Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
33
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA SISWA SMP KEMALA
BHAYANGKARI MAKASSAR Nur asrawatI
STKIP YPUP Makassar [email protected]
ABSTRAK: Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan pemecahan masalah pada siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar. Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Kemala Bhayangkari yang berjumlah 20 orang siswa, terdiri dari 11 orang siswa laki-laki dan 9 orang siswa perempuan. Materi yang diajar pada penelitian ini adalah bilangan bulat dan pecahan. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif. Hasil belajar dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan pemecahan masalah terjadi peningkatan skor hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN Satu Atap Metangga yang pada siklus I mencapai rata-rata 64,21 dengan standar deviasi 12,31 dan meningkat pada siklus II menjadi 85,14 dengan standar deviasi 11,57. Berdasarkan kategori ketuntasan hasil belajar yang digunakan perolehan skor hasil belajar matematika siswa yang dikategorikan tuntas pada siklus I dengan presentase 60% dan pada siklus II yang dikategorikan tuntas menjadi 90%.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPN Satu Atap Metangga Kabupaten Manggarai Barat.
Kata kunci: Hasil Belajar Matematika, Model pembelajaran Berbasis Masalah, 1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Suharsaputra (Heris dan Afrilianto, 2017:1) pendidikan merupakan suatu proses dengan suatu tujuan yang jelas dan efektifitas pencapaiannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana keperibadian seseorang. Pendidikan memegang peranaan penting dalam peradaban manusia. Dengan adanya pendidikan maka akan dapat membantu dalam mengembangkan diri sehingga mampu mengahadapi permasalahan yang terjadi dalam kehidupan
dan juga pendidikan bisa mengembangkan sumber daya manusia (SDM) dalam memajukan suatu bangsa. Agar institusi pendidikan dapat terus bertahan dan pendapatkan apresiasi tinggi, institusi pendidikan juga harus berubah menyesuaikan dan pemperbaiki diri (Taufiq 2010:3). Pendidikan berhubungan dengan permasalahan baru yang ada didunia nyata maka dari itu pendidikan diharapkan bukan hanya menyiapkan masa depan tetapi juga bagaimana menciptakan masa depan.
(Received: 19-8-2021; Reviewed: 24-9-2021; Revised: 27-10-2021; Accepted: 2-11-2021; Published: 6-12-2021)
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
34 Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru matematika yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 30 Oktober 2021 di SMP Kemala Bhayangkari Makassar, pada saat proses pembelajaran berlangsung banyak masalah yang terjadi sehingga mengganggu proses pembelajaran. Masalah tersebut diantaranya adalah siswa kurang perhatian apa yang dijelas oleh guru, siswa kurang kritis dalam bertanya materi yang belum dipahami, siswa kurang mampu untuk memecahkan masalah matematika, kurangnya siswa memahami masalah matematika, siswa kurang berani menyampaikan pendapat atau jawaban atas hal yang ditanyakan, guru juga selalu menggunankan model pembelajaran yang sama sehingga membuat beberapa siswa jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran. Masalah- masalah tersebut diakibatkan karena lemahnya proses pembelajaran dan akibat dari lemahnya proses pembelajaran tersebut berdampak pada proses pembelajaran matematika, dimana dalam proses pembelajaran matematika, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan memecakan masalah, berpikir kritis, sistematis, aktif dan pola pikir yang tinggi.
Berdasarkan fakta yang ada, maka salah satu alternatif dalam mengatasi masalah yang terjadi di sekolah adalah dengan menerapkan model dan pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dapat mendorong siswa dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, belajar aktif, berpikir tinggi dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Metode pembelajaran yang dimaksud yaitu model pembelajaran berbasis masalah (PBM) dan pendekatan pemecahan masalah.
Pembelajaran yang mampu melatih siswa berpikir tinggi adalah pembelajaran berbasis pemecahan masalah. Model
pembelajaran berbasis masalah dan pendekatan pemecahan masalah dapat membantu siswa dalam merumuskan kesimpulan untuk mengambil makna dari kegiatan pembelajaran. Kelebihan dalam model pembelajaran berbasis masalah dan pendekatan pemecahan masalah adalah siswa lebih aktif dalam berpikir kritis karena munculnya masalah-masalah yang kemudian diskusikan bersama dalam kelas.
Sikap ini menjadi motivator bagi seseorang untuk terus menambah pengetahuan. Agar siswa termotivasi untuk belajar mandiri sepanjang hayat, maka rasa ingin tahu siswa perlu dibangkitkan dan dikembangkan. Sehingga pemebelajaran yang berpusat pada guru akan berpusat pada siswa.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “apakah dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siwa kelas VII SMP Kemala Bhayangkari Makassar”?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas VII SMP Kemala Bhayangkari Makassar.
Manfaat Penelitian
a. Bagi siswa; Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dan dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar khusus pada pembelajaran matematika.
b. Bagi Guru; sebagai arahan untuk melakukan usaha perbaikan pembelajaran dan untuk mengihindari dari masalah-masalah pembelajaran matematika
c. Bagi sekolah; Sebagai bahan informasi kepada pihak sekolah yang dapat
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
35 dijadikan masukan dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang daya serap siswa yang diharapkan. (Ulfiana, 2016:506)
2. KAJIAN PUSTAKA
Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran berbasis masalah merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam pembelajaran berbasis masalah kemampuan berpikir siswa betul betul di optimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat meberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara bekesinambungan. Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segalah sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Pembelajaran berbasis masalah merupakan inovasi yang signifikan dalam pendidikan. Pembelajaran berbasis masalah merupakan gambaran untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif. Pembelajaran berbasis masalah mampu memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja sama dalam kelompok dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik (Rusman, 2014:229-230).
Pembelajaran bebasis masalah adalah pembelajaran yang memiliki cirri- ciri pembelajaran dimulai denagan pemberian “masalah” biasanya masalah memiliki konteks dengan dunia nyata, pemelajar secara kelompok aktif
merumuskan masalah dan
mengidentifikasikan kesejangan pengetahuan mereka, mempelajar dan mencari sendiri materi yang terkait dengan masalah, dan melaporkan solusi dari masalah. Pembelajaran berbasis
masalah sangat menunjang pembangunan kecakapan mengatur diri sendiri, kolaboratif, berpikir secara metakognitif, cakap menggali informasi, yang semuanya relatif perlu untuk semua dunia kerja dalam kehidupan sehari- hari (Taufiq, 2010:12-13).
Pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para siswa belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan secara simultan strategi pemecahan masalah dan dasar dasar pengetahuan dan keterampilan memecahkan masalah dengan menempatkan para siswa dalam peran aktif sebagai pemecahan permasalahan sehari-hariyang tidak terstruktur denagn baik. Dari dua defenisi diatas mengandung arti bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan suasana pemebelajaran yang diarahkan oleh sesuatu permasalahan dalam kehidupan sehari- hari (Aris, 2014:130)
Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow dan Min Liu (Aris, 2014:130-131) menjelaskan karateristik model pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
1. Pembelajaran berbasis masalah lebih menitik beratkan kepada siswa sebagai orang belajar
2. Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang otentik sehingga siswa mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari hari
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja siswa belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan, sehingga
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
36 siswa berusaha untuk mencari sendiiri melalui sumbernya.
Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun pengetahuan secara kolaboratif, pembelajaran berbasis masalah dilaksanakan dalam kelompok kecil Pembelajaran berbasis masalah guru hanya sebagai fasilitator
Berdasarkan beberapa pandangan para ahli diatas dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran untuk melatih dalam mengembangkan kemampuan untuk menyelsaikan masalah sehingga mampu berpikir kritis dan keterampilan untuk memecahkan masalah.
Langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah dijabarkan dalam tabel 2.1 dibawah ini yang terdiri dari lima fase adalah segagai berikut (Rusman, 2014:243)
Tabel 2.1 Langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah adalah:
No Tahap-Tahap Pembelajaran
Kegiatan Guru 1 Orientasi siswa
pada masalah
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan dan memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah 2 Mengorganisasi
siswa untuk belajar
Guru membantu siswa
mendefinisikan dan
mengorganisasi
kan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut dan guru membentuk kelompok belajar siswa 3 Membimbing
pengalaman individual / kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah 4 Mengembangka
n dan menyajikan hasil karya
Guru memantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temanya 5 Menganalisis
dan
mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
37 penyelidikan
mereka dan proses yang mereka gunakan
Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran berbasis masalah memiliki kelebihan dan kekuranganpada saat penerapan dalam pembelajaran. Pendidik harus dapat mengetahu kelebihan apa yang didapat jika melakukan pembelajaran berbasis masalah.
Selain itu, pendidik juga harus dapa mengatasi kekurangan yang terjadi dari penerapan pembelajaran berbasis masalah.
Adapun kedua hal tersebut adalah sebagai berikut:
Kelebihan model pembelajaran berbasis masalah (Aris, 2014:132) :
a. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata
b. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuan sendiri melalui aktifitas belajar
c. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubunganya tidak perlu dipelajari siswa d. Terjadi aktifitas ilmiah pada siswa
melalui kerja kelompok
e. Siswa terbiasa menggunakan sumber- sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, intenet, wawancara dan observasi
f. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajar sendiri
g. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerejaan mereka
h. Kesulitan belajar siswa secara individual melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.
Kekurangan pembelajaran berbasis masalah (Aris, 2014:132) :
a. Dalam satu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam membagikan tugas
b. Memungkinkan siswa jenuh karena berhdapan langsung dengan masalah c. Memungkinkan siswa kesulitan dalam
proses sejumlah data dan informasi dalam waktu singkat, sehingga PBM membutukan waktu yang relatif lama.
Pemecahan Masalah
a. Pengertian Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah adalah salah satu pendekatan mengajar yang digunakan oleh guru dalam kegiatan proses pembelajaran. Dalam pendekatan pemecahan masalah dapat menstimulasi siswa dalam berpikir yang dimulai dari mencari data samapi merumuskan kesimpulan sehingga siswa dapat mengambil makna dari kegiatan pembelajaran. Pendekatan pemecahan masalah adalah pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan.
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin dan belum kenal cara penyelsaianya, misalkan menemukan pola dan aturanya.
Pembelajaran yang mampu melatih siswa berpikir tinggi adalah pembelajaran pendekatan pemecahan masalah.
Ditambahkan pula bahwa suatu soal dapat dipakai sebagai sarana dalam pembelajaran pendekatan pemecahan masalah, jika di penuhi empat syarat: siswa belum tahu cara penyelsaian soal tersebut, materi prasyarat suda diperoleh siswa, penyelsaian soal terjangkau oleh siswa, dan siswa berkehendak untuk memecahkan soal tersebut. Berdasarkan yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pemecahan masalah adalah
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
38 suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisis situasi, dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran (Aris, 2014:135-136).
Pembelajaran pemecahan masalah merupakan salah satu dasar teoritis dari berbagai strategi pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai isu utamanya.
Pemebelajaran pemecahan masalah lebih banyak diterapkan untuk pelajaran matematika. Pembelajaran pemecahan masalah merupakan pembelajaran diamana siswa bergumul dengan masalah-masalah yang tidak ada metode rutin untuk menyelsaikanya. Masalah, dengan demikian harus disajikan pertama kali sebelum metode solusi diajarkan. Guru seharusnya tidak terlalu ikut campur ketika siswa sedang mencoba menyelsaikan masalah. Pembelajaran pemecahan masalah merupakan praktik. Semakin sering melakukan praktik,semakin muda siswa menyelsaikan masalah (Miftahul, 2015:273-274)
Berdasarkan beberapa pandangan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pemecahan masalah merupakan pendekatan pembelajaran yang mampu menstimulasi siswa dalam berpikir yang dimulai dari mencari data sampai pada merumuskan kesimpulan sehingga mampu untuk memecahkan masalah.
Langkah-Langkah Pendekatan Pemecahan Masalah Langkah-langkah pendekatan pemecahan masalah dalam penerapanya dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini yang dijabarkan 5 fase yaitu sebagai berikut (Sofan, 2013:14)
Tabel 2.2 Langkah-langkah pendekatan pemecahan masalah adalah:
No Tahap-Tahap Pembelajaran
Kegiatan Guru
1 Memahami masalah
Guru
merumuskan masalah secara jelas
2 Membuat rencana penyelsaian
Guru guru mengajarkan materi seperti biasa dan menganalisah masalah 3 Merumuskan
hipotesis
Guru melakukan tanya jawab dengan siswa serta
memberikan contoh soal dan menghayati ruang lingkup, sebab-akibat dan alternatif
penyelsaian 4 Melaksanakan
rencana penyelsaian
Guru
memberikan soal kepada siswa untuk dkerjakan berdasarkan persyaratan soalsebagai problem yang telah dipilih dalam pembuatan rencana penyelsaian 5 Melihat kembali
penyelsaian
Guru memandu siswa untuk menyelsaikan soal dan mengecek hasil yang diperoleh.
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
39 b. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan pemecahan masalah memiliki kelebihan dan kekurangan pada sat penerapan dalam pembelajaran (Aris, 2014:137)
kelebihan pendekatan pemecahan masalah 1. Dapat membuat siswa lebih menghayati
kehidupan sehari-hari
2. Dapat melatih dan membiasakan para siswa untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil 3. Dapat mengembangkan kemampuan
berpikir siswa secara kreatif
4. Siswa sudah dimulai dilatih untuk memecahkan masalah
5. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan
6. Berpikir dan bertindak kreatif
7. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realitas
8. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
9. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
c. Kekurangan pendekatan pemecahan masalah
1. Memerlukan cukup banyak waktu 2. Melibatkan lebih banyak orang
3. Dapat mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru
4. Dapat diterapkan secara lansung yaitu untuk memecahkan masalah
5. Kesulitan yang akan dihadapi.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir diatas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Kemala Bhayangkari Makassar meningkat.
1. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dua siklus. Instrumen penelitian ini adalah lembar observasi aktivitas siswa, data hasil belajar siswa, lembar observasi guru. Pada penelitian ini data yang dikumpulkan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
Pada analisis secara kuantitatif menggunakan statistik deskriptif yang terdiri atas: mean, median, modus, standar deviasi dan variansi, rentang skor, nilai maksimum dan minimum siswa yang diperoleh pada setiap siklus.
Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1. Skor rata-rata hasil belajar siswa meningkat. Secara klasikal 85% siswa kelas VII SMP Kemala Bhayangkari Makassar memperoleh hasil belajar matematika lebih dari atau sama dengan 63 dari kriteria ketuntasan minimal di SMP Kemala Bhayangkari Makassar.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran minimal pada kategori baik
3. Kemampuan pengelolaan pembelajaran minimal pada kategori baik
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Siklus I
Berdasarkan analisis deskriptif hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar dari 20 siswa yang ikut tes pada siklus I terdapat 8 orang yang tergolong dalam kategori tidak tuntas yakni yang mencapai skor 0 – 62 dan terdapat 12 orang siswa tergolong kategori tuntas yakni mecapai skor 63 – 100 dengan rata-rata skor hasil belajar matematika siswa pada siklus I adalah sebesar 64,21 dengan standar deviasi 12,31. Berdasarkan kategori penilaian SMP Kemala Bhyangkari Makassar hasil belajar matematika pada siklus I berada pada kategori rendah dengan
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
40 presentase siswa yang tuntas 60% maka pada siklus I belum mencapai secara klasikal 85% dari jumlah siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar
Berdasarkan pengkategorian aktivitas siswa (Aqib dan Mahtuh, 2014:90) dalam mengikuti proses belajar mengajar pada awal pertemuan selama siklus I berada pada kategori kurang dengan rata-rata aktivitas siswa pada siklus I adalah 46,66.
Pada siklus I masi ada beberapa siswa yang belum mengembangkan rasa ingin tahunya, sehingga tidak termotivasi untuk belajar, masih kurangnya siswa mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban dan ambil bagian atau aktif dalam kelompok.
Kurang aktifnya siswa untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang ada di LKS. Hal ini menjadi refleksi bagi peneliti untuk melakukan perbaikan pada siklus II.
2. Siklus II
Bedasarkan analisis deskriptif hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar dari 20 siswa yang ikut tes pada siklus II terdapat 2 orang siswa yang tergolong dalam kategori tidak tuntas yakni mencapai skor 0 – 62 dan terdapat 18 orang siswa tergolong tuntas yakni mencapai skor 63 – 100 dengan rata- rata skor hasil belajar matematika pada siklus II adalah 85,14 dengan standar deviasi 11,51. Berdasarkan kategori penilaian SMP Kemala Bhyangkari Makassar hasil belajar pada siklus II berada pada kategori sangat tinggi dengan presentase siswa yang tuntas 90%.
Ketuntasan hasil belajar matematika pada pokok bahasan statistika melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan pemecahan masalah telah mencapai klasikal sebanyak 90% dari KKM yang telah ditetapkan di SMP Kemala Bhyangkari Makassar. Jadi hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Kemala
Bhyangkari Makassar diterapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan pemecahan masalah terjadi peningkatan. Setelah guru semakin banyak memotivasi siswa dengan cara mengembangkan minat ingin tahu siswa terhadap masalah atau materi sehingga pada siklus II aktivitas siswa meningkat dari siklus I
Perubahan rata-rata skor hasil belajar dari siklus I ke siklus II serta perubahan sikap siswa terjadi selama proses belajar mengajar, dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan pemecahan masalah setiap pembelajaran, siswa termotivasi atau terdorong untuk aktif dalam mempersiapkan diri dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika berlangsung.
3. Perbandingan frekuensi dan presentase hasil belajar siklus I dan siklus II
Frekuensi dan presentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar dari siklus I ke siklus II diterapkan dalam Tabel 4.11 berikut.
Tabel 4.11 Perbandingan Distribusi Frekuensi Dan Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIISMP Kemala Bhyangkari Makassar Pada Siklus I Dan Siklus II.
Siklus Skor Kategori Frekuensi Presentase
% I
II 0-62
0-62 Tidak
Tuntas 8
2 40
10
I II
63- 100 63- 100
Tuntas 12
18
60 90
Sumber: Data diolah (2021)
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
41 Berdasarkan Tabel 4.11 menunjukan perubahan frekuensi dan presentase ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I jumlah siswa yang hasil belajar matematika dikategorikan tidak tuntas sebanyak 8 orang atau 40% dan yang tuntas sebanyak
12 orang atau 60%. Pada siklus II jumlah siswa yang belajar matematikanya dikategorikan tidak tuntas sebanyak 2 orang atau 10% dan yang tuntas sebanyak 18 orang atau 90%. Hal ini menunjukan bahwa hasil belajarnya dikategorikan tidak tuntas mengalami penurunan dari siklus I ke siklus II, dan jumlah siswa yang hasil belajarnya dikategorikan tuntas mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II.
Selanjutnya pada Tabel 4.12 memperlihatkan peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapakan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan pemecahan masalah dalam proses belajar mengajar siklus I dan siklus II sebagai berikut:
Tabel 4.12 Gambaran Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII SMP Kemala Byangkari Makassar pada siklus I
dan siklus II Sumber: (Data diolah 2021)
Berdasarkan Tabel 4.12 diatas menunjukan bahwa skor rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 64,21 dan pada siklus II skor rata-rata diperoleh 85,14. Hal ini menunjukan bahwa adanya peningkatan hasil belajar matematika pada pokok bahasan bilangan bulat dan pecahan dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah melalui pemecahan masalah siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar. Perubahan rata-rata skor hasil
belajar dari siklus I dan siklus II serta perubahan sikap siswa terjadi selama proses belajar mengajar, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan pemecahan masalah pada setiap pembelajaran, siswa termotivasi, terdorong dan aktif dalam pembelajaran berlansung.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil Penelitian bahwa proses pembelajaran matematika siswa kelas VII SMP Kemala Bhyangkari Makassar dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah melalui pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu:
pada siklus I rata-rata hasil belajar matematika siswa adalah 64,21, rata-rata aktivitas siswa adalah 46,66 berada pada kategori kurang dan rata-rata aktivitas guru mengelolah pembelajaran adalah 70,73 berada pada kategori cukup dan pada siklus II rata-rata hasil belajar matematika siswa adalah 85,14, rata-rata aktivitas siswa adalah 95,33 berada pada kategori baik sekali dan rata-rata aktivitas guru mengelolah pembelajaran adalah 91,66 sangat baik
DAFTAR PUSTAKA
Aris, 2014, Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Aqib dan Maftuh, 2014, Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: CV.
Yrama Widya.
Azhar, 2015, Media Pembelajaran, Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada.
Benny, 2011, Model Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta: Dian Rakyat.
Didi, 2014, Filsafat Matematika, Bandung:
Alfabeta.
Sikl us
Skor Subjek Ideal Tertin
ggi Terendah 𝒙" Me
I 20 100 92 44 62,2 64
II 20 100 97 56 85,2 88
Journal Pendidikan Matematika
Volume 1, Nomor 6, November 2021
42 Dimyati dan Mudjiono, 2010, Belajar Dan
Pembelajaran, Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Hamzah dan Nurdin, 2017, Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM, Jakarta: PT . Bumi Aksara
Heris dan Afrilianto, 2017, Langkah Praktis Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru, Bandung: Refika Aditama.
Imas dan Berlin, 2014, Tehnik dan Cara Mudah Membuat Penelitian Tindakan Kelas Untuk Pengembangan Guru, Kata Pena.
Miftahul, 2015, Model-Model Pengajaran Dan Pembelajaran, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Mohamad, , 2015, Strategi Pembelajaran, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Oemar, 2014, Kurikulum Dan
Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara
Rusman,2014, Model-Model
Pembelajaran, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Rusmono, 2012, Strategi Pembelajaran Dengan Problem Based Learning, Bogor: Ghalia Indonesia.
Rostina, 2016, Media dan Alat Pembelajaran Dalam Pembelajaran Matematika, Bandung: Alfabeta.
Sardiman, 2012, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sugiyono, 2017, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), Bandung:
Afabeta
Sudirman, 2008, Cerdas Aktif Matematika, Jakarta:Perpustakaan Nasional Sofan, 2013, Pengembangan dan Model
Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013, Jakarta:PT. Prestasi Pustakaraya.
Taufiq, 2010, Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Ulfiana, Yusuf. 2016. Deskripsi Letak Kesalahan Berdasarkan Newman Error Hierarchy Pada Penyelsaian Soal Cerita Siswa Reflektif Dan Siswa Impulsif. Proceding.
Volume 02 (Nomor 1): 506
Zainal, 2012, Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zubaidah dan Risnawati, 2016, Psikologi
Pembelajaran Matematika, Yogyakarta: Aswaja Pressindo.