Itam dan U
Gelombang besar
Itam dan Micel sedang asyik bermain gasing ketika terdengar nyanyian yang sudah sangat mereka kenal.
Itam : “Lagu itu lagi. Lagu itu lagi. Apa Cik Lam tidak bosan, ya?”
Cik Lam : “Eh ini penting..”
Beum selesai kalimat Cik Lam, mendadak bumi berguncang hebat!
Micel : “Loh, ada apa ini? Aaaaaaaaaaaaaaaa”
Itam : “Ayo kita larii”
Tidak lama kemudian, guncangan itu reda.
Micel : “Itam, guncangan nya sudah reda. Ayo kita kembali ke pantai dan main gasing lagi”
Itam : “Iya, sudah reda. Ayo Micel kita main lagi!”
Namun, air laut telah surut jauh sekali, meninggalkan banyak ikan bergelimpangan.
Itam : “Wah lihat, air pantai surut. Ayo kita kumpulkan ikan- ikan itu.”
Micel : “Kita makan besar hari ini!”
Cik Lam : “Itu smong! Smooooong! Larii!”
Itam : “Hahahhahaha, apa yang di maksud Cik Lam?”
Cik Lam menyambar tangan Itam dan Micel.
Cik Lam : “Itam, Micel, cepat lari!”
Seseorang : “Air laut naik!”
Gelombang raksasa datang menghantam. Air laut menyeret Itam, memisahkannya dari Cik Lam, lalu menghempaskannya ke sebatang pohon kelapa.
Itam : “Tolooong, seseorang tolong aku”
Itam :”Aku akan memanjat sampai ke puncak untuk melihat lingkungan sekitar.”
Itam : “Aku hanya melihat air dan air, tidak ada Micel, tidak ada siapa pun huhh”
Kini hanya ada dia dan U, pohon kelapa itu.
Di Mana Semua Orang?
Hari ketiga, Itam mendengar seruan- seruan.
Itam : “Hah, Suara apa itu? Aku seperti mendengar seruan- seruan”
Beberapa orang terlihat mencari- cari di antara puing dan reruntuhan.
Itam : “Ada Cik Lam di antara mereka, Tolong! Tolong aku ! ( berteriak dan menggo- yang- goyangkan pelepah U)
Tim penyelamat pun membantu Itam turun.
Cik Lam : “Jangan khawatir Itam, ( sambil memeluk Itam) Semuanya baik- baik saja”
Itam : “Tidak,( mengelak dari pelukan Cik Lam) Itam segera lari ke rumahnya untuk mencari ayah ibunya.
Itam : “Ayah, Ibu, Kalian di manaa??”
Semuanya sudah porak- poranda, tak ada yang tersisa kecuali sebatang pohon nangka. Itam berlari ke rumah Micel.
Itam : “Micel, Micel! Kau di mana?”
Namun, yang di temuinya hanya reruntuhan. Cik Lam menepuk pundak nya.
Cik Lam : “Orang tua dan temanmu sudah tiada,( ujar Cik Lam dengan sedih)”
Cik Lam : “Cik Lam dan tim penyelamat sudah mencari mereka ke mana- mana, dan tidak ada”
Itam : “Tidak!,( Itam berteriak arah) “
Itam : “Mereka pasti masih hidup. Aku akan mencari mereka!”
Itam : “Di mana ayah ibu dan Micel? Aku sudah seharian mengelilingi gampong men- cari mereka.”
Cik Lam : “Itam, malam sudah datang, ayo ke rumah Cik Lam”
Itam terpaksa ikut, tetapi dia tidak mau menyentuh makanan yang di suguhkan Cik Lam.
Kelelahan, Itam pun tertidur.
Itam : “ Aku sudah mencari ke posko penyelamatan, tenda darurat, berjalan berjam- jam, bahkan ke gampong- gampong sebelah. Aku masih tak menemukan ayah, ibu dan Micel. “ Itam : “Aku sudah mencari setiap hari, selama berminggu- minggu. Dan aku belum menemukan ayah dan ibu”
Cik Lam : “Ayo pulang Itam, hari sudah hampir malam, ( Cik Lam berusaha membujuk Itam)
Itam : “Tidak! Aku tidak mau pulang kalau tidak ada ayah dan ibu!”
Itam : “Kenapa Cik Lam tidak membantuku?”
Cik Lam : “Sudah 30 hari sejak tsunami berlalu. Sudah waktunya kita berhenti mencari”
Itam : “Tidak, aku tak mau menyerah! Aku tak mau pulang bersama Cik Lam!”
Itam berteriak dan berlari menjauh. Dia berlari menuju pantai.
Itam : “Apa itu?”
Di sana dia melihat bayangan tinggi hitam dengan daun- daunnya yang melambai.
Itam : “U!”
Itam menyandarkan tubuhnya ke pohon yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Telinga nya dia tempelkan ke batang U.
Itam : “Apakah kamu melihat ayah dan ibu? Apakah kamu melihat Micel? Beri tahu aku, U”
Namun, pohon kelapa itu hanya diam.
Jala Cik Lam dan Smong
Cik Lam : “Hei, Itam, di situ kau rupanya.”
Cik Lam : “ Bagaimana kalau kamu membantu Cik Lam memperbaiki Jala?”
Itam langsung merengut. Dia tidak ingin mendekati jala Cik Lam.
Itam : “Jala mengingatkanku kepada ayah. Dulu Itam sering membantu ayah memper- baiki jala. Dan Cik Lam bukan ayah!”
Cik Lam mulai bekerja sendiri. Seperti biasa, dia mendengarkan lagu kesukaan nya.
Cik Lam: “...Edeng Smong kahanee..”
Itam : “Syairnya terdengar ganjil, dan iramanya amat mendayu”
Itam terhanyut menyimak lantunan lagu itu. Itam sejenak terdiam.
Itam : “Ba- bagaimana keluarga Cik Lam? Apakah mereka selamat?”
Cik Lam : “Ayah ku selamat, tetapi kakekku tidak. Begitu pula paman, bibi, dan beberapa sepupuku yang masih kecil. Mereka hilang tersapu ombak. Kami tidak pernah melihat mereka lagi. ( Cik Lam tampak berusaha tetap tersenyum)”
Itam mengamati Cik Lam yang kini diam terus memperbaiki jala. Perlahan Itam mendekati Cik Lam dan meraih ujung jala.
Itam : “Aku boleh bantu, Cik Lam?”
Enggel mon sao curito Dengarlah sebuah cerita Inang maso semonan Suatu hari dahulu kala
Manoknop sao fano Tenggelamlah sebuah desa
Uwilah da sesewan Demikianlah dituturkan kisah
Unen ne alek linon Awalnya terjadi gempa
Fesang bakat ne mali Lalu ombak besar luar biasa
Manoknop sao hampong Seluruh kampung pun sirna
Tibo- tibo mawi... Tiba- tiba saja...
Anga linon ne mali Maka, jika gempa besar melanda
Uwek suruik sahuli Lalu air laut surut jauh ke tengah
Maheya mihawali Segeralah Cari
Fano me singa tenggi Tempat yang lebih tinggi
Ede smong kahanne Itulah smong namanya
Turiang da nenekta Sejarah nenek moyang kita
Miredem teher ere Ingatlah ini semua
Pesan da navi da Pesan dan nasihatnya
Itu Micel?
Itam menggoreskan satu garis lagi di batang pohon U.
Itam : “Seratus delapan puluh hari.”
Dia tempelkan telinganya ke batang pohon.
Itam : “U, temanku, adakah yang terlihat oleh mu dari atas sana?”
Itam : “Beri tahu aku, ya, kalau kamu melihat sesuatu?”
Itam : “Di mana ayah dan ibu saat ini? ( tanya Itam dalam hati)”
Itam : “Mungkin ayah pergi melaut ke tempat yang jauh, mencari ikan yang besar.
Mungkin ibu berlajut bersekolah lagi, seperti yang selalu dia impikan. Sementara, Micel mung- kin sedang mengikuti perlombaan gasing tingkat dunia! Dia pasti menang! ( Itam mengkhayal) “ Tiba- tiba Itam melihat seorang anak laki- laki berlari melintas.
Itam : “Siapa itu? Dia terlihat seperti... Micel!”
Anak itu membanting sebuah gasing ke tanah. Itam menahan napas.
Itam : “Itu pasti Micel! Micel sudah pulang! Miceeel!”
Itam berlari menyusul anak itu sampai ke sebuah posko pengungsian. Sekelompok anak bermain gasing.
Seorang anak : “Hasim, ayo bermain bersama kami.”
Kecewa, Itam pun tersadar bahwa anak laki- laki itu bukan Micel. Sewaktu Itam beralik hendak pergi, anak- anak itu mulai bertengkar.
Anak 1 : “Ayolah Hasim, biarkan yang lain dapat giliran”
Anak 2 : “Hasim, aku juga ingin main gasing!”
Itam : “Mereka bertengkar. Sebagian mereka belum pandai memainkan gasing”
Itam : “Hmmmm..aku punya ide”
Seribu Kejutan
Itam mengumpulkan kayu dari hutan.
Cik Lam : “Apa yang kamu lakukan, Itam?”
Itam : “Ngggg.. aku ingin membuat sesuatu dengan kayu- kayu ini”
Itam : “Cik Lam mau bantu aku?”
Segera mereka sibuk memotong, mengikir, dan mengamplas kayu.
Cik Lam : “Serpihan kayu berserak di mana- mana”
Mereka terus sibuk. Hanya azan dan perut keroncongan yang membuat mereka berhenti.
Itam : “Saat nya mengcat, tangan kita penuh dengan cat warna- warni”
Cik Lam : “Kita selesai, hari sudah gelap. Ayo kita rapikan semua sisa kayu dan cat”
Itam : “Inilah dia, seribu gasing kejutan!”
Berbagi Kegembiraan
Keesokan harinya, dengan sebuah tas besar Itam membawa semua gasing itu ke rumah pengung- sian.
Itam : “Berat sekali tas ini, tapi aku senang karena akan membagikan semua gasing ini kepada anak- anak di rumah pengungsian”
Anak- anak : “Horeee!”
Seorang anak : “Aku mau yang kuning”
anak kecil : “Yang ini untukku! ( menyabet gasing totol- totol merah)”
Ina : “Terima kasih, bang ( Tersenyum lebar)”
Anak itu menghampiri seorang nenek.
Ina : “Nenek, lihat, aku dapat gasing”
Hasim : “Itu Ina dan neneknya. Gelombang besar memisahkan mereka, tapi nenek Ina terus mencari dan menemukan cucunya di posko ini”
Ina melambaikan tangan berpamitan ke semua orang.
Ina : “Dada semuaa, sampai jumpa nanti”
Kembali Melaut
Sambil menyeka matanya, Itam berjalan menuju pantai untuk menemui U. Dia menyandarkan pipinya ke batang U.
Itam : “Terima kaih. Terima kasih telah mengawasi mama, papa, dan Micel”
Itam memeluk pohon itu.
Itam : “Aku mungkin tidak akan datang menemuimu setiap hari sekarang, U. Aku mungkin sibuk dengan hal- hal lain”
Ketika Itam berbalik dan melangkah pergi, Cik Lam memanggilnya.
Cik Lam : “Itam, aku mau memancing! Tunggu aku di sini”
Itam berhenti. Dia melihat ke arah U.
Itam : “Daun- daun pohon itu seperti melambai karena tertiup angin”
Dia memandang Cik Lam, dan lelaki tua itu tersenyum padanya.
Cik Lam & Itam: “Ede smong kahanne..”