PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
- Bagi Rumah Sakit Evasari
- STIkes Binawan
- Mahasiswa
Ruang Lingkup Penelitian dan Batasan Penelitian
- Ruang Lingkup Penelitian
Radiasi
Radiasi non-pengion adalah radiasi yang ketika melewati bahan atau jaringan biologis, tidak mengionisasi bahan atau jaringan tersebut. Radiasi luar adalah sumber radiasi yang berada di luar tubuh pasien, atau pasien menerima paparan radiasi dari luar tubuh yang dapat mengenai seluruh tubuh (radiasi total) atau hanya sebagian tubuh saja (radiasi parsial). digunakan untuk tujuan diagnostik dan terapeutik.
Tugas dan tanggung jawab radiografer pada bidang
Untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan sumber sinar-X yang dihasilkan pada tegangan 40 kV – 150 kV, sedangkan untuk keperluan terapeutik selain menggunakan sumber sinar-X dengan orde tegangan Mega Volt, sinar gamma dari Cobalt dan Radioisotop cesium juga umum digunakan. Sumber radiasi yang diperlukan adalah radioisotop tidak beracun yang mempunyai waktu paruh pendek dan aktivitas rendah, misalnya Tc 99 atau I-131.
Pemanfaatan radiasi bidang medis
Memberikan informasi kepada dokter spesialis kedokteran nuklir dan petugas proteksi radiasi jika terjadi tindakan atau pemberian radionuklida dan/atau radiofarmasi yang tidak sesuai dengan prosedur kerja atau standar pelayanan medis dan mengikuti pelatihan teknologi kedokteran nuklir baru. Teknik radiografi merupakan teknik dimana sumber sinar X ditembus ke dalam tubuh pasien untuk diperiksa dalam kondisi radiasi tertentu.
Interaksi radiasi dengan bahan biologi
Kerusakan yang terjadi dapat meluas mulai dari skala sel hingga jaringan organ bahkan dapat menyebabkan kematian (BAPETEN, 2005).
Efek Biologi
- Efek radiasi pada sistem, organ atau jaringan
Darah dan sumsum tulang merah merupakan komponen seluler darah yang berubah paling cepat akibat radiasi. Efek somatik non-stokastik pada kulit bervariasi menurut dosis dan berkisar dari kemerahan hingga luka bakar dan kematian jaringan.
Proteksi Radiasi
Proteksi radiasi atau keselamatan radiasi berguna untuk menciptakan kondisi agar dosis radiasi pengion yang berdampak pada manusia dan lingkungan tidak melebihi nilai batas yang ditentukan. Bertujuan untuk membatasi kemungkinan terjadinya efek stokastik dan mencegah terjadinya efek non stokastik (deterministik) serta menjamin bahwa pekerjaan atau kegiatan yang menggunakan zat radioaktif atau sumber radiasi dapat dibenarkan, maka terdapat filosofi baru dalam proteksi radiasi, yaitu mengacu pada ICRP (Komisi Internasional untuk Perlindungan Radiologi) No. 60 Tahun 1990. Justifikasi: Prinsip ini mensyaratkan bahwa setiap aktivitas yang dapat mengakibatkan paparan radiasi harus dilakukan hanya setelah dilakukan penyelidikan yang cukup menyeluruh, dan diketahui bahwa manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut cukup besar dibandingkan dengan kerugian yang dapat ditimbulkan, dengan kata lain manfaat yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan risiko yang diterima.
Optimasi: Prinsip ini mensyaratkan paparan radiasi yang timbul dari suatu kegiatan dijaga serendah mungkin, dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial. Prinsip ini dikenal juga dengan ALARA atau As Low As Reasonably Achievable. Batasan: Prinsip ini mensyaratkan bahwa dosis radiasi yang diterima seseorang sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan tidak boleh melebihi nilai batas yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang.
Sistem Manajemen Keselamatan Radiasi
Personil atau pekerja radiasi yang bekerja pada fasilitas radiologi diagnostik dan intervensi, antara lain sesuai dengan jenis mesin sinar-X yang digunakan dan tujuan penggunaannya. Petugas proteksi radiasi yang ditunjuk oleh pemegang izin dan oleh BAPETEN dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan proteksi radiasi. Pemantauan kesehatan dilakukan terhadap pekerja radiasi mulai sebelum bekerja, selama bekerja dan akan memutuskan hubungan kerja.
Celemek/apron : setara dengan 0,2 mm (nol koma dua milimeter) Pb atau 0,25 mm (nol koma dua puluh lima milimeter) Pb untuk penggunaan peralatan sinar-X untuk diagnostik sinar-X dan 0,35 mm (nol koma tiga puluh lima milimeter) Pb. atau 0,5 mm (nol koma lima milimeter) Pb untuk peralatan rontgen radiologi intervensi. Menurut penelitian, area gonad merupakan area paling sensitif terkena radiasi. http://www.nelsonxray.com/en/shop/gonad-aprons-and-shields-en/demi-aprons/). 10. Pemantauan Dosis Radiasi, yang selanjutnya disebut Dosis, adalah jumlah radiasi yang terkandung dalam medan radiasi atau jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh bahan yang dilaluinya.
Untuk mengetahui apakah penerapan K3 di RS Evasari sudah sesuai dengan standar yang berlaku sesuai peraturan Bapeten No. 8 Tahun 2011. Setiap mesin rontgen yang digunakan di unit radiologi RS Evasari mempunyai Izin. untuk pemanfaatan tenaga nuklir yang diterbitkan oleh BAPETEN (Badan Pengawasan Tenaga Nuklir), sebagai salah satu persyaratan izin dinas radiologi. Checklist Kepatuhan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Radiologi di RS Evasari Radiologi Kesehatan Radiologi di RS Evasari.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan sehubungan dengan tinjauan pelaksanaan K3 radiologi di RS Evasari sudah sesuai dengan standar persyaratan keselamatan radiasi sesuai Peraturan Kepala Bapeten Nomor 8 Tahun 2011. Radiologi RS Evasari telah mempunyai 1 izin untuk proteksi radiasi dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku. Judul Penelitian: Deskripsi kepatuhan penerapan K3 radiologi dengan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan radiasi sinar X di unit radiologi RS Evasari tahun 2017.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan rancangan penelitian
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan observasional dari kegiatan rutin pekerja radiasi, wawancara dan checklist untuk melihat penerapan sistem manajemen keselamatan radiasi bagi pekerja radiasi di unit kerja radiologi RS Evasari sebagai upaya melindungi pekerja radiasi dari radiasi. dampak dan dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan radiasi sinar X.
Populasi dan Sampel
Data yang penulis peroleh dari dokumen-dokumen terkait proteksi radiasi di unit radiologi. Tenaga radiologi telah memenuhi ketentuan yang berlaku yang meliputi ahli radiologi, radiografer, petugas proteksi radiasi dan fisikawan medik, dengan memenuhi ketentuan yang berlaku dengan informasi 2 orang ahli radiologi, 1 orang operator proteksi radiasi diploma IV, 1 orang fisikawan. Radiologi RS Evasari telah mempunyai 1 orang petugas proteksi radiasi dan telah sesuai dengan peraturan yang berlaku serta mempunyai standar operasional untuk keadaan darurat namun perlu dioptimalkan seperti pelatihan proteksi radiasi yang tidak merata, belum tersedianya program pelatihan, tidak adanya pelatihan rencana proteksi radiasi jangka panjang untuk seluruh radiografer, kurangnya komunikasi dari petugas radiologi kepada seluruh petugas radiologi sehingga sebagian petugas belum sepenuhnya memahami pengetahuan proteksi radiasi.
Hasil laporan TLD (Termo Luminescence Dosimeter) didokumentasikan dan dicatat oleh petugas proteksi radiasi, dimasukkan ke dalam kartu dosis setiap pegawai dan kemudian dievaluasi. Petugas proteksi radiasi sebaiknya mengoptimalkan pelatihan proteksi radiasi dengan memberikan pelatihan atau seminar proteksi radiasi dan melibatkan seluruh petugas dalam pelatihan proteksi radiasi. Penelitian ini dilakukan dalam rangka penulisan skripsi sebagai salah satu syarat penyelesaian studi pada program Sarjana Terapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang berjudul “Deskripsi Penerapan K3 Radiologi dengan Sistem Manajemen Keselamatan Radiasi Sinar-X di Evasari Departemen Radiologi Rumah Sakit pada tahun 2017.
Defiisi Opersional
Sumber Data Penelitian
Instrumen Penelitian
Pengumpulan Data
Pengolahan dan Analisa Data
Ruang unit kerja Radiologi terletak di lantai 1 (satu) berdekatan dengan instalasi ruang operasi dengan ruang pemeriksaan diagnostik, terdiri dari 3 (tiga) diantaranya merupakan ruang pemeriksaan, seluruh dindingnya dilapisi timbal/PB sebagai pelindung yang memberikan proteksi radiasi bagi pekerja radiasi, pasien dan orang yang berada dekat dengan unit radiologi. Dokter radiologi belum mengikuti pelatihan karena biaya yang cukup mahal dan menambah kontrak kerja dari pihak rumah sakit. Kurangnya kepedulian petugas proteksi karena petugas tersebut bukan pegawai rumah sakit. Surveilans kesehatan telah dilakukan secara berkala setahun sekali yang meliputi pemeriksaan urin, darah, pemeriksaan umum lainnya dan rontgen dada sesuai Peraturan BAPETEN No. 6 Tahun 2010 yaitu dimulai dari awal sebelum bekerja, pada saat bekerja, namun dilakukan oleh rumah sakit. tidak memimpin. pemeriksaan kesehatan pada saat pemutusan hubungan kerja, sehingga belum tuntas dan tidak dilakukan pemeriksaan khusus apabila timbul penyakit akibat penyimpangan dosis yang berlebihan.
Alat pelindung diri RS Evasari terdiri dari 2 buah celemek badan, 2 buah kaca mata timbal, 6 buah TLD (Thermo Luminescence Dosimeter), 3 buah perisai pelindung, 3 buah pelindung radiasi, 2 pasang sarung tangan Pb, 3 buah lampu peringatan radiasi pc, Pelindung tiroid 1 buah. Dosimeter saku 2 pcs. Registrasi/penyimpanan dokumen sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007, RS Radiologi Evasari telah melaksanakannya dalam hal penyimpanan dokumen dosis radiasi individu serta hasil pemantauan area kerja, dan setiap pekerja radiasi mempunyai kartu dosis masing-masing. untuk memudahkan evaluasi penerimaan dosis dan penyimpanan data dosis radiasi, izin peralatan atau data terkait lainnya. Pemegang izin/manajemen hendaknya menyelenggarakan pelatihan proteksi radiasi yang merata kepada seluruh petugas radiasi, hal ini berguna agar pekerja mengetahui prinsip-prinsip proteksi radiasi secara detail dan memudahkan pekerja radiasi untuk mengikuti seminar guna menambah wawasan dan update kemajuan di bidang radiasi. radiologi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Geogerafi
Secara administratif, lokasi ini termasuk dalam Kawasan Kelurahan Sari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kota Madya 10570, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
Sejarah
Misi dan Visi Rumah Sakit
- Visi
- Misi
Kondisi Pelayanan Rumah Sakit Evasari
- PelayananRumah Sakit
- Fasilitas Pelayanan
5 Apakah ada penerimaan dosis yang melebihi ambang batas bagi petugas pengguna. 6 Apakah PPR aktif. Pemantauan dosis radiasi bagi radiografer dilakukan dengan menggunakan alat pemantauan dosis individu dan memenuhi Peraturan BAPETEN No. 8 Tahun 2011 yaitu TLD (Thermo Luminescence Dosimeter).
Sistem Manajemen Kesehatan Radiasi
- Unsur-Unsur Manajemen Sistem Keselamatan Radiasi Di
Layanan Radiologi
- Ruangan Pemeriksaan Kamar 1
- Ruangan Pemeriksaan Kamar 2
- Ruangan Pemeriksaan Kamar 3
- Ruangan Administerasi
- Ruangan Expertise Dokter
Pintu ruang berbahan kayu lapis 2 mmPb dilengkapi dengan 2 buah celemek, 1 buah sarung tangan Pb dan 1 buah kaca mata safety Pb. X-ray MSCT 16 Slices serta mesin X-ray mobile dan konvensional ditempatkan di ruangan ini, dengan spesifikasi sebagai berikut. Pintu ruang terbuat dari kayu yang dibalut 2mmPb serta memiliki ruang ganti dan ruang operator terpisah dengan jendela berukuran 100cm x 120cm menggunakan kaca 2mmPb yang dilengkapi dengan 2 buah apron.
Ruangan ini bersebelahan dengan ruang administrasi dan ruang pemeriksaan kesehatan, dindingnya dilapisi Pb 2 mm, ruangan ini untuk konsultasi radiografi dan pembacaan hasil pemeriksaan rontgen, terdapat 2 kotak pemeriksaan, selanjutnya terdapat beberapa jendela kaca yang terlihat menyamping dan mempunyai 1 buah pendingin ruangan (AC). Terdapat lampu indikator berwarna merah pada pintu setiap ruang pemeriksaan yang berfungsi sebagai penanda sedang digunakan pesawat rontgen, serta logo Waspada Bahaya Radiasi. Di ruang pemeriksaan sendiri terdapat teguran tertulis bagi ibu hamil untuk memberitahukan kepada petugas radiologi, yang berguna untuk kelanjutan pemeriksaan yang perlu dilakukan.
Checklist Kesesuaian Sistem Manajemen Keselamatan Dan
- Tabel Personal Radiologi
- Tabel Pelatihan Radiasi
- Tabel Pemeriksaan dan Pemantau Kesehatan
- Tabel Peralatan Proteksi Radiasi
- Tabel Pemantauan Dosis Radiasi
- Tabel Rekaman Dosis Radiasi
Dalam hal ini persyaratan alat pelindung diri yang lengkap sudah cukup untuk keselamatan radiasi dan tidak sesuai dengan Peraturan Kepala BAPETEN no. 8 Tahun 2011 tentang keselamatan radiasi internal. Pengukuran dosis radiasi bagi radiografer dilakukan dengan menggunakan alat ukur dosis individual dan sesuai dengan Peraturan BAPETEN no. 8 Tahun 2011 yaitu TLD (Thermo Luminescence Dosimeter) yang digunakan pekerja selama tiga bulan. Dan hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah no. 33 Tahun 2007, bahwa setiap pemegang izin wajib memantau dosis radiasi pekerja dan tidak pernah terjadi kecelakaan atau dosis radiasi berlebih di Radiologi Evasari.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.33 Tahun 2007, Tentang Keamanan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif, BAPETEN, Jakarta, 2007.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Rumah sakit wajib melakukan pemeriksaan pada akhir hubungan kerja yang berguna untuk memantau pengaruh radiasi terhadap pekerja radiasi, yang bertujuan untuk mendeteksi penyakit akibat kerja. 3. Alat pelindung diri yang lengkap untuk meminimalisir. penerimaan dosis dengan menambahkan alat pelindung gonad. Dengan ini kami memberikan izin penelitian kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan penelitian sesuai dengan peraturan yang berlaku di Departemen Radiologi.