PROPOSAL SKRIPSI
FORMULASI DAN UJI SPF SEDIAAN LOTION DENGAN BAHAN AKTIF ETANOL 70% EKSTRAK
KULIT BUAH APEL MERAH (Malus sylvestris Mill)
Diajukan oleh
Riana Sinta Uli NPM 2019210270
UNIVERSITAS PANCASILA FAKULTAS FARMASI
Jakarta
2024
PERSETUJUAN PROPOSAL SKRIPSI
NAMA : Riana Sinta Uli
NPM : 2019210270
BIDANG KEILMUAN : Teknologi Farmasi
JUDUL : Formulasi dan Uji SPF Sediaan Lotion dengan Bahan Aktif Etanol 70% Ekstrak Kulit Buah Apel Merah (Malus sylvestris mill)
Disetujui oleh :
Pembimbing I Pembimbing II
(apt. Yuslia Noviani, M.Farm.) (Dr. apt. Novi Yantih, S.Si, M.Si.) tanggal: tanggal:
2
PERSETUJUAN PROPOSAL SKRIPSI...i
DAFTAR GAMBAR...iv
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR LAMPIRAN...vi
BAB I PENDAHULUAN...1
A. LATAR BELAKANG...1
B. PERUMUSAN MASALAH...2
C. TUJUAN PENELITIAN...3
D. MANFAAT PENELITIAN...3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...4
A. URAIAN TANAMAN...4
1. Klasifikasi Tanaman...4
2. Kandungan Kimia...4
3. Manfaat...5
B. MASERASI...5
C. KULIT...5
1. Struktur Kulit...6
2. Jenis Kulit...9
D. SINAR UV DAN SPF (SUN PROTECTION FAKTOR)...10
E. SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS...12
F. LOTION... 13
G. PREFORMULASI...14
H. PRAFORMULASI...14
1. Asam Stearat...14
2. Cetyl Alkohol...15
3. Gliserin...15
4. Asam Benzoat...16
5. Tea (Trietanolamin)...16
6. Parafin cair...17
7. Aquadest...17 3
A. PRINSIP PENELITIAN...19
B. TEMPAT PENELITIAN...20
C. BAHAN PENELITIAN...20
1.TAHAPAN PENELITIAN...20
BAB IV METODE PENELITIAN...22
A. ALAT DAN BAHAN...22
1. Alat...22
2. Bahan...22
B. METODE PENELITIAN...22
1. Pengumpulan dan Penyediaan Bahan Penelitian...22
2. Pengeringan Simplisia...22
3. Penetapan Bahan Organik Asing (BOA)...23
4. Penetapan dan Pengukuran Derajat Halus Serbuk Simplisia...23
5. Ekstraksi Sampel...23
6. Penapisan Fitokimia Simplisia...24
7. Formulasi Lotion Ekstrak Kulit Apel Merah...25
8. Pembuatan Lotion...25
9. Penentuan SPF...26
C. EVALUASI SEDIAAN LOTION SPF KULIT APEL MERAH... ...26
1. Uji Organoleptis...26
2. Uji pH...27
3. Uji Tipe Lotion...27
4. Uji Homogenitas...27
5. Uji Daya Sebar Lotion...28
6. Uji Daya Lekat...29
7. Uji SPF... 29
DAFTAR PUSTAKA...30
LAMPIRAN...34
4
Gambar II.1 Buah Apel Merah...4
Gambar II.2 Struktur Kulit...6
Gambar II.3 Struktur Lapisan Epidermis dan Dermis...6
Gambar II.4 Struktur Propilen Glikol...15
Gambar II.5 Struktur Asam Benzoat...16
iv
Tabel II.1 Keefektifan Tabir Surya Terhadap SPF...11 Tabel II.2 Formulasi Rujukan Sediaan Lotion...14 Tabel IV.1 Formulasi Lotion Ekstrak Kulit Apel merah...24
v
Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Lotion...344 Lampiran 2. Skema Kerja Penentuan SPF...355 Lampiran 3. Kegiatan Proposal...366
vi
A. LATAR BELAKANG
Paparan sinar matahari yang berlebihan dalam jangka waktu panjang dapat memberikan dampak negatif pada lapisan kulit epidermis yang terletak pada paling atas kulit sehingga memicu munculnya bintik hitam tidak beraturan pada wajah, kerutan dini pada wajah, dan posisi bagian atas suatu telapak tangan akibat distribusi pigmen melanin yang berlebih. Selain itu dapat juga menimbulkan kerusakan pada lapisan bagian dalam kulit (dermis) sampai lapisan serat kolagen dan serat elastin akan menyebabkan penurunan elastisitas kulit.
Buah apel merah dikenal sebagai salah satu tanaman yang memiliki antioksidan alami dan berpotensi sebagai tabir surya. Kulit apel merah diketahui memiliki kandungan flavonoid dibandingkan daging buah apel merah, karena kulit apel merah mengandung senyawa-senyawa flavonoid seperti glikosida kuersetin, glikosida sianidin, glikosida phloretin, katekin, asam klorogenat, asam kafeat, procyanidin, dan phlorizin. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk melindungi kulit dengan baik dalam bentuk sediaan SPF.
Kulit apel merah (Malus sylvestris mill) mengandung kuersetin yang berguna untuk antioksidan , antioksidan pada kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) setara dengan 1500 mg vitamin C. Kuersetin merupakan suatu senyawa flavonoid polifenol yang karena mempunyai beberapa aktivitas farmakologi.
Disamping mempunyai beragam aktivitas farmakologi, kuersetin mempunyai kelemahan dari sifat fisikokimianya, yaitu kelarutannya rendah dalam air sehingga menyebabkan keterbatasan dalam proses absorpsi dan berpengaruh pada bioavailabilitasnya didalam tubuh. Kuersetin sebagai flavonol, salah satu dari enam
1
subclass senyawa flavonoid. The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) menyebutkan nomenklatur untuk kuersetin adalah pentahydroxyflavanone. Kuersetin adalah aglikon.
Aglikon merupakan komponen bukan gula. Berbagai flavonol dibuat oleh penempatan diferensial kelompok fenolik-OH dan gula (glikon).
Semua flavonol, termasuk kuersetin memiliki kesamaan yaitu 3- hydroxyflavone.
Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi kulit buah apel merah ( Malus sylvestris mill) untuk dibuat sediaan lotion yang mengandung nilai SPF. Ekstrak kulit buah apel merah akan dilakukan uji nilai SPF pada beberapa konsentrasi. Konsentrasi dengan nilai SPF yang tertinggi digunakan sebagai acuan untuk sediaan lotion. Dasar penggunaan konsentrasi ekstrak tersebut yaitu mengacu pada penelitian yang telah ada sebelumnya. Hasil pembahasan pada penelitian sebelumnya diperoleh nilai konsentrasi 3% nilai SPF 6,4 (Proteksiekstra) dan pada konsentrasi 5% didapatkan nilai SPF 9,4 (Proteksi maksimal). Sunscreen memiliki kandungan SPF yang berbeda-beda. (3)
Berbagai macam SPF, yaitu 25, 30, dan 50. Perbedaan pada SPF tersebut yaitu SPF 15 dapat menahan hingga 93% radiasi sinar UVB, SPF 30 dapat menahan hingga 97% radiasi sinar UVB, SPF 50 dapat menahan hingga 98% radiasi sinar UVB. Diantara SPF 15 sampai 50 terdapat perbedaan dalam memberikan perlindungan bagi kulit. Produk yang mengandung SPF 15 akan memberikan ketahanan selama 150 menit atau 2,5 jam. Produk yang mengandung SPF 25 akan memberikan ketahanan selama 250 menit atau 4 jam 10 menit.
Produk yang mengandung SPF 30 akan memberikan ketahanan selama 300 menit atau 5 jam. Produk yang mengandung SPF 50 akan memberikan ketahanan selama 500 menit atau 8 jam lebih. (4)
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Berapakah nilai SPF dari sediaan lotion yang tidak mengandung ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) ?
2. Bagaimana perbandingan nilai SPF sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) dengan yang tidak mengandung zat akif ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) ?
3. Berapakah nilai SPF dari sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill)?
4. Apakah nilai SPF sediaan ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) sesuai persyaratan untuk lotion tabir surya ?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Menghitung nilai SPF dari sediaan lotion yang tidak mengandung zat aktif ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill).
2. Membuat formulasi sediaan lotion yang mengandung zat aktif dengan yang tidak mengandung zat aktif.
3. Menghitung nilai SPF dari sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill).
4. Mengamati nilai SPF sediaan lotion dengan menyesuaikannya melalui tabel persyaratan SPF.
D. MANFAAT PENELITIAN
Dengan hasil penelitian ini diharapkan masyarakat mengetahui informasi tentang kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) yang dapat dimanfaatkan sebagai Sun Protection Factor(SPF).
A. URAIAN TANAMAN 1. Klasifikasi Tanaman
(Sumber : Scribd)
Gambar II.1 Buah Apel Merah Nama latin : Malus sylvestris mill Nama lain : Apel Merah
Division : Spermatophyte Subdivision : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Ordo : Rosales Family : Rosaceae Genus : Malus
Species : Malus sylvestris mill 2. Kandungan Kimia
Apel mengandung flavonoid, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin B5, vitamin B6, vitamin B9 dan vitamin C.Sedangkan mineral yang dikandung dalam buah apel merah antara lain kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan zinc. Pada flavonoid tersebut terdapat quersetin. Quarsetin adalah kelompok
4
senyawa flavonol terbesar berada dalam jumlah sekitar 60—75 %.
(5) 3. Manfaat
Quercetin memiliki aktifitas dengan menangkap radikal bebas.
Maka dapat dijadikan SPF karna memiliki quarsetin yang tinggi.(6)
B. MASERASI
Maserasi merupakan cara penyaringan yang sederhana dengan metode ekstraksi perendaman serbuk sampel dalam pelarut pada suhu kamar dan ditempatkan dalam suatu wadah tertutup. Proses ekstraksi simplisia kulit buah apel merah ini menggunakan teknik maserasi yang merupakan teknik penyarian zat aktif dengan perendaman menggunakan pelarut polar atau non polar selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian. Penggunaan etanol 70% teknis sebagai pelarut dalam ekstraksi pada penelitian ini dikarenakan etanol 70% mempunyai daya penetrasi yang baik pada sisi hidrofil dan lipofil, sehingga dapat menembus membran sel, masuk ke dalam sel dan berinteraksi dengan metabolit di dalam sel. Etanol 70% juga mampu menyari senyawa- senyawa yang diperlukan untuk uji aktivitas bunga telang yaitu fenolik, flavanoid, alkaloid, terpenoid, dan steroid.
Maserasi dapat pula dilakukan dengan adanya pengadukan secara terus menerus yang disebut dengan maserasi kinetik.(7) Serbuk sampel lalu dimaserasi kembali atau diremaserasi. Penggunaan metode maserasi, membutuhkan waktu yang lama serta pelarut yang relatif lebih banyak. Beberapa senyawa juga di mungkinkan tidak dapat terekstrak pada suhu kamar. Akan tetapi, metode maserasi bagus untuk menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang termolabil (tidak stabil pada kondisi suhu tinggi).(8)
C. KULIT
Sebagai media pertahanan luar tubuh manusia, mempunyai lapisan yang menyelimuti lapisan tubuhnya. Secara logika, lapisan empiris tersebut melindungi tulang dan daging serta bagi aliran darah.
Lapisan empiris biasa disebut sebagai kulit. Kulit adalah lapisan atau jaringan yang menyelimuti seluruh tubuh serta melindungi dari gangguan-gangguan yang datang pada daerah luar tubuh.(9)
Kulit sebagai rangkaian dari sistem integumen bersama dengan rambut, kuku dan kelenjar berfungsi sebagai pembungkus seluruh tubuh manusia dengan rata-rata mencapai luas sebesar 1,67m2. Bagian kulit yang paling tipis terletak di bagian mata yang merupakan kulit dengan kesensitifan paling tinggi, sedangkan bagian telapak kaki dan telapak tangan merupakan bagian tertebal dengan fungsinya sebagai anti radang. Pada kulit bagian dalam, secara mikroskopis banyak ditemui serabut saraf yang berfungsi sebagai reseptor. Yang terletak pada bagian yang mengandung pembuluh darah serta ujung syaraf. (10)
(Sumber :quiper )
Gambar II.2 Struktur Kulit 1. Struktur Kulit
Lapisan kulit terdiri dari 2 jenis yaitu epidermis dan dermis.
(Sumber :quiper )
Gambar II.3 Struktur lapisan epidermis dan dermis
Epidermis merupakan jaringan epitel yang berasal dari endoderm, adapun dermis adalah jaringan ikat yang agak padat dan berasal dari mesoderm. Pada bagain bawah dermis ada sebuah lapisan jaringan ikat longgar bernama hipodermis, jaringan ini terdiri dari jarigan tempat pada beberapa tempat.(10)
a. Epidermis
Epidermis adalah sebuah laipsan yang berada pada daerah paling luar kulit dan terdiri atas Epitel pipih berlapis epitel pipih berlapis yang tersusun oleh banyak lapis sel keratinosit serta Lapisan tanduk. Epidermis hanya terdiri dari jaringan epitel, tak berpembuluh darah maupun Limfe, karenanaya, semua oksigen dan nutrien didapat dari kapiler pada lapisan dermis. Epidermis terdiri atas 5 lapisan yakni stratum basal, stratum spinosum, stratum garnulosum, Startum lusidum dan stratum korneum.(10)
1. Stratum Basal
Adalah sebuah lapisan yang terletak paling dalam dan terdiri atas sebuah lapis sel berderet di atas membaran basal dan melekat pada dermis di bawahnya. Sel nya berbentuk silindris berinti besar dan sitoplasmanya basofilik. Lapisan ini berfungsi sebagai regenerasi epitel.(10)
2. Startum Spinosum
Adalah sebuah lapisan yang terdiri dari beberapa jenis lapis sel besar berbentuk Poligonal dengan inti sel nya lonjong. Pada lapisan ini terdapat kromosom yang berfungsi melekatkan sel-sel satu sama lain semakin ke atas bentuk sel semakin gepeng. (10)
3. Stratum Granulosum
Adalah sebuah lapisan yang terbentuk dari 2-4 lapis sel pipih dan mengandung banyak granula basofilik yang disebut granula keratohilain. Mikrofilamen melekat pada permukaan granula. (10)
4. Staratum Lusidium
Adalah lapisan yang terbentuk dari 2-3 lapisan sel pipih yang transparan dan eosinofik. Tak ada organel serta inti namun ada sedikit desmosom.(10)
5. Stratum Korneum
Adalah lapisan yang terdiri atas banyak lapisan sel mati, pipih dan tidak berinti serta memiliki sitoplasma yang tergantikan oleh keratin. Pada permukaan, sel-sel menjadi zat tanduk yang terdehidrasi dan selalu terkelupas.(10)
b. Dermis
Lapisan dermis terdiri atas stratum papilaris dan stratum retikukaris, kedua lapisan tersebut memiliki batas yang tak tegas diantaranya; (10)
1. Stratum Papilaris
Adalah lapisan yang tersusun longgar dengan adanya papila dermis berjumlah 50-250/mm2. Papila mengandung pembuluh-pembuluh kapiler yang membreri nutrisi pada epitel di atanmya. Papila lainnya mengandung badan akhir saraf sensoris yaitu badan meissner.(10)
2.Retikularis
Adalah lapisan yang tempatnya lebih dalam dengan tekstur yang lebih tebal. Jalinan padat ireguler tersusun dari berkas kolagen dan sejumlah kecil serat elastin. Adapun untuk bagian lebih dalam, jalinannya lebih terbuka dengan rongga diantaranya terisi jaringan Lemak, kelenjar keringat dan sebasea, serta folikel rambut. Serat otot polos ditemukan di folikel rambut skrotum, preputium dan payudara. Sedangkan serta otot skelet menyusupi jaringan ikat pada dermis di kuit wajah dan leher.(10)
c. Hipodermis
Adalah sebuah lapisan subkutan di bawah retikularis dermis yang merupakan jaringan ikat longgar dengan serat kolagen halus sejajar terhadap permukaan kulit. Didaerah punggung tangan, lapisan ini memungkinkan gerakan kulit di atas struktur di bawahnya, sedangkan di daerah lain serta masuk ke dermis dan sukar digerakan. Sel lemak lebih banyak dari pada dalam dermis. Lemak subkutan cenderung mengumpul di daerah tertentu, beberapa ditemukan di jaringan subkutan kelopak mata atau penis, abdomen, paha
dan bokong, adapun lapisan tersebut dinamakan pannikukus adiposus.(10)
2. Jenis Kulit
Jenis kulit merupakan penjelasan tentang bagaimana serta mengapa kulit dapat terlihat, terasa serta bersifat sesuai dengan karakteristiknya. Jenis kulit menurut Baumann Type Skin System adalah jenis kulit berminyak dan kulit kering.(11)
a. Kulit Berminyak
Adalah jenis kulit yang memiliki ciri adanya produksi sebum yang memadai atau meningkat. Karakterisitik yang terlihat dari kulit berminyak ialah seperti pori-pori membesar, kulit yang Mengkilap, dan kulit yang terlihat kusam. Adapun faktor yang menjadi penyebab kulit Berminyak adalah faktor genetik, diet, umur, jenis kelamin dan identik serta cuaca. (11) b. Kulit Kering
Adalah jenis kulit yang memiliki ciri terganggunya barier lipid sekitar keratinosit. Terganggunya barier lipid meningkatkan hilangnya transepidermal air dan membuat kulit lebih rentan terhadap iritasi dari retinoid dan bahan lainnya.
Karakterisitik kulit kering yang dapat terlihat yakni pori-pori yang tidak terlihat, kulit sangat kencang setelah mencuci wajah, wajah terlihat cerah dan terdapat kerutan halus disekitar mata, bibir dan pipi. Faktor yang menyebabkan kulit kering sendiri yakni dari faktor instrinsik dan ektrinsik. Dari faktor intrinsik, aktivitas kelenjar sebase memegang peran penting dalam jenis kulit ini. Semakin bertambahnya umur makan akan mengurangi kelenjar ini dan membuat kulit menjadi kering. Adapun dari faktor ekstrinsik, adanya paparan sinar matahari, nutrisi, jenis sabun serta cuaca sangat mempengaruhi kulit menjadi kering.
(11)
D. SINAR UV DAN SPF (SUN PROTECTION FAKTOR)
Tabir surya merupakan zat atau material yang mampu melindungi kulit dari radiasi sinar ultra violet (UV). Sinar UV adalah gelombang elektromagnetik yang berbahaya, memiliki energi sangat tinggi dan bersifat karsinogenik. Sinar UV terdiri dari sinar UV A (320-400 nm), sinar UV B (290-320 nm), dan sinar UV C (100-290 Nm). Sinar UV A merupakan sinar UV paling kuat, semua sinar UV A diemisikan ke bumi dan paparannya mampu menjangkau hingga lapisan dermis kulit.(12) Sinar UV B Sebagian diemisikan ke bumi, paparannya hanya dapat menjangkau lapisan epidermis kulit. Sinar UV C merupakan sinar UV yang paling berbahaya bagi kulit, namun sinar UV C tidak mampu menembus lapisan ozon di atmosfer bumi sehingga tidak dapat diemisikan ke bumi. Tiga jenis sinar ultraviolet (UV) yang dipancarkan matahari adalah UV A, UV B, dan UV C.
Karena kekuatannya yang meningkat akibat penipisan lapisan ozon.
Radiasi UV saat ini menjadi salah satu masalah utama bagi masyarakat. Intensitas radiasi UV yang tinggi dapat menimbulkan efek yang merugikan, seperti perkembangan eritema, tanda kerusakan kulit yang disebabkan oleh sinar UV. (13)
Tabir Surya bekerja dengan cara menyerap sinar maupun memantulkan kembali sinar UV yang terpapar ke kulit. Sun Protecting Factor (SPF) adalah rasio yang menggambarkan respon terhadap paparan dari sinar UV pada kulit yang diolesi tabir surya dan yang tidak diolesi dengan tabir surya. Penentuan nilai SPF dapat dilakukan secara in vitro dan in Vivo. Penentuan nilai SPF dapat dilakukan secara in vitro menirukan pengukuran secara In vivo dengan menggunakan energi transmisi yang menembus tabir surya.
(15) Efektivitas sediaan tabir surya dengan penentuan nilai SPF secara in vitro dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis.
Kemampuan tabir surya dikatakan minimal bila SPF antara 2 – 4,
sedang bila SPF antara 6 – 8, maksimal bila SPF antara 8 – 15, dan ultra bila SPF lebih dari 15.(16)
Tabel II.1 Keefektifan Tabir Surya Terhadap SPF (17)
Biasanya nilai SPF (Sun Protection Factor) suatu produk tabir surya berfungsi Sebagai indikator ke efektifannya. Perlindungan yang ditawarkan oleh produk krim tabir surya meningkat seiring dengan nilai SPF. Vitamin c dan vitamin e adalah senyawa bahan alami yang telah digunakan sebagai perlindungan UV. (17)
Bioaktif fenolik berpotensi Untuk digunakan sebagai komponen aktif dalam formulasi krim tabir surya dan meningkatkan kadar SPF lotion tabir surya. Salah satu strategi untuk menentukan pergerakan tabir surya suatu zat adalah dengan memperkirakan seberapa besar faktor keamanan matahari atau dikenal dengan Sun Protection Factor (SPF). Pengukuran nilai dari SPF menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis dengan cara mengukur serapan larutan dari tiap formula pada panjang gelombang 290-320 nm.(15)
E. SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Spektrofotometer UV-Vis merupakan spektrofotometer berkas ganda sedangkan pada spektrofotometer visible ataupun UV termasuk spektrofotometer berkas tunggal. Pada spektrofotometer berkas ganda blanko dan sampel dimasukan atau disinari secara bersamaan, sedangkan spektrofotometer berkas tunggal blanko dimasukkan atau disinari secara terpisah . Ketika cahaya mengenai
sampel, sebagian akan diserap, sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan. (18)
Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah It/I0 atau I0/It (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati materi (sampel). Dimana lo merupakan intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel . (17) Spektrum yang dikeluarkan oleh spektrofotometer UV-Vis berupa pita yang lebar dan biasanya hanya memperlihatkan beberapa puncak saja.
Puncak dilaporkan sebagai panjang gelombang saat terjadi maksimum. Pita melebar dari UV-Vis disebabkan karena energi yang dimiliki selain menyebabkan transisi elektronik terjadi pula rotasi dan vibrasi elektron dalam molekul. (19)
F. LOTION
Lotion adalah bentuk sediaan setengah padat yang diaplikasikan pada tubuh, mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai dan diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air (Depkes RI, 1995).
Lotion umumnya mudah menyebar rata dan untuk lotion tipe minyak dalam air (M/A) lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air. Emulsi M/A merupakan tipe lotion yang paling banyak digunakan untuk penggunaan dermatologi topikal karena memiliki kualitas absorbsi yang sangat baik dan dapat diformulasikan menjadi produk kosmetik yang elegan. Komposisi umumnya lotion umumnya terdiri dari 10- 15% fase minyak, 75-85% fase air, dan 5-10% humektan.
Formulasi lotion dibuat dengan memvariasikan konsentrasi agen pengental, penstabil, dan pengemulsi yaitu setil alkohol dan karagenan. Lotion memilki beberapa keuntungan diantaranya mudah
menyebar rata, mudah dalam penggunaannya atau mudah dioleskan, dan cara kerjanya langsung pada jaringan setempat serta efek terapi yang diharapkan lebih mudah dicapai. Kandungan air yang cukup besar bentuk sediaan lotion tersebut dapat diaplikasikan dengan mudah, daya penyebaran dan penetrasinya cukup tinggi, tidak memberikan rasa berminyak, memberikan efek sejuk, juga mudah dicuci dengan air .
G. PREFORMULASI
Tabel II.2 Formulasi Rujukan Sediaan Lotion(1)
Komposisi Formula 1 Formula 2 Formula 3 Kegunaan
Ekstrak kulit buah apel fuji
2% 4% 6% Zat aktif
Asam stearat 2,5 2,5 2,5 Emulgator
Cetyl alkohol 2,5 2,5 2,5 Emolien
Gliserin 5 5 5 Humektan
TEA 3 3 3 Emulgator
Parafin cair 7 7 7 Viskositas
Nipagin(metil paraben)
0,2 0,2 0,2 Pengawet
Nipasol(propil paraben)
0,1 0,1 0,1 Pengawet
Parfum Apel Qs Qs Qs Pewangi
Aquadest Ad 100 Ad 100 Ad 100 Pelarut
H. PRAFORMULASI
1. Asam Stearat
Nama lain dari asam stearat di antaranya acidum stearicum, cetylacetic acid, hystrene, dan lain-lain. Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat, C18H36O2 dan asam heksadekanoat.(23)
Asam stearat berbentuk serbuk putih keras, putih atau kuning pucat, agak mengkilap, kristal padat atau putih atau kekuningan; sedikit berbau; dan mirip lemak lilin. Asam stearat memiliki titik leleh 69-70ºC . Asam stearat praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95%), dalam dua bagian kloroform, dan dalam tiga bagian eter. Selain itu asam stearat juga mudah larut dalam benzen, karbon tetraklorida; larut dalam heksana dan propilen glikol . Dalam sediaan topikal, asam stearat dapat digunakan sebagai emulsifying agent dan solubilizing agent.
Dalam salep dan krim, asam stearat digunakan dengan konsentrasi 1-20%. Asam stearat stabil dan bisa ditambahkan antioksidan, sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup baik, di tempat yang sejuk dan kering. Inkompatibel terhadap logam hidroksida, basa, reduktor, dan oksidator. (23)
2. Cetyl Alkohol
Setil Alkohol mengandung tidak kurang dari 90,0%
C16H34O, selebihnya terdiri dari alkohol lain yang sejenis.
Pemerian Serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih;
bau khas lemah; rasa lemah Kelarutan Tidak larut dalam air; larut dalam etanol dan dalam eter, kelarutan bertambah dengan naiknya suhu. Baku pembanding stearil alkohol BPFI; tidak boleh dikeringkan sebelum digunakan. Setil alkohol BPFI; tidak boleh dikeringkan sebelum digunakan identifikasi waktu retensi puncak utama kromatogram Larutan ujisesuaidengan Larutan baku seperti tertera pada Penetapan kadar. (24)
Gambar II.4. Struktur asetil alkohol 3. Gliserin
Gliserin digunakan secara luas dalam berbagai variasi formulasi farmasetik yang mencakup sediaan oral, ophthalmic, topical, sediaan parenteral, kosmetik dan produk makanan. Dalam sediaan topikal formulasi farmasetik dan kosmetik, gliserin terutama digunakan sebagai humektan dan emolient. Gliserin digunakan sebagai humektan dalam sediaan kosmetik dengan konsentrasi hingga 30 %. Dengan penambahan gliserol 10 % sebagai bahan pembuat lunak dinilai krim dapat kilau mutiara dan lebih menjadi cemerlang.(25)
4. Asam Benzoat
Gambar II.5 struktur asam benzoat
Asam benzoat, C7H6O2 (atau C6H5COOH), adalah padatan kristal berwarna putih dan merupakan asam karboksilat aromatik yang paling sederhana. Nama asam ini berasal dari gum benzoin (getah kemenyan), yang dahulu merupakan satu-satunya sumber
asam benzoat. Asam lemah ini beserta garam turunannya digunakan sebagai pengawet makanan. Asam benzoat adalah prekursor yang penting dalam sintesis banyak bahan-bahan kimia lainnya. Penggunaan pengawet Benzoat dimaksudkan untuk mencegah kapang dan bakteri. Benzoat sejauh ini dideteksi sebagai pengawet yang aman.(26)
5. Tea (Trietanolamin)
Nama lain TEA di antaranya tealan, trihydroxytriethylamine Trolaminum, dan lain-lain. TEA merupakan cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat; bau lemah mirip amoniak;
higroskopik. TEA Memiliki titik leleh 20-21 ºC, mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%); larut dalam kloroform. Pada suhu 20º C, bercampur dengan Aseton, dengan karbon tetraklorida, dengan metanol, dan dengan air; larut Dalam 24 bagian benzen dan dalam 63 bagian etil eter. (23)
6. Parafin cair
Parafin cair digunakan sebagai basis pada formulasi sediaan topikal. Penambahan parafin cair dapat menurunkan viskositas dari sediaan. Parafin cair terdiri dari 2 macam kualitas yaitu viskositas ringan yang biasa digunakan untuk 5 membuat vanishing cream, sedangkan parafin cair yang mempunyai viskositas berat digunakan untuk membuat cold cream. Parafin cair bersifat stabil yang berfungsi sebagai emolien, lubrikan dan pelarut. Parafin harus disimpan pada wadah yang tertutup, di tempat yang sejuk dan kering serta terlindung dari cahaya siar matahari langsung.(27) 7. Aquadest
Aquades juga digunakan sebagai pelarut bahan-bahan kimia padatan/serbuk yang akan dibuat menjadi larutan. Hampir sebagian
besar larutan dibuat menggunakan aquades. Hal ini disebabkan aquades merupakan pelarut yang universal (umum) dan kebanyakan bahan-bahan kimia padat/serbuk larut dalam air sehingga sangat cocok dengan aquades. Memiliki nama resmi aqua destilata, dengan nama lain air suling, pemerian cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, dengan BM 18,02 g/cm3, disimpan dalam wadah tertutup rapat, kegunaan Sebagai fase air (pembawa).(28)
I. LANDASAN TEORI
Pada Penelitian ini dilakukan ekstraksi kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) dibuat sediaan lotion yang mengandung nilai SPF. Pada dasarnya kulit buah apel merah berasal dari limbah, limbah dari kulit buah apel tidak hanya digunakan sebagai substitusi pakan ternak dan pemupukan tanaman, akan tetapi limbah kulit buah apel juga dapat digunakan sebagai bahan antioksidan alami yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terutama pada kulit untuk melawan berbagai radikal bebas dari luar. Sebagian besar masyarakat yang gemar mengkonsumsi buah apel lebih suka mengupas kulitnya dan membuang kulit buah apel tersebut tanpa memanfaatkannya.
Struktur kuersetin pada buah apel merah memiliki gugus hidroksil pada cincin aromatik. Kuersetin dilaporkan dapat berfungsi sebagai antioksidan, antikarsinogenik, dan antiinflamasi. Ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) dilakukan uji nilai SPF pada beberapa konsentrasi. Konsentrasi dengan nilai SPF yang tertinggi digunakan sebagai acuan untuk formulasi lotion. Dasar penggunaan konsentrasi ekstrak tersebut yaitu mengacu pada penelitian yang telah ada sebelumnya yaitu hasil pembahasan pada penelitian sebelumnya diperoleh nilai konsentrasi 3% nilai SPF 6,4 (Proteksiekstra) dan pada
konsentrasi 5% didapatkan nilai SPF 9,4 (Proteksi maksimal).
Sunscreen memiliki kandungan SPF yang berbeda-beda.
J. HIPOTESIS
1. Mendapatkan sediaan lotion yang tidak mengandung ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill)
2. Mendapatkan sediaan lotion yang mengandung ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill).
3. Sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) yang memilik nilai SPF UVB.
4. Mengamati nilai SPF lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) sesuai degan persyaratan mutu.
A. PRINSIP PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan cara ekstraksi pada kulit buah apel merah untuk membuat formulasi yang mengandung nilai SPF.
Dengan cara membuat sediaan lotion menggunakan tipe emulsi minyak dalam air. Formula lotion dimodifikasi dengan menambahkan ekstrak kulit buah apel merah. Konsentrasi ekstrak kulit buah apel merah yang ditambahkan pada 3 konsentrasi yang berbeda. Timbang bahan sesuai dengan takaran. Fase minyak (Asam stearat, cetyl alcohol, paraffin cair dan asam benzoat) dimasukkan ke dalam cawan porslen lalu panaskan di waterbath hingga melebur. Fase air (TEA, glicerin, dan aquadest) masukkan dalam cawan porselen lalu panaskan di waterbath hingga melebur. Fase minyak dimasukkan dimasukkan ke dalam mortir hangat sambil diaduk dengan pangedukan cepat hingga sediaan homogen. Masukkan fase air ke dalam fase minyak dalam mortir sedikit demi sedikit dengan dilakukan pengadukan cepat hingga homogen dan terbentuk massa lotion. Ekstrak kental kulit buah apel merah dimasukkan ke dalam mortir sambil terus dilakukan pengadukan, tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dilakukan pengadukan ad homogen. Terakhir, tambahkan parfum (oleum apel) sebagai pewangi sedikit demi sedikit.
Ekstrak kulit buah apel merah yang telah tercampur dengan basis lotion dilakukan pengadukan ad homogen sampai terbentuk masa lotion. Masukkan kedalam wadah lotion yang sudah dikalibrasi.
B. TEMPAT PENELITIAN
1. Laboratorium Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta
20
2. Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta
C. BAHAN PENELITIAN
1. Ekstrak kulit buah apel merah 2. Cetyl alkohol
3. Asam stearat 4. Gliserin 5. TEA
6 . Parafin cair 7. Asam benzoat 8. Parfum apel 9. Aquadest
1. TAHAPAN PENELITIAN
Langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan yaitu:
1. Pengumpulan dan penyediaan bahan penelitian. Bahan yang digunakan adalah kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) 2. Pembuatan ekstrak kulit buah apel merah.
3. Karakterisasi ekstrak kulit buah apel merah. Karakterisasi penapisan fitokimia
4. Pembuatan sediaan lotion
a. rancangan formula sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah.
b. Pembuatan sediaan lotion pada ketiga formula dengan konsentrasi zat aktif yang berbeda.
5. Evaluasi fisika, kimia, dan penentuan nilai SPF.
a. Evaluasi fisika.
1.) Pemeriksaan organoleptic.
a) Warna.
b) Bau.
c) Bentuk.
2.) Uji homogenitas.
3.) Uji tipe lotion.
4.) Daya sebar.
5.) Daya lekat.
b. Evaluasi kimia.
1.) Uji Ph.
2.) Penentuan nilai SPF dari sediaan lotion.
9.AnalisisData
A. ALAT DAN BAHAN 1. Alat
Spektofometer UV-Vis (Shimadzu, Kisi 700, 1800, 1900 lines/mm), Water Bath (Penangas Air) (Julabo Tw20), Timbangan Analitik (AND GR-200, HR-120), Timbangan dan Anak Timbangan Gram, Mortir, Stemper, Sudip, Batang Pengaduk, Cawan Uap, Kaca Arloji.
Alat- Alat Gelas
Erlenmeyer (Pyrex), Pipet Volume (Iwaki), Beaker Glass (Pyrex), Gelas Ukur (Iwaki).
2. Bahan
Ekstrak kulit buah apel merah, asam stearat, cetyl alkohol, gliserin, TEA, parafin cair, asam benzoat, oleum apel, aquadest.
B. METODE PENELITIAN
1. Pengumpulan dan Penyediaan Bahan Penelitian
Bahan utama yang digunakan adalah kulit buah apel merah yang sudah di jadikan serbuk .
2. Ekstraksi Sampel
Dilakukan dengan cara maserasi dengan perbandingan 1:7,5.
Simplisia serbuk sebanyak 100gram dimasukan dalam bejana dituangi dengan etanol 70% Sebanyak 750ml. Dalam ekstraksi, Bejana ditutup rapat dan biarkan Selama 5 hari terlindung dari cahaya atau sinar matahari sambil diaduk secara teratur. Setelah 5 hari maserat disaring dengan kain flanel. Filtrat lalu ditampung dalam cawan porselin kemudian penyari diuapkan dengan
23
penguapan langsung sampai bau etanol hilang hingga didapat ekstrak kental.
3. Penapisan Fitokimia Simplisia
a. Identifikasi golongan flavonoid
Sejumlah 2 g serbuk simplisia ditambahkan 100 ml air panas, dididihkan selama 5 menit, disaring dengan kertas saring hingga diperoleh filtrat yang digunakan sebagai larutan percobaan. Kedalam 5 ml larutan percobaan ( dalam tabung reaksi) ditambahkan serbuk atau lempeng magnesium secukupnya, kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida pekat dan 5 ml alkohol, dikocok kuat dan dibiarkan hingga memisah.
Terbentuknya warna pada lapisan amil alkohol menunjukan adanya senyawa flavonoid.
b. identifikasi golongan alkaloid
Sejumlah 2 g serbuk simplisia dilembabkan dengan 5 ml ammonia 30% digerus didalam mortir, kemudian ditambahkan 20 ml klorofrom dan digerus kuat. Campuran tersebut disaring dengan kertas saring, filtrat berupa larutan organik diambil ( sebagai larutan A). Sebagian dari larutan A ( 10 ml) diekstraksi dengan 10 ml larutan HCL 1:10 dengan pengocokkan tabung reaksi, kemudian diambil larutan bagian atasnya ( larutan B). Larutan A diteteskan beberapa tetes pada kertas saring dan disemprot atau ditetesi dengan pereaksi Dragendroff. Terbentuknya warna merah atau jingga pada kertas saring menunjukkan adanya senyawa alkaloid. Larutan B dibagi ke dalam dua tabung reaksi dan masing-masing ditambahkan pereaksi Dragendroff dan Mayer, terbentuknya endapan merah bata dengan pereaksi Dragendroff dan endapan putih dengan pereaksi Mayer.
4. Formulasi Lotion Ekstrak Kulit Apel Merah
Tabel IV.1 Formulasi Lotion Ekstrak Kulit Apel merah
Komposisi Formula 1 Formula 2 Formula 3 Kegunaan
Ekstrak kulit buah apel merah
5% 10% 15% Zat aktif
Asam stearat 2,5 2,5 2,5 Emulgator
Cetyl alkohol 2,5 2,5 2,5 Emolien
Gliserin 5 5 5 Humektan
TEA 3 3 3 Emulgator
Parafin cair 7 7 7 Viskositas
Asam benzoat 0,2 0,2 0,2 Pengawet
Parfum Apel Qs Qs Qs Pewangi
Aquadest Ad 100 Ad 100 Ad 100 Pelarut
5. Pembuatan Lotion
1 Timbang bahan sesuai dengan takaran.
2 Dibuat fase minyak (Asam stearat, cetyl alkohol dan parafin cair) lalu dimasukkan ke dalam cawan porslen lalu dipanaskan di waterbath hingga melebur.
3 Dibuat fase air (TEA, glicerin, asam benzoat dan aquadest) dimasukkan ke dalam cawan porselen lalu dipanaskan diwaterbath hingga melebur.
4 Fase minyak dimasukkan ke dalam mortir hangat sambil diaduk dengan pangadukan cepat hingga sediaan homogen.
5 Dimasukkan fase air ke dalam fase minyak dalam mortir sedikit demi sedikit dengan dilakukan pengadukan cepat hingga homogen dan terbentuk massa lotion.
6 Ekstrak kental kulit buah apel merah dimasukkan ke dalam mortir sambil terus dilakukan pengadukan, tambahkan aquadest sedikit demi sedikit sambil dilakukan pengadukan ad homogen.
7 Tambahkan parfum (oleum apel) sebagai pewangi sedikit demi sedikit. Ekstrak kulit buah apel merah yang telah tercampur dengan basis lotion dilakukan pengadukan ad homogen sampai terbentuk masa lotion. Masukkan kedalam wadah lotion yang sudah dikalibrasi
.
(1)6. Penentuan SPF
Ekstrak diambil 0,025 g dengan konsentrasi 500 µg/ml menggunakan etanol 70 %. Larutan ekstrak dibaca serapannya pada panjang gelombang antara 290-320 nm setiap interval 5 nm, dan blanko yang digunakan adalah etanol 70 %. Hasil absorbansi digunakan untuk menghitung nilai SPF (Sun Protection Factor) dengan persamaan sebagaimana dalam Mansur (1986). (32) Rumus : SPF = CF x 290∑ 320 EE (λ) x I (λ) x Absorban (λ).
C. EVALUASI SEDIAAN LOTION SPF KULIT APEL MERAH 1. Uji Organoleptis
Organoleptik adalah sebuah uji suatu sediaan berdasarkan kesukaan dan keinginan pada suatu produk. Uji organoleptik biasa disebut juga uji indera atau uji sensori merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk. Indera yang dipakai dalam uji organoleptik adalah indera penglihat/mata, indra penciuman/hidung, dan pengecap/lidah. Kemampuan alat indera inilah yang akan menjadi kesan yang nantinya akan menjadi penilaian terhadap produk yang diuji sesuai dengan sensor atau rangsangan yang diterima oleh indera.(33) Kemampuan indera
dalam menilai meliputi kemampuan mendeteksi, mengenali, membedakan, membandingkan, dan kemampuan menilai suka atau tidak suka.
2. Uji pH
Langkah-langkah pH dilakukan dengan menggunakan pH meter.
1. pH meter dikalibrasi dengan larutan pH 7,0(dapar fosfat ekimolal) dan Ph 4,0 (dapar kalium biftalat).
2. Sediaan yang akan diperiksa disiapkan.
3. Elektroda pH meter dicelupkan hingga ujung elektroda tercelup semua kedalam sediaan dan angkat digital menjadi stabil.
4. pH yang muncul dicatat.(34) 3. Uji Tipe Lotion
Tujuan dilakukan uji tipe lotion untuk mengetahui tipe lotion kulit buah apel merah apakah M/A atau A/M. Hasil yang didapat pada ketiga formula yaitu tipe M/A. Data yang diperoleh dari hasil penelitian pada tabel dibawah ini dapat diterima oleh kulit manusia.
(35)
4. Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah beberapa varian populasi adalah sama atau tidak. Uji ini dilakukan sebagai prasyarat dalam analisis independent sample t test dan anova. Asumsi yang mendasari dalam analisis varian (Anova) adalah bahwa varian dari populasi adalah sama. Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah sebaran data tersebut homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansnya. Jika dua kelompok data atau lebih mempunyai varians yang sama besarnya, maka uji homogenitas tidak perlu dilakukan lagi karena datanya sudah dianggap homogen. (36)
Uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data tersebut dalam distribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji statistik parametrik (misalnya uji t, Anava, Anacova ) bener-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok.(36)
Uji homogenitas variansi sangat diperlukan sebelum membandingkan dua kelompok atau lebih, agar perbedaan yang ada bukan disebabkan oleh adanya perbedaan data dasar (ketidakhomogenan kelompok yang dibandingkan).
5. Uji stabilitas
Sebelum dan sesudah penyimpanan, kualitas fisik produk dinilai. Kestabilan fisik sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) ditentukan menggunakan cara stabilitas baik sebelum maupun sesudah pengujian, dan hasilnya dibandingkan. Pengujian ini didasarkan pada pengaruh tekanan suhu (freeze thaw). Pengujian stabilitas dipercepat dilakukan dengan menyimpan sediaan lotion (telah dikemas dalam wadah) kedalam alat Climatic chamber selama 120jamatau5 hari, dan berlangsung sebanyak 10 siklus.
6. Uji Daya Sebar Lotion
Sejumlah sediaan dioleskan pada cincin teflon yang mempunyai diameter luas 55 mm dengan ketebalan 3 mm dan diameter 15 mm dengan beralaskan kaca. Bagian dalam cincin teflon dipenuhi dengan lotion kemudian diratakan dengan spatula sampai dapat permukaan rata dan tanpa gelembung udara, kemudian cincin teflon diangkat dengan hati-hai sehingga didapat olesan lotion dengan diameter 15 mm dan tebal 3 mm. Lotion tersebut kemudian ditutup dengan lempengan kaca lain dengan bobot 20g kemudian ditekan dengan beban seberat 200g dan didiamkan selama 3 menit.
Selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus F= π x r2 (mm2)
F adalah kemampuan menyebar Π adalah jari-jari(37)
7. Uji Daya Lekat
Uji kelekatan lotion penting untuk mengevaluasi sejauh mana lotion dapat menempel pada kulit, sehingga efek terapi yang diharapkan bisa tercapai. Bila lotion memiliki daya lekat yang terlalu kuat maka akan menghambat pernafasan kulit, namun apabila daya lekatnya terlalu lemah, maka efek terapi tidak tercapai .(38)
8. Uji SPF
Pengukuran efektivitas sediaan tabir surya didasarkan pada penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF) yang menggambarkan kemampuan produk tabir Surya diantaranya seperti sediaan lotion. Penentuan nilai SPF dilakukan secara in Vitro dengan metode spektrofotometri UV-Vis dan dilakukan pada sediaan lotion ekstrak kulit buah apel merah F1,F2, dan F3 pada tahap spektrofotometri UV-Vis. (39)
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL DETERMINASI EKSTRAK KULIT BUAH MERAH(Malus sylvestris mill).
Pada penelitian ini diawali dengan melakukan ekstraksi kulit buah apel merah yang diperoleh dari PT. PALAPA MUDA PERKASA CHEMICALS PRODUCT AND CHEMICAL ANALYSIS SERVICE . Ekstraksi kulit buah apel merah bertujuan untuk memperoleh ekstrak kental dari kulit buah apel merah. Ekstraksi ini dilakukan di PT.PALAPA MUDA PERKASA CHEMICALS PRODUCT AND CHEMICAL ANALYSIS SERVICE. Berdasarkan surat hasil ekstraksi kulit buah apel merah dengan nomor PMP.10/2024 menunjukan bahwa kulit buah yang digunakan untuk penelitian adalah kulit buah apel merah.
B. PEMBUATAN EKSTRAK KULIT BUAH APEL MERAH(Malus sylvestris mill).
Hasil ekstraksi maserasi kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) diperoleh ekstrak kental sebanyak 100 gram, dengan nilai rendemen ekstrak sebesar....%.
Hasil ekstrak dapat dilihat pada tabel berikut:
Berat serbuk Berat ekstrak kental Rendemen(%) 100 gram
C. STANDARISASI EKSTRAK
Parameter spesifik
1.Uji organoleptis
pengamatan dilakukan pada ekstrak kulit buah apel merah(Malus sylvestris mill). Hasil pengamatan organoleptis pada ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel II.1 uji organoleptis ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill).
Uji organoleptis
Bentuk Warna Bau Ekstrak kental Kecoklatan Khas
D. HASIL SKRINING FITOKIMIA
Uji skrining fitokimia bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit aktif pada kulit buah apel merah. Hasil skrining fitokimia ekstrak kulit buah apel merah dapat dilihat pada tabel V dan untuk dokumentasi hasil skrining disajikan pada lampiran.
Tabel V. Hasil uji skrining fitokimia Nama
sampel
Keadaan sampel
Parameter Hasil Teknik analisis
Kulit buah apel
merah
Ekstrak
Alkaloid
- Dragendroff ++++ Terbentuk larutan merah bata merah kejinggaan jingga.
Terbentuk endapan putih putih
- Mayer
- Wagner
Flavonoid
+++
+++++
+++++
kekuning-kuningan
Terbentuk warna coklat
Terbentuk endapan merah bata jingga kuning
E. PARAMETER NON SPESIFIK
Data dari standarisasi esktrak non spesifik dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel II.2 Parameter nonspesifik ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill)
No Parameter Bobot Hasil 1. Kadar air A&B
- Bobot A Sebelum - Bobot A sesudah
1.800 1.400
22,22
- Bobot B Sebelum - Bobot B sesudah
2.000 1.900
5
Rata-rata 13,61
2. Kadar abu A & B
- Bobot A sebelum - Bobot A sesudah
2.500 1.600
64
- Bobot B sebelum - Bobot B sesudah
2.300 1.200
52,17
Rata-rata 58,085
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa standarisasi ekstrak kulit buah apel merah(Malus sylvestris mill) kadar air dan kadar abu.
F. PEMBUATAN LOTION EKSTRAK KULIT BUAH APEL MERAH (Malus sylvestris mill).
Formulasi lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill) dibuat dengan tiga formulasi yang berbeda konsentrasi ekstrak.
Kemudian lotion dilakukan uji organoleptis, uji Ph, uji tipe lotion, uji homogenitas, uji stabilitas, uji daya sebar lotion, uji daya lekat, dan uji spf.
Tabel 2.2 Formulasi lotion ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill)
Komposisi Formula 1 Formula 2 Formula 3 Kegunaan
Ekstrak kulit buah apel merah
5% 10% 15% Zat aktif
Asam stearat 2,5 2,5 2,5 Emulgator
Cetyl alkohol 2,5 2,5 2,5 Emolien
Gliserin 5 5 5 Humektan
TEA 3 3 3 Emulgator
Parafin cair 7 7 7 Viskositas
Asam benzoat 0,2 0,2 0,2 Pengawet
Parfum Apel Qs Qs Qs Pewangi
Aquadest Ad 100 Ad 100 Ad 100 Pelarut
1. Hidayati M, Purwati E, Puspadina V, Nur CI. Formulasi dan Uji Mutu Fisik Body Lotion Ekstrak Kulit Buah Apel Fuji (Malus domestica).
Program Pendidikan Diploma Farmasi. 2021;312–8.
2. Elinda T, Wahyuni WT, Rohaeti E. Simultaneous Detection of Quercetin and Rutin at Graphene Modified Screen Printed Carbon Electrode. Jurnal Kimia Valensi. 2019;5(1):97–107.
3. Ilyas IL, Farid N, Junita N, Islamiah D. Penentuan Nilai SPF Krim Kulit Apel Manalagi (Malus Sylvestris Mill) dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Determination of SPF in the Formula of Apple Skin (Malus Sylvestris Mill.) Cream with UV-Vis Spectrophotometry Method Art. Jurnal Promotif. Vol. 6. 2023.
4. Abrasyi R. Perbandingan Nilai Sun Protection Factor (SPF) dan pH Krim Tabir Surya dari Ekstrak Biji Rambutan ( Nephelium lappaceum) Dengan Produk Tabir Surya Komersial Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis. (Skripsi).Banda Aceh: UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY;2022.h.2-10.
5. Nugraha A, Ghozali M. Penetapan Kadar Flavonoid Kuersetin Ekstrak Kulit Buah Apel Hijau (Pyrus Malus L) dengan Menggunakan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi . Jurnal Penelitian . 2011;18.
6. Rustanti E, Lathifah QA. Identifikasi Senyawa Kuersetin dari Fraksi Etil Asetat Ekstrak Daun Alpukat (Persea americana Mill). Jurnal of chemstry.2018;6(2):38.
7. Badaring DR, Sari SPM, Nurhabiba S, Wulan W, Lembang SAR. Uji Ekstrak Daun Maja (Aegle marmelos L) terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Journal indonesia of fundamental sciences (IJFS). 2020;6(1):16–26.
8. Najib M. Ekstraksi Korteks Batang Salam ( Syzygium polyanthum ) dengan Etil Asetat dan Uji Aktivitas Anti Jamur terhadap Candida albicans dan Aspergillus flavus. (skripsi). semarang. Ilmu Pendidikan Kimia Universitas Islam Negeri Walisongo. 2017;1(2):15–7.
9. Novita Setyowati MK. ANFIS Sistem Integumen.
10. Kalangi SJR. Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik. 2014;5(3):12–20.
11. Adityo M. Aplikasi Penentuan Jenis Kulit Wajah Pada Wanita.
2016;5–6.
12. Rusita Youstiana Dwi, S Indarto A. AKTIFITAS TABIR SURYA
40
DENGAN NILAI SUN PROTECTION FACTOR (SPF) SEDIAAN LOSION KOMBINASI EKSTRAK KAYU MANIS DAN EKSTRAK KULIT DELIMA PADA PAPARAN SINAR MATAHARI DAN RUANG TERTUTUP. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional . 2017;2(1):38–43.
13. Hapsah I, Siti RS, Sita. Pentingnya Melindungi Kulit Dari Sinar Ultraviolet Dan Cara Melindungi Kulit Dengan Sunblock Buatan Sendiri. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. 2014;3(2):126–33.
14. Azyyati Adzhani, Fitrianti Darusman, Ratih Aryani. Kajian Efek Radiasi Ultraviolet terhadap Kulit. Bandung Conference Series Pharmacy. 2022;2(2):106–12.
15. Kimia PS. KARAKTERISASI LOTION TABIR SURYA DARI RUMPUT LAUT COKLAT Sargassum plagyophyllum.
(skripsi).Banda aceh: UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR- RANIRY;2022.h.11-12.
16. Yusriyani, Dewi JP. FORMULASI KRIM TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia, Jack) DAN UJI NILAI SPF SECARA IN VITRO. Jurnal Yamasi AcId. 2020;4(1):87–97.
17. Sari DEM, Fitrianingsih S. Analisis Kadar Nilai Sun Protection Factor (SPF) pada Kosmetik Krim Tabir Surya yang Beredar di Kota Pati Secara In Vitro. Jurnal Pharmacy. 2020;4(1):69–79.
18. Saputra R. Spektrofotometer. Jurnal Chemstry Informasi Modeling . 2019;53(9):1689–99.
19. Ii BAB, Pustaka T. Bab ii. tinjauan pustaka 2.1. 2018;08:4–20.
20. S Slamet. Optimasi Formulasi Sediaan Handbody Lotion Ekstrak Daun Teh Hijau. Jurnal Pena ilmu teknologi. 2019;33(1):53–7.
21. Zulfa E, Fatchurrohman M. Aktivitas Tabir Surya Sediaan Krim dan Lotion Ekstrak Etanol Kulit Buah Nanas (Ananas comosus L.Merr).
Jurnal Pharmascience. 2019;6(1):50.
22. Noer HBM, Sundari. FORMULASI HAND AND BODY LOTION EKSTRAK KULIT BUAH NAGA PUTIH ( Hylocereus undatus ).
Jurnal Kesehatan. 2016;11(1):103–4.
23. Robbani K. Uji stabilitas kimia etil p-metoksisinamat dari rimpang kencur (Kaempferia Galanga Linn) dalam sediaan setengah padat.
(Skripsi): Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah;
2015.h.5.
24. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia.
Edisi IV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan;
2019. h. 1584–5.
25. Nasyruddin. Formulasi dan Uji Aktivitas Krim Antioksidan Ekstrak Etanol Umbi Bawang Merah (Allium cepa L) (skripsi).makasar:
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN ; 2011.h.40-42.
26. Hilda N. Pengaruh Pengawet Benzoat Terhadap Kerusakan Ginjal.
Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera. 2015;13(26):14–21.
27. Anief. Salah satu masalah kulit yang sering ditemui di dalam masyarakat adalah jerawat. Jurnal penelitian perawatan profesional.
2012;2(1):1–7.
28. Astriana S. Optimasi propilen glikol dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15% sebagai thickening agent terhadao daya lekat sediaan gel natrium diklofenak. Jurnal Chemstry Informasi Modeling.
2019;01(01):1689–99.
29. Ramadhanti AR. UJI ANTIOKSIDAN DARI PERMEN JELLY EKSTRAK ETANOL 96 % DAUN BIDARA ARAB ( Ziziphus spina- christi L .) DENGAN METODE PERENDAMAN RADIKAL BEBAS DPPH (skripsi): Jakarta; universitas pancasila.2021.h.24.
30. Loar G. Penentuan Bercak Penanda Ekstrak Air, Metanol Dan Etanol 70% Daun Wungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff) Berdasarkan Profil Kromatografi Lapis Tipis (skripsi): Jakarta;Universitas Pancasila Fakultas Farmasi. 2020.h.20.
31. Supriningrum R, Fatimah N, Purwanti YE. KARAKTERISASI SPESIFIK DAN NON SPESIFIK EKSTRAK ETANOL DAUN PUTAT (Planchonia valida). Jurnal Sains Teknologi. 2019;5(1):6.
32. Rahayu ST, Sari RY, Mahayasih PGMW, Utami TP, Eden Y.
Penentuan Sun Protection Factor (SPF) dan Antioksidan Ekstrak Alga Hijau (Ulva reticulata Forsskal) sebagai Tabir Surya dengan Spektrofotometer UV-Vis. Archtikel Pharmacy. 2023;5(1):50–62.
33. Gusnadi D, Taufiq R, Baharta E. Uji Organoleptik dan Daya Terima pada Produk Mousse Berbasis Tapai Singkong sebagai Komoditi UMKM di Kabupaten Bandung. Jurnal Inovatif Penelitian.
2021;1(12):2883–8.
34. Libba IR, Prasetya F, Putri NEK. Pengaruh Variasi Konsentrasi Gelling Agent HEC dalam Sediaan Gel Sariawan Ekstrak Daun Sirih Hitam terhadap Sifat Fisik Gel. Proceeding Mulawarman Pharm Conf.
2020;11:54–60.
35. Fauzia Ningrum Syaputri FNS, Mulya RA, Tugon TDA, Wulandari FW. Formulasi dan Uji Karakteristik Handbody Lotion yang Mengandung Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum). Farm J Sains Farm. 2023;4(1):13–22.
36. Usmadi U. Pengujian Persyaratan Analisis (Uji Homogenitas Dan Uji Normalitas). Inov Pendidik. 2020;7(1):50–62.
37. Dominica D, Handayani D. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Lotion dari Ekstrak Daun Lengkeng (Dimocarpus Longan) sebagai Antioksidan. J Farm Dan Ilmu Kefarmasian Indones. 2019;6(1):1.
38. Rahman AG, Astuti IY, Dhiani BA. Formulasi Lotion Ekstrak Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb) dengan Variasi Konsentrasi Trietanolamin Sebagai Emulgator dan Uji Iritasinya.
Pharmacy. 2013;10(01):41–54.
39. Ajwad MN. Uji Potensi Tabir Surya dan Nilai SPF (Sun Protecting Factor) Ekstrak Etanol Daun Pedang-pedang (Sansevieria trifasciata Prain) Secara In Vitro. Skripsi. 2016;1–139.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Lotion
Dimasukkan ke dalam wadah lotion Parfum sebagai pewangi
asam stearat,cetyl alkohol,gliserin,tea,asam benzoat,parafin cair
Gliserin ,parafin cair,asam benzoat,TEA, dan 1/3 aquadest fase minyak
Fase air
Kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill)
Ekstrak kulit buah apel merah (Malus sylvestris mill)
Ditimbang, dileburkan diwater bath
Masukkan , diaduk sampai homogen menjadi massa lotion
Ditimbang, dileburkan diwaterbath
Diekstraksi
Masukkan sedikit- sedikit , di aduk sampai homogen
Ditambahkan sedikit- sedikit
Lampiran 2. Skema kerja penentuan SPF
Dibuat konsetrasi 500 µg/ml
Ukur serapan pada panjang gelombang antara 290-320 nm setiap interval 5 nm dengan etanol 70%
Dihitung SPF dengan rumus
Nilai SPF
Dengan etanol 70%
Lampiran 3. Kegiatan proposal
No Kegiatan Bulan ke- Tahun
4 5 6 7 8 9 10 11 12 2024
1 Penelusur proposal
2024
2 Penelusuran makalah proposal
2024
3 Ujian proposal
2024
4 Persiapan lapangan 5 Pelaksanaan
penelitian 6 Pengolahan
data 7 Analisis
data
8 Penyusunan buku skripsi 9 Sidang
skripsi