Farmakoterapi
Kardiovaskular dan Endokrin
Dosen Pengampu : Dr. apt. Husnawati, M.Si
‘’ HIPERLIPIDEMIA’’
ANGGOTA KELOMPOK 4 :
Natesyabela Tritania 2301264
Nendini Mayada 2301265 Nurjanah Atikah 2301266 Nurmalaika Ayuni Putri 2301267 Nurul Hanifah
2301268
Putri Aisyah Hudya 2301269
Rahimah Sarah 2301270
POKOK PEMBAHASAN
1. Definisi
2. Epidemiologi 3. Klasifikasi 4. Etiologi
5. Manifestasi klinis
6. Diagnosis 7. Patofisiologi
8. Algoritma terapi
9. Penatalaksanaan terapi farmakologi & non
farmakologi
10.Peran apoteker
DEFINISI
HIPERLIPIDEMIA
Hiperlipidemia atau kelebihan lipid adalah gangguan metabolisme lipid yang dimanifestasikan oleh peningkatan plasma
konsentrasi berbagai lipid dan lipoprotein seperti peningkatan kolesterol total serum
(TC), low-density lipoprotein (LDL), konsentrasi trigliserida (TG), dan penurunan konsentrasi high-density lipoprotein (HDL) (Alam et al., 2018).
EPIDEMIOLOGI HIPERLIPIDEMIA
Berdasarkan hasil dari Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS) tahun 2018, menunjukkan adanya 41,3% dari penduduk Indonesia memiliki kadar kolesterol abnormal 200 mgl/dL, di mana perempuan lebih banyak dari laki-laki dan penduduk di kota lebih banyak dari pada penduduk di desa (PERKENI,2019). Seseorang yang memiliki peluang lebih besar untuk mengalami hiperlipidemia adalah pria (>45 tahun) atau wanita (>55 tahun) atau memiliki riwayat keluarga hiperlipidemia (Alam et al.,2018)
KLASIFIKASI HIPERLIPIDEMIA
HIPERLIPIDEMIA PRIMER Menyebabkan sejumlah besar kasus peningkatan kolesterol total, LDL-C, TG, atau penurunan HDL-C Cacat genetik dari keluarga pasti ada yang berkontribusi, Kelainan genetik dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan lipoprotein yang berbeda.
HIPERLIPIDEMIA SEKUNDER Terjadi akibat suatu penyakit lain misalnya hipotiroidisme, sindroma nefrotik, diabetes melitus, dan sindroma metabolik. Pankreatitis akut merupakan menifestasi umum hipertrigliseridemia yang berat (PERKENI, 2019)
ETIOLOGI HIPERLIPIDEMIA
Hiperlipidemia terbagi menjadi dua klasifikasi besar:
hiperlipidemia primer (keturunan) dan sekunder (didapat). Hiperlipidemia primer berasal dari berbagai kelainan genetik yang mungkin diwariskan pasien melalui kelahiran, sedangkan hiperlipidemia sekunder biasanya berasal dari etiologi dasar alternatif, seperti pola makan yang tidak sehat, pengobatan (amiodaron, glukokortikoid), hipotiroidisme, diabetes yang tidak terkontrol, dan/atau pola hidup yang buruk.
Gangguan mendasar dalam metabolisme lipoprotein sering kali bersifat familial, sehingga riwayat keluarga pasien menjadi lebih berharga. Misalnya, sekitar 54 persen pasien (dalam satu penelitian) dengan riwayat penyakit arteri koroner prematur memiliki kelainan bawaan yang mendasarinya. Pada sebagian besar pasien, hiperlipidemia memiliki pola pewarisan poligenik, dan manifestasi kelainan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh faktor sekunder seperti obesitas (sentral), asupan lemak jenuh, dan kandungan kolesterol dalam makanan seseorang. Berbagai faktor risiko yang kurang umum juga akan muncul di bawah ini.
LANJUTAN....
Kolesterol merupakan zat lemak yang beredar, yang paling berperan dalam proses aterogenik. Kolesterol berasal dari dua hal: 300 hingga 700 mg per hari berasal dari eksogen, yaitu, berasal dari asupan lemak makanan yang berlebihan, terutama yang berasal dari hewan; 800 hingga 1200 mg per hari merupakan hasil sintesis endogen, khususnya hati.
Selain konsumsi lemak hewani yang berlebihan, penyebab lain yang sering menyebabkan hiperkolesterolemia dan/atau peningkatan trigliserida adalah diabetes, gagal ginjal kronis, sindrom nefrotik, hipotiroidisme, usia, gaya hidup yang tidak banyak bergerak. Penyebab iatrogenik lainnya mungkin adalah asupan obat-obatan tertentu seperti diuretik thiazide, beta-blocker, kontrasepsi estrogen-progestin, antiretroviral.
Dislipidemia genetik, yang jauh lebih jarang, merupakan dasar perubahan kadar lipid darah sebesar sekitar 60% dan sering kali menjadi penyebab penyakit kardiovaskular pada usia dini (Perkeni, 2019).
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik yang timbul biasanya merupakan komplikasi dari dislipidemia itu sendiri seperti PJK dan strok.
• Kadar trigliserid yang sangat tinggi dapat menyebabkan pankreatitis akut, hepatosplenomegali, parastesia, perasaan sesak napas dan gangguan kesadaran, juga dapat merubah warna pembuluh darah retina menjadi krem (lipemia retinalis serta merubah warna plasma darah menjadi seperti susu.
• Pada pasien dengan kadar LDL yang sangat tinggi (hiperkolesterolemia familial) dapat timbul arkus kornea, xantelasma pada kelopak mata dan xantoma pada daerah tendon archiles, siku dan lutut (Perkeni, 2019).
Gejala klinik dan keluhan dislipidemia pada umumnya tidak ada.
Penurunan ekskresi trigliserida kaya lipoprotein dan inhibisi
lipoprotein lipase dan trigliserida lipase.
Faktor-faktor lainnya seperti resistensi insulin,
defisiensi carnitine, dan hipertiroidisme
yangdapat menyebabkan kelainan metabolisme
lemak.
Pada sindrom nefrotik, penurunan kadar protein
albumin dalam sirkulasi menyebabkan kenaikan sintesis lipoprotein untuk
mempertahankan tekanan onkotik plasma
PATOFISIOLOGI HIPERLIPIDEMIA
Secara umum, hiperlipidemia terjadi berdasarkan beberapa mekanisme.
LANJUTAN...
Kolesterol LDL normalnya bersirkulasi di dalam tubuh sekitar dua setengah hari, kemudian berikatan dengan reseptor LDL di sel-sel
hati, untuk kemudian di endositosis. LDL dalam tubuh hilang, dan sintesis kolesterol oleh liver di supresi oleh mekanisme HMG-CoA reduktase. Pada kondisi hiperkolesterolemia familial, fungsi reseptor
LDL terganggu atau bahkan hilang, sehingga LDL bersirkulasi di darah lebih lama yaitu empat setengah hari. Hal ini menyebabkan kenaikan kadar LDL darah, namun lipoprotein lainnya tetap normal.
Pada mutasi dari ApoB, terjadi penurunan ikatan partikel LDL dengan reseptor, sehingga terjadi kenaikan kadar LDL
DIAGNOSIS HIPERLIPIDEMIA
Langkah 1. Diagnosis dan identifikasi masalah pada pasien
Dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menetapkan diagnosis dislipidemia bedasarkan kondisi klinis yang terdapat pada pasien. Adapun tahapan
pemeriksaan
laboratorium tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penapisan awal dilakukan tanpa puasa dengan melakukan pemeriksaan K-total, K-
HDL dan trigliserid, sedangkan pemeriksaan K-LDL dapat dihitung dengan
menggunakan rumus Friedewald. Perhitungan kadar non-HDL juga dapat dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan rumus (K.Total – K- HDL). Pemeriksaan profil lipid dalam keadaan puasa maupun tidak puasa sama efektifnya dalam
penentuan risiko kardiovaskular. Kadar K-Total, K-LDL dan K-HDL tidak dipengaruhi oleh konsumsi makanan.
2. Rumus Friedewald tidak bisa digunakan pada pasien dengan kadar trigliserid yang
tinggi dan kadar trigliserid dipengaruhi oleh konsumsi makanan, oleh karena itu bila
didapatkan pasien dengan kadar trigliserid tanpa puasa 2400 mg/dl, maka harus dilakukan pemeriksaan dalam keadaan puasa untuk penentuan kadar trigliserid puasa dan kadar K-LDL secara langsung
DIAGNOSIS HIPERLIPIDEMIA
3. Pada keadaan tertentu seperti kadar trigliserid tinggi, maka kemungkinan masih terdapat variasi hasil dari pemeriksaan K- HDL dan secara langsung juga
mempengaruhi hasil perhitungan kolesterol non-HDL, oleh karena itu bila terdapat sarana laboratorium, maka dapat dilakukan pemeriksaan apoß sebagai
Pemeriksaan
alternatif. Kadar apoß dianggap setara dengan Kadar non-HDL. Analisis terhadap kadar apoß secara langsung lebih akurat oleh karena variabilitasnya lebih kecil.
Perhitungan kadar non-HDL dan atau pemeriksaan apoß digunakan untuk menilai pencapaian target terapi sekunder, khususnya pada pasien-pasien yang berisiko sangat tinggi dan juga dalam upaya pencegahan kejadian PKV yang rekuren.
DIAGNOSIS HIPERLIPIDEMIA
Langkah 2. Melakukan penghitungan risiko kardiovaskular, klasifikasi kelompok
risiko dan target terapi.
Setelah penentuan masalah pada pasien pada langkah pertama, maka langkah
kedua adalah melakukan penghitungan risiko kardiovaskular, dan melakukan
klasifikasi kelompok risiko yang akan mempengaruhi pilihan terapi. Pada panduan ESC/EAS 2016, risiko pasien dikelompokkan dalam empat kelompok risiko yaitu risiko rendah (low risk), risiko sedang (moderate risk), risiko tinggi (high risk) dan risiko sangat tinggi (very high risk)
Langkah 3. Pilihan Terapi
Setelah penentuan masalah pada pasien pada langkah pertama, maka langkah
kedua adalah melakukan penghitungan risiko kardiovaskular dan melakukan klasifikasi kelompok risiko yang akan mempengaruhi pilihan terapi serta target terapi yang diinginkan
● Total Kolesterol
● Kolesterol LDL
● Trigliserida
● Kolesterol HDL
● Kolesterol Non-HDL
● Lipoprotein
● Apo B
● Rasio apoB/apo A1
● Rasio non-K-HDL/K-HDL
Catata:
Merah : pemeriksan 12 jam puasa Biru : pemeriksaan tanpa puasa
PEMERIKSAAN HIPERLIPIDEMIA
ALGORITMA TERAPI
HIPERLIPIDEMIA
Statin
● Mekanisme kerja Statin adalahmengurangi pembentukan kolesterol di hati dengan menghambat secara kompetitif kerja dari enzim HMG-CoA reduktase. Pengurangan konsentrasi kolesterol intraseluler meningkatkan ekspresi reseptor LDL pada permukaan hepatosit yang berakibat meningkatnya pengeluaran K-LDL dari darah dan penurunan konsentrasi dari K-LDL dan lipoprotein apo-B lainnya termasuk trigliserid.
Bile Acid Sequestrants
• Mekanisme kerja obat ini adalah menurunkan kolesterol melalui hambatan tarhadap abrosbsi asam empedu pada sirkulasi enterohepatik dengan akibat sintesis asam empedu oleh hati sebagian besar akan berasal dari cadangan kolesterol hati sendiri.
• Terdapat tiga jenis obat bile acid sequestrants yaitu cholestyramine, colestipol dengan dosis 2 takar 2-3 kali sehari dan golongan terbaru adalah colsevelam 625 mg 2 kali 3 tablet sehari (3,8 gram/hari).
Asam Fibrat
• Obat ini menurunkan trigliserid plasma, selain menurunkan sintesis trigliserid di hati. Obat ini bekerja mengaktifkan enzim lipoprotein lipase yang kerjanya memecahkan trigliserid.
• gemfibrozil 600 mg 2 kali sehari dan fenofibrat dengan dosis 45- 300 mg (tergantung pabrikan) dosis sekali sehari.
Asam Nikotinik (niacin)
• Obat ini bekerja menghambat enzim hormone sensitive lipase di jaringan adiposa, dengan demikian akan mengurangi jumlah asam lemak bebas.
Diketahui bahwa asam lemak bebas ada dalam darah sebagian akan ditangkap oleh hati dan akan menjadi sumber pembentukkan VLD.
• Dosis niacin bervariasi antara 500-750 mg hingga 1-2 gram yang diberikan pada malam hari dalam bentuk extended realise.
Ezetimibe
• Obat ini bekerja dengan menghambat absorbsi kolesterol oleh usus halus.
Kemampuannya moderate didalam menurunkan kolesterol LDL (15-25%).
Pertimbangan penggunaan ezetimibe adalah untuk menurunkan kadar LDL, terutama pada pasien yang tidak tahan terhadap pemberian statin.
Asam lemak Omega-3 (minyak ikan)
• Golongan obat ini menurunkan kadar trigliserid, namun tidak mempunyai efek yang signifikan terhadap K-LDL dan K-HDL.
Inhibitor PCSK9
• Obat ini adalah golongan obat baru yang disetujui penggunaannya oleh FDA pada tahun 2015 dengan target utama menurunkan K-LDL.Merupakan antibodi monoklonal yang berfungsi untuk menginaktivasi Proprotein Convertase Subtilsin-kexin Type 9 (PCSK9).
• Obat golongan ini diberikan melalui suntikan secara subkutan. Terdapat dua jenis obat inhibitor PCSK9 yang sudah dipasarkan yaitu alirocumab dengan dosis 75 mg setiap dua minggu sekali atau 300 mg setiap 4 minggu sekali dan evolocumab dengan dosis 140 mg setiap 2 minggu sekali atau 420 mg sekali sebulan.
Golongan obat terbaru.
• Beberapa jenis obat baru saat ini sudah mulai diperkenalkan sebagai salah satu modalitas terapi dislipidemia, diantaranya masih ada yang sementara dalam tahap penelitian. Golongan obat tersebut diantaranya: inhibitor microsomal transfer protein (MTP), thyroid hormone mimetic,apo Bantisense oligonucleotide (mipomersen)danLDL apheresis.
PENATALAKSANAAN TERAPI
FARMAKOLOGI
PENATALAKSANAAN TERAPI
FARMAKOLOGI
SEDIAAN OBAT YANG BEREDAR
TERAPI NON-FARMAKOLOGI
1. Aktivitas fisik yang disarankan meliputi jalan cepat, bersepeda statis, berenang 2. Terapi nutrisi, berupa diet mengurangi
kalori seperti diet kaya buah dan sayuran (>5 porsi/hari), gandum (26 porsi/hari), ikan, dan daging tanpa lemak Konsumsi lemak tersaturası.
3. Berhenti merokok
4. Rutin medical check up 5. Olahraga rutin
PERAN APOTEKER
- Memastikan diagnosis melalui pengambilan riwayat
- Memastikan tidak ada tanda atau gejala yang mengkhawatirkan yang memerlukan rujukan ke dokter
- Perawatan farmakologis yang efektif
- Rekomendasi terapi jangka pendek untuk mengendalikan gejala
- Memberikan informasi terkait obat-obatan
DAFTAR PUSTAKA
Alam, M. K., Abu bin Nayeem, M., & Samad, MA. (2018). Effects of garlic onhyperlipidemia A review. Journal of Medicinal Plants
Studies, 6(2), 44-48.
Aman, A. M. 2021. Panduan Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia 2021. PB PERKENI, Jakarta.
Dipiro J, RL, T., GC, Y, GR, M., BG, W., & LM, P. (2020). Dipiro edısı 11 2020 In Dipiro (Vol 11)
Harikumar K, Althaf S.A, Kumar B.K, Ramunaik M, Suvarna C.H. 2013.
A Review on Hyperlipidemic.
Perkeni . 2019. Pedoman Pengelolaan Dislipidemia di Indonesia.
Jakarta : PB Perkeni