Samsul Bakri, M.Sc., lahir di Kediri pada tanggal 5 Mei 1961, kini menjadi dosen profesional pada Program Studi Sarjana dan Magister Kehutanan serta Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Lampung. Lahir di Ciamis pada tanggal 11 Agustus 1959, kini menjadi dosen profesional pada Program Studi Sarjana dan Magister Kehutanan serta Program Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Lampung.
JASA LINGKUNGAN HUTAN
KONTRIBUSI PRODUK EKONOMI EKOLOGIS
Pendahuluan
Saat itu pendapatan masyarakat per per kapita (sebagai proksi atau ukuran tingkat kesejahteraan) sudah sangat tinggi, dimana kebutuhan hidup tidak lagi mementingkan pemenuhan kebutuhan dasar, namun sudah mencapai kebutuhan psikologis seperti orang lain atau aktualisasi diri (Waluyo dan Terawaki, 2016; dan Wang, 2017). Padahal, ketika tingkat kesejahteraan masyarakat sudah cukup tinggi (ditandai dengan kelebihan tabungan), jasa lingkungan tersebut diminati oleh hampir seluruh individu di suatu daerah.
Jasa Lingkungan: Kontribusi Produk dari Ekonomi Ekologis Sebagai pengantar untuk memudahkan pemahaman terhadap sistem Sebagai pengantar untuk memudahkan pemahaman terhadap sistem
- Kebangkrutan Ekonomi Kapitalistik Fase Pertama
Dalam sistem ekonomi seperti itu, masyarakat negara-negara Blok Timur tidak mempunyai kedaulatan untuk mengontrol kualitas produk yang dihasilkan oleh badan usaha milik negara. Dengan meningkatnya kemakmuran ini, kelebihan tabungan yang diperoleh negara-negara Blok Barat digunakan sebagai tabungan investasi.
Jasa Lingkungan Hutan
Oleh karena itu, Bab 2 lebih banyak membahas mengenai jasa lingkungan hutan sebagai penyerap karbon. Uraian lebih lanjut mengenai pemanfaatan jasa lingkungan untuk hutan penghasil energi panas bumi dapat dilihat pada Bab 4.
Ringkasan
Pasalnya, terjadi peningkatan drastis jumlah penduduk dunia terutama di negara berkembang akibat impor teknologi kedokteran. Akibatnya, harga pangan menjadi spektakuler dan mengakibatkan kelaparan di negara-negara berkembang, khususnya di Afrika.
JASA LINGKUNGAN HUTAN DALAM MENDUKUNG FUNGSI SEKUESTRASI
KARBON
Pendahuluan
Jadi suatu ekosistem hutan atau salah satu komponennya akan dianggap sebagai sumber daya jika mempunyai nilai ekonomi. Bab ini berfokus pada pembahasan jasa penyerapan karbon di atmosfer yang dapat disediakan oleh sumber daya hutan.
Mekanisme Perdagangan Karbon
Pada dasarnya negara-negara berkembang (Non-Annex 1 Protokol Kyoto) umumnya mengalami deforestasi besar-besaran untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya untuk pembangunan disertai dengan degradasi lahan, yang pada akhirnya berujung pada kemiskinan dengan menciptakan kemiskinan (savage kemiskinan). Terdapat dua pilihan yang dapat diambil bagi negara-negara Annex 1, yaitu (i) Mengganti energi dari sumber energi fosil dengan sumber lain, atau dengan (ii) Mengurangi kapasitas industrinya. Selain itu, negara-negara berkembang juga giat melakukan transformasi perekonomiannya menuju negara-negara industri yang juga harus menjalani proses rendah emisi.
Perkembangan MPB Sektor Kehutanan di Indonesia
Komitmen pemerintah Indonesia terus berlaku pada seluruh COP berikutnya sebagai wujud pelayanan publik kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk diadopsinya Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Karbon Gas Rumah Kaca. Perkembangan penyiapan perjanjian kelembagaan formal yang telah dilakukan terkait dengan komitmen Indonesia dalam penurunan emisi sejak KTT Bumi tahun 1992 di Rio de Jane yang melahirkan UNFCCC. Kemudian disusul dengan Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca.
Tata Cara Memperoleh Manfaat Jasa Sekuestrasi di Sektor Kehutanan
Artinya, jika dilihat dari persentase penurunan GRK dari sektor kehutanan, sektor ini merupakan yang terbesar dari seluruh sektor yang menjadi sasaran kontribusi penurunan NDC yang diserahkan kepada Sekretariat Perubahan Iklim PBB selaku penanggung jawab UNFCCC. Para perencana hutan atau penggiat pengelolaan sumber daya hutan lainnya diharapkan dapat berkontribusi dalam berkembangnya sekuestrasi pada sektor kehutanan di Indonesia. Menurut Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (2017), mekanisme REDD+ di Indonesia telah berproses sejak sebelum COP 13 di Bali hingga saat ini dimana Indonesia telah melewati tahap kesiapan dan saat ini berada dalam masa transisi menuju tahap implementasi penuh.
Ringkasan
LHK melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim dalam menjalankan amanah penanganan perubahan iklim telah melengkapi perangkat atau infrastruktur REDD+ yang diperlukan untuk implementasi penuh. Mekanisme kelembagaan aforestasi dan pengembangan reboisasi bersih (A/R MIA) di Indonesia: kasus di Nusa Teggara Barat dan Jawa Barat. Pengaruh perubahan iklim dan tutupan lahan terhadap angka kejadian flu burung pada unggas tradisional di provinsi lampung.
JASA LINGKUNGAN HUTAN SEBAGAI PENGENDALI KESEHATAN MASYARAKAT
Pendahuluan
Proses pengolahan atau grading sebaiknya dilakukan di pedesaan agar nilai tambah tetap dapat ditangkap oleh masyarakat pedesaan melalui berbagai peluang untuk berpartisipasi atau bekerja pada sektor (agro)industri di pedesaan. Jika pendapatan masyarakat pedesaan dapat ditingkatkan secara signifikan melalui kegiatan agroindustri, maka deforestasi akan berkurang secara signifikan. Kemiskinan akibat bias perkotaan di perdesaan juga memperparah kemampuan adaptasi masyarakat perdesaan akibat kurangnya gizi di perdesaan.
Status Kesehatan Manusia
Maka jika kita ingin memutus rantai suatu penyakit, maka perlu mempertimbangkan aspek lingkungan ini sebagai tempat berkembang biak, bereplikasi, dan sebagai sarana penyebaran (udara). Misalnya saja seperti virus demam berdarah pada DBD yang membutuhkan perantara berupa nyamuk untuk dapat menulari manusia. Gender juga berperan dalam kerentanan terhadap suatu penyakit, karena sering ditemukan bahwa penyakit ini lebih mungkin terjadi pada wanita.
Penyakit yang dilecut oleh Deforestasi
Luasnya penyebaran penyakit ini sangat dipengaruhi oleh keberadaan hutan mangrove di wilayah pesisir. Penyakit ini kini menjadi penyakit menular yang paling banyak terjadi di perkotaan. Saat ini, 947 juta orang di 54 negara tinggal di wilayah yang memerlukan kemoterapi preventif untuk menghentikan penyebaran infeksi.
Metode Penentuan Nilai Jasa Lingkungan Hutan bagi Kesehatan Masyarakat Kesehatan Masyarakat
Bukti lain yaitu dari penelitian Sijuang (2016) yaitu hutan negara dan hutan rakyat berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis paru dengan nilai koefisien hutan negara: -0,1241 dan hutan hak: -1,0314. Dengan melakukan pendekatan terhadap kedua variabel di atas (biaya pengobatan dan perkiraan kejadian DBD yang dapat dicegah), maka dimungkinkan untuk menghitung nilai jasa lingkungan yang dapat dihasilkan oleh hutan rakyat per 1% dari total luas wilayah di Provinsi Lampung. Terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan Adhyaksa (2017) bahwa kumpulan pohon-pohon yang hidup di lingkungan membentuk hutan rakyat dapat menurunkan angka kejadian penyakit pneumonia.
Ringkasan
Dengan jumlah penduduk 9.549.078 jiwa (BPS, 2015), jumlah kejadian penyakit yang dapat dicegah sebanyak 120,64 atau 121 kejadian per tahun untuk wilayah Lampung. Hasil penelitian ini diperoleh p-value 0,047 hutan rakyat -29,740 artinya setiap pengurangan 1% hutan rakyat di setiap kabupaten/kota di Provinsi Lampung memberikan pengaruh yang signifikan dengan koefisien -29,740, dengan jumlah penduduk Lampung Provinsi pada tahun 2014 dengan jumlah penduduk 9.549.078 jiwa (BPS, 2015) mampu menurunkan angka kejadian pneumonia sebanyak 2839,9 atau 2840 kejadian. Uraian nilai hutan di atas menggambarkan jika dihitung secara keseluruhan, hanya sebagian kecil dari jasa lingkungan yang dihasilkan dari hutan.
JASA LINGKUNGAN HUTAN BAGI PENGEMBANGAN ENERGI PANAS BUMI
- Pendahuluan
- Energi Panas Bumi
- Proses Pembentukan Panas Bumi
- Potensi Indonesia dalam Pemanfaatan Panas Bumi
- Masa Depan Energi Panas Bumi
- Keunggulan dan Faktor Penghambat Pengembangan Panas Bumi Sumber daya panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan sumber
- Metode Penentuan Nilai Ekonomi Jasa Lingkungan Hutan bagi Pengembangan Energi Panas Bumi Pengembangan Energi Panas Bumi
- Metode Penentuan Nilai Ekonomi Jasa Lingkungan Hutan bagi Pengembangan Energi Panas Bumi
- Ringkasan
Sebagai negara tropis, Indonesia juga memiliki cadangan sumber daya energi panas bumi yang saat ini mulai meningkat. Pada tahun 2010, Konsultan Castlerock secara konsisten mengevaluasi kembali sumber daya panas bumi utama di Indonesia. Diperkirakan bahwa energi hidrotermal konvensional di basis sumber daya panas bumi Indonesia secara umum dianggap sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
PERAN JASA LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN KEGIATAN EKOWISATA
Pendahuluan
Potensi panas bumi di Lampung cukup tinggi. Ekowisata adalah suatu model pengembangan pariwisata di kawasan atau kawasan yang masih asli yang harus dikelola menurut kaidah alam agar dapat menikmati dan mengapresiasi alam dengan segala bentuk budaya yang menyertainya yang mendukung konservasi, melibatkan unsur pendidikan dan pemahaman, dampak negatif yang ditimbulkannya. timbul cukup rendah, dan dapat mengembangkan sosial ekonomi masyarakat setempat (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, 2001). Selain itu, ekowisata dimaksudkan untuk menekankan bahwa pola yang diterapkan dalam konsep ekowisata harus meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan budaya setempat serta harus mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat lokal dan nilai-nilai konservasi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia, 2009).
Prinsip Kepariwisataan
Pengembangan pariwisata harus berlangsung atas kerjasama masyarakat setempat, visi pengembangan pariwisata harus dibentuk berdasarkan gagasan masyarakat setempat dan untuk kepentingan masyarakat setempat. Pemberdayaan masyarakat lokal untuk memberikan pelayanan akomodasi, konsumsi, dan persembahan cinderamata di tempat wisata dapat diupayakan melalui berbagai pembinaan pemerintah setempat. Perkembangan inovasi masyarakat lokal juga sangat penting dan nyata, juga dalam bidang atraksi hiburan, kuliner, souvenir, dan lain-lain.
Ekowisata
Pergeseran konsep wisata yang saat ini digemari masyarakat Indonesia menjadi salah satu kelebihan kita bisa terus memperkenalkan kekayaan alam yang ada di Indonesia, sesuai dengan itu munculnya konsep pariwisata dunia ke model ekowisata. , akibat jenuhnya wisatawan dengan mengunjungi fasilitas wisata buatan. Pariwisata sebagai suatu kegiatan ekonomi tidak dapat dianggap sebagai kegiatan yang tidak produktif karena pariwisata saat ini merupakan suatu industri yang dapat dikembangkan sebagai mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dan dapat dikategorikan sebagai industri yang ramah lingkungan serta mempunyai manfaat rekreasi dan pendidikan bagi masyarakat. pengelola, wisatawan dan masyarakat sekitar (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2010). Pariwisata sebagai suatu kegiatan ekonomi tidak dapat dianggap sebagai kegiatan yang tidak produktif karena pariwisata saat ini merupakan suatu industri yang dapat dikembangkan sebagai mata pencaharian alternatif bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi dan dapat dikategorikan sebagai industri yang ramah lingkungan serta mempunyai manfaat rekreasi dan pendidikan bagi masyarakat. pengelola, wisatawan dan masyarakat sekitar (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2010).
Pengembangan Ekowisata
Pendidikan, yang mengandung unsur pendidikan untuk mengubah persepsi seseorang agar memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan budaya; Partisipasi masyarakat, yaitu peran serta masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ekowisata dengan tetap menghormati nilai-nilai sosial budaya dan agama masyarakat sekitar kawasan; Dan. Partisipasi masyarakat, yaitu peran serta masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ekowisata dengan tetap menghormati nilai-nilai sosial budaya dan agama masyarakat sekitar kawasan; Dan.
Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat
Zona pemanfaatan merupakan bagian dari kawasan taman nasional yang digunakan sebagai pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Taman nasional merupakan salah satu tempat yang dapat dipilih dalam pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, hal ini dikarenakan upaya tersebut mengandung aspek konservasi, bisnis dan pengembangan masyarakat (Nugraheni, 2002 dalam Wulandari dan Sumatri 2011). Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Provinsi Lampung merupakan salah satu Taman Nasional yang sedang mengembangkan konsep ekowisata.
Penentuan Nilai Ekonomi Wisata
Cara ini dilakukan dengan menanyakan langsung kepada responden berapa jumlah uang maksimum yang harus dibayarkan atau jumlah uang minimum yang diterima untuk perubahan kualitas lingkungan. Menurut Yakin (1997), model yang mendasari metode ini mengasumsikan bahwa orang lain akan mengulangi perjalanan ke lokasi tersebut sejauh nilai marjinal perjalanan terakhir sebanding dengan jumlah uang dan waktu yang dihabiskan untuk mencapai lokasi tersebut dan memperkirakan biaya perjalanan. besarnya nilai manfaat dari upaya perubahan kualitas lingkungan tempat rekreasi yang dikunjungi.Metode biaya ini dapat digunakan untuk menyesuaikan manfaat dan biaya akibat yang ditimbulkannya (Fauzi; 2004). Atau dengan kata lain metode ini mengkaji biaya-biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mengunjungi suatu tempat rekreasi.
Daya Dukung Ekowisata
Daya dukung efektif (ECC) adalah jumlah maksimum kunjungan dimana objek tersebut tetap lestari pada tingkat kapasitas pengelolaan (MC) yang tersedia (Cifuentes, 1992; Khair, 2008; Sustri, 2009; Sayan dan Atik, 2011 dalam Siswantoro 2012). Keluaran dari perhitungan daya dukung efektif (ECC) adalah jumlah wisatawan/hari di tempat wisata. Metode yang dapat digunakan dalam pengambilan sampel untuk menentukan daya dukung wisata adalah metode purposive sampling.
Faktor Ekowisata
Dengan adanya banyak faktor dalam pengembangan ekowisata, maka dalam upaya pengembangan pariwisata perlu diperhatikan faktor-faktor utama yang akan menjadi faktor pendukung dalam pengembangan dan pengembangan ekowisata. Faktor pendukung dan penghambat pengembangan ekowisata merupakan hal yang saling berkaitan, sehingga perbaikan salah satu faktor hendaknya dilakukan bersamaan dengan perbaikan faktor lainnya.
Ringkasan
Pengelolaan ekowisata melibatkan banyak pihak, seperti pemerintah, masyarakat lokal, wisatawan sebagai penikmat wisata atau pihak-pihak yang menjalin kemitraan dengan pengelola wisata alam. Usaha wisata alam di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan besar, dan taman wisata alam. Peran ekowisata dalam konsep pengembangan wisata berbasis masyarakat di Taman Wisata Alam (Twa) Bukit Tangkiling Kalimantan Tengah.
JASA LINGKUNGAN HUTAN SEBAGAI FAKTOR PENGENDALI SISTEM
HIDROOROLOGIS
Pendahuluan
Sifat sumber daya yang non-excludable dan rivalrous seperti ini dikenal dengan nama CPR: Common Pool Resource (Ostrom et al., 1998). Sumber daya hutan sebagai CPR mengendalikan ketersediaan berbagai sumber daya alam lainnya. Selain itu, keberadaan sumber daya hutan di dalam sistem daerah aliran sungai (DAS) juga berperan penting dalam menciptakan jasa lingkungan tersebut.
Sumber Daya Alam dan Daerah Aliran Sungai (DAS)