i
PENGARUH DIGITALISASI TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU INTERAKSI SOSIAL INDIVIDUALISME MAHASISWA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS
TEKNIK UNIVERSITAS SILIWANGI KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Wajib Kurikulum
Disusun Oleh : KELAS A KELOMPOK 3
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SILIWANGI
Erlinda Roesgianto 237011020
Fakhri Ramadhan 237011030
Hasbi Rais Adillah 237011117 Raffi Fachrezi Munawar 237011070 Rifki Ramdhan Permana 237011106 Shandika Pratama Putra 237011118
Tresna Diva Yuda 237011019
ii
LEMBAR PENGESAHAN KARYA TULIS ILMIAH
Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Siliwangi Tahun 2023/2024
Telah disetujui di Tasikmalaya pada hari Kamis, tanggal 23 November 2023
Mengesahkan,
Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum
Nita Nurhayati S.Pd., M.Hum.
NIDN. 0018038904
iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Kami menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang kami tulis ini merupakan murni, tidak mengandung plagiarisme dan tidak memuat karya atau bagian orang lain. Kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar Pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Tasikmalaya, 23 November 2023
Penulis
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa kami panjatkan, karena atas berkat dan rahmatnya, sehingga kami kelompok 3 Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini tepat waktu, karya tulis ilmiah ini berjudul “Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi” Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas sebagai selayang pandang Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi Tahun Ajaran 2023/2024.
Tidak lupa juga, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini. Di antaranya:
1. Nita Nurhayati, S.Pd., M.Hum selaku Dosen Pembimbing Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi
2. Seluruh anggota kelompok 3 Proyek MKWK Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi
3. Seluruh Mahasiswa Fakultas Teknik Angkatan 2023 sebagai sasaran penelitian awal proyek MKWK Fakultas Teknik Universitas Siliwangi Selaku penyusun, kami menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna perbaikan dan pengembangan lebih lanjut dimasa yang akan datang. Kami berharap, semoga makalah yang kami susun ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Tasikmalaya, 23 November 2023 Penyusun
v
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penurunan sikap sosial mahasiswa dan munculnya sikap individualis yang disebabkan oleh pengaruh digital.
Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Teknik Sipil dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh dan dampak digitalisasi dalam pola interaksi mahasiswa di lingkungan kampus.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan sifat individualis mahasiswa yang semakin melekat sejak adanya peningkatan dalam bidang teknologi (digitalisasi).
Penelitian ini merupakan penelitian peninjauan (analyst). Penelitian dilakukan terhadap penurunan sikap sosialis dan peningkatan sikap individualis yang cenderung membentuk mahasiswa Universitas Siliwangi Fakultas Teknik Teknik Sipil kurang peduli terhadap komponen-komponen yang ada di lingkungan sekitar. Instrumen dalam penelitian ini adalah perspektif dari berbagai sudut pandang yang terkait dengan perubahan sikap yang signifikan pada mahasiswa.
Analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dan kualitatif dengan persentase terhadap skor hasil pengisian angket dan hasil wawancara para mahasiswa terhadap pertanyaan yang diajukan terkait penelitian yang dilakukan.
Hasil penelitian yang didapatkan adalah terbukti bahwa digitalisasi secara tidak langsung membentuk karakter mahasiswa menjadi individualis, khususnya mahasiswa kelas A Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi.
Kemudian spesifikasi lainnya adalah hal tersebut cenderung memberikan dampak yang sangat negatif karena dapat mengubur jiwa sosialis mahasiswa.
vi
DAFTAR ISI
COVER ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iii
KATA PENGANTAR... iv
ABSTRAK ... v
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
1.5 Ruang Lingkup ... 3
1.6 Hipotesis ... 4
1.7 Batasan Istilah ... 5
1.8 Sistematika Penyajian ... 6
BAB II LANDASAN TEORI ... 7
2.1 Pengertian Individualisme... 7
2.2 Pengertian Digitalisasi ... 8
2.3 Pengertian Pola Interaksi Sosial ... 9
2.4 Pengaruh Digitalisasi terhadap Individualisme ... 9
BAB III METODE PENELITIAN... 11
3.1 Jenis Penelitian ... 11
3.2 Populasi dan Sampel ... 12
3.3 Instrumen Penelitian ... 13
3.4 Waktu dan Tempat Penelitian ... 13
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 14
3.6 Teknik Analisis Data ... 16
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 18
4.1 Pembahasan Hasil Penelitian ... 18
BAB V PENUTUP ... 27
5.1 Kesimpulan ... 27
5.2 Saran ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 29
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, individu, dan berketuhanan. Sebagai makhluk sosial, individu dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi dengan individu lain. Lingkungan dalam hal ini baik lingkungan fisik maupun lingkungan psikis.
Lingkungan fisik, yaitu alam benda-benda yang konkret, sedangkan lingkungan psikis adalah jiwa raga individu-individu dalam lingkungan, ataupun pada lingkungan rohaniah. Di era digitalisasi, perkembangan teknologi berbasis digital semakin cepat dan canggih. Perkembangan yang terjadi berdampak terhadap segala aspek kehidupan manusia, baik dalam segi sosial, ekonomi, budaya maupun pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Kemajuan teknologi menyebabkan sikap individu menjadi semakin individualis dan sikap sosial yang dimiliki individu semakin pudar. Pernyataan ini bisa kita buktikan dimana kita melihat bagaimana para mahasiswa berinteraksi ketika berada di lingkungan kampus atau luar lingkungan kampus.
Individualisme merupakan satu filsafat yang memiliki pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggung jawab dan kebebasan sendiri. Seorang individualis akan melanjutkan pencapaian dan kehendak pribadi.
Mereka menentang intervensi dari masyarakat, negara dan setiap badan atau kelompok atas pilihan pribadi mereka. Oleh itu, individualisme melawan segala pendapat yang menempatkan tujuan suatu kelompok sebagai lebih penting dari seorang individu yang dengan sendiri adalah dasar kepala setiap badan masyarakat.
Banyak orang cenderung egois dan berbuat untuk mendapatkan suatu imbalan (materi). Sikap ini menimbulkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosialnya. Dampaknya bagi remaja akhir-akhir ini
2
terutama di kota-kota besar, remaja menampakkan sikap materialistik, acuh pada lingkungan sekitar dan cenderung mengabaikan norma- norma yang tertanam sejak dulu. Remaja merupakan golongan masyarakat yang mudah kena pengaruh dari luar. Hal ini tampak pada kecenderungan untuk lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain.
Perlu kita ketahui bahwasannya Indonesia terkenal sebagai negara yang masyarakatnya memiliki sikap keramah tamahannya yang mendominasi setiap individunya. Akan tetapi semakin kedepan yang terjadi malah sebaliknya, dimana sikap individualisme mulai menjangkit pada masyarakat-masyarakat dalam bangsa Indonesia.
Keramah tamahan yang merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia mulai tidak didukung oleh individu-individu yang memiliki sikap individualisme.
Oleh karena itu, mengapa kami memilih topik ini sebagai bahan yang akan kami transformasikan sebagai output yang memiliki nilai esensial di kalangan mahasiswa, karena dampak digitalisasi salah satunya yaitu tumbuhnya sikap individualisme. Dimana jika kita tidak memberi pemahaman mengenai sikap individualisme ini maka kami rasa akan semakin banyak orang-orang terutama anak muda yang terjangkit dan memilih bersikap individualis. Maka dari itu, disini kami ingin membahas mengenai dampak negatif dari digitalisasi sehingga memunculkan sifat individualis.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dijadikan fokus dalam penelitian kali ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana Individualisme bisa tertanam pada pola perilaku mahasiswa?
2. Bagaimana mengoptimalkan pengaruh digitalisasi dalam membentuk mahasiswa untuk berinteraksi sosial?
3 1.3 Tujuan Penelitian
Untuk memperjelas arah penelitian dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui individualisme bisa tertanam pada pola pikir mahasiswa
2. Untuk mengoptimalkan pengaruh digitalisasi dalam membentuk mahasiswa untuk berinteraksi sosial.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian, diharapkan dapat memberi manfaat bagi:
1. Bagi Penyusun
Karya Ilmiah ini bisa digunakan untuk menambah wawasan tentang Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi serta sebagai bahan literasi dalam pembelajaran, pengetahuan tentang pembuatan karya tulis ilmiah maupun sebagai bahan menambah pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan.
2. Bagi Pembaca
Menambah ilmu pengetahuan mengenai Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi, sehingga mahasiswa mampu mengetahui tentang perilaku individualisme.
1.5 Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini, permasalahan yang diangkat perlu dibatasi agar masalah mengerucut pada satu isu yang dibahas dan meminimalisir adanya perluasan masalah. Adapun pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Subjek dari penelitian ini adalah kelas A Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi yang merupakan remaja pengguna teknologi.
4
2. Objek penelitian ini adalah meningkatnya sifat individualisme mahasiswa yang dipengaruhi oleh semakin berkembangnya teknologi (digitalisasi).
3. Pengambilan data dilakukan dengan metode kuantitatif berupa pengisian angket dan dengan metode kualitatif berupa wawancara terkait pengaruh digitalisasi dalam pola interaksi sosial membentuk karakter mahasiswa yang individualis
4. Parameter penelitiannya terdiri dari:
1. Perubahan karakter dan kebiasaan mahasiswa menjadi individualis secara signifikan dipengaruhi oleh kemajuan bidang teknologi yaitu digitalisasi
2. Dampak dari sikap individualisme mahasiswa terhadap lingkungan sekitarnya
3. Terkikisnya perilaku atau norma sosial dalam kehidupan di kampus.
1.6 Hipotesis
Salah satu ciri dari penelitian pengaruh digitalisasi dalam pola interaksi sosial membentuk mahasiswa yang individualis di kelas kelas A Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi hipotesis ini menjadi pengendali bagi semua kegiatan penelitian, mulai dari pemilihan sampel, penyiapan instrumen, pengolahan data, hingga statistik agar mengarah pada pengujian hipotesis yang dikeluarkan.
Hipotesis yang baik memiliki rumusan yang mudah dipahami serta memuat paling tidak, variabel-variabel permasalahan. Apakah variable- variabel itu dihubungkan, diperbandingkan, ataukah diuji ke berpengaruhnya. Rumusan hipotesis pun hendaknya memiliki nilai prediktif, (mengandung dugaan yang sesuai dengan kajian literatur), bersifat konsisten (maksudnya jika ada penelitian yang sejenis sebelumnya, penelitian tersebut tidak bertentangan). Selain itu hipotesis haruslah dapat diuji, setidaknya dengan menggunakan statistik inferensial.
5
Penarikan kesimpulan yang berakhir pada penerimaan atau penolakan hipotesis diawali oleh pengujian hipotesis. Jadi, hasil akhirnya adalah dua pilihan berupa diterima atau ditolaknya suatu hipotesis (H) didampingi pernyataan lain yang berlawanan, sehingga diperoleh hipotesis Nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha) seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Pengujian hipotesis yang dibahas disini hanyalah pengujian terhadap hipotesis yang mengandung pengertian sama (tidak berbeda), selanjutnya disebut hipotesis nol (H0), dan hipotesis yang mengandung pengertian berbeda (lebih dari atau kurang dari) selanjutnya disebut hipotesis Alternatif (Ha).
H0: Tidak ada dampak Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi
H1: Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi.
1.7 Batasan Istilah
a. Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang/benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Dalam penelitian ini kata pengaruh lebih dimaksudkan pada bagaimana digitalisasi dapat mempengaruhi pola interaksi sehingga menyebabkan sikap individualis pada mahasiswa.
b. Digitalisasi adalah proses perubahan yang terjadi pada teknologi bersifat analog ke teknologi bersifat digital. Digitalisasi pada penelitian ini lebih spesifik terhadap handphone (gadget) yang menjadi alat komunikasi sehari-hari.
c. Pola interaksi sosial adalah proses jalinan interaksi yang terjadi di antara individu dan individu, individu dan kelompok, atau kelompok dan kelompok yang bersifat dinamis dan memiliki pola tertentu.
d. Individualisme adalah tradisi, ideologi, atau pandangan pribadi yang menekankan keutamaan individu dan haknya (Forsyth (2006),
6
dalam bukunya Group Dynamics). Individualisme pada penelitian ini cenderung disebabkan oleh pengaruh digital.
1.8 Sistematika Penyajian
Karya tulis ilmiah ini terdiri dari lima bab, masing-masing bab memiliki peranan penting untuk membantu pembaca memahami lebih jauh terkait konteks permasalahan yang akan dibahas.
Bab pertama adalah pendahuluan, bab ini berfungsi untuk mengarahkan pembaca terkait permasalahan yang akan dibahas. Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah dan sistematika penyajian.
Setelah pikiran pembaca diarahkan pada permasalahan yang dibahas, pembaca dapat mengkaji tentang kajian teori yang menjadi dasar dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Berbagai teori tersebut terdapat pada bab dua yang terdiri dari penelitian yang relevan, kerangka teori, pengertian individualisme, pengertian digitalisasi, pengertian pola interaksi, pengaruh digitalisasi terhadap individualisme, dan hipotesis.
Setelah membaca beberapa teori pada bab dua, pembaca dapat mengetahui metode yang dilakukan peneliti pada bab tiga. Bab ini disebut sebagai Metodologi yang terdiri dari jenis penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, waktu dan tempat penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
Berikutnya, pada bab empat pembaca dapat mengetahui data hasil penelitian dan pembahasannya, bab ini disebut dengan hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari deskripsi data hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
Dari data hasil penelitian yang dibahas pembaca dapat mengetahui kesimpulan dari keseluruhan dan juga saran pada bab lima.
7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Individualisme
Hofside (1985) dalam Hong (2012), merupakan orang yang pertama dalam mengemukakan tentang dimensi-dimensi budaya individualisme.
Dia mendeskripsikan bahwa individualisme merupakan preferensi dalam kerangka sosial di masyarakat, yang mana individu seharusnya mengurus dirinya sendiri. Menurut Luthans (2006), individualisme merupakan kecenderungan untuk mementingkan kepentingan diri sendiri dan keluarga dekatnya.
Hal yang hampir serupa yang dikemukakan oleh Greenberg dan Baron (2003), yang menjelaskan bahwa ”Individualistic cultures is National groups whose members place a high value on individual accomplishments and personal success. Collectivistic culture, National group whose members place a high value on shared responsibility and the collective good of all”. (Dimensi Individualisme merupakan kelompok nasional yang dimana anggotanya lebih menempatkan nilai yang tinggi pada pencapaian individu dan keberhasilan personal. Pada negara yang menganut dimensi individualisme seperti Amerika, orang- orang lebih baik melakukan semuanya sendiri daripada bergabung dalam kelompok (Greenberg, 1996).
Berbeda dari pemahaman yang diatas, menurut Rollinson dan Broadfield (2002), “in individualistic culture, a person identity is derived from his or her sense of uniqueness, and individual initiative and achievement are highly prized. Contrast collectivist cultures are characterized by much tighter social frameworks and the aim of most people is to be a good group member”. Budaya individualisme merupakan identitas personal yang berasal dari keunikannya entah dia laki-laki atau perempuan, yang mana individu tersebut memiliki inisiatif dan pencapaian yang tinggi.
8
Dari beberapa pendapat para ahli dan peneliti diatas, maka dapat disimpulkan bahwa individualisme adalah budaya yang dianut oleh individu sebagai cara dalam memaksimalkan hasil dan tujuan demi meraih kesuksesan dibandingkan dengan kepentingan kelompok.
2.2 Pengertian Digitalisasi
Digitalisasi merupakan proses konversi dari analog ke digital dengan menggunakan teknologi dan data digital dengan sistem pengoprasian otomatis dan sistem terkomputerisasi.
Menurut Asaniyah (2017) definisi digitalisasi yaitu, “suatu proses dalam pergantian media dari bentuk cetak ke dalam bentuk elektronik”.
Selaras dengan pendapat Marilyn Deegan dalam Mustofa (2018) yang mengatakan bahwa “digitalisasi merupakan proses pengkonversian dari semua bentuk penyajian dokumen cetak atau lainnya ke penyajian dalam bentuk digital”. Dalam hal ini semua dokumen termasuk audio, video dan lainnya ke dalam bentuk digital untuk meminimalisir risiko.
Menurut Siregar (2019) “digitalisasi merupakan proses perubahan sifat dari yang semula dalam bentuk fisik dan analog berubah menjadi bentuk virtual dan digital”. Seperti misalnya, dalam beberapa tahun belakangan ini, apa pun sesuatunya seperti dari musik, film, bahkan lagu saat ini tersedia dalam format digital. Digitalisasi bukan berarti menggantikan kedudukan dokumen asli, melainkan beradaptasi terhadap kemajuan teknologi. Disamping itu pun tetap terus menjaga dan menyimpan keaslian dokumen asli sebagai arsip.
Definisi digitalisasi dari beberapa ahli, seperti menurut Sukmana, digitalisasi yaitu proses pengalihan media dari semula berbentuk cetak berupa video ataupun audio berganti ke dalam bentuk digital. Hal ini dilakukan agar tercipta suatu arsip dokumen dalam bentuk digital yang membutuhkan alat pendukung dalam memprosesnya seperti perangkat keras komputer, scanner, serta software lain yang mendukung.
Sependapat dengan Lasa, yang mengatakan bahwa “digitalisasi merupakan proses pengelolaan dokumen tercetak/printed document beralih menjadi dokumen elektronik”. Sementara itu menurut Brennen
9
dan Kreiss, “Digitalisasi merupakan peningkatan akan ketersediaan data digital akibat adanya kemajuan teknologi dalam hal menciptakan, mentransfer, melakukan penyimpanan, melakukan analisis data digital, serta berpotensi untuk menyusun, membentuk, hingga mempengaruhi dunia kontemporer”.
Jadi dari uraian definisi digitalisasi di atas, dapat disimpulkan bahwa digitalisasi merupakan pergantian media dari konvensional menjadi bentuk digital, dengan melalui proses pengolahan dokumen untuk bisa menjadi data digital dengan cara melakukan scan dokumen terlebih dahulu untuk kemudian dilakukan penyimpanan pada folder yang tersedia dalam PC/Komputer.
2.3 Pengertian Pola Interaksi Sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola adalah gambar yang dibuat contoh/model ataupun bentuk (struktur) yang tetap. Jika dihubungkan dengan interaksi, maka pola interaksi adalah bentuk bentuk dalam proses terjadinya interaksi. Apabila dua orang bertemu maka interaksi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara bahkan mungkin berkelahi.
2.4 Pengaruh Digitalisasi terhadap Individualisme
Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi (digitalisasi). Pengaruh digitalisasi, sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi karena banyaknya kemajuan teknologi yang masuk kedalam negara dan bangsa kita. Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai - nilai yang ada di masyarakat.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer,
10
internet, e-mail dan lain sebagainya. Interaksi antar mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka dan juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Smartphone dengan internet sebagai salah satu teknologi yang tidak dapat kita ragukan kecanggihannya, saat ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja.
Akibatnya mahasiswa cenderung acuh terhadap lingkungan di sekitarnya, terutama dalam hal komunikasi. Dapat kita lihat betapa kemajuan teknologi telah mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir remaja. Mereka banyak berinteraksi dengan teknologi seperti gadget ataupun internet. Dan juga secara pengaruh, merekalah yang paling rentan terkena pengaruh/dampak negatif dari teknologi tersebut salah satunya yaitu individualisme.
11
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merujuk pada pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memahami data dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian atau mencapai tujuan penelitian tertentu.
Metode penelitian melibatkan langkah-langkah yang terorganisir secara logis dan terstruktur untuk menghasilkan informasi yang dapat diandalkan dan bermanfaat. Selain itu, metodologi penelitian bisa juga diperoleh melalui media elektronik seperti televisi atau radio. Bahkan sumber data bisa juga diperoleh dari survei atau wawancara. Untuk penelitian ini kami menggunakan penelitian kuantitatif.
3.1 Jenis Penelitian
Metode ialah teknik atau cara pengumpulan data dalam sebuah penelitian.
Jenis-jenis metode penelitian yaitu:
➢ Deskriptif : Menjelaskan hasil pengamatan secara sistematis, menulis apa yang kita tulis dan yang kita amati.
➢ Historis : Merekonstruksi atau menjelaskan masa lalu.
➢ Experimen : Melakukan suatu percobaan.
➢ Kasus : Meneliti interaksi masalah sosial.
Dalam penelitian ini kami menggunakan metode deskriptif, karena menyusun setelah mengunjungi langsung tempat yang menjadi tujuan pengamatan dan pengumpulan data.
Penyusun mendeskripsikan/menggambarkan data – data hasil penelitian dalam bentuk uraian karya ilmiah. Metode deskriptif adalah suatu cara untuk memecahkan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan objek dalam penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya.
Penelitian ini digolongkan ke dalam jenis kuantitatif dan kuantitatif karena menggunakan populasi dan sampel sebagai subjek penelitian dan rumus analisis. Menurut V. Wiratna Sujarweni (2014:39) penelitian
12
kuantitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Dalam konteks penelitian kuantitatif, V. Wiratna Sujarweni mungkin telah memberikan pandangan atau rekomendasi mengenai metode penelitian yang efektif, desain penelitian yang tepat, penggunaan instrumen pengukuran yang valid, atau analisis statistik yang relevan. Beliau juga mungkin telah membahas kelebihan dan kelemahan penelitian kuantitatif, serta memberikan panduan praktis bagi para peneliti yang tertarik menggunakan pendekatan ini.
3.2 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian merupakan merupakan wilayah yang ingin di teliti oleh peneliti. Seperti menurut Sugiyono (2011: 80) "Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya." Pendapat di atas menjadi salah satu acuan bagi penulis untuk menentukan populasi. Populasi yang akan digunakan sebagai penelitian adalah mahasiswa Teknik Sipil.
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti oleh peneliti.
Menurut Sugiyono (2011:81) "Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut." Sehingga sampel merupakan bagian dari populasi yang ada, sehingga untuk pengambilan sampel harus menggunakan cara tertentu yang didasarkan oleh pertimbangan-pertimbangan yang ada. Dalam teknik pengambilan sampel ini penulis menggunakan teknik sampling purposive. Sugiyono (2011:84) menjelaskan bahwa: "Sampling Purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu." Dari pengertian diatas agar memudahkan penelitian, penulis menetapkan sifat-sifat dan karakteristik yang digunakan dalam penelitian ini. Sampel yang digunakan oleh peneliti sebanyak 20 Orang mahasiswa Teknik sipil kelas A.
13 3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah penyebaran angket (kuisioner). Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal- hal yang ia ketahui. Kuesioner banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dan penelitian sosial yang menggunakan rancangan survei, karena ada beberapa keuntungan yang diperoleh. Pertama, kuesioner dapat disusun secara teliti dalam situasi yang tenang sehingga pertanyaaan-pertanyaan yang terdapat di dalamnya dapat mengikuti sistematik dari masalah yang diteliti. Kedua, penggunaan kuesioner memungkinkan peneliti menjaring data dari banyak responden dalam periode waktu yang relatif singkat.
Penyusunan instrumen angket atau kuesioner hampir sama dengan penyusunan inventori. Bedanya pada langkah kelima, yaitu pelaksanaan uji coba dalam kuesioner bukanlah untuk menguji validitas butir pertanyaan secara statistik, melainkan untuk mengetahui kejelasan petunjuk pengerjaan, kekomunikatifan bahasa yang digunakan, dan jumlah waktu riil yang dibutuhkan untuk menjawab semua pertanyaan secara baik.
3.4 Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan untuk penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal dikeluarkannya izin proposal PJBL dalam kurung waktu lebih 1 (satu) bulan. 1 bulan pengumpulan data dan 1 bulan pengolahan data yang meliputi penyajian dan proses bimbingan berlangsung.
2. Tempat Penelitian
Tempat pelaksanaan penelitian ini ada di lingkungan kampus Fakultas Teknik Universitas Siliwangi, dan objek penelitian adalah mahasiswa Teknik Sipil.
14 3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik atau metode pengumpulan data yang kami lakukan yaitu Metode kuantitatif, metode pengumpulan data dilakukan dengan cara pengisian angket dengan memberikan beberapa pertanyaan yang tersedia di google forms, terkait isu yang penulis angkat.
Teknik pengumpulan data merupakan cara-cara yang dilakukan untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam penelitian. Menurut Komariah (2011) pengumpulan data dalam penelitian ilmiah adalah prosedur sistematis untuk memperoleh data yang diperlukan.
Sedangkan menurut Riduwan (2010) metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data.
Menurut Sugiyono (2017) angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Tipe pertanyaan yang penulis ajukan merupakan tipe pertanyaan tertutup, dimana responden dapat memilih salah satu alternatif jawaban singkat dari setiap pertanyaan yang telah tersedia (multiple choice).
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa teknik pengumpulan data sangat erat hubungannya dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan.
Untuk mengumpulkan data penelitian, penulis menggunakan metode sebagai berikut:
3.5.1 Kuisioner
Tujuan penggunaan kuesioner adalah mendeskripsikan pengaruh Digitalisasi dalam Pola Interaksi Sosial Membentuk Individualisme mahasiswa Teknik Sipil Universitas Siliwangi.
Kuesioner ini dibagikan kepada mahasiswa kemudian peneliti mengawasi mahasiswa dalam mengisi kuesioner agar tidak terjadi kecurangan dan kesalahan dalam memahami pertanyaan dalam kuesioner. Setelah selesai di isi, kuesioner dikumpulkan.
15
Menurut Sugiyono (2017) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Jenis angket (kuesioner) yang penulis gunakan adalah angket tertutup.
Angket tertutup adalah angket yang pertanyaan atau pernyataannya tidak memberi kebebasan kepada responden untuk menjawab sesuai pendapat dan keinginan mereka (Komalasari,2011). Sehingga dengan angket tertutup responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan pendapat atau pilihannya dengan cara member tanda silang tau tanda checklist. Angket (kuesioner) dibagikan atau disebarkan kepada mahasiswa/mahasiswi Teknik sipil kelas A.
Alasan penulis menggunakan bentuk angket tertutup yaitu karena dengan pertanyaan atau pernyataan tertutup akan membantu responden (Mahasiswa/Mahasiswi) untuk menjawab dengan cepat memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan dan juga memudahkan penulis dalam melakukan analisis data terhadap seluruh hasil angket yang telah terkumpul.
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian in menggunakan Kuesioner yaitu daftar pernyataan yang disusun secara tertulis yang bertujuan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban para responden. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Skala likert yang digunakan dalam penelitian ini yaitu minimum skor 2 dan maksimum skor 4, dikarenakan akan diketahui secara pasti jawaban responden, apakah cenderung kepada jawaban yang setuju maupun yang tidak setuju. Sehingga hasil jawaban responden diharapkan lebih relevan, Sugiyono (2014).
16
Tabel 3.5.1 Skala Likert
Alternatif Jawaban Skor
Setuju 4
Tidak setuju 2
3.5.2 Instrumen Penelitian Metode Wawancara
Penerapan teknik kualitatif dilakukan dengan cara wawancara dan observasi dengan alat pengumpulan data seperti soal-soal wawancara dan poin-poin yang akan diamati di lapangan.
Tujuannya untuk mengetahui Pengaruh Digitalisasi Terhadap Perubahan Perilaku Interaksi Sosial Individualisme Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Siliwangi. Narasumber kami yaitu Mahasiswa Teknik Sipil 2023 Fakultas Teknik Universitas Siliwangi, Adapun pertanyaan yang diajukan adalah :
1. Apa yang menjadi penyebab seseorang mempunyai sikap individualisme?
2. Dimana tempat yang menjadikan pola pikir seseorang menjadi individualisme?
3. Kapan seseorang akan terpengaruhi oleh teknologi sehingga seseorang berubah menjadi seseorang yang individualisme?
4. Siapa yang melakukan pola perilaku individualisme?
5. Mengapa individualisme selalu dikaitkan dengan mahasiswa dalam penggunaan teknologi handphone?
6. Bagaimana sudut pandang anda mengenai perilaku individualisme
3.6 Teknik Analisis Data
Dalam analisis ini peneliti memasukkan data-data yang telah terkumpul dalam tabel distribusi frekuensi pada setiap variabel. Data yang terkumpul merupakan hasil jawaban dari responden. Jawaban dalam angket berjumlah
17
2 buah dengan cara memilih salah satu jawaban yang tersedia. Pernyataan atau pertanyaan dalam angket ini terbagi menjadi dua kategori yakni kategori positif dan kategori negatif. Untuk pernyataan atau pertanyaan kategori positif masing-masing jawaban diberi skor sebagai berikut:
1. Alternatif jawaban setuju dengan skor 4 2. Alternatif jawaban tidak setuju dengan skor 2
Sedangkan untuk pernyataan atau pertanyaan kategori negatif masing- masing jawaban diberi skor sebagai berikut:
1. Alternatif jawaban setuju dengan skor 2 2. Alternatif jawaban tidak setuju dengan skor 4
18
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan Hasil Penelitian
Sebelum membahas tuntas hasil penelitian, terlebih dahulu dipaparkan proses pelaksanaan penelitian terkait dengan “Pengaruh digitalisasi terhadap perubahan perilaku interaksi sosial individualisme mahasiswa program studi teknik sipil fakultas teknik”. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner melalui media google form untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai apa yang akan diteliti. Dalam kuesioner tersebut terdapat 8 pernyataan yang kami buat dengan indikator setuju dan tidak setuju. Berikut ini adalah pembahasan tentang hasil penelitian yang dilakukan penulis berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini.
Perkembangan teknologi di zaman sekarang tidak bisa kita hindari, bahkan kita sudah hidup berdampingan dengan teknologi. Peralihan masa analog menjadi elektro merupakan bentuk digitalisasi. Hal ini ditandai dengan adanya handphone dengan internet yang tidak dapat kita ragukan kecanggihannya, saat ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Akibatnya mahasiswa menjadi acuh terhadap lingkungan di sekitarnya, terutama dalam hal komunikasi. Dapat kita lihat betapa kemajuan teknologi telah mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir remaja.
Mereka banyak berinteraksi dengan teknologi seperti gadget ataupun internet. Dan juga secara pengaruh, merekalah yang paling rentan terkena pengaruh/dampak negatif dari teknologi tersebut salah satunya yaitu individualisme.
4.1.1 Metode Penelitian Kuantitatif
1. Ketika sedang berbincang dengan orang lain, cenderung lebih memilih bermain handphone dibandingkan mendengarkan atau menyimak obrolan
19
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 20 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 0 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak setuju Dari hasil survey tersebut dapat terlihat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian 100 % setuju dengan pernyataan yang diberikan bahwasannya mahasiswa lebih senang bermain handphone dibandingkan berinteraksi dengan orang-orang.
2. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, Mahasiswa cenderung merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain
20
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 15 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 5 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak setuju Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian cenderung setuju dengan pernyataan yang diberikan bahwasannya mahasiswa cenderung tidak membutuhkan orang lain, dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
3. Dengan adanya handphone, mereka cenderung tidak peduli terhadap lingkungan sekitar (individualis)
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 6 dari 10 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 14 dari 10 mahasiswa memilih opsi tidak
setuju
Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian cenderung tidak setuju
21
dengan pernyataan yang diberikan bahwasannya dengan adanya handphone, mereka cenderung tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, dan kebanyakan mahasiswa meskipun dengan daya konsumsi handphone yang tinggi, mereka cenderung peduli terhadap lingkungan sekitar.
4. Mahasiswa cenderung merasa lebih senang bermain handphone
daripada berinteraksi dengan orang-orang
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 10 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 10 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak
setuju
Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian cenderung seimbang jawabannya ada yang senang dan tidak bermain handphone jika dibandingkan dengan berinteraksi dengan sekitar.
22
5. Jika bertemu dengan orang yang kurang dikenal (asing), mahasiswa lebih memilih memainkan handphone dibandingkan dengan berkenalan
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 6 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 14 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak
setuju
Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian cenderung seimbang jawabannya cenderung tidak setuju terhadap pernyataan jika bertemu dengan orang yang kurang dikenal, mahasiswa lebih memilih memainkan handphone dibandingkan dengan berkenalan dengan alasan harus berkenalan terlebih dahulu.
6. Apakah pengaruh dari individualisme berasal dari pandemi covid-19 dan pembelajaran via daring
23
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 2 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 18 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak
setuju
Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian cenderung tidak setuju terhadap keterpengaruhan dari individualisme dari masalah pandemi covid-19 dan pembelajaran via daring, dikarenakan masing-masing mahasiswa bisa berkomunikasi pasti dengan rekan rekan mahasiswa, guna memenuhi tugas kelompoknya.
7. Mahasiswa lebih memilih pembelajaran daring daripada
pembelajaran secara langsung dikarenakan takut berinteraksi dengan lingkungan
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 15 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 5 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak setuju
24
Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian cenderung setuju karena adanya ketakutan untuk berinteraksi dengan orang lain solusi mahasiswa lebih memilih pembelajaran daring daripada pembelajaran secara langsung
8. Mahasiswa mengetahui bahwa berinteraksi sosial menggunakan handphone akan terjadi banyak manipulasi terhadap sifat asli dari lawan berbicaranya
Melalui kuesioner yang telah disebar dan diisi oleh responden diperoleh data hasil (persentase) jawaban sebagai berikut:
a. Sebanyak 1 dari 20 mahasiswa memilih opsi setuju b. Sebanyak 19 dari 20 mahasiswa memilih opsi tidak
setuju
Dari hasil survey tersebut dapat bahwa mahasiswa teknik sipil kelas A yang dijadikan sampel penelitian 19 dari 20 tidak setuju bahwa mahasiswa mengetahui bahwa berinteraksi sosial menggunakan handphone akan terjadi banyak manipulasi terhadap sifat asli dari lawan berbicaranya.
25
4.1.2 Metode Penelitian Kualitatif
Tabel Responden Wawancara
No Nama Lengkap NPM Kesimpulan Analisis
1. Davan Syaefanhas M
237011008 faktor lingkungan jadi ketika seseorang itu untuk bergaul dengan lingkungan Mereka cenderung merasa tidak nyaman sehingga mereka lebih memilih untuk berada di rumah ataupun memilih bersifat apatis atau Acuh kepada orang-orang di sekitar seperti itu karena orang yang bersifat individualisme akan lebih memilih untuk bermain di sosial media sehingga kurangnya pergaulan orang relasi membuat dia susah untuk berinteraksi dengan orang
2. Destira Ghaida Hasna
237011005 untuk tempat itu ada beberapa macam versi bisa jadi juga di tempat kampus juga itu bisa menjadi tempat seseorang itu menjadi individualisme. Kenapa pertama itu bisa jadi dia itu lebih mementingkan dirinya sendiri dalam belajar misalnya tanpa ingin teman-teman yang lainnya itu ikut andil dalam proses pertumbuhan terus kemudian dalam pekerjaan tempat kerja juga itu bisa karena semakin banyaknya pekerjaan yang kita kerjakan B tidak peduli terhadap orang lain.
3. Dhya Nazwa 237011028 seseorang yang terpengaruhi oleh teknologi ya Semenjak dia diberi akses untuk mengakses diberi akses untuk apa access untuk memainkan teknologi lah untuk memainkan gadget atau apa karena sejak kita memainkan teknologi sudah kita memainkan gadget itu seperti kita itu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Gitu kan seperti Banyak aplikasi aplikasi untuk mutualan bisanya itu
membuat kita membuat
komunikasi kita sekarang
26
semakin sempit semakin kecil kita untuk berkomunikasi secara langsung itu
4. Muhamad Ilham N 237011046 mungkin di kampus juga bisa ketika dia merasa ingin menjadi Superior menjadi orang nomor satu di kelas ingin mendapatkan nilai terbaik biasa bersama mungkin untuk tidak membantu temannya ketika temannya itu meminta pertolongan minta kalau minta jawaban tidak boleh tapi
meminta cara untuk
menyelesaikan masalah tersebut
menjadi seorang yang
individualisme lebih memilih untuk tidak membantunya tapi ingin menghasilkan suatu cara individu secara sendiri
5. Restu Ramadhan 237011099 kurangnya percaya diri yang kedua pengaruh dari game online yang ketiga pengaruh dari sosial media juga selalu dikaitkan
dengan mahasiswa dalam
penggunaan teknologi handphone menurut saya Minoritas menurut saya sifat individualisme di dalam dunia teknik itu bisa dibilang minoritas, tapi kalau mahasiswa lain itu bisa dibilang mayoritas juga nggak sih ya adalah sebagian gitu yang individualisme ya karena itu yang pertama jadi habit Jadi udah kebiasaan menjadi sosok individualisme jadi susah berbaur dengan orang lain dan juga susah untuk menerima argumen orang lain susah untuk bersama-sama orang lain Jadi menentukan pola pikir sendiri.
27
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Individualisme merupakan sikap yang berbanding terbalik dengan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Dikarenakan pola pikir individualisme ini akan menggantikan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial karena merasa kebutuhannya tercukupi dengan sendirinya.
Digitalisasi menjadi sebuah faktor yang sangat besar terhadap perubahan seseorang menjadi individualisme dikarenakan kepintaran digitalisasi khususnya handphone diatas kepintaran manusia sehingga menggeser kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Perlu diakui handphone mempunyai efek yang besar terhadap pola perilaku manusia karena tingkat penggunaan nya diatas batas wajar sehingga bisa merubah pola perilaku seseorang. Sehingga secara tidak sadar prioritas seseorang menjadi berfokus pada handphone dibandingkan dengan bersosialisasi dengan lingkungan luar.
Faktor yang menjadikan seseorang menjadi individualis ada dari dua pihak yaitu faktor internal yang berasal dari diri sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan sekitar. Faktor internal ini meliputi skala prioritas seseorang dan susah bergaul dengan lingkungan atau introvert.
Faktor eksternal ini berasal dari lingkungan sekitar yang mendorong seseorang menjadi individualisme seperti keadaan lingkungan yang mendesak untuk seseorang menjadi individualisme baik itu karena lingkungan yang berbanding terbalik dengan kebiasaan sendiri atau lingkungan yang kurang sehat.
5.2 Saran
Melalui karya tulis ilmiah ini, penyusun memberikan saran kepada pembaca, agar selalu menumbuhkan rasa kesadaran akan manusia sebagai makhluk sosial dan manusia selalu membutuhkan orang lain sehingga kedudukannya saling melengkapi satu sama lain. Selain itu, bagi orang yang mempunyai pola perilaku individualisme diharapkan untuk mencoba
28
kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar sehingga kedudukan manusia sebagai makhluk sosial bisa dipertahankan.
29
DAFTAR PUSTAKA
American Psychological Association. (1994) Publication manual of the American Psychological . American : Association Psychlogical.
Cole, Lawrence E. (1953). Human Behavior Psychology as Bio Social Science.
New York: World Book Company.
Mangunwijaya. YB. (1985). Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Sugiyono. (2017). Metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif, Bandung : Alfabeta.
Sugiyono. (2018) Pengertian populasi dan sampel. Bandung : Alfabeta