kemampuan membaca awal dapat ditingkatkan melalui metode SAS pada siswa tunagrahita kelas khusus di SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Temuan Penelitian

Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca awal dengan metode SAS bagi siswa tunagrahita ringan di kelas khusus SDIT LHI Banguntapan Bantul Yogyakarta diawali dengan pemaparan dan pemilihan kartu bergambar, siswa diawali dengan pemajangan dan pemilihan kartu bergambar. diminta menjelaskan gambar tersebut dengan bahasanya sendiri, kemudian guru melakukan proses struktural dengan memberikan lembar kalimat yang sesuai dengan gambar tersebut. Peningkatan data hasil observasi partisipasi siswa pada proses awal pembelajaran membaca dengan metode SAS ditunjukkan dengan adanya peningkatan skor pada tindakan siklus I masing-masing 34, 35 dan 37 dengan kriteria baik, pada tindakan siklus I. siklus II yaitu kriteria sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca awal siswa tunagrahita ringan meningkat dengan penerapan metode SAS.

Berdasarkan temuan penelitian dan kesimpulan, beberapa implikasi yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut: Bagi siswa belajar membaca melalui metode SAS. Bagi guru, pelaksanaan pembelajaran membaca awal melalui metode SAS tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif atau pengetahuan saja, namun juga keterampilan atau kemampuan. Bagi sekolah, agar pembelajaran membaca awal bagi siswa tunagrahita ringan dapat berjalan dengan baik, maka harus didukung dengan sumber belajar dan alat atau media pembelajaran lainnya yang berkaitan dengan aktivitas siswa.

Sekolah diharapkan dapat mendukung pembelajaran dengan metode yang semakin variatif dan kreatif, khususnya metode SAS untuk mengatasi kemampuan membaca siswa tunagrahita ringan. Sebaiknya guru menggunakan metode dan media pembelajaran yang menunjang keaktifan siswa tunagrahita ringan dalam proses pembelajaran membaca, khususnya melalui media seperti kartu kalimat dan kartu kata. Metode SAS perlu lebih dikembangkan dan diperluas untuk mengatasi kesulitan membaca awal pada siswa tunagrahita.

Siswa bersama guru menyusun dan membaca kartu kata sesuai dengan kartu kalimatnya (proses analitis). Bersama guru, siswa menyusun dan membaca kartu suku kata sesuai dengan kartu kata (proses analitis).

SIMPULAN DAN SARAN

Implikasi

Sehingga peneliti dapat lebih mengembangkan metode pembelajaran yang lebih bervariasi sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa.

Saran

Guru memperlihatkan kepada siswa lembaran kalimat yang sesuai dengan kartu bergambar yang dipilih siswa. Siswa bersama guru menyusun dan membaca kartu huruf sesuai dengan kartu suku kata (proses analitis).

Gambar 1. Kegiatan pelaksanaan tindakan pada pembelajaran membaca  permulaan melalui Metode SAS
Gambar 1. Kegiatan pelaksanaan tindakan pada pembelajaran membaca permulaan melalui Metode SAS

Gambar

Gambar 2. Model Penelitian Tindakan Kelas Menurut Kemmis & Mc Taggart  (diadaptasi dari Suharsimi Arikunto, 2010: 17)
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Tes Kemampuan Membaca Permulaan  Variabel  Komponen  Indikator  No
Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Pengamatan Partisipasi Siswa
Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Pengamatan Kinerja Guru dalam Pembelajaran  Membaca Permulaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan Melalui

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan Melalui

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan

Dari hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II, kegiatan pembelajaran sudah dapat berjalan dengan baik, dimana hasil observasi kemampuan membaca permulaan

Saat dilakukan tes uji kemampuan membaca permulaan kepada siswa ada yang tidak mampu dalam membaca kosa kata dan menyebutkan huruf. dan sebagian siswa juga ada yang sudah mampu