• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. di sektor publik menjadi hal yang penting. Anggapan umum yang berkembang di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. di sektor publik menjadi hal yang penting. Anggapan umum yang berkembang di"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan kinerja sektor publik agar dapat mengejar ketertinggalannya dari sektor swasta, pemahaman tentang motivasi kerja pegawai di sektor publik menjadi hal yang penting. Anggapan umum yang berkembang di masyarakat dan beberapa penelitian menyatakan bahwa motivasi kerja pada pegawai di sektor publik sangat berbeda dengan pegawai di sektor swasta. Pegawai sektor publik sering dianggap malas, mementingkan diri sendiri, dan tanpa panduan yang benar. Dalam era transformasi ini, perhatian terhadap motivasi pegawai merupakan agenda yang paling penting dalam penelitian manajemen publik. Selanjutnya, dalam literatur manajemen menyatakan bahwa pegawai merupakan sumber daya organisasi yang paling penting dan merupakan kunci dalam mencapai kinerja yang tinggi, sementara Perry dan Wise (1990) menyatakan bahwa administrasi publik perlu untuk menata ulang kembali pemahaman tentang motivasi.

Potret pegawai sektor publik seperti digambarkan di atas tentu saja jauh dari profil pegawai negeri sipil yang baik yang diharapkan dapat menunjukkan motivasi kerja tinggi dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Lemahnya motivasi kerja pegawai sektor publik di Indonesia telah menjadi isu nasional. Bahkan dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dibentuk Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang

(2)

salah satu tugasnya adalah membenahi aparatur birokrasi pemerintah. Salah satu upaya penting dalam memperbaiki birokrasi pemerintah adalah meningkatkan motivasi kerja pegawai negeri sipil sebagai salah satu elemen terpenting dari organisasi sektor publik.

Meskipun motivasi kerja pegawai sektor publik telah menjadi isu yang penting, tetapi penelitian tentang topik ini kurang mendapatkan perhatian dibandingkan dengan penelitian tentang topik yang sama di sektor swasta. Perry dan Porter (1982) telah menyatakan bahwa penelitian tentang motivasi terlalu terkonsentrasi pada pegawai dalam organisasi industri dan bisnis. Di antara sedikit penelitian tentang motivasi pegawai sektor publik di dunia barat, secara umum menemukan bahwa pegawai di sektor tersebut kurang termotivasi oleh faktor-faktor ekstrinsik, seperti insentif atau bonus uang, dibandingkan dengan pegawai di sektor swasta. Terdapat konsensus yang diterima secara luas bahwa pegawai sektor publik lebih termotivasi oleh faktor-faktor intrinsik. Pegawai sektor publik lebih termotivasi oleh faktor-faktor seperti job content, pengembangan diri, pengakuan, otonomi, pekerjaan yang menarik, dan peluang untuk mempelajari hal-hal baru. Temuan-temuan di atas didasarkan pada penelitian yang dilakukan di dunia barat. Namun apakah kondisi di atas sesuai dengan lingkungan Indonesia yang masih dalam tahap perkembangan dan apakah motivasi intrinsik menjadi motivator untuk bekerja atau ditempatkan pada unit kerja yang berfungsi sebagai pelaksana teknis pelayanan masyarakat, menarik untuk diteliti.

Sektor publik pada hakekatnya merupakan sebuah organisasi yang besar dan kompleks dengan banyak unit-unit kerja dan fungsi di dalamnya. Meskipun

(3)

unit-unit kerja dalam sektor publik beragam, tetapi secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe unit kerja berdasarkan sifat pertanggungjawaban, yaitu unit kerja yang berfungsi sebagai penghasil pendapatan (revenue centre unit) dan unit kerja yang berfungi sebagai pengendali biaya (cost centre unit). Pemerintah Provinsi Bali sebagai salah satu organisasi sektor publik terdiri dari 43 unit-unit kerja atau satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang juga dapat dikelompokkan ke dalam kedua tipe unit kerja di atas. Secara umum kebijakan kepegawaian (seperti penggajian) di semua unit kerja yang berada di bawah Pemerintah Provinsi Bali, bahkan secara nasional adalah sama.

Meskipun secara umum sistem penggajian pegawai sama, namun terdapat perbedaan dalam kebijakan pemberian insentif kerja bagi pegawai yang berada di unit kerja yang berfungsi sebagai penghasil pendapatan, seperti Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Bali. Pemerintah Provinsi Bali melalui Peraturan Gubernur No. 45 tahun 2010, tentang Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, yang mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006, tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (sumber : Biro Hukum Pemerintah Provinsi Bali), telah mengatur secara formal mengenai pemberian insentif secara organisasional. Namun Pergub ini hanya diterapkan pada pegawai- pegawai yang ditempatkan di Dinas Pendapatan Daerah, tidak menyeluruh ke semua pegawai yang bekerja di Pemerintah Provinsi Bali. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa pegawai-pegawai di unit

(4)

kerja penghasil pendapatan yang secara langsung melakukan fungsi pemungutan pajak dan retribusi daerah.

Pada dasarnya motivasi kerja individu dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Dari penelitian pendahuluan yang telah dilakukan, dengan menyebarkan kuesioner, terlihat bahwa masing-masing pegawai memiliki minat untuk bekerja di unit kerja tertentu. Hal ini diduga akibat adanya pemberian kebijakan insentif yang berbeda pada pegawai di unit kerja penghasil pendapatan, khususnya di Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Bali. Untuk mendapatkan data, telah disebarkan kuesioner terhadap 35 orang pegawai negeri sipil yang bekerja di sejumlah SKPD Pemerintah Provinsi Bali guna mengetahui di unit kerja mana seorang pegawai tersebut ingin ditempatkan. Informasi awal yang telah dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 35 pegawai dari 20 SKPD yang terdapat pada Pemerintah Provinsi Bali, disajikan pada Tabel 1.1.

Data pada Tabel 1.1 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan sebagian besar pegawai memiliki keinginan yang lebih besar untuk ditempatkan di Dinas Pendapatan Daerah yang berfungsi sebagai unit kerja penghasil pendapatan. Alasan pegawai untuk lebih memilih ditempatkan di Dispenda karena adanya pemberian insentif selain gaji pokok. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.1, persentase pegawai yang ingin ditempatkan di Dinas Pendapatan Daerah mencapai 45,71 persen dari total responden. Persentase ini cukup menonjol, mengingat di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali terdapat 43 SKPD.

(5)

Tabel 1.1

Hasil Kuesioner Pendahuluan

No Unit Kerja Yang Dipilih Jumlah Responden

(orang) Persentase (%) 1. Dinas Pendapatan 16 45,71 2. Kantor Perizinan 1 2,86 3. Dinas Kesehatan 1 2,86 4. Biro Keuangan 2 5,71 5. Dinas Sosial 2 5,71

6. Biro Humas dan Protokol 1 2,86

7. Dinas Pekerjaan Umum 3 8,57

8. Dinas Kebudayaan 1 2,86

9. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

2 5,71

10. Badan Kepegawaian Daerah 1 2,86

11. Dinas Perhubungan 1 2,86

12. Biro Umum 1 2,86

13. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga

1 2,86

14. Dinas Perindustrian dan Perdagangan

1 2,86

15. Inspektorat Wilayah Prov. Bali 1 2,86

Total 35 100,00

Sumber : Data primer yang diolah

Adanya kesenjangan minat untuk ditempatkan di unit kerja Dinas Pendapatan dibandingkan dengan di unit-unit kerja lain menarik untuk diteliti. Salah satu faktor yang membedakan antara Dinas Pendapatan Daerah dengan unit-unit kerja lain di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali adalah adanya pemberian insentif bagi pegawai Dispenda yang tidak diberikan bagi pegawai yang bekerja di unit kerja lain. Perbedaan penghasilan ini diduga memiliki korelasi dengan minat pegawai untuk ditempatkan pada unit kerja Dispenda.

(6)

Motivasi kerja yang dimiliki oleh masing-masing pegawai berbeda-beda dan hal ini memiliki dampak terhadap sikap pegawai tersebut. Jika seorang pegawai memiliki motivasi ekstrinsik yang lebih besar dibandingkan motivasi intrinsiknya, maka dapat diduga bahwa sikap pegawai tersebut akan lebih positif terhadap unit kerja yang dapat memberikan faktor-faktor motivasi ekstrinsik, seperti upah dan insentif yang lebih baik.

Sikap adalah pernyataan evaluatif – baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan yang dimiliki oleh pegawai terhadap suatu unit kerja (Robbins and Judge, 2009). Sikap seorang pegawai mencerminkan bagaimana pegawai tersebut merasakan sesuatu. Dalam suatu organisasi, sikap pegawai merupakan hal penting karena sikap tersebut diduga berhubungan dengan minat pegawai untuk dipekerjakan pada unit kerja tertentu. Untuk mencapai produktivitas pegawai yang maksimal, maka perlu diketahui minat kerja pegawai tersebut. Para pegawai memiliki sikap-sikap atau cara pandang tentang beberapa aspek dalam pekerjaan. Menurut theory of reasoned action (TRA) (Ajzen and Fishbein, 1980), minat perilaku seseorang tergantung pada sikap orang tersebut terhadap perilaku dan norma-norma subjektif. Jika seseorang berniat untuk melakukan sebuah perilaku maka kemungkinan ia akan melakukan perilaku itu. Keputusan-keputusan atas perilaku seorang pegawai tidak dilakukan secara spontan, tapi merupakan hasil dari proses-proses yang berdasar, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh sikap-sikap pegawai. Seorang pegawai yang memiliki motivasi ekstrinsik yang lebih besar diduga memiliki sikap positif terhadap unit kerja yang mampu memenuhi faktor-faktor ekstrinsik tersebut dan akan

(7)

berdampak pula pada minat pegawai tersebut untuk dipekerjakan di unit kerja tertentu.

Penelitian ini dilakukan pada empat puluh dua SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. Data jumlah pegawai yang ditempatkan di empat puluh dua SKPD tersebut dijabarkan pada Tabel 1.2.

Mengingat masih minimnya penelitian tentang motivasi pegawai sektor publik di Indonesia, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang bagaimana hubungan motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap sikap pegawai. Dan apakah sikap pegawai terhadap unit kerja yang memiliki karakteristik pusat pendapatan memediasi hubungan antara motivasi kerja dengan minat dipekerjakan pada Dinas Pendapatan.

(8)

Tabel 1.2

Data jumlah pegawai di 42 SKPD Pemerintah Provinsi Bali

No SKPD Pejabat Eselon IV (orang) Staf (orang) Jumlah (orang)

1. Dinas Pekerjaan Umum 26 454 480

2. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga 24 407 431

3. Dinas kesehatan 17 362 379

4. Rumah Sakit Jiwa 10 342 352

5 Dinas Pertanian Tanaman Pangan 18 227 245

6 Dinas Kehutanan 22 220 242

7 Dinas Kebudayaan 20 218 238

8 Dinas Perkebunan 18 183 201

9 Disnakertransduk 25 168 193

10 Rumah Sakit Indera 9 176 185

11 Satuan Polisi Pamong Praja 8 160 168

12 Dinas Perindustrian dan Perdagangan 15 148 163

13 Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi 16 142 158

14 Dinas Sosial 12 144 156

15 Biro Umum dan Humas 11 143 154

16 Dinas Peternakan 20 118 138

17 Sekretariat DPRD 11 119 130

18 Dinas Kelautan dan Perikanan 18 111 129

19 Biro Keuangan 12 110 122

20 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah 14 105 119

21 Badan Perpustakaan dan Arsip 10 109 119

22 Dinas Pariwisata 12 95 107

23 Badan Kepegawaian Daerah 11 87 98

24 Bakesbanglinmaspol 13 80 93

25 Biro Pengelolaan Aset 10 73 83

26 Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah 16 57 73

27 Badan Pendidikan dan Pelatihan 9 62 71

28 Badan Pemberdayaan Masyarakat 9 59 68

29 BiroProtokol 11 57 68

30 Biro Kesejahteraan Rakyat 13 55 68

31 Inpektorat 13 52 65

32 Badan Lingkungan Hidup 10 50 60

33 Biro Perekonomian dan Pembangunan 14 35 49

34 Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak 11 37 48

35 Badan Penanaman Modal 8 39 47

36 Biro Hukum dan HAM 11 34 45

37 Biro Pemerintahan 12 33 45

38 Biro Organisasi 11 30 41

39 Pelaksana Harian Badan Narkotika Provinsi 12 26 38

40 Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu 4 23 27

41 Kantor Perwakilan Pemerintah 4 21 25

42 Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah 3 16 19

TOTAL 553 5.187 5.740

(9)

1.2. Rumusan Masalah

1) Apakah motivasi intrinsik berkorelasi dengan sikap pegawai terhadap unit kerja Dispenda?

2) Apakah motivasi ekstrinsik berkorelasi dengan sikap pegawai terhadap unit kerja Dispenda?

3) Apakah motivasi intrinsik berkorelasi dengan minat pegawai untuk ditempatkan pada unit kerja Dispenda ?

4) Apakah motivasi ekstrinsik berkorelasi dengan minat pegawai untuk ditempatkan pada unit kerja Dispenda ?

5) Apakah sikap pegawai terhadap unit kerja berkorelasi dengan minat pegawai untuk ditempatkan di unit kerja Dispenda?

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1) Menguji korelasi antara motivasi intrinsik dengan sikap pegawai terhadap unit kerja Dispenda Provinsi Bali.

2) Menguji korelasi antara motivasi ekstrinsik dengan sikap pegawai terhadap unit kerja Dispenda Provinsi Bali.

3) Menguji korelasi antara motivasi intrinsik dengan minat pegawai untuk ditempatkan pada unit kerja Dispenda Provinsi Bali.

4) Menguji korelasi antara motivasi ekstrinsik dengan minat pegawai untuk ditempatkan pada unit kerja Dispenda Provinsi Bali.

(10)

5) Menguji korelasi sikap pegawai dengan minat pegawai untuk ditempatkan di unit kerja Dispenda Provinsi Bali.

1.4. Manfaat Penelitian

1) Kegunaan Teoritis :

(1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bukti empiris hubungan motivasi kerja ekstrinsik dan motivasi kerja intrinsik dengan sikap pegawai, serta hubungan sikap pegawai dengan minat pegawai untuk dipekerjakan pada unit kerja pusat pendapatan.

(2) Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi manajemen dalam merumuskan kebijakan peningkatan efektivitas pengembangan individu dengan insentif, yang dapat meningkatkan motivasi kerja pegawai.

Referensi

Dokumen terkait

Menyusul AGBNielsen yang beroperasi di negara-negara lain yang sudah mengoperasikan rating harian, AGBNielsen Indonesia ber- encana untuk melaporkan rating harian di 10

Nilai efesiensi tertinggi Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) yang menggunakan ekstrak metanol kulit buah alpukat sebagai dye sensitizer dan TiO 2 yang terstabilkan

1) 1) Penerapan variabel Disiplin secara keseluruhan berada pada kategori baik. Dapat dikatakan bahwa karyawan mampu menerapkan suatu sikap dalam menghormati serta

mencapai nilai error yang paling kecil. Oleh karenanya backpropagation sesuai untuk mengklasifikasi pola yang kompleks [8]. Klasifikasi batik dengan backpropagation

Menurut kamus istilah hukum Fockema Andrea, yang dimaksud dengan Bank ialah suatu lembaga atau orang pribadi yang menjalankan perusahaan dalam menerima dan memberikan uang dari

dapat mengkonsumsi ice cream yang terbuat dari susu sapi dikarenakan adanya laktosa pada susu sapi tersebut Pemanf:1atan sari kacang hijau sebagai bahan baku ice

(2) Dalam hal keputusan hasil sidang Majelis Kode Etik menemukan indikasi adanya pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Perundang-undangan yang mengatur

Tahap pertama seluruh citra percobaan diuji menggunakan dua buah metode perbaikan kualitas citra yaitu ekualisasi histogram ( global histogram equalization , HE)