• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gangguan Makan dan Tidur

N/A
N/A
mfakhrihabibie kuliah

Academic year: 2024

Membagikan "Gangguan Makan dan Tidur"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

EATING DISORDERS AND SLEEP-WAKE DISORDERS Disusun untuk menyelesaikan tugas makalah Psikologi Abnormal dan Patologi

Dosen Pengampu: Dr. Risatianti Kolopaking, M.Si

Disusun oleh:

Kelompok 5

Najwa Fathiyyah Hidayat 11210700000105 Nur Viora Kurniawati 11210700000108 Shabrina Widad Nazihah 11210700000116

Shaumi Diah 11210700000118

Siti Nabila Suryaningsih 11210700000124 Aqila Nuha Syaihkah 11210700000130

Rahadian Danar 11210700000134

Amanah Rizkia 11210700000137

Muhammad Arkan Ghozy 11210700000142

(2)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2023

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya, sehingga bisa menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat serta salam tidak lupa juga kami curahkan kepada baginda nabi besar Muhammad, SAW yang telah menunjukkan jalan lurus kepada umatnya. Makalah ini diselesaikan untuk memenuhi tugas mata kuliah mal Psikologi Abnormal dan Psikopatologi.

Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Risatianti Kolopaking, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Abnormal dan Psikopatologi, Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adanya tugas ini menjadi sarana kami untuk belajar, menambah wawasan, melatih critical thinking, serta meningkatkan kemampuan belajar.

Terlepas dari hal tersebut, penulis sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran pembaca terhadap makalah yang penulis buat agar menjadi perbaikan di masa yang akan datang. Penulis juga berharap semoga pembaca dapat mengerti isi dan maksud tujuan makalah ini. Dan seperti layaknya manfaat dari menulis makalah ini bagi penulis, semoga pembaca mendapatkan manfaat yang tak kalah melimpahnya

(3)

Ciputat, 26 Oktober 2023

Pemakalah

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...1

DAFTAR ISI...3

BAB I...4

PENDAHULUAN... 4

(4)

1.1 Latar Belakang... 4

1.2 Rumusan Masalah...5

1.3 Tujuan Masalah...5

BAB II... 6

PEMBAHASAN... 6

2.1 Eating Disorder: Anorexia Nervosa and Bulimia Nervosa...6

2.2 Penyebab Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa...11

2.3 Treatment Anorexia-Bulimia Nervosa, Binge-Eating Disorder... 15

2.4 Sleep-Wake Disorders: Insomnia, Hypersomnolence Disorders, Narcolepsy...17

2.5 Breathing-Related Sleep Disorders, Circadian Rhythm Sw-Disorders Parasomnias... 22

2.6 Treatment Sleep Wake Disorders...27

BAB III...31

KESIMPULAN... 31

3.1 Kesimpulan... 31

DAFTAR PUSTAKA... 32

BAB I PENDAHULUAN

(5)

1.1 Latar Belakang

Makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Bentuk makanan apapun yang dicerna oleh tubuh sangat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan sumber energi. Oleh karena itu, setiap manusia memerlukan makanan dalam keberlangsungan hidupnya.

Namun, bagi beberapa orang, makan merupakan aktivitas yang menakutkan. Orang-orang tersebut adalah individu yang memiliki obsesi terhadap badan ideal sehingga mereka rela untuk menahan lapar atau bahkan memuntahkan semua isi perut mereka supaya asupan yang baru saja dimakan tidak berubah menjadi lemak yang sangat mereka hindari. Terdapat dua jenis utama gangguan makan: anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Gangguan makan ini melibatkan perilaku makan yang tidak teratur dan cara makan yang maladaptif mengendalikan berat badan.

Gangguan makan seringkali terjadi bersamaan dengan gangguan psikologis lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan penyalahgunaan zat (Jenkins dkk., 2011).

Sama halnya dengan makanan yang berperan penting dalam keberlangsungan hidup manusia, tidur juga merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi kualitasnya. Apabila kita tidak tidur dengan cukup atau berkualitas, maka tubuh kita juga akan kehilangan haknya untuk beristirahat. Namun, tak sedikit orang yang memiliki gangguan dalam tidur, yang membuat istirahat mereka pun jadi tidak berkualitas. Gangguan tidur diantaranya Insomnia, Hypersomnolence Disorders, Narcolepsy. Gangguan tidur ini pun juga dapat berdampak kepada fungsi psikologis maupun fisiologis penderitanya.

Oleh karena itu makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi topik mengenai gangguan makan dan tidur yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menginformasikan definisi, gejala, hingga cara penanganan yang baik dan tepat bagi para penderita kedua gangguan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan gangguan makan?

2. Apa saja macam-macam gangguan makan?

(6)

4. Bagaimana pengobatan atau treatment untuk mengatasi gangguan makan?

5. Apa yang dimaksud dengan sleep-wake disorders?

6. Apa saja macam-macam sleep-wake disorders?

7. Bagaimana pengobatan atau treatment untuk mengatasi sleep-wake disorders?

1.3 Tujuan Masalah

1. Mengetahui mengenai gangguan makan 2. Mengetahui macam-macam gangguan makan 3. Memahami mengapa gangguan makan dapat terjadi

4. Mengetahui pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan makan 5. Mengetahui mengenai sleep-wake disorders

6. Mengetahui macam-macam sleep-wake disorders

7. Mengetahui pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi sleep-wake disorders

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Eating Disorder: Anorexia Nervosa and Bulimia Nervosa

Beberapa orang menganggap bahwa makan adalah aktivitas yang menakutkan. Mereka terobsesi dengan berat badan ideal yang mereka inginkan sehingga rela untuk menahan lapar

(7)

meski kematian resikonya. Beberapa orang lainnya berada pada siklus berulang dimana mereka makan berlebihan kemudian membuang makanan yang telah diproses oleh organ pencernaan melalui purging. Pola disfungsional ini masing-masing merupakan dua jenis utama gangguan makan: anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Gangguan makan melibatkan perilaku makan yang tidak teratur dan cara makan yang maladaptif mengendalikan berat badan. Gangguan makan seringkali terjadi bersamaan dengan gangguan psikologis lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan penyalahgunaan zat (Jenkins dkk., 2011).

Sebagian besar kasus anoreksia nervosa dan bulimia nervosa terjadi di kalangan wanita muda. Meskipun gangguan makan dapat berkembang pada pertengahan atau bahkan akhir masa dewasa, gangguan ini biasanya dimulai pada masa remaja atau masa dewasa awal ketika adanya tekanan sosial yang biasanya terdapat di masyarakat. Bukti dari survei besar berbasis komunitas menunjukkan bahwa anoreksia nervosa mempengaruhi sekitar 0,9% wanita (hampir 1 dari 100;

Hudson, Lalonde, dkk., 2006). Bulimia nervosa diyakini mempengaruhi sekitar 0,9% hingga 1,5% wanita (Smink, van Hoeken, & Hoek, 2012).

Tingkat anoreksia nervosa dan bulimia nervosa di kalangan pria diperkirakan sekitar 0,3% (3 dari 1.000) untuk anoreksia dan 0,1% hingga 0,5% (1 hingga 5 dari 1.000) untuk bulimia (Hudson dkk., 2006; Smink, van Hoeken, & Hoek, 2012). Banyak pria menderita anoreksia nervosa berpartisipasi dalam olahraga seperti gulat yang memberikan tekanan pada menjaga berat badan dalam rentang yang sempit.

2.1.1 Anorexia Nervosa

Anorexia berasal berasal dari bahasa Yunani "an" yang berarti "tanpa" dan "orexis" yang berarti "hasrat" sehingga dapat dikaitkan bahwa anorexia berarti tidak memiliki hasrat untuk melakukan apapun. Dalam konteks ini, anoreksia berarti tidak memiliki nafsu terhadap [makanan]. Namun, istilah ini keliru, karena penderita anoreksia nervosa jarang kehilangan nafsu makan. Akan tetapi, mereka mungkin menolak makanan dan menolak makan lebih dari yang diperlukan untuk mempertahankan berat badan minimal untuk usia dan tinggi badan mereka.

(8)

Seringkali, mereka membuat diri mereka kelaparan sampai pada titik tertentu di mana mereka menjadi sangat kurus. Anoreksia nervosa biasanya berkembang antara usia 12 dan 18 tahun. Tanda paling menonjol dari anoreksia nervosa adalah penurunan berat badan yang parah karena pembatasan asupan kalori yang signifikan atau kelaparan. Ciri-ciri lainnya, antara lain:

- Ketakutan yang berlebihan akan kenaikan berat badan atau menjadi gemuk

- Citra tubuh yang terdistorsi, sebagaimana tercermin dalam persepsi diri terhadap tubuh - Kegagalan untuk mengenali risiko yang ditimbulkan akibat menjaga berat badan pada

tingkat yang tidak normal

Salah satu pola umum anoreksia dimulai ketika seorang gadis menganggap bahwa lemak di tubuhnya berlebihan dan secepatnya harus dihilangkan. Padahal penambahan lemak di tubuh remaja putri merupakan hal yang normal sebagai persiapan untuk melahirkan dan menyusui.

Namun, wanita penderita anoreksia berusaha untuk menghilangkan beban tambahan dari tubuh mereka sehingga seringkali melakukan diet ekstrem dan olahraga yang berlebihan. Namun, upaya ini biasanya terus berlanjut setelah tujuan awal penurunan berat badan tercapai, bahkan setelah keluarga dan teman menyatakan keprihatinannya. Anoreksia nervosa merupakan hal yang umum terjadi di kalangan remaja putri yang berkecimpung dalam bidang tari atau modeling, kedua bidang tersebut memiliki penekanan kuat pada mempertahankan bentuk tubuh kurus yang tidak realistis (Tseng et al., 2013).

Ada dua subtipe umum anorexia nervosa, tipe makan berlebihan/membersihkan dan tipe membatasi. Tipe binge-eating/purging ditandai dengan episode-episode yang sering terjadi selama periode 3 bulan sebelumnya dari binge-eating atau purging (misalnya dengan muntah yang disebabkan oleh diri sendiri atau penggunaan obat pencahar, diuretik, atau enema secara berlebihan); tipe restriktif tidak memiliki episode makan berlebihan atau pembersihan.

Perbedaan antara subtipe anoreksia nervosa didukung oleh perbedaan pola kepribadian. Individu dengan tipe binge-eating/purging cenderung mengalami kesulitan dalam melakukan impuls kontrol, yang dapat menyebabkan masalah dengan penyalahgunaan zat. Mereka cenderung kaku dan berperilaku impulsif. Sedangkan mereka yang bertipe restriktif cenderung kaku, bahkan obsesif, mengontrol pola makan dan penampilan secara berlebihan.

(9)

Anorexia nervosa dapat menyebabkan komplikasi medis serius yang dalam kasus ekstrim dapat berakibat fatal (Franko et al., 2013). Kehilangan sebanyak 35% berat badan dapat terjadi, dan anemia dapat terjadi. Perempuan yang menderita anoreksia nervosa juga cenderung menghadapi masalah dermatologis seperti kulit kering dan pecah-pecah; rambut halus dan berbulu halus; bahkan perubahan warna kulit menjadi kekuningan yang mungkin bertahan selama bertahun-tahun setelah berat badan naik kembali. Komplikasi kardiovaskular termasuk kelainan jantung, hipotensi (tekanan darah rendah), dan pusing saat berdiri, terkadang menyebabkan pingsan. Penurunan konsumsi makanan dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti sembelit, sakit perut, dan penyumbatan atau kelumpuhan usus. Ketidakteraturan menstruasi di wanita sering mengalami kasus anoreksia, seperti halnya amenore. Kelemahan otot dan pertumbuhan tulang yang tidak normal dapat terjadi, menyebabkan hilangnya tinggi badan dan osteoporosis.

Lalu, sayangnya, ada peningkatan risiko kematian, yang diperkirakan terjadi 5% hingga 20% pada kasus anoreksia nervosa, disebabkan oleh bunuh diri atau malnutrisi karena kelaparan (Arcelus et al., 2011; Haynos, & Fruzzetti, 2011). Perempuan dengan anoreksia nervosa delapan kali lebih mungkin melakukan bunuh diri dibandingkan pada populasi umum (Yager, 2008).

Dalam sebuah penelitian terhadap beberapa ratus orang yang menderita penyakit ini atau masih menderita anoreksia—95% di antaranya adalah perempuan—hampir satu orang dari lima orang (17%) pernah melakukan percobaan bunuh diri (Bulik dkk., 2008).

2.1.2 Bulimia Nervosa

Istilah bulimia berasal dari bahasa Yunani, “boulimia” yang berarti rakus/sangat lapar dengan asal kata “bous” yang berarti lembu dan “limos” yang berarti lapar. Bulimia nervosa merupakan kelainan makan yang ditandai dengan episode kambuh sering meraih makanan dalam jumlah besar, diikuti dengan penggunaan cara yang tidak tepat dalam mengimbangi makan berlebihan dan mencegah penambahan berat badan. Ciri khas bulimia nervosa adalah sering terjadinya episode makan berlebihan (makan berlebihan), diikuti dengan perilaku kompensasi seperti tindakan yang dilakukan sendiri muntah; penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, atau

(10)

enema; atau puasa atau olahraga berlebihan. Ciri-ciri bulimia nervosa lainnya yang umum terjadi adalah sebagai berikut:

- Perasaan tidak bisa mengontrol makan selama episode makan berlebihan - Rasa takut yang berlebihan akan kenaikan berat badan

- Penekanan berlebihan pada bentuk tubuh dan berat badan pada citra diri

Diagnosis bulimia nervosa pada DSM-5, dinyatakan sebagai episode makan berlebihan dan perilaku kompensasi yang menyertainya terjadi pada frekuensi rata-rata setidaknya sekali dalam seminggu selama tiga bulan (American Psychiatric Association, 2013). Seseorang dengan bulimia mungkin menggunakan dua atau lebih strategi untuk membersihkan, seperti muntah dan konsumsi obat pencahar. Meskipun penderita anoreksia nervosa memiliki tubuh yang sangat kurus, penderita bulimia nervosa umumnya menjaga berat badannya dalam kisaran yang sehat (Bulik et al., 2012). Namun, mereka mempunyai kekhawatiran yang berlebih tentang bentuk dan berat badannnya dan mungkin mengandalkan pembersihan untuk menghindari penambahan berat badan.

Penderita bulimia nervosa biasanya membersihkan diri dengan cara menyumbat mulutnya untuk menginduksi muntah. Sebagian besar berusaha menyembunyikan perilaku mereka. Ketakutan akan bertambahnya berat badan adalah faktor yang konstan. Namun, penderita bulimia nervosa tidak mengejar ciri-ciri kurus yang ekstrem, seperti penderita anoreksia nervosa. Berat badan ideal mereka serupa dengan wanita yang tidak menderita dari gangguan makan.

Bulimia nervosa biasanya menyerang wanita pada masa remaja akhir atau awal masa dewasa, ketika kekhawatiran tentang diet dan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh atau berat badan memuncak tinggi. Meskipun ada kepercayaan luas bahwa gangguan makan adalah yang paling umum terjadi bagi masyarakat yang lebih makmur, bukti yang ada menunjukkan tidak ada hubungan yang kuat antara gangguan ini dan tingkat sosial ekonomi (Mitchison & Hay, 2014;

Swanson et al., 2011). Keyakinan mengenai gangguan makan yang berhubungan dengan status sosial ekonomi tinggi mungkin mencerminkan kecenderungan tersebut bagi pasien yang lebih kaya untuk mencari dan mendapatkan pengobatan. Alternatifnya, mungkin saja tekanan sosial

(11)

terhadap perempuan muda untuk berusaha mencapai cita-cita ultrathin kini telah meluas ke semua tingkat sosial ekonomi.

Seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa dikaitkan dengan banyak komplikasi medis.

Banyak diantaranya berasal dari muntah berulang: iritasi kulit di sekitar mulut akibat seringnya kontak dengan asam lambung, penyumbatan saluran air liur, kerusakan email gigi, dan gigi berlubang. Asam dari muntahannya dapat merusak reseptor rasa di langit-langit mulut, membuat seseorang menjadi kurang sensitif terhadap rasa muntahan akibat purging berulang kali.

Penurunan kepekaan terhadap rasa muntah ini malah akan membantu mempertahankan perilaku pembersihan tersebut sehingga akan menjadi sebuah kebiasaan yang tidak akan selesai. Siklus makan berlebihan dan muntah dapat menyebabkan sakit perut, hernia hiatus, dan keluhan perut lainnya, serta gangguan menstruasi. Stres pun dapat menyebabkan pankreatitis (radang pankreas). Penggunaan obat pencahar yang berlebihan dapat menyebabkan pendarahan diare dan ketergantungan obat pencahar sehingga seseorang tidak dapat buang air besar secara normal tanpa obat tersebut. Dalam kasus ekstrim, usus bisa kehilangan respon eliminasi refleksinya.

Mengonsumsi makanan asin dalam jumlah banyak dapat menyebabkannya kejang dan bengkak. Muntah berulang kali atau penyalahgunaan obat pencahar dapat menyebabkan kekurangan kalium, menyebabkan kelemahan otot, gangguan jantung, dan bahkan tiba-tiba kematian— terutama ketika diuretik digunakan. Sama seperti pasien anoreksia, penderita bulimia juga mempunyai tingkat kematian dini yang tinggi dibandingkan dengan populasi umum, dimana kematian disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya seperti bunuh diri, penyalahgunaan zat, dan gangguan medis (Crow et al., 2009). Meskipun pasien dengan bulimia diperkirakan menunjukkan tingkat upaya bunuh diri yang sangat tinggi sebesar 25% hingga 35%, masih belum jelas apakah tingkat bunuh diri mereka lebih tinggi dari rata-rata masyarakat umum (Franko & Keel, 2006).

2.2 Penyebab Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa

Seperti halnya gangguan psikologis lain, anoreksia nervosa dan bulimia nervosa melibatkan beberapa faktor yang saling mempengaruhi secara kompleks, diantaranya:

(12)

a. Faktor Sosialisasi

Para ahli teori sosiokultural menunjukkan bahwa, tekanan sosial dan ekspektasi yang dibebankan pada perempuan muda di masyarakat kita merupakan faktor penyebab gangguan makan (The McKnight Investigators, 2003; Mendez, 2005). Dorongan untuk menjadi kurus dan ketidakpuasan terhadap tubuh terutama terlihat pada gangguan makan (Brannan & Petrie, 2011; Chernyak & Lowe, 2010). Perilaku membandingkan tubuh sendiri dengan orang lain secara tidak baik dalam hal penampilan dapat menimbulkan ketidak puasan terhadap tubuh (Myers & Crowther, 2009). Para remaja putri mulai mengukur diri mereka berdasarkan standar ketipisan yang tidak realistis, dengan istilah

“tubuh sempurna” yang mana, dalam gambaran media direpresentasikan dengan model dan artis yang sangat kurus, sehingga menimbulkan ketidakpuasan terhadap tubuh (Bell

& Dittmar, 2011; Rodgers, Salès, & Chabrol , 2010). Munculnya rasa ketidakpuasan terhadap tubuh, dapat menyebabkan pola makan yang berlebihan dan perilaku makan yang terganggu.

Tak hanya itu, tekanan dari teman sebaya untuk mengikuti bentuk tubuh kurus juga muncul sebagai prediktor kuat perilaku bulimia pada remaja putri (Young, McFatter,

& Clopton, 2001). Tekanan untuk menjadi kurus begitu lazim sehingga diet telah menjadi pola makan normatif di kalangan remaja putri Amerika, misalnya. Empat dari lima remaja putri di Amerika Serikat telah melakukan diet pada saat mereka mencapai ulang tahun ke-18. Dalam sebuah survei terhadap mahasiswi, menunjukkan bahwa berapapun berat badan mereka, sebagian besar, sekitar 80%, melaporkan melakukan diet (Malinauskas et al., 2006). Kekhawatiran mengenai tekanan sosial untuk menjadi kurus mengungkap gambaran tubuh ideal yang dialami perempuan.

Meskipun anoreksia nervosa jauh lebih umum terjadi pada wanita, namun semakin banyak pria muda yang mengalami gangguan perilaku makan, bahkan anoreksia nervosa. Faktor-faktor yang terkait dengan gangguan perilaku makan pada pria muda juga serupa dengan wanita muda, seperti kebutuhan akan kesempurnaan, tekanan yang dirasakan dari orang lain untuk menurunkan berat badan, dan partisipasi dalam olahraga yang sangat mementingkan kelangsingan (Ricciardelli & McCabe, 2004).

(13)

b. Faktor Psikososial

Wanita dengan gangguan makan biasanya menerapkan aturan dan praktik diet yang sangat ketat tentang apa yang boleh mereka makan, berapa banyak yang boleh mereka makan, dan seberapa sering mereka boleh makan. Namun, penting untuk diketahui bahwa gangguan makan juga melibatkan masalah emosional yang lebih dalam, yaitu perasaan tidak aman, ketidakpuasan terhadap tubuh, dan penggunaan makanan untuk kepuasan emosional. Bulimia nervosa juga dikaitkan dengan masalah dalam hubungan interpersonal. Wanita dengan bulimia cenderung pemalu dan memiliki sedikit teman dekat.

c. Faktor Emosi

Untuk meredakan emosi yang tidak menyenangkan, orang dengan anoreksia nervosa melakukan upaya yang salah, yakni membatasi asupan makanan mereka dengan mencari penguasaan atau kendali atas tubuh mereka (Merwin, 2011). Wanita muda dengan bulimia nervosa sering kali memiliki lebih banyak masalah emosional dan harga diri yang lebih rendah dibandingkan pelaku diet lainnya (Jacobi et al., 2004). Keadaan emosi negatif seperti kecemasan dan depresi dapat memicu episode makan berlebihan (Reas & Grilo, 2007). Bulimia nervosa sering kali disertai dengan kelainan lain yang dapat didiagnosis, seperti depresi, gangguan obsesif-kompulsif, dan kelainan terkait zat.

Dapat dilihat, bahwa beberapa bentuk makan berlebihan merupakan upaya untuk mengatasi tekanan emosional. Sayangnya, siklus makan sebanyak-banyaknya dan buang air besar justru akan memperburuk masalah emosional, bukan meringankannya.

d. Perspektif Belajar

Dari sudut pandang pembelajaran, kita dapat mengkonseptualisasikan gangguan makan sebagai salah satu jenis fobia berat. Makan berlebihan menyebabkan ketakutan akan penambahan berat badan, yang selanjutnya dapat memicu muntah-muntah atau olahraga berlebihan. Beberapa penderita bulimia bahkan muntah-muntah setiap habis makan. Pembersihan ini diperkuat secara negatif karena dapat menghasilkan kelegaan,

(14)

atau setidaknya kelegaan sebagian, dari kecemasan terhadap kenaikan berat badan.

Seperti pada anoreksia, perilaku menolak makanan (dan buang air besar dalam kasus makan berlebihan/subtipe pembersihan) diperkuat secara negatif oleh hilangnya kecemasan tentang penambahan berat badan.

e. Faktor Kognitif

Perfeksionisme dan kekhawatiran berlebihan dalam membuat kesalahan merupakan hal yang menonjol dalam banyak kasus gangguan makan (Boone, Soenens, &

Luyten, 2014; Martinez & Craighead, 2015; Wade et al., 2015). Orang-orang dengan gangguan makan cenderung memberikan tekanan perfeksionis pada diri mereka sendiri untuk mencapai “tubuh yang sempurna” dan merendahkan diri mereka sendiri apabila mereka gagal memenuhi standar yang sangat tinggi. Mereka juga cenderung memiliki kebutuhan yang kuat akan kendali, yang diwujudkan dalam bentuk diet ekstrem.

Orang yang menderita bulimia selalu berusaha untuk mematuhi aturan diet mereka dengan sempurna. Walaupun aturan mereka kaku. Mereka akan menilai diri mereka sendiri sebagai orang yang gagal total jika mereka melakukan penyimpangan meski hanya sedikit. Mereka mungkin juga memiliki keyakinan yang berlebihan tentang dampak negatif penambahan berat badan, yang selanjutnya berpengaruh terhadap gangguan pola makan. Para peneliti menemukan bahwa wanita dengan gangguan makan cenderung menyalahkan diri mereka sendiri atas peristiwa negatif secara umum, dan menyalahkan diri sendiri kemungkinan besar berkontribusi dalam mempertahankan perilaku makan mereka yang tidak teratur (Morrison, Waller, & Lawson, 2006).

f. Perspektif Psikodinamis

Para ahli teori psikodinamik menyatakan bahwasanya anak perempuan dengan anoreksia nervosa cenderung mengalami kesulitan untuk memisahkan diri dari keluarga mereka dan membentuk identitas individu yang terpisah (misalnya, Bruch, 1973;

Minuchin, Rosman, & Baker, 1978). Kemungkinan, anoreksia melambangkan upaya bawah sadar seorang gadis untuk tetap menjadi anak praremaja, yakni dengan menjaga

(15)

kesan masa kanak-kanak, para gadis yang puber dapat menghindari masalah-masalah orang dewasa seperti meningkatnya kemandirian dan keterpisahan dari keluarga mereka, kematangan seksual, dan memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

g. Faktor Keluarga

Tak jarang gangguan makan berkembang karena adanya masalah dan konflik dalam keluarga. Beberapa ahli teori berfokus pada dampak dari kelaparan yang ditujukan kepada orang tua. Mereka berpendapat bahwa beberapa remaja menolak makan sebagai bentuk penghukuman kepada orang tua mereka atas perasaan kesepian dan keterasingan yang mereka alami di rumah.

Sering ditemukan, remaja putri dengan gangguan makan berasal dari latar belakang keluarga yang disfungsional, ditandai dengan tingginya tingkat konflik dalam keluarga, dan oleh orang tua yang cenderung terlalu protektif di satu sisi, namun di sisi lain kurang mengasuh dan mendukung (Giordano, 2005; Holtom-Viesel & Allan, 2014).

Namun masih belum dipastikan apakah pola keluarga ini berkontribusi terhadap gangguan makan atau apakah gangguan makan mengganggu dinamika keluarga dengan cara-cara tersebut.

Dari perspektif sistem, keluarga adalah sistem yang mengatur diri mereka sendiri sedemikian rupa sehingga meminimalkan ekspresi konflik secara terbuka dan mengurangi kebutuhan akan perubahan. Dalam perspektif ini, bagi anak perempuan yang mengidap anoreksia nervosa mungkin dipandang membantu menjaga keseimbangan dan keharmonisan yang ditemukan dalam keluarga disfungsional dengan cara mengalihkan perhatian dari konflik keluarga dan ketegangan perkawinan ke diri mereka sendiri.

h. Faktor Biologi

Para ilmuwan menduga bahwa kelainan pada mekanisme otak yang mengendalikan rasa lapar dan kenyang juga ikut terlibat dalam bulimia nervosa, kemungkinan besar melibatkan zat kimia serotonin di otak. Serotonin memainkan peran penting dalam mengatur suasana hati dan nafsu makan, terutama keinginan akan

(16)

karbohidrat (Hildebrandt et al., 2010). Episode makan berlebihan dapat disebabkan oleh ketidakteraturan dalam tingkat serotonin atau cara penggunaannya di otak.

Genetika juga tampaknya memiliki peran dalam perkembangan gangguan makan.

Penelitian menunjukkan bahwa gangguan makan seringkali muncul dalam keluarga, yang menunjukkan adanya kontribusi genetik. Namun, faktor genetik tidak dapat sepenuhnya menjelaskan perkembangan kelainan makan. Perlu diingat bahwa, faktor genetik hanya merupakan bagian dari penjelasan, interaksi antara faktor genetik dan stres sosial dan keluarga juga dapat meningkatkan risiko perkembangan gangguan makan. Artinya, faktor genetik dapat berinteraksi dengan tekanan sosial dan keluarga sehingga meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan makan.

2.3 Treatment Anorexia-Bulimia Nervosa, Binge-Eating Disorder

Treatment untuk Anorexia Nervosa dan Bulimia sendiri bukanlah sesuatu hal yang mudah.

Kebanyakan dari hasil treatment ini tidak menyenangkan dan bahkan nihil. Akan tetapi telah terjadi proses yang signifikan dalam mengatasi penyakit-penyakit ini. Akan tetapi juga masih banyak orang dengan Eating Disorder ini yang masih mendapatkan treatment yang cukup baik.

Jika sudah parah para pengidap penyakit ini harus dimasukan ke dalam rumah sakit jika sudah mencapai titik dimana mengganggu aspek seperti berat badan pengidap (Martinez and Craighead, 2015). Dalam mengatasi hal ini terapis menggunakan terapi Behavioral dengan menggunakan hal seperti reward. Yang biasanya digunakan adalah reinforcement seperti social opportunity. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk pasien untuk relapse atau kambuh kembali penyakitnya. Terdapat 50 persen kemungkinan pasien untuk di rumahsakitkan kembali dalam kurun waktu setahun (Haynos and Fruzzeti, 2011). Oleh karena itu terapi individual sangat penting untuk memastikan pasien baik-baik saja.

(17)

Salah satu dari terapi yang dinilai cukup efektif dalam menghadapi persoalan ini adalah CBT atau Cognitive Behavioral Therapy. CBT dilakukan untuk meladawan kepercayaan maladaptive mengenai makan dan Body Image (Galsworthy-Francis, 2014). Dalam terapi ini terapis menggunaka teknik Exposure with response prevention yang diciptakan untuk melawan orang dengan obsesive compulsive. Dalam teknik ini orang penderita bulimia nervosa terkena makan makanan terlarang sementara terapis berdiri untuk mencegah muntah sampai keinginan untuk buang air besar hilang. Maka dari itu penderita bulimia belajar untuk mengerti kesalahan mereka.

Kemudian ada Psychodynamic Therapy yaitu yang digunakan untuk mengatasi konflik psikologi dari seseorang penderita (Zipfel et al, 2013). Family therapy juga bisa membantu dalam kasus ini (Agras et al., 2014). Bantuan rumah sakit bisa membantu akan tetapi hal ini hanya dibutuhkan jika perkara ini sudah mengancam keberadaan penderita.

Interpersonal Psychotherapy juga bisa membantu terutama ketika penderita tidak bisa merespon terhadap CBT (Reiger, 2010). IPT fokus dalam menyelesaikan permasalahan interpersonal dari seseorang berdasarkan kepercayaan yang dipercaya oleh sang penderita.

SSRI-type seperti Prozac dan Zoloft bisa sangat membantu akan mengehilangankan Bulimia nervosa tetapi efektifitas nya sangat terbatas (Mitchell, Roerig, and Steffen, 2013). Obat-obatan seperti ini menghilangkan keinginan untuk binge eating dengan menormalisasi jumlah serotonin di otak. Berbanding terbalik dengan obat-obatan yang mengatasi anorexia nervosa telah mendapatkan hasil yang buruk (Miniati, 2015).

Orang-orang yang memiliki Binge Eating Disorder akan memiliki episode yang diulangi berkali-kali. Akan tetapi berbeda dengan Bulimia Nervosa tidak ada nya perilaku untuk menurunkan berat badan atau pun muntah yang disengaja. Gejala dari episode ini adalah makan dengan jumlah makan yang tidak bisa di kontrol. Jumlah makannya bisa lebih parah dari anorexia atau bulimia dan dapat berdampak kepada 3,5 persen perempuan dan 2 persen pria pada masa hidup mereka (Hudson, 2006). Karena jumlahnya yang lebih banyak pengidap BED akan memiliki berat badan yang lebih overweight atau obese ketimbang yang menderita bulimia

(18)

(Bulik 2012). CBT dan Antidepresan sering digunakan dalam mengatasi permasalahan BED.

Akan tetapi CBT menunjukan bahwa lebih efektif ketimbang antidepresan setelah di evaluasi setelah 12 bulan treatment (Grilo, Masheb, and Crosby, 2012).

2.4 Sleep-Wake Disorders: Insomnia, Hypersomnolence Disorders, Narcolepsy

Permasalahan tidur yang secara frekuensi sering terjadi dengan tingkat keparahannya dapat berpengaruh signifikan pada tekanan pribadi atau gangguan fungsi sosial, pekerjaan, dan peran lainnya diklasifikasikan oleh DSM sebagai sleep-wake disorders.

Gangguan ini melibatkan gangguan pada saat sedang tidur atau pada saat ambang tidur dan bangun. Sleep-wake Disorders juga sering timbul bersamaan dengan permasalahan psikologis seperti depresi dan permasalahan medis seperti permasalahan medis kardiovaskular.

Sehingga diperlukan evaluasi pada penderita sleep-wake disorders untuk mendapatkan hasil evaluasi medis dan psikologis yang komprehensif.

Evaluasi mengenai gangguan tidur ini pun telah diaplikasikan di negara Kanada dan Amerika Serikat. Umumnya, penderita gangguan akan dihubungkan dengan sebuah perangkat yang akan memantau respon fisiologis pada saat tertidur atau ketika mencoba tertidur (gelombang otak, kecepatan jantung dan pernapasan, pergerakan bola mata, pergerakan otot, dan sebagainya.

2.4.1 Insomnia

Insomnia berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu in berarti tidak atau tanpa dan somnus yang berarti tidur. Gangguan Insomnia yang persisten dicirikan dengan terjadinya kesulitan berulang untuk tidur atau tetap tertidur.

Diagnosis insomnia memerlukan sebuah gejala kesulitan tidur yang timbul selama kurang lebih tiga bulan dan terjadi setiap tiga malam/minggunya. Selain itu, biasanya insomnia kronis juga berafiliasi dengan gangguan psikologis seperti depresi atau penyalahgunaan obat.

(19)

Gangguan insomnia kebanyakan terjadi di rentang usia >40 tahun, namun tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan usia remaja hingga dewasa awal pun ikut mengalami gangguan ini. Keluhan penderita insomnia kerap berhubungan dengan kuantitas atau kualitas tidur mereka.

Keluhan tersebut antara lain:

- Kesulitan yang persisten untuk tertidur - Kesulitan untuk mempertahankan tidur

- Sulit untuk mendapatkan tidur yang bersifat restoratif

- Sering terbangun di jam yang terlalu dini dan tidak bisa untuk tidur kembali.

Keluhan ini juga dibarengi dengan rasa stress atau gangguan fungsi dalam memenuhi tanggung jawab sehari-hari, seperti:

- Selalu merasa lelah - Selalu mengantuk - Kurang berenergi

- Sulit untuk berkonsentrasi dan memperhatikan - Kurang bersemangat, dan mungkin

- Timbulnya gangguan perilaku seperti hiperaktif, impulsif, atau agresif.

Gangguan insomnia juga sering dialami oleh penderitanya dengan berbeda-beda. Bagi penderita yang berusia remaja atau dewasa awal, hal yang dikeluhkan berupa sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk tertidur. Sedangkan, bagi penderita yang lebih tua cenderung mengeluhkan sering terbangun di tengah malam atau dini hari. Menariknya, banyak pasien insomnia meremehkan berapa banyak waktu tidur yang sebenarnya mereka dapatkan—menganggap mereka berbaring dalam keadaan terjaga padahal sebenarnya mereka tertidur (Harvey & Tang, 2012).

Penderita insomnia cenderung membawa kecemasan dan kekhawatirannya ke tempat tidur, sehingga meningkatkan gairah tubuh mereka ke tingkat yang dapat menghalangi tidur alami. Sumber kecemasan lainnya datang dalam bentuk kecemasan terhadap kinerja, atau

(20)

tekanan yang dirasakan karena berpikir bahwa seseorang harus mendapatkan tidur malam yang cukup agar dapat beraktivitas keesokan harinya.

Penderita insomnia mungkin mencoba memaksakan diri untuk tidur, yang biasanya menjadi bumerang karena menimbulkan lebih banyak kecemasan dan ketegangan, sehingga membuat kemungkinan tidur menjadi lebih kecil.

2.4.2 Hypersomnolence Disorders

Hypersomnolence berasal dari campuran kata bahasa Yunani hyper yang berarti lebih atau lebih dari normal, dan bahasa Latinsomnusyang artinya tidur.

Gangguan ini umumnya memiliki keluhan berupa rasa kantuk yang berlebihan.

Hypersomnolence atau kadang dikenal sebagai mabuk tidur, merupakan sebuah pola dari rasa kantuk berlebih di siang hari dan biasanya timbul setidaknya tiga hari per minggu dengan periode selama tiga bulan.

Penderita hypersomnolence biasanya dapat tidur selama >9 jam per malamnya namun tetap merasa tidak segar atau berenergi kembali. Mereka mungkin mengalami episode berulang di siang hari karena merasa ingin tidur yang tak tertahankan, atau tidur siang berulang kali, atau tertidur ketika mereka harus tetap terjaga, atau secara tidak sengaja tertidur saat menonton TV (Ohayon, Dauvilliers, & Reynolds, 2012). Tidur siang pada penderita Hypersomnolence umumnya berlangsung selama satu jam atau lebih, namun tidur tersebut tidak membuat orang tersebut merasa segar. Gangguan ini tidak dapat disebabkan oleh kurangnya waktu tidur di malam hari, gangguan psikologis atau fisik lainnya, atau penggunaan obat-obatan.

Walaupun banyak di antara kita yang merasa mengantuk di siang hari dari waktu ke waktu, dan bahkan terkadang tertidur saat membaca atau menonton TV, orang-orang dengan gangguan hipersomnolen memiliki periode kantuk terus-menerus yang menyebabkan tekanan atau kesulitan pribadi dalam aktivitas sehari-hari, seperti melewatkan pertemuan penting. .

(21)

Sekitar 1,5% populasi umum memenuhi kriteria umum untuk hipersomnia (tidur berlebihan), menurut perkiraan terbaru (Ohayon, Dauvilliers, & Reynolds, 2012).

Gangguan ini mungkin melibatkan cacat pada mekanisme tidur-bangun di otak dan sering kali diobati dengan obat stimulan untuk membantu orang tersebut tetap terjaga di siang hari.

Penemuan baru-baru ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus hipersomnia, suatu zat di otak bertindak seperti obat tidur alami dengan meningkatkan aktivitas GABA (asam gamma-aminobutyric), suatu neurotransmitter di otak yang menyebabkan rasa kantuk. GABA adalah bahan kimia otak yang dipengaruhi oleh penggunaan obat anti cemas seperti Valium dan Xanax (lihat Bab 5; Rye et al., 2012).

2.4.3 Narcolepsy

Kata narkolepsi berasal dari bahasa Yunani narke yang berarti pingsan dan lepsis yang berarti serangan. Penderita narkolepsi mengalami kebutuhan tidur yang tidak tertahankan atau serangan tidur mendadak atau tidur siang yang terjadi setidaknya tiga kali seminggu selama tiga bulan. Saat serangan tidur, seseorang tiba-tiba tertidur tanpa peringatan dan tetap tertidur selama kurang lebih 15 menit. Orang tersebut mungkin berada di tengah-tengah percakapan pada suatu saat dan tertidur lelap beberapa saat kemudian

Serangan narcoleptic dikaitkan dengan transisi yang hampir seketika dari terjaga ke tidur Rapid Eye Movement (REM), tahap tidur yang terutama dikaitkan dengan mimpi. Dinamakan tidur REM karena mata orang yang tidur cenderung bergerak cepat di bawah kelopak mata yang tertutup. Biasanya, seseorang yang tertidur bertransisi melalui tahapan tidur lainnya sebelum memasuki REM.

Jenis narkolepsi yang paling umum, disebut sindrom defisiensi narkolepsi/hipokretin, melibatkan defisiensi hipokretin di otak (juga disebut orexin), molekul mirip protein yang diproduksi oleh hipotalamus yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur dan bangun.

(22)

Narkolepsi sering dikaitkan dengan cataplexy, suatu kondisi medis di mana seseorang mengalami hilangnya tonus otot mulai dari kelemahan ringan pada kaki hingga hilangnya kendali otot sepenuhnya, sehingga menyebabkan orang tersebut pingsan, Cataplexy paling sering (tetapi tidak selalu) terjadi pada penderita narkolepsi. Hal ini dipicu oleh reaksi emosional yang kuat seperti kegembiraan, tangisan, kemarahan, teror yang tiba-tiba, atau tawa yang intens.

Seperti narkolepsi, cataplexy melibatkan defisiensi hipokretin kimia otak.

Pada episode kataplektik, seseorang mungkin terjatuh ke lantai dan tidak dapat bergerak selama beberapa detik hingga mungkin beberapa menit, namun tetap sadar. Orang yang mengalami episode kataplektik mengalami penglihatan kabur, namun mampu mendengar dan memahami apa yang terjadi di sekitarnya.

Orang dengan narkolepsi juga mungkin mengalami kelumpuhan tidur (sleep paralysis), suatu keadaan sementara setelah bangun tidur di mana mereka merasa tidak mampu bergerak atau berbicara. Mereka mungkin juga melaporkan halusinasi hipnagogik, yang sering kali merupakan halusinasi menakutkan yang terjadi tepat sebelum mulai tidur atau segera setelah bangun tidur.

Untungnya, narkolepsi jarang terjadi dan mempengaruhi sekitar 1 dari 2.000 orang (0,05%; Scammell, 2015). Laki-laki dan perempuan sama-sama terkena dampaknya.

2.5 Breathing-Related Sleep Disorders, Circadian Rhythm Sleep-Wake Disorders, Parasomnias

2.5.1 Breathing-Related Sleep Disorder

Gangguan ini dibedakan berdasarkan penyebab yang mendasari masalah pernapasan.

Orang-orang dengan gangguan tidur terkait pernapasan mengalami gangguan dalam tidur mereka

(23)

yang dapat menyebabkan insomnia atau kantuk berlebihan di siang hari. Gangguan ini terbagi menjadi 3 subtipe yang dibedakan berdasarkan penyebab masalah pernapasan, yaitu:

1. Obstructive Sleep Apnea Hypopnen Syndrome

Subtipe ini adalah yang paling umum dan lebih dikenal dengan apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea) yang ditandai dengan episode berulang saat tidur seperti mendengus, napas terengah-engah, dan pernapasan dangkal selama tidur. Seringkali disertai dengan mendengkur keras dan mempengaruhi sejumlah besar orang, terutama mereka yang berusia pertengahan dan lanjut usia, serta penderita obesitas.

Apnea tidur obstruktif disebabkan oleh penyumbatan saluran napas bagian atas karena kelainan struktural seperti langit-langit yang terlalu tebal atau amandel yang membesar. Penyumbatan ini dapat menyebabkan seringnya gangguan pernapasan selama malam, yang membuat orang merasa mengantuk di siang hari dan memengaruhi kualitas hidup mereka. Tidak mengherankan, penderita sleep apnea umumnya mengalami gangguan kualitas hidup. Orang dengan apnea tidur juga memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dan resiko kesehatan serius seperti hipertensi, masalah kardiovaskular, diabetes, dan bahkan kerusakan otak yang bersifat halus. Penelitian menunjukkan adanya kekhawatiran lain: Kehilangan oksigen berulang kali selama episode apnea mungkin menyebabkan kerusakan otak halus yang mempengaruhi fungsi psikologis, termasuk kemampuan berpikir (Macey et al., 2008; Thorpy, 2008). Sayangnya, banyak kasus apnea tidur tidak diobati yang menyebabkan resiko kesehatan tidak dapat dicegah.

2. Central Sleep Apnea

Subtipe lainnya adalah apnea tidur sentral dimana masalah pernafasan saat tidur tidak disebabkan pada resistensi pernafasan (saluran pernafasan tersumbat), tetapi melibatkan masalah jantung atau penggunaan obat opioid (pereda rasa sakit) untuk sakit kronis. Berbeda dengan obstructive sleep apnea, subtipe ini

(24)

mengalami kekurangan upaya pernapasan selama penghentian sirkulasi pernapasan

3. Sleep-Related Hypoventilation

Subtipe ini dicirikan oleh masalah pernapasan yang terkait dengan penyakit paru-paru atau masalah neuromuskular (berkaitan dengan otot dan saraf) yang mempengaruhi fungsi paru-paru.

2.5.2 Circadian Rhythm Sleep-Wake Disorders

Sebagian besar fungsi tubuh mengikuti siklus atau ritme internal yang disebut ritme sirkadian yang berlangsung sekitar 24 jam (Azzi et al., 2014; Dubovsky, 2014a; Sanchez Romero et al., 2014). Bahkan, ketika orang dibebaskan dari tugas dan tanggung jawab yang dijadwalkan dan ditempatkan di lingkungan di mana mereka tidak mengenal waktu, dan mereka cenderung mengikuti jadwal tidur dan bangun yang relatif normal.

Gangguan tidur dan bangun sirkadian melibatkan gangguan secara terus menerus pada siklus tidur dan bangun alami seseorang. Gangguan ritme tidur normal ini dapat menyebabkan insomnia atau hipersomnolen sehingga menyebabkan kantuk di siang hari. Gangguan ini menyebabkan tekanan yang signifikan atau mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan peran sosial, pekerjaan, atau peran lainnya. Jet lag yang terkait dengan perjalanan antar zona waktu tidak memenuhi syarat karena sementara.

2.5.3 Parasomnias

Tidur biasanya terjadi dalam siklus sekitar 90 menit, setiap siklus secara bertahap beralih dari tidur ringan ke tidur nyenyak, dan tidur REM saat sebagian besar mimpi terjadi. Selama gairah parsial, seseorang mungkin tampak bingung, terlepas, atau terputus dari lingkungannya.

Orang yang tidur mungkin tidak menanggapi upaya orang lain untuk membangunkan atau menghiburnya. Orang yang tidur sering kali terbangun keesokan harinya tanpa mengingat gairah parsial tersebut.

(25)

DSM-5 menggambarkan pola perilaku abnormal yang terkait dengan gairah parsial sebagai parasomnia. Kategori gangguan tidur-bangun yang dibagi menjadi gangguan terkait tidur REM dan gangguan tidak non-REM. Kata parasomnia secara harfiah berarti tidur yang menunjukkan bahwa perilaku abnormal yang berhubungan dengan terjaga sebagian atau tidak lengkap terjadi di sekitar batas antara terjaga dan tidur. Seperti, gangguan tidur-bangun lainnya, parasomnia menyebabkan tingkat tekanan pribadi mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan hal penting dalam kehidupan sosial, pekerjaan, atau peran lainnya. Jenis parasomnia utama yang terkait dengan tidur non-REM (teror tidur, dan berjalan dalam tidur) dan tidur REM (gangguan perilaku tidur gerakan mata cepat dan gangguan mimpi buruk).

● Sleep Terrors

Teror tidur ditandai dengan bagian berulang yang seringkali diawali dengan tangisan panik (American Psychiatric Association, 2013). Gairah diawali dengan tangisan keras atau jeritan di malam hari. Bahkan, orang tua yang mengantuk akan dipanggil ke kamar anaknya seolah-olah ditembakkan dari meriam. Kebanyakan kasus melibatkan anak-anak mungkin duduk, tampak ketakutan, dan menunjukkan tanda yang ekstrim, seperti berkeringat banyak disertai detak jantung dan pernapasan yang cepat. Anak mulai berbicara tidak jelas atau meronta-ronta dengan keras namun belum sepenuhnya sadar.

Jika anak terbangun, dia mungkin tidak mengenali orang tuanya atau mencoba mendorong mereka untuk menjauh. Setelah beberapa menit, anak itu kembali tertidur lelap, dan ketika dia bangun di pagi hari, dia tidak ingat apapun tentang pengalamannya.

Serangan menakutkan atau teror malam ini lebih intens dibandingkan mimpi buruk biasa.

Berbeda dengan mimpi buruk, teror malam cenderung terjadi pada sepertiga pertama malam dan saat tidur nyenyak non-REM.

Sebagian besar anak kecil yang mengalami teror tidur akan sembuh pada usia remaja (Petit et al., 2015). Anak laki-laki lebih banyak terkena dibandingkan anak perempuan, namun pada orang dewasa, rasio laki-laki/perempuan hampir sama. Pada orang dewasa, kelainan ini cenderung bersifat kronis di mana frekuensi dan intensitas serangan meningkat dan menurun seiring berjalannya waktu. Data prevalensi gangguan ini masih kurang, namun diperkirakan teror tidur terjadi pada sekitar 37% anak-anak

(26)

berusia 18 bulan, 20% anak berusia 30 bulan, dan sekitar 2% orang dewasa (American Psychiatric Asosiasi, 2013). Penyebab Sleep terrors masih menjadi misteri, namun diduga ada faktor genetik (Geller, 2015).

● Sleep Walking

Berjalan selama dalam tidur, orang yang sedang tidur mengalami bagian berulang di mana mereka berjalan di sekitar rumah saat masih tertidur. Selama tahap ini, seseorang setengah terjaga dan dapat melakukan reaksi motorik yang kompleks, seperti bangun dari tempat tidur dan pergi ke ruangan lain. Perilaku motorik ini terjadi secara tidak sadar dan penderita seringkali tidak mengingat kejadian tersebut saat bangun sepenuhnya.

Gangguan berjalan dalam tidur lebih sering terjadi pada anak-anak, menurut beberapa perkiraan, mempengaruhi 1 hingga 5% anak-anak (American Psychiatric Association, 2013). Antara 10 dan 30% anak-anak pernah mengalami setidaknya berjalan sambil tidur. Insiden kelainan ini pada orang dewasa serta penyebabnya tidak diketahui.

Sekitar 4% orang dewasa pernah mengalami berjalan dalam tidur pada tahun sebelumnya (Ohayon et al., 2012). Orang yang berjalan dalam tidur sering kali tidak responsif terhadap orang lain dan kesulitan untuk bangun.

● Rapid Eye Movement Sleep Behavior Disorder

Gangguan perilaku tidur REM mencakup mimpi seseorang yang berulang selama tidur, REM dalam menyuarakan bagian dari mimpi atau meronta-ronta. Biasanya, aktivitas otot terhambat selama tidur REM, sampai pada titik di mana otot tubuh, kecuali otot yang diperlukan untuk bernapas dan fungsi vital tubuh lainnya yang pada dasarnya lumpuh. RBD mempengaruhi sekitar 0,5% populasi orang dewasa dan sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua yang disebabkan oleh gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Parkinson (SixelDöring et al., 2011). Faktanya, RBD dalam beberapa kasus merupakan tanda awal berkembangnya penyakit Parkinson (Postuma et al., 2012). RBD juga dapat disebabkan oleh penarikan diri dari alkohol atau berkembang sebagai

(27)

komplikasi dari penggunaan obat-obatan tertentu. Obat dapat digunakan untuk membantu mengendalikan gejala RBD (Aurora et al., 2010).

● Nightmare Disorder

Gangguan mimpi buruk mengalami mimpi buruk yang berulang dan diingat dengan jelas selama tidur REM. Mimpi buruk ini adalah mimpi yang panjang dan seperti cerita di mana si pemimpi mencoba menghindari ancaman atau bahaya fisik yang akan terjadi, seperti dikejar, diserang, atau terluka. Seseorang seringkali mengingat mimpi buruknya dengan jelas ketika bangun tidur. Meskipun, rasa takut adalah efek emosional yang paling umum, mimpi yang mengganggu dapat menyebabkan reaksi negatif lainnya, seperti kemarahan, kesedihan, frustrasi, rasa bersalah, jijik, atau kebingungan. Pemimpi mungkin terbangun tiba-tiba dan mengalami mimpi buruk tetapi mengalami kesulitan untuk tertidur kembali karena rasa takut yang berkepanjangan akibat mimpi buruk tersebut.

Mimpi buruk seringkali dikaitkan dengan pengalaman traumatis dan sering terjadi saat seseorang sedang stres. Mimpi buruk terjadi selama tidur REM, yaitu tahap tidur di mana sebagian besar mimpi terjadi. Durasi tidur REM cenderung lebih lama, dan mimpi yang terjadi pada tidur REM lebih intens sehingga mimpi buruk sering terjadi pada larut malam atau dini hari. Meskipun, mimpi buruk melibatkan banyak gerakan gelisah dalam mimpi itu sendiri, seperti mimpi buruk tentang melarikan diri dari penyerang, si pemimpi menunjukkan aktivitas otot. Proses biologis yang memicu mimpi, menghambat pergerakan tubuh sehingga menyebabkan kelumpuhan. Hal ini menguntungkan karena mencegah si pemimpi melompat dari tempat tidur dan bergegas ke lemari atau dinding upaya melarikan diri dari penyerang yang mengejar.

(28)

2.6 Treatment Sleep Wake Disorders

Metode yang paling umum untuk mengobati sleep-wake disorders di Amerika adalah penggunaan obat tidur. Namun, karena adanya masalah yang terkait dengan obat ini, pendekatan pengobatan nonfarmakologis—terutama CBT—telah mengemuka.

2.6.1 Pendekatan Biologis

Obat anti cemas sering digunakan untuk mengobati insomnia, termasuk golongan obat anti cemas yang disebut benzodiazepin (misalnya Valium dan Ativan). Obat pemicu tidur lainnya adalah obat zolpidem (ambien), yang efektif dalam mengurangi lamanya waktu yang dibutuhkan orang insomnia untuk tertidur dan meningkatkan durasi tidur (Roth et al., 2006).

Ketika digunakan untuk pengobatan insomnia jangka pendek, obat tidur umumnya mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk tidur, menambah lama tidur, dan mengurangi durasi tidur terbangun di malam hari. Mereka bekerja dengan mengurangi gairah dan menimbulkan perasaan tenang, sehingga membuat seseorang lebih mudah menerima tidur. Obat tidur pada dasarnya bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas GABA, suatu neurotransmitter yang meredam aktivitas sistem saraf pusat.

Terlepas dari manfaatnya, obat tidur memiliki kelemahan yang signifikan dalam pengobatan insomnia. Obat-obatan ini cenderung menekan tidur REM, yang mungkin mengganggu beberapa fungsi tidur REM atau fungsi restoratif tidur. Hal ini juga dapat menyebabkan carryover atau “mabuk” keesokan harinya, yang berhubungan dengan kantuk di siang hari dan penurunan kinerja. Rebound insomnia juga dapat terjadi setelah penghentian obat, sehingga menyebabkan insomnia menjadi lebih buruk daripada yang semula terjadi. Namun, insomnia yang kembali terjadi dapat dikurangi dengan mengurangi penggunaan obat dibandingkan menghentikannya secara tiba-tiba. Obat-obatan ini dengan cepat kehilangan efektivitasnya pada tingkat dosis tertentu, sehingga dosis yang semakin besar harus digunakan untuk mencapai efek yang sama. Dosis tinggi bisa berbahaya, apalagi jika dicampur dengan minuman alkohol sebelum tidur.

(29)

Obat tidur juga dapat menyebabkan ketergantungan kimia jika digunakan secara teratur dan dapat menyebabkan toleransi (Pollack, 2004a). Begitu ketergantungan terbentuk, manusia akan mengalami gejala ketika mereka berhenti menggunakan obat, termasuk agitasi, gemetar, mual, sakit kepala, dan, dalam kasus yang parah, delusi atau halusinasi. Pengguna juga bisa menjadi ketergantungan psikologis pada obat tidur. Artinya, mereka bisa mengembangkan kebutuhan psikologis akan pengobatan dan berasumsi bahwa mereka tidak akan mampu tidur tanpanya. Selain itu, pengguna mungkin mengaitkan kesuksesan mereka dengan tertidur karena pil dan bukan karena diri mereka sendiri, yang memperkuat ketergantungan pada obat-obatan tersebut dan membuatnya lebih sulit untuk berhenti menggunakannya.

Ketergantungan pada obat tidur tidak menyelesaikan penyebab masalah atau membantu seseorang mempelajari cara yang lebih efektif untuk mengatasinya. Jika sudah digunakan, obat-obatan seperti benzodiazepin hanya boleh digunakan dalam jangka waktu singkat, paling lama beberapa minggu. Tujuan pengobatan yang dilakukan terapis harus memberikan kelonggaran sementara yang dapat membantu klien menemukan cara yang lebih efektif dalam menangani sumber stres dan kecemasan yang berkontribusi terhadap insomnia. Banyak orang dengan masalah tidur beralih ke alkohol untuk membantu mereka tidur. Menggunakan alkohol dapat membantu menginduksi tidur, tetapi mengganggu kualitas tidur, mengurangi tahapan tidur REM di mana mimpi terjadi yang mungkin diperlukan untuk pemulihan dan penyegaran sepenuhnya (Ebrahim et al., 2013). Selain itu, penggunaan alkohol secara teratur sebagai obat tidur dapat menyebabkan ketergantungan alkohol.

Obat anti cemas benzodiazepin dan antidepresan trisiklik juga digunakan untuk mengobati gangguan tidur nyenyak, seperti teror tidur dan berjalan dalam tidur. Obat tersebut memiliki efek menguntungkan dalam mengurangi lamanya waktu yang dihabiskan untuk tidur nyenyak dan mengurangi gairah parsial di antara tahapan tidur. Seperti halnya insomnia primer, penggunaan obat tidur untuk gangguan ini menimbulkan risiko ketergantungan fisiologis dan psikologis. Oleh karena itu, obat tidur sebaiknya digunakan hanya pada kasus yang parah dan hanya sebagai cara sementara untuk “memutus siklus.” Obat stimulan sering digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan pada penderita narkolepsi dan, seperti disebutkan sebelumnya, untuk memerangi kantuk di siang hari pada orang yang menderita hipersomnolen (Morgenthaler

(30)

et al., 2007). Tidur siang setiap hari selama 10 hingga 60 menit dan dukungan dari profesional kesehatan mental atau kelompok swadaya juga dapat membantu dalam mengobati narkolepsi.

Pengobatan pertama untuk sleep apnea adalah penggunaan perangkat mekanis yang membantu menjaga pernapasan selama tidur dengan menjaga saluran napas bagian atas tetap terbuka (Marin et al., 2012; Strollo Dkk., 2014). Pembedahan dapat digunakan untuk memperlebar saluran udara bagian atas dalam beberapa kasus.

2.6.2 Pendekatan Psikologis

Pendekatan psikologis pada umumnya, telah terbatas pada pengobatan insomnia primer.

Teknik perilaku kognitif memiliki penekanan jangka pendek dan fokus pada menurunkan gairah tubuh, membangun keteraturan kebiasaan tidur, dan mengganti pikiran yang menimbulkan kecemasan dengan pemikiran yang lebih adaptif. Terapis biasanya menggunakan kombinasi teknik perilaku kognitif, termasuk kontrol stimulus, penerapan siklus tidur-bangun yang teratur, pelatihan relaksasi, dan restrukturisasi rasional.

Pengendalian stimulus melibatkan perubahan lingkungan berhubungan dengan tidur.

Terapis biasanya mengasosiasikan tempat tidur dan kamar tidur dengan suasana tidur sehingga paparan rangsangan tersebut menimbulkan perasaan mengantuk. Namun, ketika orang menggunakan tempat tidur mereka untuk aktivitas lain—seperti makan, membaca, merencanakan aktivitas sehari-hari, dan menonton televisi—tempat tidur kehilangan relevansinya dengan rasa kantuk. Apalagi semakin lama penderita insomnia terbaring di tempat tidur sambil berguling-guling berbalik dan khawatir tidak bisa tidur, tempat tidur semakin menjadi tanda kecemasan dan frustasi.

Terapis perilaku kognitif membantu klien memprogram tubuh mereka dengan membentuk siklus tidur-bangun yang konsisten. Ini melibatkan tidur dan bangun pada waktu yang hampir bersamaan waktu setiap hari, termasuk akhir pekan dan hari libur. Teknik relaksasi yang digunakan sebelum tidur membantu mengurangi keadaan gairah fisiologis ke tingkat yang kondusif untuk tidur. Restrukturisasi rasional melibatkan penggantian alternatif-alternatif rasional dengan alternatif-alternatif yang merugikan diri sendiri, pikiran atau keyakinan

(31)

maladaptif. Keyakinan bahwa gagal mendapatkan tidur malam yang nyenyak akan menyebabkan musibah, bahkan bencana, konsekuensi keesokan harinya mengurangi kemungkinan tertidur karena meningkatkan tingkat kecemasan. Kebanyakan dari kita dapat berfungsi dengan baik jika kita kurang tidur atau bahkan melewatkan satu hari pun malam tidur.

Terapi perilaku kognitif diakui sebagai pengobatan pertama untuk insomnia (Trauer dkk., 2015). Semakin banyak bukti yang menunjukkan manfaat terapeutik yang substansial dari CBT untuk insomnia, yang diukur dengan pengurangan waktu yang diperlukan untuk mengatasi susah tidur dan juga meningkatkan kualitas tidur (misalnya, Blom et al., 2015; Harvey et al., 2014;

Järnefelt dkk., 2014; Kaldo dkk., 2015; McCrae dkk., 2014; Trockel dkk., 2014; Wu, Appleman, dkk., 2015). CBT juga memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang dibandingkan tidur dengan obat-obatan. Bagaimanapun, meminum pil tidak membantu penderita insomnia belajar lebih banyak mengenai kebiasaan tidur adaptif. Obat tidur mungkin memberikan hasil yang lebih cepat, tetapi bersifat perilaku pengobatan biasanya menghasilkan hasil yang bertahan lebih lama (Pollack, 2004a, 2004b). Namun, menambahkan obat tidur ke CBT dalam jangka pendek dapat meningkatkan manfaat pengobatan dalam beberapa kasus dibandingkan CBT saja, namun tidak jika obat tidur dilanjutkan selama berbulan-bulan pada suatu waktu (Morin dkk., 2009).

(32)

BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Gangguan makan adalah gangguan psikologis yang memengaruhi perilaku makan seseorang, pola makan, dan persepsi tubuh. Ada beberapa jenis gangguan makan utama, termasuk: Anorexia Nervosa, dimana Orang yang mengalami anoreksia nervosa memiliki ketakutan berlebihan terhadap berat badan dan ukuran tubuh mereka. Selanjutnya, Bulimia Nervosa, dimana penderita bulimia nervosa cenderung mengonsumsi jumlah makanan yang sangat besar dalam waktu singkat (binge eating), kemudian memuntahkan makanan tersebut atau menggunakan metode lain untuk mengurangi berat badan mereka.

Gangguan tidur adalah gangguan yang memengaruhi kualitas dan pola tidur seseorang. Beberapa contoh gangguan tidur yang umum meliputi; Insomnia, Hypersomnolence Disorder, Narcolepsy, Breathing Related sleep Disorders, Circadian Rhythm sleep-wake disorders,

Kedua jenis gangguan ini dapat memiliki dampak serius pada kesejahteraan fisik dan mental individu yang terkena. Pengobatan dan dukungan medis sering diperlukan untuk membantu individu mengatasi gangguan tersebut. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gangguan makan atau gangguan tidur, penting untuk mencari bantuan profesional.

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. (2003). Abnormal psychology in a changing world.

Upper Saddle River: Prentice Hall

(34)

Referensi

Dokumen terkait

Adanya motivasi makan pasien yang tinggi akan membuat pasien merasa nyaman dan mengurangi tekanan psikologis yang dialami pasien seperti rasa takut karena sakit yang dapat

Kebutuhan yang pervasif dan berlebihan untuk diasuh yang menyebabkan perilaku tunduk dan menggantung dan rasa takut akan perpisahan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak

TujuanUntuk mengetahui hubungan antara kesulitan makan dengan gangguan tidur pada anak bawah lima tahun (balita) dan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu

hubungan antara kesulitan makan dengan gangguan tidur pada anak bawah. lima

 Panik tanpa alasan, takut yang tidak beralasan pada objek atau kondisi kehidupan..  Rasa khawatir yang tidak dapat dijelaskan

Kebutuhan yang pervasif dan berlebihan untuk diasuh yang menyebabkan perilaku tunduk dan menggantung dan rasa takut akan perpisahan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak

Hubungan Gangguan Makan Anorexia Nervosa dengan Status Gizi Pada Remaja SMAN 4 Maros Kabupaten Maros Tahun 2022 Gangguan makan merupakan suatu sindrom terkait dengan perilaku makan

Ciri-cirinya antara lain makan yang tidak terkendali, makan dalam porsi lebih besar dari kebanyakan orang normal, perasaan tidak dapat berhenti makan, atau mengontrol jumlah asupan