Synopsis
Ini bukan dunia fantasi. Benar, ini bukan dunia fantasi, tapi kalau kubulang aku kembali ke masa silam apa kalian akan percaya?
Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi. Saat itu aku yakin, aku sedang asyik menonton film anime kesukaanku. Lalu mendung gelap disertai petir datang. Aku buru-buru mengangkat jemuran di belakang rumah. Seketika tubuhku menegang tatkala petir menyambar. Pandangan yang terakhir tampak olehku adalah baju yang berserakan dan jemuran yang jatuh menimpa tubuhku. Setelahnya aku tak ingat.
Aku berdiri dan mengucap istigfar saat seseorang memukul kepalaku.
“Bagus, ya, kamu tertidur saat jam pelajaran saya!”
Aku hanya melongo. Suara riuh tawa anak-anak menggema di kelas. Seorang paruh baya yang kukenal berdiri dengan penggaris cokelat panjang di tanggannya.
“Eh, Ibu? Sejak kapan Ibu ada di sampingku?” cengohku. Aku menggaruk kepala sembari mengedarkan pandangan. “Hah!”
“Kamu, kerjakan soal di depan!” ucap Bu Sukma, guru kelasku di kelas IV.
Kalian pasti bingung. Sama, aku juga bingung. Saat ini aku mengenakan seragam merah putih. Tubuhku mengecil, dan tampak lebih kecil dari pantulan mata Bu Sukma.
Kesadarannku belum sepeuhnya kembali. Namun aku dengan langkah pasti maju ke depan kelas, mengerjakan soal matematika yang amat gampang.
Soal begini sih sangat mudah. Sekejap, lima soal volume bangun ruang telah aku kerjakan.
“Bagus, kamu boleh kembali duduk,” perintah Bu Sukma.
“Maaf, Bu, sekarang tahun berapa, ya?” tawa anak-anak lain kembali pecah.
“Kamu masih belum bangun? Sekarang tahun 2004,” sahut Bu Sukma.
“Oh, 2004. Hah, 2004!”
Kini kesadaranku sudah sepenuhnya kembali. Aku menampar pipiku sendiri. Ini tidak mungkin! Aku, seorang perempuan berusia tiga puluh dua tahun kembali ke usia sepuluh tahun.
Gemuruh kelas masih berlanjut. Tubuhku rasanya mau ambruk, lemas. Bu Sukma dengan sigap menangkapku dibarengi bel pulang berbunyi.
“Kamu kenapa?” raut kekhawatiran tampak jelas di perempuan paruh baya yang aku hormati dulu.
“Iya, Bu, tidak apa, saya baik-baik saja.”
“Ya, sudah, kamu boleh pulang yang lain juga sudah pulang,” jawab beliau.
Aku kembali memandang kelas yang kini hanya bersisa beberapa siswa saja. Mulutku tak bisa lagi berucap. Aku segera mengambil tas dan bergegas pulang.
Dan kalian tahu apa yang pertama kali kulakukan saat sampai di rumah? Aku segera mengganti seragam dengan baju biasa dan berlari ke sawah. Tak jauh dariku berdiri, lelaki tua yang tengah beristirahat di bawah pohon jeruk terlihat lelah. Namun senyumnya merekah menatap padi yang tengah menguning.
Kini aku tak bisa lagi menahan rasa sedih. Aku berlari dan memeluk beliau. Ya, dia ayahku. Dengan bingung ia ikut mengeratkan pelukannya dan bertanya banyak hal, khawatir.
Hatiku sedih bercampur gembira. Ayahku wafat di saat aku kelas IX. Saat itu hari di mana orang-orang bergembira, memakai pakaian serba baru, menyamput hari raya Idulfitri.
Namun tidak dengan rumah kami, tangis duka mengiringi kepergian ayahku.
Aku, Alexandra Nindira Putri, wanita berusai 31 tahun yang kembali ke umur 10 tahun.
Keluargaku hanya seorang petani, bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup. Dulu aku bekerja mati-matian sembari kuliah. Setengah dari penghasilan selalu kukirim pulang untuk biaya adikku SMA.
Setelah lulus kuliah dengan nilai tiga koma sekian, aku melanjutkan kerja di lembaga zakat serta mengajar privat, mendirikan lembaga les dengan penghasilan yang terbilang lumayan.
Bisa menguliahkan adikku hingga lulus. Melihatnya menikah dan memiliki anak perempuan yang cantik. Jangan tanyakan aku sudah menikah apa belum. Jawabannya adalah belum.
Aku sedih karena kembali ke kehidupan yang kacau tapi aku bahagia bisa melihat ayah dan ibuku lagi. Aku bertekad memperbaiki ekonomi keluarga dengan pengalaman yang aku miliki sebelumnya.
Kini dua tahun enam bulan sejak aku kembali. Aku mulai memasuki jenjang SMP.
Berdiri di depan cermin dan merapikan seragamku yang sedikit kusut lalu mengenakan hoodi kesayanganku.
“Oke, aku siap berangkat sekolah,” ucapku sembari tersenyum puas. Aku segera ke dapur menemui ibu dan ayah. Lalu berpamitan pergi ke sekolah.
Pertemuan Kembali
Aku berjalan santai di koridor. Ini pertama kalinya aku datang ke sekolah setelah dua minggu berlalu. Sekolah ini tak jauh berbeda dengan dulu. Warna biru putih yang khas, tatanan dan jumlah ruang sekolah yang sudah kuhafal. Aku sedikit tersenyum, teringat pernah ketahuan kepala sekolah saat membolos. Menabrak badannya yang gembul lalu terdiam sesaat, terpesona pantulan cahaya dari kepalanya yang botak di bagian depan.
“Au!” erangku saat bertabrakan sedengan siswa lain.
“Maaf, Kak, gak sengaja,” ucapnya takut.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, lalu berbelok ke arah ruang kepala sekolah. Dia pikir aku kakak tingkat, padahal aku kan baru masuk SMP. Tapi wajah takutnya terlihat lucu. Meski mengingat banyak dan tata ruang, aku tak mengingat siapa saja yang pernah kutemui dulu.
Maklum banyak waktu terlewat, dan aku juga termasuk orang yang cuek dengan sekitar.
“Assalamuallaikum,” ucapku setelah mengetuk pintu tiga kali.
“Waallaikum salam,” sahut suara dari dalam. “Masuk,” ucapnya lagi.
“Permisi, Pak, saya Alexandra Nindira Putri.”
Lelaki yang sibuk dengan berkas di meja mendongak. Ia memperbaiki kaca matanya lalu tersenyum. Ah, lelaki tua ini, meski tua ketampannyanya masih tersirat. Aura bijaksanannya masih saja membuatku meneguk ludah.
“Alexandara, akhirnya kamu sekolah juga. Kalau hari ini kamu masih tidak datang, Bapak berencana mencoret namamu dari daftar siswa,” ucapnya.
“Hehehe, iya, Pak. Maaf, kebanyakan libur,” sahutku. Entah mengapa aku merasa akrab dengan beliau. Emm, dulu kami sering kejar-kejaran. Meski unggul dalam segi pelajaran, tapi aku sangat minus dalam segi sikap.
“Kamu temui guru TU dan tanyakan di mana kelasmu. Saat jam istirahat nanti temui saya lagi,”
ucap Pak Joko, matanya kini kembali pada berkas yang menumpuk di meja. “Gara-gara kamu Bapak harus menemui diknas pendidikan.”
“Hehehe, maaf, Pak. Tapi Bapak gak akan rugi menerima saya di sekolah ini.”
Pak Joko menatapkiu sejenak, lalu tersenyum. “Bapak nantikan janjimu.”
Aku pun pamit menemui guru TU. Bel masuk sudah berbunyi sejak aku masuk ke runag Pak Joko.
***
“Permisi, Bu.”
Bu Meli menghentikan pelajarannya dan menoleh ke arah kami. Kalau waktu masih sama seperti dulu, beliau adalah guru matematika sekaligus wali kelasku.
“Silahkan masuk, Bu.”
“Ini Axendra baru masuk. Dia jadi bagian kelas Ibu,” ucap Bu Surti lalu keluar kelas.
“Hallo, Bu, saya Axendra,” ucapku memperkenalkan diri. Kurasa semua mata memperhatikanku.
“Oh, kamu yang namanya Alexandra Nindira Putri. Kenapa baru masuk?” selidik Bu Meli.
Ah, beliau masih terlihat cantik seperti dulu. Badannya mungil, mungkin saja sebentar lagi akan kusalip tingginya. Ia memperhatikanku dari atas hingga bawah.
“Ah, maaf, Bu. Saya sudah izin sebelumnya dengan kepala sekolah.” Aku enggan menjawab kenapa aku baru masuk. Kalau beliau tahu alasannya, pasti nilaiku akan langsung minus.
“Baik, karena baru masuk, sekarang kamu perkenalkan diri dulu.”
Aku melihat sekitar kelas sebelum memperkenalkan diri. Sebenarnya sangat malas, tapi mau bagaimana lagi. Lagian aku hanya memperkenalkan namaku saja, dan tidak perlu mengetahu nama mereka. Ada beberapa siswa yang aku ingat, salah satunya ada ketua kelas dulu. Kulitnya yang mencolok dengan badannya yang kekar. Ya, kulitnya lebih gelap ketimbang yang lain.
Namanya pun mudah dihafal. Aljabar, ya, kalian tidak salah dengar. Namanya Aljabar, untuk nama panjangnya aku tak ingat.
“Hallo, nama saya Alexandra Nindira Putri, kalian bisa memanggilku Alex atau Andra,” ucapku.
“Sudah, Bu, boleh saya duduk?” aku sengaja ingin cepat duduk.
“Silahkan, kamu duduk di sana.” Bu Meli menunjuk meja paling depan, tepat di depan meja guru. Tempat duduk paling dihindari semua orang. Wajar, akan sulit mencontek atapun makan di kelas.
Aku mengikuti pelajaran dengan bosan. Dulu aku mengajar matematika dan fisika, materi aljabar membuatku bosan. Sementara mau mengerjakan soal aku belum punya buku penunjang.
Dua jam berlalu dan berganti pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelumnya aku sangat muak dengan pelajaran satu ini. Meski warga Indonesia tulen, aku sangat mengantuk jika pelajaran Bahasa.
Namun, sejak mengenal dunia kepenulisan dan menjadi editor aku sangat menyukai bahasa Indo.
Hahaha, aneh bukan. Dari sangat membenci bahasa Indonesia sampai mencintai. Itu kisah yang amat lucu, berawal dari film anime yang kukoleksi dihapus dengan seseorang yang sudah kuanggap kakak sendiri, aku marah dan malah nyemplung ke dunia literasi hingga menjadi editor dan bekerja freelice copywriting.
Tak terasa waktu istirahat tiba. Siswa-siswa di kelas berhamburan keluar. Mungkin saja mereka ke kantin atau main ke kelas lain atau sekadar duduk-duduk di depan. Aku mengeluarkan I-pad dan mulai menulis.
Sejak mendapat Ipad, aku focus menulis karena bisa dibawa ke mana-mana berbeda dengan laptop yang berat. Banyak hal yang bisa aku kerjakan. Pertama aku membuat blogger dan mengelolah hingga pengikutnya lumayan dan mengahasilkan cuan. Sekarang aku mulai menulis novel.
oh, iya, Ipad ini kudapat dari hasil Try-Out bersma GO. Aku sengaja membolos sehari sekolah dan pergi ke kota untuk mengikuti Try Out. Informasi aku dapatkan dari Koran yang kupinjam dari teman.
Sesuai dengan tekad, aku ingin mengubah ekonomi keluarga. Dari berjualan donat di pasar setiap hari Minggu, menjadi menitipkan di setiap warung-warung. Aku juga membuat krupuk kemplang, kerupuk pangsit, dan juga keripik usus yang kutitipkan di warung. Alhadulillah, pengasilan bisa membantu meringankan ayah dan ibu. Sejak mengelolah blogger, penghasilanku lebih meningkat.
Bisnis donat masih berjalan dengan bantuan lima pekerja. Dua sebagai pembuat donat dan yang dua lagi penditribusi. Untuk pembukuan dan pembelian bahan aku sendiri yang menghandle.
“Hay.”
Aku mendongak, seorang siswa mengulurkan tangnya. Aku ingat anak ini. Namanya juga tak kalah unik dengan ketua kelas.
“Aku Catur Ningsih Sari,” ucapnya sembari tersenyum.
“Alexandra, panggil saja Andra atau Alex.” Kujabat tangannya.
Catur memiliki tubuh yang tinggi. Aku hanya sehidungnya saja. Dulu aku tidak akrab dengannya, sekadar tahu teman sekelas. Dia berdarah campuran Jawa-Bengkulu. Kulitnya sawo matang, manis.
“Kamu belum punya buku kan?”
“Iya.”
“Pakai saja bukuku, nanti kami bisa pakai buku Laras.”
Aku menoleh ke belakang. Jika Catur tinggi maka berbeda dengan Laras. Dia imut, tingginya mungkin sepundakku. Ah, dulu aku juga pendek, tapi sekarang berbeda karena aku rajin olahraga selepas subuh.
“Laras,” ucapnya.
“Alex. Kalian tidak ke kantin?”
“Sudah tadi. Kami hanya beli gorengan dan makan di kelas,” ucap Laras malu-malu. “Kenapa kamu telat masuk sekolah?”
“Ini rahasia, aku pergi ke Jepang,” jawabku berbisik.
Beberapa anak sudah ada yang kembali ke kelas. Ada yang berkejaran, menyanyi dan tertawa lebar. Di kelas ini kulihat ada dua siswa yang alumni SD sama denganku. Aku tak terlalu mengenal, kami tidak akrab.
“Wow, Jepang! Ngapain ke sana?” Catur tampak antusias.
Brak!
Kami terlonjak saat seorang perempuan menabrak mejaku.
“Au,” ringisnya. “Maaf gak sengaja.” Wajahnya tampak merah.
“Hahaha, kamu sih lari-lari. Maaf, ya, dia memang sedikit ceroboh.” Siswi lain menghampiri kami.
Sesaat aku terpanah. Ah, inilah alasanku sekolah di sini. Padahal nilaiku tertinggi se provinsi Bengkulu. Aku bisa saja mengambil sekolah di kota yang terbilang bagus.
“Bianca,” ucapnya sembari tersenyum.
Rindu yang berpuluh-puluh tahun kutahan. Pertemuan yang selalu kubayangkan sebelumnya.
Aku terpesona. Dulu dialah sahabat yang selalu manja dan tak pernah absen tidur di pundakku.
“Woy.” Catur menyenggol pundakku. “Mala melamun.”
Sekali lagi aku memandang wajah itu. Matanya yang cokelat tak penah gagal menghipnotisku.
“Alexandra.” Aku menyambut uluran tangnnya yang entah sudah berapa menit mengudara.
“Ini Lisa sahabatku dari SD. Dia juga sahabatku.” Bianca menunjuk Catur.
“Oh, iya, salam kenal,” ucapku gugup. Aku memilih memperbaiki dudukku.
Bel masuk membubarkan perkumpulan mendadak kami. Aku menghela napas panjang, memasukan Ipad dan mengeluarkan buku.
“Sebentar, sepertinya aku lupa sesuatu?” gumamku. Entah apa yang aku lupakan.
“Siapa yang namanya Alexandra?”
“Saya, Bu,” ucapku.
“Kamu ditunggu di ruang kepala sekolah.”
Ah, pantas saja aku merasa melupakan sesuatu. Ternyata janji menemui Pak Joko saat istirahat.
“Baik, Bu. Saya permisi.”
Saat hendak melewati pintu, aku melirik Bianca. Ia mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum. Aku hanya melongo, lalu melanjutkan perjalanan menemui kepala sekolah.
“Permisi, Pak, maaf saya lupa menemui Bapak.”
Pak Joko menurunkan kaca matanya sedikit. “Kamu ini, Bapak tunggu dari tadi. Ini.”
Aku mengambil selembar kertas yang disodorkan Pak Joko. Setelah membaca sebentar, aku mulai mengisi beberapa data.
“Alexandra, besok kamu ikut seleksi olimpiade. Kamu mau matematika atau Fisika?”
“Saya Fisika saja, Pak.”
“Kamu yakin tidak mengambil Matematika?” selidik Pak Joko. Ia menatapku dengan lekat.
Keriput di dahinya sudah tiga.
Aku tersenyum hangat. Beliau pasti beraharap aku mengambil Matematika. Sebab Pak Joko ahli dalam Matematika. Beliau sering masuk ke kelas manapun mendadak. Memberi kuis para siswa dengan soal yang bikin banjir keringat.
“Iya, Pak, saya pilih Fisika saja. Kalau boleh dua saya akan mengambil keduanya.”
“Baiklah, besok berangkat lebih pagi, kita harus pergi jam 06.45 tepat. Pukul 07.15 tepat harus sudah ada di sana.”
“Yang ikut siapa saja, Pak?”
“Ada lima orang termasuk kamu. Dari sekolah akan berangkat dengan mobil Bapak.”
“Dari kelas VII ada yang lain selain saya, Pak?”
“Tidak ada. Untuk yang lainnya dari kelas VIII dan IX.”
“Baik, Pak, saya permisi dulu. Ini datanya sudah saya isi.”
“Oh, iya, jangan lupa izin dengan wali kelasmu. Biar diizinkan sehari tidak mengikuti pelajaran.
Dan jangan lupa izin dengan orang tua.”
“Baik, Pak. Permisi.”
***
Aku melewati beberapa pelajaran. Pumpung tidak masuk kelas, aku memilih masuk perpus. Ada Bu Novia yang menyambutku dengan kerutan.
“Kenapa gak masuk kelas?”
“Mau cari bahan untuk seleksi besok, Bu. Tadi sudah minta Pak Joko,” ucapku asal. Tapi aku tidak bohong mengenai mencari bahan untuk besok.
“Dari kelas berapa?”
“Kelas VII A, Bu.”
“Sudah buat kartu perpus?”
“Belum Bu. Saya baru masuk hari ini.”
Beliau mengerutkan keningnya lagi. “Oh, kamu Alexandra, ya. Semua guru membicarakanmu karena dua minggu belum masuk juga.”
Aku tersenyum dan menulis namaku di buku. “Bu, boleh minjam computer gak?” Aku teringat ada 2 koputer di perpus.
“Kamu bisa pakai computer?”
“Bisa, Bu.” Aku lupa kalau anak-anak yang lain belum bisa pakai computer, hanya beberapa saja mungkin. Maklum di pedesaan jarang yang punya computer. Dan di pelajaran SD kami belum ada pelajaran TIK seperti kurikulum kota. “Sekalian minta password WiFi dong, Bu.”
“Pakai yang paling kiri, ya. Jangan nonton macam-macam. Itu passwordnya,” ucap Bu Novia memastikan.
“Siap, Bu, palingan semacam saja,” ucapku bercanda.
Bu Novia melotot. Aku lekas pergi sebelum ditipuk pakai pena.
Aku mulai menyalakan computer dan berkutat dengan bogger. Di sini selain membahas mengenai pelajaran aku juga membuat bogger khusus membahas anime. Di rumah aku sudah memiliki satu laptop dan juga kamera. Rencananya aku akan membuat aku YouTube. Sudah ada beberapa bahan yang siap aku up. Karena sinyal yang tergolong sulit, aku masih focus ke bogger.
“Kamu ngerjakan apa?”
Aku menoleh, Bu Novia menghampiriku sembari membawa teh. “Nih untukmu. Jangan terlalu serius nanti cepat tua,” candanya.
“Makasih, Bu. Ini loh Bu, saya buat blogger, jangan lupa kunjungi ya, Bu.”
“Hah, ini lamanmu?”
Aku mengangguk. Bu Novia berekspresi tak percaya. “Kenapa, Bu?”
“Ibu saja gak bisa buat blogger yang begini. Kamu sejak kapan bisa buat yang keren gini?”
“Hahaha, Ibu bisa saja. Sejak kelas lima akhir, Bu. Waktu pertama kali punya laptop,” ucapku sembari bergeser karena Bu Novia mengambil alih computer. Beliau melihat-lihat dan berdecak kagum berkali-kali.
“Ajari Ibu dong.”
“Boleh sih, Bu. Wani piro?” gurauku sambil tertawa.
Bu Novia memandangku lekat. Aku menelan ludah, kenapa jadi horror tiba-tiba.
“Kamu mau berapa?” tanyanya dengan serius.
“Eh, saya hanya bercanda, Bu.”
“Tidak-tidak, Ibu akan membayarmu. Ilmu itu mahal, Ibu akan membayar sesuai hargamu,” ucap beliau serius.
“Emm, kita bicarakan itu nanti, Bu. Soalnya besok aka nada olimpiade, nanti kalau kegiatan sudah selesai kita bisa membicarakan itu lagi.”
“Baiklah, deal.”
Kami berjabat tangan. Bu Novia lalu kembali ke tempatnya dan aku melanjutkan pekerjaanku.
Bel istirahat kedua terdengar, aku masih enggan beranjak. Ada beberapa siswa yang masuk perpus. Sayup-sayup kudengar perbincangan Bu Novia dengan mereka.
“Alexa, kamu dipanggil Bu Meli,” ucap Bu Novia.
Aku mengangguk, segera merapikan pekerjaan dan mematikan computer. “Saya pergi dulu, Bu, terima kasih tehnya.”
***
“Permisi, Bu.”
Saat ini aku tengah menghadap wali kelas. Meja beliau berada paling belakang dekat jendela.
Dari jendela terlihat pemandangan samping. Ada beberapa pohon sawit dan pohon jarak china.
Angina yang masuk terasa segar.
“Duduk dulu, Al.”
Bu Meli beranjak ke lemari depan. Ruang guru di sini seperti ruang kelas. Seluruh guru menjadi satu ruangan. Di depan ada tiga lemari besar dan dispenser. Sementara ruang TU ada di samping ruang guru, dan ruang kepala sekolah berada di depan, menghadap lapangan tengah.
“Kamu belum punya buku pegangan kan. Ini paket LKS yang digunakan untuk satu semester ke depan. Untuk jadwal pelajaran dan piket kamu bisa lihat di madding kelas.”
“Baik, Bu, berapa harganya?”
“Untuk satu paket 120K dan untuk buku lain kamu bisa pinjam ke perpus. Kalau bisa kamu beli buku tambahan di Gramed**.”
Aku mengangguk. “Oh, iya, Bu, besok saya harus mengikuti seleksi olimpiade tingkat kecamatan, Bu. Jadi tidak ikut belajar seharian. Bisa tolong buatkan surat izin?”
Bu Meli melihatku sejenak, lalu menulis entah apa di buku besar. “Kamu ikut pelajaran apa?”
tanyanya.
“Fisika, Bu.”
Beliau tersenyum. “Bagus, kalau ada yang mau kamu tanyakan langsung saja ke Ibu atau ke Pak Yohan.”
“Hah,” sahut guru lain. “Kenapa denganku?” tanyanya.
Ternyata itu Pak Yohan. Dulu aku belum sempat diajari beliau keburu dipindah tugaskan.
“Ini anak saya ikut olimpiade Fisika,” ucap Bu Meli bangga.
“Siapa namamu?” Tanya Pak Yohan yang kini pindah duduk di sebelahku.
“Alexandra Nindira Putri, Pak.”
“Oh, kamu yang mendapat nilai terbesar seprovinsi Bengkulu, ya. Yang baru masuk hari ini.
Hahahaha, hebat juga kamu, bagus bagus. Tanya apa saja dengan Bapak, akan Bapak bantu sebisanya.”
Aku mengangguk pasti. Beliau memang terkenal pintar. Baik dalam mengajar dan juga pelajarannya. Sayangnya Pak Yohan terkenal suka merayu anak murid. Dia juga Pembina pramuka tingkat kecamatan.
“Kalau begitu saya permisi, Bu. Mohon kerja samanya juga, Pak.”
“Baik-baik, kamu jangan terlalu kaku begitu. Saya tidak makan orang,” kelakar Pak Yohan.
Aku hanya tersenyum dan berlalu. Bukan apa-apa, aku paling malas dengan orang tipe Pak Yohan. Justru aku malah senang dengan sifat Pak Joko. Beliau galak, sekaligus lucu jika sedang berwajah serius. Beliau juga suka bercanda, namun dalam tahap wajar.
***
Ah, ini hari yang lumayan melelahkan. Tasku yang tadinya berisi tiga buku sekarang bertambah menjadi lima belas buku. Siswa di sini ternyata diwajibkan mengikuti eskul setidaknya satu. Aku masih belum mengambil satu eskul pun. Perasaan dulu tidak diwajibkan. Soalnya dulu aku sepulang sekolah langsung membantu Ortu di sawah.
Aku melepas handseat dan menurunkan tudung hoodi saat Bianca menghampiri.
“Belum pulang.”
“Ini baru mau jalan.” Aku hanya memandangnya sekilas dan berpura-pura sibuk dengan tasku yang sudah tertutup. Tanganku mulai merogoh laci meja lalu merapikan hoodieku yang sudah rapi.
“Tadi ke mana?”
“Ruang kepala sekolah.”
Hening, aku memilih diam, tapi tak juga beranjak. Bianca duduk di meja sebelah. Entah apa yang dia tunggu.
Lima menit berlalu dengan saling diam. “Kamu gak pulang?” tanyaku.
Dia menoleh. “Kalau kamu mau pulang silahkan. Aku masih menunggu Bang Candra.”
Aku megangguk dan kembali duduk. Kubuka tas dan mengeluarkan Ipad. Berpura-pura sibuk.
Padahal hanya melihat galeri.
Bosan melihat galeri aku memutar music dengan suara pelan. Seketika Bianca tertawa. “Memang gak ada lagu lain?”
Aku menoleh dan menggaruk kepala. Lagu mengheningkan cipta masih terdengar dari Ipadku.
“Kenapa gak pulang?” tanyanya lagi.
“Menunggu Bang Candra,” ucapku.
Dia tersenyum dan kami kembali diam. Menunggu setidaknya setengah jam Bang Candra baru muncul.
“Maaf, tadi ada tambahan jam,” ucapnya ngosngosan.
Bianca mengembungkan pipinya. Dia berjalan dengan menghentak-hentakan kaki. Mengomel tak jelas dan melemparkan tasnya.
Aku hanya melongo. Apa dia tidak malu denganku. Atau jangan-jangan aku dianganggap angin lalu.
Bianca kembali berjalan ke arahku. Tangannya terulur dan mengelus pipiku. “Makasih sudah menemani. Aku pulang dulu. Besok jangan ngilang, gabung saja denganku,” ucapnya lalu pergi dengan Bang Candra.
Aku? Jangan tanyakan. Kakiku lupa berpijak apalagi berjalan. Aku memilih duduk diam beberapa saat. “Sialan,” ucapku setelah sadar sepenuhnya. Perasaan dulu Bianca tidak begitu.
Maksudku, dia tidak seagresif itu memang pipi dengan orang yang baru dia kenal.
Aku mengernyit saat melihat mereka masig di parkiran. “Kok lama?” Tanya Bianca.
“Hah.” Aku masih bingung.
“Ngapain tadi di kelas. Bukannya cepat pulang juga?” tanyanya dengan nada ngambek.
“Hah. Oh, kakiku kesemutan,” ucapku asal.
“Sudah, yuk pulang,” ucap Bang Candra yang mulai menghidupkan motornya. Aku melihat mereka berlalu sejenak sebelum ikut meninggalkan sekolah.
Aneh, pikirku sembaru tersenyum.
Belajar Kelompok
Hari ini aku mengenakan baju olahraga SD karena baju SMP belum keluar. Setiap hari Sabtu ada senam bersama sebelum belajar. Pun belajar tidak banyak, kami pulang jam sebelas.
Dari baju, saya bisa tahu alumni mana saja siswa-siswa yang lain. Ternyata lumayan banyak yang dari alumni sekolahku. Aku sekadar tahu dari bajunya. Ada juga wajah yang kukenal karena sekelas di kelas enam.
Sahabatku yang lain melanjutkan ke SMP favorit. Entahlah kenapa aku terdampar di sini? Selain permintaan ayah, aku juga ingin melihat Bianca lagi. Dulu kami bersahabat, tapi kandas setelah ujian SMA. Perkaranya terlalu banyak hingga aku lupa. Yang jelas perbedaan ekonomi keluarga dan aktivitas kami. Aku terlalu sibuk membantu keluarga, sementara dia asyik bermain ke sana- kemari bersama teman yang lain. Ah, apa ada masalah yang lain, ya?
“Minggir!” ucap Bianca sakartis.
Aku menghendikan bahu. Kenapa nih anak? Kok bisa sih dulu aku sahabatan sama anak ngambekan gini?
“Ke mana saja?”
“Hah.”
“Hah heh hah heh. Kalau ditanya bisa gak langsung jawab!”
“Oh, aku ikut olimpiade,” jawabku. Aku melirik teman-temannya yang lain. Mereka juga menggeleng.
“Kenapa gak bilang waktu itu?”
Aku menggaruk kepala, tidak tahu mau jawab apa. Mungkin karena pada dasarnya aku sudah dewasa, jadi terasa kekanak-kanankan sifat Bianca. Tapi kalaupun dipikirkan, kami kan baru ketemu sehari waktu itu. Dan tiga hari kemarin aku ikut seleksi olimpiade dilanjutkan olimpiade tingkat provinsi, lalu izin sehari tidak masuk.
Tidak mendapat jawaban, rombongan Bianca berlalu mencari barisan. Aku memilih barisan bawah pohon. Tapi belum mulai senam, Pak Joko sudah memanggil duluan.
“Masuk Al. Namamu terlalu panjang, Bapak susah mau manggil.”
“Panggil Lexa saja kalau gitu, Pak.”
“Oke, Lexa, selamat kamu lolos tingkat provinsi. Tidak sia-sia Bapak menerima kamu yang dua minggu bukannya masuk sekolah malah jalan-jalan.”
Aku melotot kaget. “Bapak tahu aku ke Jepang?” tanyaku tak percaya.
“Tahulah, Bapak ketemu sama orang tuamu. Bapak yakin kamu hanya alasan urusan penting ke sana.”
“Hehehe, iya, Pak. Saya ketemu sama komikkus kesukaan saya,” ucapku malu-malu.
Memang aku ke Jepang untuk menemui Oda Sensei. Namun tidak selama itu. Aku sibuk mengurus hak paten kulir-kilir. Aku mendaftarkan produk bakso goreg dan produk lainnya setelah memilih kemasan yang kurasa menarik. Saat ini produknya sudah masuk ke Hyper****
masih local sih. Tapi suatu saat akan menjadi buming. Hahahaha, sebelum ada yang membumingkan.
Aku juga sudah mulai mengiklankan di TV local dan media cetak. Di halaman boggerku juga.
Dan tidak sedikit pengikutku yang order.
Selain itu, selama liburan aku mencari tempat yang strategis di kota untuk membuka toko. Aku ingin mengembangkan sayap.
“Desember nanti olimpiade tingkat nasional. Kamu harus belajar, jangan mentang-mentang masih lima bulan lebih kamu jadi sibuk dengan bisnismu.”
“Iya, Pak.” Aku memilih duduk di sofa. Inilah enaknya di runag kepala sekolah. Sudahlah ada sofa, ada ac ada juga ruang kosong untuk bersantai.
“Ini piagam dan ada uang saku dari diknas. Untuk biaya perjalanan tidak ditanggung sepenuhnya dengan sekolah. Kamu kira-kira sanggup gak?” ucap Pak Joko mengejek, beliau ikutan duduk menghadapku.
“Insyaallah ada, Pak,” sahutku sembari tertawa.
“Oh, iya, bagaimana dengan bisnismu?”
“Alhamdulillah lancar,Pak. Doakan selalu lancar ya, Pak.”
Kalau mengingat wajah Pak Joko dua hari lalu rasanya mau ketawa lagi. Kamis kemarin akhirnya toko kueku resmi dibuka. Sebelumnya memang sudah beroperasi. Liburan sekolah lalu aku manfaatkan untuk membuka toko kue. Walaupun modal cukup besar, karena membeli ruko di kota. Namun sepadan dengan banyaknya pelanggan.
Dalam grandopening, aku mengundang beberapa toko terkemuka, salah satunya Bapak Diknas Provinsi, ada juga Pak Wali Kota. Aku juga memanggil media. Ekspresi Pak Joko waktu itu
sunggu lucu. Beliau komat-kamit sendiri, mungkin juga di sanalah beliau bertemu orang tuaku dan menanyakan perihal aku ke Jepang.
“Andra Cake” itu merek yang aku pakai di toko. Aku membeli dua ruko tiga tingkat. Satu ruko untuk tempat produksi dan ruang kariawan. Satu lagi untuk penjualan. Tidak hanya kue, tapi ada juga berbagi minuman dan makanan.
Gedung kucat dengan warna orens dipadu hijau. Tempatnya cukup strategis. Selain dekat dengan sekolah, juga dengan perkantoran dan hotel.
Tingkat tiga aku gabunkan menjadi ruangan besar untuk rapat maupun acara penting. Jadi bisa disewakan kalau ada acara ulang tahun ataupun lainnya. Ada juga ruang outdoor yang kuhias dengan lampu-lampu dan pernak-pernik lainnya. Kalau weekend akan sangat ramai terutama muda-mudi. Aku juga menerima orderan untuk acara besar dan kecil.
“Sejak kapan kamu bisnis?”
“Lumayan, Pak, hampir tiga tahun. Dari berjualan donat di pasar, menitipkan di warung dan bertekad membuka toko sendiri.”
“Itu gedung sewa?”
“Tidak, Pak, saya membelinya enam bulan yang lalu.”
Pak Joko melongo. Lucu sekali beliau. Wajah tuanya menghilang, ekspresi wajahnya seperti anak kecil.
“Dari jualan donat bisa beli ruko dan membuka toko?”
“Hahaha bukanlah, Pak. Saya mengelolah blogger dan membuat novel. Ceritanya panjang, akan memakan waktu.”
“Bapak bisa mendengarkan,” jawab Pak Joko pasti dan mengubah duduknya menjadi sigap.
“Hahaha, tapi saya mau senam, Pak. Itu sudah mau mulai, lain kali saja kita bercerita.” Aku mencari alasan agar tidak tertahan di sini.
Pak Joko setujuh, dan membiarkanku ikut senam. Piagam dan uang saku aku titip terlebih dahulu di ruangan beliau.
***
Kami sudah mengganti seragam olahraga dengan pramuka. Saat ini Pak Swis sedang menjelaskan tentang sejarah kerajaan Hindu-Budha. Pelajaran di tahun ini berbeda dengan tahun 2015 ke atas. Saat ini masih belum digabung, seperti Biologi, Fisika, Sejarah, Ekonomi, Geografi dll.
Aku menguap bosan. Ini salah satu pelajaran yang kurang kusukai, Sejarah. Bayangkan saja, habis olahraga belajar Sejarah? Bagaimana tidak mengantuk.
Jam istirahat pun tiba. Siswa berhambur keluar, bahkan sebelum Pak Swis keluar. Aku merebahkan kepala, memilih tidur sejenak, super ngantuk.
“Alexandra.”
Aku mendongak. “Apa?” ternyata Catur yang memanggil.
“Kita satu kelompok Fisika. Rabu kemarin Bu Meli membagi beberapa kelompok.”
Aku masih menunggu kelanjutannya.
“Aku, Novi, Asih, kamu dan Bianca.”
Ah, sial, kenapa harus satu kelompok. Ya, tapi aku senang kok. Hahaha.
“Hari ini kita kerja kelompok di ru—“
“Nanti kerja kelompok di rumahku.” Bianca memotong perkataan Catur. Anak itu masih ngambek dari nada bicaranya.
“Jam?”
“Dua, jangan telat!”
“Bukannya jam—“
“Aku bilang jam dua.”
Aku mengangguk dan kembali merebahkan kepala. Sumpah ini kantuk tidak bisa ditahan, padahal di depanku ada nona kecil yang ngambek.
“Issh!”
Aku kaget saat Bianca menggebrak meja dan berlalu. Kepalaku terasa pusing. Ternyata bukan hanya aku, Catur dan Laras juga kaget.
“Kalian kenapa?” Tanya Laras.
Jangan Tanya padaku, Ras, Tanya saja pada temanmu itu. “Gak tahu, lagi dapet kali dia.”
Catur dan Laras mengangguk bersamaan. “Aneh,” ucap mereka bersamaan juga.
Setelahnya kami tertawa. Dan aku tidak jadi tidur!
***
“Nak Lexa kamu gak apa-apa?”
“Gak apa Tante, Cuma sedikit nyeri.” Aku meringis menahan sakit bokongku. Sementara Bianca tertawa terbahak-bahak. Sunggu tega anak itu.
“Aca kenapa kamu malah tertawa? Lagian kenapa kalian di sini?” Tante Lela melotot ke arah Bianca. Lama sekali aku tak mendengar Tante Lela memanggil Aca.
“Habis Alexandra lucu, masa takut sama angsa. Hahaha.”
Wah parah ini anak. Dia gak tahu bagaimana menakutkannya angsa. Apalagi yang memiliki anak. Dulu, saat aku kecil pernah disosor induk angsa saat membawa lari anaknya. Betisku sampai membiru. Walaupun sudah sangat lama, trauma terhadap makhluk satu ini masih kurasakan.
“Sudah sana kalian pulang. Mama masih mau lanjut kerja lagi.”
Kami memilih pulang ke rumah Bianca. Kalian tahu, ternyata kerja kelompok jam empat, karena ada yang eskul hari ini.
Pulang sekolah aku langsung bersiap ke rumah Bianca. Aku sengaja membeli cokelat untuk meredam amarahnya yang entah kenapa aku pun tak tahu.
Saat sampai di depan rumah Bianca, dia mengajakku ke tempat kerja mamanya. Oh, iya, Bianca ini anak orang berada. Dulu aku sempat iri dengannya. Dia juga pernah mengejekku yang tidak pernah main atau sekadar bersantai sepulang sekolah. Namun berkat itu, kami jadi dekat.
Bianca membuka pagar rumah. Rumahnya tidak tingkat, tapi luas. Arsitektur klasik modern.
Kolam mancur yang dikelilingi bunga tampak cantik.
“Bentar jangan masuk rumah dulu.” Bianca berlari masuk dan aku memilih duduk di kursi yang menghadap kolam. Sambil menunggu, aku menghitung berapa banyak kendaraan yang lewat melalui cela pagar dan suara kendaran.
“Dah yuk masuk.”
Aku mengekori Bianca. Dia masuk ke kamarnya. Aku memilih duduk di depan televise.
“Ngapain di sana, sisni masuk.”
Aku cengoh, pikiranku melayang. Ini anak mengajak masuk ke kamar, mau ngapain? Aku langsung menggeleng saat membanyangkan hal aneh. Lagian kenapa dia main ajak masuk kamar segala. Memang tahapan pertemanan dia yang dulu dan sekarang beda, ya?
“Aku di sini saja.”
“Masuk!”
Tidak ingin membuatnya lebih marah, aku pun ikut masuk ke kamarnya. Seketika aku mematung, mataku menangkap sesuatu.
“Kenapa?” ucapnya polos.
“Itu.” Aku menunjuk ke ujung ranjang.
“Sial, perasaan tadi sudah kurapikan.” Wajah Bianca memerah. Aku pun tak kalah merah, lagian kenapa mataku bisa gercep kalau lihat BH, eh.
Aku pura-pura sibuk melihat rak buku saat Bianca kembali masuk kamar. Dia duduk di ranjang.
Kami masih saling diam.
Aku berdehem untuk memecah kesunyian. Dia hanya melirik saja.
“Maaf,” ucapku sambil menyodorkan cokelat.
“Untuk?”
Aku menggeleng.
“Ngapain minta maaf kalau gak tahu!”
“Maaf untuk ketidaktahuanku.”
Bianca masih menatap tajam. “Buka.”
“Hah.”
“Issh, buka cokelatnya. Memang bisa dimakan kalau masih ada kulitnya.”
Hoh, kirain apa yang dibuka.
“Kenapa gak bilang kalau olimpiade?”
“Maaf.”
“Selamat.”
“Untuk?”
“Bukannya kamu menang, ya.”
“Oh, iya, thanks.”
Hening. Bianca memilih tiduran sambil mengamati cekelat. Kenapa gak langsung dimakan saja sih, padahal sudah dibuka. Kalau meleleh kan repot.
Aku duduk di tepi ranjang sembari mengedarkan pandangan. Kamar yang dominan putih dan ada beberapa warna biru ini sangat cantik. Ada beberapa foto yang terpajang.
“Kenapa bilang jam dua kalau jam empat.” Aku teringat ucapan Catur, katanya kerja kelompok jam 2 karena dia dan Asih ada eskul bulu tangkis.
“Biar gak ngaret.”
“Tapi kan gak harus jam dua juga. Jam setengah empat kek.”
“Protes?”
Aku memilih menggeleng. Kami saling tatap cukup lama. Kayanya dia ngajak adu tatap-tatapan deh. Dia gak berkedip sama sekali.
“Alexandra Nindira Putri.”
“Iya, Bianca Andara Page.”
“Alexandra Nindira.”
“Iya, Bianca Andara.”
“Alexandra.”
“Iya, Bianca.”
“Al.”
“Iya, Bi.”
Entah apa yang dia pikirkan, kami saling memanggil satu sama lain. Dari nama lengkap sampai nama singkat. Tapi asyik juga.
“Tunggu, kok tahu nama panjangku?” selidik Bianca.
“Dari absensi kelas,” elakku.
“Perasaan kamu baru dua kali masuk sekolah dan guru juga manggil dengan nama pendek.”
Bianca tambah curiga.
Aku sedikit gelagepan, tapi cepat menguasai diri. “Aku lihat di absen saat di ruangan Bu Meli.”
“Oh.”
Kami kembali hening. Bianca sibuk mengunyah cokelat, sementara aku lihat dia makan cokelat.
Kenapa tadi beli Cuma satu sih, tahu gini beli camilan lain.
“Aku punya ide. Gimana kalau kamu ajari aku soalnya, nanti biar aku yang ajari mereka.”
Mata Bianca berbinar seolah mendapat ide yang begitu brilian. Tanpa sadar aku mengusap cokelat di bibirnya, lalu menjilat jariku.
Shit, apa yang kulaukan? Karena terlanjur, aku malah mengusap cokelat yang belum sepenuhnya bersih dan kembali kujilat. Sialan apa sih yang kulakukan? Mana Bianca diam saja lagi.
“Ah, maaf.”
Seolah tersadar, Bianca beralih duduk dan merapikan rambutnya. Tangan kurang ini meremat kaosku, bersiap kalau-kalau ditampar. Tapi di luar dugaan, Bianca kembali menanyakan idenya dengan suara yang lebih lirih.
“Gimana ideku?”
Tanganku kembali rileks. Aku menoleh ke samping berlawanan dengan Bianca menahan malu.
“Emm,” ucapku tak kalah lirih.
Kurasakan pergerakan Bianca yang turun dari ranjang. Ternyata dia mengambil buku, lantas memberikan padaku.
Kami belajar di atas ranjang dengan duduk berhadapan. Sesungguhnya aku masih malu dengan apa yang kulakukan. Mungkin dia akan mengganggap aku aneh, sama seperti aku menganggapnya aneh yang mengajakku ke kamarnya apadahal baru dua hari bertemu.
“Gimana, paham gak?” tanyaku. Sejak tadi Bianca hanya memperhatikan wajahku, tidak dengan pelajarannya.
“Heem,” jawabnya. Lagi-lagi dia hanya memperbaiki duduknya dan menyisir rambutnya yang hitam panjang. Dari jarak segini, aku bisa mencium tubuhnya yang harum. Ah, selain tangan, ternyata hidungku juga kurang ajar. Bisa-bisanya aku menikmati harum dari Bianca.
Mata kami bertatapan. Dia masih diam seolah ada yang ingin ditanyakan.
“A-ada yang mau ditanyakan,” ucapku sedikit gugup. Padahal Bianca kan hanya gadis kecil.
Sejak kapan aku gugup berhadapan dengannya. Perasaan dulu tidak begini.
“Kamu kenapa pendiam sekali sih. Waktu itu, saat menemaniku menunggu Bang Candra, tadi di sekolah dan sekarang. Hanya pelajaran saja yang membuatmu banyak bicara.”
Hah, anak ini bikin aku melongo saja. Mata Bianca menyitip seolah menyelidik dan menunggu jawabanku. Kenapa tambah menggemaskan saja.
“Kalau tidak ada yang ditanyakan kita sudahi saja belajarnya aku haus,” elakku. Kapan waktu akan berlalu? Aku merasa gerah, padahal suhu AC di kamar ini 16 derajat. Apa jangan-jangan Ac-nya rusak.
“Bentar.” Bianca keluar kamar.
Aku merapikan dudukku. Sudah sejak tadi sebenarnya kakiku pegal duduk bersila sembari sedikit membungkuk ketika menjelaskan. Lagian belajar kenapa harus di atas kasur tidak di meja? Selain sulit menulis karena goyangan juga tidak bisa duduk bersandar.
Aku mengeluarkan Ipad dan membuka aplikasi yang memang kubuat untuk menghandel pekerjaan toko. Setiap ada penjualan dan pembelian akan diinput di aplikasi dan secara otomatis aku bisa melihat pergerakan mereka. Berapa banyak yang terjual dan berapa banyak keuntungan yang aku peroleh setiap harinya.
Saat bermain di warnet dan iseng-iseng membuat berbagi akun medsos, aku mengenal Susan dan Zeno. Waktu itu Susan baru lulus hukum, sedangkan Zeno mengembangkan bakatnya di IT.
Zenolah yang membuatkan aku aplikasi. Dan Susan yang membantuku mengurusi perizinan uasaha dan perpajakan.
Aku akan mengunjungi toko di akhir pekan. Seharusnya sepulang sekolah aku mengunjungi toko, tapi karena kerja kelompok jadi kutunda. Mungkin nanti malam atau besok pagi.
“Maaf lama,” ucap Bianca sembari membawa nampan berisi minuman berwarna hijau yang dingin.
Aku mengambil satu dan meminumnya hingga setengah. Kurasa tugasku sudah selesai. Waktu juga sudah jam 15.15. saatnya pulang dan berberes.
“Sudah selesaikan. Aku pamit, ya.”
Bianca tak merespons. Dia membereskan buku-bukunya dan meletakan di atas meja belajar.
“Ada film bagus, mau nonton dulu?”
“Film apa?”
“Korea, bagus. Kamu pasti belum pernah nonton. Aku beli kaset originalnya lewat Kakakku di Jakarta,” ucapnya antusias.
“Tapi kan bentar lagi yang lain datang. Lihat sudah jam setengah empat.” Cepat juga waktu berlalu.
“Cih, lagian ngapain sih pulang cepat?”
“Ada yang harus saya kerjakan.” Aku bersiap pamit.
“Hah, oke deh.Besok kamu ngapain?”
“Saya ada pekerjaan.”
“Kaku banget sih pakai saya saya. Memangnya kerjaan apa yang dikerjakan anak SMP, palingan juga nyetrika baju.”
Aku hanya tersenyum. Ya, kalau Bianca pasti menghabiskan weekendnya dengan bermain.
Semua ada yang mengerjakan. Ada Bi Idah dan Mbak Yana yang membantu pekerjaan rumah.
Ya walaupun mereka tidak menginap.
“Maaf, beneran ada yang harus saya kerjakan. Mungkin lain kali.”
Bianca mengangguk sambil cemberut. Sungguh menggemaskan. Aku mengacak rambutnya dan membuatnya marah. Hahahaha, lucu sekali.
Kebetulan
Lima bulan berlalu begitu saja. Hubunganku dengan Bianca juga masih sama. Aku menyibukan diri dengan urusan bisnis dan membuat konten untuk akun YouTubeku ketimbang bermain-main dengan siswa lain. Toh, nantinya juga kami akan berpisah.
Sudah seminggu aku di Jakarta. Tiga hari yang lalu aku mengikuti olimpiade. Tinggal menunggu pengumuman saja. Mungkin lusa atau bisa lebih lama. Dengan alasan olimpiade aku bisa ulangan semester lebih dahulu ketimbang yang lain. Pasti anak-anak yang lain saat ini sibuk dengan soal ujian semester. Hahahaha, aku bisa bayangkan bagaimana marahnya Bianca ketika aku tidak berpamitan.
“Gimana? Bagus kan tempatnya, dekat UI, gedungnya juga lumayan bagus. Tinggal cat dan isi dengan pernak-pernik akan terlihat keren,” ucap Zeno puas.
Saat mendengar aku ingin membuka cabang, Zeno sibuk mencarikan tempat yang strategis.
Susan juga membantu mengurusi bagian hukum dan lainnya. Mereka memintaku focus pada olimpiade.
“Iya, tempatnya lumayan bagus. Tinggal kita inovasi di bagian artibut untuk menarik pelanggan.
Kalau cat aku rasa kita samakan dengan yang di Bengkulu. Biar menjadi ciri khas.”
Saat ini kami sedang makan siang di salah satu resto terkenal di Jakarta. Zeno mengenalkan Dimas padaku. Dia ahli akutansi dan siap membantu. Sementara Susan juga membawa sahabatnya Arianda. Dia seorang dokter di rumah sakit swasta milik kakeknya. Aku paling muda sekaligus paling tua di sini.
“Untuk perizinan dan pajak sudah aku urus, kamu tinggal merancang dekorasi. Untuk menu sebaiknya kita tambah sesuai selera orang sini.”
Aku mengangguk sambil menyeruput kua sup yang kupesan.
“Papaku arsitek, mungkin dia bisa memberi masukan,” ucap Andara.
“Bener tuh, Lex. Bapaknya tuh arsitek terkenal loh. Hahahaha, uhuk uhuk.”
Kami tertawa saat Susan terbatuk. Andara sigap memberinya minum. “Makanya kalau lagi menelan jangan bicara dulu. Nih minum dulu.”
“Thanks, Ra.”
Andara mengangguk. Dimas sejak tadi curi-curi pandang pada Andara. Mungkin dia suka. Kita lihat saja ke depannya.
“Oke, nanti malam aku main, ya. Sekalian nginap di rumah Kak Andara,” ucapku.
Zeno dan Susan protes saat aku memanggil Andara dengan sebutan Kak Andara dan Bang Dimas , sementara memanggil mereka hanya dengan nama. Maklum kebiasaan saat chatting sebelum bertemu dulu. Dan saat bertemu mereka misuh-misuh gak jelas ketika tahu aku masih kelas 5 SD. Namun tidak membuat kami putus hubungan, justru semakin gencar.
Membuat produk dan mempatenkan juga ide dari Susan. Sedangkan aplikasi ide dari Zeno.
Mereka berasal dari keluarga kaya. Ayah Susan seorang hakim, ibunya desainer. Sedangkan ayah Zeno memiliki beberapa POM bensin di berbagai daerah, ibunya hanya IRT. Beliau selalu ikut ke mana pun suaminya pergi.
“Di Bengkulu sudah ada cabang?” Tanya Dimas.
“Iya, sudah ada 5 cabang. Setelah tiga bulan aku membuka cabang di empat tempat di kota dan ada satu di daerah.”
Dimas mengangguk. Dia juga tergolong anak orang kaya. Kalau kata Zeno, ayahnya juragan angkot. Kalau ibunya mempunyai beberapa butik.
“Nanti bantu ya, Bang.”
“Aman itu, Lex.” Kami pun menghabiskan makanan sembari membicarakan banyak hal.
Seminggu ini aku menginap di rumah Susan. Orang tuanya sangat welcome. Mereka juga memberi nasihat ini dan itu. Memberiku banyak makan, katanya biar cepat besar. Padahal lima bulan ini tinggi badanku bertambah pesat. Sekarang tinggiku mencapai 162 cm. berat badanku juga ikut naik.
Mereka juga mengajakku main ke berbagai tempat. Ya, dulu aku juga pernah mengunjungi tempat-tempat itu. Menghabiskan waktu dengan traveling saat hari libur sekolah. Dari pengalaman itu juga aku membuat novel.
Ah, ngomong-ngomong tentang novel, aku teringat beberapa judul di rak buku Bianca saat melihat-lihat. Ternyata dia membaca novel petualanganku dianataranya berjudul I Love Jogja, Rindu Bandung, dan dua judul lainnya.
***
Ayah Andara membantu kami menata tempat dan atribut. Di sini juga ada ayahnya Zeno. Setelah tahu memiliki teman sepertiku, ayah Zeno sangat antusias untuk bertemu. Katanya, beliau lebih suka memiliki anak yang mau berbisnis sepertiku ketimbang Zeno. Dan dia berujar akan mewariskan POM nya padaku. Hahahaha, lucu sekali beliau. Darah batak yang mengalir di tubuhnya lenyap dengan gayanya yang dagelan.
Zeno, Dimas, Susan dan Andara menyusul saat sore. Mereka ada pekerjaan. Aku sangat paham betapa sibuknya mereka. Susan ada klayen besar yang harus didampingi. Dimas bersama Zeno sibuk membuat aplikasi ojek online. Akulah yang memberinya ide, teringat sebelumnya sangat enak kalau menaiki kendaraan online yang ber-Ac tidak panas seperti angkot. Dimas dan orang tua menyambut baik ideku. Sebagai gantinya mereka mencarikanku pekerja untuk toko kueku.
Ibunya Andara mengenalkan koki dari prancis. Dia juga siap membantuku mengembangkan usaha. Jadi nantinya bukan hanya terfokus dengan kue-kue local, melainkan berbagi kue luar negeri. Itu keren.
“Ini gimana, Pa?” tanyaku pada Pak Bagas, ayah Andara, saat memilih gambar yang akan di lukis di sepanjang tembok. Aku diminta memanggilnya Papa, katanya serasa memiliki anak bungsu.
“Itu bagus, Lex, tapi bagaimana kalau kau padukan dengan gambar ini. Anak muda zaman sekarang suka yang klasik.”
Aku mengangguk senang. Pilihan Papa Bagas memang yang terbaik. Tak heran dia bisa menjadi arsitek terkenal. Rumah mereka saja bergaya klasik modern.
“Ini kursinya di susun di mana, Pak?”
Aku menghampiri Pak Alogo, ayah Zeno. Dia sedang mengawasi para pekerja menata kursi dan lainnya.
“Letakkan di sana saja.”
“Yah, istirahat dulu. Biar Lexa yang urus, lagian tinggal dikit lagi.”
Pak Alogo mengelus kepalaku dan malah menyuruhku duduk. Duh, enak banget punya banyak ayah, hahaha.
Tak terasa waktu berlalu dan kami selesai mendekor gedung. Aku dibantu Kak Andara dan Susan membeli bahan-bahan. Rencana lusa toko sudah bisa buka. Ada beberapa menu yang akan dibuat oleh koki besok.
Dua minggu merenovasi membuahkan hasil yang maksimal. Aku sangat puas dengan hasilnya.
Tak jauh beda dengan yang di Bengkulu, bergaya indoor dan outdoor.
***
“Alexandra.”
Aku terpaku saat berhadapan dengan Bianca. Sebulan tak bertemu kenapa anak ini makin imut saja.
“Kamu ngapain di sini? Pantas saja aku cari ke rumahmu gak pernah ada.”
Aku masih tak percaya. Kenapa dari berjuta-juta orang harus bertemu dengan Bianca. Dan ada berbagai tempat, kenapa Bianca bisa ada di sini.
“Siapa, Lex?”
Aku menoleh pada Susan. Saat ini kami baru selesai makan siang di resto dalam Margo City.
“Hay, aku Susan, panggil saja Kak Susan. Temannya Lexa, ya.”
Susan bersalaman dengan Bianca. Wajah marah Bianca mereda saat berkenalan dengan Susan.
“Saya Bianca. Bukan teman, Kak. Cuma kenalan saja. Kami satu kelas,” ucap Bianca sambil melirikku kesal.
“Siapa, Dek?” Tanya seorang perempuan di belakang Bianca.
“Bukan siapa-siapa, Mbak. Cuma kenalan saja.”
Susan melihatku meminta penjelasan. Aku berdehem dan meminum air mineral yang sejak tadi kutenteng sebelum menjawab.
“Dia temanku dari sekolah yang sama, kami sekelas.”
Zeno menghampiri kami. Dia tadi membayar makanan kami dahulu.
“Ngapain kalian di sini. Eh, ada siapa nih?” Zeno melirik aku dan Susan gantian.
“Teman Lexa. Kami duluan ya, Lex, masih banyak kerjaan. Nanti malam ketemu di rumah Andara. Jangan lupa bawa hasil ekperimennya.” Susan menarik Zeno pergi.
“Kalau gitu Mbak juga duluan ke dalam ya Dek. Nanti nyusul, ya,” ucap Mbak Wulan, perempuan yang bersama Bianca. Dulu aku pernah ketemu dua kali saat beliau main ke Bengkulu.
“Maaf.”
Ah, lagi-lagi akau hanya bisa minta maaf. Sebenarnya kami juga tidak akrab sekarang, jadi aku tak perlu pamitan bukan?
“Kebiasaan. Pamit apa susahnya sih? Kamu—“
Aku bingung saat Bianca terisak. Orang-orang di sekitar melihat kami. Aku segera memeluk Bianca.
“Maaf, saya salah.”
Bianca tambah terisak saat kupeluk. Dia juga memukul bahuku berkali-kali.
Aku merenggangkan pelukan saat isakan Bianca mereda. Kuusap air matanya dan memberi minum. Setelahnya kami duduk di café. Aku memesankannya cokelat hangat dan beberapa desert. Tadi aku sudah makan bersama Zeno dan Susan.
“Mereka siapa?”
“Hah.”
“Ish, kamu tuh kenapa sih hah he hah he setiap ditanya. Kak Susan dan laki-laki tadi siapa?”
“Oh, Susan dan Zeno. Mereka temanku. Kami bertemu saat aku kelas lima SD,” jawabku sambil tertawa teringat pertemuan pertama kami. Mereka menemuiku ke Bengkulu. Dari mereka juga pertama kali aku memiliki laptop di kehidupan sekarang. Katanya sih biar lebih mudah berkomunikasi, tidak seminggu sekali. “Maaf.”
Bianca menatapku tajam. “Terus ngapain gak pulang-pulang, mau jadi anak Jakarta,” ucapnya sewot.
Aku menggeleng. Dulu juga aku selalu kalah sama Bianca. Dia sering ngambek.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Ah, tidak, hanya teringat masa lalu. Sejak kapan di Depok?”
“Hari ini. Selamat.”
“Untuk?”
“Juara umum di sekolah dan olimpiade.”
Aku mengangguk. “Makan dulu.”
Kami makan sambil diam. Aku hanya memakan satu kue. Lagi-lagi tanganku bergerak. Kali ini membersihkan sisa kue di bibirnya.
“Mau ke mana habis ini?” tanyaku, teringat Mbak Wulan tadi.
“Jalan saja. Bentar.”
Bianca mengeluarkan handphone, mungkin menghubungi Mbak Wulan.
“Nanti antar pulang, ya.”
Aku mengangguk. Bianca kembali berbicara dalam telepon.
Dia kembali duduk dan menghabiskan sisa kuenya. Aku hanya melihatnya makan.
“Aku liburan di rumah Mbak Wulan sudah tiga hari. Rumahnya di Jaksel. Tadi kami main ke rumah paman.” Bianca menjelaskan rute perjalanan tanpa kuminta.
Aku menimbang-nimbang. Tapi bakalan ngambek lagi kalau tidak dianatar.
“Kamu naik apa ke sini?”
Aku menepok jidat teringat Susan dan Zeno. Aku kan ke sini bareng mereka. Wah, kacau sudah, aku harus mengantar ini anak pakai apa? Masa pakai kendaran umum.
“Bentar.”
Aku menelepon Kak Andara.
“Beres. Nanti kita naik mobil sama supir Kak Andara,” ucapku membuat kening Bianca berkerut. “Ah, aku tidur di rumah Kak Andara malam ini.biar ke toko besok dekat. Kebetulan dekat dengan rumah Kak Andara.”
Bianca makin terlihat kebingungan.
“Ya sudah sih. Yuk mau main apa sekarang?”
Giliran Bianca yang menggeleng. Akhirnya kami berjalan-jalan memasuki toko yang ada. Di sini juga ada butik milik mamanya Dimas. Aku sengaja tidak mampir ke sana.
Terakhir kami memasuki Gramedia. Aku membeli beberapa komik terbaru. Sementara Bianca melihat-lihat bagian Novel. Dia mengambil novel baru karya GG-san.
“Kamu suka karya GG-san?”
Bianca mengangguk. Matanya berbinar sejak melihat novel karya GG-san. “Kamu juga tahu sama GG-san?”
Aku hanya cengir saja. Bagaimana aku harus mengatakan kalau GG-san adalah aku. Tiga bulan lalu aku mengirim karya baru ke editor. Kali ini cerita fantasi berseris. Aku sudah menulis hingga lima seris. Rencana akan tamat dengan lima seris. Aku sudah merancangnya, tinggal menyusun saja.
Setelah membayar belanjaan, kami pergi ke tempat karaoke. Hingga hari sore dan kita makan dulu sebelum mengantarnya pulang. Sampai di rumah Mbak Wulan sudah jam setengah sembilan.
“Turun gih.”
“Kamu ngusir?”
Kenapa jadi ngusir, kan memang sudah sampai sejak tadi. Pak Martono saja memilih merokok di luar mobil karena sejak tadi dia belum mau turun.
“Apa mau tidur di tempak Kak Andara bareng aku. Nanti aku bilang sama beliau.” Usulku. Aku tak mau urusannya lebih panjang dan lebih malam sampai rumah Kak Andara.
“Aku gak kenal dia.”
Sabar-sabar. Ini anak kecil yang masih labil. Sebagai orang dewasa yang mengecil, aku harus bersabar.
“Terus gimana?”
Sejak tadi handphoneku bergetar. Aku yakin itu Susan atau gak Kak Andara. Kami sudah janjian untuk cobain hasil eksperimen kue baru.
“Kamu saja yang nginap di sini,” ucap Biansa tanpa dosa.
“Gak bisa, aku harus ke rumah Kak Andara.”
Oh, iya, setelah Bianca memprotes dengan berbagai cercaan, aku tak lagi menggunakan bahasa saya.
“Kenapa harus?”
Aku menghela napas sejenak. “Kami sudah janjian. Susan pasti akan mengomeliku.”
“Bilang saja nginap tempatku. Kalau dia ngomel, suruh telpon aku!”
Wah, nih anak. Mau jitak sayang, gak jitak greget. “Maaf.”
Binaca turun dan menutup pintu mobil dengan keras. Pak Martono saja sampai berdiri dari duduknya.
Bianca membuka pagar dan masuk ke rumah.
“Kenapa Non?”
Aku hanya tersenyum menanggapi Pak Martono.
“Kita langsung pulang?”
“Iya, Pak. Nanti kalau Lexa ketiduran maaf, ya.”
Pak Martono hanya mengacungkan jempol dan menghidupkan mobil. Belum juga berjalan pintu mobilku diketuk. Aku menurunkan kaca mobil. Bianca melempar gumpalan kertas dan kembali masuk rumah.
Aku dan Pak Martono saling pandang sejenak, lalu meringis bersamaan.
“Dah, Pak, jalan.”
***
“Selamat, ya. Lex. Sejak buka tokomu makin ramai saja.” Kak Andara memberiku kado.
Malam ini kami sedang berkumpul di tokoku. Sesuai janji Dimas, ia membantuku dalam mengelolah bisnis sembari mengerjakan proyeknya bersama Zeno. Aku mendapat banyak hadiah dari mereka.
Dan saat tahu ultaku terlewat tiga minggu lalu, mereka ngomel-ngomel, terutama Susan. Dan malam ini kami merayakan ulang tahunku. Dan aku mendapat kado istimewah dari papanya Zeno. Beliau membelikanku apartemen. Aku sempat menolak, tapi mereka memaksa. Katanya untuk anak bungsu. Duh, jangan-jangan beneran diwarisi POM ini.
“Rencana balik ke Bnegkulu kapan?”
“Palingan Minggu sore, Kak. Senin sudah mulai masuk sekolah.”
“Temanmu itu masih di Jakarta?” Tanya Susan sewot. Malam itu aku sampai sudah jam sepuluh malam. Susan ngomel-ngomel gak karuan. Papa, mama dan Kak Andara tertawa. Lalu mereka menasehatiku banyak hal.
“Oh, iya.” Aku menepok jidat, teringat kertas yang dilempar Bianca. Di dalamnya tertulis nomor telepon.
Aku buru-buru mengeluarkan hp dan mengirimi pesan pada Bianca. Pasti dia menunggu aku mengirim pesan. Kenapa bisa lupa begini sih. Padahal liburan tinggal tiga hari.
Selang beberapa menit dari mengirim pesan, Bianca menelepon.
“Kenapa baru menghubungi?”
“Maaf.”
“Besok jemput.”
Bianca langsung mematikan telepon.
“Siapa?” tanya Zeno, yang lain melihatku, mungkin menunggu jawaban.
“Bianca.”
“Apa katanya?” kini giliran Susan.
“Besok minta jemput,” jawabku.
Susan melotot, Kak Andara hanya tersenyum, sementara Zeno bingung.
“Memang lain tuh anak.” Susan meneguk minumannya. “Sudah kayak pacar saja,” lanjutnya.
Aku hanya mengangkat bahu. Mungkin karena sudah tahu sifatnya, aku biasa saja. Malah senang, artinya dia menganggap aku temannya bukan?
Kami melanjutkan acara makan-makan. Sebenarnya sudah selesai. Para orang tua juga sudah pulang. Tinggal kami para muda-mudi dan pastinya aku termuda sekaligus tertua.
Zeno memainkan gitar dan kami bernyanyi bersama. Oh, iya, Dimas dan Kak Andara jadian.
Gercep juga Dimas, baru bertemu tiga minggu sudah jadian. Tapi kami senang mendengarnya.
***
“Mau ke mana?”
Saat ini aku sedang berada di rumah Mbak Wulan. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap menjemput Bianca. Tak lupa Pak Martono, karena aku masih belum punya SIM. Tentu saja aku sudah bisa membawa mobil sebelumnya. Aku juga bisa memainkan piano dan gitar seadanya.
“Terserah, yang penting main.”
Aku mengangguk, lalu kami berpamitan kepada orang tua Mbak Wulan. Aku memutuskan mengajak Bianca berjalan-jalan di GI. Aku sudah memesan tiket nonton. Bukan aku sih, melainkan Susan. Dia ada kenalan manager bioskop di sana.
Karena belum sarapan, kami memutuskan mencari sarapan di resto. Pak Martono tidak mau, katanya makanan resto tak sesuai lidahnya. Ia lebih milih makan di angkringan sambil minum kopi hitam.
“Filmnya masih dua jam lagi nih, kita jalan dulu yuk. Atau main di fun city?”
“Main dulu deh.”
“Oke,” ucapku lalu menggandeng Bianca ke Funcity.
Kami mencoba berbagai permainan. Bianca terlihat sangat menikmati waktunya.
“Ayo, Lex, masa gak bisa-bisa. Aku mau boneka itu.”
Aku sudah menghabiskan banyak koin di mesin capit, tapi tak ada satu pun yang tercapit.
“Nanti aku belikan boneka lain deh, ya.”
Aku menyerah. Waktu nonton juga sudah tiba. Bianca kali ini melunak dan gantian menyeretku ke bioskop.
Aku memesan popcorn ukuran lenger dan dua minuman soda. Tentu saja hari ini aku yang membayari semua. Sebagai rasa bersalah yang kata Bianca tidak berpamitan. Dan juga rasa bersalah baru mengajaknya main. Padahal liburan tapi Bianca hanya di rumah beberapa hari.
Aku kurang menikmati filmnya. Namun aku menikmati ekspresi Bianca menonton. Dia tersenyum sendiri dan sedih. Sangat lucu anak ini. Bahkan judul filmya saja aku lupa apa.
Setelah dua jam di dalam bioskop, kami memutuskan untuk makan. Kali ini aku mengajaknya ke resto ala jepang. Aku ingin makan ramen. Bianca juga menikmati makanannya.
“Habis ini ke mana lagi?” Tanya Bianca.
“Ke toko boneka.”
Mata Bianca berbinar. Aku mengelus kepalanya gemas. Senyum Bianca makin lebar.
Dan di sinilah kami. Bianca bingung memilih keropi atau panda.
“Ambil keduanya saja,” sergapku malas.
Bianca melotot. “Nanti sulit bawa pulangnya. Koperku gak cukup.”
“Ya, sudah pilih mana pun. Nanti aku belikan lagi kalau sudah di Bengkulu.”
Akhirnya Bianca memilih keropi. Padahal tadi kekeh mau panda.
Setelah memilih boneka, kami beralih ke toko baju. Aku biarkan Bianca memilih sesukanya.
“Beli baju kopel, ya.”
Aku mengangguk saja. Bianca mengambil beberapa kaos dan dicoba ke badanku. Tinggi Bianca hanya sedaguku. Padahal dulu kita sama tinggi.
“Mau warna apa?”
Kini Bianca memegang dua kaos warna biru dan putih. Aku suka kedua warna itu. Tapi kalau putih akan cepat kotor.
“Biru saja gimana? Kalau putih cepat kotor.”
Bianca mengangguk dan mengambil dua kaos biru dengan ukuranku dan dirinya. Ia juga mengambil satu kaos putih. Dasar nih anak.
“Bi, beli sepatu yuk.” Pumpung di sini beli sepatu sekalian.
“Kopel juga?”
Aku mengangguk lagi. Sebenarnya tidak harus kopel.
Kami memasuk toko sekicer. Beberapa deret terpajang. Aku suka model yang simple. Harganya lumayan untuk dipakai di sekolah kami. Pasti tidak ada saingan. Hahaha
“Le, ini bagus gak?”
Entah ada angin apa, setelah keluar dari toko boneka Bianca memutuskan memanggulku Le. Aku sempat protes, tapi lagi-lagi kalah. Kayanya sih panggilan khusus darinya.
“Bagus, simple. Warnanya hitam, aku suka. Kita ambil masing-masing dua. Satu hitam, satu bebas untuk eskul.”
“Beneran? Tapi uangku kayaknya gak cukup deh kalau dua. Mama belum transfer, katanya besok pas beli tiket. Tinggal satu juta saldoku.”
“Aku yang bayar.”
“Tapi dari tadi kamu yang bayar. Kaos juga. Apalagi harga sepatunya …..” Bianca melirik pelayan toko.
“Ambil saja ukuran kamu, Bi. Aku ukuran 28 ya. Adakan Mbak ukuran 27 dan 28?”
“Ada, Dek, bentar ya diambil dulu.”
“Hey, kenapa?” Aku menakup kedua pipinya yang lesu.
“Aku sudah dapet banyak dari kamu, Le. Tapi aku belum belikan kamu apa-apa.”
“Gak apa, Bi. Santai saja. Nanti kalau di sekolah kamu bawakan aku bekal sebulan.”
Bianca melongo. Lucu sekali ini anak. Tidak ngambek atau berekspresi bingung dia terlihat sama lucunya.
“Deal.”
“Deal,” ucapnya menjabat tanganku.
Tak terasa hari sudah malam. Aku mengantar Bianca pulang sebelum kena omel. Tadi kami pamit pergi sampai jam tujuh paling lama, sekarang sudah jam delapan.
“Turun gih, bukan ngusir tapi sudah malam, nanti Mbak Wulan ngomel.”
Bianca cemberut. Mungkin dia belum puas main.
“Menurutmu film tadi bagus gak, Le?”
Aku mengingat trailernya sebentar, karena sibuk memandang ekspresi Bianca tadi di bioskop.
“Bagus.”
“Bagaimana karakter utama wanita tadi?”
Nih anak bukannya cepat turun malah ngajak ngulas film, mana aku tadi gak nonton lagi, hanya sekilas-sekilas.
“Dia manis senyumnya. Sifatnya juga lebih dewasa,” jawabku sekenaknya.
“Kamu sudah punya pacar, Le?” Tanya Bianca.
“Eh, belum. Kamu?”
“Hampir,” ucapnya.
“Hampir?” tanyaku bingung.
“Iya, Junai ngajak aku pacaran. Katanya suka sejak ketemu ospek.”
Ah, kenapa aku lupa dengan anak satu itu. Dulu juga mereka pacaran. Ya, walau aku tak pernah dikasih tahu. Bianca hanya bertemu dengan Junai di luar sekolah. Jika di sekolah dia hanya bermain denganku dan dua teman lainnya. Itu pun aku yang selalu digandeng ke mana pun dia pergi. Aku tahu mereka pacaran dari teman yang lain.
“Kamu terima?”
“Belum,” jawabnya.
Aku hanya diam. Aku tak masalah dia mau pacaran dengan siapa pun. Tapi entah kenapa aku jadi gelisah.
Hening beberapa menit, Bianca kembali berbicara. “Kamu sudah pernah pacaran, Le?”
“Belum.”
“Bohong!”
Aku mengerutkan dahi. Kenapa jadi marah gini. Kan memang aku belum pernah pacaran.
“Kata Novi kamu pacaran sama Dera.”
“Hah? Dera? Siapa juga Novi?” tanyaku bingung.
Untung Pak Martono merokok di luar. Mobil dibiaran menyala agar Ac tidak mati.
“Teman sekelas kita. Dia satu alumni sama kamu, sekelas juga.”
Aku berpikir sebentar. “Oh, Novi.” Kini aku ingat anak itu. Dia adalah mantan Bimo, salah satu teman akrabku di SD.
“Katanya kamu … emm pacaran sama Dera.”
“Tidak! Kami memang akrab. Temanku akrabku di SD ada Bimo, Dera, Sefti dan juga Beby.
Mereka masuk SMP 1.” Jelasku, aku tidak mau Bianca salah paham. Bukan, maksudku tidak ingin dia berpikir aku pacaran sama Dera. Lagian aku ini normal!
“Beneran?”
Aku mengangguk pasti. Aku ini masih polos, baik kehidupan lalu ataupun sekarang. Perioritasku adalah memperbaiki ekonomi keluarga. Dan juga entah kenapa aku tidak tertarik dengan lelaki mana pun, dan perempuan mana pun. Di kehidupanku dulu, aku tak sekalipun berpacaran.
Terlalu merepotkan. Aku nyaman dengan pekerjaanku. Walaupun banyak orang yang mendesak untukku menikah. Bahkan teman-teman kuliahku mencarikan aku calon suami.
Bianca tersenyum. “Kalau ciuman kamu pernah, Le?”
What? Pacaran saja belum kok malah bahas ciuman.
“Belumlah,” jawabku sewot. “Memangnya kamu pernah?”
Bianca buru-buru menggeleng. “Di film tadi, ekspresi perempuannya lucu saat dicium,” kata Bianca. Dia memandang lurus arah setir. “Aku hanya penasaran saja.” Bisa kulihat pipinya yang memerah.
Hah! Waduh bahaya ini, perasaan tidak ada adegan ciuman di film tadi. Kalau sampai Tante Lela tahu, bisa diamuk aku.
. “Mau coba?”
Bianca sontak menatapku.
“Ah, maaf aku cu—“
“Kalau Pak Martono lihat gimana?”
Hah? Maksudnya apa nih. Dia takut ketahuan Pak Martono? Berarti dia mau ciuman dengaku?
“Kayaknya gak kelihatan deh,” gumamnya.
Wajahku sudah memerah. Kenapa suasananya jadi panas gini, ya. Aku menatap Bianca yang malu-malu. Entah keberanian dari mana. Aku meraih pipinya, mengelus sejenak pipi halus itu.
Ini kedua kalinya aku mengelus pipi Bianca.
Mata Bianca perlahan tertutup. Wajahku semakin memanas. Kupandang bibir yang merah alami milik Bianca. Detik berikutnya, dunia terasa kosong. Suara kendaraan yang berlalu-lalang menghilang. Aku menempelkan bibirku ke bibir Bianca.
Mata Bianca terbuka. “Tung—“
Ah, aku tak bisa menahan lagi. Kesempatan bibirnya terbuka, aku memasukan lidahku. Secara brutal aku mengulum lidah Bianca. Dia sedikit memberontak, namun setelahnya mengikuti gerakanku.
Bianca mengerang saat kugigit bibir bawahnya. Ya, Tuhan, apa yang sedang aku lakukan?
Tolong seseorang tarik tubuhku. Bianca ini sahabtku dulu. Sahabat!
Kami masih saling menikmati ciuman sampai kehabisan napas. Bianca melepaskan ciuman duluan. Ia terengah sambil memegangi dadanya.
Aku juga terengah. Kuambil udara sebanyak mungkin. Wajahku terasa panas. Dan, kenapa Bianca terlihat cantik, cantik sekali. Padahal selama ini dia terlihat imut.
“Kamu … bukan begini di film tadi,” ucap Bianca sambil menunduk.
Hah! Sumpah malam ini entah berapa kali aku mengatakan hah. Aku memandang wajah Bianca yang masih tertunduk.
“Tadikan hanya di sini.” Bianca menunjuk keningnya dengan masih menunduk.
Sial, kenapa aku tak menonton filmnya tadi. “Maaf, aku ….” Aku tak berani lagi menatap Bianca. Siapa pun tolong kubur aku sekarang juga. Pak Martono tolong bawa aku ke mana pun, asal gak bertemu Bianca.
Tangan halus Bianca menarik wajahku yang tertunduk. Mata kami bertemu. Entah apa yang dirasakan wanita di depanku saat ini. Kilat mata itu seolah menenangkanku.
“Aku turun, ya.”
Aku hanya mengangguk.
Pak Martono membantu mengeluarkan belanjaan kami di bagasi.
“Tunggu, aku masuk bentar,” ucap Bianca. Ia berjalan cepat masuk.
Aku tak mengantarnya masuk. Tenagaku sudah habis. Aku memilih duduk di dalam mobil. Pak Martono menghabiskan rokoknya yang tinggal sedikit.
Aku menurunkan kaca mobil saat Bianca mengetuk pintu.
“Hati-hati pulangnya, besok aku pulang ke Bengkulu. Kamu jangan lama-lama di sini.”
Aku mengangguk patuh.
“Hati-hati di jalan.”
Mataku melotot tak percaya ketika Bianca mengecup bibirku. Dia buru-buru berlari setelahnya.
Sial, sial, sial. Apa yang sudah kulakukan?Aku kembali ke masa ini bukan untuk ini. Bianca adalah sahabatku, dan aku bukan pencinta sesame jenis. Aku menjambak rambutku kasar.
“Kita langsung pulang, Non?”
“Iya, Pak. Ngebut ya. Aku sudah ngantuk.”
Aku yakin, malam ini tak bisa tidur. Tuhan, maafkan aku.
Pulang
“Wajahmu kenapa, Lex?”
“Ah, Lexa gak bisa tidur, Kak.”
“Kenapa gak bisa tidur, Lex? Jangan terlalu dipikirkan toko di sini, ada Dimas yang membantu,”
ucap Papa Bagas. “Sini sarapan dulu. Besok kamu pulang kan. Hari ini mau main dulu sepuasnya?”
Aku mengangguk. Kami makan dengan khidmat, sesekali tertawa dengan obrolan Papa dan Mama.
Semalam aku tidak bisa tidur. Kacau sekali. Mejam teringat Bianca, melek juga teringat Bianca.
Sial. Ciuman keparat itu membuatku gelisah. Aku marah pada diriku yang tidak bisa mengontrol.
Aku juga kecewa pada diriku sendiri, kami sama-sama perempuan, terlebih Bianca adalah sahabatku dulu. Tapi aku juga bahagia. Entah perasaan apa ini. Aku belum pernah merasakan sebelumnya.
“Makanannya kurang enak, ya, Lex. Kok Cuma diaduk saja dari tadi.”
Aku menatap makananku yang hanya berkurang sedikit. Ah, lagi-lagi aku memikirkan Bianca.
Jam berapa kira-kira dia terbang ke Bengkulu, ya?
“Enak kok, Ma, Lexa lagi memikirkan seseorang saja.”
“Siapa?” sergap Kak Andara. Dia menatapku lekat. Makanan di piringnya sudah habis.
“Ah, Ibu sama Bapak, Kak.”
“Sudah, sudah. Kalau lagi gak berselera makan, minum saja susunya. Habis itu bersiap jalan kalian.” Papa menimpali.
Aku mengangguk dan segera menghabiskan susuku. Di sini setiap pagi dan malam wajib minum susu. Kata Mama untuk pertumbuhanku. Pastinya berlaku hanya untukku.
Tok tok tok
Aku segera membuka pintu kamar. Kak Andara menghampiriku dengan senyumnya yang hangat. Sejak jadian dengan Bang Dimas, Kak Andara makin terlihat cantik dan anggun.
“Lex, jujur sama Kakak, kamu kepikiran siapa? Kakak yakin bukan Ibu dan Bapakmu. Tiga minggu ini Kakak sudah kenal kamu, Lex.”
Ah, Kak Andara benar-benar peka. Dia mengelus kepalaku. Senyumnya saat ini benar-benar teduh. Hatiku yang sejak malam gelisah akhirnya menyerah juga. Aku sesenggukan. Kak Andara memelukku.
“Tidak apa, Lex, cerita saja sama Kakak. Kamu itu sudah kuanggap adik sendiri. Sejak Susan menceritakan tentang kamu, Kakak sudah penasaran.”
Aku masih menangis. Aku benar-benar takut menceritakan kejadian semalam. Bagaimana kalau mereka semua membenciku?
“Kak.”
“Iya.”
“Aku … aku … semalam.”
Kak Andara masih menungguku bercerita dengan sabar.
“Gak apa-apa, cerita saja.”
“Janji Kakak jangan marah, ya.”
Kami mengaitkan jari kelingking. Aku benar-benar bersikap seperti umurku saat ini.
“Semalam, Lexa.” Aku menarik napas dalam lalu memejamkan mata sebelum melanjutkan cerita. “Lexa mencium Bianca, Kak.”
Aku membuka mata karena tak ada tanggapan dari Kak Andara. Aku melihat senyum Kak Andara yang menenangkan.
“Kakak gak marah?” tanyaku lirih.
“Alexandra Nindira Putri.”
Aku menatap Kak Andara.
“Bagaimana Kakak bisa marah sama kamu?”
Aku kembali sesenggukan.
“Kenapa kamu mencium Bianca?”
“A-aku, semalam a-aku gak tahu, Kak. Awalnya Bianca menanyakan apa Lexa sudah punya pacar belum. Terus dia menanyakan apakah Lexa berpacaran sama Dera.”
Kak Andara masih sabar mendengar ceritaku.
“Aku tidak mau dia berpikir kalau Lexa suka sama perempuan, Kak.”