• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL

N/A
N/A
Silfia Cahyaning

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

i

MAKALAH MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Manajemen Lembaga Pendidikan

Dosen Pengampu : Ibu Diah Novita Fardani, M.Pd.I.

Oleh :

1. Asita Ayu Isna A. (203111076) 2. Silfia Cahyaning M.W (203111095) 3. Bayu Ahmad Riyadhi (203111105) 4. Earlinda Luthfi F. (203111111)

KELAS 7O

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA TAHUN 2023

(2)

i

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur atas kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Manajemen Lembaga Pendidikan Non Formal dan Informal ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Lembaga Pendidikan, selain itu juga untuk menambah wawasan tentang Manajemen Lembaga Pendidikan Non Formal dan Informal untuk para pembaca dan penulis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Diah Novita Fardani, M.Pd.I. , selaku dosen pengampu mata kuliah Manajemen Lembaga Pendidikan yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Kami menyadari makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sukoharjo, 26 September 2023

Penyusun

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I... Error! Bookmark not defined. PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. A.Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined. B.Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined. C.Tujuan Penulisan ... Error! Bookmark not defined. BAB II ... Error! Bookmark not defined. PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not defined. 1. Pengertian Manajemen Pendidikan Non Formal dan InformalError! Bookmark not defined. 2. Manajemen Pembealajaran Pendidikan Non Formal dan Informal ... 6

3. Manajemen Personil Pendidikan Non Formal dan Informal ... 10

4. Manajemen Pembiayaan Pendidikan Non Formal dan InformalError! Bookmark not defined. 5. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Non Formal dan InformalError! Bookmark not defined. 6. Manajemen Hubungan dengan Masyarakat mengenai Pendidikan Non Formal dan Informal ... 20

7. Isu-Isu Kritis dalam Manajemen Pendidikan Non Formal dan Informal ... 21

BAB III ... 24

PENUTUP ... 24

A.Kesimpulan ... 24

B.Saran ... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 25

(4)

iii

(5)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesulitan dalam kehidupan manusia yang disebabkan oleh lingkungan yang kurang bersahabat, membuat manusia mencari cara bagaimana mereka dapat keluar dari kesulitan yang dialami. Banyaknya warga masyarakat yang tidak melanjutkan pendidikan ketaraf yang memungkinkan, membuat manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Sistem pendidikan dibangun dan dikembangkan melalui satuan pendidikan, yang merupakan kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Pendidikan dalam pengertian yang lebih luas dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran kepada peserta didik dalam upaya mencerdaskan dan mendewasakan peserta didik, juga bermakna usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran agar peserta didik dapat aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri serta keterampilan yang dimilikinya. Bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Sedangkan Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan akan mencapai tujuan apabila berjalan mengikuti manajemen yang telah ditentukan. Manajemen lembaga pendidikan sangatlah penting sebagai pedoman pengelolaan suatu lembaga pendidikan.

Manajemen pendidikan adalah seni pengelolaan sumber daya pendidikan. Melalui pengelolaan ini diharapkan dapat mewujudkan proses dan hasil belajar peserta didik yang baik.

(6)

2

B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan pengertian manajemen pendidikan non formal dan informal ? 2. Bagaimana manajemen pembelajaran pendidikan non formal dan informal ? 3. Bagaimana manajemen personil pendidikan non formal dan informal ? 4. Bagaimana manajemen pembiayaan pendidikan non formal dan informal ? 5. Bagaimana manajemen sarana dan prasarana pendidikan non formal dan

informal ?

6. Bagaimana manajemen hubungan dengan masyarakat mengenai pendidikan non formal dan informal ?

7. Bagaimana manajemen isu-isu kritis dalam manajemen pendidikan non formal dan informal ?

C. Tujuan Masalah

1. Mengetahui pengertian manajemen pendidikan non formal dan informal ? 2. Mengetahui manajemen pembelajaran pendidikan non formal dan informal ? 3. Mengetahui manajemen personil pendidikan non formal dan informal ? 4. Mengetahui manajemen pembiayaan pendidikan non formal dan informal ? 5. Mengetahui manajemen sarana dan prasarana pendidikan non formal dan

informal ?

6. Mengetahui manajemen hubungan dengan masyarakat mengenai pendidikan non formal dan informal ?

7. Mengetahui manajemen isu-isu kritis dalam manajemen pendidikan non formal dan informal ?

(7)

3

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Manajemen Pendidikan Non Formal dan Informal 1. Manajemen Pendidikan Formal

Manajemen menurut Mary Parker Follet adalah sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Sedangkan menurut Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Manajemen Pendidikan dalam buku suharsimi arikunto menjelaskan bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai jutuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien.1

Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar, pendidikan menengah, sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraf denganya, yang termasuk ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan profesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. Jadi

1 Suharsimi Arikunto, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta:Aditya Media.2008), h.4

(8)

4

manajemen pendidikan formal banyak yang menggunakan istilah manajemen sekolah yang merupakan segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal.2

Pendidikan formal yang umum dan sebagian besar masyarakat Indonesia mengikuti, dimana pendidikan ini terselenggara dengan mengikuti peraturan pemerintah secara mutlak. Sedangkan pendidikan nonformal diikuti oleh sebagian masyarakat saja, sebab kehadirannya sebagai pengganti yang tidak mengikuti pendidikan formal, penambah bagi yang merasa kurang ilmu dari pendidikan formal, dan pelengkap ilmu dari pendidikan formal.

Jadi manajemen pendidikan formal banyak menggunakan istilah manajemen sekolah yang merupakan suatu usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal.

2. Manajemen Pendidikan Non Formal

Pendidikan bisa didapat tidak hanya dengan jalur pendidikan formal (sekolah) saja, tetapi bisa ditempuh dengan jalur pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah. Pendidikan luar sekolah berusaha mencari jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan keagamaan lainnya yang keberadaannya jauh sebelum Indonesia merdeka, bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya

2 Adi Wibowo.“Integrasi Manajemen Kesiswaan Pendidikan Formal dan Non Formal di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Pirworejo” Jurnal Islamic Education Manajemen. Vol,4 No.2 (2019) h.

224-226.

(9)

5

kebermaknaan dari program-program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat. Dalam hubungan ini pendidikan termasuk pendidikan nonformal yang berbasis kepentingan masyarakat.3 Pada saat ini banyak sekali masyarakat yang mengembangkan pendidikaan nonformal yang berbasis masyarakat dan berjenis pendidikan keagamaan yang biasa mereka laksanakan di masjid-masjid, pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya untuk para mereka yang putus sekolah akan tetapi juga untuk anak-anak dan semua usia yang ingin tetap belajar terutama belajar tentang agama islam. Pendidikan nonformal diikuti oleh sebagian masyarakat saja, sebab kehadirannya sebagai pengganti yang tidak mengikuti pendidikan formal.

Bahwa pendidikan nonformal ini adalah sebuah layanan pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal memiliki fungsi sebagai pengembang potensi peserta didik yang menekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional, pengembang sikap dan kepribadian profesional.

Manajemen pendidikan nonformal juga merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengelola pendidikan agar mampu mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif atau tepat waktu dan efisien atau hemat sumber daya. Adapun pengelolaan tersebut meliputi manusianya seperti guru, peserta didik, dan karyawan, uang atau biaya, bahan atau alat-alat pembelajaran, metode atau cara pembelajaran, mesin atau fasilitas, pasar atau tempat peserta didik berperan dalam masyarakat, dan waktu ketika ia menempuh pendidikan. 4

3 Muh. Abdul Mukti. “Manajemen Pendidikan Non Formal: Analisis Terhadap Taman Pendidikan Al-Qur’an Raudhatul Jannah Jayapura” Jurnal Kependidikan dan Keagamaan.Vol,2 No.1(2018).140.

4 Puspo Nugroho.“Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Non Formal “Satu Atap” Al Hidayah Juranggunting Argomulyo Kota Salatiga” Jurnal Quality. Vol,7 No.1(2019) h. 6-7.

(10)

6

Berdasar pemaparan di atas dapat kita ketahui bahwa pendidikan nonformal hadir sebagai pengganti pendidikan formal bila ia tidak mengikuti pendidikan formal. Penambah pendidikan formal apabila merasa kurang dengan ilmu yang didapat dari sana. Kegiatan dalam pendidikan nonformal ini diselenggarakan secara fleksibel atau tidak ketat aturan pemerintah. Melalui pendidikan nonformal ia dapat belajar akan ilmu keahlian atau keterampilan fungsional tertentu. Kemudian dapat mengembangkan sikap, perilaku, kepribadian, atau mindsetnya menjadi lebih baik lagi. Sehingga ia akan berkembang dan dapat mempertahankan hidupnya.

2. Manajemen Pembelajaran Pendidikan Non formal dan Informal

Manajemen pembelajaran mencakup saling hubungan berbagai peristiwa tidak hanya seluruh peristiwa pembelajaran dalam proses pembelajaran tetapi juga faktor logistik, sosiologis, dan ekonomis. Karena sistem manajemen pembelajaran adalah berkenaan dengan teknologi pendidikan yang mana teknologi adalah organisasi terpadu dan kompleks dari manusia, mesin, gagasan, prosedur dan manajemen.

Problema pokok pendidikan adalah pembelajaran, karena pembelajaran adalah suatu proses utama kelangsungan hidup manusia. Problema pokok pendidikan tidak hanya pembelajaran, tetapi manajemen pembelajaran. Dalam hal manajemen pembelajaran, berarti dikaji konsep strategi pembelajaran, dan gaya mengajar pengajar akan menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pengajaran.5Manajemen Pembelajaran merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Baik dan buruknya hasil dari pembelajaran itu tidak terlepas dari manajemen pembelajaran itu sendiri.

Kaitannya dengan manajemen pembelajaran di pendidikan non formal dan informal maka perlu diketahui bagaimana manajemen pembelajaran di

5 Syafaruddin,dan Irwan Nasution. (2005). Manajemen Pembelajaran. Jakarta:Quantum Teaching.

(11)

7

pendidikan non formal dan informal itu.6Berikut ini merupakan manajemen pembelajaran pendidikan nonformal dan informal.

a. Manajemen Pembelajaran Pendidikan Non Formal dan Informal 1. Perencanaan Pembelajaran

Segala hal yang dilakukan dalam kehidupan ini pasti memerlukan sebuah rencana, baik itu rencana jangka panjang maipun rencana jangka pendek. Karena perencanaan merupakan sebuah keharusan yang dilakukan diawal mula sebuah kegiatan, tentunya yang terpenting dalam sebuah proses pembelajaran. Perencanaan berarti bahwa para manajer memikirkan kegiatan mereka sebelum dilaksanakan.7Pendapat lain mengatakan pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.8

Berdasarkan uraian definisi perencanaan dengan pembelajaran, maka perencanaan pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses dan cara berfikir pendidik mengenai suatu hal yang dapat membantu peserta didik atau siswa belajar yang sesuai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Pengorganisasian Pembelajaran

Pengorganisasian dapat difahami sebagai proses pengelompokkan orang-orang, tugas-tugas, dan tanggung jawab sehingga terwujudnya tempat pembelajaran yang dapat dioptimalkan sebgaia suatu kesatuan yang utuh.

Menurut George R. Terry yang dikutip oleh Mulyono pengorganisasian adalah menyusun hubungan perilaku yaang efektif antar personalia, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien dan memperoleh keputusan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas

6 Mubarok, Ramdanil. “Manajemen Pembelajaran Santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Darus Sakinah Sangatta Utara”. Jurnal Al-Rabwah 14, No. 2 (2020).

7 T.Hani Handoko, Manajemen Edisi II, (Yogyakarta: BPFE Press,1995), hal.8

8 Nandang Kosasih. Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum dan Optimalisasi Kecerdasan, (Bandung:

Alfabeta, 2013), hal. 21

(12)

8

dalam situasi lingkungan yang ada guna mencapai tujuan dan sasaran tertentu.9

Pengorganisasian dalam pembelajaran adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru dalam mengatur dan menggunakan sumber belajar dengan maksud mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian, antara lain: Struktur organisasi, kurikulum, dan pembagian kelas.

3. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan disebut juga dengan penggerakan (motivating).

Penggerakan dapat diartikan sebagai upaya pemimpin untuk menggerakan seseorang atau kelompok orang yang dipimpin dengan menumbuhkan dorongan-dorongan dalam diri orangorang yang dipimpin untuk melakukan tugas atau kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai dengan rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi.Sedangkan pembelajaran adalah upaya menciptakan situasi belajar atau upaya membelajarkan terdidik.10

Pelaksanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya seorang ketua atau pemimpin untuk memberikan arahan agar seorang yang dipimpin atau guru dapat menciptakan situasi belajar dan dapat berinteraksi dengan peserta didik sehingga peserta didik terdapat perubahan dari segi kognitif, afektif, dan juga psikomotoriknya. Pelaksanaan pembelajaran berlangsung di dalam suasana belajar mengajar yaitu interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Maka dari situ ada faktor-faktor yang saling berhubungan yaitu: tujuan pembelajaran bagi siswa yang belajar, guru yang mengajar, bahan yang diajarkan, metode pembelajaran

9 Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan, (Jakarta: AR-RRUZ Media, 2009), hal.

27

10 Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Malang Press, 2009) Hal 7

(13)

9

dan alat bantu mengajar. Dari faktor yang ada itu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, maka dari itu bagaimana seorang pengajar dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan sesuai perencanaan yang telah ada.

4. Pengawasan Pembelajaran

Pengawasan adalah hasil membandingkan antara perencanaan dengan pelaksanaan sesungguhnya. Pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada peserta didik. Pengawasan Pembelajaran dapat disimpulkan sebagai serangkaian kegiatan membandingkan antara perencanaan pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran apakah sudah sesuai atau tidak.

5. Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi pembelajaran merupakan penilaian kegiatan dan kemajuan belajar peserta didik yang dilakukan secara bekala dalam bentuk ujian, praktikum, dan tugas. Bentuk ujian meliputi: Ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian tugas akhir dimana pembobotannya ditentukan atas kebersamaan antara pengampu mata kuliahdan penyusun silabi atau instansi yang bersangkutan.

Ruang lingkup evaluasi bersifat menyeluruh meliputi tiga ranah pendidikan, yaitu: ranah pengetahuan (kognitif), ranah sikap dan perilaku (afektif), dan ranah keterampilan (psikomotorik). Ketiga ranah pendidikan itu berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena menyatu dalam diri anak. Dan evaluasi tersebut hendaknya diukur dengan alat ukur yang tingkat validitas dan reliabilitasnya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Evaluasi merupakan upaya yang dilakukan untuk mengetahui kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Untuk mengatahui proses pembelajaran, untuk mengetahui kemajuan-kemajuan santri,

(14)

10

serta mengetahui hasil pembelajaran merujuk perencanaan tujuan yang telah dilakukan.

3. Manajemen Personil Pendidikan Non Formal dan Informal

Manajemen Personalia adalah salah satu kegiatan negara, perusahaan, yang mencakup pengembangan prinsip-prinsip organisasi unruk bekerja dengan personel, penciptaan tim kerja yang efisien dan penggunaan potensi personel secara rasional dari karyawan, organisasi, dan ekonomi negara secara keseluruhan. Manajemen Personalia merupakan konsep yang kompleks, mencakup berbagai masalah yaitu dari pengembangan konsep manajemen personalia dan motivasi karyawan hingga pendekatan organisasi dan praktis hingga pembentukan mekanisme implementasinya di organisasi tertentu.

Personil adalah bagian integral dari organisasi mana pun, karena setiap organisasi adalah interaksi orang-orang yang disatukan oleh tujuan bersama.

Manajemen personalia adalah salah satu kegiatan negara, perusahaan, yang mencakup pengembangan prinsip-prinsip organisasi untuk bekerja dengan personel, penciptaan tim kerja yang efisien dan penggunaan potensi personel secara rasional dari karyawan, organisasi, dan ekonomi negara secara keseluruhan. Manajemen personalia adalah jenis kegiatan khusus, ini adalah sistem integral yang memiliki konten spesifiknya sendiri. Pendekatan ini didasarkan pada alokasi fungsi manajemen personalia, tujuan dan sasarannya berfungsi dalam organisasi, ini menunjukkan tindakan, proses apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.11

Sedangkan menurut Edwin B. Flippo manajemen personalia adalah perencanaan, pengroganisasian, pengarahan, dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat.

11 Besti Rafikah,dkk.2022. Jurnal Pendidikan Tabusai.Manajemen Personalia Organisasi Mengelola Manusia Sebagai Aset Organisasi Pendidikan. Hal 12862-12868. Vol 6

(15)

11

a. Manajemen Pendidikan Formal

Pendidikan Formal merupakan jalur pendidikan diluar pendidikan terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Pendidikan formal umumnya diikuti oleh sebagian masayarakat Indonesia, yang diman pendiikan ini dilakukan dan diselenggarakan oleh pemerintah dengan mengikuti aturan secara mutlak.

Pendidikan secara umum memiliki fungsi sebagai wadah untuk membentuk pribadi yang memiliki kedewasaan dalam berpikir. Berikut beberapa fungsi dari pendidikan formal :

1. Melatih kemampuan akademis

2. Melatih tanggung jawab dan disiplin 3. Mengembangkan diri dan kreativitas 4. Membangun jiwa sosial

5. Membentuk jati diri

Pendidikan formal memiliki karakteristik tertentu yang membedakannya dengan pendidikan nonformal dan informal. Berikut karakteristik pendidikan formal yang perlu kita ketahui :

1. Ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi untuk menjadi peserta didik

2. Memiliki kurikulum yang jelas

3. Materi yang diajarkan bersifat akademis

4. Proses pendidikannya memakan waktu cukup lama

5. Peserta didik harus melewati ujian di setiap jenjang pendidikan 6. Pendidikannya diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta 7. Tenaga pengajarnya harus memiliki kualifikasi tertentu 8. Diselenggarakan dengan administrasi yang seragam

9. Ijazah sangat diperlukan untuk melanjutkan jenjang pendidikan selanjutnya.

Adapun fungsi dalam pendidikan formal ini yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

(16)

12

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

b. Manejemen Personalia Pendidikan Nonformal

Menurut Abu Ahmadi mengartikan lembaga pendidikan non formal kepada semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, dan terencana diluar kegiatan lembaga sekolah (lembaga pendidikan formal) dengan tetap menumbuhkan nafas Islami di dalam proses penyelenggaraannya.

Menurut Gerhana Sari Limbong yang mengkutip pernyataan Muhammad Dahrin, lembaga pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar lembaga pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Selanjutnya dalam Undang-Undang SISDIKNAS dijelaskan bahwa pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap.12

4. Manajemen Pembiayaan Pendidikan Non Formal dan Informal

Manajemen pembiayaan pendidikan adalah segenap kegiatan yang berkenaan dengan penataan sumber, penggunaan, dan pertanggungjawaban dana pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan. Kegiatan yang ada dalam manajemen pembiayaan meliputi tiga hal, yaitu: penyusunan anggaran, pembiayaan, pemeriksaan. Mengetahui konsep dasar pembiayaan pendidikan.

Pendidikan dapat dipandang sebagai konsumsi jika pendidikan benefit-nya dapat dinikmati langsung pada saat dikonsumsi, dan pendidikan sebagai investasi tentu benefit-nya yang dapat dirasakan setelah beberapa waktu kemudian. Dalam menyelenggarakan pendidikan memerlukan biaya, Biaya

12 taqiyudin.2019. Modul Menejemen Pendidikan Nonformal. Hal 6

(17)

13

dipergunakan untuk menyediakan gedung sekolah atau fasilitas lainnya, untuk membayar guru atau dosen, menyediakan kurikulum dan pelayanan lainnya.

Salah satunya adalah perguruan tinggi merupakan salah satu jenjang pendidikan yang menyelenggarakan proses pendidikan diantaranya untuk menghasilkan sumber daya yang memiliki kompetensi dalam bidang manajemen.

Karena dalam penyelenggaraan pendidikannya tidak terlepas dari penggunaan dana atau biaya sehingga lembaga pendidikan harus memprioritaskan perhatian dalam pengelolaan biaya ini, sehingga biaya yang dimiliki berdasarkan penerimaan dapat dialokasikan dengan sebaik- baiknya.

Dalam manajemen pembiayan dalam pendidikan terbagi menjadi dua, yaitu : a. Manajemen Pembiayaan Pendidikan Formal

Manajemen pembiayaan dalam pendidikan formal adalah proses pengelolaan dana dan sumber daya keuangan untuk mendukung operasional sistem pendidikan formal, seperti sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan formal lainnya. Tujuan manajemen pembiayaan ini adalah untuk memastikan bahwa pendidikan formal berjalan lancar, memenuhi kebutuhan siswa, dan mencapai tujuan pendidikan. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam manajemen pembiayaan pendidikan formal:13

1. Perencanaan Anggaran: Manajemen pembiayaan dimulai dengan perencanaan anggaran yang mencakup perhitungan dana yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sistem pendidikan formal. Ini termasuk biaya operasional sekolah, gaji guru, pembelian buku teks, fasilitas, dan program-program pendidikan.

2. Sumber Dana: Sumber dana untuk pendidikan formal berasal dari berbagai sumber, termasuk anggaran pemerintah, donatur, dana swasta, dan pendapatan dari biaya pendidikan. Pengelolaan

13 Moh. Jamaluddin Imron.“Manajemen Pembiayaan Sekolah” Jurnal Al-Ibrah. Vol.1 No.1 (2016) h.

72-76.

(18)

14

pembiayaan melibatkan alokasi dana dari berbagai sumber ini.

3. Pengelolaan Dana: Dana harus dikelola dengan hati-hati dan efisien.

Ini mencakup pembayaran gaji staf, pengadaan sumber daya pendidikan, pemeliharaan fasilitas, dan pengelolaan administrasi keuangan.

4. Perencanaan Keuangan Jangka Panjang: Sistem pendidikan formal harus memiliki rencana keuangan jangka panjang yang mencakup proyeksi pendapatan dan pengeluaran untuk beberapa tahun ke depan.

Hal ini membantu dalam perencanaan keberlanjutan sistem pendidikan.

5. Pengawasan dan Pemantauan Keuangan: Manajemen pembiayaan melibatkan pengawasan dan pemantauan yang terus-menerus terhadap pengeluaran dan pendapatan sistem pendidikan. Laporan keuangan yang akurat dan terkini adalah penting.

6. Akuntabilitas dan Pelaporan: Manajemen pembiayaan pendidikan formal harus mencakup akuntabilitas yang jelas terhadap pemerintah, masyarakat, dan pihak berkepentingan lainnya. Laporan keuangan dan pelaporan berkala harus disusun dan disampaikan secara transparan.

7. Penggunaan Dana yang Efisien: Pengelolaan dana harus mengedepankan efisiensi. Dana harus dialokasikan dengan bijak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan memaksimalkan manfaat bagi siswa.

8. Pendanaan Khusus: Manajemen pembiayaan harus mempertimbangkan pendanaan khusus untuk program-program tertentu, seperti pendidikan inklusif, pengembangan kurikulum, atau program bantuan bagi siswa yang membutuhkan.

9. Evaluasi Dampak Keuangan: Manajemen pembiayaan juga harus mengukur dampak keuangan dari sistem pendidikan formal, termasuk efisiensi penggunaan dana dan dampak positif yang

(19)

15

diperoleh dari investasi tersebut.

10. Pengelolaan Risiko Keuangan: Identifikasi dan pengelolaan risiko keuangan yang mungkin timbul, seperti fluktuasi pendanaan atau perubahan kebijakan pemerintah, adalah bagian penting dari manajemen pembiayaan.

Manajemen pembiayaan dalam pendidikan formal sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas sistem pendidikan. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, sistem pendidikan formal dapat terus mendukung perkembangan dan pendidikan generasi masa depan.

b. Manajemen Pembiayaan Pendidikan Non Formal

Manajemen pembiayaan pendidikan non formal adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pelaporan penggunaan dana dan sumber daya finansial dalam konteks pendidikan non formal.

Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa program pendidikan non formal dapat berjalan dengan baik, berkelanjutan, dan mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan.

Manajemen pembiayaan dalam pendidikan non formal memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan pendidikan formal, karena pendidikan non formal sering kali tidak menerima dana dari sumber pendanaan publik seperti pendidikan formal. Berikut adalah beberapa aspek penting dalam manajemen pembiayaan pendidikan non formal:14

1. Diversifikasi Sumber Pembiayaan: Manajemen pembiayaan pendidikan non formal memerlukan diversifikasi sumber dana. Ini bisa mencakup donasi dari individu, dana dari organisasi non-pemerintah, perusahaan, atau yayasan amal. Upaya penggalangan dana menjadi kunci.

2. Biaya Partisipasi: Salah satu sumber pembiayaan utama dalam

14 Nur Fazillah.“Implementasi Manajemen Pembiayaan Pendidikan Non Formal” Jurnal Intelektualita, Prodi MPI FTK UIN Ar-Raniry. Vol.8 No.2 (2020) h. 81-83.

(20)

16

pendidikan non formal adalah biaya partisipasi yang dibayarkan oleh peserta. Namun, biaya ini harus sesuai dengan kemampuan ekonomi peserta, dan jika memungkinkan, program harus memberikan beasiswa atau bantuan keuangan kepada mereka yang membutuhkan.

3. Kemitraan: Manajemen pembiayaan pendidikan non formal dapat memanfaatkan kemitraan dengan organisasi atau perusahaan. Ini bisa melibatkan dukungan finansial, fasilitas, atau tenaga kerja sukarela.

4. Penggunaan Dana yang Efisien: Penting untuk mengelola dana dengan efisien dan memastikan bahwa setiap dolar yang dihabiskan menghasilkan dampak yang maksimal. Ini termasuk pengawasan biaya administrasi dan pemantauan pelaksanaan program.

5. Alokasi Dana: Dana harus dialokasikan dengan bijak, dengan fokus pada pemenuhan tujuan dan kebutuhan peserta. Ini mencakup pembelian sumber daya, gaji staf, dan fasilitas, jika diperlukan.

6. Pelaporan dan Akuntabilitas: Manajemen pembiayaan pendidikan non formal harus inklusif dalam hal pelaporan keuangan dan akuntabilitas. Donatur dan peserta harus tahu bagaimana dana digunakan dan sejauh mana program mencapai tujuannya.

7. Pendekatan Berkelanjutan: Pembiayaan dalam pendidikan non formal harus berkelanjutan. Ini berarti menciptakan model bisnis atau rencana pembiayaan jangka panjang yang memastikan program tetap berjalan meskipun adanya fluktuasi dana.

8. Pengelolaan Risiko Keuangan: Program pendidikan non formal harus mengidentifikasi dan mengelola risiko keuangan yang mungkin timbul, seperti fluktuasi pendanaan atau biaya yang tidak terduga.

9. Penggunaan Teknologi Keuangan: Teknologi keuangan seperti perangkat lunak akuntansi atau crowdfunding online dapat digunakan untuk mengelola dan meningkatkan pembiayaan.

10. Evaluasi Dampak : Manajemen pembiayaan harus berfokus pada pengukuran dampak program pendidikan non formal. Ini dapat

(21)

17

membantu mendemonstrasikan kepada donor dan peserta bahwa dana diinvestasikan dengan baik.

Manajemen pembiayaan dalam pendidikan non formal merupakan tantangan, tetapi dengan pendekatan yang tepat dan diversifikasi sumber pembiayaan, program pendidikan non formal dapat tetap berkelanjutan dan memberikan manfaat yang signifikan bagi peserta yang membutuhkan.

5. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Nonformal dan Informal Manajemen sarana prasarana menjadi sebuah kegiatan yang mesti dilakukan pada sebuah lembaga pendidikan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Keberlangsungan pendidikan sangat memerlukan sarana dan prasarana, dilihat dari peran sarana dan prasrana pendidikan yang sangat penting dalam memperlancar pelaksanaan proses pembelajaran. Harapan yang dibebankan pada dunia pendidikan sangat banyak, di sisi lain dunia pendidikan mempunyai masalah yang menghambat dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yaitu dalam hal sarana dan prasarana, masalah yang serupa dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam seperti Diniyah Takmiliyah yaitu masalah sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai.

Salah satu syarat keberhasilan belajar adalah tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang cukup. Sarana belajar yang menunjang kegiatan belajar murid bermacam-macam bentuknya, pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan baik akan memudahkan murid dalam melakukan aktifitas belajar, murid pun lebih semangat dalam belajar. Sebaliknya, kurangnya sarana belajar akan mengakibatkan murid kurang bersemangat dan kurang bergairah dalam belajar, hal ini tentu saja akan mempengaruhi prestasi belajar murid.

Prasarana pendidikan di sekolah dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu prasarana langsung dan prasarana tidak langsung. Prasarana langsung adalah prasarana yang secara langsung digunakan dalam proses

(22)

18

pembelajaran, misalnya ruang kelas, ruang laboratorium, ruang praktik, dan ruang komputer. Prasarana tidak langsung adalah prasarana yang tidak digunakan dalam proses pembelajaran, tetapi sangat menunjang proses pembelajaran, misalnya ruang kantor, kantin sekolah, tanah, dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang UKS, ruang kepala sekolah, taman, dan tempat parkir kendaraan15.

Proses manajemen sarana dan prasarana akan berjalan dengan baik, maka dalam proses implementasinya harus didasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan pendidikan adalah sebagai berikut:

1. Efektif Manajemen sarana prasarana harus dilakukan secara efektif, artinya pengelolaan terhadap sarana dan prasarana harus menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

2. Efisien Pengelolaan sarana dan prasarana terkait dengan pembiayaan, oleh karena itu, pengelolaan sarana prasarana harus dilakukan secara efisien sesuai dengan dana dan kemampuan lembaga pendidikan.

Peran Pendidik dalam Perencanaan Kebutuhan Sarana, Pengadaan, Inventarisasi, Penataan/Penyimpanan, Pemakaian, Pemeliharaan, Penghapusan dan Pengawasan Sarana dan Prasarana.

1. Hakikat Sarana dan Prasarana Pendidikan

Menurut Suharsimi Arikunto, sarana pendidikan ialah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar mencapai tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, tenang, efektif dan efisien.

Prasarana pendidikan adalah alat yang tidak langsung yang digunakan untuk pencapaian tujuan pendididikan. Contoh dari prasarana adalah Bangunan sekolah, lapangan, olahraga, dan parkiran.

Tujuan dari prasarana pendidikan sendiri adalah memberikan suatu sistematika kerja dalam pengelolaan pendidikan yang berupa sarana dan

15 Supiana2018.Jurnal Islamic Education.Menejemen Sarana dan Prasarana Diniyah Takmiliyah.Hal 144-145.Vol 3

(23)

19

prasrana, agar tugas operasional pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien menuju suatu sasaran yang sudah ditetapkan.Jenis sarana dan prasarana pendidikan dibedakan menjadi dua yaitu fisik dan non fisik. Sarana fisik adalah segala sesuatu berwujud benda mati yang mempunyai peran untuk memudahkan atau melancarkan suatu usaha. Contohnya mesin tulis, komputer, alat sarana olahraga dll. Sedangkan, Sarana non fisik adalah suatu aturan, tata tertib, budaya sekolah dan program belajar mengajar untuk menciptakan suatu lingkungan yang kondusif.

Fungsi sarana dan prasaran pendidikan dapat diberlakukan menjadi dua, yaitu langsung dan tidak langsung. Fungsi sarana pendidikan secara langsung adalah alat pengajar, alat peraga dan media. Sedangkan sjika secar tidak langsung adalah meja, kursi, lemari, rak, papan tulis, dll.

Persyaratan yang harus diperhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana pendidikan yaitu :

1. Perencanaan pengadaan barang harus diperhatikan dalam perencanaan sarana dan prasarana pendidikan.

2. Perencanaan harus jelas.

3. Rencana harus sistematis dan terpadu

4. Rencana harus menujukkan unsur-unsur insani yang baik ataupun noninsani sebagai komponen-komponen yang berhubungan satu sama yang lainnya bekerja sama menuju tercapainya tujuan dan target.

5. Memiliki struktur berdasarkan analis

6. Berdasarkan atas kesempatan dan keputusan bersama pihak perencana.

7. Fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan keadaan, perubahan situasi dan kondisi yang tidak di sangka-sangka.

8. Dapat dilaksanakan dan berkelanjutan.

9. Menujukkan sekolah prioritas

10. Mengadakan prasarana yang disesuaikan dengan plafon anggaran. 16

16 Hisbullah Fauzan.2013. sarana dan Prasarana Pendidikan Formal dan Nonformal.

(24)

20

6. Manajemen Hubungan dengan Masyarakat mengenai Pendidikan Nonformal dan Informal

Manajemen memiliki peran yang sangat penting dalam konteks pendidikan formal dan non formal, dan hubungannya dengan masyarakat sangat erat. Berikut adalah beberapa cara hubungan tersebut dapat dijelaskan:

- Pendidikan Formal: Manajemen pendidikan formal, seperti di sekolah dan perguruan tinggi, harus memastikan bahwa sistem pendidikan memenuhi kebutuhan masyarakat dalam memberikan akses dan kualitas pendidikan yang baik.

- Pendidikan Non Formal: Manajemen pendidikan non formal, seperti kursus pelatihan dan program pendidikan komunitas, juga harus merespons kebutuhan masyarakat yang beragam dan dapat memberikan akses pendidikan kepada orang-orang yang mungkin tidak mengikuti pendidikan formal.

- Pendidikan Formal: Manajemen pendidikan formal harus bekerja sama dengan masyarakat dalam pengambilan keputusan, termasuk pengembangan kurikulum, pemilihan guru, dan penentuan kebijakan sekolah.

- Pendidikan Non Formal: Program pendidikan non formal sering kali lebih terbuka terhadap partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan implementasi program, karena mereka sering kali lebih responsif terhadap kebutuhan dan keinginan lokal.

Pengelolaan Sumber Daya:

- Pendidikan Formal: Manajemen pendidikan formal harus mengelola sumber daya seperti dana, fasilitas, dan personil agar dapat memenuhi standar pendidikan dan kebutuhan siswa.

- Pendidikan Non Formal: Program pendidikan non formal juga memerlukan manajemen sumber daya yang efektif untuk memastikan program-program tersebut berjalan dengan baik dan dapat mengakomodasi peserta dengan baik.

Evaluasi dan Perbaikan:

- Pendidikan Formal: Manajemen pendidikan formal harus melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap kualitas pendidikan dan merespons umpan balik dari

(25)

21

masyarakat untuk melakukan perbaikan.

- Pendidikan Non Formal: Program pendidikan non formal juga perlu terus-menerus mengevaluasi efektivitas program mereka dan menyesuaikan dengan kebutuhan yang berkembang.

Pengembangan Keterampilan dan Pengetahuan:

- Pendidikan Formal: Manajemen pendidikan formal harus memastikan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan ekonomi.

- Pendidikan Non Formal: Program pendidikan non formal sering kali memiliki fleksibilitas untuk menawarkan kursus-kursus yang lebih sesuai dengan kebutuhan spesifik masyarakat.

Dalam kedua konteks, manajemen pendidikan harus selalu mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat dan memastikan bahwa pendidikan, baik formal maupun non formal, membantu memenuhi kebutuhan dan tujuan masyarakat secara keseluruhan. Ini berarti melibatkan komunikasi yang baik dengan masyarakat, transparansi, dan responsivitas terhadap perubahan dalam tuntutan dan harapan masyarakat terhadap sistem pendidikan.

7. Manajemen Isu-Isu Kritis dalam Manajemen Pendidikan Nonformal dan Informal

Manajemen isu-isu kritis dalam pendidikan formal dan nonformal adalah langkah penting untuk memastikan bahwa sistem pendidikan dapat berfungsi secara efektif dan relevan bagi masyarakat. Berikut adalah beberapa isu-isu kritis dalam manajemen pendidikan formal dan nonformal serta bagaimana

mengelolanya:

Isu Kritis dalam Manajemen Pendidikan Formal:

- Akses dan Kesetaraan: Memastikan bahwa semua anak memiliki akses ke pendidikan formal dan kesempatan yang sama untuk belajar. Ini termasuk mengatasi kesenjangan dalam akses pendidikan bagi kelompok-kelompok rentan seperti anak-anak dari latar belakang ekonomi yang rendah atau dengan disabilitas.

(26)

22

- Manajemen: Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengembangkan kebijakan inklusif dan mengalokasikan sumber daya dengan bijak untuk memenuhi kebutuhan semua siswa.

- Kualitas Pengajaran: Memastikan bahwa pengajar memiliki kualifikasi yang memadai dan dapat memberikan pengajaran yang berkualitas. Ini mencakup pelatihan dan pengembangan guru.

- Manajemen: Lembaga pendidikan harus memiliki strategi pengelolaan SDM yang kuat, termasuk pemilihan guru yang berkualitas, pengembangan profesionalisme guru, dan penilaian kinerja yang adil.

- Kurikulum yang Relevan: Mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pasar kerja saat ini.

- Manajemen: Kepala sekolah dan pengambil kebijakan harus bekerja sama dengan komunitas lokal dan sektor industri untuk merancang kurikulum yang memadai.

- Pengawasan dan Akuntabilitas: Menerapkan sistem pengawasan yang efektif untuk memantau kualitas pendidikan dan memastikan akuntabilitas dalam penggunaan sumber daya.

- Manajemen: Menerapkan evaluasi internal dan eksternal serta mengambil tindakan korektif sesuai kebutuhan.

Beberapa isu-isu yang terjadi pada dunia manajemen pendidikan, diantaranya adalah:

1. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

2. Manajemen Pendidikan Berbasis Masyarakat (MPBM) 3. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

4. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Isu Kritis dalam Manajemen Pendidikan Nonformal:

- Aksesibilitas: Memastikan bahwa program pendidikan nonformal dapat diakses oleh mereka yang membutuhkannya, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil atau kelompok marginal.

(27)

23

- Manajemen: Mengembangkan program yang bersifat inklusif dan mencari solusi untuk mengatasi hambatan akses, seperti biaya atau jarak.

- Kualitas Program: Memastikan bahwa program nonformal memiliki kurikulum yang sesuai dan pengajar yang berkualitas.

- Manajemen: Menjaga standar kualitas, melibatkan komunitas dalam perencanaan program, dan memberikan pelatihan bagi instruktur.

- Keberlanjutan Keuangan: Mencari sumber pendanaan yang berkelanjutan untuk program-program nonformal.

- Manajemen: Mengembangkan model keuangan yang berkelanjutan, termasuk kolaborasi dengan pihak swasta atau upaya penggalangan dana.

- Evaluasi Efektivitas: Mengukur dampak dan efektivitas program nonformal dalam mencapai tujuan pendidikan.

- Manajemen: Melakukan evaluasi berkala dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam perbaikan program.

- Keterlibatan Masyarakat: Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program nonformal.

- Manajemen: Membangun kemitraan yang kuat antara penyelenggara program dan masyarakat lokal.

- Manajemen isu-isu kritis dalam pendidikan formal dan nonformal memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas lokal, dan sektor swasta. Hal ini membutuhkan komitmen, strategi yang matang, dan kesediaan untuk mengatasi masalah secara sistematis untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan bagi semua individu dalam masyarakat.

(28)

24

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan dan Saran

Dengan melakukan langkah-langkah sesuai dengan kaidah penerapan manajemen. Yaitu adanya perencanaan sebelum pembelajaran dimulai, adanya pengorganisasian dari segi penjadwalan, pengelompokan kelas, sampai pada fleksibelitas jadwal pembelajaran, kemudian adanya pelaksanaan yaitu pelaksanaan pembelajaran dengan merunjuk pada perencanaan sebelumnya, sefta adanya pengawasan dan evaluasi untuk mengidentifikasi, mengukur, mencari solusi dari kekurangan kekurang yang ada Akhirnya sebagai manusia biasa penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya penulis mengharapkan kritik, saran, dan masukan yang membangun dari pembaca sebagai bahan perbaikan dimasa masa yang akan datang

(29)

25

DAFTAR PUSTAKA

Adi Wibowo.“Integrasi Manajemen Kesiswaan Pendidikan Formal dan Non Formal di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Pirworejo” Jurnal Islamic Education Manajemen. Vol,4 No.2 (2019) h. 224-226.

Abdul Wahab Rosyidi, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang: UIN-Malang Press, 2009) Hal 7

Besti Rafikah,dkk.2022. Jurnal Pendidikan Tabusai.Manajemen Personalia Organisasi Hisbullah Fauzan.2013. sarana dan Prasarana Pendidikan Formal dan Nonformal.

Muh. Abdul Mukti. “Manajemen Pendidikan Non Formal: Analisis Terhadap Taman Pendidikan Al-Qur’an Raudhatul Jannah Jayapura” Jurnal Kependidikan dan Keagamaan.Vol,2 No.1(2018).140

Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan, (Jakarta: AR-RRUZ Media, 2009), hal. 27

Mengelola Manusia Sebagai Aset Organisasi Pendidikan. Hal 12862-12868. Vol 6 Mubarok, Ramdanil. “Manajemen Pembelajaran Santri Taman Pendidikan Al-Qur’an

(TPA) Darus Sakinah Sangatta Utara”. Jurnal Al-Rabwah 14, No. 2 (2020).

Moh. Jamaluddin Imron.“Manajemen Pembiayaan Sekolah” Jurnal Al-Ibrah. Vol.1 No.1 (2016) h. 72-76.

Nandang Kosasih. Dede Sumarna, Pembelajaran Quantum dan Optimalisasi Kecerdasan, (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 21

Nur Fazillah.“Implementasi Manajemen Pembiayaan Pendidikan Non Formal” Jurnal Intelektualita, Prodi MPI FTK UIN Ar-Raniry. Vol.8 No.2 (2020) h. 81-83.

Puspo Nugroho.“Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Non Formal “Satu Atap” Al Hidayah Juranggunting Argomulyo Kota Salatiga” Jurnal Quality. Vol,7 No.1(2019) h. 6-7.

Suharsimi Arikunto, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta:Aditya Media.2008), h.4 Supiana2018.Jurnal Islamic Education.Menejemen Sarana dan Prasarana Diniyah

Takmiliyah.Hal 144-145.Vol 3

(30)

26

Syafaruddin,dan Irwan Nasution. (2005). Manajemen Pembelajaran.

Jakarta:Quantum Teaching

Taqiyudin.2019. Modul Menejemen Pendidikan Nonformal. Hal 6

T.Hani Handoko, Manajemen Edisi II, (Yogyakarta: BPFE Press,1995), hal.8

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan Hasil Belajar Manajemen Sumber Daya Keluarga pada Pengelolaan Keuangan Mahasiswa Pendidikan Tata Boga adalah sebagai berikut:.. Penerapan hasil belajar MSDK pada

Di antara beberapa lembaga pendidikan Islam non formal yang sangat berperan dan terus mengalami perkembangan dan kemajuan dengan karakteristiknya masing- masing

Karena itu, lembaga formal dan non-formal perlu menyediakan fasilitas belajar yang dapat mendukung terlaksananya proses pembelajaran dan dapat membantu peserta didik untuk

Manajemen keuangan/ pembiayaan pendidikan, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan masuk dan keluarnya dana, usaha-usaha menggali

Hasil pendidikan non formal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh..

Persyaratan pada pelayanan perizinan pendirian atau operasional pendidikan formal maupun non formal ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya melalui kewenangan yang diatur dalam

HASIL DAN PEMBAHASAN Penyaluran Pembiayaan Dana Bantuan Operasional Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMK Negeri I Sabang Penyaluran pembiayaan dana Bantuan

Dalam lembaga pendidikan, manajemen sumber daya manusia merupakan unsur yang sangat dibutuhkan dalam upaya pengembangan serta peningkatan mutu pendidikan dengan tujuan pendidikan dapat