Mood Disorder and Suicide
Dosen Pengampu:
Dr. Risatianti Kolopaking, M.Si.
Disusun Oleh:
1. Ridho Syafa Raihan (11210700000113) 2. Nadia Ayudhita (11210700000104) 3. Salma Fahimova (11210700000115) 4. Shada Adivari (11210700000117) 5. Sholah Syafiqurrahman (11210700000120) 6. Queeny Mutia Faadiyah (11210700000135)
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan berkahnya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Psikologi Abnormal dengan tepat waktu. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya ke jalan yang lurus. Terima kasih kami ucapkan kepada Allah SWT karena telah memberikan kami kepercayaan untuk menyelesaikan makalah ini.
Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah psikologi abnormal Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,Dr. Risatianti Kolopaking, M.Si. , yang telah memberikan kami kesempatan untuk membuat makalah ini, sehingga kami bisa mempelajari banyak hal terutama pada materi makalah ini, yaitu mengenaiMood disorderdan Suicide.
Selain itu, kami juga menyadari betapa manfaatnya tugas makalah ini sebagai sarana untuk menambah wawasan, melatih critical thinking, serta meningkatkan kemampuan kerja sama kelompok. Makalah yang berjudul Mood disorderdan Suicide ini dalam pembuatannya memang masih banyak kekurangan, sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Atas kekurangan yang kami miliki, kami sangat membuka lebar untuk kritik dan saran pembaca terhadap makalah kami buat agar menjadi perbaikan dimasa yang akan datang. Kami juga berharap semoga pembaca dapat mengerti isi dan maksud tujuan makalah ini, serta mengambil manfaat yang kami sertakan dalam makalah ini. Semoga pembaca mendapatkan ilmu yang melimpah.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB II 3
PEMBAHASAN 3
2.1 Major Mood Disorder 3
2.1.1 Major Depressive Disorder 3
2.1.2 Presistent Depressive Disorder (Dysthymia) 6
2.2 Mood Disorder 7
2.2.1 Premenstrual Dysphoric Disorder 7
2.2.2 Bipolar 7
2.2.3 Cyclothymic Disorder 9
2.3 Faktor-faktor 9
2.3.1 Faktor Penyebab Gangguan Mood 9
2.4 Pengobatan Gangguan Mood 16
2.5 Suicide 20
2.5.1 Faktor-faktor bunuh diri 20
2.5.2 Perspektif Teoritis tentang bunuh diri 22
2.5.3 Memprediksi Bunuh diri 23
2.5.4 Upaya-upaya menanganan bunuh diri pada seseorang. 24
BAB III 26
PENUTUP 26
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mood atau suasana hati adalah perasaan yang mewarnai psikologis kita. semua manusia mengalami perasaan suasana hati, baik suasana gembira ketika mendapatkan persitiwa seperti dapat nilai bagus, promosi kerja, dan kasih sayang orang sekitar atau suasana sedih seperti ditinggalkan orang tersayang, gagal ujian, dan kemunduran finansial.
hal tersebut merupakan kondisi yang dialami setiap manusia. merasa gembira ketika didatangi peristiwa gembira atau depresi ketika ditimpa suasan sedih adalah hal yang manusiawi. akan tetapi, ada beberapa orang yang ditidak dapat keluar dari kondisi suasana hatinya yang buruk, hal ini terjadi berkepanjagan dan menganggu kehidupan sehari-hari.
orang ini disebut mengalami Gangguan suasana hati atau dalam bahasa inggris Mood Disorder. gangguan ini dapat berdampak pada kehidupan mereka, seperi perkejaan, persahabatan, bahkan keluarga. bahkan, jika dibiarkan gangguan ini akan mengarahkan seseorang untuk melakukan hal yang buruk terhadap dirinya, salah satu contoh ekstrimnya adalah bunuh diri. oleh karena itu pada makalah ini kami akan menjelaskan lebih detail apa itumood disorder,gejala-gejalanya, dan bagaimana untuk menanganinya.
1.2 Rumusan Masalah
1. apa yang dimaksud denganMajor Mood Disorder?
2. apa saja yang termasukmood disorder?
3. apa saja faktor yang mempengaruhi depresi?
4. apa sajatreatmentyang dapat digunakan untuk mengatasi depresi?
5. apa yang dimaksud dengan bunuh diri?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa yang dimaksud denganMajor Mood Disorder.
2. Mengetahui apa saja yang termasukmood disorder.
3. Mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi depresi.
4. Mengetahui apa sajatreatmentyang dapat digunakan untuk mengatasi depresi.
5. Mengetahui apa yang dimaksud dengan bunuh diri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Major Mood Disorder
2.1.1 Major Depressive Disorder
Diagnosis Major Depressive Disorder disebut juga dengan istilah depresi berat yang didasarkan pada setidaknya satu major depressive episode (MDE) tanpa adanya riwayat mania atau hipomania.Major Depressive Episodeatau MDE mencakup perubahan fungsi yang signifikan secara klinis yang melibatkan serangkaian gejala depresi, termasuk suasana hati yang tertekan dan/atau kehilangan minat atau hampir semua aktivitas selama bertahun-tahun.
Depresi berat bukan sekadar keadaan sedih atau sedih. Orang dengan MDD mungkin memiliki nafsu makan yang buruk, kehilangan atau menambah berat badan dalam jumlah besar, sulit tidur atau tidur terlalu banyak, dan menjadi gelisah secara fisik atau yang paling ekstrim menunjukkan penurunan yang nyata pada motorik (gerakan).
Depresi berat mengganggu kemampuan seseorang untuk memenuhi tanggung jawab sehari-hari. Orang dengan depresi berat mungkin kehilangan minat pada sebagian besar aktivitas dan aktivitas yang biasa mereka lakukan, mengalami kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan, memiliki pemikiran yang mendesak tentang kematian, dan mencoba bunuh diri. Mereka bahkan menunjukkan gangguan keterampilan mengemudi dalam tes simulasi mengemudi (Bulmash et al., 2006).
Terperosok dalam depresi berat pada tahun 1841, Abraham Lincoln berkata tentang dirinya sendiri, “Saya sekarang adalah orang yang paling menderita dalam hidup. Jika apa yang saya rasakan dibagikan secara merata kepada seluruh umat manusia, tidak akan ada satu wajah pun yang ceria di bumi” (Lincoln 1841/1953, hal. 230). Kata-kata keputusasaan ini dengan tajam mengungkapkan betapa depresi bisa melumpuhkan.
Banyak orang masih memandang depresi sebagai tanda kelemahan, bukan kelainan yang dapat didiagnosis. Banyak orang dengan depresi berat percaya bahwa mereka dapat mengatasi masalahnya sendiri. Sikap-sikap ini mungkin membantu menjelaskan mengapa, meskipun tersedia pengobatan yang aman dan efektif, sekitar separuh orang Amerika dengan depresi berat gagal menerima bantuan dari ahli kesehatan mental.
Faktor lain yang menjelaskan kurangnya perawatan adalah banyak pasien depresi mencari bantuan dari psikolog/dokter keluarga mereka, yang seringkali gagal mendeteksi depresi atau membuat rujukan ke ahli kesehatan mental.
MDD adalah jenis gangguan mood yang paling umum didiagnosis. Berdasarkan survei yang representatif secara nasional di Amerika Serikat, para peneliti melaporkan tingkat prevalensi MDD seumur hidup sekitar 12% untuk pria, 21% untuk wanita, dan sekitar 16,5% secara keseluruhan (Conway et al., 2006; Forgeard et al., 2012). Hampir 8% orang dewasa di AS pada tahun 2012 menderita kelainan ini (Pusat Statistik Kesehatan Nasional, 2012a).
Depresi berat, terutama pada episode yang lebih parah, mungkin disertai dengan ciri-ciri psikotik, seperti delusi bahwa tubuh seseorang membusuk karena sakit. Orang dengan depresi berat juga mungkin menunjukkan perilaku psikotik, seperti halusinasi ,misalnya, “mendengar” suara-suara yang mengutuk mereka karena dianggap melakukan kesalahan.
Episode depresi berat dapat hilang dalam hitungan bulan atau berlangsung selama satu tahun atau lebih. Beberapa orang mengalami satu episode depresi berat dan kemudian kembali ke kondisi fungsi psikologis normal sebelumnya. Namun kebanyakan orang dengan MDD mengalami episode depresi berat yang terjadi dari waktu ke waktu.
Bukti menunjukkan bahwa risiko episode berulang berhubungan dengan pengaruh genetik dan adanya penyakit medis atau kejiwaan penting lainnya. Namun, kabar baiknya adalah semakin lama masa pemulihan dari episode depresi berat, semakin rendah risiko kekambuhan depresi.
Faktor Resiko Dalam Depresi Berat
Banyak faktor yang dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi berat, termasuk usia (awalnya paling sering terjadi pada orang dewasa muda); status sosial ekonomi (orang yang berada pada tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah mempunyai risiko yang lebih besar dibandingkan mereka yang berada pada tingkat yang lebih kaya); status perkawinan (orang yang berpisah atau bercerai memiliki angka resiko yang lebih tinggi dibandingkan orang yang sudah menikah atau belum pernah menikah); dan gender (perempuan memiliki angka resiko yang lebih tinggi). Orang-orang dengan riwayat keluarga yang mengalami depresi berat dan mereka yang memiliki riwayat pelecehan seksual pada masa kanak-kanak juga berisiko lebih tinggi.
Wanita dua kali lebih mungkin didiagnosis menderita gangguan depresi mayor dibandingkan pria. Risiko depresi yang lebih besar pada wanita dimulai pada masa remaja awal (usia 13 hingga 15 tahun) dan bertahan setidaknya hingga usia paruh baya.
Seasonal Afektif Disorder
Perubahan musim dari musim panas ke musim gugur dan musim dingin dapat menyebabkan jenis depresi yang disebut gangguan afektif musiman (suasana hati) (SAD).
Dalam sebagian besar kasus SAD, depresinya hilang pada musim semi. SAD bukanlah kategori diagnostik tersendiri, namun merupakan penentu atau subkategori depresi berat.
Misalnya, gangguan depresi mayor yang terjadi secara musiman akan didiagnosis sebagai gangguan depresi mayor dengan pola musiman. Meskipun penyebab SAD masih belum diketahui, salah satu kemungkinan yang menarik perhatian adalah bahwa perubahan musiman cahaya dapat mengubah ritme biologis tubuh yang mengatur proses seperti suhu tubuh dan siklus tidur.
Postpartum Depression
Banyak ibu baru, mungkin sebanyak 80%, mengalami perubahan suasana hati setelah melahirkan. Perubahan suasana hati ini biasa disebut dengan “maternity blues”,
“postpartum blues”, atau “baby blues”. Biasanya berlangsung selama beberapa hari dan mungkin merupakan respons normal terhadap perubahan hormonal yang berhubungan dengan persalinan. Mengingat perubahan hormonal yang bergejolak ini, mungkin dianggap “tidak normal” bagi sebagian besar wanita jika tidak mengalami perubahan suasana hati segera setelah melahirkan. Namun, bagi sebagian ibu baru, perubahan suasana hati parah yang terjadi sekitar waktu melahirkan diklasifikasikan sebagai jenis depresi berat yang disebut depresi pasca persalinan.
PPD mempengaruhi 10% sampai 15% wanita Amerika pada tahun pertama setelah melahirkan. Ini mungkin bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan satu tahun atau lebih. PPD seringkali disertai dengan gangguan nafsu makan dan tidur, rendahnya harga diri, serta kesulitan dalam mempertahankan konsentrasi atau perhatian..1
2.1.2 Presistent Depressive Disorder (Dysthymia)
Diagnosis gangguan depresi persisten berlaku untuk kasus depresi kronis yang berlangsung setidaknya selama dua tahun. Orang dengan gangguan depresi persisten mungkin menderita gangguan depresi mayor kronis atau bentuk depresi kronis namun
lebih ringan yang disebut distimia. Dysthymia biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja dan cenderung mengikuti perjalanan kronis hingga dewasa. Kata distimia berasal dari bahasa Yunani, “dys” yang berarti buruk atau keras dan “thymos” yang berarti semangat.
Penderita distimia sering kali merasa “tidak bersemangat” atau “terpuruk dalam kesedihan”, namun depresi mereka tidak separah penderita gangguan depresi berat.
Meskipun gangguan depresi mayor cenderung parah dan waktunya terbatas, distimia relatif ringan dan mengganggu, biasanya berlangsung selama bertahun-tahun. Risiko kekambuhan cukup tinggi, begitu pula risiko gangguan depresi mayor: 90% penderita distimia akhirnya mengalami depresi berat (Friedman, 2002)
Dysthymia mempengaruhi sekitar 4% populasi umum pada suatu saat dalam hidup mereka. Seperti gangguan depresi mayor, distimia lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Penyakit ini didiagnosis hanya pada orang yang belum pernah mengalami episode mania atau hipomania, yang merupakan ciri-ciri gangguan bipolar.
Pada penderita distimia, keluhan depresi dapat menjadi suatu hal yang melekat dalam kehidupan seseorang sehingga mereka merasa bahwa hal tersebut adalah bagian alami dari kepribadian mereka, tentang siapa diri mereka. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka menderita gangguan mood yang dapat didiagnosis. Keluhan yang terus-menerus dapat membuat orang lain menganggap penderita distimia sebagai orang yang merengek dan mengeluh.
Beberapa orang terkena distimia dan depresi berat secara bersamaan. Istilah depresi ganda berlaku bagi mereka yang mengalami episode depresi berat yang dibarengi dengan distimia yang sudah berlangsung lama. Orang yang menderita depresi ganda umumnya memiliki episode depresi yang lebih parah dibandingkan orang yang hanya menderita depresi berat
2.2 Mood Disorder
2.2.1 Premenstrual Dysphoric Disorder
Premenstrual Dysphoric Disorder dikatakan sebagai versi lebih parahnya dari Premenstrual Syndrome (PMS). Premenstrual Dysphoric Disorder ini menimbulkan sekelompok gejala fisik dan suasana hati (mood) yang terjadi selama periode pramenstruasi pada seorang wanita. Gangguan ini dimasukkan kedalam kategori diagnostic pada DSM 5. Dimasukkannya gangguan ini ke kategori diagnostik
dimaksudkan untuk menarik perhatian lebih besar terhadap masalah perubahan suasana hati yang terkait dengan periode pramenstruasi dan meningkatkan pemberian layanan kepada wanita yang menderita masalah ini.
Wanita yang dengan gangguan ini mengalami serangkaian gejala psikologis yang signifikan dalam seminggu sebelum menstruasi, gejala-gejala tersebut meliputi perubahan suasana hati (mood), perasaan sedih, perasaan tertekan atau putus asa, mudah tersinggung atau marah, perasaan cemas, tegang, gelisah. Gejala-gejala tersebut juga dikaitkan dengan tekanan emosional yang signifikan serta gangguan dalam beraktivitas di kehidupan sehari-hari. Lebih dari 50% wanita mengalami gangguan ini dari gejala yang sedang hingga ke berat. Peneliti melaporkan bahwa satu dari lima wanita mengalami gejala fisik atau suasana hati (mood) yang sangat parah pada periode pramenstruasi, sehingga menyebabkan ketidakaktifan mereka dalam beraktifitas serta tekanan emosional yang signifikan.
Penyebab gangguan PMS atau Premenstrual Dysphoric masih belum jelas. Peneliti menduga bahwa gangguan ini melibatkan interaksi kompleks antara hormon seksual wanita dan neurotransmitter. Faktor psikologis, seperti sikap wanita terhadap menstruasi, mungkin juga berperan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar normal hormone seksual wanita dapat memicu reaksi emosional negatif pada wanita dengan PMDD, namun tidak pada wanita yang memiliki kualitas kesehatan yang baik.
2.2.2 Bipolar
Gangguan bipolar merupakan suatu gangguan yang ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) antara perasaan gembira dan depresi yang ekstrem atau berlebihan.
American Psychology Association mengartikan gangguan bipolar sebagai gangguan yang disertai satu atau lebih episode manik atau hipomanik, lalu dugantikan dengan episode depresi mayor dengan jeda periode mood yang normal. Jadi dapat disimpulkan bahwa gangguan bipolar merupakan gangguan perubahan suasana hati (mood) yang drastic, yang didalamnya terdapat episode manik atau hipomanik yang terjadi selama perideo tertentu, yang kemudian diganti dengan episode depresi.
Episode manik adalah suatu periode peningkatan euphoria yang tidak realistis dan berlebihan. Hal ini biasanya ditandai dengan perilaku yang tidak terorganisir. Periode ini
biasanya berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu beberapa minggu sampai berkembang penuh.
Episode manik ini dibagi kedalam tiga tahap. Di tahap pertama ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas motoric, meliputi peningkatan kecepatan berbicara, kegiatan fisik, dominasi perasaan Bahagia, yang sekaligus juga disertai perasaan mudah tersinggung atau marah. Beberapa penderita gangguan ini dapat menyadari perubahan suasana hati tersebut dalam beberapa level dan menggambarkannya sebagai perasaan going high. Di tahap kedua terjadi penekanan dalam kata-kata serta peningkatan aktivitas pun masih berlanjut. Terkadang masih mengalami perasaan euphoria, namun terjadi perubahan yang mencolok dengan meningkatnya perasaan tidak senang dan depresi. Di tahap ini juga kemampuan berpikir mulai tidak terorganisir. Di tahap ketiga mulai muncul perasaan putus asa, merasa tidak memiliki harapan dalam hidup, penuh dengan hiruk pikuk. Proses berpikirya pun menjadi tidak logis serta sulit untuk diikuti. Di tahap ini juga muncul delusi yang aneh disertai dengan halusinasi.
Episode hipomanik memiliki kemiripan dengan episode manik yaitu adanya perasaan euphoria atau kegembiraan yang berlebihan, namun dengan tingkatan perkembangannya yang lebih rendah. Episode hipomanik ini bias dikatakan sebagai awal mula munculnya episode manik.
Dalam episode depresi ini seseorang akan mengalami depresi yang didominasi perasaan sedih, rasa penyesalan serta keputus asaan. Gejala lainnya dalam episode ini yaitu mulai hilangnya ketertarikan dalam melakukan suatu aktifitas, semuanya menjadi tidak menarik dan membosankan. Depresi yang berat pada episode ini juga menyebabkan perubahan pola tidur yang berujung pada insomnia atau tidur yang terlalu banyak. Di episode ini juga terdapat gejala munculnya delusi serta halusinasi, namun tidak sesering di epsode manik.
Dalam DSM 5, gangguan bipolar dikategorikan menjadi dua, yaitu gangguan bipolar I dan gangguan bipolar II. Bipolar I ditandai dengan penuhnya perkmbangan epidoe manik dan episode depresi yang berat. Bipolar I ini dapat kambuh dan juga berkurang, gejalanya pun sering muncul dan hilang secara tiba-tiba. Sedangkan bipolar II ditandai dengan episode hipomanik dan epiode depresi yang berat. Meskipun dalam bipolar II juga mengalami episode depresi yang berat namun episode depresi ini tidak akan berkembang menjadi episode manik layaknya yang terjadi pada kategori bipolar I
2.2.3 Cyclothymic Disorder
Cyclothymic disorder adalah keadaan perasaan seseorang yang berubah-ubah sesuai siklus yang berlaku dimana bias dalam episode hipomania dan episode depresi dengan tingkat ringan. Cyclothymic disorder adalah bentuk ringan dari gangguan bipolar. Seperti gangguan bipolar, cyclothymic disorder adalah gangguan suasana hati (mood) kronis yang menyebabkan naik turunnya emosi. Seseorang dengan gangguan cyclothymic digambarkan sebagai keadaan konstan dua mood berlawanan yng selalu terombang-ambing, kadang gembira sampai mencapai langit, terkadang diliputi kesedihan seperti mau mati. Jika gangguan cyclothymic dibiarkan, seiring waktu akan berkembang menjadi gangguan bipolar.
Gangguan cyclothymic ditandai dengan frekuensi periode pendek (hari atau minggu) dari gejala depresi dan hipomanik yang dipisahkan periode normal. Dengan kata lain, penderita tidak mengalami perkembangan penuh depresi mayor atau episode manik. Emil Kraepelin (2006) menyatakan temperamen cyclothymic ditandai dengan frekuensi seseorang mengalami lebih atau kurang fluktuasi keadaan psikis, menjadi sisi manik atau sisi depresi.
2.3 Faktor-faktor
2.3.1 Faktor Penyebab Gangguan Mood
Gangguan depresi paling baik dipahami dalam kaitannya dengan interaksi kompleks pengaruh biologis dan psikososial. Meskipun pemahaman penuh tentang penyebab gangguan depresi dan bipolar saat ini berada di luar jangkauan kita, para peneliti telah mulai mengidentifikasi banyak faktor penting yang menyebabkan gangguan ini.
1. Stress dan Depresi
Peristiwa kehidupan yang penuh stres meningkatkan risiko gangguan mood seperti gangguan bipolar dan depresi berat. Sumber stres hidup yang terkait dengan depresi termasuk kehilangan orang yang dicintai, putusnya hubungan asmara, pengangguran berkepanjangan dan kesulitan ekonomi, penyakit fisik yang serius, masalah perkawinan atau hubungan, perpisahan atau perceraian, paparan rasisme dan diskriminasi, dan tinggal di rumah.
lingkungan yang tidak aman dan tertekan. DSM-5 menganggap kesedihan sebagai respons
yang diharapkan terhadap kehilangan yang signifikan, namun bukan gangguan mental.
Namun, teori ini mengakui bahwa kesedihan dan depresi dapat terjadi bersamaan setelah kehilangan dan bahwa beberapa reaksi kesedihan yang ekstrim atau parah dapat mengindikasikan adanya gangguan depresi mayor. Namun, masih belum jelas apakah praktisi dapat membedakan antara reaksi duka yang normal atau yang diharapkan dan gangguan depresi yang menutupi rasa sakit karena duka pada individu yang berduka.
Stres sering kali menyebabkan depresi, tidak semua orang yang mengalami stres mengalami depresi klinis. Faktor-faktor seperti keterampilan mengatasi masalah, kemampuan genetik, dan ketersediaan dukungan sosial dapat mengurangi kemungkinan depresi dalam menghadapi peristiwa stres. Kurangnya keterikatan yang aman dengan orang tua selama masa bayi atau masa kanak-kanak juga dapat berkontribusi terhadap kerentanan yang lebih besar terhadap depresi di kemudian hari setelah kekecewaan, kegagalan, atau peristiwa hidup yang penuh tekanan lainnya (Morley & Moran, 2011). Pengalaman buruk di awal kehidupan, seperti perceraian orang tua atau kekerasan fisik, juga dikaitkan dengan kerentanan yang lebih besar terhadap depresi di masa dewasa (Wainwright & Surtees, 2002). Serta hubungan perkawinan yang kuat, misalnya, dapat menjadi sumber dukungan pada saat stres.
2. Teori Psikodinamik
Teori psikodinamik klasik tentang depresi yang dikemukakan oleh Freud berpendapat bahwa depresi mewakili kemarahan yang diarahkan ke dalam diri dan bukan terhadap orang lain.
Freud percaya bahwa berkabung, atau berkabung yang normal, adalah proses yang sehat di mana seseorang pada akhirnya memisahkan diri secara psikologis dari orang yang hilang karena kematian, perpisahan, perceraian, atau alasan lain. Namun, duka yang patologis tidak mendorong perpisahan yang sehat dan justru mendorong depresi yang berkepanjangan. Freud berteori bahwa ketika orang kehilangan, atau bahkan takut kehilangan, sosok penting yang membuat mereka merasa ambivalen, perasaan marah mereka berubah menjadi kemarahan.
Namun kemarahan memicu rasa bersalah, yang pada gilirannya menghalangi seseorang untuk melampiaskan kemarahannya secara langsung kepada orang yang hilang. Untuk menjaga hubungan psikologis dengan objek yang hilang, orang membawa representasi mental dari objek tersebut ke dalam diri mereka, kemudian kemarahan diarahkan ke dalam, melawan bagian diri yang mewakili representasi batin dari orang yang hilang. Hal ini menghasilkan kebencian pada diri sendiri, yang pada gilirannya menyebabkan depresi. Dari sudut pandang psikodinamik, gangguan bipolar mewakili pergeseran dominasi kepribadian individu antara
ego dan superego. Pada fase depresi, superego bersifat dominan, menghasilkan gagasan berlebihan tentang kesalahan dan membanjiri individu dengan perasaan bersalah dan tidak berharga. Setelah beberapa saat, ego bangkit kembali dan menegaskan supremasinya, menghasilkan perasaan gembira dan percaya diri. Tampilan ego yang berlebihan pada akhirnya memicu kembalinya rasa bersalah, yang sekali lagi menjerumuskan seseorang ke dalam depresi.
Model psikodinamik yang lebih baru mengalihkan fokus ke arah rasa harga diri atau harga diri individu. Salah satu model, yang disebut model pemfokusan diri, mempertimbangkan bagaimana orang mengalokasikan proses perhatian mereka setelah kehilangan, seperti kematian orang yang dicintai atau kegagalan pribadi atau kekecewaan yang signifikan. Dalam pandangan ini, penderita depresi sulit memikirkan hal lain selain dirinya sendiri dan kehilangan yang dialaminya. Para ahli teori psikodinamik fokus pada peran kehilangan dalam depresi. Bukti menunjukkan kehilangan orang terdekat (melalui kematian atau perceraian, misalnya) dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi (Kendler et al., 2003).
3. Teori Humanistik
Dari kerangka humanistik, orang menjadi depresi ketika mereka tidak dapat memberikan makna pada keberadaan mereka dan membuat pilihan otentik yang mengarah pada pemenuhan diri. Dunia menjadi tempat yang menjemukan bagi mereka. Pencarian manusia akan makna memberikan warna dan substansi pada kehidupannya. Rasa bersalah mungkin muncul ketika orang percaya bahwa mereka tidak mencapai potensi mereka.
Ahli teori humanistik fokus pada hilangnya harga diri yang dapat terjadi ketika seseorang kehilangan teman atau anggota keluarga atau mengalami kemunduran dalam pekerjaan. Kita cenderung menghubungkan identitas pribadi dan rasa harga diri kita dengan peran sosial kita sebagai orang tua, pasangan, pelajar, ataupun pekerja. Ketika identitas peran ini hilang tujuan dan harga diri kita bisa hancur. Depresi sering kali merupakan akibat dari kerugian tersebut.
Hal ini sangat mungkin terjadi ketika kita mendasarkan harga diri kita pada peran atau kesuksesan pekerjaan kita. Kehilangan pekerjaan, penurunan pangkat, dan kegagalan untuk mencapai promosi merupakan pemicu umum terjadinya depresi, terutama bagi individu yang menghargai diri mereka sendiri berdasarkan kesuksesan pekerjaan.
4. Learning Theory
Ahli teori pembelajaran menekankan pada faktor-faktor situasional, seperti hilangnya penguatan positif. Kita akan berkinerja paling baik bila tingkat penguatannya sepadan dengan upaya kita. Peran penguatan ahli teori pembelajaran Peter Lewinsohn (1974) mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara perilaku dan penguatan.
Kurangnya penguatan atas upaya seseorang dapat melemahkan motivasi dan menimbulkan perasaan depresi. Pengurangan tingkat penguatan dapat terjadi karena berbagai alasan.
Contohnya, ketika orang-orang terdekat kita, yang merupakan pemasok penguatan, meninggal atau meninggalkan kita.
Model Lewinsohn didukung oleh temuan penelitian yang menghubungkan depresi dengan rendahnya penguatan positif dan, yang penting, dengan bukti bahwa mendorong pasien depresi untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang bermanfaat dan perilaku berorientasi tujuan dapat membantu meringankan depresi (Otto, 2006). Mendorong pasien depresi untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur juga membantu memerangi depresi.
5. Cognitive Theory
Para ahli teori kognitif menghubungkan asal mula dan kelangsungan depresi dengan cara orang memandang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Salah satu ahli teori kognitif paling berpengaruh, psikiater Aaron Beck (Beck & Alford, 2009; Beck et al., 1979), menghubungkan perkembangan depresi dengan adopsi cara berpikir yang bias negatif atau terdistorsi di awal kehidupan—the cognitive triad of depression. Triad kognitif mencakup keyakinan negatif tentang diri sendiri (Saya tidak baik), lingkungan atau dunia secara keseluruhan (Sekolah ini buruk), dan masa depan (Tidak akan ada yang baik bagi saya). Teori kognitif berpendapat bahwa orang yang menganut cara berpikir negatif ini mempunyai risiko lebih besar mengalami depresi ketika menghadapi pengalaman hidup yang penuh tekanan atau mengecewakan, seperti mendapat nilai buruk atau kehilangan pekerjaan.
Beck memandang konsep-konsep negatif tentang diri dan dunia ini sebagai pola mental yang diadopsi di masa kanak-kanak berdasarkan pengalaman belajar awal. Anak-anak mungkin mendapati bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak cukup baik untuk menyenangkan orang tua atau guru mereka. Akibatnya, mereka menganggap diri mereka pada dasarnya tidak kompeten dan memandang prospek masa depan mereka suram. Keyakinan ini mungkin membuat mereka peka di kemudian hari untuk menafsirkan kegagalan atau kekecewaan sebagai cerminan dari sesuatu yang pada dasarnya salah atau tidak memadai dalam diri
mereka. Bahkan kekecewaan kecil pun menjadi pukulan telak atau kekalahan total yang dapat dengan cepat menyebabkan depresi
Kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil adalah contoh kesalahan berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif. Ia percaya bahwa distorsi kognitif memicu depresi ketika menghadapi kehilangan pribadi atau peristiwa negatif dalam hidup. Rekan Beck, psikiater David Burns (1980), mengidentifikasi sejumlah distorsi kognitif yang terkait dengan depresi:
1. Pemikiran semua atau tidak sama sekali: Melihat peristiwa sebagai sesuatu yang baik atau buruk, atau sebagai hitam atau putih tanpa bayangan abu-abu.
2. Generalisasi yang Berlebihan: Percaya bahwa jika peristiwa negatif terjadi, kemungkinan besar peristiwa tersebut akan terjadi lagi dalam situasi serupa di masa mendatang.
3. Filter mental: Berfokus hanya pada detail negatif dari suatu peristiwa, sehingga menolak fitur-fitur positif dari pengalaman seseorang.
4. Mendiskualifikasi yang positif: Kecenderungan untuk merebut kekalahan dari rahang kemenangan dengan menetralisir atau mengingkari pencapaian seseorang.
5. Langsung mengambil kesimpulan: Membentuk penafsiran negatif terhadap suatu peristiwa, meskipun kurangnya bukti.
6. Pembesaran dan minimalisasi: Kecenderungan untuk menjadikan gundukan dari gundukan tanah. Disebut juga catastrophizing, jenis distorsi ini mengacu pada sikap berlebihan terhadap pentingnya peristiwa negatif, kelemahan pribadi, ketakutan, atau kesalahan.
7. Penalaran emosional: Mendasarkan penalaran pada emosi.
8. Pernyataan “Harus”: Menciptakan perintah atau perintah pribadi “seharusnya” atau
“harus”.
9. Memberi label dan salah memberi label: Menjelaskan perilaku dengan memberi label negatif pada diri sendiri dan orang lain.
10. Personalisasi: Berasumsi bahwa seseorang bertanggung jawab atas masalah dan perilaku orang lain.
Beck dan rekan-rekannya merumuskan hipotesis kekhususan kognitif, yang mengusulkan bahwa gangguan yang berbeda ditandai oleh jenis pemikiran otomatis yang berbeda. Beck dan rekan-rekannya menemukan beberapa perbedaan menarik dalam jenis pemikiran otomatis pada orang dengan gangguan depresi dan kecemasan (Beck et al., 1987). . Orang dengan depresi yang dapat didiagnosis lebih sering melaporkan pikiran otomatis mengenai tema kehilangan, sikap mencela diri sendiri, dan pesimisme. Orang dengan gangguan kecemasan lebih sering melaporkan pemikiran otomatis mengenai bahaya fisik dan ancaman lainnya. Bukti lain mendukung prinsip dasar hipotesis kekhususan kognitif: bahwa jenis pikiran negatif tertentu (yang berkaitan dengan tema kehilangan dan kegagalan)sangat terkait dengan depresi, sedangkan pikiran negatif yang berkaitan dengan ancaman sosial berupa penolakan atau kritik lebih terkait erat. terhadap gejala kecemasan (Schniering & Rapee, 2004).
2.3.2 Faktor Biologis
1. Faktor genetik memainkan peran penting dalam menentukan risiko berkembangnya gangguan mood, termasuk depresi berat dan terutama gangguan bipolar. Para peneliti membuat kemajuan dalam menelusuri gen-gen tertentu yang terkait dengan gangguan mood.
Model yang muncul di lapangan berfokus pada interaksi faktor genetik dan lingkungan dalam depresi berat dan gangguan mood lainnya. Para peneliti menemukan bahwa variasi gen tertentu yang terlibat dalam pengaturan serotonin terkait dengan risiko depresi yang lebih besar dalam menghadapi stres hidup (Karg et al., 2011). Serotonin adalah neurotransmitter yang ditargetkan oleh antidepresan seperti Prozac dan Zoloft, sehingga tidak mengherankan jika serotonin berperan dalam kerentanan terhadap depresi.Depresi berat tidak hanya cenderung diturunkan dalam keluarga, namun semakin dekat hubungan genetik yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan mereka untuk mengalami gangguan depresi. Namun keluarga-keluarga mempunyai kesamaan lingkungan dan genetic.
2. Faktor biokimis dan abnormalitas otak. Penelitian tentang dasar biologis gangguan mood sebagian besar berfokus pada kelainan aktivitas neurotransmitter di otak. . Penelitian awal lebih menunjukkan bahwa obat yang sekarang kita sebut antidepresan, yang meningkatkan kadar neurotransmitter serotonin dan norepinefrin di otak, sering kali membantu meringankan
depresi. Lalu apakah ketika kekurangan neurotransmitter di otak akan menyebabkan depresi?
Diketahui antidepresan dapat meningkatkan kadar neurotransmitter di otak dalam beberapa hari atau bahkan beberapa jam penggunaan, namun biasanya memerlukan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum efek terapeutik tercapai (Cryan & O'Leary, 2010; Shiv, 2015). . Selain itu, bukti tidak menunjukkan kekurangan serotonin atau norepinefrin pada orang dengan depresi berat (Belmaker & Agam, 2008)
2.3.3 Faktor Penyebab gangguan bipolar
Studi pencitraan otak menemukan bukti kelainan di banyak wilayah otak pada pasien gangguan bipolar, terutama wilayah yang terlibat dalam pemrosesan dan regulasi emosi.
Faktor genetik berperan besar dalam gangguan bipolar (Hyman, 2011). Dalam penelitian berbasis populasi besar di Finlandia, peneliti menemukan tingkat kesesuaian tujuh kali lebih besar pada kembar MZ dibandingkan kembar DZ (masing-masing 43% berbanding 6%;
Kieseppä dkk., 2004). Genetika tampaknya memainkan peran yang lebih kuat dalam gangguan bipolar dibandingkan dengan gangguan depresi mayor (Belmaker & Agam, 2008) Temuan menarik yang dilaporkan pada tahun 2008 dari Swedia menunjukkan hubungan antara risiko lebih tinggi terhadap gangguan bipolar dan usia ayah yang lebih besar saat lahir, terutama usia ayah 55 tahun ke atas (Frans et al., 2008). Kita harus mencatat bahwa usia ibu kurang jelas hubungannya dengan gangguan bipolar pada keturunannya. Penjelasan yang mungkin mengenai hubungan ayah adalah bahwa kesalahan genetik cenderung lebih sering terjadi pada sperma pria yang lebih tua, sehingga ada kemungkinan bahwa cacat tersebut membuat keturunan mereka rentan terhadap gangguan psikologis tertentu, termasuk gangguan bipolar.
Peneliti juga mempelajari lebih lanjut tentang peran faktor psikososial dalam gangguan bipolar (Bender & Alloy, 2011). Misalnya, dukungan sosial dari anggota keluarga dan teman dapat meningkatkan tingkat fungsi pasien bipolar dengan memberikan mereka perlindungan terhadap efek negatif stres. Selain itu, ketersediaan dukungan sosial tampaknya berperan dalam membantu mempercepat pemulihan dari episode mood dan mengurangi kemungkinan episode berulang.
2.4 Pengobatan Gangguan Mood
Sama seperti berbagai perspektif teoritis menunjukkan banyak faktor yang mungkin terlibat dalam perkembangan gangguan mood, model-model ini telah menghasilkan berbagai
pendekatan terhadap pengobatan. Di sini, kita fokus pada pendekatan kontemporer terkemuka.
a. Pendekatan Psikodinamik
Pengobatan psikodinamik tradisional membantu orang depresi memahami konflik perasaan mereka terhadap orang yang penting dalam hidup mereka yang telah hilang atau terancam hilang. Pendekatan modern yang lebih langsung dan singkat juga menekankan konflik bawah sadar, fokus pada hubungan masa lalu dan saat ini. Terapi ini dapat menggunakan metode perilaku untuk membantu klien mengembangkan keterampilan sosial. Penelitian terbaru mendukung efektivitas terapi psikodinamik jangka pendek dalam mengobati depresi.
Salah satu model terapi psikodinamik yang dipelajari adalah terapi psikodinamik interpersonal (IPT). Terapi ini relatif singkat, berfokus pada isu-isu interpersonal dalam depresi, dan membantu klien membuat perubahan sehat dalam hubungan mereka. IPT efektif dalam mengobati depresi berat dan gangguan psikologis lainnya.
Terapis IPT membantu klien mengatasi berduka yang belum terselesaikan, konflik peran dalam hubungan saat ini, dan mengidentifikasi serta memecahkan konflik dalam hubungan. Jika perlu, terapis juga membantu klien mengakhiri hubungan yang tidak dapat diperbaiki dan membentuk yang baru. Terapi ini berfokus pada hubungan saat ini daripada konflik masa kanak-kanak yang tak sadar.
b. Terapi Perilaku
Terapi perilaku umumnya fokus pada membantu pasien depresi mengembangkan keterampilan sosial atau interpersonal yang lebih efektif dan meningkatkan partisipasi mereka dalam aktivitas yang menyenangkan atau memuaskan. Model perawatan perilaku yang paling banyak digunakan, yang disebut aktivasi perilaku, mendorong pasien untuk meningkatkan frekuensi aktivitas yang memuaskan atau menyenangkan.
Pendekatan aktivasi perilaku dapat menghasilkan efek yang signifikan dalam pengobatan depresi. Pendekatan perilaku sering digunakan bersama dengan terapi kognitif dalam model perawatan yang lebih luas yang disebut terapi kognitif-perilaku (CBT; juga disebut terapi perilaku kognitif), yang mungkin merupakan pengobatan psikologis yang paling banyak digunakan untuk depresi saat ini.
c. Terapi Kognitif-Perilaku
Terapis kognitif percaya bahwa pemikiran yang terdistorsi atau distorsi kognitif memainkan peran kunci dalam perkembangan depresi. Orang yang depresi biasanya fokus pada seberapa buruk perasaan mereka daripada pemikiran yang memicu perasaan negatif mereka. Aaron Beck dan rekan-rekannya mengembangkan terapi kognitif, bentuk utama CBT yang berfokus pada membantu orang mengenali dan memperbaiki pola pikir disfungsional. Tabel 7.5 menunjukkan beberapa contoh umum pemikiran otomatis yang terdistorsi, jenis distorsi kognitif yang mereka representasikan, dan respon alternatif yang rasional yang dapat digunakan untuk menggantikannya.
Terapi kognitif, seperti terapi perilaku, relatif singkat, mungkin berlangsung selama 14 hingga 16 sesi mingguan. Terapis menggunakan kombinasi teknik perilaku dan kognitif untuk membantu klien mengubah pola pikir negatif dan disfungsional dan mengembangkan perilaku yang lebih adaptif. Misalnya, mereka membantu klien menghubungkan pola pikir dengan suasana hati negatif dengan cara memantau pemikiran negatif otomatis yang mereka alami sepanjang hari menggunakan buku catatan pemikiran atau catatan harian. Klien mencatat kapan dan di mana pemikiran negatif terjadi dan bagaimana perasaan mereka saat itu. Kemudian, terapis membantu klien menantang pemikiran negatif tersebut dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih adaptif. Contoh kasus berikut menunjukkan bagaimana seorang terapis kognitif bekerja dengan seorang klien untuk menguji validitas pemikiran yang mencerminkan distorsi kognitif yaitu abstraksi selektif (kecenderungan untuk menilai diri sendiri sepenuhnya berdasarkan kelemahan atau cacat tertentu dalam karakter).
Klien menilai dirinya tidak memiliki kendali diri sama sekali karena ia makan sepotong permen saat sedang diet.
d. penggunaan obat anti-depressan
Penggunaan antidepresan telah meningkat secara signifikan di Amerika Serikat, dengan lebih dari 1 dari 10 orang dewasa mengonsumsinya. Antidepresan telah melonjak hampir 400% sejak 1988, terutama di kalangan wanita berusia 40 hingga 59 tahun, di mana hampir satu dari empat wanita mengonsumsinya.
Peningkatan penggunaan antidepresan telah mengakibatkan fakta bahwa lebih sedikit pasien depresi saat ini menerima psikoterapi dibandingkan dengan tahun 1990-an.
Ada empat kelas utama antidepresan: trisiklik, inhibitor monoamin oksidase (MAO), selektif pengambilan serotonin (SSRIs), dan pengambilan serotonin-norepinefrin (SNRIs). Mereka berbeda dalam cara mereka meningkatkan ketersediaan neurotransmitter di otak. Meskipun antidepresan dapat membantu mengurangi gejala depresi, gejala penuh yang mereda dalam uji klinis hanya terjadi pada sekitar satu dari tiga pasien yang diobati dengan antidepresan, dengan banyak pasien masih mengalami gejala residu.
Efek samping dari beberapa antidepresan meliputi mulut kering, gangguan motorik, sembelit, dan efek lainnya. Selain itu, ada risiko kambuh tinggi ketika pasien berhenti mengonsumsi antidepresan. Terapi kognitif-perilaku (CBT) dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap kambuh daripada obat antidepresan, karena pasien yang menerima CBT belajar keterampilan yang dapat membantu mereka menghadapi stres dan kekecewaan dalam hidup mereka.
Secara keseluruhan, sekitar 50% hingga 70% pasien depresi merespons baik terhadap psikoterapi maupun obat antidepresan. Terapi kognitif-perilaku dikombinasikan dengan obat-obatan telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik dalam mengobati depresi berat. Meskipun antidepresan memiliki manfaat, penting untuk mempertimbangkan efek samping dan risiko kambuh, serta mempertimbangkan kombinasi terapi untuk hasil yang lebih baik.
e. Electroconlusive Theraphy
Terapi Elektrokonvulsif (ECT), juga dikenal sebagai terapi kejutan, adalah metode pengobatan yang melibatkan penggunaan arus listrik pada otak untuk menginduksi kejang yang mirip dengan kejang epilepsi grand mal. Meskipun kontroversial, ECT telah terbukti efektif dan aman dalam pengobatan depresi berat, terutama pada kasus yang tidak merespons terhadap obat-obatan antidepresan.
Dalam ECT, pasien menjalani serangkaian sesi (biasanya enam hingga 12 kali) selama beberapa minggu, di mana arus listrik diterapkan pada kepala mereka setelah mereka dibius dengan anestesi umum. Tujuannya adalah untuk menginduksi kejang yang terkontrol. Hasilnya seringkali tidak dikenang oleh pasien. ECT dulunya
digunakan untuk berbagai gangguan psikologis, tetapi sekarang disarankan hanya untuk pengobatan depresi berat yang tidak merespons terhadap obat antidepresan.
ECT telah terbukti memberikan perbaikan signifikan pada banyak penderita depresi berat, bahkan yang gagal merespons terhadap obat antidepresan, dan dapat membantu mengurangi pemikiran bunuh diri. Meskipun efektif dalam mengatasi gejala depresi, ECT memiliki beberapa risiko, seperti kehilangan ingatan untuk peristiwa sekitar waktu pengobatan dan tingkat kambuh yang tinggi setelah pengobatan.
Selain ECT, terdapat pengobatan psikologis dan farmakologis lainnya yang efektif untuk mengatasi depresi. Terapi psikologis dan obat-obatan dapat memiliki tingkat efektivitas yang sebanding, dan dalam beberapa kasus, kombinasi keduanya mungkin lebih efektif daripada satu metode pengobatan saja. Terapi psikologis juga cenderung menghasilkan efek pengobatan yang lebih tahan lama dibandingkan dengan obat antidepresan. ECT umumnya dianggap sebagai pilihan terakhir jika pendekatan pengobatan lainnya tidak berhasil. Jadi, meskipun ECT dapat efektif dalam mengatasi depresi berat, banyak pilihan pengobatan lain yang dapat dipertimbangkan sebelumnya.
f. Lithium dan obat stabilizers
Gangguan bipolar umumnya diobati dengan obat untuk menstabilkan mood seperti lithium. Lithium membantu mengurangi mania dan stabilisasi mood pada pasien bipolar, meskipun penggunaannya harus dipantau ketat karena efek samping potensial. Selain lithium, obat antikonvulsan seperti karbamazepin dan lamotrigine juga digunakan untuk mengatasi gejala manik.
Meskipun lithium memiliki manfaat, banyak pasien tidak merespons atau tidak dapat mentolerirnya. Efek samping termasuk masalah memori, peningkatan berat badan, dan masalah pencernaan. Sebagai alternatif, obat antikonvulsan dapat membantu yang tidak responsif terhadap lithium.
Meskipun lithium masih umum digunakan, upaya telah dilakukan untuk menemukan pengobatan alternatif. Kombinasi obat, termasuk antipsikotik, kadang-kadang diperlukan untuk meningkatkan respons. Penting untuk lebih fokus pada pengobatan fase depresi gangguan bipolar, yang sering tahan terhadap
obat-obatan saat ini. Penggunaan antidepresan harus dilakukan dengan hati-hati karena risiko memicu episode manik.
2.5 Suicide
Bunuh diri atau dalam bahasa inggris Suicide merupakan fenomena yang tabu di masyarakat. padahal, menurut WHO, 703.000 orang bunuh diri setiap tahunnya dan banyak lagi yang mencoba untuk melakukan bunuh diri. bunuh diri juga merupakan penyebab kematian keempat terbesar pada kelompok usia 15-29 tahun secara global pada tahun 2019.
bagaimana dengan fenomena bunuh diri di Indonesia sendiri?
Dari data yang didapat Polisi Republik Indonesia (Polri) melaporkan bahwa terjadi 663 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang bulan Januria- Juli 2023. hal tersebut belum termasuk kasus-kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan oleh keluarga korban atau masyarakat dikarenakan kasus bunuh diri merupakan aib bagi keluarga.
maka dari itu, bunuh diri merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian kita semua sebagai mahasiswa psikologi. walaupun bunuh diri tidak selalu berkaitan dengan penyakit psikologi, tetapi penyakit mental 8 kali dapat mengarahkan seseorang untuk melakukan bunuh diri.
2.5.1 Faktor-faktor bunuh diri
Banyak stigma masyarakah yang menganggap orang-orang yang melakukan bunuh diri adalah orang gila, kurang iman, lemah, dan akan masuk neraka. padahal bunuh diri merupakan perilaku yang kompleks, ada beberapa faktor yang mengarahkan seseorang untuk melakukan bunuh diri, diantaranya :
1) Usia
Walaupun pada berita tv atau sebagainya sering menyiarkan fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh orang berusia muda, tapi faktanya bunuh diri sering terjadi pada usia dewasa. salah satu faktornya adalah orang dewasa rentang terkena penyakit-penyakit fisik yang berat, seperti kanker, diabetes, dll. hal ini yang menyebabkan seseorang putus asa dan tidakberdaya dan akhirnya mengarah pada perilaku bunuh diri. perasaan isolasi dari keluaraga atau kerabat dekat juga memiliki faktor terhadap perilaku bunuh diri di usia dewasa. seseorang yang merasa terisolasi
akan menganggap bahwa dirinya tidak berguna dan mengarah pada perilaku bunuh diri
2) Gender
Perempuan lebih banyak yang mencoba bunuh diri, tetapi laki-laki yang lebih banyak berhasil (Hawton dkk., 2013) dari setiap satu perempuan yang berhasil bunuh diri , terdapat sekitar empat lelaki yang berhasil melakukannya. salah satu alasanya, lelaki biasanya menggunakan cara cepat dalam melakukan bunuh diri, seperti senjata api, gantung diri, dan lain sebagainya.
3) Gangguan Psikologis
faktor resiko bunuh dari banyak terjadi pada gangguan psikologis seseorang, terutaram yang mengalami gangguan berat, seperti bipolar dan depresi. orang yang mengalami gangguan psikologis berat berulang kali memiliki resiko untuk melakukan bunuh diri (Witte et al., 2009) akan tetapi, kita juga tidak boleh menyampingkan gangguan psikologis kecil, seperti kecemasan, kecanduan alkohol, skinzofernia, dan lain sebagainya. karena gangguna psikologis kecil juga memiliki harapan untuk seseorang melakukan bunuh diri.
namun tidak semua kasus bunuh diri berkaitan dengan gangguan psikologis. penyakit fisik berat juga memiliki faktor dalam seseorang melakukan bunuh diri. orang yang mengidap penyakit parah akan merasionalisasikan perilaku bunuh diri, seperti untuk menyelesaikan penderitaan, tidak memiliki harapan, dan lain sebagainya. maka bunuh diri ini disebut “ bunuh diri rasional”
4) Upaya bunuh diri sebelumnya
bunuh diri yang gagal di masa lalu memiliki prediktor yang kuat untuk melakukan bunuh diri dikemudian hari (Bolton dkk., 2010; Kessler dkk., 2014) mereka yang gagal melakukan bunuh diri kemaren akan mengungkapkan kepada orang lain bahwa mereka berharap mati. penelitian yang dilakukan oleh (Oflson et.al 2005) mengemukakan remaja yang memiliki riwayat percobaan bunuh diri memiliki resiko 14 kali melakukan bunuh diri di esok hari pada perempuan, dan 22 kali lebih tinggi pada laki-laki.
5) peran stress
peristiwa-peristiwa kehidupan yang penuh dengan stress, seperti ditinggalkan orang yang dicintai, pengangguran berkepanjangan, kemunduran finansial yang signifikan, dan perceraian atau perpisahan akan mendorong untuk melakukan bunuh diri. orang yang melakukan bunuh diri karena peran stress kurang memiliki keterampilan memecahkan masalah dan tidak menemukan jalan keluar dari masalah tersebut, jadi bunuh diri merupakan pilihan yang terbaik.
2.5.2 Perspektif Teoritis tentang bunuh diri 1) Model Psikodinamika klasik
Freud berspekulasi bahwa bunuh diri mungkin dimotivasi oleh “ Naluri Kematian”, suatu kecendrungan untuk kembali ke keadaan bebas tegangan seperti yang terjadi sebelum kelahirain
2) Humanistik
Ahli Humanistik menghubukan bunuh diri dengan perasaan kosong, tidak berarti, dan pada dasarnya tidak memiliki harapan
3) Sosiokultular
Ahli teori Sosiokultular percaya bahwa perasaan keterasingan berperan banyak dalam kasus bunuh diri. orang-orang yang kurangSocial Supportsaat masa krisis akan lebih besar untuk melakukan bunuh diri. pernyataan ini didukung oleh penelitian (Kleiman
& Liu, 2013) menjelaskan bahwa orang yang memiliki hubungan dukungan sosial yang tinggi jarang memikirkan untuk melakukan bunuh diri.
4) Behavioural
Ahli behavioural berfokus pada kurangnya keterampilan pemecahan masalah untuk menangani tekanan-tekanan hidup. mereka yang mencoba bunuh diri ingin lepas dari penyakit psikologi, tetapi tidak melihat jalan keluarnya selain bunuh diri.
5) Teori Kognitif Sosial
Ahli teori kognitif Sosial berpendapat bahwa bunuh diri dilakukan karena harapan-harapan pribadi. seperti mereka yakin bahwa jika dia mati akan dirindukan oleh orang lain atau orang lain akan bersalah atas kepergian dia atau untuk menyelesaikan masalah sendiri dan orang lain.
Ahli kognitif sosial juga berfokus pada proses permodelan dan dari pengamatan bunuh diri yang dilakukan orang lain. biasanya dilakukan oleh remaja yang memilik tekanan akademis dan sosial. bahkan, remaja meromantikas perilaku ini dengan menganggap bunuh diri adalah perilaku heroik.
6) Faktor Biologis dan gen
faktor biologi juga berpengaruh terhadap perilaku bunuh diri, otak seseorang yang tidak memiliki keseimbangan neurotransmiter, yang melibatkan bahan kima serotonim untuk mengatur suasana hati. ada juga faktor gen, seseorang yang memiliki gen yang susah meregulasi serotonim juga dapat terlibat pada bunuh diri.
2.5.3 Memprediksi Bunuh diri
Teman dan keluarga seringkali menganggap berita bunuh diri dengan perasaan tidak percaya atau merasal bersalah karena tidak menemukan tanda-tanda seseorang melakukan bunuh diri. namun, profesional terlatih pun susah untuk mendeteksi seseorang melakukan bunuh diri di kemudian hari.
ada beberapa tanda dari seseorang yang melakukan bunuh diri, baik eksplisit maupun impslisit dan penelitian terkemukan, mengungkapkan bahwa 90% seseorang meninggalkan tanda-tanda sebelum mekakuan bunuh diri
pada eksplisit, biasanya seseorang yang ingin melakukan bunuh diri berbicara kepada teman atau keluarga dekatnya bahwa dia memiliki pikiran untuk bunuh diri.
sedangkan untuk tanda-tanda implisit, ada perilaku-perilaku dari seseoranf yang tidak biasa, seperti menulis surat wasiat, membuang harta benda, membeli tanah pemakaman.
2.5.4 Upaya-upaya menanganan bunuh diri pada seseorang.
Jika kamu memiliki seseorang yang bercerita kalau ia mempunyai pikiran-pikiran bunuh diri, lakukan beberapa hal ini untuk menangani hal tersebut supaya tidak mengarah kepada perilaku bunuh diri.
1. Untuk orang lain :
Hal yang tidak boleh dilakukan
- Mengatakan “semua cuman ada di dalam kepala kamu”, serahkan hal itu kepada profesional
- Mengatakan “jadi lelaki dong” hal ini tidak akan membantu, depresi adalah penyakit, bukan kelemahan
- jangan memberi nasihat-nasihat
- jangan menghibur mereka dengan candaan atau lelucon, hal itu akan membuat lebih parah
- jangan membandingkan keadaan mereka dengan orang lain yang lebih parah, hal ini membuat mereka merasa makin bersalah
hal yang boleh dilakukan
- lebih care terhadap subjek kesehatan mental, seseorang biasanya tidak mau berbicara tentang kesehatan mental atau kurangnya pengetahuan.
ajak mereka berbicara berarti anda peduli
- jangan berbicara, alih-alih buka telinga dan dengarkan dengan aktif mereka curhatan mereka. jangan menjudje atau memberi opini terhadap mentalnya
- dorong mereka untuk mencari pertolongan profeseional, bantu dengan lebih seperti mencari psikologi di daerahnya atau membantu membuat list-list pertanyaan untuk berobat. biasanya hal awal ini merupakan hal tersulit bagi mereka
- dorong mereka juga untuk melakukan olah raga
- jika keluarga atau teman dekat, beri mereka foto-foto favorite saat bersama atau hal lainnya, supaya membantu mereka hal-hal baik yang ada di hidup mereka,
2. untuk diri sendiri :
- situasi sulit biasanya dapat ditangani ketika anda tenang, latihalah mindfulness
- bergabung dengan support grup
- berkumpulah dengan teman-teman. teman mungkin tidak dapat memnyelasaikan masalah, tapi dapat menjadi support yang baik dan tempat yang nyaman
- depresi memang sulit ditangani, tetapi jika dijalani dengan orang yang dicintai hal ini dapat berlalu, bahkan memperkuat bonding satu sama lain.
- cari penangan profesioanl, jika berpikir ini terlalu mahal, pikirkan biaya dari depresi lebih mahal, seperi kurang nikmati hidup, pernikahan, produktivitas, dan pertemanan.
BAB III PENUTUP
2.3 Kesimpulan
Gangguan mood melibatkan perubahan yang signifikan dalam suasana hati seseorang, yang dapat mencakup episode depresi berat, mania, hipomania, atau perubahan suasana hati yang lebih ringan. Beberapa jenis gangguan mood utama meliputi Major Depressive Disorder
(MDD), Seasonal Affective Disorder (SAD), Postpartum Depression (PPD), Persistent Depressive Disorder (Dysthymia), Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), Bipolar Disorder, dan Cyclothymic Disorder.
MDD merupakan jenis gangguan mood yang paling umum, dengan gejala depresi yang signifikan dan dampak yang serius pada kehidupan sehari-hari. Faktor risiko melibatkan genetik, usia, status sosial ekonomi, dan gender.
SAD muncul terkait dengan perubahan musim dan dapat menyebabkan depresi selama musim tertentu, khususnya musim gugur dan musim dingin. PPD terjadi pada beberapa ibu setelah melahirkan dan dapat berlangsung lebih lama daripada perubahan suasana hati yang normal setelah melahirkan.
Dysthymia adalah bentuk depresi kronis yang berlangsung selama setidaknya dua tahun, sementara PMDD menunjukkan gejala depresi yang terkait dengan siklus menstruasi pada wanita.
Bipolar Disorder melibatkan perubahan suasana hati antara mania dan depresi. Terdapat dua jenis utama: Bipolar I dengan episode manik yang parah dan Bipolar II dengan episode hipomanik yang lebih ringan.
Cyclothymic Disorder adalah bentuk ringan dari gangguan bipolar yang melibatkan perubahan suasana hati antara episode hipomanik dan depresi dengan tingkat ringan.
Pengobatan gangguan mood melibatkan berbagai pendekatan, termasuk terapi psikodinamik, terapi perilaku, terapi kognitif-perilaku (CBT), dan penggunaan obat antidepresan. Terapi Elektrokonvulsif (ECT) juga digunakan untuk mengobati depresi berat yang tidak merespons terhadap obat-obatan lain.
Kombinasi terapi psikologis dan obat-obatan seringkali memberikan hasil terbaik. Pilihan pengobatan harus dipertimbangkan dengan hati-hati berdasarkan respons individu dan kebutuhan pasien. Lithium dan obat stabilizer lainnya digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar.
Meskipun berbagai pilihan pengobatan tersedia, setiap individu merespon berbeda terhadap terapi. Oleh karena itu, diagnosis dan pengobatan yang tepat memerlukan kerja sama antara pasien dan profesional kesehatan mental.
DAFTAR PUSTAKA
Nevid, Jeffrey S; Jeanette Murad; Ratri Medya; Wisnu C. Kristiaji; Greene, Beverly; Rathus, Spencer A. (2005). Psikologi abnormal / Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, Beverly Greene
; alih bahasa, Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jeanette Murad ...[et al.] ; editor, Ratri Medya, Wisnu C. Kristiaji. Jakarta :: Erlangga,.