Grand teory
Theory of Planned Behavior (TPB) menurut azjen 1991 merupakan pengembangan dari Theory of Reasoned Action (TRA). Theory of Planned Behavior (TPB) didasarkan pada asumsi bahwa manusia biasanya akan bertingkah laku sesuai dengan pertimbangan akal sehat, bahwa manusia akan mengambil informasi yang ada mengenai tingkah laku yang tersedia secara implisit atau eksplisit mempertimbangkan akibat dari tingkah laku tersebut.
(evelyna, 2021)
TPB menjelaskan mengenai perilaku yang dilakukan individu timbul karena adanya niat dari individu tersebut untuk berperilaku dan niat individu disebabkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal dari individu tersebut.
Theory of Reasoned Action (TRA) menurut analisis Ajzen hanya dapat digunakan untuk suatu perilaku yang sepenuhnya berada dibawah kendali individu tersebut dan tidak berada dibawah kendali individu dikarenakan terdapat faktor yang memungkinkan bisa mendukung atau menghambat untuk mewujudkan niat individu agar berperilaku, oleh karenanya Ajzen dalam Theory of Planned Behavior (TPB) menambahkan satu faktor yaitu kontrol perilaku yang dirasakan (perceived behaviour control). Inti dari Theory of Planned Behavior(TPB)adalah niat individu untuk melakukan sebuah perilaku tertentu.
Berdasarkan gambar 2.1 model Theory Of Planned Behavior, penentuan niat dan perilaku dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Attitude toward the behavior (sikap terhadap perilaku), ditentukan oleh keyakinan mengenai konsekuensi dari suatu perilaku. Keyakinan individu berkaitan dengan penilaian perilaku tertentu dengan berbagai manfaat atau
kerugian yang mungkin diperoleh apabila individu melakukan atau tidak melakukan perilaku yang dapat memperkuat sikap terhadap perilaku apabila berdasarkan evaluasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat bagi individu.
Dalam konteks Revisit Intention menggambarkan evaluasi individu tentang keputusan kunjungan ulang. Keyakinan individu tentang manfaat atau konsekuensi kunjungan sebelumnya membentuk penilaian positif atau negatif yang secara langsung memengaruhi keinginan untuk melakukan kunjungan berulang.
2. Subjective norm (norma subjektif), dipengaruhi oleh persepsi orang lain yang berpengaruh dalam kehidupannya mengenai dilakukan atau tidak dilakukannya suatu perilaku tertentu. Norma subjektif (subjective norm) berperan penting dalam membentuk Revisit Intention melalui pengaruh sosial dan persepsi lingkungan. Pandangan orang-orang penting dalam kehidupan individu, seperti keluarga, teman, atau kelompok rujukan, memberikan tekanan normatif yang signifikan dalam mempertimbangkan keputusan kunjungan ulang.
3. Perceived behavioral control (persepsi kontrol perilaku), Merupakan persepsi individu tentang kemudahan atau kesulitan yang dirasakan oleh individu dalam mewujudkan perilaku, ditentukan oleh keyakinan ketersediaan sumberdaya yang dimiliki oleh individu. Semakin kuat sumberdaya yang dimilki oleh individu maka semakin mudah individu dalam mencapai keyakinan untuk melakukan perilaku tertentu.
Dalam konteks Revisit Intention, konstruk ini menjelaskan persepsi individu tentang kemampuan dan sumber daya untuk melakukan kunjungan ulang. Semakin individu merasa mampu dan yakin dapat mengatasi berbagai hambatan, semakin tinggi kemungkinan terbentuknya intensi untuk melakukan kunjungan berulang.