NAMA : HANNA MAIDINA AININDITA NPM : 22219735
KELAS : 3EB06
TUGAS : AKUNTANSI PAJAK
1. Mencari sebanyak – banyaknya perubahan Undang – Undang Pajak.
JAWABAN
1. Pemerintah telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan menjadi Undang-Undang. Undang-Undang tersebut merupakan omnibus law, karena mengubah berbagai aturan pajak, mulai dari ketentuan umum, pajak penghasilan, hingga pengenalan pajak karbon. Terkait dengan UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, terdapat lima poin perubahan, yaitu:
a. Penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) menjadi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi Wajib Pajak Orang Pribadi.
b. Pengungkapan ketidakbenaran pengisian SPT dapat disampaikan sebelum diterbitkannya Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan.
c. Sinkronisasi dengan Undang-Undang Cipta Kerja terkait sanksi administrasi perpajakan, yaitu sanksi terkait tidak menyampaikan SPT setelah mendapat surat teguran, PPN dan PPnBM yang seharusnya tidak dikompensasikan atau tidak seharusnya dikenakan tarif 0%, serta tidak memenuhi kewajiban Pasal 28 atau Pasal 29 yang menyebabkan pajak terutang tidak dapat diketahui. Selain itu, terdapat penurunan sanksi terkait permohonan keberatan atau banding.
d. Pelaksanaan Mutual Agreement Procedure (MAP) dapat dijalankan secara simultan dengan proses keberatan dan banding. Pada aturan sebelumnya MAP dihentikan apabila telah terdapat Putusan Pengadilan Pajak atau Mahkamah Agung, meskipun materi yang diputus berbeda dengan materi yang dirundingkan pada MAP.
e. Kuasa Wajib Pajak harus memiliki kompetensi tertentu dalam aspek perpajakan, kecuali Kuasa Wajib Pajak merupakan suami, istri, keluarga sedarah atau
semenda sampai dengan derajat kedua.
2. Perubahan UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Pasal 113 dan UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRP) Pasal 114 UU Cipta Kerja.
a. Pasal 113 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Perubahan dalam UU KUP 1) Pasal 8 UU KUP
Ketentuan besaran sanksi bunga atas pembetulan SPT yang dikenakan atas keterlambatan pembayaran atau penyetoran pajak terutang baik untuk suatu masa pajak maupun berdasarkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) berubah.
2) Pasal 8 Ayat (2) UU KUP
Isi Pasal 8 Ayat (2) sebelumnya : Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar, kepada Wajib Pajak akan dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang bayar, terhitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai
dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan terhitung penuh 1 (satu) bulan.
Perubahan Pasal 8 Ayat (2) menjadi : Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar, kepada Wajib Pajak akan dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar tarif bunga per bulan yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan atas jumlah pajak yang kurang, terhitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran, dan dikenakan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, serta bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
3) Pasal 8 (2a) UU KUP
Isi Pasal 8 Ayat (2a) sebelumnya : Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Masa yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang bayar, terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Perubahan Pasal 8 Ayat (2a) menjadi : Dalam hal Wajib Pajak
membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Masa yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar, kepada Wajib Pajak akan dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sebesar tarif bunga per bulan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan atas jumlah pajak yang kurang bayar, terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan dikenakan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, serta bagian dari bulan di hitung penuh 1 (satu) bulan.
Tambahan Pasal 8 Ayat (2b) :
Tarif bunga per bulan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dan ayat (2a) dihitung berdasarkan suku bunga acuan ditambah 5% (lima persen) dan dibagi 12 (dua belas) yang berlaku pada tanggal dimulainya penghitungan sanksi, paling lama 24 bulan pada Wajib Pajak yang:
Membetulkan sendiri SPT-nya dan membuat utang pajak menjadi lebih besar kurang bayar karena pembetulam SPT Tahunan/Masa. Terlambat membayar PPh Pasal 29 SPT Tahunan. Terlambat membayar SPT Masa.
4) Pasal 8 Ayat (3) UU KUP
Isi Pasal 8 Ayat (3) sebelumnya : Meskipun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, namun belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 38, terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, jika Wajib Pajak menginginkan sendiri untuk mengakui ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta saksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang bayar.
Perubahan Pasal 8 Ayat (3) menjadi : Meskipun sudah melakukan tindakan pemeriksaan untuk bukti permulaan, degan kemauannya sendiri Wajib Pajak mengungkapkan ketidakbenaran mengenai perbuatannya tentang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan ataupun tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang isinya tidak benar dan tidak lengkap, dan/atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar.
Tambahan Pasal 8 Ayat (3a) :
Wajib Pajak mengungkapkan ketidakbenaran atas perbuatannya, dan disertai dengan pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya dan akan dikenakan denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak yang kurang bayar.
5) Perubahan Pasal 8 Ayat (5) UU KUP
Pajak kurang bayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum melakukan pelaporan serta melunaskan sanksi administrasi berupa bunga sebesar tarif bunga perbulan yang ditetapkan MenKeu dari pajak kurang bayar yang diphitung sejak batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran untuk pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan dan/atau jatuh tempo pembayaran berakhir sampai dengan tanggal pembayaran untuk pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan Masa, pembayaran paling lambat 24 (dua puluh empat) bulan, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Tambahan Pasal 8 Ayat (5a) :
Tarif bunga per bulan yang ditetapkan oleh MenKeu dihitung berdasarkan suku bunga acuan ditambah 10% (sepuluh persen) dan dibagi 12 (dua belas) yang berlaku pada tanggal dimulainya perhitungan sanksi.
6) Pasal 9 UU KUP
Besaran saksi bunga yang dikenakan atas keterlambatan pembayaran atau penyetoran pajak terutang untuk masa pajak maupun berdasarkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) berubah.
7) Perubahan Pasal 9 Ayat (2a) UU KUP
Isi Pasal 9 Ayat (2a) sebelumnya : Atas pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Perubahan Pasal 9 Ayat (2a) menjadi : Pembayaran atau penyetoran pajak dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, akan dikenakan sanksi administrasi bunga sebesar tarif bunga perbulan yang telah ditetapkan Menteri Keuangan, dan akan dikenakan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan serta bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
8) Perubahan Pasal 9 (2b) UU KUP
Isi Pasal 9 Ayat (2b) sebelumnya : Atas pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Perubahan Pasal 9 Ayat (2b) menjadi : Pembayaran atau penyetoran pajak dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar tarif bunga per bulan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan dihittung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan dikenakan paling lama
24 (dua puluh empat) bulan serta bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.
Tambahan Pasal 9 Ayat (2c) :
Tarif bunga perbulan
b. Perubahan UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) di UU Cipta Kerja Dalam Pasal 156 A pada UU Cipta Kerja terkait Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Keuangan memiliki kewenangan untuk mengevaluasi rancangan peraturan daerah maupun
peraturan daerah yang sudah ada terkait PDRD.
Pada saat suatu perda dinyatakan telah di cabut oleh presiden, maka pemda tidak bisa lagi menerapkan perda terkait PDRD tersebut. Apabila dilanggar, maka akan dikenakan sanksi penundaan atau pemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil.
3. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengesahkan Undang- Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) dalam rapat Paripurna pada 7 Oktober 2021 lalu. Ada sejumlah perubahan aturan mengenai perpajakan yang diatur dalam undang-undang ini. Pertama, UU HPP menambah fungsi Nomor Induk Penduduk (NIK) untuk menguatkan sistem administrasi perpajakan di dalam negeri. Lalu, aturan ini mengubah ketentuan dalam pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN).
Perubahan itu misalnya, menambah satu bracket baru untuk tarif PPh sebesar 35% bagi masyarakat golongan kaya dengan penghasilan di atas Rp 5 miliar per tahun. Selain itu, penambahan tarif PPN menjadi 11% yang mulai berlaku 2022 mendatang.
Selain itu, UU HPP juga mengatur soal program pengungkapan suka rela wajib pajak dan pajak karbon. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, UU HPP membantu pemerintah mendongkrak penerimaan perpajakan tahun depan.
4. Pada hari Senin kemarin (28/6/2021), pemerintah bersama dengan Komisi XI DPR melakukan pembahasan RUU perubahan kelima atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Terdapat beberapa poin yang termasuk dalam perubahan materi UU KUP : 1) Pertama, asistensi penagihan pajak global
2) Kedua, kesetaraan dalam pengenaan sanksi dalam upaya huku
3) Ketiga, penindaklanjutan putusan Mutual Agreement Procedures (MAP) terkait adanya putusan Pengadilan Pajak dan Mahkamah Agung
4) Keempat, menunjuk pihak lain untuk memungut Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Transaksi Elektronik (PTE)
5) Kelima, menegakkan hukum pidana pajak dengan mengedepankan ultimatum remedium.
Program untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak alias pengampunan pajak. Wajib pajak yang melakukan pelaporan dan mengungkapkan harta secara suka rela maka akan diberikan pengampunan sanksi administrasi.
5. Pasal 37 C RUU KUP mengatakan bahwa waktu untuk mengungkapkan harta adalah 1 Juli 2021 sampai dengan 31 Desember 2021. Wajib pajak harus melampirkan bukti pembayaran PPh bersifat final, daftar rincikan harta beserta informasi kepemilikannya dan surat penyertaan untuk diinvestasikan ke dalam surat berharga negara saat proses pengungkapan harta mereka. Tarif PPh sebesar 30% tetapi hanya 20% bagi WP yang menginvestasikan ke SBN.
6. Kementerian Keuangan juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa perubahan pada UU PPh. Perubahan terjadi pada pengaturan kembali fringe benefit, perubahan tarif dan bracket PPh Orang Pribadi. Terdapat lapisan baru khusus
bagi wajib pajak dengan penghasilan di atar Rp 5 miliar dengan tarif tertinggi yaitu 35%. Aturan baru lainnya tentang instrumen Pencegahan Penghindaran Pajak (GAAR). Penyesuaian insentif WP UKM omzet kurang dari Rp 50 miliar, seperti yang tertuang dalam Pasal 31E UU PPh. Materi terakhir yang berubah dari UU PPh adalah penerapan Alternative Minimum Tax.
7. Terdapat juga tiga poin perubahan materi UU PPN, yaitu pengurangan pengecualian dan fasilitas PPN, pengenaan PPN multi tarif, dan kemudahan dan kesederhanaan PPN (PPN final/GST).
8. Barang dan jasa yang dikecualikan adalah objek PDRD, yaitu restoran, hotel, parkir dan hiburan. Lalu uang, emas untuk cadangan devisa negara dan surat berharga. Setelah itu jasa pemerintahan umum yang tidak dapat didapatkan dari pihak lain dan jasa penceramah keagamaan. Lalu fasilitas tidak dipungut PPN atas BKP/JKP tertentu, fasilitas tersebut adalah yang terkait dengan mendorong ekspor dan hilirisasi SDA.
9. Terjadi perubahan juga terhadap fasilitas PPN dibebaskan atas BKP/JKP strategis menjadi fasilitas PPN tidak dipungut serta kelaziman dan perjanjian internasional. Barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat juga
mendapatkan tarif PPN yang lebih rendah dan bisa tidak dipungut PPN serta bagi masyarakat yang tidak bisa mendapatkan kompensasi dengan pemberian subsidi. Tarifnya PPN mengalami perubahan menjadi 12%. Rentang tarif UU juga mengalami perubahan menjadi 5% - 25%.
10. Terdapat juga perubahan materi UU Cukai oleh pemerintah keuangan, yaitu penambahan barang kena cukai. Hal tersebut dilakukan lantaran negara lain memiliki banyak jenis barang kena cukai, sementara Indonesia hanyalah dua yaitu hasil tembakau dan minuman beralkohol.
11. Indonesia juga merancang regulasi terkait pungutan atas emisi karbon untuk mendukung komitmennya yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 26% pada tahun ini dan 29% pada tahun 2030. Rencananya tarif pajak ditetapkan minimal Rp 74 per kilo gram (kg) karbon dioksida ekuivalen (CO2e) atau satuan yang setara. Subjek pajak karbon adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembelian barang yang mengandung karbon atau melakukan aktivitas yang menghasilkan emisi karbon. Objek pajaknya adalah barang yang mengandung karbon atau aktivitas yang menghasilkan emisi karbon.
12. Mengubah UU Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (UU PPN dan PPnBM)
a. Diatur dalam Bab IV Pajak Pertambahan Nilai UU HPP, diuraikan dalam Pasal 4 UU HPP.
b. Mengubah sejumlah ketentuan dalam UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Jasa (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barah Mewah (PPnBM), yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM.
c. Tarif umum PPN akan naik bertahap mulai 2022, dari 10 persen menjadi 12 persen. Adapun tarif khusus akan diatur kemudian.
d. Pada 2022 tarif PPN akan naik menjadi 11 persen lalu selambat-lambatnya pada 2025 naik menjadi 12 persen.
e. 13 barang dan jasa dicoret dari negative list atau daftar tidak terutang PPN dan dimungkinkan mendapatkan fasilitas pembebasan PPN
f. Ketentuan Pasal 4 UU HPP berlaku mulai 1 April 2022, sebagaimana diatur dalam Pasal 17 Ayat (2) UU HPP.
13. Mengatur program pengungkapan sukarela (PPS)
a. Wajib Pajak Diatur dalam Bab V Program Pengungkapan Sukarela (PPS) Wajib Pajak UU HPP, diuraikan mulai Pasal 5 hingga Pasal 12 UU HPP.
b. Dalam Pasal 15 Bab VIII Ketentuan Peralihan UU HPP dinyatakan pula bahwa begitu UU HPP berlaku maka semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang
Pengampunan Pajak yang berkaitan dengan pengungkapan harta bersih tidak berlaku sepanjang pengungkapan dilakukan pada 1 Januari 2022 hingga 30 Juni 2022.
c. Ada dua kebijakan dijalankan dalam program ini, dengan pembedaan
berdasarkan subyek, basis aset, dan tarif PPh Final yang dikenakan. Masing- masing besaran tarif PPh Final di tiap kebijakan juga dibedakan lagi, yaitu untuk:
deklarasi aset di luar negeri,
aset luar negeri repatriasi dan aset dalam negeri,
aset luar negeri repatriasi dan aset dalam negeri yang diinvestasikan dalam surat berharga negara (SBN), hilirisasi, atau energi terbarukan (renewable energy).
Berlaku pada 1 Januari-30 Juni 2022, sesuai ketentuan Pasal 6 Ayat (1) UU HPP.
14. Mengatur Pajak Karbon
a. Diatur dalam Bab VI Pajak Karbon UU HPP, diuraikan dalam Pasal 13 UU HPP.
b. Berdasarkan Pasal 17 Ayat (3) UU HPP, pajak karbon mulai berlaku pada 1 April 2022, pertama kali dikenakan terhadap PLTU batubara, dengan tarif minimal Rp 30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen ( ) atau satuan setara, menggunakan skema cap and tax.
c. Ketika skema cap and tax telah diberlakukan, entitas yang menghasilkan emisi melebihi batas asa (cap) diharuskan membeli izin emisi (SIE) dari entitas yang emisinya masih di bawah cap atau membeli sertifikat penurunan emisi
(SPE/offset karbon). Dalam hal entitas itu tak bisa membeli SIE atau SPE atas kelebihan emisinya, sisa emisi itu akan dikenakan pajak karbon. Sasarannya, pajak karbon akan diterapkan penuh pada 2025.
15. Mengubah UU Cukai
a. Diatur dalam Bab VII Cukai UU HPP, diuraikan dalam Pasal 14 UU HPP.
b. Mengubah sejumlah ketentuan dalam UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, yang telah diubah dengan UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.
c. Perubahan pengaturan di UU Cukai melalui UU HPP akan berupa penambahan atau pengurangan jenis barang kena cukai. Rinciannya akan dibahas lagi oleh pemerintah dan DPR di setiap pengajuan RAPBN.
d. UU HPP juga menggunakan prinsip pemidanaan sebagai upaya terakhir terkait pelanggaran cukai. Ini mencakup pelanggaran perizinan, pengeluaran barang kena cukai, barang kena cukai tidak dikemas, barang kena cukai yang berasal dari tindak pidana, dan jual beli pita cukai.
e. UU HPP juga memasukkan perubahan besaran sanksi administratif terhadap pelanggaran pidana terkait cukai, dengan rincian sebagai berikut:
Perubahan dan penambahan ketentuan regulasi dalam UU HPP di atas akan berdampak terhadap dan atau berkaitan pula dengan:
a. UU Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid 19 dan atau Dalam Rangka
Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan atau Stabilitas Sistem Keuangan Menjadi UU, yaitu:
Membatalkan penurunan kembali pajak penghasilan (PPh) badan, yang semula direncanakan turun menjadi 20 persen pada 2022. Dengan UU HPP, PPh badan tetap 22 persen seperti diberlakukan untuk 2020 dan 2021.
b. UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
c. UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak
16. Adapun 14 PMK PPN turunan UU HPP yang resmi diterbitkan Menteri Keuangan Sri Mulyani serta poin-poinnya;
1) PMK 58/PMK.03/2022 tentang Penunjukan Pihak Lain Sebagai Pemungut Pajak dan Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan/ atau Pelaporan Pajak yang
Dipungut oleh Pihak Lain Atas Transaksi Pengadaan Barang dan/atau Jasa Melalui Sistem Informasi Pengadaan Pemerintah.
2) PMK 59/PMK.03/2022 tentang Perubahan atas PMK 231/PMK.03/2019 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak,
Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, serta Pemotongan dan/atau Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Bagi Instansi Pemerintah.
3) PMK 60/PMK.03/2022 tentang Tata Cara Penunjukan Pemungut, Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Atas Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari Luar Daerah Pabean di Dalam Daerah Pabean Melalui Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.
4) PMK 61/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Kegiatan Membangun Sendiri.
5) PMK 62/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Liquefied Petroleum Gas Tertentu.
6) PMK 63/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Hasil Tembakau.
7) PMK 64/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Barang Hasil Pertanian Tertentu.
8) PMK 65/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Kendaraan Bermotor Bekas.
9) PMK 66/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian.
10) PMK 67/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Jasa Agen Asuransi, Jasa Pialang Asuransi, dan Jasa Pialang Reasuransi.
11) PMK 68/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan Atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto.
12) PMK 69/PMK.03/2022 tentang Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyelenggaraan Teknologi Finansial.
13)PMK 70/PMK.03/2022 tentang Kriteria dan/atau Rincian Makanan dan
Minuman, Jasa Kesenian dan Hiburan, Jasa Perhotelan, Jasa Penyediaan Tempat Parkir, serta Jasa Boga atau Katering, yang Tidak Dikenai Pajak Pertambahan Nilai.
14) PMK 71/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu.
REFERENSI :
1. https://blog.pajakind.com/perubahan-undang-undang-cipta-kerja-pdrd-revisi/
2. https://pajak101.com/poin-poin-perubahan-undang-undang-ketentuan-umum-dan- tata-cara-perpajakan-pada-undang-undang-harmonisasi-peraturan-
perpajakan/#:~:text=Terkait%20dengan%20UU%20Ketentuan%20Umum%20dan
%20Tata%20Cara,dapat%20disampaikan%20sebelum%20diterbitkannya
%20Surat%20Pemberitahuan%20Hasil%20Pemeriksaan.
3. Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Poin Penting Revisi UU Perpajakan" , https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/6168dd6ab494e/poin- penting-revisi-uu-perpajakan
Penulis: Cindy Mutia Annur Editor: Aria W. Yudhistira
4. https://www.pajakku.com/read/60dc25da58d6727b1651ac91/RUU-KUP:-Ini-Dia- Rincian-Perubahan-Aturan-Pajak-Terbaru
5. https://money.kompas.com/read/2021/11/04/070100026/poin-penting-perubahan- dan-tambahan-aturan-pajak-di-uu-hpp?page=all#page2
6. https://www.kompasiana.com/gerardin15062003/624ddd83c668265c425be172/per ubahan-struktur-perpajakan-oleh-perubahan-undang-undang-harmonisasi-
peraturan-perpajakan-2022?page=2&page_images=1