• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Acara PA (Penyitaan)

N/A
N/A
Ika Diana Mustikasari

Academic year: 2023

Membagikan " Hukum Acara PA (Penyitaan)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VII P E N Y I T A A N

(Ps 226, 227 HIR / Ps 720 Rv / SEMA 5/1975)

A. Pengertian Penyitaan

- Penyitaan berasal dari termonologi bahasa Belanda “Beslaag”, kemudian dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi istilah baku “Sita” atau

“Penyitaan”.

- Menempatkan harta kekayaan tersita di bawah penjagaan pengadilan untuk memenuhi kepentingan pemohon sita (penggugat atau kreditur).

B. Tujuan Penyitaan

Tujuan dilakukannya penyitaan adalah : 1. Agar Gugatan Tidak Illusoir

2. Obyek Eksekusi Sudah Jelas dan Pasti C. Syarat Penyitaan

1. Penyitaan Berdasarkan Permohonan

a. Permohonan sita disatukan dengan surat gugatan.

b. Permohonan diajukan dalam surat tersendiri.

2. Permohonan Penyitaan Berdasarkan Alasan yang Cukup

a. Ada kekhawatiran atau persangkaan, tergugat berupaya menggelapkan atau mengasingkan hartanya.

b. Kekhawtiran atau persangkaan tersebut harus nyata dan beralasan secara obyektif,

3. Penggugat Wajib Menunjukkan Obyek Penyitaan a. Tidak dibenarkan menyebut obyek sita secara umum.

b. Menyebut identitas obyek sita secara lengkap.

4. Waktu Pengajuan Permohonan Penyitaan Harus Tepat.

a. Diajukan bersama-sama dengan surat gugatan b. Diajukan selama proses persidangan berlangsung.

c. Diajukan sebelum dijatuhkan putusan tingkat pertama.

d. Diajukan selama putusan belum dieksekusi.

5. Dikabulkannya Permohonan Penyitaan Berdasarkan Pertimbangan Obyektif.

a. Pemeriksaan Insidentil b. Pemeriksaan Pokok Perkara

6. Tidak Boleh Menyita Barang Milik Pihak Ketiga (Pasal 1340 KUH) 7. Penyitaan Tidak Boleh Melebihi Jumlah Tuntutan Penggugat 8. Penyitaan Didahulukan Terhadap Barang Bergerak

9. Dilarang Melakukan Penyitaan Terhadap Barang Tertentu (Ps 197 (8) HIR) - Hewan, dan

- Perkakas yang sungguh-sungguh digunakan sebagai alat pencari nafkah sehari-hari.

10. Penjagaan Barang Tersita Tetap Berada Pada Tergugat a. Penjagaan terhadap barang bergerak ada pada Tergugat;

b. Penjagaan Uang yang Diblokir di Bank

11. Kekuatan Mengikat Sita Berlaku Sejak Diumumkan

(2)

12. Tidak Boleh Memindahtangankan atau Membebani Barang Sitaan (199 ayat (1) HIR)

D. Macam – Macam Sita

1. Sita Jaminan (Conservatoir Beslaag) (Ps 227 (1) HIR/Psl 261 (1) R.Bg dan Ps 729 Rv)

a. Pengertian Sita Jaminan

- Penyitaan terhadap barang bergerak maupun barang tidak bergerak milik debitur (tergugat) yang belum diputus perkaranya, atau sudah diputus perkaranya tetapi belum dilaksanakan.

b. Obyek Sita Jaminan

1) Dalam Sengketa Milik, hanya terbatas pada obyek yang disengketakan.

2) Dalam Sengketa Hutang dan Ganti Rugi (Ps 1131 KUH Perdata, Ps 227 (1) HIR), barang debitur (tergugat) baik yang bergerak maupun yang tidak bergarak dapat diletakkan sita jaminan untuk pembayaran hutangnya atas permintaan kreditur (penggugat).

c. Cara Pelaksanaan Sita Jaminan (Ps 226 (3), Ps 227 (3), Ps 197, 198 dan 199 HIR)

1) Majelis hakim yang memeriksa perkara mengeluarkan penetapan sita jaminan, yang berisi:

- Pertimbangan atas dikabulkannya permohonan sita.

- Perintah pelaksanaan sita kepada panitera atau jurusita.

- Menyebutkan secara rinci dan jelas barang yang akan disita dari tergugat.

2) Penetapan pelaksanaan sita diberitahukan kepada tergugat. berisi : - Jam, hari, tanggal, bulan dan tahun pelaksanaan sita.

- Menyebutkan dengan jelas dan rinci barang dan tempat penyitaan.

- Pemberitahuan kepada tergugat untuk menghadiri pelaksanaan sita.

3) Dalam melaksanaan penyitaan jurusita dibantu oleh dua orang saksi 4) Pelaksanaan penyitaan dilakukan di tempat barang berada.

5) Jurusita diwajibkan membuat berita acara penyitaan memuat : a) Nomor, tanggal dan tahun surat perintah sita .

b) Jam, tanggal, hari, bulan dan tahun pelaksanaan sita.

c) Nama, umur, pekerjaan dan tempat tinggal para saksi.

d) Menyebut secara jelas dan rinci jenis dan jumlah barang yang disita.

e) Apabila tersita hadir, dibuat penjelasan bahwa berita acara sita dibuat di hadapan tersita. Apabila tersita tidak hadir dicatat juga dalam berita acara sita.

f) Penegasan penjagaan barang sitaan, diserahkan kepada pihak tersita.

g) Berita acara sita ditandatangani oleh jurusita dan kedua orang saksi.

h) Menyatakan sita sah dan berharga.

6) Meletakkan barang sitaan di tempat barang tersebut berada dan penjagaan terhadap barang tersebut diserahkan kepada tersita.

d. Sita Jaminan Terhadap Barang Bergerak

1) Barang sitaan tetap diletakkan di tempat semula barang berada.

2) Penjagaan dan penguasaan barang sitaan diserahkan kepada tersita,

(3)

3) Tidak boleh diletakkan sita jaminan atas permintaan penggugat lain.

4) Secara kasuistis dapat dibebankan jaminan kepada penggugat:

- Pengabulan sita jaminan yang diminta penggugat dibarengi dengan perintah atau persyaratan, sita jaminan baru dapat dilaksanakan apabila penggugat membayar biaya serta kerugian dan bunga yang mungkin timbul akibat penyitaan tersebut.

- Dalam hal ini, penyerahan uang jaminan, harus diberikan bersamaan dengan perintah penyitaan.

5) Pihak tersita dapat mengajukan bantahan.

e. Sita Jaminan Terhadap Barang Tidak Bergerak

1) Penjagaan sitaan barang tidak bergerak diserahkan kepada tersita .

2) Barang sitaan boleh dipakai oleh tersita, dengan syarat pemakaian tidak boleh berakibat pada turunnya harga barang sitaan atau habisnya barang sitaan karena pemakaian.

3) Hasil yang timbul dari barang sitaan diatur dalam Pasal 509 Rv yaitu:

- Hasil tanah yang dikumpulkan setelah sita jaminan diumumkan atau siap akan dikumpulkan, dianggap sebagai barang yang melekat pada obyek sita jaminan.

- Hasil tersebut merupakan bagian yang harus dibayar kepada penggugat bersama-sama dengan hasil penjualan lelang barang obyek sita jaminan.

4) Dalam penyitaan barang tidak bergerak berlaku asas saisie sur saisie ne vaut yang ditentukan dalam Pasal 463 Rv, yaitu melarang sita rangkap atas barang tidak bergerak dalam waktu yang bersamaan, yang boleh dibebankan adalah sita persamaan (vergelijkende beslaag) (Sudikno Mertokusumo, 1998 : 70).

5) Pengadilan dapat memerintahkan kepada penggugat untuk membayar jaminan. Hal ini sama dengan ketentuan dalam penyitaan barang bergerak, mengacu pada ketentuan Pasal 722 Rv.

6) Tergugat berhak mengajukan bantahan terhadap sita jaminan barang tidak bergerak dan pihak ketiga berhak mengajukan perlawanan (Derden Verzet).

Ketentuan ini sama dengan ketentuan terhadap barang tidak bergerak.

7) Tersita berhak mengajukan atau menawarkan kepada pengadilan, barang pengganti obyek sitaan atau memberi jaminan yang cukup terhadap jumlah tuntutan penggugat (Pasal 725 Rv). Apabila menurut pertimbangan hakim, penawaran barang atau jaminan tersebut patut dan tidak menimbulkan kerugian kepada penggugat,maka hakim dapat mengeluarkan penetapan pengangkatan sita disertai penegasan penggantian barang atau uang yang diberikan penggugat.

8) Apabila sita jaminan terhadap barang tidak bergerak dikabulkan, maka harus ditegaskan secara deklaratif bahwa sita jaminan sah dan berharga, dan pernyataan tersebut dicantumkan dalam amar putusan (Pasal 727 Rv).

f. Penyitaan Barang Tergugat pada Pihak Ketiga (Derden Beslaag)

Penyitaan barang tergugat yang ada pada pihak ketiga disebut conservatoir beslaag onder derden atau disingkat derden beslaag (Yahya Harahap, 2007 : 348). Derden beslaag bertujuan memberi hak kepada

(4)

penggugat untuk mengajukan penyitaan terhadap barang tergugat yang berada pada pihak ketiga, untuk melindungi kepentingan penggugat agar terjamin pemenuhan pembayaran yang dituntutnya.

Penyitaan barang tergugat yang ada pada pihak ketiga diatur dalam Pasal 197 ayat (8) HIR/Pasal 211 R.Bg yang menentukan, barang bergerak milik debitur (tergugat) meliputi uang tunai, surat-surat berharga yang bernilai uang atau barang berwujud, dapat diletakkan sita meskipun barang-barang tersebut berada ditangan pihak ketiga.

1) Syarat Derden Beslaag

Syarat yang harus dipenuhi agar dapat diletakkan sita terhadap barang tergugat yang ada pada pihak ketiga (derden beslaag) adalah :

a) Setiap penyitaan harus berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan pengadilan (Pasal 197 ayat (1) HIR). Ketentuan tersebut merupakan syarat pokok penyitaan dalam segala bentuk.

b) Barang yang akan disita benar-benar milik tergugat. Aturan tidak mempersoalkan apakah keberadaan barang tergugat yang berada pada pihak ketiga tersebut berdasarkan alas hak yang sah ataukah tidak, yang penting barang tersebut milik tergugat (Pasal 728 Rv).

c) Permohonan sita didukung oleh surat dalam bentuk akta otentik atau akta di bawah tangan. Akta tersebut dapat membuktikan atau mempunyai kekuatan pembuktian, bahwa barang tersebut adalah milik tergugat (Pasal 728 Rv).

d) Dilarang melakukan penyitaan terhadap barang-barang tertentu tergugat yang ada pada pihak ketiga. Larangan tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 197 ayat (8) HIR berupa : Hewan dan perkakas yang sungguh- sungguh dipergunakan untuk menjalankan pencarian tersita. Pasal 749 Rv juga melarang melakukan penyitaan pihak ketiga terhadap:

- Barang-barang yang oleh undang-undang dilarang untuk disita.

- Uang yang ditetapkan hakim dalam putusan untuk keperluan perawatan berdasarkan Pasal 225 KUH Perdata, mengenai tunjangan dalam perceraian atau nafkah anak.

- Uang dan tunjangan tahunan untuk perawatan, yang oleh pemberi dinyatakan tidak boleh disita.

- Gaji dan pensiunan pegawai serta para pemberi jasa.

2) Obyek Derden Beslaag

Pasal 197 ayat (8) HIR dan Pasal 728 Rv menen-tukan barang apa saja yang dapat dijadikan sebagai obyek sita, barang tergugat yang ada pada pihak ketiga, yaitu, hanya terbatas pada :

- uang tunai,

- surat berharga (comercial paper), -

- tagihan atau hutang pihak ketiga kepada tergugat.

3) Cara Pelaksanaan Derden Beslaag

Cara yang dilakukan dalam penyitaan barang tergugat yang ada pada pihak ketiga adalah :

a) Penyitaan dilakukan berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan pengadilan (Pasal 197 ayat (8) HIR dan Pasal 728 Rv).

(5)

b) Para pihak yang akan disita barangnya diberitahu-kan kepadanya tentang adanya sita. Pemberitahuan disampaikan kepada :

(1) Pihak ketiga

Hal ini diatur dalam Pasal 730 Rv yang menentukan, jika jurusita akan menjalankan sita pihak ketiga terhadap barang milik tergugat yang ada padanya, tindakan itu harus diberitahukan kepada :

- Penyimpan atau pemegangnya, atau kepada penyimpan kas atau rekening.

- Surat pemberitahuan tersebut ditandatangani pihak ketiga (penandatanganan secara formal dianggap sebagai tindakan mengetahui). Jika pihak ketiga menolak menandatangani asli surat pemberitahuan, maka jurusita membuat catatan atas penolakan tersebut.

(2) Pihak Tergugat

Pemberitahuan penyitaan pihak ketiga wajib disampaikan kepada tergugat (Pasal 731 Rv), dengan ketentuan :

- Jurusita wajib menyampaikan pelaksanaan sita pihak ketiga yang telah dijalankan itu kepada tergugat.

- Tenggat waktu penyampaian pemberitahuan paling lambat 8 (delapan) hari dari tanggal pelaksanaan sita. Apabila tenggat waktu itu dilampaui, mengakibatkan penyitaan batal demi hukum.

c) Apabila penyitaan pihak ketiga telah dilaksanakan, maka pengadilan melalui jurusita memanggil para pihak untuk menghadiri persidangan pemeriksaan pokok perkara, termasuk menilai apakah penyitaan dapat dibenarkan ataukah tidak. Apabila hakim berpendapat bahwa penyitaan cukup beralasan dan mempunyai dasar, maka sita tersebut dinyatakan sah dan berharga. Salinan pemanggilan sidang disampaikan juga kepada kepada pihak untuk diketahui.

d) Apabila gugatan penggugat dikabulkan, maka sita pihak ketiga dinyatakan sah dan berharga. Berdasar ketentuan Pasal 734 Rv :

- Dalam sidang pengucapan putusan, harus ikut dihadirkan pihak ketiga, dengan jalan memang-gilnya untuk datang pada sidang tersebut.

- Kepada pihak ketiga hakim memberi keterangan tentang barang milik tergugat yang disita dari pihak ketiga, dan hakim menyatakan bahwa barang yang disita dari pihak ketiga adalah milik tergugat, serta memerintahkan untuk menye-rahkan barang tersebut apabila pada saatnya dijalankan eksekusi.Perintah penyerahan tersebut dituangkan dalam penetapan, berdasarkan berita acara sita pihak ketiga.

e) Pengadilan dapat memaksa pihak ketiga untuk menyerahkan barang sitaan (Pasal 740 – 746 Rv).

Pihak ketiga yang terbukti menguasai barang tergugat dapat dipaksa untuk menyerahkan barang sitaan tersebut.

2. Sita Revindikasi

a. Pengertian Sita Revindikasi

(6)

Sita Revindikasi atau Revindikatoir Beslaag atau Revindicatie Beslaag mempunyai kekhususan dibanding conservatoir beslaag. Kekhususan tersebut terletak pada obyek barang sitaan dan kedudukan penggugat terhadap barang sitaan, yaitu :

- Hanya terbatas pada barang bergerak penggugat yang ada pada orang lain (tergugat).

- Barang tersebut berada di tangan orang lain (tergugat) tanpa hak.

- Permintaan sita diajukan oleh pemilik barang (penggu-gat) sendiri agar dikembalikan kepadanya.

Dalam sita revindikasi yang mengajukan permohonan sita adalah pemilik barang sendiri, maka lazim disebut juga “Penyitaan atas permintaan pemilik”

(Arief S, : 374), atau disebut owner’s claim (Yan Pramadya Puspa, : 736).

Dengan demikian sita revindikasi adalah bentuk upaya pemilik barang yang sah untuk menuntut kembali barang miliknya dari pemegang yang menguasai barang tersebut tanpa hak. Untuk menjamin barang tersebut tidak digelapkan atau dialihkan tergugat selama proses pemeriksaan perkara berlangsung, maka penggugat memohon agar pengadilan meletakkan sita terhadap barang milik penggugat yang dikuasai tergugat tanpa hak tersebut.

b. Syarat Sita Revindikasi

Syarat sita revindikasi (revindikatoir beslaag) adalah :

1) Obyek sita revindikasi adalah barang bergerak (Pasal 226 ayat (1) HIR).

Dengan demikian obyek sita revindikasi adalah barang bergerak milik penggugat yang ada pada tergugat.

2) Pemohon sita revindikasi adalah pemilik barang. Permohonan sita revindikasi tidak dapat diajukan oleh penyewa atau peminjam untuk membayar ganti rugi, tetapi harus diajukan oleh pemilik barang yang sesungguhnya.

3) Obyek sita yang ada pada tergugat dikuasai oleh tergugat dengan tanpa hak. Pasal 1977 ayat (2) KUH Perdata menyebutkan, pemilik barang dapat menuntut kembali barang miliknya dari orang lain yang menguasainya, apabila penguasaan itu berdasarkan hasil pencurian atau tindakan lain yang bertentangan dengan hukum.

4) Barang yang akan disita harus disebut secara jelas dan rinci dalam surat permohonan (Pasal 266 ayat (2) HIR). Barang yang akan disita disebutkan jenis, jumlah, merk, atau identitas maupun sifat yang melekat pada barang tersebut. Tidak disebutkannya hal tersebut dapat dijadikan dasar oleh pengadilan untuk menolak permohonan sita.

c. Cara Pelaksanaan Sita Revindikasi

Cara pelaksanaan sita revindikasi mengacu pada Pasal 197 dan Pasal 226 HIR. Hal ini juga ditegaskan dalam Pasal 718 Rv, bahwa cara pelaksanaan sita revindikasi diberlakukan seperti penyitaan eksekusi barang bergerak. Adapun cara pelaksanaan sita revindikasi adalah :

1) Ketua pengadilan atau majelis hakim yang memeriksa perkara mengeluarkan penetapan sita revindikasi, yang berisi :

- Pertimbangan atas dikabulkannya permohonan sita.

- Perintah pelaksanaan sita kepada panitera atau jurusita.

(7)

- Menyebutkan secara rinci dan jelas barang yang akan disita dari tergugat.

2) Penetapan pelaksanaan sita diberitahukan kepada tergugat. Pemberitahuan tersebut berisi :

- Jam, hari, tanggal, bulan dan tahun pelaksanaan sita.

- Menyebutkan dengan jelas dan rinci barang dan tempat penyitaan.

- Pemberitahuan kepada tergugat untuk menghadiri pelaksanaan penyitaan (Pasal 197 ayat (5) HIR). Ketidak hadiran tergugat dalam penyitaan setelah diberitahukan kepadanya, tidak menghalangi sahnya penyitaan menurut hukum. Olehnya itu ketidak hadiran tergugat tidak dapat dijadikan alasan untuk menunda penyitaan.

3) Dalam melaksanaan penyitaan, jurusita dibantu oleh dua orang saksi (Pasal 197 ayat (6) HIR, yaitu :

- Saksi harus penduduk Indonesia, berumur 21 tahun dan dapat dipercaya.

- Nama, pekerjaan, dan tempat tinggal saksi disebut dalam berita acara penyitaan.

4) Pelaksanaan penyitaan dilakukan di tempat barang berada (Pasal 197 ayat (9) HIR). Penyitaan tidak dapat dilakukan di luar tempat barang tersebut berada. Jurusita dan saksi yang melaksanakan penyitaan langsung mendatangi tempat barang yang akan disita berada.

5) Jurusita setelah melakukan penyitaan, diwajibkan membuat berita acara penyitaan sebagai syarat sahnya penyitaan (Pasal 197 ayat (5) dan ayat (6) HIR). Dalam berita acara penyitaan memuat :

a) Nomor, tanggal dan tahun surat perintah sita sebagai dasar pelaksanaan sita.

b) Jam, tanggal, hari, bulan dan tahun pelaksanaan sita.

c) Nama, umur, pekerjaan dan tempat tinggal para saksi.

d) Menyebut secara jelas dan rinci jenis dan jumlah barang yang disita.

e) Apabila tersita hadir, dibuat penjelasan bahwa berita acara sita dibuat di hadapan tersita. Apabila tersita tidak hadir dicatat juga dalam berita acara sita.

f) Penegasan penjagaan barang sitaan, diserahkan kepada pihak tersita.

g) Berita acara sita ditandatangani oleh jurusita dan kedua orang saksi.

h) Menyatakan sita sah dan berharga.

6) Meletakkan barang sitaan di tempat barang tersebut berada dan penjagaan terhadap barang tersebut diserahkan kepada tersita.

7) Memanggil para pihak (penggugat dan tergugat) untuk menghadiri sidang.

8) Apabila gugatan dikabulkan, diperintahkan kepada hakim untuk menyatakan sita sah dan berharga goed en van waarde verklaren.

9) Memerintahkan kepada tergugat untuk menyerahkan barang sitaan kepada penggugat.

10) Apabila gugatan ditolak, dan sita revindikasi telah diletakkan terhadap barang bergerak, maka penolakan tersebut harus disertai dengan amar putusan yang berisi perintah pencabutan sita.

3. Sita Harta Bersama (Marital Beslaag)

(8)

a. Pengertian Sita Harta Bersama (Maritaal Beslaag)

Sita harta bersama (maritaal beslaag) adalah bentuk sita khusus yang diterapkan terhadap harta bersama suami isteri, apabila terjadi sengketa perceraian atau pembagian harta bersama.

Sita marital, berasal dari bahasa Belanda Maritaal Beslaag (mengandung makna menempatkan isteri di bawah suami dalam perkawinan), disebut juga Matrimonial Beslaag (mengandung makna kesetaraan antara suami isteri dalam perkawinan). Dalam sistem hukum di Indonesia, dapat dipergunakan istilah sita harta bersama atau sita harta perkawinan atau sita harta benda suami isteri, tetapi yang paling praktis dan efektif adalah istilah “sita harta bersama” (Yahya Harahap, 2007 : 368). Penyebutan sita harta bersama menunjukkan kedudukan yang setara (equal) antara suami isteri isteri dalam rumah tangga (Pasal 31 ayat (1) UU. No. 1 Tahun 1974).

b. Tujuan Sita Harta Bersama

Tujuan utama diletakkan sita harta bersama (marital beslaag) adalah : 1) Untuk membekukan harta usaha bersama suami isteri melalui penyitaan,

agar harta tersebut tidak berpindah kepada pihak ketiga selama proses perkara berlang-sung. Dengan adanya penyitaan terhadap harta usaha bersama, baik tergugat maupun penggugat (suami isteri) dilarang memindahkannya kepada pihak lain dalam segala bentuk transaksi (Sudikno Mertokusumo, 1999 : 64).

2) Pembekuan harta usaha bersama di bawah penyitaan, bertujuan untuk mengamankan atau melindungi keberadaan dan keutuhan harta bersama dari tindakan yang tidak bertanggungjawab yang dilakukan tergugat.

Dengan tujuan yang demikian, maka pertimbangan pengadilan harus dititik beratkan pada pengamanan dan perlindungan eksistensi harta bersama, bukan pada dugaan atau persangkaan adanya upaya tergugat untuk menggelapkan atau menghilangkan harta bersama itu.

Tindakan pengamanan terhadap harta bersama dapat mengacu pada ketentuan Pasal 823 Rv yang menyebutkan tindakan pengamanan meliputi:

Penyegelan, pencatatan, penilaian harta bersama dan penyitaan harta bersama.

c. Penerapan Sita Harta bersama

Penerapan sita harta bersama meliuputi beberapa sengketa yang timbul antara suami isteri, yaitu :

1) Dalam perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama

Pasal 95 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam menye-butkan “Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 24 ayat (2) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 136 ayat (2), suami atau isteri dapat meminta Pengadilan Agama untuk meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama, seperti judi, mabuk, boros dan sebagainya”.

Selama masa sita dapat dilakukan penjualan atas harta bersama untuk kepentingan keluarga dengan izin Pengadilan Agama (Pasal 95 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam).

(9)

Dari ketentuan tersebut dapat difahami, bahwa dimungkinkan bagi suami atau isteri untuk mengajukan permohonan sita harta bersama diluar sengketa perceraian maupun pembagian harta bersama. Tanpa perkara apapun suami atau isteri dapat mengajukan permohonan sita secara berdiri sendiri kepada pengadilan, tanpa tergantung adanya perkara perceraian atau pembagian harta bersama.

2) Dalam Perkara Perceraian

Sita harta bersama (marital beslaag) yang paling utama diterapkan dalam perkara perceraian. Hal ini diatur dalam Pasal 78 huruf c Undang- Unadng Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Pasal 24 ayat (2) huruf c PP. No. 9 Tahun 1975 dan Pasal 136 ayat (2) huruf c Kompilasi Hukum Islam.

Apabila terjadi perceraian antara suami isteri, hukum memberikan perlindungan demi keutuhan dan keselamatan harta bersama, dapat diletakkan sita terhadap seluruh harta bersama, untuk mencegah perpindahan harta bersama tersebut kepada pihak ketiga.

Dengan demikian, pengajuan permohonan sita terhadap harta bersama dalam perkara perceraian adalah :

- Masing-masing pihak (suami/isteri) dapat menga-jukan permohonan sita harta bersama selama dalam proses pemeriksaan perkara perceraian.

- Dasar permintaan sita harta bersama, bukan berda-sarkan faktor kedudukan sebagai penggugat, tetapi berdasarkan pada faktor siapa yang menguasai harta bersama.

- Apabila harta bersama seluruhnya atau sebagian dikuasai oleh tergugat, maka penggugat dapat mengajukan permohonan sita harta bersama.

- Apabila harta bersama seluruhnya atau sebagian dikuasai oleh penggugat, maka tergugat dapat mengajukan permohonan sita harta bersama dengan cara mengajukan gugatan rekonvensi yang berisi tuntutan pembagian harta bersama disertai dengan permohonan sita seluruh harta bersama.

3) Dalam perkara pembagian harta bersama

Sita marital diterapkan juga dalam pembagian harta bersama. Suami isteri yang bercerai tanpa ada pembagian harta bersama, maka bekas suami atau bekas isteri yang ingin membagi harta bersama, hanya dapat dilakukan dengan mengajukan gugatan pembagian harta bersama. Untuk menjamin keutuhan serta keselamatan harta bersama selama proses pemeriksaan perkara berlangsung, hanya dengan cara meletakkan sita harta bersama (marital beslaag) di atas seluruh harta bersama.

d. Obyek Sita Harta Bersama

Obyek sita harta bersama adalah seluruh harta bersama penggugat dan tergugat. Tidak dibenarkan meletakkan sita hanya pada sebagian harta yang dikuasai oleh tergugat saja. Dengan demikian, penggugat maupun tergugat mempunyai keterikatan yang sama terhadap larangan memindahkan atau

(10)

menggelapkan harta bersama yang ada dalam penguasaannya kepada pihak ketiga.

Apabila penyitaan hanya dilakukan dan diletakkan di atas harta bersama yang dikuasai tergugat saja, padahal ada sebagian besar harta bersama dikuasai penggugat, berarti larangan untuk memindahkan atau menggelapkan harta sitaan tersebut kepada pihak ketiga, hanya meliputi barang yang disita yaitu terbatas pada barang yang dikuasai tergugat dan larangan tersebut seolah-olah tidak berlaku terhadap barang yang dikuasai penggugat karena tidak disita. Untuk menghindari terjadinya hal yang demikian ini, sangat layak dan beralasan apabila sita harta bersama meliputi seluruh harta bersama, baik yang dikuasai oleh tergugat maupun yang dikuasai oleh penggugat.

e. Kedudukan Harta Bawaan

Prinsip harta perkawinan diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, yaitu :

1) Harta Bersama :

- Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta benda bersama (Pasal 35 ayat (1) UU.No. 1 Tahun 1974).

- Mengenai harta bersama, suami isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.

2) Harta Bawaan :

- Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan selama perkawinan berlangsung adalah di bawah penguasaan masing-masing si penerima, sepanjang para pihak tidak menentukan lain (Pasal 35 ayat (2) UU. No. 1 Tahun 1974).

- Mengenai harta bawaan masing-masing, suami dan isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya (Pasal 36 ayat (2) UU. No.1 Tahun 1974).

Berdasarkan prinsip harta perkawinan tersebut, sita harta bersama tidak menjangkau harta bawaan masing-masing, yaitu harta yang telah dimiliki suami atau isteri sebelum perkawinan berlangsung maupun hadiah atau warisan yang diterima suami atau isteri selama perkawinan berlangsung. Aturan melarang meletakkan sita harta bersama terhadap harta bawaan masing-masing, karena harta tersebut diluar jangkauan sita harta bersama.

Apabila pengadilan terlanjur meletakkan sita harta bersama terhadap harta bawaan, maka sita tersebut harus segera diangkat dan dipulihkan kembali kedudukan dan penguasaannya kepada pemilik semula yang berhak.

f. Penjagaan dan Pemanfaatan Barang Sitaan

Penjagaan barang sitaan menurut ketentuan Pasal 197 ayat (9) HIR diserahkan kepada tersita. Apabila barang yang disita ada pada penggugat, maka penjagaannya diserahkan kepada penggugat dan apabila barang yang disita ada pada tergugat, maka penjagaannya diserahkan kepada tergugat.

Sedangkan pemanfaatan barang yang disita sesuai ketentuan Pasal 823 Rv adalah :

(11)

- Peletakan sita harta bersama terhadap barang bergerak atau tidak bergerak tidak menghalangi suami atau isteri untuk memanfaatkan apa-apa yang dihasilkan barang tersebut.

- Pemanfaatan barang yang disita tersebut, tidak boleh mengurangi pemenuhan fungsi dan kewajiban yang ditentukan undang-undang, seperti membayar biaya pendidikan, kesejahteraan keluarga dan anak-anak, atau tidak boleh mengusir pihak lain dari rumah kediaman semula.

- Atas pemanfaatan hasil dari barang yang disita, satu pihak dibebani kewajiban untuk membagi hasil yang diperoleh kepada pihak lain.

g. Berakhirnya Sita Harta Bersama

Sita harta bersama berakhir apabila :

1) Gugatan perceraian atau pembagian harta bersama ditolak pengadilan (Pasal 823 Rv). Penolakan gugatan harus disertai dengan:

- Pengangkatan sita harta bersama, serta

- Pencoretan pendaftaran dan pengumumannya pada buku register (Pasal 830 Rv).

2) Berdasarkan penetapan pengangkatan sita yang dikeluarkan pengadilan atas permohonan salah satu pihak (Pasal 823 huruf c dan huruf h Rv).

3) Gugatan perceraian dan pembagian harta bersama dikabulkan, kemudian berdasarkan putusan tersebut, telah dilaksanakan pembagian harta bersama.

h. Permohonan Pengangkatan Sita

Permohonan pengangkatan sita dapat mengacu pada Pasal 823 h Rv yang menentukan :

- Suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pengangkatan sita harta bersama.

- Permohonan pengangkatan sita harta bersama dapat diajukan terhadap semua atau sebagian dari harta yang disita.

- Permohonan dan pengabulan pengangkatan sita disertai syarat yang harus dipenuhi, yaitu pemohon memberi jaminan yang cukup yang disetujuan pihak lain.

4. Sita Persamaan (Vergelijkende Beslaag) a. Pengertian Sita Persamaan

Vergelijkende Beslaag diterjemahkan sita penyesuaian (Marianne Termorshuizen, 1999 : 466), tetapi ada yang menggunakan istilah sita persamaan atau sita perban-dingan, namun dalam pembahasan ini menggunakan istilah sita persamaan.

Sita persamaan tidak diatur dalam HIR maupun R.Bg, tetapi diatur dalam Pasal 436 Rv, yang menentukan :

- Sita jaminan, sita eksekusi atau sita pada umumnya, hanya boleh diletakkan satu kali terhadap suatu barang yang sama pada saat yang bersamaan.

- Apabila pihak penggugat memohon meletakkan sita terhadap barang tergugat yang telah diletakkan sita sebelumnya, maka :

+ Permohonan tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima.

+ Sebagai gantinya, hanya dapat diletakkan sita persamaan, yang dinyatakan dan dicatat dalam berita acara sita, yang menjelaskan, oleh

(12)

karena terhadap barang yang diminta untuk disita telah terlebih dahulu disita atas permintaan orang lain, maka yang dapat dikabulkan adalah sita persamaan.

b. Cara Pelaksanaan Sita Persamaan

Cara pelaksanaan sita persamaan dapat diperhatikan Putusan MA. No.

1326 K/Sip/1981 yang menyebutkan, jika barang yang akan disita jaminkan telah disita dalam perkara lain, atau telah dijaminkan kepada orang lain atau telah disita eksekusi, maka pengadilan hanya boleh memberi dan meletakkan sita persamaan, dengan cara mencatat dalam berita acara bahwa barang yang bersangkutan telah dan sedang berada di bawah sita jaminan atau diagunkan kepada pihak lain.

c. Kedudukan Pemegang Sita Persamaan

Kedudukan pemegang sita persamaan terhadap barang yang disita atau diagunkan kepada orang lain, secara hukum adalah :

• Berada setingkat di bawah pemegang sita atau agunan yang pertama.

• Pemenuhan pembayaran terhadap barang sitaan, diberikan prioritas pertama kepada pemegang sita atau agunan. Jika hasil penjualan barang sitaan melebihi tuntutan pemegang sita atau agunan, maka sisa tersebut menjadi hak pemegang sita persamaan.

• Selama sita atau agunan belum diangkat, maka kedudukannya tetap sebagai pemegang sita persamaan.

• Apabila sita jaminan atau agunan terdahulu diangkat, maka posisi, hak dan kedudukan pemegang sita persamaan dengan sendirinya menurut hukum kembali menjadi pemegang sita jaminan (CB).

4. Sita Buntut

Sita buntut adalah istilah sita yang dipakai dalam Buku II Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Agama, yaitu permohonan sita jaminan yang diajukan setelah putusan pengadilan tingkat pertama dijatuhkan dan belum berkekuatan hukum tetap (Pasal 227 ayat (1) HIR/ Pasal 261 ayat (1) RBg dan Pasal 720 Rv).

Pengajuan permohonan sita dan lain sebagainya yang terkait dengan sita buntut, sama dengan pembahasan yang ada dalam sita jaminan pada umumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Menghukum Penggugat rekonpensi dan Tergugat rekonpensi untuk me- laksanakan pembagian harta bersama pada diktum angka 2.2 di atas de- ngan bagian seperti diktum angka 3 di

Atas tindakan Tergugat yang tidak menerbitkan Surat Keputusan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu 4 bulan sejak diterimanya permohonan Penggugat pada tanggal

- Bahwa, Penggugat dan Tergugat sudah sulit untuk dirukunkan kembali karena Penggugat sudah tidak mau hidup bersama Tergugat; --- Bahwa, atas keterangan Saksi tersebut,

Bahwa sehubungan dengan itu untuk mendapatkan kepastian hokum atas harta - harta yang diperoleh selama dalam perkawinan penggugat dan tergugat, maka penggugat

Penggugat dan Tergugat; --- ---Menimbang, atas keterangan kedua orang saksi tersebut, Penggugat menyatakan tidak keberatan dan dapat menerima atas keterangan kedua

Tergugat membantah tegas pernyataan Pengugat dalam pelecehan seksual terhadap adik Penggugat, Tergugat dalam hal ini sudah meminta maaf ke orang tua Penggugat

Menimbang, bahwa Penggugat mengajukan gugatan harta bersama (gono gini) dengan mendalilkan, antara Penggugat dengan Tergugat telah menikah pada tanggal 24 Maret

Selain penggugat pihak yang mengajukan gugatan karena merasa haknya dirugikan dan tergugat pihak yang ditarik ke pengadilan karena dianggap telah merugikan pihak penggugat kemungkinan