• Tidak ada hasil yang ditemukan

INOVASI PENDIDIKAN DAN PERAN GURU DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

N/A
N/A
Laili N. Q.

Academic year: 2024

Membagikan "INOVASI PENDIDIKAN DAN PERAN GURU DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN "

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

INOVASI PENDIDIKAN DAN PERAN GURU DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Administrasi dan Manajemen Pendidikan Dosen Pengampu :

Try Heni Aprilia, M.Pd.

MAKALAH

Disusun oleh :

Kelompok 12

Diva Maharani 23204012

Laili Nuur Qomariyah 23204021

PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI APRIL 2024

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul

“Inovasi Pendidikan dan Peran Guru Dalam Lembaga Pendidikan” tepat pada waktunya.

Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat Islam dari jalan kegelapan menuju jalan terang benderang yakni Addinul Islam wal Iman.

Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak- pihak yang telah membantu dan mendukung dalam proses penyusunan makalah ini. Adapun disusunnya makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Administrasi dan Manajemen Pendidikan dengan Ibu Try Heni Aprilia, M.Pd. sebagai dosen pengampu. Serta untuk menambah wawasan bagi pembaca dan penulis khususnya mengenai Inovasi Pendidikan dan Peran Guru Dalam Lembaga Pendidikan.

Penulis menyadari bahwa dalam menulis makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi EBI, kosa kata, tata bahasa, etika, maupun isi. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran seluas-luasnya dari pembaca yang kemudian akan penulis jadikan sebagai evaluasi sehingga membuat makalah ini menjadi lebih baik serta bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Kediri, 12 April 2024

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB 1 ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Penulisan ... 2

BAB 2 ... 3

PEMBAHASAN ... 3

A. Pengertian Inovasi ... 3

B. Perspektif Inovasi ... 4

C. Karakteristik Inovasi ... 5

D. Sumber Inovasi ... 5

E. Konsep Inovasi Pendidikan ... 7

F. Proses Inovasi Pendidikan di Indonesia ... 14

G. Peran Guru Dalam Inovasi Pendidikan ... 20

BAB III ... 22

PENUTUP ... 22

A. Kesimpulan ... 22

B. Saran ... 22

DAFTAR PUSTAKA ... 23

(4)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu kunci dalam pembangunan sebuah negara. Di era globalisai dan kemajuan teknologi ini, perubahan yang cepat terjadi di berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Lembaga pendidikan menghadapi tantangan untuk terus relevan dan efektif. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan adanya inovasi pendidikan yang mampu mengadaptasi metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Inovasi pendidikan melibatkan pengembangan dan penerapan ide-ide baru dalam konteks pembelajaran. Hal ini mencakup penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, pengembangan kurikulum yang menarik dan relevan, penggunaan metode pengajaran yang inovatif, serta evaluasi yang lebih adaptif dan inklusif. Inovasi pendidikan juga melibatkan perubahan paradigma dalam berpikir tentang pembelajaran, di mana siswa tidak lagi hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi menjadi aktor yang aktif dalam proses pembelajaran.

Dalam lembaga pendidikan, guru memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan inovasi pendidikan. Guru bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran, motivator, dan pendamping siswa dalam mencapai potensi maksimal mereka. Guru perlu dilengkapi dengan keahlian dan sumber daya untuk mengadopsi dan menerapkan inovasi. Sebab guru yang inovatif akan mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik, interaktif, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Mereka akan menggunakan berbagai strategi pengajaran yang kreatif dan teknologi pendidikan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus mendukung inovasi melalui kebijakan dan investasi yang memadai. Hal ini mencakup pelatihan guru, penyediaan infrastruktur teknologi, serta pendanaan untuk penelitian dan pengembangan dalam pendidikan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari inovasi?

2. Bagaimana perspektif terhadap inovasi?

3. Bagaimana karakteristik dari inovasi?

4. Apa saja sumber inovasi?

5. Bagaimana konsep inovasi pendidikan?

(5)

2

6. Bagaimana proses inovasi pendidikan di Indonesia?

7. Bagaimana peran guru dalam inovasi pendidikan?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian dari inovasi.

2. Mengetahui perspektif terhadap inovasi.

3. Mengetahui karakteristik dari inovasi.

4. Mengetahui sumber inovasi.

5. Mengetahui konsep inovasi pendidikan.

6. Mengetahui proses inovasi pendidikan di Indonesia.

7. Mengetahui peran guru dalam inovasi pendidikan.

(6)

3 BAB 2 PEMBAHASAN

A. Pengertian Inovasi

Kata inovasi berasal dari bahasa Inggris yaitu innovation yang bermakna segala hal yang baru atau pembaharuan. Kata inovasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode atau alat). Inovasi dapat diartikan sebagai usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery.1 Inovasi merupakan hasil kreasi ide yang disesuaikan pemanfaatannya, dengan menciptakan hal baru untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan dengan misi membawa kemajuan.2

Inovasi adalah memperkenalkan ide baru atau barang baru, pelayanan baru dan cara- cara baru yang lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam konteks ini, inovasi biasanya berhubungan dengan kreativitas manusia. Bahkan hakikat inovasi atau innovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovasi dapat diartikan sebagai “penemuan” yang kemudian dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang baik berupa invention maupun discovery untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu.

Saat ini manusia berada di Tengah-tengah samudera hasil inovasi. Ada inovasi pengetahuan, teknolgi, ICT, ekonomi, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya. Inovasi juga dapat dikelompokkan menjadi inovasi besar dan inovasi kecil-kecil, namun sangat banyak wujudnya. Inovasi juga tidak harus mahal. Proses pencapaian hasil inovasi dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Setiap inovasi adalah satu ide atau konstelasi ide, yang menurut kodratnya hanya dalam organisasi sentral, dalan tata piker yang bersifat rohaniah. Inovasi akan tampak nyata jika telah menjadi kelakuan Tindakan atau sesuatu barang yang dihasilkan sebagai konsekuensi inovasi yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dalam organisasi dan atau Masyarakat tertentu.

1 Akhmad Riandy Agusta dkk, INOVASI PENDIDIKAN, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021), hlm. 1.

2 Ibid. hlm. 4.

(7)

4

Kata kunci dalam inovasi adalah “perubahan”. Makna utama inovasi adalah ide, gagasan, pemikiran untuk perubahan yang dapat diimplementasikan dalam kaitannya dengan semua bidang kehidupan untuk menjadi lebih baik. Perubahan yang terjadi bisa saja secara kebetulan dan tidak sistematis, tetapi agar perubahan itu dapat disebut sebagai inovasi, perubahan tersebutharus mengandung unsur kesadaran dan perenungan yang kuat.

Di sinilah kata “perencanaan” digunakan. Para perancang perubahan harus tahu apa yang ingin diubah, mengapa dan bagaimana cara mengubahnya. Dengan kata lain para pembaharu juga harus tahu ke mana arah yang akan dituju atau dengan kata lain, pembaharu harus memiliki sasaran yang sudah ditetapkan secara jelas. Namun, ini bukan berarti bahwa manusia dituntut secara mutlak untuk merencanakan setiap langkah dalam perubahan itu sebelumnya.

Dalam konteks ini maka dapat diajukan definisi inovasi sebagai suatu perubahan yang direncanakan. Namun, agar perubahan itu mempunyai tujuan, penting untuk mengaitkannya pada sesuatu hal, dan haruslah sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Inovasi adalah mengenai suatu “perubahan yang direncanakan”, yang bertujuan untuk “memperbaiki”.

Unsur lain yang tercakup dalam definisi ini adalah praktik. Alasan untuk memberi penekanan pada tindakan praktik adalah bahwa hal ini merupakan bagian yang sangat penting dari proses perubahan. Setiap orang dapat memikirkan dan menggambarkan suatu perbaikan, namun mengubah ide menjadi realitas itu lebih sulit dan memerlukan kemampuan lebih banyak.

Dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah pembaharuan dalam ide, gagasan dan produk barang dalam kehidupan manusia untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Karena itu, inovasi yang dilakukan individu dan kelompok masyarakat atau bangsa berkenaan dengan perubahan kualitatif dalam perwujudan kebudayaan manusia yang termanifestasikan pada berbagai bidang dan aspek kehidupan.3

B. Perspektif Inovasi

Perspektif menurut arti adalah cara pandang suatu masalah yang terjadi. Sedangkan pendidikan adalah suatu usaha yang terencana dan sarana untuk mewujudkan suasana belajar guna meningkatkan kualitas potensi diri manusia di masa yang akan datang. Jadi dapat disimpulkan bahwa perspektif pendidikan adalah suatu konsep yang dilihat dari sudut proses bahwa pendidikan adalah proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya

3 Syafaruddin dkk, INOVASI PENDIDIKAN (Suatu Analisis Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan), (Medan:

PERDANA PUBLISHING (Kelompo Penerbit Perdana Mulya Sarana, 2012), hlm. 24-28.

(8)

5

mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya dan yang akan menimbulkan perubahan pada dirinya, sehingga berfungsi sesuai kompetensinya dalam kehidupan bermasyarakat.

C. Karakteristik Inovasi

Lima hal yang menjadi karakteristik inovasi yang dapat memengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi, yaitu4 :

1. Keuntungan relatif

Keuntungan relatif terkait dengan sejauhmana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan, kepuasan atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya informasi.

2. Kompatibel

Kompatibel terkait dengan tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.

3. Kompleksitas

Kompleksitas merupakan tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh enerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebarannya.

4. Triabilitas

Triabilitas terkait dengan dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Suatu inovasi yang dicoba akan cepat diterima masyarakat daripada inovasi yang tidak dicoba lebih dulu.

5. Bersifat Observabilitas

Suatu inovasi harus benar-benar dapat diamati hasilnya atau keuntungannya. Karena hal tersebut akan berpengaruh kepada cepat atau lambanya diterima masyarakat.

D. Sumber Inovasi

Ada beberapa hal yang dikemukakan oleh Drucker (1993) dan dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) sebagai sumber terjadinya inovasi, diantaranya adalah sebagai berikut :

4 Rogers Everret M., Diffution of Innovation, (New York: Free Press, 2003), hlm. 14.

(9)

6

1. Kondisi yang tidak diharapkan (The unexpected)

Pembaharuan cenderung didasarkan pada hasil perencanaan manusia itu sendiri.

Munculnya kondisi yang tidak diharapkan manusia akibat pengelolaan administrasi yang tidak berjalan secara profesional akan dapat mendorong manusia untuk berpikir inovatif agar sistem aplikasinya lebih baik.

2. Munculnya ketidakwajaran (The incongruity)

Ketidakwajaran dapat muncul selama proses atau pada hasil yang dicapai, sehingga ketidakwajaran tersebut dapat melahirkan inovasi baru.

3. Ketidaksesuaian antara pendidikan formal dengan kebutuhan dunia kerja

Pada saat ini, terdapat ketidaksesuaian antara keahlian yang dipersiapkan di dunia pendidikan dengan dunia kerja. Tantangan besar lembaga pendidikan adalah kemampuannya dalam menyediakan kebutuhan tenaga kerja bagi dunia usaha. Pada masa kini, masyarakat menuntut adanya lembaga pendidikan yang benar-benar mampu diandalkan untuk melahirkan generasi yang siap bekerja dengan pembekalan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.

4. Kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat cepat dan menjadi bagian dari kehidupan manusia yang sangat integral. Kemajuan tersebut memengaruhi seluruh kehidupanmanusia baik di bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, maupun kebudayaan.

5. Tuntutan sosial dan budaya

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi akan memengaruhi perkembangan kebuthan manusia dan juga perkembangan budaya. Tuntutan sosial kekinian menjadi keniscayaan yang harus diperhatikan dan fasilitasi.

6. Kebutuhan akan pendidikan yang lebih baik

Banyaknya lembaga pendidikan yang ditawarkan pada masa kini membuat masyarakat semakin selektif untuk memilih lembaga pendidikan yang sesuai dengan ideologi maupun nilai kehidupan yang dianut. Namun pada umumnya, Masyarakat mendambakan pendidikan yang lebih baik. Di sisi lain, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik sangat terbatas, sehingga munculah kompetisi atau persaingan yang sangat ketat di institusi pendidikan. Kompetisi tersebut melahirkan sekolah-sekolah favorit atau unggulan.

7. Kondisi demografis (Demographies)

(10)

7

Pemahaman terhadap kondisi demografis sangatlah diperlukan, terutama untuk membuat terobosan baru dalam rangka menanggulangi serba keterbatasan.

8. Pengetahuan baru (New knowledge)

Dilihat dari sumber terjadinya perubahan dan pembaharuan, pengetahuan baru sebagai sumber inovasi dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu pertama, perubahan- perubahan yang bersifat adaptif pada satu pihak dan pengembangan pihak lain. Kedua, perubahan-perubahan yang bersifat alokatif pada satu pihak dan inovatif di pihak lain.

9. Perubahan persepsi, suasana dan makna (Changes in perception, mood and meaning) Inovasi yang bersumber dari perubahan persepsi, suasana dan makna, pada umumnya disebabkan penerimaan dan penafsiran individu atas informasi yang diterimanya dari lingkungan. Informasi ini dapat diperoleh melalui media massa (seperti surat kabar, televisi, radio, majalah), internet dan juga dapat diperoleh berdasarkan pengalaman lapangan seperti karyawisata.

Bila dikaji dan disimpulkan, sumber-sumber inovasi tersebut dapat muncul dari beberapa aspek :

1. Aspek kondisi atau situasi yang mendorong untuk melakukan inovasi.

Kondisi atau situasi mampu memberikan desakan agar terjadi inovasi. Desakan ini bisa terjadi karena adanya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga pendidikan harus mengikuti perkembangan tersebut.

2. Aspek individu yang mengingini suatu perubahan dari hal-hal yang konvensional menuju kea rah yang lebih inovatif.

Secara individu memiliki keinginan untuk mampu melakukan perubahan karena mungkin individu tersebut mengalami kejenuhan dalam satu kondisi tertentu. Dengan demikian dilakukan suatu inovasi baru untuk keluar dari zona konvensional tersebut.

3. Aspek tuntutan sistem dalam struktur kelembagaan sehingga harus berinovasi.

Struktur kelembagaan dapat mendorong agar sebuah inovasi diciptakan. Misalnya, kondisi yang susah untuk mengakses dan menginput nilai di sekolah, sehingga dibuat jaringan yang terbuka untuk mudah diakses oleh siswa dan orang tua dan mempermudah guru juga dalam melakukan input nilai.5

E. Konsep Inovasi Pendidikan 1. Pengertian Pendidikan

5 Ashiong P. Munthe dkk, Sumber dan Makna Inovasi dalam Pendidikan, vol. 11, A Journal of Language, Literature, Culture, and Education POLYGOT, 2015, hlm. 98-103.

(11)

8

Kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Inggris, pendidikan adalah education yayng bermakna pengembangan atau bimbingan, sedangkan dalam bahasa Arab, pendidikan adalah tarbiyah.

Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota Masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan keahagiaan yang setinggi-tingginya.6 Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dalam rangka membimbing dan mengarahkan perkembangan anak ke arah dewasa.7 Dewasa artinya bertanggung jawab terhadap dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bangsa dan negaranya. Selanjutnya bertanggung jawab terhadap segala resiko dari sesuatu yang telah menjadi pilihannya.

Pendidikan merupakan suatu proses interaksi manusia dengan lingkungannya yang berlangsung secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan segala potensinya, baik jasmani dan rohani yang menimbulkan perubahan positif dan kemajuan baik kognitif afektif maupun psikomotorik yang berlangsung secara terus menerus guna mencapai tujuan hidupnya.8

Pendidikan adalah proses pembinaan dan bimbingan yang dilakukan seseorang secara terus menerus kepada anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan.9 Proses pendidikan merupakan perjalanan yang tak pernah terhenti sepanjang hidup manusia dan merupakan hal yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana melalui proses kegiatan

6 Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), hlm. 2.

7 Martini Jamaris, Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Yayasan Penamas Murni, 2010), hlm. 3.

8 Rulam Ahmadi, Pengantar Pendidikan: Asas dan Filsafat Pendidikan, (: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 38.

9 Hasan Basri, Landasan Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hlm. 13.

(12)

9

bimbingan, tuntunan kepada anak sehingga memiliki kecerdasan intelegensi, emosional dan spiritual dan menjadi insan kamil dalam hidup dan kehidupannya kelak.10

2. Pengertian Inovasi Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, inovasi ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari satuan pendidikan sampai pengampu kebijakan pendidikan.11 Tegasnya inovasi pendidikan adalah inovasi (pembaruan) dalam bidang pendidikan atau inovasi yang dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan. Inovasi pendidikan merupakan suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat) babik berupa hasil invensi (yang baru) atau discovery (mengubah yang lama) yang digunakan untuk mencapai tujuam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.

Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik dalam arti sempit, yaitu tingkat lembaga pendidikan, maupun arti luas, yaitu sistem pendidikan nasional. Inovasi pada dunia pendidikan sangat erat kaitannya dengan kehidupan para praktisi dan akademisi. Inovasi dalam dunia pendidikan dapat berupa apa saja, produk ataupun sistem. Produk misalnya, seorang guru menciptakan media pembelajaran mock up untuk pembelajaran. Sistem misalnya, cara penyampaian materi di kelas. Inovasi dapat dikreasikan sesuai pemanfaatannya, yang menciptakan hal baru, memudahkan dalam dunia pendidikan, serta mengarah pada kemajuan.12

Inovasi di sekolah terjadi pada sistem sekolah yang meliputi komponen-komponen yang ada. Di antaranya adalah sistem pendidikan sekolah yang terdiri atas perangkat kurikulum, tata tertib organisasi, layanan perolehan sumber belajar hingga pelibatan orang tua dalam penyelenggaran proses pendidikan.

Inovasi pendidikan harus didukung oleh kesadaran masyarakat untuk berubah. Apabila suatu masyarakat belum menghendaki suatu sistem pendidikan yang diinginkan maka tidak akan mungkin suatu perubahan atau inovasi pendidikan terjadi.13

Terdapat beberapa kata kunci dalam inovasi pendidikan,14 yaitu:

10 Rusydi Ananda dan Amiruddin, INOVASI PENDIDIKAN: Melejitkan Potensi Teknologi dan Inovasi Pendidikan, (Medan: CV. Widya Puspita, 2017), hlm. 4.

11 Akhmad Riandy Agusta dkk, INOVASI PENDIDIKAN, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021), hlm. 3.

12 Rusdiana, KONSEP INOVASI PENDIDIKAN, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2014), hlm. 46.

13 Syafaruddin dkk, INOVASI PENDIDIKAN (Suatu Analisis Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan), (Medan:

PERDANA PUBLISHING (Kelompo Penerbit Perdana Mulya Sarana, 2012), hlm. 52-53.

14 Udin Syaefudin Saud, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2015), hlm. 6.

(13)

10 1) Baru

Menurut inovasi, baru merupakan berbagai hal yang belum diketahui atau dilaksanakan oleh pengguna. Baru bersifat relatif, karena baru menurut inovator belum tentu baru bagi orang lain. Menurut sifatnya, baru adalah sifat kualitatif berbeda dari sebelumnya.

2) Kualitatif

Inovasi memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali unsur-unsur dalam pendidikan. Yang dimaksud dengan tindakan inovasi di sini adalah tindakan mengatur kembali jenis dan pengelompokan pelajaran, waktu, ruang kelas, cara-cara menyampaikan pelajaran, sehingga tenaga, alat, uang dan waktu yang sama dapat menjangkau sasaran siswa yang lebih banyak dan dicapai kualitas yang lebih tinggi.

3) Hal

Hal yang dimaksud dalam konteks definisi inovasi pendidikan meliputi seluruh komponen dan aspek dalam subsistem pendidikan. Hal-hal yang diperbarui adalah ide, metode, dan teknik bekerja, mengajar, mendidik, peraturan, norma, barang dan alat.

4) Kesengajaan

Inovasi dan penyempurnaan pendidikan harus dilakukan secara sengaja dan berencana dan tidak dapat diserahkan menurut cara-cara kebetulan atau sekedar berdasarkan hobi perseorangan belaka.

5) Meningkatkan kemampuan

Meningkatkan kemampuan bermakna bahwa tujuan utama inovasi adalah keterampilan sumber-sumber tenaga, uang, dan sarana termasuk struktur dan prosedur organisasi perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai sebaik-baiknya.

6) Tujuan

Tujuan yang direncanakan harus dirinci dengan jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang sedapat mungkin dapat diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dan sebelum inovasi dilaksanakan.

3. Sasaran inovasi pendidikan

Keberhasilan inovasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh satu atau dua faktor, tetapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Faktor utama yang perlu diperhatikan dan menjadi sasaran dalam inovasi pendidikan, yaitu:

a) Sumber Daya Manusia

(14)

11

Sumber daya manusia dalam dunia pendidikan adalah mereka yang menunjang perkembangan pendidikan yaitu guru dan tenaga kependidikan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

b) Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.15 Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan yang berupa usaha kerja sama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk, mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, dengan memanfaatkan sumber yang ada dan menggunakan fungsi-fungsi manajemen agar tercapai tujuan secara efektif dan efisien.16 Dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah serangkaian proses dalam suatu kegiatan terorganisir dan sistematik yang dilakukan oleh beberapa orang guna mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya secara efektif dan efisien.17

Inovasi dalam manajemen pendidikan dapat dilihat berdasarkan pada kondisi di lapangan, yaitu berupa kebijakan strategi seperti:

a. Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen berbasis sekolah adalah pola pengelolaan satuan pendidikan yang dilakukan secara mandiri berdasarkan hasil penelusuran kebutuhan satuan pendidikan yang menjalankannya.

b. Kurikulum

Kurikulum merupakan sasaran inovasi karena keberadaannya sangat menentukan arah pelaksanaan pendidikan. Perubahan kurikulum di Indonesia telah terjadi sebanyak 11 kali. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius untuk mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2006 terjadi perubahan kurikulum dari kurikulum berbasis kompetensi (2004) menjadi kurikulum Tingkat satuan pendidikan (KTSP). Pada tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayan melakukan restrukturisasi kurikulum untuk

15 Enco Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah; Konsep, Strategi, dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 9.

16 Muhammad Kristiawan dkk, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA), 2017), hlm. 3.

17Akhmad Riandy Agusta dkk, INOVASI PENDIDIKAN, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021), hlm. 12.

(15)

12

menjawab tantangan perubahan paradigma ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang. Kurikulum ini dikenal dengan sebutan K-13.

c. Sistem Manajemen Data Berbasis Online

Sejak tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan inovasi dengan membuat sistem manajemen data secara online. Semua pendataan, baik tenaga pendidik dan kependidikan, siswa, maupun administrasi sekolah disimpan pada server besar yang terhubung dalam skala nasional yang berpotensi untuk memudahkan menemukan dat terkait administrasi pendidikan.

Sistem manajemen data ini terus dikembangkan dari waktu ke waktu agar penyimpanan data yang ada tetap terpelihara dan dapat terus diperbarui sesuai kebutuhan.

c) Pembelajaran

Inovasi dalam pembelajaran merupakan usaha menciptakan proses pembelajaran yang baru dan belum diterapkan sebelumnya dengan tujuan menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Inovasi ini dapat berupa pembaharuan dan penemuan baru dalam metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.Inovasi pembelajaran berpotensi mewujudkan suasana belajar yang menarik, menantang, menimbulkan gairah siswa, menyenangkan, bermakna, mengundang semangat siswa dengan tujuan meningkatkan kualitas hasil pembelajaran.

Komponen proses pembelajaran yang harus diinovasi agar menjadi inspirasi, bahan refleksi, serta gambaran menentukan langkah melakukan inovasi dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.

1. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials)

Bahan ajar merupakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap ynag harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan.

Materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai.

Dalam pemilihan materi pembelajaran terdapat 3 prinsip yang harus diperhatikan, yaitu relevansi, konsistensi, dan kecukupan.

Langkah-langkah dalam pemilihan bahan ajar meliputi : (a) mengidentifikasi aspek-aspek dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dijadikan ajuan atau rujukan dalam pemilihan bahan ajar, (b) mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar, (c) memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan (d) memilih sumber bahan ajar. Seorang guru

(16)

13

haruslah mengetahui bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mendukung inovasi program pembelajaran.

2. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang beragam akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih optimal dan memberikan banyak pengalaman bermakna untuk siswa. Berbagai metode pembelajaran yang dapat divariasi dan dikombinasi penggunaanya dalam proses pembelajaran adalah demonstrasi, latihan dan praktek, presentasi, tutorial, diskusi, penemuan, pembelajaran kelompok, permainan, dan simulasi.

3. Strategi Pembelajarn

Strategi pembelajaran yang inovatif membutuhkan kreativitas dari seorang guru agar menghasilkan pengalaman belajar yang dibutuhkan oleh siswa. Seorang guru harus mengetahui upaya atau strategi yang bagaimana untuk menarik dan memelihara minat siswa agar tetap memusatkan perhatian terhadap penyampaian materi yang disampaikan. Untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran, guru harus memilih antara strategi yang berpusat pada guru atau strategi yang berpusat pada siswa. Guru juga harus mempertimbangkan gaya belajar dan motivasi siswa untuk memastikan dengan lebih baik bahwa seorang guru dapat memenuhi kebutuhan yang beragam dari para siswa.

4. Media Pembelajaran

Media adalah sarana pembelajaran yang dapat digunakan untuk memfasilitasi aktivitas belajar. Media pembelajaran dapat berupa teks, audio, video, computer, dan jaringan internet. Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui kombinasi media yang diperlukna dalam menyelenggarakan program pembelajaran.

Kombinasi yang dipilih harus dapat menunjang efektifitas pada sekolah tempat aktivitas pembelajaran berlangsung.

5. Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi adalah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu. Ada dua jenis evaluasi, yaitu evaluasi hasil belajar dan evalusi program. Evaluasi hasil belajar adalah penilaian terhadap hasil belajar siswa dengan menggunakan tes (tes objektif dan essai) dan penilaian. Evaluasi program adalah proses pengumpulan dan analisis data yang hasilnya digunakan untuk membuat sebuah Keputusan. Evaluasi program ada dua, yaitu evaluasi sumatif yang bertujuan untuk menilai efisiensi dan daya Tarik program setelah program

(17)

14

diimplementasikan dalam situasi yang telah ditentukan serta evaluasi formatif yang bertujuan untuk mengembangkan program pembelajaran agar dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Pada tahap evaluasi, seorang guru memperbaiki program pembelajaran berdasarkan kesimpulan data yang diperoleh sewaktu uji coba. Dengan kata lain merevisi program pembelajaran. Evaluasi dilakukan secara terus-menerus selama proses pengembangan berlangsung demi kesempurnaan yang diharapkan.

d) Siswa

Siswa merupakan objek utama dalam pendidikan. Siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan inteligensi, daya motoric, pengalaman, kemauan, dan komitmen yang timbul dalam dirinya tanpa paksaan. Peran siswa dalam inovasi pendidikan adalah sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, bahkan guru.

e) Fasilitas

Fasilitas termasuk sarana dan prasarana pendidikan. Dalam inovasi pendidikan, fasilitas juga memengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan.

f) Lingkup Sosial Masyarakat

Dalam menerapkan inovasi pendidikan, lingkup sosial masyarakat juga terlibat di dalamnya. Lingkup sosial Masyarakat bisa membawa dampak positif maupun negatif dalam inovasi pendidikan meskipun tidak terlibat secara langsung.

Keterlibatan Masyarakat dalam inoasi pendidikan akan membantu innovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

4. Bentuk-bentuk inovasi pendidikan

(1) Top-Down Model, yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahannya.

(2) Bottom-up, yaitu model inovasi yang berasal dan bersumber dari bawah dan dilaksanakan sebagai Upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan.

F. Proses Inovasi Pendidikan di Indonesia 1. Difusi dan Diseminasi Inovasi

A. Pengertian Difusi dan Diseminasi Inovasi

Difusi ialah proses komunikasi inovasi antara warga masyarakat dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. Komunikasi dalam definisi

(18)

15

ini ditekankan dalam arti terjadinya saling tukar informasi (hubungan timbal balik), antar beberapa individu baik cara memusat (konvergen) maupun memencar(divergen) yang berlangsung secara spontan. Dengan adanya komunikasi ini akan terjadi kesamaan pendapat antar warga masyarakat tentang inovasi.

Rogers membedakan antara sistem difusi sentralisasi dan sistem difusi desentralisasi.

Dalam sistem difusi sentralisasi, penentuan tentang berbagai hal, seperti: kapan dimulainya difusi inovasi, dengan saluran apa, siapa yang akan menilai hasilnya, dan sebagainya dilakukan oleh sekelompok kecil orang tertentu atau pemimpin agen pembaharu. Sedangkan dalam sistem difusi desentralisasi, penentuan itu dilakukan oleh klien(warga masyarakat) bekerja sama dengan beberapa orang yang telah menerima inovasi.

Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Jadi kalau di posisi terjadi secara spontan, maka diseminasi dengan perencanaan. Dalam pengertian ini dapat juga direncanakan terjadinya difusi.

Misalnya dalam penyebaran inovasi penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam proses belajar mengajar.

Setelah diadakan percobaan ternyata dengan pendekatan keterampilan proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan siswa aktif belajar. Maka hasil percobaan itu perlu didesiminasikan. Untuk menyebarluaskan cara baru tersebut, dengan cara menata beberapa guru dengan harapan akan terjadi juga difusi inovasi antar guru di sekolah masing-masing. Terjadi saling tukar informasi dan akhirnya terjadi kesalahan pendapat antara guru tentang inovasi tersebut.

B. Elemen Difusi Inovasi

Rogers mengemukakan ada 4 elemen pokok difusi inovasi, yaitu a. Inovasi

Inovasi ialah suatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil invensi atau discovery yang diadakan untuk mencapai tujuan tertentu. Baru di sini diartikan mengandung ketidaktentuan (uncertainty), artinya sesuatu yang mengandung berbagai alternatif.

Dengan adanya informasi berarti mengurangi ketidaktentuan tersebut, karena dengan informasi itu berarti memperjelas arah pada suatu alternatif tertentu.

b. Komunikasi dengan saluran tertentu

(19)

16

Komunikasi dalam difusi inovasinya diartikan sebagai proses pertukaran informasi antara anggota sistem sosial, sehingga terjadi saling pengertian antara satu dengan yang lain. Difusi adalah salah satu tipe komunikasi menekan hal yang baru sebagai bahan informasi. Inti dari pengertian difusi ialah terjadi komunikasi (pertukaran informasi) tentang suatu hal yang baru (inovasi).

Kegiatan komunikasi dalam proses difusi mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) suatu inovasi, (2) individu atau kelompok yang telah mengetahui dan berpengalaman dengan inovasi, (3) individu atau kelompok yang lain yang belum mengenal inovasi, (4) saluran komunikasi yang menggabungkan antara kedua pihak tersebut.

c. Waktu

Waktu adalah elemen yang penting dalam proses difusi, karena waktu merupakan aspek utama dalam proses komunikasi.. Peranan dimensi waktu dalam proses difusi terdapat pada tiga hal sebagai berikut :

1). Proses keputusan inovasi, yaitu proses sejak seseorang mengetahui inovasi pertama kali sampai ia memutuskan untuk menerima atau menolak inovasi.

2). Kepekaan seseorang terhadap inovasi, ditandai dengan lebih dahulunya seseorang menerima inovasi dari yang lain dalam suatu sistem sosial.

Berdasarkan kepekaan terhadap inovasi dapat dikategorikan menjadi 5 kategori penerima inovasi yaitu: (a) inovator, (b) pemula, (c) mayoritas awal, (d) mayoritas, (e) terlambat (tertinggal).

3). Kecepatan penerimaan inovasi, yaitu kecepatan relatif diterimanya inovasi oleh warga masyarakat. Pengukuran kecepatan inovasi cenderung diukur dengan berdasarkan tinjauan penerimaan inovasi oleh keseluruhan warga masyarakat bukan penerimaan inovasi secara individual.

4). Warga masyarakat (anggota sistem sosial), yaitu hubungan (interaksi antar individu atau orang) dengan bekerja sama untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan tertentu. Anggota sistem sosial dapat individu, kelompok- kelompok informal, organisasi, dan sub sistem yang lain. Sistem sosial akan mempengaruhi proses difusi inovasi, karena proses difusi inovasi terjadi dalam sistem sosial. Individu akan terpengaruh oleh sistem sosial dalam menghadapi suatu inovasi. Berbeda sistem sosial akan berbeda pula proses difusi inovasi, walaupun mungkin dikenalkan dan diberi fasilitas dengan cara dan perlengkapan yang sama.

(20)

17 2. Proses Keputusan Inovasi

Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) individu (unit pengambil keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya.

Proses keputusan inovasi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya. Ciri pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain ialah dimulai dengan adanya ketidaktentuan (uncertainty) tentang sesuatu (inovasi).

Menurut Rogers, proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap pengetahuan, tahap bujukan, tahap keputusan, tahap implementasi, dan tahap konfirmasi.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses inovasi Pendidikan a. Visi Terhadap Pendidikan

Setiap anak akan mengalami proses pendidikan secara alamiah yang didapat dalam keluarga maupun lingkungan. Cinta kasih orang tua dan ketergantungan serta kepercayaan anak mereka pada usia-usia dini merupakan dasar kuku yang memungkinkan timbulnya pergaulan mendidik. Dengan upaya pendidikan, potensi dasar universal akan anak akan tumbuh dan membentuk diri anak yang unik sesuai dengan pembawaan lingkungan, budaya, dan zamannya.

b. Faktor pertambahan penduduk

Adanya pertemuan penduduk yang tinggi menimbulkan akibat nilai strata kehidupan terutama pendidikan. Banyak masalah pendidikan yang berkaitan dengan meledaknya jumlah anak usia sekolah. Diantaranya yaitu: kekurangan kesempatan belajar, masalah kualitas pendidikan, dan masalah relevansi.

c. Faktor perkembangan ilmu pengetahuan

Kemajuan zaman ditandai dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut harus dimasukkan dalam kurikulum sekolah,

(21)

18

meskipun hal ini menyebabkan adanya kurikulum yang sangat sarat dengan masalah- masalah baru.

d. Tuntutan adanya tuntutan pendidikan yang relevan

Salah satu tuntutan diadakannya inovasi dalam pendidikan adalah adanya relevansi antara dunia pendidikan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia kerja. Berkenaan dengan hal tersebut, pendidikan dapat diperoleh baik di sekolah maupun di luar sekolah.

e. Model proses keputusan inovasi

Proses keputusan inovasi adalah proses yang dilalui individu mulai dari pertama atau adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dangan keputusan setuju terhadap inovasi, menetapkan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovasi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai kekhasan yang baru sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menang atau menerima inovasi dan menerapkannya.

Menurut Rogers, proses Keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu : a. Tahap pengetahuan (knowledge)

Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan yaitu tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi. Seseorang menyadari atau membuka diri terhadap suatu inovasi tentu dilakukan secara aktif bukan secara pasif.

b. Tahap bujukan (persuation)

Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seseorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif. Pada tahap persuasi, proses kegiatan mental yang berperan utama dalam bidang efektif atau perasaan. Seseorang tidak dapat menyenangi inovasi sebelum tahun lebih dulu tentang inovasi.

c. Tahap Keputusan (decision)

(22)

19

Tahap keputusan dari inovasi berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menerima atau menolak inovasi. Sering terjadi seseorang menerima inovasi setelah ia mencoba terlebih dahulu atau mencoba sebagian kecil, kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika sudah terbukti berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Inovasi yang dapat dicoba bagian demikian bagian akan lebih dapat diterima. Akan tetapi tetap semua inovasi dapat dicoba dengan dipecah menjadi beberapa bagian.

d. Tahap implemenasi (implementation)

Tapi implementasi dalam proses keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapkan inovasi. Dalam tahap implementasi berlangsung keaktifan, baik mental maupun perbuatan. Keputusan penerimaan ketegasan atau ide dibuktikan dengan praktik. Pada umumnya, implementasi mengikuti hasil keputusan inovasi.

Akan tetapi, dapat juga terjadi karena sesuatu hal, seseorang sudah memutuskan menerima inovasi, tetapi tidak diikuti implementasi. Biasanya hal ini terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak tersedia.

e. Tahap konfirmasi (confirmation)

Dalam tahap konfirmasi, seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya dan dapat menarik kembali keputusannya jika diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap konfirmasi sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi yang berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas. Selamat dalam konfirmasi, seseorang berusaha menghindari terjadinya disonansi, paling tidak berusaha menguranginya.

4. Tipe Keputusan Inovasi

Inovasi dapat diterima atau total oleh seseorang sebagai anggota sistem sosial, atau oleh keseluruhan anggota sistem sosial, yang menentukan untuk menerima inovasi berdasarkan keputusan bersama atau berdasarkan paksaan (kekuasaan). Dengan dasar kenyataan tersebut maka dapat dibedakan dengan adanya tipe keputusan inovasi:

1. Keputusan inovasi opsional, yaitu pemilihan menerima atau menolak inovasi berdasarkan keputusan yang ditentukan oleh individu secara mandiri tanpa tergantung atau terpengaruh dorongan anggota sistem sosial yang lain.

(23)

20

2. Keputusan inovasi kolektif, iyalah pemeliharaan untuk menerima dan inovasi berdasarkan keputusan yang dibaca bersama-sama berdasarkan kesepakatan antar anggota sistem sosial.

3. Keputusan inovasi otoritas, iyalah pemilihan untuk menerima teman renovasi berdasarkan keputusan yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kedudukan,status,wewenang atau kemampuan yang lebih tinggi daripada anggota yang lain dalam satu sistem sosial.

4. Keputusan inovasi kontingensi, ialah pemilihan menerima atau menolak suatu inovasi baru dapat dilakukan hanya setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya.18

G. Peran Guru Dalam Inovasi Pendidikan 1. Guru sebagai Demonstator dan Motivator

Sebagai demonstrator maka guru memiliki peran dalam memperagakan apa yang diajarkannya secara taktis dan apa yang disampaikannya itu betul-betul dapat dimiliki oleh peserta didik, sehingga mereka akan mengembangkan dalam arti meningkatkan kemampuannya pada tingkat keberhasilan yang lebih optimal. Untuk sampai ke tujuan tersebut, akan dijamin guru sebagai demonstrator, ia juga berperan sebagai motivator, yakni merangsang dan memberikan dorongan serta melakukan rainforcement untuk mendinamisasikan potensi peserta didik, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreatifitas), sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar.

Dalam semboyan pendidikan di taman siswa sudah lama dikenal dengan ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karsa dan Tut Wuri Handayani. Dengan semboyan ini maka sangat nampak bahwa peran guru sebagai motivator sangat penting dalam interaksi belajar mengajar karena menyangkut esensi pekerjaan mendidik yang membutuhkan pembayaran sosial, menyangkut performance dalam arti personalisasi dan sosialisasi diri.

2. Guru sebagai Mediator dan Fasilitator

Sebagai mediator maka guru berperan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.

Mediator menurut Sudirman AM, berarti guru sebagai penyedia media, Yani bagaimana upaya kurang menyediakan dan mengorganisasikan penggunaan media pembelajaran.

Karena kulit sebagai mediator praktis bahwa ia juga berperan sebagai fasilitator yakni memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar yang sedemikian

18 Akhmad Riandy Agusta dkk, INOVASI PENDIDIKAN, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021), hlm.

37-52.

(24)

21

rupa dan serasi dengan perkembangan siswa sehingga interaksi belajar akan berlangsung secara efektif.

3. Guru sebagai Evaluator dan Pengelola Kelas

Sebagai evaluator maka guru berperan mengadakan evaluasi yakni penilaian terhadap hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Dengan penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian, penguasaan peserta didik terhadap pembelajaran yang diberikan. Sekiranya peserta didik belum sampai pada tingkat keberhasilan maka guru dituntut lagi untuk lebih berperan sebagai pengolah kelas dalam arti bahwa ia berperan sebagai learning manager, yakni mengalahkan dan mengarahkan lingkungan kelas agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan untuk keberhasilan siswa secara optimal.19

19 Akhmad Riandy Agusta dkk, INOVASI PENDIDIKAN, (Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2021), hlm.

96-97.

(25)

22 BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Inovasi adalah pembaharuan dalam ide, gagasan dan produk barang dalam kehidupan manusia untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Karakteristik inovasi yang dapat memengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi ada lima, yaitu keuntungan relative, bersifat kompatibel, bersifat kompleksitas, bersifat triabilitas, dan bersifat observabilitas.

Beberapa sumber terjadinya inovasi adalah kondisi yang tidak diharapkan (the unexpected), munculnya ketidakwajaran (the incongruity), ketidaksesuaian antara pendidikan formal dengan kebutuhan dunia kerja, kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan sosial dan budaya, kebutuhan akan pendidikan yang lebih baik, kondisi demografis (demographies), pengetahuan baru (new knowledge), serta perubahan persepsi, suasana dan makna (changes in perception, mood and meaning).

Inovasi pendidikan merupakan suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat) babik berupa hasil invensi (yang baru) atau discovery (mengubah yang lama) yang digunakan untuk mencapai tujuam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan. Inovasi pendidikan mencakup hal- hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik dalam arti sempit, yaitu tingkat lembaga pendidikan, maupun arti luas, yaitu sistem pendidikan nasional. Proses inovasi pendidikan terjadi melalui proses difusi dan diseminasi. Dalam inovasi pendidikan, guru berperan sebagai demonstrator dan motivator, mediator dan fasilitator, serta evaluator dan pengelola kelas.

B. Saran

Dengan disusunnya makalah ini, penulis mengharapkan pembaca dapat menambah pengetahuan dari pembahasan Inovasi Pendidikan Dan Peran Guru Dalam Lembaga Pendidikan yang telah disampaikan serta memberikan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar makalah ini dapat lebih baik lagi.

(26)

23

DAFTAR PUSTAKA

Agusta, Akhmad Riandy, Salwa Hanum, Juni Agus Simaremare, A. W. (2021). Inovasi Pendidikan by Nanda Saputra, M.Pd. (editor) (z-lib.org).pdf (N. Saputra, ed.). Aceh:

Yayasan Penerbit Muhammad Zaini. Retrieved from

file:///C:/Users/user/Videos/Searches/Favorites/Downloads/Inovasi Pendidikan (Nanda Saputra, M.Pd. (editor)) (z-lib.org).pdf

Ambarwati, D., Wibowo, U. B., Arsyiadanti, H., & Susanti, S. (2022). Studi Literatur: Peran Inovasi Pendidikan pada Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 8(2), 173–184. Retrieved from

https://doi.org/10.21831/jitp.v8i2.43560

Ananda, R. A. R. M. (2017). INOVASI PENDIDIKAN : Melejitkan Potensi Teknologi dan Inovasi Pendidikan (M. Rifa’i, ed.). Medan: CV. Widya Puspita.

Juli Astuti, N., Ayu Aisyah, S., & Astuti, M. (2023). Konsep dan Model-model Inovasi Pendidikan. Cross-Border, 6(2), 745–753.

Kadi, T., & Awwaliyah, R. (2017). Inovasi Pendidikan : Upaya Penyelesaian Problematika Pendidikan Di Indonesia. Jurnal Islam Nusantara, 1(2), 144–155.

https://doi.org/10.33852/jurnalin.v1i2.32

Kurniawan, R. A. (2022). Peran Inovasi Pendidikan dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi.

Inovasi Pendidikan, 1(1), 222–231.

Mesiono, S. A. (2012). INOVASI PENDIDIKAN (Suatu Analisis Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan) (C. U. Wijaya, ed.). Medan: PERDANA PUBLISHING. Retrieved from http://repo.iain-tulungagung.ac.id/5510/5/BAB 2.pdf

Munthe, Ashiong; Siswoyo; Fakhruddin, M. (2015). Sumber dan Makna Inovasi dalam Pendidikan. A Journal of Language, Literature, Culture, and Education POLYGLOT Vol., 11(4), 82–94.

Rahmawati, S., & Nurachadija, K. (2023). Inovasi Pendidikan Dalam Meningkatkan Strategi Mutu Pendidikan. Bersatu:Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika, 1(5), 01–12.

Retrieved from https://doi.org/10.51903/bersatu.v1i5.303

Rubia-Avi, B. (2023). The Research of Educational Innovation: Perspective and Strategies.

(27)

24

Education Sciences, 13(1). https://doi.org/10.3390/educsci13010026

Rusdiana, H. . (2014). Konsep inovasi pendidikan. Pustaka Setia, 187. Retrieved from https://etheses.uinsgd.ac.id/8787/1/Buku Konsep Inovasi Pendidikan.pdf

Yusuf, M. (2023). INOVASI PENDIDIKAN ABAD-21: PERSPEKTIF, TANTANGAN, DAN PRAKTIK TERKINI. Yogyakarta: SELAT MEDIA PATNERS. Retrieved from

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/5510/5/BAB 2.pdf

Referensi

Dokumen terkait

Disimpulkan pelaksanaan fungsi manajemen Lembaga Pendidikan Islam menengah atas di SMA Al-Hikmah; Fungsi Manajemen proses pembelajaran dan manajemen kurikulum

kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabug dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang

Manajemen pendidikan merupakan aktivitas untuk memobilisasi dan memadukan segala sumber daya pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah

Bahwa di Madrasah Ibtidaiyyah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama di kota Samarinda perlu pembenahan manajemen pengelolaan pendidikan dasar yang lebih baik,

Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan

Kepemimpinan didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan orang lain melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama. Terdapat perbedaan kontras antara

Manajemen Pembiayaan Pendidikan Formal Manajemen pembiayaan dalam pendidikan formal adalah proses pengelolaan dana dan sumber daya keuangan untuk mendukung operasional sistem

Pengelolaan Standar Proses Pen- didikan di PTAI Dalam peraturan pemerintah di- tegaskan bahwa standar proses adalah standar nasional pendidikan yang ber- kaitan dengan pelaksanaan