• Tidak ada hasil yang ditemukan

Influence of Knowledge and Culture on Exclusive Breastfeeding in Woyla Barat, Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Influence of Knowledge and Culture on Exclusive Breastfeeding in Woyla Barat, Aceh"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

356

Pengaruh Pengetahuan dan Budaya terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat

Muhammad Husaini, Anasril

Staf Pengajar Prodi Keperawatan Meulaboh Poltekkes Kemenkes Aceh Email : [email protected], [email protected]

ABSTRAK

The low coverage of exclusive breastfeeding in Indonesia compared to other developing countries and ASEAN countrien certainly contributes to the adverse effects on infant health. Many factors effect exclusive breastfeeding in infants aged 0-6 months including social support factors (husband and mother in law), information exposure, decision making authority (autonomy), situation to act.

Knowledge, attitudes, people who are referred/ role models and culture. Coverage of exclusive breastfeeding in the Woyla Health Center area for 2016 shows that from 172 infants aged 0-6 months, very few received exclusive breastfeeding. This shows that the coverage of exclusive breastfeeding in the Woyla West Healt Center Work Area is still low and far from the expected target. Therefore it is necessary to increase the coverage of exclusive breastfeeding through changes in maternal behavior in exclusive breastfeeding. The purpose ot this study was to analyze the influence of knowledge and culture on exclusive breastfeeding. This type of research is analytic survey. With a total sample of 32 people. The result showed that there was an influence of knowledge on the giving of exclusive breast milk with a p value of 0.032 (p<0.05). there is a cultural influence on exclusive breastfeeding with a p value of 0.005 (p<0.05). it is recommended to the head of the public health center to evaluate the extent of the implementation of the exclusive ASI program that has been carried out. Furthermore, striving to improve exclusive breasfeeding coverage by providing more intensive health education at every opportunity that exists.

Keywords : exclusive breasfeeding, knowledge, culture

PENDAHULUAN

Rendahnya cakupan ASI eksklusif di Indonesia dibandingkan dengan negara berkembang lainnya dan negara-negara ASEAN tentu menyumbang akibat yang tidak baik bagi kesehatan bayi. Menurut Kemenkes 2010, menyusui dampaknya sangat signifikan dalam menurunkan angka kematian anak. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk memberikan ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan agar tumbuh kembang anak dapat maksimal (Masyudi, 2016). Demikian juga yang diungkapkan oleh WHO (2005) bahwa hampir 90% kematian anak balita terjadi di negara berkembang dan 40% lebih kematian disebabkan oleh diare dan infeksi saluran pernafasan akut yang sebernarnya dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif.

Banyak faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan. Penelitian Syafiq (2010) menyatakan bahwa kegagalan ASI eksklusif adalah karena faktor predisposisi yaitu pengetahuan dan pengalaman ibu yang kurang dan faktor

(2)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Juni 2020 eISSN 2657- 0998

357 pemungkin penting yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah karena ibu tidak difasilitasi melakukan IMD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pengalaman ibu sangat menentukan dalam pemberian ASI eksklusif pada bayinya.

Menurut Arimurti (2007) permasalahan yang utama dalam pemberian ASI adalah adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung PP-ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja (Arimurti, 2007).

Hal ini sesuai dengan teori Thought and Feeling yang dikemukakan oleh WHO (1980) bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku tertentu adalah karena empat (4) alasan pokok, yaitu (1) pemikiran dan perasaan yang terdiri dari pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan, penilaian terhadap objek, (2) orang penting sebagai referensi, (3) sumber-sumber daya, dan (4) budaya (Notoatmodjo, S, 2010).

Dari hasil penelitian deskriptif terhadap ibu-ibu yang melahirkan di RS Maldives didapatkan hasil bahwa kelompok yang memberikan ASI eksklusif memiliki pengetahuan yang adekuat dibanding yang tidak dan bermakna secara statistik. Kelompok ini juga memiliki sikap yang positif dan dukungan keluarga yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak memberikan ASI secara eksklusif tapi hubungan ini tidak bermakna secara statistik.

Mengacu pada teori Behavior Intention yang dikemukakan oleh Snehendu B. Kar (1980) dalam Notoatmodjo (2010), menyatakan bahwa perilaku kesehatan itu merupakan fungsi dari (a) niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatan (b) dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya seperti suami, istri, orang tua, mertua, (c) ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (d) Kewenangan atau kebebasan mengambil keputusan, serta (e) situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak.

Penelitian Josefa (2011), mengemukakan bahwa dukungan sosial, peraturan tempat persalinan, faktor sosial budaya, maraknya promosi susu formula, faktor lingkungan dan faktor psikologis ibu memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05) dengan perilaku pemberian ASI eksklusif, sedangkan pengetahuan (p = 0,537) dan status pekerjaan (p = 0,091) tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, diketahui sebanyak 40,21%

bayi yang diberikan ASI eksklusif, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya, tetapi dirasakan masih sangat rendah bila dibandingkan dengan target pencapaian ASI eksklusif tahun 2016 sebesar 70%. Data dari Dinas Kesehatan Banda Aceh, menyebutkan bahwa jumlah bayi dengan ASI eksklusif sebesar 50,06 % dari 7.875 bayi usia 0-6 bulan.

Puskesmas Woyla Barat termasuk salah satu Unit Pelaksana Teknik Daerah (UPTD) di Kabupaten Aceh Barat dan merupakan puskesmas rawat jalan yang berjarak ± 52 km dari Ibu kota Kabupaten. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Puskesmas Woyla Barat untuk tahun 2017 didapatkan data bahwa dari 172 bayi yang berusia 0-6 bulan, sangat sedikit yang mendapatkan ASI eksklusif (Dinkes Aceh Barat, 2017).

Hal ini menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat masih rendah dan jauh dari target yang diharapkan. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif tersebut melalui perubahan

(3)

358

perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Dari berbagai hasil penelitian tentang determinan pemberian ASI eksklusif, peneliti ingin mengkaji determinan pemberian ASI eksklusif berdasarkan teori Thought and feeling yang dikemukakan oleh WHO (1990) dan teori Behavior Intention yang dikemukakan oleh Snehendu B. Kar (1980) (Notoatmodjo, S, 2010).

Survei pendahuluan yang penulis lakukan terhadap 10 orang ibu yang memiliki bayi usia >6 bulan di wilayah Puskesmas Woyla Barat di dapatkan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya. Mereka beralasan bahwa sudah menjadi kebiasaan di tempat mereka bahwa bayi diberi makanan tambahan walaupun usia bayi belum mencapai 6 bulan. Mereka juga mengatakan bahwa ibu dan ibu mertuanya juga melakukan hal yang sama di masa lalu. Disamping itu ada kebudayaan yang berlaku dimana saat turun mandi anak (± usia 40 hari) mereka mencicipkan kepada bayinya berbagai macam rasa seperti manis, asin, asam dan sebagainya yang berasal dari makanan yang biasa dimakan orang dewasa.

Setelah bayi lahir maka tugas pengasuhan ibu dan bayi diambil alih sepenuhnya oleh ibu atau ibu mertua sampai selesai masa nifas. Pada masa pengasuhan masa nifas inilah ibu dan bayi sering mendapat tindakan yang salah diantaranya adalah bayi diberikan makanan dan minuman yang dianggap baik oleh ibu dan ibu mertua namun keliru dari segi kesehatan.

Keadaan ini juga didukung oleh pengetahuan ibu sendiri yang kurang memahami tentang pentingnya ASI eksklusif, hasil wawancara tentang ASI eksklusif didapatkan bahwa mereka mengatakan bahwa mereka takut kalau ASI saja yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan bayi. Bila anak mereka sakit seperti mencret mereka malah menghentikan pemberian ASI dan memberi bayinya air tajin (air nasi). Kenyataan yang terjadi pada ibu-ibu ini merupakan salah satu penghalang tercapainya program ASI eksklusif. Oleh karena itu perlu upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kemauan ibu dalam memberikan ASI eksklusif pada masa yang akan datang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan rancangan crossectional, yang bertujuan menganalisis pengaruh pengetahuan dan budaya terhadap pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi usia > 6 bulan sampai dengan 1 tahun di Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat yang berjumlah 32 orang.

Data dihimpun melalui wawancara oleh peneliti terhadap responden berpedoman kepada kuesioner penelitian, meliputi umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan, budaya dan pemberian ASI eksklusif.

(4)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Juni 2020 eISSN 2657- 0998

359 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Pemberian ASI

Frekuensi responden berdasarkan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat 2018 ditampilkan dalam Tabel 1.

Tabel 1 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pemberian Asi Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat 2018

No Pemberian ASI n %

1 Eksklusif 10 28,1

2 Tidak Eksklusif 22 71,9

Jumlah 32 100,0

(Sumber : data diolah)

Pemberian ASI dikategorikan menjadi dua yaitu eksklusif dan tidak eksklusif.

Hasil pengumpulan data pada Tabel 1. tentang ASI menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya, yaitu sebanyak 22 orang (71,9%), sedangkan yang memberikan ASi eksklusif hanya 10 orang (28,1%)

. Pengetahuan

Hasil penelitian tentang pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat ditunjukkan dalam Tabel 2.

Tabel 2 : Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat 2018

No Pengetahuan n %

1 Baik 17 53,1

2 Kurang 15 46,9

Jumlah 32 100

(Sumber : data diolah)

Pengetahuan responden tentang pemberian ASI eksklusif dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu baik dan kurang. Berdasarkan analisis univariat pada tabel 2 di atas kebanyakan responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pemberian ASI eksklusif yaitu 17 orang (53,1%) dan pengetahuan yang kurang sebanyak 15 orang (46,9%).

Budaya

Hasil peneliytian tentang Budaya dalam pemberian ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat ditunjukkan dalam Tabel 3.

(5)

360

Tabel 3 : Budaya dalam pemberian ASI di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat 2018

No Budaya n %

1 Mendukung 14 43,8

2 Tidak Mendukung 18 56,2

Jumlah 32 100

(Sumber : data diolah)

Budaya berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu mendukung dan tidak mendukung. Berdasarkan analisis univariat pada Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa kebanyakan responden memiliki budaya yang tidak mendukung pemberian ASI eksklusif yaitu 18 orang (56,2%).

Pengaruh Pengetahuan terhadap ASI Eksklusif

Hasil penelitian tentang Pengaruh pengetahuan terhadap ASI Ekskusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat ditunjukkan dalam Tabel 4.

Tabel 4 : Pengaruh pengetahuan terhadap ASI Ekskusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat 2018

Pengetahuan

ASI

Jumlah

p Eksklusif Tidak Eksklusif

n % n % n %

Baik 9 52,9 8 47,1 17 100

0,032

Kurang 1 6,7 14 93,3 15 100

Total 10 22 32

(Sumber : data diolah)

Hasil analisis data menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif dengan nilai p sebesar 0,032 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima yaitu ada hubungan antara pengetahuan dengan status pemberian ASI.

Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh manusia atau kepandaian dari manusia dan segala sesuatu yang ada dalam pikiran seseorang untuk mengenal dan mengetahui berbagai hal. Hasil analisis univariat diperoleh bahwa kebanyakan ibu menyusui di Kecamatan Woyla Barat memiliki pengetahuan yang baik yaitu 53,1% dari 32 orang ibu yang diteliti. Hal ini mengindikasikan bahwa informasi yang diterima sudah memadai. Pengetahuan yang dimiliki ibu tentang ASI eksklusif berdampak pada perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif.

Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square didapatkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pengetahuan terhadap pemberian ASI eksklusif (p=0,032). Hal ini berarti bahwa semakin baik pengetahuan seseorang tentang kesehatan, maka akan semakin tinggi keinginan untuk hidup sehat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mulianda (2010) bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif

(6)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Juni 2020 eISSN 2657- 0998

361 Dalam penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang ASI merupakan faktor resiko pemberian ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan tentang ASI eksklusif maka ibu-ibu akan semakin sadar tentang betapa pentingnya pemberian ASI eksklusif serta manfaatnya bagi ibu dan bayi, demikian pula sebaliknya.

Senada dengan hasil penelitian diatas, penelitian terdahulu juga menyebutkan bahwa pengetahuan mempunyai pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif, dalam penelitianya Rohani (2015) menjelaskan bahwa akan terjadi peningkatan pemberian ASI eksklusif jika disertai dengan peningkatan pengetahuan. Namun hasil ini berbeda dengan penelitian Nurhuda dan Mahmudah (2010) yang menyebutkan bahwa tingkat pengetahuan tentang ASI tidak ada pengaruhnya dengan praktek pemberian ASI ekslusif.

Bila dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, masih ada ibu menyusui yang kurang mengetahui bahwa bayi yang diare tetap harus diberikan asi. Hal ini menunjukkan bahwa ibu menyusui tidak mengetahui bahwa dengan tetap memberikan asi saat bayi diare akan menghindari terjadinya dehidrasi pada bayi tersebut. Ada anggapan dari ibu menyusui bahwa bila bayi diare tetap diberi asi maka diarenya tidak akan berhenti.

Pengetahuan merupakan awal dari perubahan perilaku. Artinya jika ingin mengubah perilaku ibu menyusui, maka mulailah dari meningkatkan pengetahuan ibu hamil terlebih dahulu. Peningkatan pengetahuan ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi seluas-luasnya kepada ibu menyusui akan pentingnya pemberian ASI eksklusif.

Pengaruh Budaya terhadap ASI Eksklusif

Hasil penelitian tentang pengaruh budaya terhadap ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat ditunjukkan dalam Tabel 5.

Tabel 5 : Pengaruh budaya terhadap ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat 2018

Budaya

ASI

Jumlah

p Eksklusif Tidak Eksklusif

n % n % n %

Mendukung 8 57,1 6 42,9 14 100

0,005 Tidak

Mendukung

2 5,6 16 94,4 18 100

Total 10 22 32

(Sumber : data diolah)

Budaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif dengan nilai p sebesar 0,005 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima yaitu ada hubungan antara budaya dengan status pemberian ASI.

Budaya adalah tradisi atau kebiasaan yang berlaku disuatu tempat tertentu. Berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif, buaya yang dimaksudkan disini adalah kebiasan atau tradisi yang dapat menghambat pemberian ASI secara eksklusif, seperti pemberian madu, pisang, dan sebagainya sebelum usia 6 bulan.

(7)

362

Hasil penelitian di Kecamatan Woyla Barat menunjukkan bahwa mayoritas ibu menyusui memiliki budaya yang tidak mendukung dalam pemberian ASI yaitu sebanyak 56,2%.

Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square didapatkan bahwa budaya berpengaruh secara signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif (p=0,005). Hasil ini menggambarkan bahwa ada kebiasaan yang kurang mendukung pemberian ASI eksklusif akan mengurangi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif. Dari hasil penelitian terlihat bahwa kelompok ibu menyusui yang memiliki budaya tidak mendukung, 94,4%

tidak memberikan ASI eksklusif. Ini menunjukkan bahwa semakin tidak mendukung budaya semakin rendah pemberian ASI eksklusif.

Berdasarkan jawaban responden juga terlihat bahwa banyak responden menyatakan ada makanan dan minuman tertentu yang diberikan saat bayi lahir sebagai suatu penyembutan bagi bayi, ibu-ibu juga menyatakan ada kebiasan menghentikan pemberian ASI bila bayi diare. Hal ini juga suatu kebiasaan yang kurang tepat (Arianti, 2019)..

Mengubah suatu tradisi memang agak sulit, apalagi tradisi itu sudah turun temurun dan diyakini oleh masyarakat. Namun demikian petugas kesehatan harus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya ibu menyusui untuk memahami kondisi yang sebenarnya, walaupun tidak sesuai dengan tradisi masyarakat melalui penyuluhan kesehatan.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulankan:

1. Hasil pengumpulan data tentang ASI menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak memberikan Asi secara eksklusif kepada bayinya, yaitu sebanyak 22 orang (71,9%).

2. Berdasarkan analisis univariat kebanyakan responden memiliki pengetahuan yang baik tentang pemberian ASI eksklusif yaitu 17 orang (53,1%).

3. Pengetahuan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif dengan nilai p sebesar 0,032 (p<0,05).

4. Budaya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif dengan nilai p sebesar 0,005 (p<0,05).

Saran

Disarankan kepada Kepala Puskesmas untuk mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan program Asi eksklusif yang telah dilakukan. Selanjutnya mengupayakan peningkatana cakupan Asi eksklusif dengan cara memberikan penyuluhan kesehatan secara lebiih intensif di setiap kesempatan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Arianti, 2019. Hubungan Faktor Predisposisi Dan Pendukung Dengan Pemberian Air Susu Ibu Selama 2 Tahun Di Desa Simpang Balik Bener Meriah.

http://jurnal.serambimekkah.ac.id/serambi-saintia/article/view/989

Arimurti Ida, 2007. Kebijakan Departemen Kesehatan Tentang Peningkatan Pemberian ASI Pekerja Wanita

(8)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Juni 2020 eISSN 2657- 0998

363 Arini, 2012. Mengapa Seorang Ibu Harus Menyusui, Jogjakarta, Flashbook

Dinkes Aceh Barat, 2016, Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Tahun 2016, Meulaboh

Fikawati dkk, 2009. Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Praktik Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan tahun 2009. Artikel Kesehatan.

Josefa, 2011. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Pemberian asi eksklusif pada ibu (studi kasus di wilayah kerja puskesmas manyaran, Kecamatan semarang barat).

Masyudi, dan Khadijah, 2016. Hubungan Pemberian Asi Eksklusif, Pengetahuan, Pendapatan dan Pola Asuh dengan Tumbuh Kembang Anak Balita di Desa Meudheun Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya Tahun 2016.

http://www.jurnal.serambimekkah.ac.id/serambi-saintia/article/view/104 Notoatmodjo, S, 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni, Jakarta, Rineka Cipta Notoatmodjo, S, 2010. Ilmu Perilku Kesehatan, Jakarta, Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S, 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni Edisi 3, Jakarta, Rineka Cipta Novi, 2007. Survey Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI

Eksklusif pada Bayi di Desa Sadang Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.

Uneversitas Negeri Semarang; 2007.

Setiadi, 2012, Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan Edisi 2. Graha IlmuYogyakarta.

Wawan, 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku, Yokyakarta, Nuha Medika.

Yuliarti, 2010. Keajaiban ASI, Jogjakarta, ANDI

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pekerjaan dan pengetahuan memiliki pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas

Untuk mengetahui hubungan dukungan emosional oleh keluarga dengan Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Pasi Mali Kecamatan Woyla

berpengaruh terhadap pemanfaatan Posyandu oleh ibu-ibu balita di wilayah kerja. Puskesmas Johan Pahlawan, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten

Hasil penelitian tentang adanya hubungan pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif terhadap pemberian ASI pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa Kabupaten

Gambaran dukungan keluarga terhadap pemberian ASI eksklusif pada Tabel 3 menunjukkan bahwa ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif karena tidak didukung keluarga

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 31 responden tingkat pengetahuan ibu menyusui tentang ASI Eksklusif berdasarkan pekerjaan sebagian besar bekerja

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan Program Jaminan Persalinan di Wilayah Kerja Puskesmas Sedayu 1..

Hubungan Pengetahuan,Status Imunisasi Dan Riwayat Asi Ekslusif Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Puskesmas Sindang Beliti Ilir Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2023 Relationship