LAPORAN PRAKTIKUM HYGIENE INDUSTRI IKLIM KERJA
Disusun Oleh :
Nama Pruestine Azzah Trisnawan
NRP 0522040114
Kelas K3IID
Tanggal Kamis, 18 Mei 2023
Dosen Pengampu
1. Aulia Nadia Rachmat, S.ST., M.T 2. Dr. Indri Santiasih, S.KM., M.T
TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2023
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi mengakibatkan perkembangan industri di Indonesia semakin bertambahnya waktu semakin berkembang. Namun, kemajuan teknologi dan proses produksi dalam industri juga menjadikan lingkungan kerja memiliki iklim tertentu yang disebut iklim kerja berupa iklim kerja panas dan iklim kerja dingin. Ketika tenaga kerja melakukan pekerjaan di tempat kerja maka tidak akan terhindar dari berbagai faktor bahaya yang terdapat pada pekerjaan atau lingkungan kerja. Pemaparan atau pajanan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seorang tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaan yang dapat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja. Faktor-faktor dalam pekerjaan atau lingkungan kerja yang memiliki potensi mendatangkan risiko atau bahaya pada tenaga kerja seperti faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, dan mental psikologis (Suma’mur, 2009).
Menurut Undang–Undang Nomor 36 Tahun 2009 mengenai Kesehatan mengatur hak dan kewajiban setiap warga Negara dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. Undang – Undang tersebut juga menyatakan bahwa upaya kesehatan kerja didefinisikan sebagai salah satu upaya kesehatan yang diselenggarakan guna mewujudkan produktivitas kerja optimal yang selaras dengan perlidungan tenaga kerja.
Menurut International Labour Organitation (ILO) tahun 2016 setiap 15 detik seorang pekerja meninggal dunia karena kecelakaan. Setiap hari, 6.300 orang meninggal akibat kecelakaan kerja atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan lebih dari 2,3 juta kematiaan per tahun. 317 juta kecelakaan terjadi pada pekerjaan per tahun banyak dari yang mengakibatkan absen diperpanjang dari pekerjaan. Kerugian akibat terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja di seluruh dunia diperkirakan sebesar US $ 2,8 triliun (ILO, 2016).
Iklim kerja yang positif menciptakan lingkungan yang mendukung di mana karyawan merasa dihargai, didengar, dan diakui atas kontribusi mereka. Hal ini dapat meningkatkan motivasi, semangat kerja, dan produktivitas karyawan. Di sisi lain, iklim kerja yang negatif, seperti ketidakadilan, konflik, tekanan, atau ketidakjelasan tugas, dapat menghasilkan ketidakpuasan, stres, dan penurunan kinerja.
Oleh karena itu dibuatlah makalah ini dengan tujuan mahasiswa mengetahui pentingnya untuk menciptakan iklim kerja yang sehat dan positif dengan mengedepankan komunikasi
yang terbuka, kepemimpinan yang baik, keadilan dalam pengambilan keputusan, kerjasama tim yang baik, dan kesempatan pengembangan karyawan. Ini dapat membantu meningkatkan kepuasan pekerja, mempertahankan bakat, dan menciptakan suasana kerja yang nyaman dan aman.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara mengetahui suatu iklim kerja pada pekerja dalam masih dalam batas aman?
2. Bagaimana cara menggunakan alat ukur dalam iklim kerja?
3. Apa yang harus dilakukan apabila kondisi iklim suatu pekerja tidak sesuai dengan peraturan atau batas yang berlaku?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana menentukan dan mengetahui aman tidaknya suatu iklim kerja pada pekerja.
2. Untuk mengetahui dan mengoperasikan bagaimana mengenakan alat ukur iklim kerja.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengendalikan kondisi iklim suatu pekerja yang tidak sesuai dengan aturan atau batasan yang berlaku.
1.4 Ruang Lingkup
Pengukuran pada praktikum kali ini dilakukan di Politeknik Perkapalan Negeri tepatnya Surabaya di Bengkel Las pada Kamis, 25 Mei 2023 pukul 08.00-10.30 WIB. Dimana tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur tingkat iklim yang diterima pekerja agar tidak melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) dan tidak menimbulkan PAK (Penyakit Akibat Kerja). Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Wet Bulb Globe Temperature (WBGT instrument). Adapun nama kelompok yang akan melakukan praktikum getaran ini sebagai berikut:
1. Ahmad Rizal Firmansyah (0522040099) 2. Mohammad Sulistyo M.W (0522040108) 3. Muhamad Ali Ro’is (0522040109) 4. Pruestine Azzah Trisnawan (0522040114) 5. Reggina Angel Arifin (0522040118) 6. Zpetnaz Prudentia (0522040124)
BAB 2 DASAR TEORI
2.1 Definisi Iklim
Iklim kerja adalah faktor-faktor thermis dalam lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Manusia mempertahankan suhu tubuhnya antara 36oC – 37oC dengan berbagai cara pertukaran panas baik melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Menurut Permenakertrans No. PER 13/MEN/X/2011 iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembapan, kecepatan Gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannnya.
Menurut Suma’mur, iklim kerja adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Iklim kerja (panas) merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh cukup dominan terhadap kinerja sumber daya manusia bahkan pengaruhnya tidak terbatas pada kinerja saja melainkan dapat lebih jauh lagi, yaitu pada kesehatan dan keselamatan tenaga kerja. Walaupun banyak faktor yang dapat menaikan suhu tubuh, tapi mekanisme dalam tubuh, membuat suhu tetap stabil.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi keseimbangan suhu tubuh adalah suhu panas atau dingin yang berlebihan. Suhu lingkungan dipengaruhi oleh adanya angin, kelembaban, tekanan udara ruangan dan suhu udara diluar ruangan. Apabila tubuh tidak mampu beradaptasi dengan suhu ekstrim, maka akan timbul gangguan kesehatan. Tekanan panas (heat stress) ialah pengaruh suhu luar tubuh yang dapat menimbulkan kenaikan suhu tubuh. Kenaikan suhu tubuh disebabkan karena terganggunya sistem pengaturan keseimbangan suhu dalam tubuh. Suhu kulit meningkat disertai pelebaran pembuluh darah (dalam jangka waktu lama
mengakibatkan terganggunya peredaran darah ke organ-organ penting). Keluarnya keringat dalam jumlah besar untuk menetralisir peningkatan suhu pada kulit. Keringat keluar terlalu banyak sehingga kelenjar keringat tidak mampu berproduksi.
Terganggunya sistem pengaturan tubuh secara keseluruhan dapat menimbulkan heat stroke.
2.2 Alat Ukur Iklim Kerja
Parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu kering, suhu basah alami dan suhu bola, yaitu:
1. Temperatur suhu kering (oC)
Temperatur yang dibaca oleh sensor suhu kering dan terbuka, namun hasil pembacaan tidak terlalu tepat karena ada pengaruh radiasi panas, kecuali jika sensornya mendapat ventilasi yang baik.
2. Temperatur suhu basah (oC)
Temperatur yang dibaca oleh sensor yang telah dibalut dengan kain/kapas untuk menghilangkan pengaruh radiasi, yang harus diperhatikan adalah aliran udara yang melewati sensor minimal 5 m/s.
3. Kelembaban relatif (%)
Kelembaban relatif adalah perbandingan antara tekanan parsial uap air yang ada di dalam udara dan tekanan jenuh uap air pada temperatur yang sama.
Setelah pembacaan suhu kering dan suhu basah dilakukan, nilai pembacaan digunakan untuk mencari nilai kelembaban relatif (relative humidity/RH) pada psychometric chart/diagram psikrometri, kemudian bandingkan dengan rumus untuk menghitung indeks suhu bola basah (ISBB). Di Indonesia, parameter yang digunakan untuk menilai tingkat iklim kerja adalah Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB). Hal ini telah ditentukan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: No. PER
13/MEN/X/2011, Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja, pasal 1 ayat 9 berbunyi:
“Indeks suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang disingkat ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu bola”
Standar pengukuran iklim kerja (panas) dengan parameter indeks suhu basah dan bola mencakup prinsip pengukuran, peralatan, prosedur kerja, penentuan titik pengukuran dan perhitungan. Standar pengukuran ini merupakan cara pemantauan tempat kerja yang mempunyai potensi bahaya bagi tenaga kerja yang bersumber dari iklim kerja (panas). Dalam penerapannya di lapangan, pengukuran indeks suhu basah dan bola dilaksanakan bersamaan dengan perhitungan beban kerja yang di
dibandingkan pada pembatasan waktu kerja sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 51/MEN/1999.
2.3 Nilai Ambang Batas Iklim Kerja
Nilai Ambang Batas (NAB) iklim kerja merupakan batas pajanan iklim lingkungan kerja atau pajanan panas (heat stress) yang tidak boleh dilampaui selama 8 jam kerja per hari sebagaimana tercantum pada NAB iklim lingkungan kerja dinyatakan dalam derajat Celsius Indeks Suhu Basah dan Bola (oC ISBB).
Tabel 2.1 NAB Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja Pengaturan Waktu Kerja Setiap
Jam
ISBB (0C) Beban Kerja
Ringan Sedang Berat
75 – 100% 31,0 28,0 -
50 – 75% 31,0 29,0 27,5
25 – 50% 32,0 30,0 29,0
0 – 25% 32,2 31,1 30,5
Sumber: (Kemenaker, 2011) Catatan :
• Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam
• Beban kerja sedang membutuhkan kalori > 200-350 Kkal/jam
• Beban kerja berat membutuhkan kalori > 350-500 Kkal/jam
NAB iklim lingkungan kerja ditentukan berdasarkan alokasi waktu kerja dan istirahat dalam satu siklus kerja (8 jam per hari) sertarata-rata laju metabolik pekerja.
Kategori laju metabolik, yang dihitung berdasarkan rata-rata laju metabolik pekerja.
Gambar 2.1 Diagram Psikometri Sumber: (Santiasih, et al., 2019)
2.4 Perhitungan Iklim Kerja
Pengukuran dilakukan sesuai dengan waktu yang ditentukan, suhu basah alami, suhu kering dan suhu bola dibaca pada alat ukur, dan indeks suhu basah dan bola diperhitungkan dengan rumus. Alat-alat yang dipakai harus telah dikalibrasi oleh laboratorium yang terakreditasi untuk melakukan kalibrasi, minimal 1 tahun sekali.
Alat-alat yang digunakan terdiri dari:
➢ Termometer suhu basah alami yang mempunyai kisaran –50C sampai dengan 500C dan bergraduasi maksimal 0,50C.
➢ Termometer suhu kering yang mempunyai kisaran –50C sampai dengan 500C dan bergraduasi maksimal 0,50C.
➢ Termometer suhu bola yang mempunyai kisaran –50C sampai dengan 1000C dan bergraduasi maksimal 0,50C.
Catatan: Peralatan yang digunakan merupakan peralatan minimal dan tidak membatasi penggunaan alat pengukur ISBB lainnya, tetapi hasil pengukuran yang diperoleh sama.
Perhitungan ISBB merujuk pada SNI 16-7061-2004 mengenai pengukuran iklim kerja (panas) dengan parameter indeks suhu basah dan bola, dimana penentuan NAB iklim kerja pada SNI ini mengacu pada Permenaker Kep 51.Men/1999 tentang NAB Iklim Kerja ISBB yang diperkenankan, yaitu:
Rumus Dasar ISBB. Ada 2 rumus perhitungan ISBB, yaitu:
1. Rumus untuk pengukuran dengan memperhitungkan radiasi sinar matahari, yaitu tempat kerja yang terkena radiasi sinar matahari secara langsung.
ISBB = 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu
2. Rumus untuk pengukuran tempat kerja tanpa pengaruh radiasi sinar matahari ISBB = 0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola
Rumus yang dikembangkan berdasarkan perpindahan lokasi kerja. Dalam hal pemaparan ISBB yang berbeda-beda karena lokasi kerja yang berpindah pindah menurut waktu, maka berlaku ISBB rata-rata dengan rumus sebagai berikut:
𝐼𝑆𝐵𝐵 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 = 𝐼𝑆𝐵𝐵 1 𝑥 𝑡1 + 𝐼𝑆𝐵𝐵 2 𝑥 𝑡2 + ⋯ + 𝐼𝑆𝐵𝐵 𝑛 𝑥 𝑡𝑛 𝑡1 + 𝑡2 + ⋯ + 𝑡𝑛
2.5 Penyakit Akibat Kerja dalam Iklim Kerja
Menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 22 Tahun 1993, penyakit akibat kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan pekerjaan atau lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja terjadi sebagai pajanan faktor fisik, kimia, biologi maupun psikologi di tempat kerja. Faktor penyebab penyakit akibat kerja (PAK), antara lain:
• Fisika (suara/kebisingan, radiasi, suhu, pencahayaan)
• Biologis (bakteri, virus, jamur)
• Kimiawi (bahan kimia, gas, uap, larutan, debu)
• Fisiologis (penataan tempat kerja, cara kerja)
• Psikologis (depresi, stres psikologis)
Lingkungan kerja bersuhu panas banyak permasalahan yang terjadi jika dibandingkan pada lingkungan kerja bersuhu dingin, dikarenakan manusia lebih mudah melindungi diri dari pengaruh suhu dingin dibanding panas. Bekerja pada suhu panas dapat menimbulkan masalah kesehatan baik fisik pekerja maupun psikologis pekerja. Kondisi respon secara fisiologis yang terjadi seperti pada peningkatan denyut nadi dan suhu tubuh. Pekerja yang terpapar oleh suhu panas secara kontinyu (terus-menerus) dapat menimbulkankan terjadinya heat rash (adanya penyumbatan pada kelenjar keringat), heat cramp, heat syncope, heat exhaustion (kekurangan cairan tubuh atau elektrolit), heat stroke, malaria, dehidrasi (penguapan yang berlebihan) hingga hipertermia.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi keseimbangan suhu tubuh adalah suhu panas atau dingin yang berlebihan. Suhu lingkungan dipengaruhi oleh adanya angin, kelembaban, tekanan udara ruangan dan suhu udara diluar ruangan. Apabila tubuh tidak mampu beradaptasi dengan suhu ekstrim, maka akan timbul gangguan kesehatan. Tekanan panas (heat stress) ialah pengaruh suhu luar tubuh yang dapat menimbulkan kenaikan suhu tubuh. Kenaikan suhu tubuh disebabkan karena terganggunya sistem pengaturan keseimbangan suhu dalam tubuh. Suhu kulit meningkat disertai pelebaran pembuluh darah (dalam jangka waktu lama mengakibatkan terganggunya peredaran darah ke organ-organ penting). Keluarnya keringat dalam jumlah besar untuk menetralisir peningkatan suhu pada kulit.
Keringat keluar terlalu banyak sehingga kelenjar keringat tidak mampu berproduksi.
Terganggunya sistem pengaturan tubuh secara keseluruhan dapat menimbulkan heat stroke.
BAB 3
METODE PRAKTIKUM 3.1. Alat dan Bahan Habis
Tabel 3.1 Peralatan
No Nama Peralatan Spesefikasi Kuantitas
1 Wet Bulb Globe Temperature (WBGT instrument)
Questtemp Heat stress monitor model 32
1 buah
2 Meteran 5 meter 2 buah
Sumber: (Santiasih, et al., 2019) Tabel 3.2 Bahan Habis
No Nama Peralatan Kuantitas
1 Spidol 1 pack
2 Baterai AAA 6 buah
3 Aqudes 50 mL
Sumber: (Santiasih, et al., 2019) 3.2. Deskripsi Alat
Gambar 3.1 Wet Bulb Globe Temperature Instrument Sumber: (Santiasih, et al., 2019)
Keterangan:
1. Sensor suhu radiasi 2. Sensor suhu basah 3. Sensor suhu kering
4. Tombol naik (untuk melihat data sebelumnya) 5. Tombol turun (untuk melihat data setelahnya) 6. Layar tampilan (display)
7. Tombol I/O enter 8. Tombol run/stop 3.3. Prosedur Penggunaan Alat
1. Menekan tombol I/O enter untuk menyalakan, maka akan muncul menu sebagai berikut: Tanda panah menunjukkan opsi menu yang dipilih.
2. Menekan I/O enter untuk memilih opsi lain.
3. Menekan I/O enter untuk melihat hasil pengukuran.
4. Menekan tombol naik/turun untuk melihat hasil pengukuran sebelumnya/
sesudahnya.
5. Mengarahkan pada menu utama setup, kemudian menekan tombol naik/turun untuk memilih bahasa yang diinginkan untuk menampilkan bahasa yang berbeda.
6. Menekan tombol run/stop untuk kembali pada menu utama
3.4 Diagram Alir
BAB 4
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Data Hasil Pengukuran A. Gambaran Umum Nama Ruang : Bengkel Las Tanggal : 15 Juni 2023 Team Pengukur :
1. Ahmad Rizal Firmansyah (0522040099) 2. Mohammad Sulistyo M.W (0522040108) 3. Muhamad Ali Ro’is (0522040109) 4. Pruestine Azzah Trisnawan (0522040114) 5. Reggina Angel Arifin (0522040118) 6. Zpetnaz Prudentia (0522040124) Alat yang dipakai : Wet Bulb Globe Temperature Instrument
Nama pekerja / mahasiswa yang di ukur (Beserta kegiatan / alat yang digunakan) 1. Muhammad Ali Ro’is : Mengelas (OAW)
2. Mohammad Sulistyo M,W : Mengelas (SMAW) 3. Ahmad Rizal Firmansyah : Mengikir
B. Karakteristik Kegiatan Kerja 1. Identifikasi Mahasiswa/Pekerja 1
Nama : Muhammad Ali Ro’is Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 Tahun
Berat Badan : 77 kg Identifikasi Mahasiswa/Pekerja 2
Nama : Mohammad Sulistyo M, W Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 20 Tahun
Berat Badan : 55 kg
Identifikasi Mahasiswa/Pekerja 3
Nama : Ahmad Rizal Firmansyah Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 Tahun
Berat Badan : 42 kg 2. Gambaran Kegiatan Kerja
C. Informasi Penting Lainnya
1. Apakah alat dalam keadaan baik/ rusak? Baik 2. Apakah alat sudah terkalibrasi? Sudah terkalibrasi 3. Pengukuran dilakukan saat siang/sore hari? Siang hari 4. Durasi pekerjaan berapa lama? 200 menit
Tabel 4.1 Data Hasil Pengukuran Titik
Pengukuran
Suhu Basah (ºc)
Suhu Kering (ºc)
Suhu Bola (ºc)
RH (%) ISBB (ºc) %
Error Alat Alat Tabel
RH
Indoor Outdoor Rumus
1 A 28 30 29 79 86 28 29 28,4 8,13
B 27 29 28 78 85 27 28 27,4 8,23
C 26 28 27 77 85 26 27 26,4 9,41
Nilai Max
28 30 29 79 86 28 29 28,4 8,13
2 A 30 32 31 81 86 30 31 30,4 5,81
B 31 33 32 80 87 31 32 31,4 8,04
C 32 34 33 79 87 32 33 32,4 9,19
Nilai Max
32 34 33 81 87 32 33 31 6,89
3 A 26 28 27 80 85 26 27 26,4 5,88
B 27 29 28 80 86 27 28 27,4 6,97
C 28 30 29 80 86 28 29 28,8 6,97
Nilai Max
28 30 29 80 86 28 29 28,4 6,97
No Kegiatan Kerja Peralatan yang
digunakan
Durasi Kerja per jam (menit)
1. Mengelas OAW posisi duduk Las OAW 41
2. Mengelas SMAW posisi duduk Las SMAW 31
3. Mengikir benda kerja posisi berdiri
Kikir 31
4.2. Perhitungan
1. Perhitungan Tabel RH
• Titik Pengukuran 1 a. A1 = t – T
= 30 – 28 = 2oC
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 30oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 86%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor)
= 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 28) + (0,2 x 29) +(0,1 x 30) = 28,4oC b. B1 = t – T
= 29 – 27 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 29oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 85%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor)
= 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 27) + (0,2 x 28) +(0,1 x 29) = 27,4oC c. C1 = t – T
= 28 – 26 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 28oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 85%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor)
= 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 26) + (0,2 x 27) +(0,1 x 28) = 26,4oC
- Titik Pengukuran 2 a. A2 = t – T
= 32 – 30 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 32oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 86%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 30) + (0,2 x 31) +(0,1 x 32) = 30,4oC
b. B2 = t – T
= 33 – 31 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 33oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 87%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 31) + (0,2 x 32) +(0,1 x 33) = 31,4oC
c. C2 = t – T
= 34 – 32 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 34oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 87%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 32) + (0,2 x 33) +(0,1 x 34) = 32,4oC
- Titik Pengukuran 3 a. A3 = t – T
= 28 – 26 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 28oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 85%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 26) + (0,2 x 27) +(0,1 x 28) = 26,4oC
b. B3 = t – T
= 29 – 27 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 29oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 86%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 27) + (0,2 x 28) +(0,1 x 29) = 27,4oC
c. C3 = t – T
= 30 – 28 = 2 C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 30oC dan ΔT 2 oC maka %RH adalah 86%. ISBB Tanpa Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 SBA + 0,2 SB + 0,1 SK = (0,7 x 28) + (0,2 x 29) +(0,1 x 30) = 28,4oC
2. Perhitungan Beban Kerja a) Muhammad Ali Ro’is
Beban Kerja = 1,55 𝑥 41
41 𝑥 60
= 93 kkal/jam
Metabolisme Basal = Berat beban x 1 kkal/jam
= 77 x 1 kkal/jam
= 77 kkal/jam
Total Beban Kerja = Beban Kerja + Metabolisme Basal
= 93 + 77
= 170 kkal/jam (Ringan) Waktu Kerja = 41 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 x 100%
= 68,33%
b) Mohammad Sulistyo M, W.
Beban Kerja = 1,55 𝑥 31
31 𝑥 60
= 93 kkal/jam
Metabolisme Basal = Berat beban x 1 kkal/jam
= 55 x 1 kkal/jam
= 55 kkal/jam
Total Beban Kerja = Beban Kerja + Metabolisme Basal
= 93 + 55
= 148 kkal/jam (Ringan) Waktu Kerja = 31 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 x 100%
= 51,67 %
c) Ahmad Rizal Firmansyah Beban Kerja = 1,85 𝑥 31
31 𝑥 60
= 111 kkal/jam
Metabolisme Basal = Berat beban x 1 kkal/jam
= 42 x 1 kkal/jam
= 42 kkal/jam
Total Beban Kerja = Beban Kerja + Metabolisme Basal
= 111 + 42
= 153 kkal/jam (Ringan) Waktu Kerja = 31 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 x 100%
= 51,67%
3. Perhitungan error RH - Titik Pengukuran 1
1. Alat = 79 Tabel RH = 86
% error = 𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙−𝑅𝐻 𝐴𝑙𝑎𝑡
𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 x 100%
% error = 86−79
86 x 100%
% error = 8,13%
2. Alat = 78 Tabel RH = 85
% error = 𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙−𝑅𝐻 𝐴𝑙𝑎𝑡
𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 x 100%
% error = 85−78
85 x 100%
% error = 8,23%
3. Alat = 77 Tabel RH = 85
% error = 𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙−𝑅𝐻 𝐴𝑙𝑎𝑡
𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 x 100%
% error = 85−77
85 x 100%
% error = 9,41%
- Titik Pengukuran 2 1. Alat = 81
Tabel RH = 86
% error = 𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙−𝑅𝐻 𝐴𝑙𝑎𝑡
𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 x 100%
% error = 86−81
86 x 100%
% error = 5,81%
2. Alat = 80 Tabel RH = 87
% error = 𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙−𝑅𝐻 𝐴𝑙𝑎𝑡
𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 x 100%
% error = 87−80
87 x 100%
% error = 8,04%
3. Alat = 79 Tabel RH = 87
% error = 𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙−𝑅𝐻 𝐴𝑙𝑎𝑡
𝑅𝐻 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 x 100%
% error = 87−79
87 x 100%
% error = 9,19 %
4.3. Analisis Pengendalian AREP 1. Antisipasi
Pada tahap ini, dilakukan analisis dan pengumpulan informasi mengenai potensi bahaya yang mungkin timbul atau akan terjadi di lingkungan kerja. Praktikum kali ini dilakukan di Bengkel Las Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Fokus pengamatan adalah terkait suhu atau iklim di bengkel tersebut. Bengkel las ini melibatkan berbagai jenis kegiatan, namun yang paling dominan adalah pengelasan. Oleh karena itu, salah satu potensi bahaya yang perlu diperhatikan adalah risiko kepanasan akibat suhu yang dihasilkan oleh peralatan las maupun kondisi ruangan di tempat tersebut. Pada tempat Ro’is, Wibi dan Rizal bekerja belum diketahui apakah iklim di tempat kerja mereka apakah sudah aman atau belum dan diduga iklim kerja tempat mereka bekerja dalam kondisi tidak aman atau tidak sesuai NAB.
2. Rekognisi
Tahap rekognisi ini merupakan kegiatan dalam mengenali dan mengukur faktor – faktor agar diperoleh metoda yang logis. Kegiatan yang dilakukan tiap mahasiswa berbeda – beda. Ro’is melakukan kegiatan Las OAW, Wibi melakukan kegiatan Las SMAW, sedangkan Rizal melakukan kegiatan mengikir. Dikarenakan tidak diketahui iklim kerja di tempat Ro’is, Wibi dan Rizal bekerja sudah sesuai dengan NAB atau belum maka dilakukan pengambilan data iklim kerja di tempat mereka bekerja menggunakan alat Wet Bulb Globe Temperature Instrument.
3. Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap hasil rekognisi dan membandingkannya dengan peraturan yang berlaku atau dapat juga dengan standar nasional yang berlaku.
Hasil Analisa data sebagai berikut:
Tabel 4.2 Evaluasi Hasil Data Pengukuran
No Nama Responden ISBB (oC)
Kategori Beban
Kerja
Waktu Kerja Setiap
Jam
Standar ISBB
(oC)
Keterangan
1. Muhamad Ali Ro’is 27,4 RINGAN 0,75 31 Memenuhi 2. Mohammad Sulistyo 32,4 RINGAN 0,58 31 Tidak
memenuhi
3. Ahmad Rizal F 28,4 SEDANG 0,58 28 Tidak
Memenuhi
Setelah dilakukan pengambilan data maka dilakukan perhitungan dan membandingkan dengan NAB dan didapatkan iklim kerja pada tempat mereka bekerja Hasil pengukuran titik 1 masih aman, tetapi pada titik 2 dan 3 menunjukkan tidak aman karena melebihi batas ISBB berdasarkan praktikum yang telah dilakukan. Sehingga diperlukannya pengendalian sesuai hierarki higiene industry.
4. Pengendalian - Eliminasi
Pada tahap ini kita bisa melakukan menghilangkan sumber bahaya di ruangan, namun tahap ini tidak bisa dilaksanakan karena proses produksi tidak bisa dihentikan.
- Substitusi
Pada tahap ini kita bisa melakukan penggantian mesin ke yang baru dikarenakan apabila mesin sudah berusia tua mengakibatkan penurunan fungsi yang akhirnya mengeluarkan suhu yang tak terduga dan mempengaruhi iklim kerja.
- Rekayasa
Teknik Pada tahap ini kita bisa melakukan memberikan penyekat pada mesin agar panas tidak menyebar ke ruangan, dan juga menambah ventilasi mekanik.
- Pengendalian Administrasi
Pada tahap ini kita bisa melakukan pemberian shift dan jam kerja dengan sesuai NAB dan pemberian minum kepada pekerja yang sesuai agar pekerja tidak mengalami dehidrasi.
- Manajemen APD
Untuk itu APD yang dapat digunakan adalah baju wearpack dengan bahan yang tidak terlalu tebal dan dapat menyerap keringat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi panas pada tubuh. APD lain untuk menunjang keamanan pekerja ialah diwajibkan mengenakan googles, safety helmet, safety shoes, dan masker N95.
BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan data yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Untuk menentukan sudah sesuai atau belum dengan ketentuan standar Permenaker No. 5 Tahun 2018 dan SNI 16-7061-2004. Pengendalian harus dilakukan apabila perhitungan tidak sesuai ketentuan standar. Terdapat Nilai Ambang Batas (NAB) lingkungan kerja untuk suatu lingkungan kerja yang ditetapkan oleh menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia salah satunya adalah ISBB (Indeks Suhu Bola Basah).
2. Cara menggunakan alat Wet Bulb Globe Temperature Instrument
1. Menekan tombol I/O enter untuk menyalakan, maka akan muncul menu sebagai berikut: Tanda panah menunjukkan opsi menu yang dipilih.
2. Menekan I/O enter untuk memilih opsi lain.
3. Menekan I/O enter untuk melihat hasil pengukuran.
4. Menekan tombol naik/turun untuk melihat hasil pengukuran sebelumnya/
sesudahnya.
5. Untuk menampilkan bahasa yang berbeda, maka diarahkan pada menu utama setup, kemudian tekan tombol naik/turun untuk memilih bahasa yang diinginkan.
6. Untuk kembali pada menu utama, tekan tombol run/stop.
3. Untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan akibat dampak negatif dari faktor iklim kerja yang didapati hasil nilai ISBB yang melebihi NAB maka dapat dilakukan penerapan pengendalian bahaya dalam hygiene industry berupa AREP.
5.2 Saran
Dalam pelaksanaan praktikum iklim kerja dapat lebih memperhatikan kondisi alat, pemilihan sample pekerja dan prosedur pelaksanaan praktikum yang baik. Sehingga nantinya data hasil praktikum pada pekerja terbaca secara akurat dan pelaksanaan analisa serta pemberian rekomendasi yang tepat dapat dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Rachmat, W. A. d. A. N., 2019. Modul Praktikum Pengukuran Lingkungan Kerja. 03 ed.
Surabaya: Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Sari, N. P. (2014). Pengaruh Iklim Kerja Panas terhadap Dehidrasi dan Kelelahan pada Tenaga Kerja Bagian Boiler di PT Albasia Sejahtera Mandiri Kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Permenaker Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
Permenaker Nomor 05 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
TUGAS PENDAHULUAN (IKLIM KERJA)
1. Jelaskan efek dari iklim kerja yang tidak sesuai dengan kapasitas manusia, dari segi kesehatan!
➢ Iklim kerja yang tidak sesuai dengan kapasitas manusia mempunyai pengaruh pada kondisi kesehatan tubuh manusia. Suhu tubuh yang mengalami peningkatan secara tajam akan mempengaruhi tubuh untuk bekerja lebih keras mempertahankan keadaan seimbang (homeostasis). Iklim kerja dengan suhu panas dapat menimbulkan masalah kesehatan fisik maupun psikologis pekerja. Secara fisiologis mengakibatkan peningkatan denyut nadi dan suhu tubuh. Pekerja yang terpapar suhu panas secara kontinyu (terus-menerus) dapat menimbulkan terjadinya heat rash (adanya penyumbatan pada kelenjar keringat), heat cramp, heat syncope, heat exhaustion (kekurangan cairan tubuh atau elektrolit), heat stroke, malaria, dehidrasi (penguapan yang berlebihan) hingga hipertermia.
2. Apabila diketahui suhu basah = 280C dan suhu kering = 290C, tentukan kelembaban relative!
➢ T = suhu kering - suhu basah
= 290C - 280C
= 10C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 290C dan ΔT 10C maka %RH adalah 93%.
3 Hasil pengukuran lingkungan kerja sebagai berikut Titik
Pengukuran
Suhu Basah (0C)
Suhu Kering
(0C)
Suhu Bola (0C)
WBGT (ISBB) (0C)
Rh (%) Keterangan
1 34 36 39 Outdoor
2 30 35 38 Outdoor
3 32 33 37 Outdoor
4 22 25 26 Indoor
Baban kerja pekerja tercantum dalam tabel di bawah ini : Beban Kerja Kategori
Berjalan Sedang
Berdiri Ringan
Berjalan Mendaki Berat Kerja dengan 2 lengan Ringan Tentukan :
a. Kebutuhan kalori/jam b. Pengaturan waktu kerja
c. Rekomendasi yang harus dilakukan
Jawab : Perhitungan RH dan ISBB dari Tabel Hasil Pengukuran Lingkungan Kerja
• Titik Pengukuran 1
ΔT = suhu kering – suhu basah
= 360C - 340C
= 20C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 360C dan ΔT 20C maka %RH adalah 87%.
ISBB dengan Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola
+ 0,1 suhu kering
= (0,7 x 34) + (0,2 x 39) + (0,1 x 36)
= 23,8 + 7,8 + 3,6
= 35,20C
• Titik Pengukuran 2
ΔT = suhu kering – suhu basah
= 350C - 300C
= 50C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 350C dan ΔT 50C maka %RH adalah 69%.
ISBB dengan Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola
+0,1 suhu kering
= (0,7 x 30) + (0,2 x 38) + (0,1 x 35)
• Titik Pengukuran 3
ΔT = suhu kering – suhu basah
= 330C - 320C
= 10C
= 21 + 7,6 + 3,5
= 32,1 0C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 330C dan ΔT 10C maka %RH adalah 93%.
ISBB dengan Panas Radiasi (outdoor) = 0,7 suhu basah alami + 0,2 suhu bola + 0,1 suhu kering
= (0,7 x 32) + (0,2 x 37) + (0,1 x 33)
= 30C
• Titik Pengukuran 4
ΔT = suhu kering – suhu basah
= 250C - 220C
= 22,4 + 7,4 + 3,3
= 33,10C
Berdasarkan tabel RH (Relative Humadity) atau Kelembaban Relatif dengan suhu kering 250C dan ΔT 30C maka %RH adalah 77%.
ISBB Tanpa Panas Radiasi (indoor) = 0,7 suhu basah alami + 0,3 suhu bola
= (0,7 x 22) + (0,3 x 26)
= 15,4 + 7,8
= 230C a. Kebutuhan kalori/jam
• Titik Pengukuran 1
Karena diperoleh ISBB dengan panas radiasi (outdoor) 35,20C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah beban kerja ringan yang membutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam.
• Titik Pengukuran 2
Karena diperoleh ISBB dengan panas radiasi (outdoor) 32,10C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah beban kerja ringan yang membutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam.
• Titik Pengukuran 3
Karena diperoleh ISBB dengan panas radiasi (outdoor) 33,10C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah beban kerja ringan yang membutuhkan kalori 100-200 Kkal/jam.
• Titik Pengukuran 4
Karena diperoleh ISBB tanpa panas radiasi (indoor) 230C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah beban kerja berat membutuhkan kalori
> 350-500 Kkal/jam.
b. Pengaturan waktu kerja
• Titik Pengukuran 1
Karena diperoleh ISBB dengan panas radiasi (outdoor) 35,20C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah pengaturan waktu kerja setiap jam 0% - 25%
• Titik Pengukuran 2
Karena diperoleh ISBB dengan panas radiasi (outdoor) 32,10C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah pengaturan waktu kerja setiap jam 25%
- 50%.
• Titik Pengukuran 3
Karena diperoleh ISBB dengan panas radiasi (outdoor) 33,10C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah pengaturan waktu kerja setiap jam 0 - 25%.
• Titik Pengukuran 4
Karena diperoleh ISBB tanpa panas radiasi (indoor) 230C maka berdasarkan Nilai Ambang Batas Iklim Kerja Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) yang diperkenankan menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 adalah pengaturan waktu kerja setiap jam 50%
- 75%.
c. Rekomendasi yang harus dilakukan
Dalam perbaikan masalah jika iklim kerja tidak sesuai adalah memerlukan tindakan tegas dari pihak manajemen untuk dapat menyesuaikan kondisi fisik lingkungan kerja.
Ahli K3 (HSE) harus memberikan pengarahan kepada pekerja tentang kenyamanan dalam bekerja dan ketentuan waktu yang sesuai dalam melakukan suatu pekerjaan dengan disesuaikannya iklim kerja dan lamanya dalam bekerja. Peningkatan pengawasan
sangat diperlukan pekerja saat melakukan pekerjaan terutama pada pekerjaan yang memiliki bahaya atau risiko tinggi yang dapat menyebabkan kecelakaan.