• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA INTERAKSI EDUKATIF GURU PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA V SMA BIMA AMBULU TAHUN AJARAN 2022/2023 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "POLA INTERAKSI EDUKATIF GURU PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA V SMA BIMA AMBULU TAHUN AJARAN 2022/2023 SKRIPSI"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

POLA INTERAKSI EDUKATIF GURU

PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA V SMA BIMA AMBULU

TAHUN AJARAN 2022/2023

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Jember Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Renaldhy Sugiarto NIM: T20181097

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

DESEMBER 2022

(2)

ii

POLA INTERAKSI EDUKATIF GURU

PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA V SMA BIMA AMBULU

TAHUN AJARAN 2022/2023

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Jember Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Renaldhy Sugiarto NIM: T20181097

Disetujui Pembimbing:

Dr. Sarwan, M.Pd.

NIP. 196312311993031028

(3)

iii

POLA INTERAKSI EDUKATIF GURU

PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS XI MIPA V SMA BIMA AMBULU

TAHUN AJARAN 2022/2023

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu Persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penddidikan Islam Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa

Program Studi Pendidikan Agama Islam Hari: Selasa

Tanggal: 20 Desember 2022 Tim Penguji

Ketua Sekretaris

Dr. Ubaidillah, M.Pd.I Rofiq Hidayat, M.Pd.

NIP. 198512042015031002 NIP. 198804042018011001 Anggota:

1. Dr. Imron Fauzi, M.Pd.I ( ) 2. Dr. Sarwan, M.Pd. ( )

Menyetujui,

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Prof. Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I NIP.19640511 199903 2 001

(4)

iv

OMOOM











































Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Q.S. Al-Hujurat Ayat 13)

Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an Balitbang dan Diklat Kemenag RI, 2019), 755

(5)

v

PERSEMBAHAN

Skripsi ini peneliti persembahkan utamanya untuk kedua orang tua, yaitu ibu Feni Wilarsih S. ST. MM. dan ayah Totok Sugiarto, guru, sahabat, teman, dan semua pihak yang telah bertanya:

“Kapan sidang?”, “kapan wisuda?”, “kapan nyusul?”, “kapan nikah”,

“mana calonnya?” dan lain sejenisnya.

Kalian semua adalah alasan dan inspirasiku untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

(6)

vi ABSTRAK

Renaldhy Sugiarto, 2022: Pola Interaksi Edukatif Guru Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu Tahun Ajaran 2022/2023

Kata Kunci: Pola Interaksi Edukatif, Hasil Belajar, SMA Bima Ambulu

Interaksi Edukatif ialah suatu hubungan timbal balik (feed back) antara individu yang satu dengan individu yang lainnya yang untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan. SMA Bima Ambulu adalah lembaga pendidikan menengah atas dibawah naungan swasta. Lembaga ini juga merupakan salah satu lembaga pendidikan menengah atas unggulan yang ada di Kecamatan Ambulu.

Fokus penelitian ini adalah: pertama, Bagaimana penerapan pola interaksi edukatif guru Pendidikan Agama Islam terhadap hasil belajar peserta didik mata pelajaran PAI dan budi pekerti kelas XI MIPA V di SMA Bima Ambulu? Kedua, bagaimana dampak pola interaksi edukatif guru Pendidikan Agama Islam terhadap hasil belajar peserta didik mata pelajaran PAI dan budi pekerti kelas XI MIPA V di SMA Bima Ambulu? Tujuan dari penelitian ini adalah: pertama, mendeskripsikan bentuk pola interaksi edukatif guru pendidikan agama Islam dan peserta didik mata pelajaran PAI dan budi pekerti yang berlangsung di kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu. Kedua, mengetahui dampak penerapan pola interaksi edukatif guru PAI dan budi pekerti terhadap hasil belajar peserta didik mata pelajaran PAI dan budi pekerti kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian field research. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Adapun hasil penelitian ini adalah: pertama, penerapan pola interaksi eduaktif guru pada mata pelajaran PAI dan BP terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA V berjalan sesuai peranannya masing-masing, ketiga pola interaksi edukatif sudah terlaksana sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sudah disusun guru mata pelajaran sebelumnya, dibuktikan dengan terjadinya pola interaksi yang pertama yaitu guru memimpin membaca surat atau hadist pada materi yang akan disampaikan, pola interaksi yang kedua yaitu dibuktikan dengan adanya hubungan timbal balik (feedback) berupa tanya jawab yang dilakukan oleh peserta didik terhadap guru, dan pola ketiga yaitu dibuktikan dengan terjadinya pelaksanaan belajar kelompok di dalam kelas oleh peserta didik. Kedua, dampak penerapan pola interaksi edukatif guru terhadap hasil balajar peserta didik sudah berjalan dengan peranannya masing-masing, Peserta didik merasa proses penyampaian materi oleh guru sangat menarik dan hasil belajar sendiri disini meliputi beberapa aspek penting antara lain aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia- Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini terutama kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, M.E., MM selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah menerima penulis sebagai mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2. Ibu Prof. Dr. Hj. Mukni‟ah, M.Pd.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

3. Bapak Dr. Rif‟an Humaidi, M.Pd.I selaku Koordinator Jurusan Pendidikan Islam dan Bahasa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

4. Ibu Dr. Hj. Fathiyaturrahmah, M.Ag. selaku Koordinator Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah senantiasa memberikan arahan dan motivasi yang sangat membangun bagi mahasiswanya.

5. Bapak Dr. Sarwan, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah

(8)

viii

memberikan segala pengalaman dan juga keilmuannya kepada penulis sehingga proses pengerjaan skripsi dapat terselesaikan dengan lancar.

6. Bapak Hafidz, S.Ag. M.Hum selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan segala pengalaman dan juga keilmuannya kepada penulis sehingga proses pengerjaan skripsi dapat terselesaikan dengan lancar.

7. Bapak Drs. H. Abd. Wahab Hs, M.Pd.I, selaku Kepala Sekolah SMA Bima Ambulu, segenap Waka dan guru-guru yang telah berkenan untuk memberikan izin dan memfasilitasi untuk melakukan penelitian di lingkungan sekolah.

8. Teman-teman dan sahabat-sahabat yang turut serta dalam memberikan motivasi, dukungan, dan doa nya sehingga dapat membantu kelancaran dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.

Penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak khususnya dalam bidang pendidikan agama Islam dan Budi Pekerti.

Jember, 20 Desember 2022 Penulis

Renaldhy Sugiarto NIM: T20181097

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Definisi Istilah ... 12

F. Sistematika Pembahasan ... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 15

A. Penelitian Terdahulu ... 15

B. Kajian Teori ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 48

(10)

x

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 48

B. Lokasi Penelitian ... 49

C. Subyek Penelitian ... 49

D. Teknik Pengumpulan Data ... 50

E. Analisis Data ... 52

F. Keabsahan Data ... 54

G. Tahapan Penelitian ... 59

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 60

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 60

B. Penyajian dan Analisis Data ... 73

C. Pembahasan Temuan ... 87

BAB V PENUTUP ... 96

A. Kesimpulan ... 96

B. Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 98 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 19 Tabel 4.1 Daftar Kegiatan Ekstrakulikuler di SMA Bima Ambulu ... 65 Tabel 4.2 Jumlah Peserta Didik SMA Bima Ambulu TA 2022/2023 ... 65 Tabel 4.3 Kondisi Guru dan Tenaga Kependidikan SMA Bima Ambulu .. 66 Tabel 4.4 Data Nama Peserta didik Kelas XI MIPA V SMA Bima

Ambulu ... 71 Tabel 4.5 Keadaan Prasarana di SMA Bima Ambulu... 72 Tabel 4.6 Keadaan Sarana Sarana di SMA Bima Ambulu ... 73 Tabel 4.7 Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Didik Mata Pelajran PAI dan BP Sebelum Penelitian Kelas XI MIPA V... 80 Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Didik Mata Pelajran PAI dan BP

Sesudah Penelitian Kelas XI MIPA V ... 86 Tabel 4.9 Pembahasan Temuan ... 87

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Komunikasi Satu Arah ... 24

Gambar 2.2 Komunikasi Dua Arah ... 25

Gambar 2.3 Komunikasi Tiga Arah ... 25

Gambar 4.1 Struktur Organisasi SMA Bima Ambulu ... 61

Gambar 4.2 Peserta Pidik Kelas XI MIPA V Sedang Membentuk Kelompok Belajar ... 78

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

Pendidikan adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sebab pendidikan merupakan sarana pembentuk kepribadian. Pendidikan merupakan salah satu pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 “Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.1

Pendidikan juga merupakan sarana untuk membentuk dan mengembangkan karakteristik manusia yang tangguh dan unggul dalam ilmu pengetahuan (intelektualitas), amal, ibadah, harta kekayaan, sikap dan terlebih prilaku sopan santun kepada diri, keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar. Tanpa pendidikan yang memadai, manusia akan jatuh harkat dan martabatnya dihadapan manusia lain, karena pendidikan adalah upaya untuk mewujudkan eksistensi diri dan menumbuh-kembangkan kedewasaan melalui penanaman pengetahuan, nilai-nilai kebudayaan dan

1 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pasal 1 Ayat 1, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 1

(14)

keagamaan serta sebagai bekal untuk hidup di masa yang akan datang dibawah bimbingan seorang pendidik.2

Al-Qur‟an menyebutkan bahwa Allah SWT akan meninggikan derajat dan memuliakan pendidikan daripada orang Islam lainnya yang tidak berilmu. Firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 :































































Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,

„Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,‟ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, „Berdirilah kamu,‟ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. ”3

Membuat peserta didik berkarakter adalah tugas pendidikan, yang esensinya adalah membangun manusia seutuhnya, yaitu manusia yang baik dan berkarakter. Pengertian baik dan berkarakter mengacu pada norma yang dianut, yaitu nilai-nilai luhur Pancasila. Menurut Anas Salahudin seluruh butir-butir pancasila seluruhnya terintegrasi ke dalam harkat dan martabat manusia (HMM) yang terdiri atas tiga komponen,

2 Salahudin Anas dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter : Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa. (Bandung: Pustaka Setia, 2013), 13

3 Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an Balitbang dan Diklat Kemenag RI, 2019), 830

(15)

yaitu : “Hakikat manusia, pancadaya kemanusiaan, dan dimensi dimensi kemanusiaan.”4

Guru adalah suri teladan bagi peserta didik dan memegang peranan penting dalam pendidikan, ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan, figur guru selalu terlibat dalam agenda pembicaraan, terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Seorang guru tidak boleh menunjukkan sikap dan perilaku kurang baik, karena semua sikap dan perilaku guru akan dilihat, didengar dan ditiru peserta didik. Figur guru yang baik adalah guru yang menerangkan pelajaran dengan jelas, memiliki perasaan humoris dengan peserta didik, bersikap bersahabat dengan peserta didik, memahami karakter peserta didik, tidak pilih kasih terhadap peserta didik, tidak suka marah, rela meluangkan waktunya demi kepentingan peserta didik, menasehati peserta didik dan membantu kesulitan peserta didik dalam segala hal yang bisa menghambat aktivitas belajarnya, sehingga tidak ada jarak antara guru dan peserta didik. Sementara figur guru yang kurang baik adalah guru yang suka marah, menerangkan pelajaran secara tidak jelas, tidak mengacuhkan perasaan peserta didik, membentak peserta didik di depan teman-temannya, tidak dapat mengendalikan kelas dan menimbulkan kesan kurang nyaman pada peserta didik, dengan sikap guru yang kurang baik akan timbul perasaan malas untuk mengikuti proses pembelajaran guru tersebut.5

Guru harus berusaha agar peserta didik aktif dan kreatif secara optimal dalam penerapan pola interaksi edukatif. Seorang guru sebagai

4 Salahudin Anas dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter : Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa.41

5 Djamarah Bahri Syaiful, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukati, 28.

(16)

pengajar akan berusaha secara maksimal dengan menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya agar peserta didik mencapai tujuan yang diharapkan. Di sini seorang guru harus menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan, agar peserta didik dapat belajar dengan nyaman. Pola interaksi edukatif nantinya akan mengubah tingkah laku peserta didik. Perubahan tingkah laku ini mencakup aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek afektif. Kadang seorang guru beranggapan proses pembelajaran berakhir, jika sudah menjelaskan semua materi tanpa melihat peserta didik sudah menguasai materi apa belum, maka dari itu pola interaksi edukatif guru dengan peserta didik penting dalam proses pembelajaran.6

Guru juga merupakan seorang yang memegang peranan utama dalam proses belajar mengajar. Inti dari pendidikan adalah proses belajar mengajar, segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan tersebut. Maka berhasil tidaknya atau efektif suatu proses belajar mengajar salah satunya bergantung pada keprofesionalan seorang guru dalam menjalankan tugasnya.

Faktor terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya.

Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi peserta didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari hari peserta didiknya. Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (maknawi) sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan dalam segala segi

6 Djamarah Bahri Syaiful, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukati, 30

(17)

dan aspek kehidupan misalnya dalam tindakannya, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah baik yang ringan maupun yang berat.7

Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh 2 faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat, saktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.8

Proses pembelajaran akan efektif apabila komunikasi dan interaksi antara guru dengan peserta didik terjadi secara intensif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan peserta didik. Peran dimaksudkan adalah guru sebagai pendidik, guru sebagai orang tua, dan guru sebagai teman sejawat.

Disiplin kelas, tata tertib kelas, pengendalian kelas, manajemen kelas atau apapun namanya, merupakan hal yang amat krusial bagi seorang guru.

Apabila seorang guru tidak mampu memelihara disiplin dalam kelas maka kemungkinan proses pembelajaran akan mengalami kegagalan. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar yang kondusif.9

7 Dradjat Zakiyah, Kepribadian Guru, (Jakarta : Bulan Bintang, 2002), 9

8 Papuh Fathurrohman dan Aa Suryana, Guru Profesional, (Bandung: Refika Aditama, 2012), 39

9 Zakiyah Dradjat, Kepribadian Guru, (Jakarta : Bulan Bintang, 2002), 21

(18)

Hubungan yang harmonis antara guru dengan murid di dalam proses belajar mengajar merupakan faktor yang sangat menentukan. Bagaimana baiknya bahan pelajaran yang diberikan dan sempurnanya metode yang digunakan, namun jika interaksi guru dengan murid tidak harmonis, maka tidak dapat menciptakan suatu hasil yang diinginkan. Untuk menjalin hubungan tersebut, seorang guru memahami bahwa dalam suatu kelas ada yang tidak dapat dipungkiri adanya perbedaan individu baik dari baik dari aspek biologis, intelektual, maupun psikologis. Interaksi yang akan terjadi juga dipengaruhi oleh cara guru dengan murid ketika pelajaran berlangsung. Disini tentu aktifitas optimal murid sangat menentukan kualitas yang terjadi di dalam kelas.10

Pola interaksi edukatif menggambarkan hubungan aktif guru dengan peserta didik dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya. Sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaktif edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Pola interaksi edukatif merupakan suatu proses yang mengandung sejumlah norma.

Semua norma itulah yang harus guru transfer kepada peserta didik dan semua norma diyakini mengandung kebaikan perlu ditanamkan ke dalam jiwa peserta didik melalui peranan guru dalam pengajaran. Guru dan peserta didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Interaksi antara guru dan peserta didik terjadi.11

10 Zakiyah Dradjat, Kepribadian Guru, 34.

11 Zakiyah Dradjat, Kepribadian Guru, 39.

(19)

Karena saling membutuhkan dan pola interaksi edukatif tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dalam penuh makna. Pola interaksi edukatif digunakan sebagai jembatan yang menghidupkan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan kepada tingkah laku sesuai dengan pengetahuan yang diterima peserta didik. peserta didik ingin belajar dengan menimba sejumlah ilmu dari guru dan guru ingin membina dan membimbing peserta didik dengan memberikan sejumlah ilmu kepada peserta didik yang membutuhkan. Keduanya mempunyai kesamaan langkah dan tujuan, yakni kebaikan. Maka tepatlah bila dikatakan bahwa guru mitra peserta didik dalam kebaikan.12

Seorang peserta didik yang belajar karena dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. peserta didik yang belajar dari faktor eksternal dan faktor internal ini lebih baik prestasinya dibandingkan mereka yang hanya belajar dari faktor eksternal saja atau faktor internal saja. Dalam hal ini seorang guru yang profesional diharapkan mampu mengubah sikap peserta didik yang kurang giat belajar menjadi peserta didik yang giat belajar, maka dari itu seorang guru harus melalukan pendekatan kepada peserta didiknya bukan hanya mengajar teori di kelas. Melakukan pendekatan kepada peserta didik ini penting, karena hal tersebut digunakan supaya semua peserta didik giat dalam belajar. Seorang guru harus menunjukkan sikap simpatik dan memberikan suri teladan yang baik. Karena, hal ini bisa menjadi daya dorong yang positif bagi peserta didik untuk belajar. Jika peserta didik menyukai gaya

12 Zakiyah Dradjat, Kepribadian Guru,54.

(20)

belajar seorang guru maka kegatan belajar mengajar akan berjalan dengan kondusif dan penyampaian materi dari guru ke peserta didik akan lebih dipahami oleh peserta didik.13

SMA Bima Ambulu adalah lembaga pendidikan menengah atas dibawah naungan swasta. Lembaga ini juga merupakan salah satu lembaga pendidikan menengah atas unggulan yang ada di Kecamatan Ambulu. Prestasi yang diraih SMA Bima Ambulu sudah sangat banyak, baik di bidang akademik maupun non akademik. Contohnya Sholawat Al Banjari dan program membaca kitab kuning yang sudah mengikuti festival dan lomba- lomba ditingkat daerah. Sholawat Al Banjari SMA Bima pun sudah sering diundang untuk mengisi acara sholawat-sholawatan besar yang ada didaerah Ambulu dan sekitarnya.

Berdasarkan pra observasi yang dilakukan oleh peneliti, terlihat pola interaksi edukatif yang ada di kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu kurang beragam, dalam penerapannya hanya komunikasi satu arah saja yang sering terjadi di dalam kelas, peserta didik mempunyai minat belajar yang kurang dan antusias peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar rendah, ini dibuktikan dengan hasil wawancara dengan salah satu peserta didik yang ada di kelas XI MIPA V SMA Bima, hal ini dikarenakan peserta didik sebelumnya menggunakan pembelajaran daring, oleh sebab itu minat belajar peserta didik pada saat awal semester kurang, kurangnya interaksi yang terjadi didalam kelas ini berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik, dibuktikan dengan

13 Djamarah Bahri Syaiful, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), 40

(21)

data hasil belajar peserta didik mata pelajaran PAI dan budi pekerti yang peniliti dapat saat melakukan pra observasi: 14

No

Nama KD 1 KD 2 KD 3 KD 4 UTS

P K P K P K P K

4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 ADITYA DWI FERDIANSYAH 70 72 75 80 72 70 71 77 69

2 AGIL DAFA PRASETYA 72 70 80 77 75 80 77 76 67

3 ALFIN NANDO 72 71 67 78 78 65 76 75 60

4 ANDITHA EKA YUANA 75 72 76 73 71 71 76 79 70

5 AURA VELINA BESTINIDYA 72 71 74 71 77 67 76 70 71

6 DIMAS FARHAN ATHO‟ILLAH 76 77 80 76 80 87 68 65 69

7 DINDA AMILIA PUJIASTUTI 85 80 82 77 80 79 80 84 70

8 ERDITA SEPTYANA PUTRI 87 86 84 88 86 76 78 79 75

9 EVA AINUR KHAWAID 70 72 75 80 72 70 71 77 69

10 FAREL ADITYA PRAYOGA 73 77 71 72 80 79 77 70 65

11 FATKA ANANDA RIZKY 70 72 75 80 72 70 71 77 70

12 FIKA MAYLIA HAFIFA 72 70 80 77 75 80 77 76 60

13 FRESTI RAHMADHANI 72 71 67 78 78 65 76 75 70

14 IN‟AM DANAR FITRIANSYAH 70 72 75 80 72 70 71 77 70

15 IZA AFKARINA SA‟ADAH 72 71 74 71 77 67 76 70 70

16 JULI ARIATMAJA 76 77 80 76 80 87 68 65 72

17 KULSUM AL JARAH 70 72 75 80 72 70 71 77 75

18 M. DICKY INDRA KURNIAWAN 70 72 75 80 72 70 71 77 70

19 M. FEMAS IRAWAN 72 70 80 77 75 80 77 76 67

20 MAULIDA ROSIDATUL ULVIAH 72 71 67 78 78 65 76 75 70

21 MUHAMMAD RIZKY SANTOSO 75 72 76 73 71 71 76 79 72

22 NUR FITRI 80 91 84 81 87 80 80 85 79

23 NUR INTAN SALSA BELLA 76 77 80 76 80 87 68 65 76

24 PALOMA SYALLOW ZAURA POV 70 72 75 80 72 70 71 77 75

25 PRIYO BAYU DWI ASMORO 72 70 80 77 75 80 77 76 72

26 ROHMAT NUR SALIM 72 71 67 78 78 65 76 75 72

27 ROSSI BRYAN ROBERTO 75 72 76 73 71 71 76 79 72

28 SADEWA PUTRA ALCANTARA 72 71 74 71 77 67 76 70 72

29 VEMILA AYU GRACELA 76 77 80 76 80 87 68 65 69

14 Observasi dan wawancara dengan Nur Fitri salah satu peserta didik XI MIPA V di SMA Bima Ambulu, pada saat jam istirahat pukul 10.15 Senin 8 Maret 2022, di teras kelas XI MIPA V.

(22)

Berdasarkan pernyataan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di SMA Bima Ambulu dan mengangkat judul “Pola Interaksi Edukatif Guru Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu Tahun Ajaran 2022/2023.”

B. Fokus Penelitian :

Berdasarkan konteks penelitian tersebut, maka penulis menuliskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan pola interaksi edukatif guru pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu Tahun Ajaran 2022/2023?

2. Bagaimana dampak pola interaksi edukatif guru pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu Tahun Ajaran 2022/2023?

C. Tujuan Penelitian :

Adapun tujuan penelitian dari skripsi ini adalah:

1. Mendeskripsikan pola interaksi edukatif guru pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu Tahun Ajaran 2022/2023.

2. Mengetahui dampak penerapan pola interaksi edukatif guru pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan budi pekerti terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA V SMA Bima Ambulu Tahun Ajaran 2022/2023.

(23)

D. Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu kegunaan teoritis dan praktis.

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan dalam bidang pendidikan mengenai pola interaksi edukatif guru dan hasil belajar peserta didik.

b. Menambah referensi ilmiah dan sebagai motivasi bagi peneliti lain yang berminat mengkaji lebih dalam terkait penelitian pola interaksi edukatif guru dan hasil belajar.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi sekolah, dapat menambah bidang kajian keilmuan khususnya bidang pendidikan yang berkaitan dengan pola interaksi guru, peserta didik dan hasil belajar.

b. Bagi guru, untuk membangun pola interaksi edukatif yang baik dengan peserta didik, serta agar guru lebih memperhatikan penerapan pola interaksi edukatif dalam pembelajaran terkait dengan hasil belajar peserta didik.

c. Bagi peneliti, dapat mengetahui dan memperoleh hasil dari penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat dijadikan pengetahuan dan pengalaman terkait dengan pola interaksi edukatif dan hasil belajar.

(24)

E. Definisi Istilah

1. Pola Interaksi Edukatif

Interaksi selalu berkaitan dengan istilah komunikasi atau hubungan, kalau dihubungkan dengan istilah pola interaksi edukatif sebenarnya komunikasi timbal-balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah mengandung maksud-maksud tertentu, yakni untuk mencapai pengertian bersama yang kemudian untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam hal ini macam pola interaksi edukatif yang peneliti teliti adalah 3 pola interaksi edukatif, yaitu pola pertama (aksi) yaitu komunikasi satu arah, pola kedua (interaksi) yaitu komunikasi dua arah, dan pola yang ketiga (transaksi) yaitu pola interaksi banyak arah.

2. Guru Mata Pelajaran PAI dan Budi Pekerti

Guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik.

Definisi guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.

Dalam hal ini guru yang diteliti oleh peneliti adalah guru mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti di SMA Bima Ambulu.

(25)

3. Hasil Belajar Peserta didik

Hasil belajar peserta didik dalam penelitian ini mengacu pada nilai rapot mata pelajaran PAI dan budi pekerti sebelum dan sesudah dilakukannya pola interaksi edukatif. Dan hasil belajar disini sendiri meliputi pencapaian peserta didik sebelum dan sesdudah dilakukannya penelitian, penilaiannya meliputi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik.

F. Sistematika Pembahasan

Agar dapat memberikan kemudahan sekaligus pemahaman dalam rangka penyusunan skripsi, peneliti akan menguraikan bab bab dalam penelitian ini, adapun sistematika pembahasannya meliputi:

Bab I Pendahuluan, bab ini merupakan dasar dalam penelitian yang terdiri dari konteks penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan. Bab ini berfungsi untuk memperoleh gambaran umum mengenai pembahasan dalam skripsi.

Bab II merupakan bab yang menjelaskan tentang penelitian terrdahulu yang mana membahas penelitian orang lain yang serupa dengan penelitian yang akan dilakukan. Serta kajian teori yang membahas tentang teori yang diijadikan landasan dalam melakukan penelitian yang sesuai dengan fokus penelitian.

Bab III merupakan bab yang menjelaskan metode penelitian, yang di dalamnya terdapat pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek

(26)

penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap- tahap penelitian.

Bab IV merupakan bab yang memuat tentang penyajian data dan analisis yang meliputi gambar obyek penelitian, penyajian data dan analisis data, dan pembahasan temuan.

Bab V merupakan bab membahas tentang penutup yang meliputi kesimpulan dan saran-saran.

(27)

15 BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Peneliti terdahulu

Untuk mendukung penelitian yang lebih komprehensif, sebagai pembanding dan menghindari terjadinya penelitian yang berulang, maka penulis berusaha untuk melakukan kajian dari beberapa skripsi yang telah ada. Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain:

1. Skripsi yang ditulis oleh Aisyah Adawiyah, Tahun 2016, judul “Interaksi Edukatif Guru Pendidikan Agama Islam dengan Peserta didik dalam Proses Pembelajaran di SMA N I Patuk Gunung Kidul”.15 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam skripsi ini, mendeskripsikan tentang konsep interaksi edukatif yang dilakukan guru PAI dalam proses pembelajaran dan interaksi edukatif yang diterapkan guru PAI dalam pembelajaran.

Adapun persamaan penelitian ini mengenai interaksi edukatif yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Sedangkan perbedaanya mengenai fokus penelitian, fokus penelitian milik saudari Aisyah mengacu pada proses belajar sedangkan penelitian iniberfokus pada hasil belajar. Guru melakukan interaksi edukatif untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik, pembimbing, dan pengarah dalam pengetahuan dan penanaman nilai karakter dalam diri peserta didik. Di SMA Bima Ambulu guru PAI sudah melaksanakan

15 Aisyah Adawiyah,“Interaksi Edukatif Guru Pendidikan Agama Islam dengan Peserta didik dalam Proses Pembelajaran di SMA N I Patuk Gunung Kidul”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016.

(28)

tugas dan kewajibannya sebagai pendidik dengan baik. Guru memberikan contoh dan teladan disetiap interaksinya dengan peserta didik dan membentuk peserta didik untuk berakhlak mulia.

2. Skripsi yang ditulis oleh Faiz Muhlis, tahun 2017, judul “Upaya Guru dalam Mengimplementasikan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Piyungan Bantul Yogyakarta”.16 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada skripsi yang ditulis saudara Faiz pengimplementasian pendidikan karakter dalam pembelajaran PAI dilakukan dengan berbagai metode. Peran guru dalam pembentukan karakter peserta didik sangat penting, tanpa adanya guru maka proses penanaman karakter peserta didik sulit dikembangkan apalagi pembelajaran PAI merupakan basik dari pembentukan karakter. Faktor pendukung dalam pengimplementasian pendidikan karakter ialah guru dan lingkungan. Persamaan penelitian ini pada metode penelitian kualitatif yang di pakai peneliti. Adapun perbedaanya, skripsi peneliti mengarah pada keterlibatan interaksi yang dilakukan guru PAI dalam pembentukan karakter peserta didik. Guru PAI di SMA Bima Ambulu dalam membentuk karakter peserta didik tidak hanya dalam menyampaikan materi namun juga membimbing, mengarahkan, dan memberikakan teladan, sehingga dapat membantu menumbuhkan perilaku dan akhlak mulia pada diri peserta didik.

16 Faiz Muhlis, “Upaya Guru dalam Mengimplementasikan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran PAI di SMA N 1 Piyungan Bantul Yogyakarta”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2017.

(29)

3. Skripsi karya Astri Mandona, tahun 2016, judul “Interaksi Edukatif Guru dengan Peserta Didik dalam Pembelajaran Quran Hadits Guna Meningkatkan Motivasi Belajar di MTs Negeri 2 Surabaya”.17 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. UIN Sunan Ampel Surabaya Tahun 2016. Skripsi Saudari Astri menjelaskan bahwa interaksi edukatif yang dilakukan guru Quran Hadits dalam proses pembelajaran di dalam kelas berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik. Peningkatan motivasi belajar peserta didik disampaijkan dengan interaksi edukatif yang dilakukan dengan berbagai pola komunikasi. Interaksi edukatif yang dilakukan membentuk perubahan diri peserta didik setelah melakukan belajar. Adapun persamaan penelitian ini adalah membahas mengenai interaksi edukatif. Sedangkan perbedaanya pada penelitian peneliti, interaksi edukatif yang dilakukan dilihat dari guru mata pelajaran Qur‟an Hadist sedangkan penelitian ini pada interaksi edukatif guru mata pelarajan Pendidikan Agama Islam.

4. Skripsi karya Jumriah, tahun 2020, judul “Interaksi Edukatif Pendidik dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik di SD N Cedrawasih 1 Kota Makassar.”18 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Makassar Tahun 2020. Pada skripsi yang ditulis saudari Jumriah pengimplementasian pendidikan karakter

17 Astri Mandona,“Interaksi Edukatif Guru Dengan Peserta didik Dalam Pembelajaran Quran Hadits Guna Meningkatkan Motivasi Belajar Di Mts Negeri 2 Surabaya”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Ampel Surabaya, 2016.

18 Jumriah, “Interaksi Edukatif Pendidik dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik di SD N Cedrawasih 1 Kota Makassar”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2020.

(30)

dalam pembelajaran PAI dilakukan dengan berbagai metode. Peran guru dalam pembentukan akhlak peserta didik sangat penting, tanpa adanya guru maka proses pembentukan akhlak peserta didik sulit dikembangkan apalagi pembelajaran PAI merupakan basik dari pembentukan akhlak.

Faktor pendukung dalam pengimplementasian pendidikan karakter ialah guru dan lingkungan. Persamaan penelitian ini pada metode penelitian kualitatif yang di pakai peneliti. Adapun perbedaanya, skripsi peneliti mengarah pada keterlibatan interaksi yang dilakukan guru PAI dalam pembentukan akhlak peserta didik. Perbedaannya pada skripsi ini pada guru PAI dan budi pekerti di SMA Bima Ambulu dalam membentuk karakter peserta didik tidak hanya dalam menyampaikan materi namun juga membimbing, mengarahkan, dan memberikakan teladan, sehingga dapat membantu menumbuhkan perilaku dan akhlak mulia pada diri peserta didik.

5. Skripsi karya Devi Yana Nasution, tahun 2019, judul “Pengaruh Interaksi Edukatif Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas Negeri Rambah.”19 Dalam skripsi saudari Devi ini, mendeskripsikan tentang konsep interaksi edukatif yang dilakukan guru terhadap motivasi belajar peserta didik. Adapun persamaan penelitian ini mengenai interaksi edukatif yang dilakukan oleh guru.

Sedangkan perbedaanya mengenai fokus dan metode penelitian, fokus

19 Devi Yana Nasution, “Pengaruh Interaksi Edukatif Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas Negeri Rambah”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Kasim Riau Pekanbaru, 2019.

(31)

penelitian milik saudari Devi ini mengacu pada motivasi belajar sedangkan penelitian iniberfokus pada hasil belajar dan metode yang digunakan oleh saudari devi ini menggunakan metode penelitian kuantitatif karena ia meneliti tentang pengaruh interaksi sedangkan peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.

Adapun persamaan dan perbedaan dari kelima kajian teori terdahulu tentang penelitian Interaksi Edukatif yang dilakukan kali ini sebagai berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Skripsi Persamaan Perbedaan Orisinalitas Penelitian 1 Skripsi Aisyah

Adawiyah dengan Judul “Interaksi Edukatif Guru Pendidikan Agama Islam Dengan Peserta didik Dalam Proses Pembelajaran Di SMA N I Patuk Gunung Kidul

Sama-sama membahas tentang interaksi edukatif guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Penelitian berfokus pada proses belajar.

Penelitian ini mendeskripsika n tentang konsep interaksi

edukatif yang dilakukan guru PAI dalam proses

pembelajaran dan interaksi edukatif yang diterapkan guru PAI dalam pembelajaran 2 Skripsi Faiz Muhlis

dengan Judul “Upaya

Guru Dalam

Mengimplementasika n Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Piyungan Bantul Yogyakarta”

Sama-sama membahas tentang interaksi edukatif guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan menggunaka

Penelitian berfokus pada Pendidikan karakter peserta didik.

Penelitian ini membahas tentang pentingnya peranan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam

mengajarkan Pendidikan

(32)

No. Skripsi Persamaan Perbedaan Orisinalitas Penelitian n penelitian

kualitatif.

karakter kepada peserta didik di SMA Negeri 1 Piyungan Bantul.

3 Skripsi Astri

Mandona dengan judul “Interaksi Edukatif Guru Dengan Peserta didik Dalam Pembelajaran Quran Hadits Guna Meningkatkan

Motivasi Belajar di Mts Negeri 2 Surabaya

Sama-sama membahas tentang interaksi edukatif guru.

Penelitian ini berfokus pada

motivasi belajar peserta didik serta meneliti guru Qur‟an Hadits.

Penelitian ini membahas tentang interaksi edukatif yang dilakukan guru Quran Hadits dalam proses pembelajaran di dalam kelas berpengaruh terhadap

motivasi belajar peserta didik di Mts Negeri 2 Surabaya.

4 Skripsi Jumriah,

dengan judul

Interaksi Edukatif Pendidik dalam Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik di SD N Cedrawasih 1 Kota Makassar.

Sama-sama membahas tentang interaksi edukatif pendidik.

Penelitian ini berfokus pada

pembentuk an akhlak peserta didik serta.

Penelitian ini membahas tentang interaksi edukatif yang dilakukan pendidik dalam upaya

pembentukan akhlak peserta didik di SD N Cedrawasih 1 Kota Makassar.

5 Skripsi Devi Yana Nasution, dengan judul “Pengaruh Interaksi Edukatif Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Ekonomi di

Sama-sama membahas tentang interaksi edukatif pendidik.

Penelitian ini berfokus pada

motivasi belajar peserta didik dan

menggunaka

Penelitian ini membahas tentang pengaruh interaksi edukatif yang terjadi didalam kelas XI SMAN

(33)

No. Skripsi Persamaan Perbedaan Orisinalitas Penelitian Sekolah Menengah

Atas Negeri Rambah.

n penelitian kuantitatif

Rambah pada motivasi belajar peserta didik mata pelajaran ekonomi.

Dari kelima paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pola interaksi edukatif guru mata pelajaran PAI dan budi pekerti sangatlah di perlukan di dalam proses belajar menagajar, karena dalam proses belajar menagajar tidak bisa di pisahkan dari adanya interaksi, komunikasi, atau hubungan antara dua orang atau lebih.

B. Kajian Teori

1. Interaksi Edukatif

a. Pengertian Interaksi Edukatif

Istilah interaksi pada umumnya adalah suatu hubungan timbal balik (feed back) antara individu yang satu dengan individu yang lainnya yang terjadi pada lingkungan masyarakat atau selain lingkungan masyarakat. Diperjelas oleh beberapa tokoh pendidikan antara lain.

Menurut Sardiman Pengertian interaksi edukatif dalam pengajaran adalah proses interaksi yang disengaja, sadar akan tujuan, yakni untuk mengantarkan anak didik ketingkat kedewasaannya. 20 Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah interaksi edukatif adalah interaksi dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan

20 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 15

(34)

perbuatan seseorang dalam dunia pendidikan.21

Dari teori ahli tersebut, dapat kita ketahui bahwa pengertian interaksi edukatif guru dengan peserta didik adalah proses hubungan timbal balik (feed back) yang sifatnya komunikatif, memiliki tujuan yang baik dalam hal pendidikan, yang dapat mengantarkan anak didik kepada tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Interaksi edukatif harus ada dua unsur utama yaitu antara guru dan peserta didik, oleh sebab itu diperlukan seorang guru dan peserta didik yang mampu menciptakan interaksi edukatif yang kondusif agar tercipta keadaan kelas sesuai dengan yang diharapkan. Dalam interaksi edukatif juga dibutuhkan timbal balik antara peserta didik dengan guru.

Dalam interaksi edukatif harus ada dua unsur yang hadir dalam situasi yang disengaja, yaitu guru dan peserta didik. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan. Oleh sebab itu diperlukan guru dan peserta didik yang mampu menciptakan interaksi edukatif yang kondusif agar nantinya dapat membantu peserta didik memiliki karakter dan akhlak yang baik serta untuk menciptakan keadaan kelas sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu, interaksi edukatif ialah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan peserta didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.22

Interaksi edukatif berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan

21 Djamarah Bahri Syaiful, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2000), 11

22 Ahmadi Abu dan Syuhadi, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2018), 47.

(35)

pendidikan dan pengajaran. Dalam bidang pengajaran dikenal dengan istilah interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar-mengajar ialah kegiatan interaksi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar dengan warga belajar (peserta didik/subjek belajar) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar. Interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan peserta didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan.23 selain itu, juga ada interaksi dengan hal-hal yang bersifat benda, seperti media, alat dan lain-lain. Karena pegajaran merupakan suatu sistem, maka memiliki komponen-komponen yang berinterelasi dan berinteraksi antara satu dan yang lainnya dan keseluruhan untuk mencapai tujuan pengajaran.

Adapun komponen-komponen tersebut meliputi:

1) Tujuan pendidikan dan pengajaran

2) Tenaga kependidikan khususnya pendidik (guru) 3) Peserta didik (peserta didik)

4) Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum 5) Strategi pembelajaran

6) Media pengajaran, dan 7) Evaluasi pengajaran.

Proses pengajaran ditandai oleh adanya interaksi antar komponen satu dengan komponen lainnya. Semua komponen dalam sistem pengajaran saling berhubungan dan saling mempengaruhi untuk

23 Ahmadi Abu dan Syuhadi, Psikologi Belajar, 47.

(36)

mencapai tujuan pengajaran. sehingga proses pengajaran dan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, efisien dan efektif berkat adanya interaksi yang positif, konstruktif, dan produktif antara berbagai komponen dalam sistem pengajaran tersebut.24

2. Pola Interaksi Edukatif

Ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi edukatif bersifat dinamis antara guru dan peserta didik sebagai berikut:25

a. Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah, dalam komunikasi ini guru berperan sebagai pemberi aksi dalam artian guru hanya menyampaikan materi dan peserta didik sebagai penerima aksi sedangkan peserta didik hanya menerima materi, guru aktif peserta didik pasif, komunikasi ini kurang banyak menghidupkan dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Gambar 2.1 Komunikasi Satu Arah Keterangan : G : Guru & S : Peserta Didik

b. Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah. Pada komunikasi ini guru dan peserta didik berperan sama-sama, yakni

24 Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), 77

25 Sudjana Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar ( Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014), 25

G

(37)

pemberi aksi dan penerima aksi, keduanya dapat saling memberi dan saling menerima.

.

Gambar 2.2 Komunikasi Dua Arah Keterangan : G : Guru & S : Peserta Didik

c. Komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi, dalam komunikasi ini hanya melibatkan interaksi antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya, proses belajar mengajar dengan pola komunikasi ini mengarah kepada proses pengajaran yang mengembangkan kegiatan peserta didik yang optimal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar sebagai berikut:

Gambar 2.3 Komunikasi Tiga Arah Keterangan : G : Guru & S : Peserta Didik

Ketiga pola komunikasi tersebut memberikan warna dan bentuk yang berbeda satu sama lain dalam proses pengajaran. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan komunikasi tersebut. Faktor tersebut adalah tujuan yang akan dicapai, sifat bahan pelajaran, sumber belajar yang tersedia, karakteristik peserta didik dan

G G

(38)

kelas, dan kemampuan guru.

Menurut Sardiman ciri-ciri dalam proses edukatif antara lain:

a. Ada tujuan tang ingin dicapai

b. Ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi c. Ada pelajaran yang aktif menjadi isi interaksi d. Ada guru yang melaksanakan

e. Ada metode untuk mencapai tujuan

f. Ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik

g. Ada penilaian terhadap hasil interaksi26

Pelaksanaan kegiatan belajar di kelas merupakan rangkaian kegiatan komunikasi baik itu antar guru dengan peserta didik maupun antar peserta didik dengan peserta didik. Interaksi edukatif tersebut mengandung beberapa komponen penunjang dimana apabila tidak terdapat komponen tersebut maka tidak bisa disebut sebagai interaksi edukatif.

Menurut Djamarah sebagai suatu system tentu saja kegiatan belajar- mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi.27

a. Tujuan

Dalam pelaksanaan kegiatan interaksi edukatif pada dasarnya tidak bisa dilakukan dengan mudah diluar kesadaran kita dan tanpa rencana apapun. Suatu interaksi edukatif harus memiliki rencana sebagai acuan untuk mencapai suatu tujuan. Adapun tujuan

26 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 13

27 Djamarah Bahri Syaiful, Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta, 2014), 41

(39)

pembelajaran terhimpun sebuah norma yang akan ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan yang diberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung.

b. Kegiatan Belajar Mengajar

Pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan inti kegiatan pendidikan, yang mana segala sesuatu yang diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar, semua komponen akan diproses didalamnya, dari semua proses di dalamnya yang paling inti adalah manusiawi. Dalam hal ini, guru dan peserta didik melaksanakan kegiatan dengan tugas dan tanggung jawab kebersamaan.

c. Adanya Bahan Pengajaran

Bahan pengajaran merupakan materi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar dan terjalin dalam sebuah interaksi edukatif, apabila bahan pengajaran tidak ada, maka proses interaksi edukatif tidak akan berjalan dengan baik. Oleh sebab itu, guru yang akan melaksanakan pengajaran harus mempelajari bahan pengajaran dengan baik.

d. Adanya alat, metode, dan evaluasi

Alat merupakan segala sesuatu yang dapat dipergunakan dalam rangka menjcapai tujuan pembelajaran, disamping sebagai pelengkap juga dapat membantu dan mempermudah dalam mencapai tujuan interaksi edukatif. Metode merupakan suatu cara yang digunakan guna

(40)

mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sehingga dalam setiap kegiatan belajar mengajar metode sangat diperlukan oleh guru untuk kepentingan pembelajaran, dalam menjalankan tugasnya guru jarang sekali menggunakan satu metode tetapi kebanyakan guru menggunakan lebih dari satu metode sebab setiap karakteristik metode mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga dengan demikian menuntut para guru untuk memakai metode yang bervariasi. Dengan demikian tujuan evaluasi adalah untuk menyimpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan sehingga memungkinkan guru menilai aktifitas suatu pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang dipergunakan. Dari komponen yang ada dalam interaksi edukatif muncul indikator yang menjadi tolak ukur dalam penelitian ini.

e. Indikator Pola Interaksi Edukatif

Indikator yang digunakan sebagai tolak ukur keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar yaitu:

1) Daya serap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.

2) Perilaku (aspek afektif) maupun ketrampilan (aspek psikomotorik) yang telah dicapai oleh anak didik baik secara individual maupun kelompok.28

28 Sudjana Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar ( Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2014), 25.

(41)

f. Prinsip-prinsip Pola Interaksi Edukatif

Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus diketahui oleh pendidik dalam meningkatkan pola interaksi edukatif, antara lain:

1) Prinsip motivasi

Motivasi peserta didik untuk menerima pelajaran tentu berbeda-beda, ada peserta didik yang memiliki motivasi yang tinggi, sedang, dan ada yang bahkan tidak termotivasi untuk menerima pelajaran.

2) Prinsip berangkat dari pesrsepsi yang dimiliki

Setiap peserta didik yang hadir di kelas memiliki latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbeda.

3) Prinsip Keterpaduan

Keterpaduan dalam pembahasan ini akan membantu peserta didik dalam perolehan belajar dalam pola interaksi edukatif.

4) Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi

Dalam pola interaksi edukatif, pendidik perlu menciptakan suatu masalah untuk dipecahkan oleh peserta didik.

5) Prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan sendiri

Dalam hal ini pendidik tidak perlu memberikan banyakinformasi, sehingga peserta didik dapat mencari dan menemukan sendiri informasi ilmu pengetahuan yang dicarinya dari berbagai sumber informasi.

(42)

6) Prinsip belajar sambil bekerja

Belajar sambil melakukan aktifitas lebih banyak mendapatkan kesan bagi peserta didik, sebab kesan yang didapatkan dapat tersimpan lama dibenak peserta didik.

7) Prinsip hubungan sosial

Belajar bersama merupakan salah satu cara untuk menggairahkan peserta didik dalam menerima pelajaran. Sehingga peserta didik terbiasa bekerjasama dengan orang lain serta belajar menghargai pendapat orang lain.

8) Prinsip perbedaan individu

Kegagalan pendidik menuntaskan penguasaan peserta didiik terhadap bahan pelajaran yang diberikan, salah satunya disebabkan karena pendidik gagal memahami sifat peserta didik secara individual.29

3. Hakikat Belajar a. Pengertian Belajar

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Menurut Hamzah belajar adalah pemerolehan pengalaman baru oleh seseorang dalam bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap, sebagai akibat adanya proses dalam bentuk interaksi belajar terhadap suatu objek (pengetahuan), atau melalui suatu penguatan (reinforcement) dalam bentuk pengalaman

29 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2008), 64.

(43)

terhadap suatu objek yang ada dalam lingkup belajar.30

Menurut Rifaa‟i dan Anni belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang, belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi seseorang. Oleh karena itu dengan menguasai konsep dasar tentang belajar, seseorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis.31

Menurut Sardiman belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya, perubahan yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahua, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri.32

Sedangkan Khodijah mendefinisikan belajar sebagai empat pokok penting yaitu: (1) belajar adalah sebuah proses yang memungkinkan seseorang memperoleh dan membentuk kompetensi, keterampilan, dan sikap yang baru; (2) proses belajar melibatkan proses-proses mental internal yang terjadi berdasarkan latihan, pengalaman dan interaksi sosial; (3) hasil belajar ditunjukkan oleh

30 Uno Hamzah, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidika (Jakarta:

Bumi Aksara, 2011), 15

31 Rifa‟i Achmad dan Tri Anni Catharina, Psikologi Pendidikan (Semarang: Pusat Pengembangan MKU & MKDK LP3 Unnes, 2012), 66

32 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 20

(44)

terjadinya perubahanperilaku (baik aktual maupun potensial); dan (4) perubahan yang dihasilkan dari belajar bersifat relatif permanen.33

Berdasarkan penjelasan tersebut, belajar merupakan proses yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh pengetahuan baru sehingga memungkinkan terjadi perubahan pada individu tersebut baik dalam berpikir maupun bertingkah laku. Perubahan-perubahan individu dalam proses belajar dapat berupa yang sebelumnya belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, maupun perubahan dalam hal yang lain. Bisa dikatakan proses belajar mempunyai tujuan yang ingin dicapai.

1) Tujuan Belajar

Tujuan belajar memegang peranan penting dalam proses pembelajaran dan merupakan tolak ukur dalam pencapaian keberhasilan pembelajaran itu sendiri. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

33 Khodijah Nyanyu, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 50

(45)

menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.34 Gagne dan Briggs (dalam Rifa‟i dan Anni) memaknai tujuan belajar atau peserta didikan ke dalam tujuan kinerja (permormance objectives) dan mengklasifikasikan tujuan belajar atau tujuan peserta didikan ke dalam lima kategori, yaitu: (1) kemahiran intelektual (Intelectual Skills); (2) strategi kognitif (cognitif strategies); (3) informasi verbal (verbal information); (4) kemahiran motorik (motor skill); dan (5) sikap (attitudes).35

Menurut Sardiman terdapat tiga jenis tujuan belajar, yaitu:36 a) Untuk mendapatkan pengetahuan, yang ditandai dengan

kemampuan berfikir.

b) Penanaman konsep dan keterampilan, penanaman konsep atau merumuskan konsep juga memerlukan suatu keterampilan.

c) Pembentukan sikap, pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik, tidak akan lepas dari soal penanaman nilai-nilai, transfer of values.

Berdasar pada pendapat para ahli di atas, maka dapat dikatakan bahwa tujuan belajar adalah deskripsi perubahan tingkah laku dari suatu pembelajaran, yang terbagi menjadi tujuan instruksioanal dan tujuan-tujuan lain yang lebih luas untuk diusahakan tercapai dengan kemampuan berpikir kritis dan kreatif,

34 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pasal 3 Ayat 1, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 1

35 Rifa‟i Achmad dan Tri Anni Catharina, Psikologi Pendidikan (Semarang: Pusat Pengembangan MKU & MKDK LP3 Unnes, 2012), 74

36 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 26

(46)

sikap terbuka dan demokratis, serta menerima pendapat orang lain.

Untuk mencapai tujuan belajar itu diperlukan beberapa unsur yang terkait didalamnya agar proses belajar tersebut dapat berjalan dengan baik. Unsur belajar juga berperan penting dalam kegiatan belajar.

2) Unsur-unsur Belajar

Belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling kait mengait sehingga menghasilkan perubahan perilaku. Rifai menyatakan bahwa beberapa unsur belajar adalah sebagai berikut:37

a) Peserta Didik

Istilah peserta didik dapat diartikan sebagai peserta didik, warga belajar, dan peserta pelatihan yang sedang melakukan kegiatan belajar. Peserta didik memiliki organ penginderaan yang digunakan untuk menangkap rangsanga; otak yang digunakan untuk mentransformasikan hasil penginderaan ke dalam memori yang kompleks; dan syaraf atau otot yang digunakan untuk menampilkan kinerja yang menunjukkan apa yang telah dipelajari. Dalam proses belajar, rangsangan (stimulus) yang diterima oleh peserta didik diorganisisr di dalam syaraf, dan ada beberapa rangsangan yang disimpan di dalam memori.

Kemudian memori tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan

37 Rifa‟i Achmad dan Tri Anni Catharina, Psikologi Pendidikan (Semarang: Pusat Pengembangan MKU & MKDK LP3 Unnes, 2012), 68

(47)

yang dapat diamati seperti gerakan syaraf atau otot dalam merespon stimulus.

b) Rangsangan

Peristiwa yang merangsang penginderaan peserta didik disebut stimulus. Banyak stimulus yang berada di lingkungan seseorang. Suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dan orang adalah stimulus yang selalu berada di lingkungan seseorang. Agar peserta didik mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diamati.

c) Memori

Memori yang ada pada peserta didik berisi pelbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari kegiatan belajar sebelumnya.

d) Respon

Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori disebut respon. Peserta didik yang sedang mengamati stimulus akan mendorong me

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ..................................................................
Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Komunikasi Satu Arah  Keterangan : G : Guru & S : Peserta Didik
Gambar 2.2 Komunikasi Dua Arah  Keterangan : G : Guru & S : Peserta Didik
+5

Referensi

Dokumen terkait