JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom
Forecasting Pada Rantai Pasok Pabrik Penggilingan Daging Menggunakan Metode Time Series
Sri Yunita, Nathwa Alifia Mahesti, Ronald Max Brando Sihaloho, Resat Setyadi*
Fakultas Informatika, Program Studi S1 Sistem Informasi, Institut Teknologi Telkom Purwokerto, Banyumas, Indonesia Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]@email.com,
Email Penulis Korespondensi: [email protected] Submitted 22-06-2022; Accepted 30-06-2022; Published 30-06-2022
Abstrak
Daging adalah salah satu hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena kandungan gizinya dan dapat menimbulkan kepuasan atau kenikmatan bagi yang mengkonsumsinya, namun hal ini kurang disukai dalam mengkonsumsi daging adalah sifatnya yang liat, sehingga tidak mudah dikunyah atau ditelan. Maka akan diolah terlebih dahulu sebelum akhirnya dikonsumsi.
Salah satu cara pengolahannya, yaitu dengan penggilingan. Penggilingan daging merupakan salah satu usaha yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha penjual jajanan khususnya olahan daging. Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui aliran rantai pasok pabrik penggilingan daging beserta efisiesnsi pemasaran dan mengetahui metode peramalan terbaik untuk perencanaan penjualan produksi kedepannya. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode peramalan atau forcasting. Pentuan peramalan menggunakan metode time series dan dianalisis tingkat kesalahannya menggunakan MAD, MSE, dan MAPE. Hasil penelitian menunjukkan rantai pasok (aliran produk, aliran produksi, dan aliran informasi) pada pabrik penggilingan daging dan pemasarannya yang efisien dengan nilai sebesar 7,12%. Adapun hasil metode peramalan terbaik, yakni metode least square dengan MAPE terkecil yang bernilai sebesar 3,3 pada konsumen dan pada pengusaha olahan daging giling sebesar 3,44. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan permasalahan yang ada di lapangan dapat diketahui sehingga dapat dirumuskan pula upaya selanjutnya untuk meningkatkan kinerja rantai pasok penggilingan daging.
Kata Kunci: Rantai Pasok; Daging Giling; Peramalan; Tingkat Kesalahan; Efisiensi Pemasaran Abstract
Meat is one of the livestock products that can hardly be separated from human life because of its nutritional content and can lead to satisfaction or enjoyment for those who consume it, but this is less desirable in consuming meat because of its tough nature, so it is not easy to chew or swallow. Then it will be processed first before finally being consumed. One way of processing, namely by grinding.
Meat milling is one of the businesses that aims to meet consumer needs and provide convenience for business actors selling snacks, especially processed meat. The purpose of this study is to determine the supply chain flow of the meat mill and its marketing efficiency and to find out the best forecasting method for planning future production sales. The research method used in this research is the method of forecasting or forecasting. Forecasting is determined using the time series method and the error rate is analyzed using MAD, MSE, and MAPE. The results showed that the supply chain (product flow, flow, and information flow) at the meat mill and its marketing was efficient with a value of 7.12%. As for the results of the best forecasting method, namely least square with the smallest MAPE which is worth 3.3 for consumers and for milled meat processing entrepreneurs of 3.44. With this research, it is hoped that the problems that exist in the field can be identified so that further efforts are made to improve the meat milling supply chain.
Keywords: Supply Chain; Ground Beef; Forecasting; Error Rate; Marketing Efficiency
1. PENDAHULUAN
Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan komoditas ekonomi yang mempunyai nilai sangat strategis. Secara global, rata-rata konsumsi daging per kapita dan jumlah total daging yang dikonsumsi meningkat, didorong oleh pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, dan tradisi sosial budaya yang menjunjung tinggi nilai makan daging[1]. Begitupun dengan Indonesia, konsumsi daging terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang cukup besar dan didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Daging merupakan komoditi yang tidak akan tergantikan bagi sebagian masyarakat. Masyarakat Indonesia memiliki banyak pilihan, seperti daging ayam ras dan lokal, daging kambing/domba, dan juga daging sapi.
Daging adalah salah satu hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena kandungan gizinya dan dapat menimbulkan kepuasan atau kenikmatan bagi yang mengkonsumsinya, namun hal ini kurang disukai dalam mengkonsumsi daging adalah sifatnya yang liat, sehingga tidak mudah dikunyah atau ditelan.
Sehingga biasanya diolah terlebih dahulu sebelum akhirnya dikonsumsi. Daging dapat dimasak, digorang, dipanggang, atau dapat diolah menjadi produk lain yang menarik antara lain petty burber, sosis, nuget, dan bakso[2]. Tujuan dari pengolahan bahan pangan selain untuk meningkatkan nilai tambah, juga dapat memperpanjang masa simpan, meningkatkan penerimaan terhadap produk, dan menganekaragamkan produk olahan pangan.
Daging juga menjadi penarik bagi pertumbuhan industri hulu dan pendorong pertumbuhan industri hilir di dalam salah satu sistem usaha agribisnis. Besarnya konsumsi daging yang semakin tahun terus meningkat, sehingga bermunculan usaha-usaha yang berkepentingan dengan pengolahan daging, salah satunya adalah usaha penggilingan daging. Penggilingan daging adalah usaha yang menggunakan alat atau mesin yang digunakan untuk menggiling daging dengan cara menghancurkan daging menjadi bentuk lebih halus sehingga dapat dibuat makanan lain seperti bakso, sosis,
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom dan lain-lain. Oleh karena itu mesin penggilingan daging banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang berkepentingan dengan daging yang halus atau daging yang telah dihaluskan[3].
Penggilingan daging merupakan salah satu usaha yang bergerak dibidang industri jasa penggilingan daging atau pengolahan daging[4]. Seiring berkembangnya peluang usaha tersebut, Pabrik Penggilingan Daging bertujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha penjual jajanan khususnya olahan daging, seperti bakso dan pentol.
Permintaan akan produksi bakso dan permintaan daging giling semakin meningkat, membuat para pelaku usaha harus mampu membaca peluang yang sedang berkembang dan memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik mungkin[4]. Maka, proses untuk meningkatkan volume penjualan, salah satu strateginya dengan cara menerapkan rantai pasok (Supply Chain) dengan baik oleh perusahaan, agar perusahaan dapat mengetahui dan memantau kinerja rantai pasok perusahaan dari proses hulu hingga proses hilir perusahaan[5]. Perusahaan juga perlu menyusun strategi perencanaan produksi untuk menjamin kapasitas produksi dapat memenuhi permintaan konsumen dana menetapkan rencana terbaik untuk memenuhi permintaan tersebut. Peramalan (Forecasting) adalah suatu usaha memperkirakan keadaan dimasa yang akan datang melalui pengujian keadaan dimasa lalu dengan menggunakan metode ilmiah yang bersifat kuantitatif dilakukan secara sistematis dengan tetap mempertimbangkan hal-hal yang bersifat kualitatif[6]. Dalam manajemen rantai pasok (Supply Chain Management) kegiatan peramalan memiliki peranan yang sangat penting karena keputusan tentang analisis peramalan harus dapat digunakan oleh seluruh pihak yang terlibat dalam jaringan rantai pasokan[7].
Ramalan yang tidak tepat terhadap rencana penjualan produk kepada konsumen akan berpengaruh pada kesalahan perhitungan jumlah produksi dan akan berdampak pada kesalahan perhitungan kebutuhan bahan baku sehingga keterlambatan supply akan berdampak pada penundaan produksi, pengiriman barang kepada konsumen bahkan claim dari konsumen berupa nominal kerugian yang dialami oleh konsumen, sedangkan pada stok bahan baku yang berlebihan menyebabkan inventory cost yang tinggi[8].
Keunggulan kompetitif dapat dicapai apabila rantai kegiatan mulai dari penyediaan bahan baku, hingga produk akhir ke tangan konsumen terkelola dengan baik[9]. Secara tradisional, fokus Manajemen Rantai Pasokan terletak pada aliran bahan berwujud dari pemasok ke produsen, dan secara bertahap melalui distributor ke pengguna akhir[10]. Rantai pasokan di seluruh dunia bergantung pada permintaan dan pasokan barang dan jasa yang stabil dan masuk akal yang dapat diperkirakan untuk melakukan apa yang mereka lakukan dengan baik, seperti mengurangi inventaris, mengirimkan tepat waktu, menambah nilai produk dan layanan, dan mengurangi biaya[11].
SCM (Supply Chain Management) adalah sebuah ide, yang tujuan utamanya adalah untuk mengintegrasikan dan mengelola sumber, aliran, dan kontrol bahan menggunakan perspektif sistem total di berbagai fungsi dan beberapa tingkatan pemasok. Tanpa aliran informasi yang efektif, tujuan rantai pasok tidak dapat dicapai. Selain itu, keberhasilan penerapan SCM yang efektif dan sistem antar organisasi yang efektif memerlukan kerjasama dari sejumlah besar mitra eksternal[12]. Manajemen rantai pasokan mencakup perencanaan dan pengelolaan semua aktivitas yang terlibat dalam sumber dan pengadaan, konversi, dan semua aktivitas manajemen logistik. Yang tidak kalah pentingnya, ini juga mencakup koordinasi dan kolaborasi dengan mitra saluran, yang dapat berupa pemasok, perantara, penyedia layanan pihak ketiga, dan pelanggan. Intinya, manajemen rantai pasokan mengintegrasikan manajemen pasokan dan permintaan di dalam dan di seluruh perusahaan[13]. Setiap pihak yang terlibat dalam supply chain bisa memiliki metode peramalan dengan hasil perhitungan yang berbeda-beda, namun hal ini dapat menimbulkan permasalahan bagi kinerja jaringan rantai pasokan secara keseluruhan yang dapat mengacaukan proses bisnis secara keseluruhan sehingga terjadi pemborosan dan kerugian[7].
Penerapan inisiatif manajemen rantai pasok (Suplly Chain Management) oleh bisnis telah menjadi salah satu strategi bisnis, yang mengakibatkan bisnis untuk mengikuti pendekatan Customer-Centric dalam operasi mereka untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan menggunakan pendekatan SCM ini memberikan keunggulan kompetititf tambahan atas pesaing bisnis lainnya[14]. Keunggulan kompetitif merupakan kemampuan perusahaan untuk memciptakan posisi yang unggul dibandingkan pesaingnya dan sangat tergantung pada kesesuaian antara kapabilitas internal organisasi dan perubahan kondisi eksternal organisasi. Perusahaan menghasilkan kinerja yang lebih baik dari pesaing karena manajemen rantai pasok mampu meminimalisir keseluruhan biaya untuk memenuhi dan melayani kebutuhan konsumen. Perusahaan yang mampu menawarkan barang dengan harga lebih rendah dan kualitas lebih tinggi akan mampu meningkatkan penjualan, sehingga profit margin dan return on investment dapat ditingkatkan pula[15].
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitian tentang Analisis Rantai Pasok Penggilingan daging dengan menghitung Efisiensi Pemasaran dan mencari metode peramalan terbaik untuk perencanaan penjualan produksi.
Penelitian ini merupakan evaluasi rantai pasok penggilingan daging di Pabrik dengan tujuan : (1) Menganalisis rantai pasok (aliran produk, aliran keuangan, dan aliran informasi) penggilingan daging (2) Mencari metode peramalan (forecasting) terbaik dengan menggunakan metode time series, serta melakukan validasi menggunakan MAD, MAPE, dan MSE sebagai alat untuk menghitung akurasi dari peramalan tersebut. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan permasalahan yang ada di lapangan dapat diketahui sehingga dapat dirumuskan pula upaya selanjutnya untuk meningkatkan kinerja rantai pasok penggilingan daging, dan (3) Menganalisis margin pemasaran dan efisiensi pemasaran pada rantai pasok penggilingan daging.
2. METODOLOGI PENELITIAN
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom 2.1 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2022 di Pabrik Penggilingan Daging Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.
Lokasi penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan, Pabrik Penggilingan Daging ini merupakan salah satu pabrik dengan pelanggan terbanyak di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei. Metode survei merupakan metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk mendapatkan data yang terjadi pada masa lampau atau saat ini. Metode ini menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian. Kuisioner merupakan lembaran yang berisi beberapa pertanyaan dengan struktur yang baku[16].
2.2 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan sumber data yang didapatkan secara langsung pada objek yang diteliti atau pihak pertama yang dikumpulkan secara khusus oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan dari penelitian[17]. Data primer diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya kepada para pelaku dalam rantai pasok ini, seperti peternak, pedagang hewan ternak hidup, pedagang daging, pemilik usaha olahan daging, dan konsumen. Data sekunder merupakan sumber data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui perantara, dimana data yang diperoleh telah tersedia dan siap diolah[17].
Responden pedagang daging pada penelitian ini ditentukan menggunakan metode purposive sampling. Dan untuk penentuan responden pemilik usaha olahan daging dan konsumen menggunakan metode accidental sampling, yaitu memilih atau menentukan anggota sampel dari populasi berdasarkan kejadian tertentu tak terduga/sesaat[18].
2.3 Analisis Data
Rantai pasok pabrik penggilingan daging diidentifikasi menggunakan metode deskriptif dan perhitungan efisiensi pemasaran, serta metode peramalan menggunakan metode time series yang meliputi Metode Moving Average dan Metode Least Square. Pengolahan dan analisis data mengenai rantai pasok (aliran produk, aliran informasi, dan aliran keuangan) penggilingan daging menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif merupakan metode yang dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dan mendetail mengenai hal yang diteliti[16]. Analisis deskriptif mengubah kumpulan data mentah menjadi bentuk yang mudah dipahami dan dalam bentuk informasi yang lebih ringkas[19].
Setelah mendapatkan pola dari data, dilakukan analisis metode peramalan menggunakan metode time series (Moving Average dan Least Square). Metode time series atau deret waktu merupakan metode peramalan yang menghubungkan keterkaitan antara variabel dependen (variabel yang dicari) dengan variabel independen atau variabel yang mempengaruhinya kemudian dihubungkan dengan waktu, mingguan, bulan atau tahun[20].
2.3.1 Metode Rata – Rata Bergerak (Moving Average)
Metode rata – rata bergerak merupakan metode yang dilakukan dengan mengambil sekelompok nilai pengamatan, mencari rata-rata yang kemudian nilai rata-rata tersebut digunakan sebagai ramalan untuk periode berikutnya[6]. Secara sistematik berikut persamaan yang digunakan[7] :
𝑀𝐴𝑛= ∑𝑛𝑖=1𝐴𝑡−𝑖
𝑛 (1)
Keterangan :
𝑀𝐴𝑛= Rata – rata bergerak periode n 𝐴𝑡−1= Nilai aktual pada periode t – 1
n = Jumlah periode dalam rata – rata bergerak 2.3.2 Metode Kuadrat Terkecil (Least Square)
Metode proyeksi kecenderungan menggunakan analisis regresi linier dengan cara mencocokkan garis tren ke rangkaian titik data historis dan kemudian memproyeksikan garis itu ke dalam ramalan. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut[7] :
𝑌𝑜= 𝑎 + 𝑏𝑥 (2)
Keterangan :
Yo = Prediksi variabel (terikat) x = Prediksi variabel (bebas) α = Kemiringan garis b = Nilai Yo ketika x = 0
Koefisien a dan b dari garis tersebut didasarkan pada dua persamaan, yaitu : 𝑏 = 𝑛(∑ 𝑥𝑦)−(∑ 𝑦)
𝑛 (∑ 𝑥2)−(∑𝑥)2 (3)
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom 𝑎 = ∑ 𝑥−𝑏 ∑ 𝑥
𝑛 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑦̅ − 𝑏𝑥̅ (4)
Keterangan :
n = Jumlah observasi
Dan mengukur akurasi peramalan dengan membandingkan tingkat kesalahan dari masing – masing metode menggunakan Mean Absolute Deviation (MAD), Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolute Percent Error (MAPE).
Penentuan metode peramalan yang tepat dengan memilih tingkat kesalahan yang paling kecil, rumus yang digunakan sebagai berikut[7] :
𝑀𝐴𝐷 = ∑ |𝐴𝑡− 𝐹𝑡
𝑛 | (5)
𝑀𝑆𝐸 = ∑ |𝐴𝑡− 𝐹𝑡
𝑛 |2 (6)
𝑀𝐴𝑃𝐸 = ∑ |
𝐴𝑡− 𝐹𝑡 𝐴𝑡
𝑛 | × 100 (7)
Keterangan :
𝐴𝑡= Nilai aktual pada periode t 𝐹𝑡= Nilai ramalan pada periode t n = Jumlah periode peramalan
Selanjutnya, menghitung efisiensi pemasaran pada rantai pasok penggilingan daging. Dapat diketahui dengan menghitung margin pemasaran, share pemasaran, dan efisiensi pemasaran. Margin pemasaran, share pemasaran, dan efisiensi pemasaran dapat dihitung menggunakan rumus berikut[5] :
2.3.3 Margin Pemasaran
Untuk mengetahui efisiensi pemasaran dapat dilihat dari nilai distribusi margin pemasaran pada rantai pasok penggilingan daging. Rumus margin pemasaran :
MP = Pr – Pf (8)
Keterangan :
MP = Margin Pemasaran Pr = Harga di tingkat konsumen Pf = Harga di tingkat produsen
Nilai dari margin pemasaran digunakan untuk mengetahui nilai share biaya dan share keuntungan setiap mata rantai.
2.3.4 Share Pemasaran Rumus share pemasaran :
𝑆𝑓 = 𝑃𝑓
𝑃𝑟 × 100% (9)
Keterangan :
Sf = Share pemasaran (bagian yang diterima pedagang daging (%)) Pr = Harga di tingkat konsumen
Pf = Harga di tingkat produsen Kaidan keputusan :
Nilai share pemasaran > 40% = efisien Nilai share pemasaran < 40% = tidak efisien 2.3.5 Efisiensi Pemasaran
Efisiensi pemasaran merupakan perbandingan antara total biaya dengan dengan total nilai produk yang dipasarkan, berikut rumus menghitung efisiensi pemasaran :
𝐸𝑃 = 𝑇𝐵
𝑇𝑁𝑃 × 100% (8)
Keterangan :
EP = Efisiensi Pemasaran TB = Total Biaya
TNP = Total Nilai Produk
Kaidah keputusan dapat dilihat berdasarkan perbandingan nilai efisiensi pemasaran(%) : 0 – 33% = Efisien
34 – 67% = Kurang Efisien
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom 68 – 100% = Tidak Efisien
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Struktur Rantai Pasok Penggilingan Daging
Aliran rantai pasok pada penggillingan daging ini memiliki aliran produk, aliran kekungan, dan aliran informasi. Struktur rantai pasok menjelaskan tentang pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasokan penggilingan daging. Pihak yang terlibat dalam rantai pasok tersebut, yaitu peternak, pedagang ternak hidup, pedagang daging, pabrik penggilingan daging, pemilik usaha olahan daging (bakso dan olahan fresh food berbahan daging) dan konsumen. Struktur rantai pasok penggilingan daging yang terjadi dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1. Struktur Rantai Pasok Penggilingan Daging 3.1.1 Aliran Produk
Aliran produk merupakan aliran barang dari hulu (upstream) ke hilir (downstream)[21]. Secara keseluruhan aliran produk pada rantai pasok ini mengalir dari peternak, pedagang ternak hidup, pedagang daging, pabrik penggilingan daging, pengusaha olahan daging, hingga ke konsumen. Berdasarkan Gambar 1, tentang struktur rantai pasok penggilingan daging terdapat 2 jaringan saluran, yaitu (1) peternak – pedagang ternak hidup – pedagang daging – pabrik penggilingan daging – konsumen dan (2) peternak – pedagang ternak hidup – pedagang daging – pabrik penggilingan daging – pengusaha olahan daging – konsumen.
Produk dalam rantai pasok ini berupa daging yang telah digiling sebagai produk utama dan hasil olahan daging giling sebagai output lain (side product) yang siap untuk dijual kepada konsumen. Dalam proses produksi dan distribusinya produk mengalami perubahan bentuk, milik, lokasi, dan waktu. Pada jaringan saluran 1, pabrik penggilingan daging menjualkan jasa penggilingannya secara langsung kepada konsumen, dimana konsumen yang akan mengolah sendiri hasil gilingan daging tersebut. Dan pada jaringan saluran 2, konsumen mendapatkan olahan daging yang telah melalui proses tersendiri hingga menjadi produk jadi siap dikonsumsi.
3.1.2 Aliran Keuangan
Aliran keuangan merupakan perpindahan uang yang mengalir dari hilir ke hulu[21]. Aliran keuangan mengalir dari konsumen hingga ke peternak. Berdasarkan Gambar 1, tentang struktur rantai pasok penggilingan daging menunjukkan bahwa keungan mengalir dari pedagang ternak hidup kepada peternak dan pedangan daging kepada pedagang ternak hidup.
Dengan sistem pembayaran yang dilakukan secara tunai maupun kredit tergantung dengan kesepakatan yang telah dilakukan antara masing – masing kedua pihak.
Aliran keuangan juga mengalir dari pabrik penggilingan daging ke pedagang daging. Pembayaran terhadap pembelian daging dilakukan secara tunai sesuai dengan kuantitas yang dibeli. Keuntungan bagi pabrik penggilingan daging yang membeli langsung daging dari pedagang daging yakni pabrik bisa memperoleh harga yang lebih murah dengan kesepakatan kerjasama diantara kedua pihak.
Aliran keuangan yang berasal dari konsumen ke pabrik penggilingan daging mengalir secara langsung tanpa perantara. Aliran keuangan dari konsumen kepada pabrik dilakukan secara langsung karena pabrik penggilingan daging sendiri yang melakukan penjualan atas hasil daging yang telah digiling. Keuntungan konsumen yang membeli langsung dari pabrik penggilingan daging, yaitu dapat membuat olahan daging giling sendiri sesuai keinginan dan dalam jumlah yang lebih banyak serta lebih memuaskan diri konsumen. Dan aliran keuangan juga berlangsung dari konsumen kepada usaha olahan daging giling. Pembayaran dari konsumen ke pengusaha olahan daging giling dilakukan secara langsung dan tidak langsung ataupun secara tunai dan non tunai menyesuaikan dengan layanan yang diberikan pihak pengusaha olahan daging giling.
3.1.3 Aliran Informasi
Aliran informasi merupakan aliran yang terjadi secara timbal balik, baik dari hulu ke hilir maupun sebaliknya dari hilir ke hulu[21]. Aliran informasi yang mengalir dari rantai pasok ini meliputi informasi stok jumlah ternak yang tersedia, harga daging sapi, jumlah permintaan, harga ternak hidup, harga jasa pabrik giling daging maupun harga produk olahan daging giling, hingga status pengiriman dan pengambilan.
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Aliran informasi mengalir secara vertikal dan horizontal. Aliran yang mengalir secara vertikal berarti memiliki koordinasi pada mata rantai yang berbeda, yaitu antara peternak, pedagang ternak hidup, pedagang daging, pabrik penggilingan daging, pengusaha olahan daging giling, dan konsumen. Sedangkan aliran informasi yang mengalir secara horinzontal memiliki arti terdapat koordinasi pada sesama anggota mata rantai. Contohnya, adanya koordinasi antara pedagang ternak hidup terkait stok ternak yang ada di tingkat peternakan. Contoh lainnya seperti, adanya koordinasi konsumen terkait jumlah permintaan daging giling yang diinginkan.
3.2 Metode Peramalan
Peramalan dengan kuantitatif metode Time Series merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis serangkaian data yang merupakan fungsi dari waktu, dengan tujuan dilakukan peramalan permintaan sebagai dasar dalam perencanaan bisnis yang di dalamnya yaitu untuk merencanakan dan meramalkan kegiatan produksi, pengendalian bahan baku, dan permintaan terhadap penjualan[22]. Permintaan produksi daging giling dipengaruhi oleh kondisi musim dan perayaan hari – hari besar (special event). Jenis permintaan pada pabrik penggilingan daging ini terdiri dari permintaan atas dasar pesanan langsung yang ditujukan kepada konsumen dan permintaan dari para pengusaha olahan daging giling yang kemudian memasarkannya kembali kepada konsumen dalam bentuk siap saji.
Data permintaan daging giling pada pabrik ini diagregasikan pertahun mulai tahun 2016 hingga tahun 2021 untuk menentukan peramalan penjualan produksi daging giling pada tahun 2022. Berikut data permintaan produksi daging giling yang bersumber dari analisis data primer 2022 :
Tabel 1. Data Permintaan Daging Giling Tahun 2016 – 2021
NO Tahun Permintaan Konsumen (Kg) Permintaan Usaha Daging Giling (Kg)
1 2016 8.000 35.000
2 2017 8.450 38.760
3 2018 7.780 43.000
4 2019 9.050 46.580
5 2020 9.120 47.900
6 2021 8.820 46.750
Berdasarkan pada data di Tabel 1. maka dilakukan analisis perbandingan hasil peramalan menggunakan metode peramalan moving average dan least square, sebagai berikut yang bersumber dari analisis data primer 2022 :
Tabel 2. Perbandingan Peramalan Menggunakan Metode Moving Average
Mitra Peramalan MDA MSE MAPE
Konsumen 8.997 391,75 182141,8 4,47
Pengusaha Olahan Daging Giling 47.077 2570,08 8873010,03 5,67 Tabel 3. Perbandingan Peramalan Menggunakan Metode Least Square
Mitra Peramalan MDA MSE MAPE
Konsumen 9.261 278,49 105684,47 3,3
Pengusaha Olahan Daging Giling 51.157 1468,57 2730407,04 3,44
Setelah dilakukan analisis menggunakan metode moving average dan metode least square, dapat diketahui bahwa metode least square menunjukkan tingkat kesalahan peramalan paling kecil jika dibandingkan dengan metode moving average. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3. nilai tingkat kesalahan MAPE konsumen sebesar 3,3 dan pada pengusaha olahan daging giling sebesar 3,44.
Maka berdasarkan hasil dari perhitungan penelitian ini metode least square dapat digunakan untuk memprediksi perencanaan peramalan produksi daging giling kedepannya. Diharapkan dengan menggunakan peramalan ini pabrik penggilingan daging dapat menghasilkan produksi yang lebih efisien dan efektif dari segi pengadaan bahan baku dan manajemen produksinya karena dapat diketahui perkiraan hasil permintaan daging giling pada masa mendatang.
Peramalan yang dibuat selalu diupayakan agar dapat meminimumkan pengaruh ketikpastian terhadap suatu perusahaan dan peramalan merupakan alat bantu yang sangat penting dalam perusahaan yang efektif dan efisien[8].
3.3 Analisis Efisiensi Pemasaran Penggilingan Daging
Secara umum efisiensi pemasaran adalah nisbih antara biaya pemasaran dengan nilai produk yang dinyatakan dengan persen[23]. Semakin kecil nilai efisiensi yang didapatkan maka semakin efisiensi saluran pemasaran tersebut.
3.3.1 Margin Pemasaran
Margin merupakan perbedaan harga atau selisi harga yang dibayar konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh peternak[23]. Data di bawah ini bersumber dari analisis data primer 2022.
Tabel 4. Margin Pemasaran Penggilingan Daging
Lembaga Pemasaran Harga (Rp/Kg)
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Peternak
Biaya - biaya
Harga beli anakan 82.000
a. Biaya pakan 3.200
b. Biaya tenaga kerja 1.500
c. Biaya peralatan 2.200
d. Biaya transportasi 600
Harga Jual 107.000
Pedagang Ternak Hidup
Harga beli 107.000
Biaya - biaya
a. Biaya pakan 1.200
b. Biaya tenaga kerja 1.750
c. Biaya peralatan 750
d. Biaya transportasi 1.100
Harga Jual 120.000
Pedagang Daging
Harga beli 120.000
Biaya - biaya
a. Biaya tenaga kerja 2.500
b. Biaya peralatan 1.700
c. Biaya transportasi 1.000
d. Biaya retribusi pasar 350
Harga Jual 137.000
Pabrik Penggilingan Daging
Harga Beli 137.000
Biaya - biaya
a. Biaya tenaga kerja 700
b. Biaya peralatan 1.700
c. Biaya perlengkapan 640
d. Biaya bahan baku 8.000
e. Biaya transportasi 500
Harga Jual 162.000
Pengusaha Olahan Daging Giling
Harga beli 162.000
Biaya - biaya
a. Biaya tenaga kerja 500
b. Biaya peralatan 700
c. Biaya transportasi 450
d. Biaya retribusi 350
e. Biaya bahan baku 15.000
Harga Jual 192.000
Konsumen
Harga beli di Pabrik 162.000
Harga beli Produk jadi 192.000
Rata - Rata Harga Beli Konsumen 177.000
Margin Pemasaran (MP) 70.000
Berdasarkan Tabel 1. Dapat dilihat bahwa saluran pemasaran penggilingan memiliki margin pemasaran sebesar Rp.
70.000 dimana nilai ini merupakan selisih harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima oleh peternak.
Dengan total biaya pemasaran dari setiap lembaga pemasaran, yaitu peternak Rp. 7.500/kg, pedagang ternak hidup Rp.
4.800/kg, pedagang daging Rp. 5.550/kg, pabrik penggilingan daging Rp. 11.540, dan pengusaha olahan daging giling Rp.
17.000/kg.
Pabrik penggilingan daging melakukan perubahan bentuk produk dari bentuk daging sapi menjadi daging giling yang lebih halus dan mudah diolah untuk dikonsumsi, seperti bakso, siomay, sosis, dan jenis olahan frozen food lainnya.
Daging yang telah digiling berubah bentuk menjadi produk olahan makanan siap saji seperti bakso dan siomay pada pihak pengusaha olahan makanan.
Berdasarkan margin pemasaran terdapat perbedaan harga pemasaran atau penjualan pada konsumen yang dipengaruhi oleh lembaga pemasaran yang terlibat dan besarnya biaya yang dikeluarkan setiap tingkat pemasaran.
Konsumen dapat memilih proses pembelian yang diinginkan baik membeli langsung di pabrik penggilingan daging untuk diolah sendiri ataupun membeli dipihak pengusaha olahan daging giling. Makin panjang kegiata pemasaran dan semakin
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran, maka akan semakin besar total margin dan keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku pemasaran, dan begitupun sebaliknya.
3.3.2 Share Pemasaran
Share pemasaran merupakan bagian harga atau nilai yang diterima oleh pihak peternak atau yang dibayarkan oleh mata rantai. Data di bawah ini bersumber dari analisis data primer 2022.
Tabel 2. Nilai Share Pemasaran Rantai Pasok Penggilingan Daging
Lembaga Pemasaran Harga (Rp/Kg)
Peternak Biaya - biaya
Harga beli anakan 82.000
a. Biaya pakan 3.200
b. Biaya tenaga kerja 1.500
c. Biaya peralatan 2.200
d. Biaya transportasi 600
Harga Jual 107.000
Konsumen
Harga beli di Pabrik 162.000
Harga beli Produk jadi 192.000
Rata - Rata Harga Beli Konsumen 177.000
Share Pemasaran (%) 60,45
Berdasarkan pada Tabel 2. Diketahui nilai share pemasaran pada rantai pasok penggilingan daging sebesar 60,45%
artinya pemasaran dikatakan efisien karena nilai share pemasaran yang diperoleh lebih dari 40%. Hal ini sesuai dengan pernyataan Putri et al., (2014) bahwa pemasaran dikatakan efisien dilihat dari bagian yang diterima pada petani produsen dibandingkan dengan harga ditingkat konsumen atau nilai farmer’s share (Fs) lebih dari 40%[5].
Nilai perhitungan share pemasaran 60,45%, menunjukkan bahwa bagian harga yang diterima peternak cukup besar sehingga peternak tidak dirugikan dari distribusi kegiatan rantai pasok ini. Hal ini akan mendorong peternak untuk meningkatkan budidaya hewan ternak agar mendorong pelaku rantai pasok lainnya untuk tetap melakkukan fungsinya masing – masing karena keuntungan yang diterima.
3.3.3 Analisis Efisiensi Pemasaran pada Pihak Pabrik Penggilingan Daging
Setiap pelaku kegiatan usaha pemasaran mengharapkan keberlangsungan pemasaran yang efisien agar memperoleh keuntungan sebesar – besarnya dan adanya penambahan nilai modal yang bisa diinvestasikan. Efisiensi pemasaran dipengaruhi oleh margin pemasaran, share pemasaran, biaya pemasaran, dan lembaga pemasaran yang terlibat dalam rantai pasok[23]. Data di bawah ini bersumber dari analisis data primer 2022.
Tabel 3. Nilai Efisiensi Pemasaran Pabrik Penggilingan Daging
Lembaga Pemasaran Harga (Rp/Kg)
Pabrik Penggilingan Daging
Harga Beli 137.000
Biaya - biaya
a. Biaya tenaga kerja 700
b. Biaya peralatan 1.700
c. Biaya perlengkapan 640
d. Biaya bahan baku 8.000
e. Biaya transportasi 500
Total Biaya Pemasaran 11.540
Harga Jual 162.000
Efisiensi Pemasaran (EP%) 7,12%
Efisiensi pemasaran pada pabrik penggilingan daging dapat dilihat pada Tabel 3. yaitu 7,12%. Dimana harga jual daging giling kepada konsumen ataupun pengusaha olahan daging giling sebesar Rp. 162.000/kg dan total biaya pemasaran yang dikeluarkan sebesar Rp. 11.540/kg. Nilai tersebut efisien sesuai dengan kaidah keputusan nilai efisiensi pemasaran, yaitu 0 – 33% = Efisien, 34 – 67% = Kurang Efisien dan 68 – 100% = Tidak Efisien[5]. Semakin kecil nilai efisiensi pemasaran yang diperoleh maka akan semakin efisien saluran pemasarannya. Adanya pembagian nilai yang adil sesuai kontribusi dan pemasaran yang efisien akan mendukung kinerja (performance) para pelaku dalam rantai pasok.
4. KESIMPULAN
JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), Vol. 9 No. 3, Juni 2022 e-ISSN 2715-7393 (Media Online), p-ISSN 2407-389X (Media Cetak) DOI 10.30865/jurikom.v9i3.4221
Hal 761−769 http://ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/jurikom Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada penggilingan daging dapat disimpulkan bahwa penggilingan daging memiliki 3 aliran, yaitu aliran produk, keuangan, dan informasi. Metode peramalan terbaik diraih oleh metode least square dengan nilai hasil perhitungan kesalahan terendah menggunakan MAPE sebesar 3,3 untuk konsumen dan 3,44 pada pengusaha olahan daging giling. Diketahui bahwa saluran penggilingan memiliki margin pemasaran sebesar Rp.
70.000. Dengan total biaya pemasaran dari setiap lembaga pemasaran, yaitu peternak Rp. 7.500/kg, pedagang ternak hidup Rp. 4.800/kg, pedagang daging Rp. 5.550/kg, pabrik penggilingan daging Rp. 11.540, dan pengusaha olahan daging giling Rp. 17.000/kg. Pada margin pemasaran terdapat perbedaan harga pemasaran atau penjualan pada konsumen yang dipengaruhi oleh lembaga pemasaran yang terlibat dan besarya biaya yang dikeluarkan setiap tingkat pemasaran. Nilai share pemasaran pada rantai pasok penggilingan daging dikatakan efisien dengan nilai sebesar 60,45%, yang menunjukkan bahwa bagian harga yang diterima peternak cukup besar sehingga peternak tidak dirugikan dari distribusi kegiatan rantai pasok ini. Efisiensi pemasaran pada pabrik penggilingan daging dikatakan efisien karena mempunyai nilai sebesar 7,12%. Dengan adanya pembagian nilai yang adil sesuai kontribusi dan pemasaran yang efisien akan mendukung kinerja (performance) para pelaku dalam rantai pasok.
REFERENCES
[1] C. Stewart, C. Piernas, B. Cook, and S. A. Jebb, “Trends in UK meat consumption: analysis of data from years 1–11 (2008–09 to 2018–19) of the National Diet and Nutrition Survey rolling programme,” Lancet Planet. Heal., vol. 5, no. 10, pp. e699–e708, 2021, doi: 10.1016/S2542-5196(21)00228-X.
[2] J. Gumilar et al., “Pengembangan Wirausaha Makanan Sehat di Masa Pandemi Covid 19 Melalui Produk Olahan Daging,”
Farmers J. Community Serv., vol. 2, no. 2, pp. 11–15, 2021, [Online]. Available:
http://journal.unpad.ac.id/fjcs/article/view/32541
[3] E. Saputra, “Analisis Pendapatan Usaha Penggilingan Daging Di Kecamatan Seruyan Hilir , Kabupaten Seruyan Income Analysis Of Meat Milling Trade Inseruyan Hilir District , Seruyan Regency,” J. Galung Trop., vol. 7, no. 2, pp. 151–161, 2018.
[4] S. Oetama, M. M. Saefudin, N. Prastiwi, and R. Maulida, “Strategi Pemasaran Dalam Meningkatkan Usaha Jasa Pada Penggilingan Daging ‘ Pentol ’ Mas Dul Di Sampit,” vol. 1, no. 1, pp. 24–28, 2021.
[5] D. F. Ahmad and T. Ekowati, “Analisis Rantai Pasok (Supply Chain) Kedelai di UD Adem Ayem Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan,” J. Pendidik. Bisnis dan Ekon., vol. 4, no. 2, pp. 1–10, 2018.
[6] F. A. Reicita, “Analisis Perencanaan Produksi Pada Pt. Armstrong Industri Indonesia Dengan Metode Forecasting Dan Agregat Planning,” J. Ilm. Tek. Ind., vol. 7, no. 3, pp. 160–168, 2020, doi: 10.24912/jitiuntar.v7i3.6340.
[7] S. Rino and S. Bambang Agus, “JURNAL NUSANTARA APLIKASI MANAJEMEN BISNIS Vol. 2. No. 2. Oktober 2017,”
Pembelajaran Kewirausahaan Berbas. Pengalaman Pada Progr. Stud. Manaj. Univ. Nusant. Pgri Kediri, vol. 2, no. 2, pp. 130–
141, 2017, [Online]. Available: Saptaria, L. N. (2017). JURNAL NUSANTARA APLIKASI MANAJEMEN BISNIS Vol. 2.
No. 2. Oktober 2017. ANALISIS PERAMALAN PERMINTAAN PRODUK NATA DE COCO UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM SUPPLY CHAIN DENGAN MODEL CPFR (COLLABORATIVE PLA
[8] H. Prabowo, T. Sriwidadi, and R. Bramulya, “Penerapan Forecasting pada Kebutuhan Bahan Baku ‘Solven S 602,’” J. Manaj.
Transp. Logistik, vol. 06, no. 01, pp. 93–103, 2019.
[9] L. Piksi Mayasari and M. Alhajj Dzulfikri, “ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOK PEMASOK LOKAL DI PT.
PRASMANINDO BOGA UTAMA SITE BATU HIJAU, PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA, SUMBAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT,” vol. 1, no. 1, 2020.
[10] Q. Li and A. Liu, “Big data driven supply chain management,” Procedia CIRP, vol. 81, pp. 1089–1094, 2019, doi:
10.1016/j.procir.2019.03.258.
[11] J. Walters, “A renewed focus on supply chain risk management,” J. Transp. Supply Chain Manag., vol. 15, pp. 1–2, 2021, doi:
10.4102/jtscm.v15i0.678.
[12] O. Sinaga, Wahdiaman, F. Rumaisa, and Z. Zainudin, “Financial risks in supply chain management: Causes and consequences,”
Int. J. Supply Chain Manag., vol. 8, no. 2, pp. 32–40, 2019.
[13] L. M. Ellram and M. L. Ueltschy Murfield, “Supply chain management in industrial marketing–Relationships matter,” Ind. Mark.
Manag., vol. 79, no. xxxx, pp. 36–45, 2019, doi: 10.1016/j.indmarman.2019.03.007.
[14] K. F. Monnagaaratwe and K. W. Motatsa, “Enhancing business competitiveness of medium-sized food produce retailers through supply chain management,” J. Transp. Supply Chain Manag., vol. 15, pp. 1–10, 2021, doi: 10.4102/jtscm.v15i0.639.
[15] L. Anatan, “Pengaruh Implementasi Praktik-Praktik Manajemen Rantai Pasokan terhadap Kinerja Rantai Pasok dan Keunggulan Kompetitif,” 106 Karisma, vol. 4, no. 2, pp. 106–117, 2010.
[16] T. A. Kusumastuti, Adhi; Khoiron, Ahmad Mustamil; Achmadi, Metode Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2020.
[17] P. D. Saragih, Megasari Gusandra; Saragih, Liharman; Purba, Johanes Wilfrid Pangihutan; Panjaitan, Metode Penelitian Kuantitatif : Dasar - Dasar Memulai Penelitian. Medan: Yayasan Kita Menulis, 2021.
[18] B. Sumargo, Teknik Sampling. Jakarta Timur: UNJ Press, 2020.
[19] M. D. Pangestuti, M. Mukson, and A. Setiadi, “Analisis Rantai Pasok Pemasaran dan Nilai Tambah Gabah di Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus,” J. Ekon. Pertan. dan Agribisnis, vol. 3, no. 4, pp. 671–680, 2019, doi: 10.21776/ub.jepa.2019.003.04.2.
[20] “Mengenal Metode Forecasting Untuk Kepentingan Bisnis Anda,” Jurnal Entrepreneur, 2022.
https://www.jurnal.id/id/blog/mengenal-metode-forecasting-untuk-kepentingan-bisnis-anda/ (accessed Jun. 05, 2022).
[21] A. K. Ismareni; Muani, “KAJIAN RANTAI PASOK DAN PEMASARAN DAGING SAPI DI KABUPATEN MEMPAWAH,”
vol. 7, no. April, pp. 100–110, 2018.
[22] Alviyanur, “ANALISIS PERENCANAAN MENUNGGUNAKAN METODE FORECASTING,” vol. 3, pp. 426–437, 2022.
[23] N. A. Lasaharu and Y. Boekoesoe, “Analisis Pemasaran Sapi Potong,” Jambura J. Anim. Sci., vol. 2, no. 2, pp. 62–75, 2020, doi:
10.35900/jjas.v2i2.5092.