• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inovasi Pendidikan di Era Society 5.0 E-ISSN: 2828-7312

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Inovasi Pendidikan di Era Society 5.0 E-ISSN: 2828-7312"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

103

PEMBELAJARAN KOLABORATIF UNTUK MELATIH KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH SISWA

DALAM PEMBELAJARAN FISIKA

Ajeng Cyntia Azahra*, Nada Nisrina, Nazifa Mumtaza, Irma Rahmawati

Program Studi Tadris Fisika, Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

*Email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji literature tentang penerapan pembelajaran kolaboratif untuk melatih keterampilan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Sumber data berupa artikel-artikel penelitian di jurnal nasional yang berkaitan dengan pembelajaran kolaboratif untuk melatih keterampilan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran fisika. Hasil kajian literature menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif dapat mengembangkan sikap kerjasama, menghargai pendapat teman, mengendalikan diri, kesabaran dan kecerdasan emosional sehingga menghasilkan pemecahan masalah yang tepat. Penerapan pembelajaran kolaboratif melalui tipe buzz group dapat meningkatkan pola pikir atau penalaran siswa dalam pemecahan masalah fisika.

Kata kunci: pembelajaran kolaboratif; pemecahan masalah; pembelajaran fisika.

Abstract

This study aims to examine the literature on the application of collaborative learning to train students' problem solving skills in learning physics. This study uses a qualitative approach with library research. Sources of data are research articles in national journals related to collaborative learning to train students' problem solving skills in learning physics. The results of the study show that collaborative learning can develop cooperative attitudes, respect friends' opinions, self-control, patience and emotional intelligence so as to produce appropriate problem solving.

The application of collaborative learning through the buzz group type can improve students' mindset or reasoning in solving physics problems.

Keywords: collaborative learning; problem solving; physics learning.

(2)

104

PENDAHULUAN

Dalam ruang lingkup dunia pendidikan, salah satu hal yang perlu diperhatikan ialah peningkatan kualitas pendidikan yang yang baik. Adanya kualitas pendidikan yang baik, akan tercipta suatu sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Peningkatan kualitas akan tercapai apabila dalam proses pembelajaran diselenggarakan dengan efektif dan berguna dalam tercapainya kompetensi pembelajaran yang diharapkan. Makna pembelajaran sangat erat hubungannya dengan kata belajar dan mengajar. Belajar, mengajar serta pembelajaran terjadi pada saat yang sama.

Pembelajaran merupakan suatu usaha yang melibatkan dan menggunakan pengetahuan secara profesional pada seorang guru guna tercapainya tujuan dari kurikulum.

Pembelajaran adalah proses berinteraksi antara peserta didik kepada pendidik serta sumber belajar yang terdapat didalam suatu lingkungan belajar. Berdasarkan pada Permendikbud No.22 tahun 2016 mengenai standar proses pendidikan yang menyebutkan bahwa salah satu dari prinsip pembelajaran adalah pendekatan tekstual sebagai proses penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. Dengan ini maka, siswa dituntut untuk mulai untuk berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah.

Menurut Djoko Apriono (2013, h.295), Pembelajaran yang dikembangkan mulanya hanya berfokus pada hasil belajar kognitif tingkat rendah, ini tentunya akan memberikan dampak yang kurang memuaskan. Peserta didik

akan cenderung memiliki sifat individualis dan berkompetensi dalam mencari nilai yang tinggi.

Tentunya peserta didik akan cenderung mementingkan diri sendiri. Dengan kata lain, tidak adanya interaksi antar peserta didik akan menyebabkan kesulitan bagi mereka untuk bergaul dan mengemukakan pendapatnya kepada orang lain (Apriono, 2013).

Hasil belajar yang diharapkan adalah berfokus kepada semua aspek meliputi aspek kognitif tingkat tinggi, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Dikarenakan nantinya peserta didik akan terjun ke lingkup masyarakat yang mana kehidupan bersosial adalah ciri khasnya, sehingga proses pembelajaran pada pengembangan ke tiga ranah aspek tersebut sangat diharapkan. Untuk meningkatkan proses pembelajaran ini maka dikembangkan salah satu proses pembelajaran yaitu dengan pendekatan model pembelajaran kolaboratif.

Pembelajaran kolaboratif merupakan model pembelajaran dimana pada pembelajaran ini mengembangkan peran aktif dari peserta didik (student center). Menurut ueno ((Marhamah et al., 2017), Pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu cara pemberian kesempatan bagi peserta didik agar berpartisipasi aktif dan mereka bisa belajar bersama untuk membangun pengetahuan melalui diskusi. Dalam model pembelajaran kolaboratif ini pola pikir, kreativitas, keaktifan, dan interaksi yang dibangun oleh siswa dapat ditingkatkan dalam proses pembelajaran.

Interaksi sosial yang dibangun siswa lewat

(3)

105

diskusi atau kelompok belajar akan membuat proses pembelajaran lebih bermakna. Hal ini dikarenakan pola dari pembelajaran kolaboratif berpusat kepada siswa, menurut utomo (Marhamah et al., 2017). Siswa yang berasal dari berbagai latar belakang kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang berbeda- beda. Tentunya proses pembelajaran ini akan semakin meningkatkan mutu pencapaian belajar yang maksimal sebagai bagian dari proses hasil belajar bersama.

Adapun metode yang digunakan dalam menerapkan pembelajaran kolaboratif ini adalah: (1) Peserta didik dapat terlibat secara aktif pada proses pembelajaran, yang mana guru juga berperan dalam hal ini. Guru biasanya menyiapkan bahan belajar yang menunjang pembelajaran kolaboratif ini, seperti lks dan sebagainya. (2) Kegiatan pembelajaran itu bergantung kepada tugas atau masalah yang disediakan. Topik dari masalah ini bisa diambil dari permasalahan yang ada pada kehidupan sehari-hari, karena menurut pendapat Hastuti, Sahidu, & Gunawan (Risma, dkk. 2019. h.73) bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang mana peserta didiknya dituntut untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. (3) Pembelajaran kolaboratif berfokus kepada unsur social, yakni semua kegiatan pada proses pembelajarannya diutamakan unsur kerjasama baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar.

Dalam kelompok ini peserta didik membantu satu sama lain dalam proses belajar di kelas (Fitriyani et al., 2019).

Keunggulan atau manfaat yang diperoleh dari pembelajaran kolaboratif sendiri menurut Hill & Hill (Djoko Apriono,2013) adalah;

prestasi belajar yang tinggi, pemahaman mendalam, peserta didik bisa mengembangkan keterampilan kepemimpinan, bersikap positif, harga diri meningkat bagi peserta didik, bisa belajar secara inklusif, berada dalam kebersamaan, dan mencapatkan modal untuk bisa mengembangkan keterampilan yang akan berguna di masa depan. Selain keunggulan tersebut banyak hal lain yang bisa di peroleh peserta didik jika mereka belajar secara kolaboratif. Tapi, yang menjadi hal penting dari semua itu adalah bagaimana peserta didik (siswa) nantinya bisa paham dengan materi yang diberikan oleh guru (Apriono, 2013).

Penelitian dengan model pembelajaran kolaboratif sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya, salah satunya adalah hasil penelitian Ida Rachmawati,dkk (2018). Dalam penelitiannya menggunakan pembelajaran kolaboratif berbasis proyek untuk keterampilan berfikir kreatif yang semakin meningkat dan berfikir kritis pada siswa SMA, dengan desain penelitian one pre-test post-test. Hasil yang didapat adalah bahwa pembelajaran kolaboratif berbasis proyek kategori sedang bisa meningkatkan kemampuan berpikir kreatif ilmiah dan berpikir kritis pada siswa.

Keterampilan pemecahan masalah sangat penting dimiliki pada pembelajaran fisika.

Menurut Jayadiningrat, kemampuan dasar yang dimiliki seseorang dalam menyelesaikan suatu masalah yang melibatkan pemikiran kritis, logis

(4)

106

dan sistematis disebut dengan keterampilan pemecahan masalah. Hal ini penting karena tidak terlepas dari perannya dalam kehidupan, yakni untuk meningkatkan kemampuan dalam memecahkan suatu permasalahan (Jayadiningrat & Ati, 2018). Kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran fisika tergolong rendah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Azizah, dkk, bahwa kesulitan peserta didik dalam pemecahan masalah fisika dipengaruhi beberapa faktor diantaranya kesukaan mereka terhadap pelajaran fisika, materi yang dipelajari, kegiatan pembelajaran yang dialami dan metode mengajar guru (Azizah et al., 2015).

Dalam penelitian Kumalasari, hasil wawancaranya dengan salah satu guru fisika terkait kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal kesetimbangan benda tegar bahwa hasil belajar peserta didik masih banyak yang memperoleh nilai di bawah KKM.

Adapun sebabnya dikarenakan peserta didik kurang memahami soal, tidak mengetahui langkah selanjutnya untuk mengerjakan, kurang terampil dalam menganalisis soal dan mengaitkan konsep serta kesulitan saat perhitungan menggunakan rumus. Selama menyelesaikan soal kesetimbangan benda tegar, peserta didik cenderung mengerjakan langsung tanpa mencoba memahami soal, menyusun penyelesaian, menyelesaikan soal sesuai proses yang disusun, dan tidak mengecek ulang pada

setiap langkah yang dilakukan (Kumalasari &

Djudin, n.d.).

Berdasarkan penjabaran di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembelajaran kolaboratif untuk melatif keterampilan pemecahan masalah dalam pembelajaran fisika.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.

Menurut Asmendri (2020), penelitian kepustakaan adalah jenis penelitian dengan cara mengumpulkan informasi dan data yang diperlukan dengan bantuan bahan seperti buku referensi, hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya yang relevan, artikel ilmiah, catatan serta jurnal yang selaras dengan masalah yang ingin diselesaikan (Sari &

Asmendri, 2018). Data penelitian terdiri dari beberapa artikel dengan topik pembelajaran kolaboratif, keterampilan pemecahan dan beberapa artikel yang relevan.

Teknik pengumpulan data pada penelitian kepustakaan ini berupa analisis terhadap literatur berupa buku, maupun artikel. Setelah data terkumpul, kemudian peneliti melakukan penganalisis data dengan menggunakan teknik analisis data oleh Miles dan Huberman.

Menurut (Mirshad, 2014), model ini analisis data secara kualitatif interaktif dan berulang sampai data yang diperlukan terpenuhi. Pada penelitian ini, peneliti melakukan analisis sebanyak 17 sumber referensi yang akan digunakan.

(5)

107 HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil

penelitian (Kusumastuti et al., 2018) mengenai penerapan model pembelajaran kolaboratif pada pembelajaran fisika di SMP, bahwa ada perbedaan yang signifikan pada hasil belajar siswa antara model pembelajaran kolaboratif dengan model konvensional. Penerapan model pembelajaran kolaboratif memberikan kemudahan para siswa belajar kemudian bekerja sama, saling bertukar pikiran serta bertanggung jawab untuk pencapaian hasil belajar kelompok maupun mandiri.

Keterampilan bekerjasama atau kolaborasi merupakan aspek yang penting dimiliki oleh setiap orang terutama dalam pembelajaran.

Dalam pemecahan masalah peserta didik dapat membentuk kelompok untuk bekerjasama mencapai suatu tujuan yaitu memecahkan permasalahan.

Pada penelitian (Apriono, 2013) menyatakan bahwa dalam pembelajaran kolaboratif ini, peserta didik perlu memiliki sikap bekerjasama, menghargai pendapat teman, mengendalikan diri, kesabaran dan kecerdasan emosional agar pembelajaran lebih bermakna, sehingga menghasilkan pemecahan masalah yang tepat. Adapun proses negosiasi pada pola belajar kolaborasi memiliki 6 ciri menurut (Myers, 1991 dalam Apriono, 2013), yakni: 1) kelompok berbagi tugas dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran; 2) setiap anggota kelompok bisa saling memberi masukan agar memahami inti masalah yang

dihadapi; 3) bisa saling bertukar pertanyaan untuk lebih memahami secara mendalam; 4) tiap anggota kelompok menguasakan kepada anggota lain untuk berbicara dan memberi masukan; 5) kerja kelompok dipertanggungjawabkan kepada orang lain dan diri sendiri; 6) di antara anggota kelompok ada saling ketergantungan.

Penelitian (Fitriyani et al., 2019) menyatakan bahwa adanya pengaruh LKS kolaboratif pada keterampilan pemecahan masalah fisika sehingga dapat melatih keterampilan peserta didik dalam memecahkan masalah. Kegiatan pembelajaran kolaboratif dimulai dari identifikasi masalah (disajikan permasalahan fisika kemudian peserta didik membuat rumusan masalah), eksplorasi ide kreatif (setiap kelompok menentukan alternatif solusi untuk memecahkan masalah), tahap kolaboratif (peserta didik bekerja secara kolaboratif dengan mengerjakan secara individu sebelum mendiskusikannya secara berkelompok), elaborasi ide kreatif (anggota kelompok menganalisis data yang diperoleh dari tugas yang dikerjakan individu), dan evaluasi (memberikan kesimpulan berdasarkan data-data yang diperoleh).

Hasil penelitian ((Fitriyani et al., 2019) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terkait keterampilan pemecahan masalah antara pembelajaran kolaboratif dengan pembelajaran konvensional. Dalam memecahkan masalah diperlukan keterampilan menyusun prosedur yang tepat agar dapat menyelesaikan suatu masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

(6)

108

kemampuan peserta didik dalam menyusun prosedur pemecahan masalah fisika masih tergolong rendah (Uzaedah et al., 2019). Ada beberapa faktor kesulitan dalam menyusun prosedur pemecahan masalah, sebagian besar

berasal dari diri sendiri. Pada penelitian (Uzaedah et al., 2019) mengemukakan faktor tersebut meliputi responden yang tidak yakin saat menyusun prosedur pemecahan masalah Fisika dan kurangnya pemahaman konsep.

PEMBAHASAN

Tahap-tahap seseorang dalam kemampuan pemecahan masalah menurut (Mulyani et al., 2021) yakni: mendeskripsikan masalah, merencanakan suatu solusi, melaksanakan pemecahan masalah, melakukan pengecekan dan mengevaluasi secara logis.

Berdasarkan hal tersebut dilihat bahwa dalam proses pemecahan masalah harus dilakukan secara bertahap agar mendapatkan kemampuan berfikir kritis. Selanjutnya dalam proses pembelajaran nantinya tingkat pemahaman konsep siswa juga akan meningkat karena siswa akan belajar bagaimana menemukan konsep dari hasil analisis pemikiran mereka sendiri.

Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh oleh (Yusuf, 2020) peningkatan aktivitas kolaborasi materi fisika pada siswa kelas XI IPA DI SMAN 5 YOGYAKARTA, diperoleh bahwa pada materi kesetimbangan hal ini terbukti dari hasil observasi belajar peserta didik. Pada siklus pertama diperoleh presentase rata-rata sekitar 65,00 % (kriteria cukup), kemudian pada siklus kedua presentase rata-ratanya meningkat menjadi 92,74% (kriteria sangat baik).

Proses pembelajaran kolaboratif ini dapat dilakukan dengan salah satunya

menggunakan pendekatan saintifik. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Setyawan et al., 2017), yang mana peneliti meneliti tentang pengembangan pembelajaran pada materi kesetimbangan benda tegar guna meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan komunikasi verbal siswa SMA. Berdasarkan hasil penelitiannya diperoleh bahwa menggunakan pendekatan saintifik dalam materi kesetimbangan benda terbukti efektif meningkatkan kemampuan siswa berfikir kritis. Dalam proses pembelajarannya peneliti menyajikan bahan ajar dalam bentuk modul yang didalamnya ada kegiatan percobaan yang bisa dilakukan oleh siswa secara berkolaboratif. Modul merupakan salah satu bahan ajar yang biasanya digunakan oleh guru.

Didalamnya biasanya tercantum ilustrasi gambar, latihan soal, proses mengamati, menanya, merumuskan, menganalisis dan sebagainya sesuai dengan pembelajaran SMA yang mengarah pada pembelajaran saintifik.

Sehingga modul ini juga harus divalidasi agar sesuai dan layak diterapkan.

Menurut (Mahdalena & Daulay, 2020), modul fisika berbasis saintifik berdasarkan SK.2 memformulasikan hubungan berdasarkan pada hukum II Newton serta penerapannya dalam benda tegar. Karena materi yang

(7)

109

disajikan dikaitkan dengan feomena dalam kehidupan sehari-hari yang mana nantinya akan dijelaskan berdasarkan logika atau penalasan siswa. Dari sinilah kita tau bahwa dalam pembelajaran kolaboratif selain fungsinya untuk meningkatkan daya keteampilan pemecahan masalah pada siswa, pembelajaran ini juga sekaligus meningkatkan daya berfikir kritis dan kemampuan peningkatan komunikasi bagi siswa.

Pada penelitian yang dilakukan oleh (Harahap, 2017), menunjukkan bahwa dari hasil pengujian yang telah dilakukan, rata-rata dari kemampuan matematis siswa dari kelas ekperimen lebih tinggi dari rata-rata kemapuan matematis siswa pada kelas kontrol. Dari hasil di atas didapatkan hasil penelitian ini dikatakan baik. Karena penggunaan model pembelajaran kolaboratif mengunakan tipe pembelajaran buzz group.

Penggunaan tipe pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk berpikir kritis dengan menggunakan penalaran. Ketika proses pembelajaran berlangsung terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan, siswa dapat berperan aktif dalam pembelajaran berkelompok ataupun individu. Sehingga, peserta didik dapat secara bebas mengeluarkan pendapat mereka dan dari model pembelajaran kolaboratif ini dpaat mendorong siswa dalam hal kepercayaan diri.

Dalam pembelajaran kolaboratif dengan menggunakan tipe buzz group, bisa meningkatkan kemapuan bernalar secara matematis pada siswa. Karena pada tipe

pembelajaran ini lebih ditekankan pada pemberian soal dengan tipe pengujian dan penalaran matematis dalam materi yang sedang dikerjakan.

SIMPULAN

Pembelajaran kolaboratif dipandang efektif untuk melatih keterampilan pemecahan masalah pada materi kesetimbangan benda tegar. Dimana pada pembelajaran kolaboratif siswa memecahkan masalah belajar secara berkelompok melalui beberapa tahap. Selain itu ada beberapa tahapan proses yang mesti dilakukan dalam pemecahan masalah yang nantinya akan menambah sikap kritis pada pola pikir siswa.

Pada peneltian terdahulu, yakni pembelajaran kolaboratif dengan menggunakan tipe buzz group, dan penyajian modul dengan pendekatan saintifik dalam materi kesetimbangan benda tegar ternyata dapat meningkatkan pola pikir atau penalaran siswa dalam pemecahan masalah pada proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Apriono, D. (2013). PEMBELAJARAN KOLABORATIF: Suatu Landasan untuk Membangun Kebersamaan dan Keterampilan. DIKLUS Pendidikan Luar Sekolah, 17(1), 292–304.

Azizah, R., Yuliati, L., & Latifah, E. (2015).

Kesulitan Pemecahan Masalah Fisika pada Siswa SMA. Jurnal Penelitian Fisika Dan Aplikasinya (JPFA), 5, 44–50.

https://doi.org/10.1136/pgmj.53.620.343 Darmadi, Pengembangan Model dan Metode

Pembelajaran Dalam Dinamika Belajar Siswa, Yogyakarta: Deepublish, 2017.

(8)

110

Dewi, Mia Roosmalisa.,dkk. 2016. “Pengaruh

Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Lesson Study terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa”.

dalam Jurnal Edukasi UNEJ. III(2),h.

29-33

Fitriyani, R. V., Supeno, S., & Maryani, M.

(2019). Pengaruh LKS Kolaboratif Pada Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Keterampilan Pemecahan Masalah Fisika Siswa SMA. Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika, 7(2), 71.

Harahap, R. (2017). Efektivitas Model Pembelajaran Kolaboratif Tipe Buzz Group Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Kelas Xi Di Man 1 Takengon. Jurnal As-Salam, 1(3), 30–40.

Jayadiningrat, M. G., & Ati, E. K. (2018).

Peningkatan Keterampilan Memecahkan Masalah Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) Pada Mata Pelajaran Kimia. Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 2(1), 1.

Kumalasari, I., & Djudin, T. (n.d.). Pengaruh kemampuan peserta didik menerapkan strategi metakognitif terhadap kemampuan menyelesaikan soal kesetimbangan benda tegar. 1–11.

Kusumastuti, E. C., Prihandono, T., &

Supriadi, B. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif Dengan Media Sederhana Pada Pembelajaran Fisika Di Smp. 7(May), 91–95.

Mahdalena, M., & Daulay, M. I. (2020).

Pengembangan Pembelajaran Fisika Berbasis Saintifik Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan

Komunikasi Verbal Siswa Sma. Journal on Teacher Education, 2(1), 39–48.

Marhamah, Mustafa, & Melvina. (2017).

Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Lesson Study Learning Community (Lslc). Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Pendidikan Fisika, 02(3), 277–182.

Mirshad, Z. (2014). Motivasi konsumsi Islam versus sekuler: studi komparatif pemikiran al Ghazali dan Abraham Maslow. UIN Sunan Ampel Surabaya.

Mulyani, S., Efendi, R., & Ramalis, T. R.

(2021). Karakterisasi Tes Keterampilan Pemecahan Masalah Fisika Berdasarkan Teori Respon Butir. JURNAL Pendidikan Dan ….

Rachmawati, Ida.,dkk. 2018. “PENERAPAN

PEMBELAJARAN BERBASIS

PROYEK UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN BERPIKIR

KREATIF ILMIAH SISWA SMA PADA MATERI KESEIMBANGAN BENDA TEGAR”. dalam Jurnal Wahana Pendidikan Fisika. 3(2)h,. 25-30.

Suhardi, Moh, Belajar & Pembelajaran.

Yogyakarta: Deepublish, 2018.

Sari, M., & Asmendri. (2018). Penelitian Kepustakaan (Library Research) dalam Penelitian Pendidikan IPA. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dalam Penelitian Pendidikan IPA, 2(1), 15.

Setyawan, D. N., Sarwanto, S., & Aminah, N.

S. (2017). Pengembangan Pembelajaran Berbasis Saintifik pada Materi Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Komunikasi Verbal Siswa SMA. Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika, 8(1), 14–25.

(9)

111

Taqwa, M. R. A., Astalani, & Darmaji. (2015).

Hubungan Gaya Belajar Visual , Auditorial , Dan Kinestetik Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Dinamika Rotasi Dan Kesetimbangan Benda Tegar Kelas XI IPA SMAN Se-Kota Jambi.

Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Pendidikan Sains 5, December 2015.

Uzaedah, E., Nugroho, S. E., & Susanto, H.

(2019). Analisis Kemampuan Calon Guru dalam Menyusun Prosedur Pemecahan Masalah Fisika Materi Dinamika Rotasi dan Kesetimbangan Benda Tegar. UPEJ Unnes Physics Education Journal, 8(2), 112–119.

Yusuf, I. & A. A. (2020). PENINGKATAN

AKTIVITAS KOLABORASI

PEMBELAJARAN FISIKA MELALUI

PENDEKATAN STEM DENGAN

PURWARUPA PADA SISWA KELAS XI IPA SMAN 5 YOGYAKARTA.

Uniqbu Journal of Exact Sciences (UJES), 1.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan kasih anugerah-Nya yang dilimpahkan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan