A. Hubungan Filologi Dengan Ilmu Sejarah
Filologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai hal yang terdapat dalam naskah-naskah lama, dan ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari tentang peristiwa di masa lalu. Hubungan antara keduanya berlangsung secara timbal balik dan saling membutuhkan. Ketika membahas filologi, kita akan menjelajahi beragam naskah dan tulisan yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Semua naskah itu kebanyakan dianggap sebagai hasil sastra (kuno/lama) dan isi naskah itu bermacam-macam walau ada yang sebetulnya tidak dapat digolongkan dalam karya sastra, seperti undang- undang, adat-istiadat, cara-cara membuat obat, dan cara membuat rumah. Sebagian besar dapat digolongkan dalam karya sastra, dalam pengertian khusus, seperti cerita- cerita dongeng, hikayat, cerita binatang, pantun, syair, gurindam, dan sebagainya Filologi menfokuskan penelitian pada hasil budi daya manusia yang berupa pikiran, seni, pengetahuan adat, sejarah dan sebagainya yang tertuang/tertulis dalam naskah.
Pemikiran nenek moyang sebagai penghasil budaya suatu bangsa memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam proses penemuan jati diri bangsa tersebut.
Untuk memahami masa lalu suatu bangsa atau suatu masyarakat, salah satu diantaranya bisa melalui wujud wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang umumnya terekam dalam bentuk ungkapan bahasa yang ditransmisikan melalui tradisi lisan dan tulisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam hal ini filologi berperan untuk mengangkat pengalaman hidup nenek moyang, terutama tradisi tulisan yang termaktub dalam sebuah naskah baik berisi informasi mengenai adat istiadat, kesenian, kepercayaan ataupun dimensi kehidupan yang lain. Nantinya, hal ini akan menjadi bahan pembelajaran bagi ilmu sejarah atau menjadi salah satu sumber dalam merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah. Dalam perjalanan waktu, sejumlah kebudayaan telah punah atau hilang akibat tidak adanya generasi penerus yang meneruskan pelaksanaannya. Maka, filologi dianggap penting untuk membatu ilmu sejarah untuk mengungkap khazanah kuno yang masih terendap dalam naskah.
Filologi memainkan peran penting dalam ilmu sejarah, karena melalui analisis naskah-naskah, kita dapat memperoleh berbagai informasi mengenai peristiwa- peristiwa sejarah, seperti nama-nama raja yang memimpin dan aspek-aspek lainnya.
Teks bisa membantu ilmu sejarah, walaupun dalam teks tidak ditemukan hal-hal tentang kesejarahan, namun tidak menutup kemungkinan hal-hal kesejarahan tersebut dikemukakan dalam bagian lain dari teks ini, walaupun tidak dikemukakan secara
eksplisit. Ilmu sejarah dapat memanfaatkan suntingan jenis teks lain, bukan jenis sastra sejarah, khususnya teks-teks lama yang dapat memberikan informasi lukisan kehidupan masyarakat yang jarang ditemukan di sumber-sumber sejarah di luar sastra.
Kajian naskah (pada akhirnya) sudah menjadi tidak asing dengan (ilmu) sejarah sehingga menjadi salah satu alat bantu dalam ilmu (penelitian) sejarah. Tak cuma terbatas hanya menjadi milik sejarah saja, kajian naskah (filologi) juga dapat menjadi milik ilmu lainnya. Dimensi makna dalam naskah dianggap lebih luas dibandingkan dengan warisan budaya berupa benda atau bangunan. Ini disebabkan oleh keterlibatan sikap mental dan budaya masyarakat yang tercermin dalam naskah tersebut. Meski demikian, kajian filologi tetap memiliki kedekatan yang kuat dengan sejarah.
Keterkaitan ini muncul dari fungsi dasar yang diemban oleh masing-masing disiplin.
Secara umum, filologi lebih fokus pada kritik teks, tanpa terlalu mendalami dimensi makna dan konteks yang ada dalam teks itu sendiri. Dalam kerangka inilah studi filologi akan bersinggungan dengan studi sejarah, karena studi sejarah-lah yang akan mengkontekstualisasikan atau memaknai hasil dari terjemah naskah. Walhasil, dalam konteks saat ini, kajian filologi dan sejarah mengajarkan untuk terus membaca teks dan tak mencukupkan diri pada teks namun juga harus mencari makna teks atau kontekstual yang terkandung dalam teks.
B. Manuskrip Hadis Nusantara dan Analisis Kritik Teks 1. Durrat Al-Ahkam Min Hadits Sayyid Al-Anam
Karya dari Syaikh Muhammad Aydrus Qaimuddin ibn Badaruddin al-Buthuni, yang merupakan sultan Buton ke-29 (1824-1851 M) berupa kitab berjudul Kitab Durrat Al-Ahkam Min Hadits Sayyid Al-Anam ditulis diatas kertas Eropa menggunakan bahasa Arab, dalam kitab ini juga terdapat rubrikasi yang menggunakan tinta merah memberikan penekanan pada kalimat wa qauluhu ta'ala dan al-hadits al-awwal serta pada kalimat lainnya. Menariknya manuskrip ini ditulis oleh seorang sultan dari kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara. Karya ini menjadi salah satu contoh dari sekian banyak karya tokoh ulama intelektual Nusantara pada masa itu, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi penulisan kitab keislaman telah kuat berkembang di wilayah Nusantara.
2. Kajian Shurut Al-Arif Al-Muhaqqiq
Syaikh Yusuf al-Makassari, yang juga dikenal dengan nama asy-Syaikh al-Hajj Yusuf Abu Mahasin Hadiyatullah Taj al-Khalawati al-Makassari, atau akrab disapa
Tuanta Salamaka ri Gowa, merupakan seorang ulama tasawuf yang berasal dari Makassar. Ia mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pengembangan dakwah Islam. Ia juga mendapat ijazah tarekat khalwatiyah. Sehingga ia di sebut dengan Syaikh Yusuf Taj alKhalwati al Makassari. Kitab Shurut Al-Arif Al-Muhaqqiq ditulis di atas kertas Eropa dengan cap kertas Lilly. Warna kertas naskah yakni krem kecoklatan. Cap air yang digunakan dari kelompok HORN dengan gambar sebuah terompet tergantung di dalam sebuah perisai bermahkota, namun di ujung perisai yang berbentuk bunga terdapat inisial GR, dan ada juga contoh cap dengan nama DC & BLAUW di atas mahkota. Churchill dan Katalogus Heawood mengatakan bahwa kertas dengan cap seperti itu sudah terdapat pada paruh kedua abad ke-18. Selaras dengan masa penyalinan naskah tahun 1186-1187 H (1772-1773 M). Naskah ini masih utuh dalam keadaan terawat, meskipun beberapa halaman berlubang dimakan serangga. Ukuran naskah: 18,5 X 22,5 cm; Ukuran teks: 13,5 X 20 cm. Nomor halaman dengan angka Eropa ditulis sebagai tambahan oleh orang lain kemudian dengan pensil berwarna merah. Halaman ditambahi nomor dengan dua jenis penomoran, halaman pertama ditulis dengan nomor angka Arab menggunakan tinta warna merah dan halaman kedua ditulis menggunakan angka Arab dengan pensil. Naskah berada dalam keadaan baik dengan tulisan yang jelas terbaca. Tulisan ditulis menggunakan tinta hitam dan tinta merah di beberapa kalimat. Naskah tersebut dijilid menggunakan kertas karton tebal yang dilapisi dengan kertas lurik berwarna coklat. Teks SAM terdapat pada halaman 65- 69. Yang mana tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta dalam bentuk bundle naskah dengan kode A 101. Bundel naskah A 101 terdaftar dalam katalog Van den Berg dan katalog Berghen. Dalam bundel tersebut teks SAM terletak di urutan ke 5 dari 21 teks yang ada. Bundel naskah ini terdiri dari 193 halaman, sementara teks SAM memiliki total 5 halaman. Setiap halaman dalam teks SAM mengandung 21 baris, kecuali untuk halaman pembukaan yang terdiri dari 15 baris dan halaman terakhir yang memiliki 10 baris.
Tahun penulisan karya tersebut oleh penulis aslinya, Syekh Yusuf, dapat dilacak melalui isi teks, penyebutan nama-nama, dan lokasi-lokasi yang tercantum di dalamnya. Informasi ini kemudian disesuaikan dengan berbagai keterangan sejarah yang menggambarkan riwayat hidup dan perjuangan Syekh Yusuf. Petunjuk-petunjuk untuk mengetahui masa penulisannya diantaranya adalah keterangan tentang tempat yang disinggahi oleh Syekh Yusuf ketika menulis kitab ini. Sebagaimana yang tercantum dalam kitabnya: “Maka ketika Allah ta’āla memberikanku hikmah dari apa-
apa yang diketahui-Nya dengan sampainya aku ke desa Rantubetaa, lalu ke desa Baeubul di negeri Mandala yang diberkahi, semoga Allah ta’āla menjaganya dari segala bencana”
Selain itu, dalam penulisannya, Syekh Yusuf menyebut nama Syekh Abd al- Muḥyi dari desa Karang atau Karangnunggal. Kitab ini ditulisnya karena diminta oleh seorang yang bernama ‘Abd al-Jalīl yang merupakan murid dari Syekh ‘Abd al-Muḥyi tersebut ketika Syekh Yusuf masih dalam keadaan berperang melawan pasukan Belanda dan membangun pertahanan di desa Karang tersebut. Kejadian itu dijelaskan Abu Hamid dalam bukunya, Syekh Yusuf Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang. Berdasarkan penelusuran urutan sejarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa kitab SAM ditulis antara bulan April hingga bulan Desember tahun 1683 saat sebelum beliau ditangkap oleh kompeni Belanda. Syurūṭ al-‘Ārif al-Muḥaqqiq karya Syaikh Yusuf merupakan karya khusus membahas tentang dua hadis: “qalb al-mu’min ‘arsh Allāh - hati seorang yang beriman merupakan singgasana Allah” dan “man ‘arafa nafsah fahuwa ‘arafa rubbah” - siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
3. Kitab Hidayat Al-Habib
Karya dari Nur ad-Din Muhammad bin Ali bin Hasanji alHamid al-Asy’ary al- Aydarusi ar-Raniri. Ar-Raniri merupakan penasihat kesultanan Aceh. Ar-Raniri menulis kitab berjudul Hidayat fi al-Targhib Wal al-Tarhib dinamakan juga al-Fawa’id al- Bahiyyah fi al-Ahadith al-Nabawiyyah. Kitab ini merupakan kitab hadits pertama yang dibtulis oleh ulama Nusantara, yang menggunakan bahasa Jawi Melayu berisi 810 hadits yang terkandung dalam 53 bab. Penulisan kitab ini semasa Ar-Raniri berada di Pahang, hari Jum’at bulan Syawal 1045H/1636M, kemudian dibawa ke Aceh. Kitab Hidayat al-Habib mempunyai kelebihan yang cukup baik sebagai kitab awal hadits, yaitu melakukan takhrij setiap hadisnya serta menggunakan rumus setiap mukharrijnya.
C. Perkembangan Studi manuskrip Hadis Nusantara di Era Sekarang
Studi Manuskrip hadis Nusantara saat ini mengalami perkembangan yang signifikan, seiring dengan meningkatnya perhatian akademisi terhadap warisan intelektual Islam. Diantaranya sebagai berikut:
Digitalisasi Manuskrip
Banyak manuskrip hadis Nusantara telah didigitalisasi oleh lembaga seperti Perpustakaan Nasional RI, Leiden University, dan British Library. Digitalisasi
memungkinkan akses yang lebih luas bagi peneliti di seluruh dunia tanpa risiko kerusakan fisik manuskrip. Sehingga memudahkan peneliti dalam membandingkan berbagai versi manuskrip tanpa perlu mengunjungi lokasi fisik dan juga mempermudah kolaborasi lintas negara untuk mengkaji manuskrip-manuskrip Nusantara.
Penggunaan Teknologi Modern
Memanfaatkan teknologi pengenalan pola untuk membaca dan mengidentifikasi aksara Jawi atau Arab Pegon yang sulit, membantu menyusun kembali teks yang rusak atau tidak lengkap, menggunakan perangkat lunak untuk membandingkan variasi teks dalam manuskrip yang berbeda.
Pendekatan Interdisipliner
Filologi digabungkan dengan antropologi, sejarah, dan studi budaya untuk memahami konteks sosial, politik, dan budaya di balik penyusunan manuskrip. Fokus pada bagaimana hadis dalam manuskrip mencerminkan kebutuhan masyarakat setempat di bidang hukum, akhlak, atau pendidikan.