Aditya Kurnianysah Jayadi Pembimbing:
Dr. Vera Madonna L., M.Ked.(DV) Sp.DV
Clinical review: The suggested
management pathway for urticaria in primary
care
IDENTITAS JURNAL
Judul : Clinical review: The suggested
management pathway for urticaria in primary care
Penulis : Dermot Ryanet al.
Penerbit : European Academy of Allergy and Clinical Immunology
Tahun Terbit : 2022
ABSTRAK
Urtikaria adalah kondisi umum yang muncul dalam kondisi akut maupun kronis pada layanan primer. Urtikaria memberikan beban sakit yang cukup serius bagi penderitanya dan berdampak terhadap kualitas hidup pasien. Tujuan dari artikel review ini adalah menggali publikasi terbaru termasuk Definisi, Klasifikasi, Diagnosis dan Pedoman Tatalaksana Urtikaria, serta mendorong kami untuk mengambil referensi yang bagus dan mengkonfigurasi ulang temuan tersebut lalu merekomendasikan kepada audiens non-spesialis referensi khusus untuk kebutuhan tim pelayanan primer.
Kata Kunci: Akut Urtikaria, Kronik Urtikaria, Layanan Primer, Management Urikaria
PENDAHULUAN
•
Penyakit kulit adalah penyebab utama keempat morbiditas non-fatal di seluruh dunia•
Kondisi kulit menjadi alasan utama orang mengunjungi dokter umum dengan angka 8,4% konsultasi di Inggris dan Wales serta 5,4% di Spanyol•
Urtikaria memiliki prevalensi sekitar 20% seumur hidup.•
Prevalensi Urtikaria Spontan Kronis (CSU) bervariasi, mulai dari 0,6% di Spanyol hingga 1,8%. Di Jerman, prevalensinya sebesar 0,8%.PENDAHULUAN
•
Perempuan lebih sering terkena penyakit ini dibandingkan laki-laki, dengan perbedaan dua kali lipat.•
Prevalensi juga berbeda menurut usia, misalnya, urtikaria mencapai puncak prevalensi antara usia 15 dan 30 tahun, sedangkan CSU lebih umum pada usia sekitar 40 tahun.Relevansi terhadap Pelayanan Primer dan Instalasi Kegawatdaruratan
Survei menunjukkan hampir dua pertiga dokter umum (64,8%) mengaku memiliki pengetahuan yang tidak memadai tentang urtikaria. Hampir tiga perempat (74,9%) menganggap diri memiliki kebutuhan pembelajaran mendesak terkait urtikaria.
Sementara sebuah studi menunjukkan bahwa pasien yang datang ke UGD untuk keluhan dermatologis, 12% di antaranya adalah urtikaria. Sehingga dokter umum perlu meningkatkan pelatihan dermatologi terkait urtikaria.
Beban Penyakit
Pasien urtikaria sering mengunjungi departemen alergi dengan keyakinan bahwa mereka mengalami alergi makanan, sehingga mereka mendapatkan perawatan yang kurang tepat. Penundaan dalam diagnosis urtikaria kronis berdampak besar pada kualitas hidup, fungsi seksual, dan tingkat depresi pasien. Pedoman EAACI/2021 memberikan rekomendasi resmi untuk pengelolaan urtikaria.
Tujuan
Untuk memfasilitasi penegakkan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat, meminimalkan hal-hal yang tidak perlu. Hal ini diharapkan akan menghasilkan perawatan yang efisien yang berpusat pada pasien, dan hemat biaya sehingga memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien dengan urtikaria. Penting untuk menyadari bahwa beberapa intervensi mungkin tidak tersedia dan tidak terjangkau di semua negara.
Metodelogi
Peningkatan kolaborasi antara para spesialis dalam penyusunan pedoman ini bertujuan untuk menghasilkan panduan yang dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh penulis dan dokter layanan primer yang memiliki latar belakang pengetahuan yang berbeda. Pedoman tersebut disusun dengan tujuan untuk diaplikasikan dengan baik oleh individu non-spesialis, sehingga dapat menjadi alat praktis yang bermanfaat bagi mereka.
Defenisi Urtikaria
● Urtikaria adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berkembangnya bintil-bintil (gatal-gatal), angioedema, atau keduanya. Penyakit ini selanjutnya diklasifikasikan menjadi akut (<6 minggu) atau kronis (>6 minggu).
● Angioedema adalah pembengkakan eritematosa atau sewarna kulit yang tiba-tiba dan jelas pada dermis bagian bawah dan subkutis atau mukosa. Kadang- kadang terasa nyeri, dan bukan gatal.
Klasifikasi Urtikaria
● Urtikaria Akut
● Urtikaria Kronis (CU) dibagi lagi menjadi dua kategori besar:
- CSU (Chronic Spontaneus Urticaria)
- CIndU (Chronic Inducable Urticaria/ urtikaria yang dapat diinduksi) : memiliki faktor pencetus yang jelas (misalnya dingin, panas, tekanan, olahraga, dll)
Urtikaria Akut
● Urtikaria akut, dapat muncul dengan gejala bercak, angioedema, atau keduanya. Sebagian besar episode urtikaria akut tidak bergantung pada gejalanya, hilang dalam 2-3 hari. Bintik tunggal biasanya hilang dalam 24 jam tetapi mungkin kambuh di lokasi berbeda.
CSU
● Perjalanan alami CSU adalah salah satu resolusi yang ketika itu terjadi dengan cepat: sekitar 50% akan sembuh dalam 6 bulan setelah diagnosis, 30% pada 3 tahun, 10% pada 10 tahun, sekitar 8% menderita lebih dari 25 tahun
CIndU
● CIndU, berlangsung selama beberapa tahun pada sebagian besar pasien, sebelum menunjukkan remisi spontan.
● Sampai remisi spontan terjadi, banyak pasien mengalami penurunan kualitas hidup yang parah.
● Banyak pasien berusaha sekuat tenaga untuk menghindari pemicu timbulnya
● riwayat menyeluruh dan uji provokasi sangat penting untuk menegakkan diagnosis CIndU karena masih belum ada biomarker yang dapat membantu
Laporan Kasus
Seorang pasien mengalami urtikaria akut setelah infeksi virus pada awal 2000an.
Antihistamin terbukti tidak efektif, tapi gejalanya dapat dikendalikan dengan kortikosteroid oral. Setelah penghentian kortikosteroid, dan beberapa tahun dengan berbagai percobaan pengobatan, diagnosis urtikaria kronis dikonfirmasi.
Pengobatan ciclosporin, doxepin, methotrexate, mycophenolate mofetil, dan psoralen + ultraviolet light A tidak berhasil. Setelah 10 tahun, omalizumab diperkenalkan, memberikan resolusi cepat terhadap gejala. Meskipun, setelah 6 bulan tanpa omalizumab, gejala dapat muncul kembali. Pasien saat ini menerima omalizumab secara teratur, dengan jeda 6 bulan untuk menentukan remisi spontan. Sketsa ini mencerminkan kelemahan dalam pengelolaan urtikaria kronis, termasuk keterlambatan dalam diagnosis dan penggunaan obat yang tidak tepat.
Patofisologi
Sebagian besar urtikaria akut umumnya sembuh dalam waktu 2-3 hari. Lesi tunggal biasanya menghilang dalam 24 jam, namun dapat muncul kembali di lokasi yang berbeda.
Untuk angioedema mungkin memerlukan waktu hingga 72 jam untuk sembuh.
Pasien mengalami ruam sebagai respons terhadap pemicu fisik seperti dingin, panas, tekanan, sinar UV, dan lainnya.
Tantangan dalam Terapi Urtikaria
Urtikaria sering kali disalahartikan sebagai fenomena alergi.
Pemeriksaan penunjang seperti tes alergi dan serologi yang tidak relevan dan memberikan hasil yang tidak jelas. Hal ini menyebabkan pasien tidak mendapatkan pengobatan yang memadai.
Manajemen Urtikaria di layanan primer dan IGD
- Anamnesis riwayat menjadi sangat penting dalam upaya membuat diagnosis dan menilai faktor pencetus.
- Kadang-kadang, diagnosis dapat ditegakkan sendiri jika ruam muncul bersamaan dengan gejala, tetapi juga biasanya pasien datang setelah gejalanya mereda.
Oleh karena itu, anamnesis harus mencakup kronologi peristiwa, durasi ruam, dan foto ruamnya.
- Pertimbangkan faktor-faktor seperti infeksi virus pernapasan atau penggunaan NSAID atau obat lain berperan. Penyakit yang terkait dengan ACE-inhibitor lebih cenderung menunjukkan angioedema daripada urtikaria akut.
- Apakah ada gejala sistemik? Apakah ada paparan dingin, tekanan, sinar UV, aktivitas/situasi yang memicu keringat, atau pemicu urtikaria lainnya?
Pemeriksaan
Seluruh kulit harus diperiksa untuk mendeteksi
apakah terdapat lesi dan apakah penampakannya
seperti urtikaria/angioedema. Cari tahu warna
alesi, nyeri kulit, dan tanda atau gejala sistemik.
Pendekatan
Diagnosis
Pendekatan
Diagnosis
Pendekatan
Diagnosis
Pendekatan
Diagnosis & Manajemen
Chronic Urticaria
Pendekatan
Diagnosis
Tata Laksana
● Pengobatan urtikaria bertujuan mengendalikan gejala melalui penjelasan, edukasi, dan obat-obatan. Modifikasi gaya hidup, seperti mengurangi stres, juga dapat direkomendasikan.
● Urtikaria akut umumnya tidak berbahaya dan seringkali membaik dalam 3–5 hari. Jika gejala berlanjut, tidak perlu merujuk pasien, pada minggu ke-6, lakukan pemeriksaan darah dan tingkatkan dosis antihistamin. Jika remisi tercapai, rujukan tidak diperlukan; jika tidak, pasien dapat dirujuk.
Tata Laksana
● Urtikaria, sebagian besar dipicu oleh pelepasan histamin, dapat diatasi dengan dosis standar antihistamin non-sedatif jangka panjang. Penggunaan steroid oral biasanya tidak dianjurkan karena efek sampingnya yang tinggi terutama dalam pengobatan jangka panjang.
● Pengobatan sebaiknya dilanjutkan hingga ruam hilang, dan pasien diminta kontrol jika gejala berlangsung lebih dari 6 minggu, yang kemudian memenuhi kriteria untuk Chronic Urticaria (CU). Pada kondisi ini penggunaan steroid oral mungkin diperlukan
● Mayoritas kasus urtikaria spontan akan sembuh dalam seminggu, tetapi dalam kasus yang lebih persisten, terutama terkait dengan reaksi hipersensitivitas terhadap gigitan serangga, pengobatan dapat diperlukan lebih lama.
Tata Laksana Urtikaria Kronis
Jika gejala dapat dikontrol dengan dosis obat antihistamin atau jika gejala hilang secara spontan, rujukan tidak diperlukan.
Penting untuk dicatat bahwa mungkin diperlukan 1–2 minggu sebelum gejala dapat teratasi sepenuhnya. Pasien perlu memahami bahwa pengobatan harian diperlukan untuk menjaga remisi. Setelah mencapai remisi, terapi dapat dihentikan setiap 3-6 bulan untuk memeriksa apakah remisi alami telah terjadi. Jika gejala tetap ada, disarankan agar pasien dirujuk ke spesialis untuk evaluasi lebih lanjut.
KESIMPULAN
Urtikaria dapat lebih mudah dikelola apabila diagnosis ditegakkan sedini mungkin dan pengobatan diberikan dengan cepat. Tantangan utama dalam mengelola Urtikaria Kronis adalah memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan spesialis yang tepat pada waktunya. Sehingga pelayanan kesehatan primer harus dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
TERIMA
KASIH