HUKUM
ISLAM BAB I
Nama : Muhammad Ikhsan Npm : 2010012111268
Kelas : IH/ 6 A
Dahulu, di semua Sekolah Tinggi (Fakultas)Hukum (RechtsHogeschool) yang didirikan oleh Pemerintah Belanda, baik di negeri Belanda maupun di daerah jajahannya (Batavia) tercantum matakuliab hukum Islam dalam kurikulumnya.Mata kuliah hukum Islam inereka sebut dengan Mohammedaansch Recht atau Mohammedan Law. Tradisi ini dilanjutkan oleh fakultas hukum yang didirikan setelah Indonesia merdeka.
Beberapa alasan dipelajarinya hukum islam di fakultas hukum (Ali, 2011:4), antara lain :
Penduduk muslim yang mendiami Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 2019 berjumlah 207,2 juta jiwa (87,2 %) dari keseluruhan penduduk Indonesia beriumlah 267 juta orang (databoks,2019). Ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk yang mendiami Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah pemeluk agama Islam.
Karena penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, maka perlu diberikan pemahaman tentang keislaman terhadap mahasiswa fakultas hukum khususnya, karena mereka akan bekeria dan kembali kepada masyarakat
2. ALASAN
PENDUDUK
I. ALASAN SEJARAH
Hukum Islam yang berlaku di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni : a. Secara Normatif
Hukum Islam mempunyai sanksi kemasyarakatan apabila norma-normanya dilanggar. Pelanggaran norma ini sanksinya dosa yang diberikan Allah SWT dan sanksi pidana.
b. Secara Formal Yuridis
Hukum Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan benda dalam masyarakat. Bagian hukum Islam ini meniadi hukum positif berdasarkan atau karena ditunjuk oleh peraturan perundang-undangan seperti hukum perkawinan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana dirubah dengan Undang-undang Nomor16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Ferkawinen, hukum wakaf (Undang-undang Nomor 41 Tatun 2004 tentang WakaD, hukum zakat (Undang- undang Nomor 23 taun 2011 tentang Pengelolaan Zakay, hukum kewarisan sebagaimana dimuat dalam Kompilsi Fukum Islam (Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam) dan sebagainya. Dalam menegakkan hukum Islam yang telah menjadi hukum positif itu, maka disahkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama kemudian dirubah menjadi Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua &tas Undang-undang Nomor 7 tahun 1999 tentang Peradilan Agama. Dibidang perbankan diatur dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah.
3. ALASAN YURIDIS
Dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-undang Dasar1945 dinyatakan bahwa Negara (Republik Indonesia) berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Maka menurut Hazairin bahwa dalam Negara Republik Indonesia tidak bolch terjadi atau berlaku sesuatu yang bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam bagi umat Islam, atau yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama Nasrani bagi umat Nasrani,atau yangbertentangan dengan kaidah-kaidah agama Hindu bagi umat Hindu atau yang bertentangan dengan kesusilaan agama Budha bagi orang Budha. Kemudian Negara Republik:
Indonesia wajib menjalankcan syariat Islam bag orang Islam, ajaran Nasrani bagi orang Nasrani, ajaranHindu bagi orang Hindu, tersebut memerlukan perantaraan kekuasaan Negara.
Negara Republik Indonesia wajib melidungi dalam makna menvediakan fasilitas agar hukum yang berasal dari agama yang dipeluk bangsa Indonesia dapat terlaksana sepanjang pelaksanaan hukum agama itu memerlukan bantuan alat kekuasaan atau per:yelenggara negara. Artinya, penyelengara negara berkewajiban melindungi agama yang dipeluk oleh bangsa Indonesia untuk kepentingan pemeluk agama bersangkutan.Misalnya hukum perkawinan, hukum harta kekayaan, hukum wakaf, hukum kewarisan, hukum zakat dan hukum penyelenggaraan haji. Ajaran agama yang tidak memerlukan bantuan kekuasaan negara untuk melaksanakannya karena dapat dijalankan sendiri oleh setiap pemeluk agama yang bersangkutan, menjadi kewajiban pribadi pemeluk agama itu sendiri menjalankannya menurut agamanya masing- masing. Ini berarti bahwa hukum yang berasal dari suatu agama yang diakui di negara Indonesia yang dapat dijalankan sendiri oleh masing-masing pemeluk agama bersangkutan, misalnya hukum-hukum yang berkenaan dengan ibadah seperti shalat.
4. ALASAN
KONSTITUSONAL
Sebagai bidang ilmu, hukum Islam telah lama dipelajari secara ilmiah, bukan saja ole orang-orang Islam itu sendiri tetapi juga oleh orang-orang nonmuslim.Orang Barat nonmuslim ini disebut dengan istilah orientalis, mereka mempelajari hukum Islam dengan berbagai tujuan diantaranya :
a. Orang Eropa mempelajari Islam dan hukum Islam untuk menyerang Islam dari dalam dengan cara mencari-cari atau mengada-adakan kelemahannya.Seperti yang dilakukan oleh Christian Snouck Hurgronje yang terkenal dengan teori resepsi dan politik Islamnya yang memuat garis-garis besar Kebijaksanaan Pemerintahan Hindia Belanda dahula dalam menghadapi dan mengendalikan Islam diIndonesia.b.
b. Orang orientalis mempelajari Islam dan hukum Islam untuk memahami Islam dan umat Islam guna mengembangkan kerja sama dengan negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.Dalam rangka pengkajian hukum Islam di luar wilayah negeri atau negara Islam, selain dari mimbar kuliah tersendiri, telah diselenggarakan berbagai seminar ilmiah. Di antaranya adalah seminar hukum Islam yang diadakan di negeri Belanda pada tahun1932, 1937 dan 1948. Dalam seminar lanjutan yang diselenggarakan di Paris pada tahun 1952 para peserta menghadiri Pekan hukum Islam itu, yang terdiri dari para ahli perbandingan hukum, menyatakan bahwa :
1) Asas-asas hukum Islam mempunyai nilai yang tinggi yang tidak dapat dipertikaikan lagi.
2) Dalam berbagai mazhab yang ada di dalam lingkungan besar hukum Islam terdapat kekayaa! penikiran hukum serta teknik yang mengagumkan yang memberi kemungkinan kepada hukum Islam untuk berkembang memenuhi semua kebutuhan dan penyesuaian yang dituntut olch kehidupan modern.Pertemuan ilmiah mengenai hukum Islam pada tahun tujuh puluhan dan sesudahnya telah pula diselenggarakan di Roma, Paris, Genewa dan Strasbourg.
5. ALASAN
ILMIAH
Menurut Suparman Usman (2001:6) bahwa berdasarkan landasan filosofis danyuridis, hukum yang berlaku di Indonesia mengandung dimensitransendental dan horizontal. Hukum dalam dimensitransendental berkaitan erat dengan substansi danpengamalan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pasal 29 UUD 1945 sebagaimana tersebut di atas. Sementara itu, hukum dalam dimensi horizontal adalah tataaturan hidup yangmengaturhubungan kehidupan manusia.
Ada hubungan yang erat antara Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara, dengan UUD 1945 sebagai hukum dasar yang dijiwai oleh dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Piagam Jakarta. Hukum dalam pandangan bangsa Indonesia adalah norma yang substansinya harus memenuhi kumulasi dimensi transendental dan horizontal. Hukum hanya mungkin berlaku efektif dalam masyarakat, apabila hukum itu mencerminkan nilai-nilai yang secara filosofis diyakini kebenarannya oleh masyarakat tempat hukum itu diberlakukan (Usman,2001:7). Hukum Islam merupakan hukum yang hidup dan sudah barang tentu diyakini kebenarannya oleh masyarakat yang beragama Islam.