Nama : Kartiko Bagas Swasono Pramudita NIM : 21406241020
Angkatan : 2021 Kelas : B
Mata Kuliah : Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional Dosen Pengampu : - Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd.
- Alifi Nur Prasetia Nugraha, M.Pd.
TUGAS SUMMARY BUKU
A. Identitas Buku
Judul : Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme
Pengarang : Sartono Kartodirdjo Penerbit : Penerbit Ombak Tebal Buku : xxxvii + 330 hlm Cetakan : Terbitan I
ISBN : 978-602-258-199-4
B. Identitas Penulis
Sartono Kartodirjo lahir di Wonogiri pada 15 Februari 1921, merupakan Guru Besar Ilmu Sejarah pada Universitas Gajah Mada dan merupakan Anggota Dewan Riset Nasional. Beliau tamat dari Jurusan Sejarah Universitas Indonesia pada tahun 1956, kemudian melanjutkan studi dan memperoleh gelar M.A dari Yale University, Amerika Serikat di bawah bimbingan Prof H.J Benda. Pada 1966, Sartono Kartodirjo meraih gelar doktor dari Universitas Amsterdam.
Beliau kemudian menjadi ketua umum Seminar Sejarah Nasional II (1970), President International Conference of International Association for Historians of Asia (IAHA) tahun 1971-1974. Aktif dalam konferensi IAHA di Singapura (1961), Kuala Lumpur (1968), dan Manila (1971), Oriental Conggres di Canberra (1971) dan Paris (1973), serta ikut dalam seminar On Peasant Organization di New York (1975). Sartono Kartodirdjo juga dikenal menghasilkan banyak karya buku, salah satunya yang terkenal adalah Pemberontakan Petani Banten 1888.
C. Rangkuman Isi
Buku ini terdiri dari sembilan bab, yang dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah mengenai politik kolonial Belanda. Bab yang masuk pada bagian pertama ini adalah bab satu dan bab dua. Bab satu berjudul politik kolonial Belanda abad ke-19. Bab tersebut berisi tentang kondisi politik di era kolonialisme Belanda. Pada awal bab, dijelaskan secara umum tentang bagaimana imperialisme berkembang di Hindia Belanda, lalu politik konservatif yang mulai berlaku pada 1800.
Politik konservatif tersebut merupakan peninggalan VOC yang dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Belanda saat itu. Politik konservatif tersebut akhirnya runtuh pasca Perang Diponegoro pada 1830 dan seiring melunturnya nilai-nilai politik konservatif. Lunturnya hal tersebut dibarengi dengan dikenalnya sistem Cultuurstelsel. Culturstelseel ini merupakan sistem tanam paksa dengan menyesuaikan adat masyarakat pribumi saat itu, walaupun tidak dapat
dipungkiri pribumi juga sengsara dengan adanya kebijakan tersebut. Tak heran jika Cultuurstelsel mendapatkan banyak kecaman.
Cultuurstelsel kemudian berubah lagi dengan politik liberal pada tahun 1850-1870. Di masa itu, kemajuan teknologi sedang pesat-pesatnya, hal itu juga terjadi di Hindia Belanda, sehingga perubahan-perubahan pun muncul. Hindia Belanda yang terpengaruh negara induk jajahannya mulai bergeser ke ranah industri. Industri tersebut berdampak pada eksploitasi besar-besaran terhadap pribumi sehingga membuat gelombang protes datang dari kalangan parlemen.
Protes dari parlemen, terutama anggota dari Partai Liberal membuat kebijakan pemerintah kolonial kembali berubah. Hal tersebut kemudian membuat arah politik pemerintah kolonial bergeser dari politik kolonial liberal ke politik etis pada 1870 sampai dengan 1900. Politik etis yang dicetuskan Van Deventer ini menyebabkan beberapa sistem terdampak, utamanya sistem pendidikan. Meskpun pada akhirnya juga, pendidikan yang dilakukan pada politik etis juga hanya berorientasi kembali ke industri, karena fokus pemerintahan kolonial hanya pada pendidikan sebagai alat untuk memproduksi tenaga kerja yang mumpuni.
Penjelasan pada bab pertama tersebut sebenarnya menunjukkan jika kepentingan ekonomi merupakan faktor penting dari imperialisme, meski kepentingan ekonomi juga bukan faktor satu-satunya yang menentukan.
Konsep ekonomi mengenai imperialisme ini wajib dipandang dalam perspektif historis masing-masing negeri.
Memasuki bab kedua, pembahasan bergeser pada politik kolonial Belanda antara Perang Dunia I dan II. Belanda menganggap bahwa mereka adalah mandataris Hindia Timur dan melaksanakan tanggung jawa dualistis pada kekuasaan yang mengawasinya. Hal tersebut justru kontra dengan keadaan yang ada.
Selain itu, Belanda tampak seperti likuidasi dalam menjalankan kolonialismenya. Hal itu disebabkan oleh dua kekuatan pokot, yaitu setelah
Perang Dunia II, problematika kolonial menjadi masalah dunia internasiona, dan nasionalisme yang semakin berkembang di jajahan dapat menggerakan kekuatan untuk melawan dominasi kolonialisme.
Setelah bagian satu yang berisi bab pertama dan bab kedua membahas secara kompleks mengenai politik kolonial Belanda, mulai dari awal imperialismenya hingga politik etisnya, pada bagian kedua ini sudah mulai membahas tentang bagaimana pergerakan nasional Indonesia berjalan pada tahun 1900 hingga 1942. Bagian kedua ini dimulai dari bab ketiga yang membahas tentang kehidupan kota di Hindia Belanda, khususnya pada tahun 1900.
Di bab ketiga tersebut, dibahas kondisi perkotaan pada akhir abad ke 19 sampai dengan awal abad ke 20 yang saat itu masih cukup sepi. Kebanyakan tata letak kota hanya bangunan pemerintahan bupati yang menonjol. Selain itu juga pasar, gedung residen, penjara, dan alun-alun. Diibaratkan, kota-kota saat itu hanya punya bangunan sedikit dan yang penting saja. Namun seiring berkembangnya waktu, industri yang semakin masif juga akhirnya membuat perkotaan di Hindia Belanda semakin bertambah secara nilai ekonomi dan infrastrukur fisiknya.
Perkembangan kota tersebut akhirnya berdampak pada berbagai bidang yang ada, utamanya ekonomi, lalu pendidikan, sosial, dan budaya. Dalam bidang pendidikan, pada kurun waktu abad 20 awal pertumbuhan sekolah menjadi sangat signifikan. Lingkungan sosial masyarakat juga terdampak dengan adanya re-stratifikasi kelas masyarakat. Stratifikasi tersebut adalah penggolongan masyarakat yang didasarkan jabatan maupun kondisi ekonomi.
Penggolongan tersebut kemudian dilanggengkan dengan praktik feodalisme yang semakin gencar di lakukan oleh kalangan bangsawan pribumi.
Perkotaan yang semakin berkembang tersebut kemudian membuat kebudayaan menuju ke arah modernisasi. Hal itu dibahas dalam bab keempat,
mengenai tradisi dan modernisasi. Tradisi Indonesia mempunyai perkembangan yang pesat akibat perkembangan industri kolonial.
Tradisi Indonesia masa itu menghadapi perubahan social yang disebabkan oleh tekanan sistem kolonial pada satu pihak, ditambah lagi terbukanya masyarakat pribumi terhadap pengaruh dari luar, sehingga memaksa tradisi mengalami keretakan yang semakin lama membuat adanya krisis. Kekuatan sosial ekonomi menimbulkan kondisi hidup masyarakat yang baru, mengakibatkan sistem tertutup masyarakat kala itu terdobrak dan menjadi lebih terbuka.
Terbukanya sistem masyarakat tersebut berdampak pada adnya kesempatan menempuh pelajaran di sekolah barat, kesempatan bergaul dengan bangsa dan golongan lain, kesempatan bepergian dan berkenalan dengan dunia luar, kesempatan mengenal adat istiadat yang berasal dari wilayah lain, serta peradaban asing. Semua itu menimbulkan kesadaran terhadap keterbatasan dan relativitas kebudayaan sendiri. Kejutan kultural terjadi, banyak persoalan muncul sekitar tradisi sendiri sehingga krisis pun meledak dalam kehidupan tradisional. Nilai-nilai terguncang dan dipertanyakan relevansinya dengan era yang baru, banyak lambing kehilangan maknanya, orientasi hidup tidak baik lagi, dan pendeknya tradisi mulai melemah pada dasarnya.
Selain dibahas tentang bagaimana tradisi-tradisi tradisonal mulai terbuka, dibahas juga mengenai beberapa organisasi pergerakan awal seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan peran golongan Cina. Selain itu, juga dibahas mengenai perkembangan surat kabar dan pers serta perannya dalam pergerakan nasional Indonesia.
Fungsi pers ketika itu membantu menumbuhkan kritik dalam masyarakat, kesadaran kolektif, dan solidaritas umum, sehingga dengan demikian berbagai gerakan sebagai tempat aksi kolektif mendapat dukungan kuat. Tak mengherankan jika akhirnya aliran dan gerakan yang banyak itu memiliki pers
sendiri dengan fungsi sebagai juru bicara organisasi. Secara umum surat kabar sudah memakai Bahasa Melayu untuk penulisannya.
Setelah pembahasan mengenai tradisi Indonesia yang semakin modern, di bab kelima dibahas tentang perkembangan politik dan pertumbuhan organisasi politik. Abad 20 awal memang dikenal sebagai masanya kebangkitan nasional.
Situasi kolonial merupakan akar dari segala keterbelakangan diterima dan tak dipersoalkan, meski ketimpangan sosial sering mengundang kecaman umum yang keras, aksi, ataupun protes.
Perkembangan politik dan pertumbuhan organisasi politik tersebut kemudian mengalami proses radikalisasi. Boedi Oetomo dan Sarekat Islam sebagai organisasi pergerakan pertama yang awalnya kooperatif, lunak, dan tunduk terhadap pemerintah kolonial Belanda, menjadi ke arah radikal dan keras seiring berjalannya waktu, apalagi ditambah kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang represif, sehingga perlu adanya perlawanan yang keras.
Pembahasan bab kelima tentang politik dan organisasi pergerakan cukup kompleks, bahkan hingga membahas sampai polarisasi dan radikalisasinya.
Setelah pembahasan yang banyak tentang organisasi politik, masuk ke bab keenam. Bab keenam membahas tentang suasana baru sesudah 1926. Hal itu dilatarbelakangi dengan pemberontakan PKI pada periode tahun 1926/1927.
Pemberontakan PKI itu juga salah satu akibat dari radikalisasi organisasi pergerakan politik nasional masa itu.
Keadaan pasca 1926 cenderung kembali untuk memulai membangun pergerakan nasional. Pasca 1926, memang banyak kebijakan represif dari pemerintahan kolonial Belanda. Banyak penangkapan tokoh pergerakan dan pembubaran organisasi.
Hal tersebut kemudian memunculkan gaya yang baru dalam pergerakan nasional. Salah satu kebaharuan itu adalah berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI). PNI sendiri merupakan partai dengan basis dan dasar nasionalisme, berbeda dengan organisasi pergerakan sebelumnya yang punya kecenderungan
berhaluan komunis ataupun pan-islamisme. PNI sendiri bisa diibaratkan sebagai wujud integrasi nasional.
Arah integrasi itu tak hanya dilakukan oleh PNI, tetapi juga dilakukan oleh Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
PPPKI itu merupakan wadah untuk menghimpun organisasi-organisasi pergerakan. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk organisasi pergerakan dapat mempunyai kekuatan besar yang secara bersamaan diharapkan dapat menekan pemerintah kolonial Belanda saat itu.
Selain itu, dalam bab keeanm dibahas juga tentang dampak penahanan pemimpin organisasi, lalu ideologi politik yang berkembang setelah pemberontaka PKI 1926, permasalahan persatuan, dan yang terakhir adalah berakhirnya masa non-kooperasi di Indonesia. Pembahasan mengenai keadaan Indonesia pasca 1926 kemudian berlanjut pada pembahasan tentang krisis dunia dan politik kolonial yang ada pada bab ketujuh.
Pada bab ini, dibahas tentang Petisi Soetardjo, sebuah petisi mengenai tuntutan kemerdekaan Indonesia, meskipun tidak secara murni. Selain itu, juga dibahas mengenai Gabungan Politik Indonesia (GAPI) dan peran GAPI dalam mencetuskan “Indonesia Berparlemen”. Di dalam bab ini juga, dibahas juga tentang perjuangan yang mengarah pada persatuan dan kesatuan selam masa perang, dengan munculnya Mosi Thamrin, Mosi Kewargaan Hindia, Mosi Wiwoho, dan Memorandum GAPI. Yang terakhir, bab ini membahas tentang apoteose Masa Kolonial Belanda atau polarisasi antara kaum konservatif dan kaum progresif sehingga semakin melemahkan legitimasi pemerintahan kolonial Belanda.
Setelah bab ketujuh, bagian pada buku ini kemudian masuk pada bagian terakhir buku, yaitu bagian ketiga yang akan mengkaji mengenai sejarah analitik struktural. Bagian ketiga ini berbeda dengan dua bagian sebelumnya yang lebih menelisik bagaimana peristiwa, tokoh, dan keadaan sosial pada masa
pergerakan nasional, bagian ini cenderung secara tulisan lebih ilmiah, dalam mengkaji sejarah pergerakan nasional itu sendiri.
Bagian ketiga ini terdiri dari dua bab, yaitu bab kedelapan tentang stratifikasi sosial pada masyarakat kolonial dan bab kesembilan tentang sejarah analitik struktural nasionalisme Indonesia. Bab kedelapan membahas tentang persolan dan ruang lingkup, lalu latar belakang tradisional, masyarakat kolonial dan strukturalnya, serta bagaimana peranan pendidikan.
Secara menyeluruh, aspek kehidupan sosial pada periode kolonialisme adalah terdapatnya jurang-jurang yang memisahkan ras pribumi dengan ras asing sebagai penjajah. Kemudian memasuki bab kesembilan atau menjadi bab yang paling akhir ini, mengungkap bagaimana struktur nasionalisme Indonesia dalam membentuk pergerakan.
Bab kesembilan ini membahas mengenai tujuan, terminologi, dan pendekatan, lalu aspek-aspek multidimensional yang digunakan dalam menganalisis mengenai sejarah pergerakan nasional, seperti aspek ekonomi, sosial, kebudayaan, dan politik, lalu beberapa unsur nasionalisme Indonesia yang terdiri dari aspek kognitif, aspek orientasi nilai/tujuan, serta aspek afektif.
Yang terakhir, adalah membahas tentang antithesis kolonial.
Dapat diambil kesimpulan bahwa buku ini memaparkan bahwa kekuasaan kolonial bersikap dengan memusuhi pergerakan nasional. Kekuasaan tersebut mempertahankan tata tertib yang ada. Ideologi kolonial tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa orientasinya adalah ke masa yang lampau daripada ke masa depan.
Ditinjau secara umum, buku ini memaparkan awal mula praktis imperialisme dan kolonialisme Belanda dari tahun 1850 hingga 1900. Bab ini juga menjelaskan bagaimana kondisi sosial-budaya dan politik masa kolonial pada bab-bab berikutnya mengarah pada periode pergerakan nasional yang ditandai dengan munculnya organisasi.
Pada mulanya Belanda menggunakan praktek-praktek kolonialisme pada tahun 1850-1900. Mereka tidak hanya memperkenalkan kebijakan memeras rakyat, tetapi juga membuka kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk mengenyam pendidikan selama periode ini. Apa yang disebut pedoman etika.
Meskipun pada awalnya hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan, sedikit demi sedikit penduduk pribumi juga diperbolehkan bersekolah, meskipun perilaku mereka berbeda.
Keberadaan sekolah adat menyebabkan munculnya banyak jenis organisasi.
Organisasi pertama yang muncul adalah Boedi Oetomo. Setelah itu banyak dibentuk organisasi yang bergerak di berbagai bidang, seperti Sarekat Islam yang berpuncak pada acara Sumpah Pemuda. Periode ini disebut periode pergerakan nasional.
D. Kelebihan
Sartono menulis buku pengantar sejarah Indonesia baru dengan menggunakan berbagai sumber yaitu sumber dari buku asing, majalah asing dan dokumen berupa tabel. Dokumen sumber berupa tabel ini adalah jumlah sekolah, guru, dan murid penduduk Hindia Belanda di sekolah-sekolah bahasa Belanda pada tahun 1935. Penulis bertujuan menguraikan masalah-masalah sejarah bangsa-bangsa. pergerakan di Indonesia.
Penulis juga menghindari metode kronologis karena ruang lingkupnya terbatas. Sudut pandang penulis cenderung ke arah masyarakat adat. Penulis mengatakan bahwa Belanda memperlakukan rakyat Indonesia sebagai objek dan bukan peserta aktif dalam pemerintahan. Diskriminasi rasial hadir di hampir setiap bidang kehidupan sosial, masyarakat adat berada di lantai paling bawah sedangkan orang Eropa tinggal di lantai paling atas.
Kelebihannya adalah penulis menggunakan sumber lengkap, buku, jurnal dan dokumen berupa tabel atau data statistik. Selain itu, penulisan singkatan selalu disertai dengan penjelasan. Selain itu, penjelasan dalam buku juga dirasa cukup lengkap.
E. Kekurangan
Sartono menulis pengantar baru buku sejarah Indonesia yang memiliki beberapa kelemahan yaitu penggunaan kalimat ganda yang tidak efektif, seperti kalimat berikut: Hal ini tentu saja menimbulkan penyimpangan dan penyalahgunaan nama Sarekat Islam. Selain itu, ada beberapa kata yang tidak efektif.
Buku ini juga seperti terlalu bertele-tele dalam membahas pergerakan nasional. Seperti tidak sesuai kronologis, mungkin karena terpengaruh pada pendekatan sosiologis yang digunakan penulis untuk mengkaji penulisan historiografinya. Ditambah lagi, banyak istilah ilmiah yang mungkin akan sulit dipahami oleh pembaca umum, sehingga pembaca perlu membaca berulang agar memahami maksud dan isi tulisan dalam buku.