KONSEP STRUKTUR SEL DAN KEANEKARAGAMAN MAKHLUK HIDUP
Disusun oleh:
Kelompok 3
Sri Susanti : 2024727225 Zubaidah Christiana : 20247270030 Indrawati : 20247270040 Nanda David Prasetyo : 20247270028
KELAS 1A
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI (UNINDRA)
JAKARTA 2024
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai “Konsep struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup”.
Kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Tak lupa ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dosen atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada kami. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami berharap kepada pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang membangun untuk penyempurnaan makalah kedepannya.
Jakarta, 28 September 2024
Penulis
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 2
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Sejarah Sel ... 3
B. Ukuran Sel ... 3
C. Bentuk Sel ... 4
D. Stuktur Sel ... 4
E. Struktur Sel Tumbuhan ... 7
F. Fungsi Sel ... 10
G. Konsep Keanekaragaman Makhluk Hidup ... 10
H. Hubungan antara Konsep Struktur Sel dan Keanekaragaman Makhluk . 13 I. Studi Kasus Terkait Konsep Struktur Sel dan Keanekaragaman Makhluk ... 16
BAB III PENUTUP ... 21
Kesimpulan ... 21
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makhluk hidup umumnya tersusun oleh sel tunggal atau organisme uniseluler misalnya bakteri dan amoeba. Sementara itu, makhluk hidup lainnya termasuk tumbuhan, hewan dan manusia merupakan organisme multiseluler yang terdiri dari banyak tipe sel dengan fungsinya masing-masing. Dari penemuan tentang sel dan segala aktivitasnya, Lahirlah teori sel, bahwa sel merupakan kesatuan struktural, kesatuan fungsional, kesatuan pertumbuhan, kesatuan hereditas, dan kesatuan reproduksi makhluk hidup. Secara struktural sel merupakan penyusun makhluk hidup, bagian dari sel meliputi membran plasma, nukleus, dan sitoplasma. (Karp, 2007).
Sel merupakan unit terkecil dari makhluk hidup. Di dalam sel terdapat protoplasma yang tersusun atas karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat.
Sel terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Meski keduanya termasuk dalam golongan sel makhluk hidup, prokariotik dan eukariotik memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan prokariotik dengan eukariotik secara umum adalah sel eukariotik lebih kompleks dan lebih besar dibanding sel prokariotik. Sementara untuk perbedaan lainnya adalah materi inti sel prokariotik tidak memiliki membrane, sedangkan sel eukariotik mempunyai membran. Perbedaan kedua sel itu juga dapat dilihat berdasarkan letak DNAnya. Sel prokariotik memiliki DNA yang berada di daerah nukleoid. Sedangkan sel eukariotik DNAnya terletak di dalam nukleolus. (Curtis, 1989).
Pada sel tumbuhan, terdapat dinding sel, vakuola yang berukuran besar, dan plastida yang membedakan dengan sel hewan, sedangkan pada sel hewan tidak memiliki dinding sel sehingga bentuk sel hewan tidak tetap seperti sel tumbuhan. Pada sel hewan terdapat dua sentriol berbentuk silindris atau bulat panjang (Yanti, 2011).
2
Keanekaragaman Makhluk Hidup adalah keseluruhan variasi berupa bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat yang dapat ditemukan pada makhluk hidup. Keanekaragaman makhluk hidup disebut juga dengan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Istilah keanekaragaman hayati atau “biodiversitas”
menunjukkan sejumlah variasi yang ada pada makhluk hidup di suatu lingkungan tertentu. Dengan kata lain, biodiversitas dapat diartikan sebagai persamaan dan perbedaan ciri makhluk hidup pada waktu dan tempat tertentu.
Keanekaragaman makhluk hidup dapat terjadi karena adanya proses evolusi yang sangat lama.
Hubungan antara konsep struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup terletak pada peran sel sebagai unit dasar kehidupan yang membentuk berbagai organisme dengan fungsi dan karakteristik yang beragam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sel?
2. Apa perbedaan sel prokariotik dan sel eukariotik?
3. Bagaimana konsep keanekaragaman makhluk hidup?
4. Bagaimana hubungan struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang sel
2. Untuk mengetahui perbedaan sel prokariotik dan sel eukariotik.
3. Untuk mengeahui konsep keanekaragaman makhluk hidup.
4. Untuk mengetahui hubungan struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup
3 BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Sel
Setiap makhluk hidup mulai dari bakteri terkecil hingga paus terbesar terbuat dari satu atau banyak sel. Sebelum abad ke-17, tidak ada yang tahu bahwa sel itu ada, karena terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.
Penemuan mikroskop memungkinkan Robert Hooke, (1665) dan Anton van Leuwenhoek (1675) untuk melihat dan menggambar 'sel' pertama, sebuah kata yang diciptakan oleh Hooke untuk menggambarkan sel dalam irisan tipis gabu.
Gagasan bahwa semua makhluk hidup terbuat dari sel diajukan sekitar tahun 1840 dan pada tahun 1855 muncul 'Teori Sel' yaitu sel hanya berasal dari sel lain. Hal ini bertentangan dengan teori sebelumnya “Spontaneous Generation”.
B. Ukuran Sel
Beberapa jenis sel cukup besar untuk dilihat dengan mata telanjang. Sel telur manusia (ovum) adalah sel terbesar dalam tubuh, dan dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop. Sebagian besar sel berukuran kecil karena dua alasan utama yakni Inti sel hanya dapat mengontrol volume tertentu dari sitoplasma aktif dan ukuran sel dibatasi oleh rasio luas permukaan terhadap volume.
Laju difusi:
Gambar 1. Ukuran-ukuran sel
4 C. Bentuk Sel
Sel memiliki berbagai bentuk yang bervariasi, tergantung pada fungsinya. Neuron dari jari kaki ke kepala berbentuk panjang dan tipis. Sel darah berbentuk cakram bulat, sehingga dapat mengalir dengan lancar.
Gambar 2. Bentuk sel
D. Stuktur Sel
Berdasarkan perbedaan struktur membran inti, sel dikelompokkan menjadi dua, yaitu sel prokariotik dan eukariotik. Sel prokariotik merupakan sel yang tidak memiliki membran inti sedangkan sel yang memiliki membran inti disebut sel eukariotik.
Gambar 3. Sel Prokariotik dan Eukariotik
5 1. Sel Prokariotik
a. Sel prokariotik lebih sederhana dan kecil dibandingkan dengan sel eukariotik.
b. Ciri utama : tidak memiliki nukleus sejati (nukleus tidak dibatasi oleh membran).
c. DNA berada di area yang disebut nukleoid.
d. Prokariotik juga tidak memiliki organel yang dibatasi membran seperti mitokondria atau retikulum endoplasma.
e. Memiliki membran plasma yang mengelilingi sitoplasma, dan terkadang memiliki dinding sel di luar membran plasma.
f. Ditemukan pada bakteri dan arkea.
Struktur Utama Sel Prokariotik :
a. Membran plasma: Mengelilingi sel, mengatur keluar masuknya zat.
b. Dinding sel: Melindungi sel dan memberikan bentuk tetap, ditemukan pada bakteri.
c. Ribosom: Tempat sintesis protein.
d. Flagela (jika ada): Organ gerak untuk berpindah tempat.
2. Sel Eukariotik
a. Sel eukariotik lebih kompleks dan lebih besar dari sel prokariotik.
b. Memiliki nukleus sejati yang dikelilingi oleh membran nukleus.
c. Terdiri dari berbagai organel yang terikat membran, yang masing-masing memiliki fungsi khusus.
Struktur Utama Sel Eukariotik :
a. Membran Sel (Membran Plasma) : Lapisan fosfolipid yang berfungsi sebagai penghalang selektif antara bagian dalam sel dan lingkungannya.
Mengatur transportasi zat (ion, molekul, air) masuk dan keluar dari sel.
b. Sitoplasma : Cairan seperti gel di dalam sel yang mengandung organel.
Menjadi tempat berlangsungnya banyak reaksi biokimia.
6
c. Nukleus : Struktur terbesar dalam sel eukariotik. Berfungsi sebagai pusat kontrol sel, mengandung DNA yang tersusun dalam kromosom.
Dilindungi oleh membran nukleus yang memiliki pori-pori untuk pertukaran molekul dengan sitoplasma.
d. Ribosom : Tempat terjadinya sintesis protein. Terdiri dari dua subunit, bisa ditemukan bebas di sitoplasma atau menempel di retikulum endoplasma kasar.
e. Retikulum Endoplasma (RE) : Ada dua jenis: RE Kasar (mengandung ribosom) dan RE Halus (tidak mengandung ribosom). RE Kasar berfungsi dalam sintesis dan pengolahan protein, sedangkan RE Halus berfungsi dalam sintesis lipid dan detoksifikasi.
f. Aparatus Golgi : Bertanggung jawab dalam modifikasi, pengepakan, dan distribusi protein serta lipid yang dihasilkan oleh RE. Menghasilkan vesikel yang digunakan untuk mengangkut molekul di dalam sel atau untuk eksositosis.
g. Mitokondria : Dikenal sebagai "pembangkit tenaga sel" karena merupakan tempat berlangsungnya respirasi seluler untuk menghasilkan energi dalam bentuk ATP. Memiliki dua membran, yaitu membran luar yang halus dan membran dalam yang berlipat-lipat (cristae).
h. Lisosom : Mengandung enzim pencerna yang berfungsi untuk mencerna molekul besar, partikel asing, atau organel yang rusak.
i. Peroksisom : Organel kecil yang mengandung enzim untuk memecah asam lemak dan menetralkan racun seperti hidrogen peroksida.
j. Kloroplas (khusus pada tumbuhan dan alga) : Mengandung pigmen klorofil dan merupakan tempat berlangsungnya fotosintesis. Memiliki dua membran, dan bagian dalamnya terdapat tumpukan membran yang disebut tilakoid.
k. Dinding Sel (khusus pada sel tumbuhan, jamur, dan beberapa protista):
Terbuat dari selulosa (pada tumbuhan) atau kitin (pada jamur). Berfungsi untuk memberikan bentuk dan melindungi sel dari tekanan mekanis.
7
l. Vakuola (besar pada sel tumbuhan): Kantung besar berisi cairan yang membantu menjaga tekanan turgor pada sel tumbuhan. Berperan dalam penyimpanan zat seperti air, garam, gula, dan pigmen.
Tabel 1. Perbedaan sel Prokariotik dan sel Eukariotik
Karakteristik Prokariotik Eukariotik
Organisme khas Bakteri Protoctista, jamur,
tumbuhan, hewan
Bentuk khas ~ 1-10 µm ~10-100 µm (sel sperma)
selain dari ekor, adalah lebih kecil)
Jenis Nukleus Badan Inti Tidak ada
nukleus nukleus nyata dengan
selubung nukleus
DNA sirkular (ccc DNA) Molekul linier
(kromosom) dengan histon protein
Ribosom 70S 80S
Struktur Sitoplasmatik Sangat sedikit struktur sangat terstruktur oleh membran dan
sitoskeleton Pergerakan sel Flagela/silia terbuat dari
flagelin
flagela dan silia yang terbuat dari tubulin
Mitokondria Tidak ada 1 - 100 (walaupun sel
darah merah tidak memilikinya)
Kloroplas Tidak ada pada alga dan tumbuhan
Organisasi biasanya sel tunggal sel tunggal, koloni, multiseluler lebih tinggi organisme dengan sel khusus
Pembelahan sel Pembelahan biner (pembagian sederhana)
Mitosis (replikasi sel normal) Meiosis (produksi gamet) E. Struktur Sel Tumbuhan
Pada dasarnya, sel tumbuhan dan hewan adalah sama struktur penyusun selnya. Akan tetapi beberapa organel sel yang terdapat pada tumbuhan tidak ditemukan pada sel hewan, begitu pula sebaliknya.
1. Persamaan sel hewan dan sel tumbuhan
Sel hewan dan sel tumbuhan sama-sama memiliki bagian-bagian berikut ini:
8
a. Membran Plasma: Membran plasma (selaput sel) terletak di lapisan terluar sel, berfungsi sebagai pelindung molekuler sel terhadap lingkungan luar.
b. Sitoplasma: Sitoplasma adalah matriks cair yang memenuhi ruang dalam sel. Struktur penyusun sitoplasma antara lain air, protein, lemak, mineral, dan enzim-enzim.
c. Organel sel
1) Inti sel (Nukleus): Nuklues adalah organel terbesar sebuah sel, paling jelas terlihat ketika diamati dengan mikroskop. Fungsi utama inti sel adalah mengatur keseluruhan aktivitas sel. Ia juga merupakan tempat sintesis DNA.
2) Retikulum Endoplasma (RE): Retikulum endoplasma mempunyai struktur menyerupai kantung pipih. Ada dua jenis retikulum endoplasma, yaitu retikulum endoplasma kasar (Rough endoplasmic reticulum) dan retikulum endoplasma halus (Smooth endoplasmic reticulum). Fungsi retikulum endoplasma antara lain: menampung protein yang disintesis oleh ribosom, menyintesis lemak dan kolesterol, juga dalam pembentukan dinding sel.
3) Ribosom: Tidak ada perbedaan antara sel hewan dan tumbuhan dalam kehadiran ribosom. Keduanya memiliki ribosom, yaitu organel sel terkecil berbentuk bulat, tersebar di dalam sel. Ada ribosom yang melekat pada RE dan ada pula yang bebas (soliter). Fungsi ribosom adalah melangsungkan sintesis protein.
4) Mitokondria: Mitokondria berfungsi sebagai pusat respirasi seluler yang menghasilkan ATP (yaitu Adenosin Triphospate, berguna sebagai energi bagi tubuh).
5) Lisosom: Lisosom adalah organel seperti vakuola, menyekresikan enzim-enzim pencerna bahan makanan. Di samping itu, lisosom juga menghasilkan enzim-enzim yang berguna dalam mematikan sel.
Enzim lisozim adalah enzim yang dihasilkan oleh lisosom, yang dapat menghancurkan sel bakteri.
9
6) Badan Golgi (Aparatus Golgi/Diktiosom): Organel ini banyak dijumpai pada organ ekskresi, misalnya ginjal. badan Golgi berperan dalam sintesis polisakarida, juga memproses dan mengemas protein.
7) Peroksisom: Organel ini dapat ditemui hampir di seluruh sel eukariotik. Peroksisom berperan dalam metabolisme asam lemak dan metabolit lainnya.
2. Perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan
Hewan dan tumbuhan memiliki beberapa organel berbeda. Organel- organel berikut hanya ada pada tumbuhan, tidak dimiliki hewan.
a. Dinding Sel berfungsi sebagai pelindung, pemberi bentuk tetap, dan sebagai jalan keluar masuknya molekul-molekul. Struktur dinding sel tersusun atas polisakarida, lemak, dan protein.
b. Vakuola biasanya terdapat pada sel-sel parenkim dan kolenkim.
Fungsinya antara lain menyimpan minyak asiri, contohnya minyak kayu putih, papermint, dan aroma harum bunga.
c. Plastida adalah organel yang mengandung pigmen. Bentuk, ukuran, dan warna plastida bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. Tiga tipe utama plastida antara lain kloroplas, leukoplas, dan kromoplas.
d. Glioksisom terdapat pada biji dan menghasilkan enzim pengurai lemak menjadi karbohidrat.
Tabel 2. Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan
Karakteristik Sel Tumbuhan Sel Hewan
Ukuran Lebih besar Lebih kecil
Bentuk Tetap Tidak tetap
Dinding Sel Ada Tidak ada
Plastida Ada Tidak ada
Vakuola Ada dan besar Tidak ada, pada hewan
uniseluler vakuola lebih kecil
Sentriol Tidak ada Ada
Nukleus Lebih kecil dari vakuola Lebih besar dari vesikel Bentuk energi tersimpan Butiran (granul) pati Butiran (granul) glikogen
10
Gambar 4. Sel hewan dan sel tumbuhan
F. Fungsi Sel
1. Pertumbuhan: Sel membelah diri untuk menghasilkan sel baru sehingga organisme dapat tumbuh.
2. Perkembangan: Sel mengalami diferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang memiliki fungsi khusus.
3. Reproduksi: Sel terlibat dalam pembentukan gamet (sel kelamin) untuk menghasilkan individu baru.
4. Metabolisme: Sel melakukan berbagai reaksi kimia untuk memperoleh energi dan membentuk senyawa organik.
G. Konsep Keanekaragaman Makhluk Hidup
Keanekaragaman makhluk hidup, atau biodiversitas, adalah variasi di antara semua bentuk kehidupan di bumi, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan ekosistem tempat mereka hidup. Keanekaragaman ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan kelangsungan hidup semua spesies, termasuk manusia. Keanekaragaman makhluk hidup dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu:
1. Keanekaragaman Genetik
Keanekaragaman genetik merujuk pada variasi dalam gen yang dimiliki oleh individu-individu dalam spesies yang sama. Variasi genetik ini memungkinkan spesies untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan, seperti perubahan iklim, penyakit, atau ketersediaan sumber daya. Contoh:
11
Variasi warna bulu pada harimau (ada yang berwarna oranye dan putih), variasi rasa buah pada pohon mangga, atau variasi ketahanan terhadap penyakit pada suatu jenis jagung.
2. Keanekaragaman Spesies
Keanekaragaman spesies merujuk pada banyaknya spesies berbeda yang ada di suatu wilayah atau di seluruh dunia. Setiap spesies memiliki peran khusus dalam ekosistem, baik sebagai produsen, konsumen, atau dekomposer, dan saling bergantung satu sama lain untuk kelangsungan hidupnya. Contoh: Di hutan hujan tropis, terdapat ribuan spesies tumbuhan, hewan, dan serangga yang hidup bersama. Ada spesies kucing besar seperti harimau, berbagai jenis burung, serangga, dan tumbuhan langka.
3. Keanekaragaman Ekosistem
Keanekaragaman ekosistem merujuk pada variasi lingkungan hidup yang ada di bumi, masing-masing dengan karakteristik fisik dan biologisnya yang unik. Setiap ekosistem memiliki komunitas makhluk hidup yang berbeda dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan tertentu. Contoh: Hutan hujan tropis, terumbu karang, padang rumput, gurun, dan ekosistem laut dalam semuanya adalah contoh ekosistem yang memiliki spesies dan kondisi lingkungan yang berbeda.
Pentingnya keanekaragaman hayati bagi kelangsungan dan kelestarian makhluk hidup. Keanekaragaman dapat terjadi akibat proses evolusi dan adaptasi. Keanekaragaman hayati di bumi memiliki manfaat yang vital bagi berlanjutnya hidup seluruh makhluk. Keragaman hewan dan tumbuhan serta organisme di bumi memenuhi segala macam kebutuhan yang diperlukan oleh kita sebagai manusia. Kebutuhan yang dipenuhi oleh ketiganya tak hanya mencakup kebutuhan primer, tetapi juga kebutuhan sekunder.
12
Keanekaragaman hayati terjadi dengan tingkatan mulai dari organisme yang rendah hingga tingkat organisme yang tinggi. Tingkatan tersebut diantaranya sebagai berikut:
1. Menjaga Keseimbangan Ekosistem : Setiap spesies memainkan peran penting dalam ekosistemnya. Jika salah satu spesies punah, ini dapat mengganggu keseimbangan dan memengaruhi makhluk hidup lainnya dalam ekosistem tersebut.
2. Sumber Daya Alam : Keanekaragaman hayati menyediakan sumber daya penting bagi manusia, termasuk makanan, obat-obatan, bahan baku industri, dan bahan bangunan.
3. Adaptasi Terhadap Perubahan : Variasi genetik memungkinkan spesies untuk bertahan dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah, seperti perubahan iklim atau wabah penyakit.
4. Jasa Ekosistem: Ekosistem yang beragam memberikan berbagai jasa, seperti penyerbukan tanaman, penguraian bahan organik, penyaringan air, dan pengaturan iklim.
Keanekaragaman makhluk hidup menghadapi banyak ancaman, terutama akibat aktivitas manusia. Beberapa ancaman utama meliputi :
1. Penggundulan Hutan : Kehilangan habitat alami akibat konversi lahan untuk pertanian, pemukiman, atau industri mengakibatkan hilangnya spesies.
2. Perubahan Iklim : Pemanasan global mengubah pola cuaca dan suhu, yang mempengaruhi habitat dan migrasi spesies.
3. Polusi : Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga merusak kualitas air, udara, dan tanah, serta membahayakan makhluk hidup.
4. Eksploitasi Berlebihan : Penangkapan ikan secara berlebihan, perburuan liar, dan penebangan pohon yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kepunahan spesies.
5. Spesies Invasif : Spesies asing yang diperkenalkan ke ekosistem baru dapat mengancam spesies lokal dengan bersaing untuk sumber daya atau membawa penyakit baru.
13
Seluruh makhluk hidup di bumi sudah seharusnya dijaga dengan segala upaya agar kelestariannya terjaga. Upaya pelestarian sebenarnya dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
1. Konservasi In-Situ : Melindungi spesies di habitat alaminya melalui pendirian kawasan lindung seperti taman nasional dan cagar alam.
2. Konservasi Eks-Situ : Melindungi spesies di luar habitat aslinya, seperti di kebun binatang, kebun raya, atau bank gen.
3. Restorasi Ekosistem : Memulihkan ekosistem yang rusak dengan penanaman kembali pohon, perbaikan tanah, dan pengelolaan lingkungan.
4. Peraturan dan Kebijakan : Pengaturan perburuan, penangkapan ikan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.
5. Edukasi dan Kesadaran: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan bagaimana cara melindunginya.
H. Hubungan antara Konsep Struktur Sel dan Keanekaragaman Makhluk Hidup
Hubungan antara konsep struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup terletak pada peran sel sebagai unit dasar kehidupan yang membentuk berbagai organisme dengan fungsi dan karakteristik yang beragam. Perbedaan struktur sel pada berbagai jenis organisme memberikan dasar bagi munculnya keanekaragaman makhluk hidup di Bumi. Berikut adalah penjelasan hubungan keduanya:
1. Struktur sel sebagai dasar kehidupan
Sel merupakan unit terkecil dari kehidupan, dan setiap makhluk hidup, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks, terdiri dari sel. Perbedaan dalam struktur dan organisasi sel menjadi faktor utama yang mendasari keanekaragaman makhluk hidup.
a. Organisme prokariotik (bakteri dan archaea) memiliki struktur sel yang sederhana tanpa inti sel yang terbungkus membran.
b. Organisme eukariotik (tumbuhan, hewan, jamur, dan protista) memiliki struktur sel yang lebih kompleks dengan inti yang jelas dan organel-
14
organel khusus seperti mitokondria dan kloroplas. Variasi ini menyebabkan perbedaan besar dalam fungsi dan perilaku organisme, memungkinkan munculnya makhluk hidup yang lebih kompleks dan bervariasi.
2. Perbedaan struktur sel memungkinkan keanekaragaman fungsi
Sel-sel dengan struktur yang berbeda menghasilkan makhluk hidup dengan fungsi yang berbeda pula. Variasi dalam bentuk, ukuran, dan komponen seluler seperti dinding sel, membran sel, dan organel menyebabkan kemampuan adaptasi yang berbeda di antara organisme.
a. Tumbuhan: Sel tumbuhan memiliki dinding sel dan kloroplas yang memungkinkan mereka melakukan fotosintesis dan membentuk basis rantai makanan sebagai produsen utama dalam ekosistem.
b. Hewan: Sel hewan tidak memiliki dinding sel dan kloroplas, tetapi memiliki struktur yang memungkinkan mobilitas dan kemampuan untuk memperoleh energi dari organisme lain sebagai konsumen.
c. Jamur: Sel jamur memiliki dinding sel yang berbeda dari tumbuhan dan hewan, yang membuat mereka bertindak sebagai dekomposer, memecah bahan organik di ekosistem.
3. Diferensiasi sel dalam organisme multiseluler
Pada organisme multiseluler, seperti tumbuhan dan hewan, sel-sel mengalami diferensiasi menjadi berbagai jenis sel yang memiliki struktur dan fungsi khusus. Diferensiasi sel ini memungkinkan makhluk hidup berkembang dengan kemampuan yang lebih kompleks, mendukung beragam spesies dan peran dalam ekosistem.
a. Sel saraf: Beradaptasi untuk menghantarkan sinyal listrik, berperan dalam pengaturan sistem saraf dan kontrol fungsi tubuh.
b. Sel otot: Memiliki struktur yang memungkinkan kontraksi dan gerakan.
c. Sel darah: Berfungsi mengangkut oksigen dan nutrisi dalam tubuh, serta melawan infeksi.
15
4. Evolusi dan adaptasi melalui perubahan struktur sel
Perubahan dalam struktur dan fungsi sel, yang terjadi melalui mutasi genetik dan seleksi alam, memungkinkan spesies beradaptasi dengan lingkungan mereka. Proses evolusi inilah yang mendorong munculnya spesies baru dan memperkaya keanekaragaman makhluk hidup.
a. Adaptasi morfologis dan fisiologis: Contoh nyata adalah bagaimana struktur sel pada organisme di lingkungan yang berbeda (misalnya, hewan laut vs. hewan darat) menunjukkan variasi yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
b. Rekayasa struktur sel dalam tumbuhan: Tumbuhan di daerah gurun memiliki sel dengan modifikasi yang memungkinkan mereka menyimpan air dan bertahan hidup di lingkungan yang kering.
5. Struktur sel mempengaruhi keanekaragaman ekosistem
Struktur sel menentukan peran organisme dalam ekosistem.
Organisme yang terdiri dari sel-sel dengan struktur tertentu berfungsi sebagai produsen, konsumen, atau dekomposer, yang menjaga keseimbangan energi dan materi dalam ekosistem.
a. Produsen: Tumbuhan dan beberapa protista melakukan fotosintesis berkat adanya kloroplas, yang memanfaatkan energi matahari untuk memproduksi makanan dan mendukung kehidupan di tingkat trofik lainnya.
b. Konsumen: Hewan, dengan struktur sel yang memungkinkan mobilitas dan sistem pencernaan, berperan sebagai konsumen yang memakan tumbuhan atau hewan lain.
c. Dekomposer: Jamur dan bakteri, dengan struktur sel yang memungkinkan mereka menguraikan bahan organik mati, menjaga daur ulang nutrisi dalam ekosistem.
16
6. Peran genetika sel dalam keanekaragaman spesies
Keanekaragaman makhluk hidup juga disebabkan oleh variasi genetik yang terjadi di dalam sel. Mutasi dan rekombinasi genetik selama proses pembelahan sel menghasilkan perbedaan dalam karakteristik fisik dan fungsional antara individu-individu dalam satu spesies dan antar spesies.
a. Mutasi genetik pada tingkat sel menyebabkan munculnya karakteristik baru, yang bila bermanfaat dalam lingkungan tertentu, dapat bertahan melalui proses seleksi alam.
b. Rekombinasi genetik dalam sel eukariotik memungkinkan munculnya keanekaragaman individu dalam satu populasi, yang memperkuat adaptasi dan kelangsungan hidup spesies.
I. Studi Kasus Terkait Konsep Struktur Sel dan Keanekaragaman Makhluk Hidup
Untuk memperdalam pemahaman tentang hubungan antara struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup, berikut beberapa studi kasus yang mengilustrasikan bagaimana perbedaan dalam struktur sel menghasilkan adaptasi yang beragam dan mendukung kehidupan dalam berbagai ekosistem.
1. Studi kasus perbedaan kulit manusia
Sifat kulit manusia ditentukan berdasarkan tingkat melanin yang disintesis oleh sel melanosit pada kulit. Semakin banyak melanin maka kulit manusia semakin gelap. Melanin juga dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah chaya dan suhu. Jika cahaya dan suhu optimum untuk enzim mensintesis melanin maka kulit akan semakin gelap, sehingga pada wilayah yang tropis atau mendapatkan cahaya matahari yang cukup banyak kebanyakan orang yang ada di sekitarnya memiliki kulit dominan gelap.
Tujuan banyaknya melanin adalah untuk melindungi diri dari sinar matahari.
Sedangkan pada wilayah subtropic atau mendapatkan cahaya matahari yang tidak terlalu banyak dominan berkulit putih supaya Cahaya matahari yang
17
masuk lebih banyak. Perbedaan kandungan melanin tersebutlah yang memunculkan keanekaragaman hayati.
2. Studi kasus morfologi daun tumbuhan
Daun tumbuhan umumnya memiliki zat klorofil untuk berfotosintesis.
Selain itu, bentuk tumbuhan darat dan air pun berbeda karena habitatnya, sehingga muncul lah beberapa adaptasi yang memunculkan keanekaragaman hayati disertai perbedaan struktur sel yang berbeda.
Kebanyakan tumbuhan yang hidup di air memiliki daun yang lebar serta struktur sel memiliki stomata yang banyak untuk mempercepat penguapan air. Sedangkan tumbuhan yang hidup di tempat kering memiliki daun lebih kecil bahkan seperti duri untuk mengurangi jumlah stomata sehingga memperkecil adanya transpirasi atau penguapan air dari tumbuhan.
3. Studi kasus tumbuhan karnivora: Adaptasi sel tumbuhan
Contoh: Tumbuhan Venus Flytrap (Dionaea muscipula) dan Nepenthes. Struktur Sel: Tumbuhan pada umumnya memiliki kloroplas yang memungkinkan mereka melakukan fotosintesis untuk mendapatkan energi. Namun, tumbuhan karnivora seperti Venus Flytrap tumbuh di lingkungan yang miskin nutrisi, terutama nitrogen. Karena itu, tumbuhan ini mengembangkan struktur khusus dalam sel mereka untuk menangkap dan mencerna serangga sebagai sumber tambahan nutrisi. Hubungan dengan Keanekaragaman Makhluk Hidup :
a. Adaptasi struktur seluler pada daun Venus Flytrap memungkinkan daunnya memiliki mekanisme "penjebakan" serangga melalui sinyal listrik di sel-sel yang responsif terhadap rangsangan sentuhan.
b. Setelah serangga tertangkap, sel-sel kelenjar pencernaan di daun menghasilkan enzim untuk mencerna serangga dan menyerap nitrogen dari tubuh serangga yang terurai.
c. Tumbuhan ini menunjukkan adaptasi evolusioner unik yang membedakannya dari tumbuhan lain, memperkaya keanekaragaman hayati.
18
4. Studi kasus bakteri Ekstremofil : Adaptasi sel prokariotik
Contoh: Bakteri Thermus aquaticus di lingkungan panas ekstrem.
Struktur Sel: Bakteri ekstremofil seperti Thermus aquaticus hidup di lingkungan ekstrem seperti mata air panas dengan suhu di atas 70°C.
Struktur sel prokariotiknya telah mengalami adaptasi agar dapat bertahan di lingkungan yang sangat panas. Hubungan dengan Keanekaragaman Makhluk Hidup:
a. Sel-sel Thermus aquaticus memiliki enzim khusus yang disebut Taq polymerase, yang tahan terhadap suhu tinggi dan memungkinkan replikasi DNA pada kondisi ekstrem. Enzim ini memiliki peran penting dalam bioteknologi modern, terutama dalam proses PCR (Polymerase Chain Reaction).
b. Adaptasi ini menunjukkan bagaimana struktur sel pada prokariotik dapat berubah untuk memungkinkan organisme bertahan di kondisi lingkungan yang sangat ekstrem, menambah dimensi keanekaragaman makhluk hidup.
c. Variasi kemampuan bertahan di lingkungan ekstrem oleh berbagai mikroorganisme menciptakan keragaman ekosistem yang unik seperti di dasar laut, mata air panas, dan gurun.
5. Studi kasus hewan pada ekosistem laut dalam: Adaptasi seluler pada hewan multiseluler
Contoh : Ikan anglerfish (Lophiiformes) yang hidup di laut dalam.
Struktur Sel: Hewan laut dalam seperti ikan anglerfish menghadapi tantangan karena lingkungan mereka yang gelap total, tekanan air yang sangat tinggi, dan suhu yang sangat rendah. Sel-sel pada hewan ini mengalami adaptasi yang unik. Hubungan dengan Keanekaragaman Makhluk Hidup :
a. Ikan anglerfish mengembangkan adaptasi bioluminesensi, di mana sel-sel tertentu pada tubuhnya menghasilkan cahaya melalui reaksi kimia. Ini memungkinkan ikan memikat mangsa di lingkungan yang gelap total.
19
Produksi cahaya ini dilakukan oleh organ khusus yang mengandung bakteri simbion yang juga menghasilkan cahaya.
b. Struktur tubuh, termasuk sel-sel yang tahan terhadap tekanan air tinggi dan rendahnya suhu, menunjukkan adaptasi yang unik yang mendukung kehidupan di kedalaman laut.
c. Adaptasi ini menambah variasi pada dunia hewan laut dan menunjukkan bagaimana evolusi seluler berperan dalam menghasilkan makhluk hidup yang dapat bertahan di lingkungan yang sangat berbeda dari lingkungan permukaan.
6. Studi kasus tumbuhan C4: Adaptasi sel untuk efisiensi fotosintesis
Contoh: Tumbuhan jagung (Zea mays) dan tebu (Saccharum officinarum). Struktur Sel: Beberapa tumbuhan seperti jagung dan tebu menggunakan jalur fotosintesis C4, yang merupakan adaptasi seluler untuk meningkatkan efisiensi penyerapan karbon dioksida, terutama di daerah tropis yang panas. Hubungan dengan Keanekaragaman Makhluk Hidup:
a. Pada tumbuhan C4, kloroplas dalam sel-sel daun terorganisasi secara berbeda dibandingkan dengan tumbuhan C3. Sel-sel ini memusatkan CO2 di sekitar enzim Rubisco, yang mengurangi fotorespirasi dan meningkatkan efisiensi fotosintesis dalam kondisi panas.
b. Adaptasi ini memungkinkan tumbuhan C4 bertahan dan berkembang dengan lebih baik di daerah dengan intensitas cahaya tinggi dan suhu panas, menambah keragaman spesies tanaman yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis.
c. Mekanisme fotosintesis C4 menjadi salah satu alasan keberhasilan pertanian di iklim panas, menunjukkan bagaimana adaptasi seluler mendukung keanekaragaman agrikultur.
20
7. Studi kasus bakteri nitrifikasi: Keanekaragaman fungsi dalam ekosistem Contoh : Bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter. Struktur Sel: Bakteri nitrifikasi adalah bakteri prokariotik yang memainkan peran penting dalam siklus nitrogen di ekosistem. Mereka mengubah amonia menjadi nitrat, yang dapat diserap oleh tumbuhan sebagai sumber nitrogen. Hubungan dengan Keanekaragaman Makhluk Hidup:
a. Struktur sel prokariotik pada bakteri nitrifikasi telah beradaptasi untuk memanfaatkan energi dari reaksi kimia yang terjadi selama proses nitrifikasi. Mereka menggunakan enzim khusus untuk mengoksidasi amonia menjadi nitrit (Nitrosomonas) dan kemudian nitrit menjadi nitrat (Nitrobacter).
b. Fungsi mereka dalam mengubah bentuk nitrogen sangat penting bagi keseimbangan ekosistem, karena nitrogen merupakan nutrien esensial bagi pertumbuhan tumbuhan.
c. Keragaman fungsi biogeokimia ini menunjukkan bagaimana variasi struktur sel prokariotik mendukung kelangsungan ekosistem darat dan perairan.
21 BAB III PENUTUP KESIMPULAN
1. Sel adalah unit terkecil dari materi yang dapat melakukan semua proses kehidupan.
2. Setiap organisme tersusun atas salah satu dari dua jenis sel yang secara struktur berbeda: sel prokariotik atau sel eukariotik. Kedua jenis sel ini dibedakan berdasarkan posisi DNA di dalam sel; sebagian besar DNA pada eukariota terselubung membran organel yang disebut nukleus atau inti sel, sedangkan prokariota tidak memiliki nukleus.
3. Keanekaragaman makhluk hidup, atau biodiversitas, adalah variasi di antara semua bentuk kehidupan di bumi, baik tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan ekosistem tempat mereka hidup.
4. Hubungan antara konsep struktur sel dan keanekaragaman makhluk hidup terletak pada peran sel sebagai unit dasar kehidupan yang membentuk berbagai organisme dengan fungsi dan karakteristik yang beragam.
22
DAFTAR PUSTAKA
Adnan. 2009. Biologi Sel (Struktur dan Fungsi Sel). Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar.
Curtis, Helena, Bernes. 1989. Biology Fifth Edition Worth Publishers. Inc Karp. G. 2007. Cell and Molecular Biology Concepts and Experiments. Inc
Situmorang, Masni Veronika. 2020. Biologi Dasar. Widina Bhakti Persada Bandung.
Yanti. 2011. Sel dan Bahan Penyusun Sel. FKIP UNPAS.