• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

If you confirm that the file is coming from a trusted source, you can send the following SHA-256 hash value to your admin for the original file.

4811025582447046436612ea58393ae5b134585acabb5b18b30c9436a1312366

To view the reconstructed contents, please SCROLL DOWN to next page.

(2)

Journal of Forestry Policy Analysis Vol.14 No.2, November 2017

TERAKREDITASI No. 755/AU3/P2MI-LIPI/08/2016

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN

Analisis Kebijakan Kehutanan Vol.14, No.2, November 2017: 93-202

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Ministry of Environment and Forestry

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI Research, Development and Inovation Agency

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

BOGOR - INDONESIA

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Ministry of Environment and Forestry

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI Research, Development and Inovation Agency

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

BOGOR - INDONESIA

(3)

Diterbitkan oleh (published by):

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change) Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi

(Research, Development and Innovation Agency)

Alamat (Address) : Jl. Gunung Batu No.5 Bogor 16118, Indonesia

Telepon (Phone) : +62-251-8633944 Email : [email protected];

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan telah terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) No.

1221/E/2016. Jurnal ini memuat karya tulis ilmiah dari hasil penelitian, pemikiran/tinjauan ilmiah mengenai kebijakan kehutanan atau bahan masukan bagi kebijakan kehutanan. Terbit pertama kali tahun 2004, terakreditasi tahun 2008 dengan nomor 124/Akred-LIPI/P2MBI/06/2008.

Sampai dengan Volume 13 No 3 tahun 2016, Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan terbit dengan frekuensi tiga kali setahun (April, Agustus, Desember). Pada Volume 14 tahun 2017, Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan terbit dengan frekuensi dua kali setahun (Mei, November).

Journal of Forest Policy Analysis is an accredited journal, based on decree of Director of Indonesian Science Institute (LIPI) No. 1221/E/2016.

This Journal is a scientific publication reporting research finding and forestry policy review of forestry policy recommendation. First published in 2004, accredited by LIPI in 2008 with number 124/Akred-LIPI/P2MBI/06.2008 and published three times annually (April, August, December). Since volume 14 2017 will be published two times annually (May, November).

Penanggung Jawab/Pelindung : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Dewan Redaksi (Editorial Board)

Ketua (Editor in Chief) : Prof. Dr. Ir. Djaban Tinambunan, MS (Keteknikan Kehutanan, Kelompok Kerja Kebijakan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi)

Editor Bagian (Section Editors) : 1. Dr. Fitri Nurfatriani,S.Hut, M.Si (Ekonomi Kehutanan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

2. Drs. Lukas R. Wibowo,M.Sc., Ph.D (Sosiologi Kehutanan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

3. Yanto Rochmayanto, S.Hut., M.Si (Ekonomi Kehutanan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

4. Fulki Hendrawan, S.Hut

Anggota Redaksi (Editorial Members) 1. Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, MS (Konservasi Tanah dan Air, Kelompok Kerja Kebijakan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi)

2. Dr. Ir. Sulistya Ekawati, M.Si (Sosiologi Kehutanan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

3. Dr. Tuti Herawati,S.Hut,M.Si (Analisis Kebijakan, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi)

4. M. Zahrul Muttaqin,S.Hut,M.For.Sc (Ekonomi Kehutanan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

5. Ir. Ari Wibowo, M.Sc (Perlindungan Hutan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

6. R. Deden Djaenudin,S.Si,M.Si (Ekonomi Kehutanan, Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim)

Mitra Bestari (Peer Reviewers) : 1. Prof. Dr. Ir. Hariadi Kartodihardjo, M.Sc (Kebijakan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) 2. Prof. Dr. Ir. Bramasto Nugroho, MS (Kelembagaan Ekonomi Kehutanan, Institut Pertanian

Bogor)

3. Prof. Dr. Ir. Herry Purnomo,M.Comp. (Kebijakan Kehutanan, Mitigasi REDD+, Adaptasi Perubahan Iklim dan Furniture Value Chain, CIFOR)

4. Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman,M.Sc(Kebijakan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) 5. Dr. Ir. Boen M. Purnama, M.Sc (Ekonomi dan Sumber Daya Hutan, Institut Pemerintahan

Dalam Negeri)

6. Prof. Ir. Yonariza, M.Sc., Ph.D (Manajemen Sumber Daya Hutan, Universitas Andalas) 7. Prof. Dr.Ir. Hadi Susilo Arifin, M.Sc. (Ekologi dan Manajemen Lanskap, Institut Pertanian

Bogor)

8. Dr. Ir. Bambang Supriyanto, M.Sc. (Sosial Ekonomi Kemasyarakatan, Kebijakan Publik, Perubahan Iklim dan Konservasi Sumber Daya Alam, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan)

9. Dr. Ir. I Wayan Susi Dharmawan,S.Hut, M.Si. (Hidrologi dan Kesuburan Tanah, Pusat Litbang Hutan)

10. Prof. Dr. Ir. Dodik R. Nurrochmat,M.Sc. (Politik Ekonomi Kehutanan, Institut Pertanian Bogor) 11. Frida Sidik, B.Sc., M.Sc., PhD. (Mangrove, Konservasi Sumber Daya Pesisir, Perubahan Iklim,

Kementerian Kelautan dan Perikanan)

12. Dr. Nurul Laksmi Winarni (Climate Change Adaptation, Universitas Indonesia)

13. Prof.Dr.Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr. (Kebakaran Hutan dan Lahan, Perusakan Lingkungan Hidup, Global Climate Change, Institut Pertanian Bogor)

Tata Bahasa Naskah (Copy Editors) 1. Dra. Wahyuning Hanurawati 2. Drh. Faustina Ida Harjanti,M.Sc 3. Ramawati, S.Hut,M.Si Tata Letak Naskah (Layout Editor) Suhardi Mardiansyah Koreksi Naskah (Proofreader) Gatot Ristanto,S.H,MM Sekretariat (Secretariat) 1. Parulian Pangaribuan,S.Sos

2. Ratna Widyaningsih,S.Kom

(4)

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN Ministry of Environment and Forestry

BADAN PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN INOVASI Research, Development and Inovation Agency

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

BOGOR - INDONESIA

Journal of Forestry Policy Analysis Vol.14 No.2, November 2017

TERAKREDITASI No. 755/AU3/P2MI-LIPI/08/2016

JURNAL

ANALISIS KEBIJAKAN

KEHUTANAN

(5)

naskah yang dimuat pada edisi Vol. 14 No.2 November tahun 2017. Mitra Bestari dimaksud adalah:

1. Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman,M.Sc 2. Prof. Dr. Ir. Herry Purnomo,M.Comp 3. Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero S. M.Agr 4. Dr. Ir. I Wayan Susi Dharmawan,M.Si 5. Dr. Nurul Laksmi

(6)

TERAKREDITASI No. 755/AU3/P2MI-LIPI/08/2016 DAFTAR ISI (CONTENTS)

TINGKAT RUJUKAN EMISI HUTAN MANGROVE DELTA MAHAKAM

(Forest Reference Emission Level for Mangrove Forest in Mahakam Delta)

Frida Sidik, Bambang Supriyanto & Mega Lugina ... 93-104 SINKRONISASI KEBIJAKAN NASIONAL REDD+ DENGAN KEPENTINGAN PARA PIHAK PADA TINGKAT SUBNASIONAL

(Synchronization of REDD+ National Policy with Stakeholders’ Interest in Subnational Level)

Mimi Salminah & Ari Wibowo ... 105-120 KEBIJAKAN PENILAIAN KEBERHASILAN REKLAMASI LAHAN

PASCA-TAMBANG BATUBARA DI INDONESIA

(Policy Study on Post Coal Mining Reclamation Assessment in Indonesia)

Ardiyanto W. Nugroho & Ishak Yassir ... 121-136 MASALAH DAN KEBIJAKAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN HUTAN ALAM

PRODUKSI LESTARI: PENERAPAN ADVOCACY COALITION FRAMEWORK (Policy and Issues of Sustainable Natural Forest Management Certification: Implementation of Advocacy Coalition Framework)

Librianna Arshanti, Hariadi Kartodihardjo & Azis Khan... 137-148 PERSEPSI PELAKU HUTAN RAKYAT DAN INDUSTRI KAYU SKALA

KECIL-MENENGAH TERHADAP KESIAPAN IMPLEMENTASI SVLK

(Perception of Private Forest and Small-Medium Scale Wood Industries on the Readiness of SVLK Implementation)

Elvida Yosefi Suryandari, Deden Djaenudin & Iis Alviya ... 149-164 IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN

DAN LAHAN DI PROVINSI SUMATERA SELATAN

(The Implementation of Land and Forest Fire Controlling Management Policy in South Sumatera Province)

Kushartati Budiningsih ... 165-186 PENDEKATAN DALAM PENENTUAN HUTAN DESA BUNTOI,

KABUPATEN PULANG PISAU, KALIMANTAN TENGAH

(Approach to the Determination of Buntoi Forest Village, Pulang Pisau Regency, Central Kalimantan)

N. M. Heriyanto & Ismayadi Samsoedin ... 187-202 INDEKS PENULIS ... 203 INDEKS KATA KUNCI ... 204

(7)

p-ISSN 0216-0897

e-ISSN 2502-6267 Vol. 14 No.2, November 2017

Kata kunci yang dicantumkan adalah istilah bebas. Lembar abstrak ini boleh diperbanyak tanpa ijin dan biaya.

UDC (OSDCF) 630*176.1

Frida Sidik, Bambang Supriyanto & Mega Lugina Tingkat Rujukan Emisi Hutan Mangrove Delta Mahakam Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 93-104

Studi ini mengkaji tingkat emisi CO2 dari deforestasi hutan mangrove di Delta Mahakam Kalimantan Timur melalui pendekatan retrospective. Selama tahun pengamatan 1980-2001, laju deforestasi hutan mangrove karena alih lahan menjadi tambak sekitar 3.183 hektar/tahun. Masuknya perhitungan soil pool, yaitu sekitar 80%

dari total stok karbon hutan mangrove, maka pendugaan emisi dan serapan CO2 hutan mangrove menjadi lebih besar daripada nilai yang digunakan saat ini. Hasil studi ini memberikan masukan untuk penyempurnaan Tingkat Rujukan Emisi Hutan (TREH) yang telah ada dengan mengangkat peran penting mangrove sebagai karbon biru, terutama karbon yang tersimpan di dalam tanah hutan mangrove.

Kata kunci: TREH; emisi CO2; soil pool; Delta Mahakam.

UDC (OSDCF) 630*921:233 Ardiyanto W. Nugroho & Ishak Yassir

Kebijakan Penilaian Keberhasilan Reklamasi Lahan Pasca- Tambang Batubara di Indonesia

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 121-136 Pemerintah Indonesia telah menetapkan peraturan yang mewajibkan kegiatan reklamasi dan rehabilitasi pasca-tambang, namun belum ada evaluasi terhadap peraturan tersebut dalam kaitannya dengan konsep ekologi restorasi. Kajian difokuskan pada tiga aturan teknis; Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 tahun 2014, Permenhut Nomor P.60/Menhut-II/2009, dan Permenhut Nomor P.4/Menhut-II/2011, yang dikaji dalam kaitannya dengan kriteria restorasi ekologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada peraturan yang memenuhi semua kriteria restorasi ekologi.

Kesimpulan penelitian ini adalah regulasi yang dievaluasi belum sepenuhnya sejalan dengan konsep ekologi restorasi, sehingga masih diperlukan penyempurnaan agar perbaikan dan pemulihan lahan pasca-tambang dapat memenuhi konsep restorasi ekologi.

Kata kunci: Restorasi ekologi; rehabilitasi; reklamasi; tambang batubara.

UDC (OSDCF) 630*921 Mimi Salminah & Ari Wibowo

Sinkronisasi Kebijakan Nasional REDD+ dengan Kepentingan Para Pihak pada Tingkat Subnasional

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 105-120 REDD+ telah diinisiasi sejak tahun 2007 tetapi sampai saat ini pelaksanaannya belum berjalan secara efektif. Ketidaksinkronan antara kebijakan REDD+ di tingkat nasional dengan kepentingan para pihak di tingkat sub nasional dan tapak menyebabkan pelaksanaan REDD+ menjadi kurang efektif. Sinkronisasi kebijakan REDD+ diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan REDD+ di Indonesia. Sinkronisasi tersebut dapat diwujudkan apabila dilakukan simplifikasi peraturan teknis dan administratif REDD+ sesuai dengan kondisi di lapangan, tersedianya institusi pelaksana REDD+ yang jelas di tingkat sub nasional, adanya mekanisme pendanaan dan insentif dalam negeri, serta peningkatan sosialisasi strategi dan kebijakan REDD+ ke daerah.

Kata kunci: Ketidaksinkronan kebijakan; pemerintah daerah;

efektif; mekanisme insentif; kesepakatan global.

UDC (OSDCF) 630*61

Librianna Arshanti, Hariadi Kartodihardjo & Azis Khan

Masalah dan Kebijakan Sertifikasi Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari: Penerapan Advocacy Coalition Framework Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 137- 148

Penelitian mengenai sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) ini bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi arah pelaksanaan kebijakan dalam menjawab permasalahan pengelolaan hutan alam di Indonesia. Penelitian dilakukan menggunakan kerangka pikir Advocacy Coalition Framework (ACF) dan dianalisis menggunakan metode diskursus. Penelitian menemukan bahwa koalisi dari para pihak yang berkepentingan dalam proses kebijakan cenderung mengarahkan sertifikasi PHPL pada pemenuhan kepatuhan (compliance) terhadap peraturan pemerintah. Faktanya perdagangan kayu internasional lebih menerima sertifikasi yang penilaiannya berdasarkan pemenuhan kesesuaian (comformity) pada standar dan kriteria PHPL.

Kata kunci: Advocacy coalition framework; diskursus; kebijakan sertifikasi.

(8)

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 149-164 Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui persepsi tentang faktor apa yang dapat meningkatkan kesiapan industri kecil menengah (IKM) dan hutan rakyat (HR) dalam implementasi SVLK.Metode analisis yang digunakan pembobotan dengan skala likert. Penelitian dilakukan di Jakarta, DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Barat.

Persepsi pelaku usaha dan hutan rakyat merasa belum siap dalam implementasi SVLK. Aspek ekonomi yang berpengaruh: adanya peningkatan akses ke pasar dan kenaikan harga output. Aspek kelembagaan yang berpengaruh: efisiensi sertifikasi, dukungan Pemda, peningkatan pemahaman dan kesadaran tentang SVLK, dan koordinasi antar stakeholder. Bentuk kelembagaan seperti check-off program merupakan bentuk lembaga yang sesuai.

Kata kunci: Persepsi; kesiapan; SVLK; industri kecil menengah;

hutan rakyat.

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 165-186 Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di Indonesia terjadi hampir setiap tahun sejak 1997. Studi ini menganalisis koordinasi antar instansi pemerintah dalam pengendalian Karhutla di Provinsi Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi antar instansi pemerintah biasanya berlangsung dalam konteks pemadaman kebakaran. Kinerja pengendalian Karhutla kurang baik ditinjau dari kemampuan memadamkan api khususnya di lahan gambut. Koordinasi perlu ditingkatkan dalam konteks pencegahan Karhutla.

Kata kunci: Kebakaran hutan dan lahan; pengendalian; institusi pemerintah; koordinasi; Provinsi Sumatera Selatan.

UDC (OSDCF) 630*908.1

N. M. Heriyanto & Ismayadi Samsoedin

Pendekatan dalam Penentuan Hutan Desa Buntoi, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol. 14 No. 2, hal. 187-202

Pendekatan dalam penentuan hutan desa telah dilakukan di Desa Buntoi, Kalimantan Tengah. Pada penelitian ini telah dibuat plot permanen seluas 1 hektar untuk mengetahui keragaman hayati, biomassa dan kandungan karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tercatat sembilan jenis pohon berdiameter ≥10 cm dan berjumlah 864 pohon. Biomassa dan kandungan karbon pohon berdiameter dua cm ke atas sebesar 113,63 ton/hektar dan 56,81 ton C/hektar. Penunjukkan kawasan hutan menjadi hutan desa adalah tepat, indikatornya adalah tidak terjadi illegal logging, kebakaran hutan dan keadaan hutan relatif baik.

Kata kunci: Hutan desa; keanekaragaman; rawa gambut.

(9)

p-ISSN 0216-0897

e-ISSN 2502-6267 Vol. 14 No.2, November 2017

The discriptors given are keywords. The abstract sheet may be reproduced without permission or charge.

UDC (OSDCF) 630*176.1

Frida Sidik, Bambang Supriyanto & Mega Lugina

Forest Reference Emission Level for Mangrove Forest in Mahakam Delta

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 93-104 This study assessed CO2 emission level of mangrove deforestation in the Mahakam Delta of East Kalimantan. During the observation period of 1980-2001, mangrove conversion to aquaculture ponds resulted in deforestation with an estimation of 3,183 hectare/year. The estimation of CO2 emission and carbon removal from mangrove forest will be higher than the existing values if soil pool, which contributes to 80% of the total carbon stock of mangrove forest, is also calculated. The study suggest the way to improve the existing Forest Reference Emission Level (FREL) by highlighting the important role of mangrove as “blue”

carbon, particularly carbon stored in mangrove soil..

Keywords: Mangrove forest; FREL; CO2 emission; soil pool;

Mahakam Delta.

UDC (OSDCF) 630*921:233 Ardiyanto W. Nugroho & Ishak Yassir

Policy Study on Post Coal Mining Reclamation Assessment in Indonesia

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 121-136 Indonesian government has enacted some regulations requiring rehabilitation and reclamation activities on post coal mining areas. However, the evaluation related to the ecological restoration concepts is yet unavailable. This research focussed on three technical regulations concerning reclamation guidance and post-mining evaluation guidance, namely ESDM Decree No 7 Year 2014, MoF Decree P.60/Menhut-II/2009, and MoF Decree No P.4/

Menhut-II/2011, the evaluation was conducted by considering some ecological restoration criterias. The result showed that there was no regulation complying with all ecological restoration criterias and indicators, therefore improvement to that regulations are necessary. .

Keywords: Ecological restoration; rehabilitation; reclamation;

coal mining.

UDC (OSDCF) 630*921 Mimi Salminah & Ari Wibowo

Synchronization of REDD+ National Policy with Stakeholders’

Interest in Subnational Level

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 105-120 REDD+ has been developed since 2007, but its implementation has not been run effectively. Unsynchronized REDD+ national policy with stakeholders' interest in sub-national and site level leads to ineffective REDD+ implementation. Synchronizing entire level of REDD+ policy is likely able to accelerate the implementation of REDD+ in Indonesia. The synchronization requires some conditions such as simplification of technical and administrative REDD+regulations in accordance with field situation, existence of regional REDD+ institutions, availability of clear domestic funding and incentive mechanism, as well as establishment of REDD+

outreach strategies and policies in sub-national and site levels.

Keywords: Unsynchronized of policy; provincial government;

effective; incentive mechanism; global agreement.

UDC (OSDCF) 630*61

Librianna Arshanti, Hariadi Kartodihardjo & Azis Khan

Policy and Issues of Sustainable Natural Forest Management Certification: Implementation of Advocacy Coalition Framework Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 137-148

Research on certification policy aimed to gain recommendation towards the implementation of the sustainable forest management (SFM) certification and to address issues of natural forest management in Indonesia. The data was analyzed by using Advocacy Coalition Framework (ACF) and discourse analysis.

Coalitions formed in the certification policies process tend to direct that SFM certification was incompliance with government regulations. In fact, the international timber trade required certified forest products that fulfill SFM standards and criteria.

Keywords: Advocacy coalition framework; discourse; certification policy.

(10)

Industries on the Readiness of SVLK Implementation Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 149-164 This paper aims to determine the perception on the factors that could improve the readiness of small-medium enterprises and private forest to implement SVLK. Likert scale methods were used.

Research was conducted in Jakarta, Yogyakarta and West Java.

Based on the perception, they are not ready yet to implement SVLK.

Influential economic aspects: access to markets and rising output prices are the factors that make the entrepreneurs ready. Influential institutional aspect: efficient certification, local government support, increased understanding and awareness on SVLK, and coordination among stakeholders. Institutional forms such as check-off programs are appropriate institution to improve SLVK implementation.

Keywords: Perception; readiness; SVLK; small/medium industry;

private forest.

Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 165-186 Land and forest fires in Indonesia occur every year since 1997. Indonesian government involves multi institutions approach in fire control. Therefore, to manage fire control, coordination among institutions is absolutely necessary. This study using qualitative approach to analyze coordination among government agencies in term of land and forest fires control with case in South Sumatera Province. The results showed that coordination among government agencies in the context of fire suppression was in poor performance. Therefore, it needs to be improved by considering that fire suppression in peatlands is relatively difficult.

Kata kunci: Forest and land fire; fire management; institutions;

coordination; South Sumatera Province.

UDC (OSDCF) 630*908.1

N. M. Heriyanto & Ismayadi Samsoedin

Approach to the Determination of Forest Village Buntoi, Pulang Pisau Regency, Central Kalimantan Journal of Forestry Policy Analysis Vol. 14 No. 2, p. 187-202

Approach in determining village forest has been done in Buntoi Village, Central Kalimantan. In this study, permanent plot of 1 hectare has been made to find out biodiversity, biomass and carbon content. The results showed thatrecorded nine species of the trees ≥ 10 cm in diameter with a total of 864 trees. Biomass and carbon content of trees with diameter of two cm and above was113.63 ton/hectare and 56.81 tons C/hectare. The designation of forest areas into village forests isappropriate, withthe indicator as there areno illegal logging, forest fires and relatively good forest conditions.

Keywords: Forest village; biodiversity; peat swamp.

(11)
(12)

TINGKAT RUJUKAN EMISI HUTAN MANGROVE DELTA MAHAKAM

(Forest Reference Emission Level for Mangrove Forest in Mahakam Delta)

Frida Sidik1, Bambang Supriyanto2 & Mega Lugina2

1Balai Riset dan Observasi Laut, Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jalan Baru Perancak-Negara, Bali 82251, Indonesia

2Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jalan Gunung Batu No.5, Bogor 16118, Indonesia Email: [email protected], [email protected], [email protected]

Diterima 26 Mei 2017, direvisi 8 November 2017, disetujui 9 November 2017.

ABSTRACT

Forest Reference Emission Level (FREL) is one of four required elements for developing countries in implementing REDD+ activities, and serves as a benchmark in assessing REDD+ performance. This study assessed the emission level from mangrove deforestation in Mahakam Delta - East Kalimantan, aiming to enhance the baseline for subnational FREL document. Over the observation period of 1980-2001, conversion of mangrove forest into aquaculture ponds has resulted in a massive mangrove loss, with an estimation of 3,183 hectare/year, or equivalent to the release of 0.46 Tg CO2e/year. If soil pool was also included in the calculation, mangrove deforestation in Mahakam Delta between 1980 and 2001 emitted 2.9 TgCO2e/year. The CO2 emission from aquaculture ponds may couple with mangrove deforestation, which released 52 Gg CO2 /year from the pond floor. After 2001, the rate of mangrove deforestation decreased, allowing mangrove forests to recover with the expansion rate of 1,546 hectare/

year during 2001-2011 or equivalent to the carbon sequestration or removal of 0.67-4.7 TgCO2e/year. The results of the study suggest the way to improve the existing FREL by raising the importance of mangrove as “blue” carbon, with reference of the 2013 IPCC Guideline: Wetland Supplement.

Keyword: Mangrove forest; FREL; CO2 emission; soil pool; Mahakam Delta.

ABSTRAK

Tingkat Rujukan Emisi Hutan (TREH) merupakan salah satu acuan bagi negara berkembang dalam melaksanakan aktivitas REDD+ sekaligus sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja pelaksanaan REDD+. Studi ini mengkaji tingkat emisi CO2 dari deforestasi hutan mangrove di Delta Mahakam Kalimantan Timur melalui pendekatan retrospective, dengan tujuan untuk melengkapi baseline TREH subnasional. Selama masa tahun pengamatan 1980- 2001, konversi hutan mangrove menjadi tambak budidaya telah menyebabkan hilangnya hutan mangrove sekitar 3.183 hektar/tahun atau setara dengan terlepasnya 0,46 TgCO2e/tahun. Apabila soil pool dimasukan ke dalam perhitungan maka nilai tersebut akan bertambah menjadi 2,9 TgCO2e/tahun. Diperkirakan lahan tambak turut memberikan kontribusi pada nilai emisi sekitar 52 GgCO2/tahun yang dilepaskan dari permukaan tanah tambak.

Setelah tahun 2001, laju deforestasi mangrove menurun ditandai dengan pertambahan luas hutan mangrove (recovery) dengan laju perluasan 1.546 hektar/tahun selama tahun 2001-2011, atau setara dengan penyerapan (C sequestration) atau perpindahan karbon (removal) sekitar 0,67–4,7 TgCO2e/tahun. Hasil dari studi ini memberikan masukan untuk penyempurnaan TREH yang telah ada dengan mengangkat peran penting mangrove sebagai “blue

carbon di dalam dokumen TREH, mengikuti acuan dari 2013 IPCC Guideline: Wetland Supplement.

Kata Kunci: Hutan mangrove; TREH; emisi CO2; soil pool; Delta Mahakam.

(13)

I. PENDAHULUAN

Sebagai negara yang berpartisipasi aktif dalam REDD+, Indonesia secara sukarela telah menyiapkan Dokumen Tingkat Rujukan Emisi Hutan (TREH) atau National Forest Reference Emission Level (FREL) untuk COP 21 Konvensi Perubahan Iklim yang secara resmi dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2015. Nilai TREH akan menjadi dasar penilaian keberhasilan Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan, termasuk hutan mangrove.

Saat ini periode referensi TREH nasional di Indonesia adalah 1990-2012.

Sejalan dengan perkembangan yang terjadi, perbaikan Dokumen TREH terus dilakukan. Berdasarkan ketersediaan data dan konsistensi penyediaannya, Dokumen TREH Indonesia mencakup tiga aktivitas yang diukur, yaitu deforestrasi, degradasi hutan dan dekomposisi hutan gambut (MEF, 2016).

Menurut Laporan TREH yang dikeluarkan oleh KLHK tahun 2016, emisi dari kebakaran hutan gambut tidak masuk dalam TREH karena masih tingginya nilai ketikdakpastian (uncertainty) dan data aktivitas (activity data) yang masih belum memadai. Perhitungan TREH Indonesia di sektor kehutanan masih mencakup aboveground pool. Soil pool (penyimpan karbon di tanah) hanya dihitung untuk hutan gambut yang terdegradasi terutama dekomposisi hutan gambut, tidak pada mangrove padahal penyimpan karbon terbesar di hutan mangrove terdapat di dalam tanah.

Saat ini, perhatian terhadap pentingnya hutan mangrove sebagai penyimpan karbon, yang disebut "blue" carbon (karbon biru), semakin meningkat. Indonesia memiliki potensi sebagai penyimpan karbon biru yang sangat besar dimana hutan mangrove Indonesia merupakan yang terluas di dunia, yaitu sekitar 22% dari total mangrove di dunia (Giri et al., 2011). Di lain pihak, laju deforestasi hutan mangrove Indonesia yang

cukup tinggi, yaitu sekitar 1,72% per tahun pada periode 2000-2012 (Richards dan Friess, 2015), memberikan kontribusi pada peningkatan emisi CO2 akibat terlepasnya CO2 dengan kisaran 0,07–0,21 PgCO2e/tahun dari hilangnya hutan mangrove (Murdiyarso et al., 2015). (keterangan: 1 petagram (Pg) = 1.000 terragram (Tg) = 1 gigaton (Gt)).

Selama ini perhatian untuk mengurangi maupun mencegah emisi telah dilakukan Indonesia sesuai dengan dengan ketentuan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).

Belum masuknya soil pool dalam perhitungan TREH hutan mangrove dapat memberikan penilaian rendah (underestimate) terhadap emisi CO2 yang terlepas akibat deforestasi dan degradasi sekaligus kemampuan hutan mangrove dalam menyerap karbon, sehingga nilai TREH masih perlu disempurnakan.

Selain itu, masuknya soil pool dapat memengaruhi tingkat rujukan hutan (TRH) dimana akresi tanah setelah kegiatan restorasi dapat memberikan implikasi pada tingkat serapan karbon di hutan mangrove (Alongi, 2012).

Kontribusi karbon tanah hutan mangrove dalam perhitungan emisi telah disampaikan dalam beberapa sumber, sebagai contoh dalam Laporan Carbon Accounting dari program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) – Carbon Fund yang dilaksanakan di Kalimantan Timur (unpublished), yang menyatakan bahwa sekitar 21% dari total emisi CO2 dari land-based activities di Kalimantan Timur berasal dari karbon yang tersimpan di dalam tanah hutan mangrove (mangrove soil). Pernyataan ini sesuai dengan studi yang menunjukkan besarnya simpanan karbon di tanah, yaitu hingga 75-81% dari total karbon yang tersimpan di ekosistem mangrove (Alongi, 2014; Murdiyarso et al., 2015).

Nilai-nilai stok karbon yang diperoleh dari inventarisasi hutan lokal dibutuhkan untuk memperbaiki nilai-nilai dari TREH Nasional.

(14)

Perhitungan stok karbon meliputi tiga penyimpan karbon (carbon pool) yang terdiri dari biomasa tanaman hidup dan tanaman yang mati (nekromasa) dan tanah (IPCC, 2006). Berbagai sumber emisi dihitung dan dilaporkan karena akan digunakan sebagai dasar perhitungan Reference Level dari Program Pengurangan Emisi (PPE) yang menghitung tingkat rujukan semua sektor termasuk sektor kehutanan (TRH). Oleh karenanya, studi ini mengkaji peran penting mangrove, sebagai salah satu sumber emisi, yang mulai menjadi perhatian dalam upaya- upaya PPE. Dengan mengambil lokasi studi di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, studi ini bertujuan (1) menghitung tingkat emisi CO2 dan penyerapan karbon di hutan mangrove berdasarkan ketersediaan data, dan (2) menilai kontribusi soil pool dalam perhitungan TREH hutan mangrove, untuk menjadi masukan

bagi penyempurnaan TREH subnasional dan nasional yang telah ada.

II. METODE PENELITIAN A. Kerangka Pikir

TREH disusun sesuai dengan ketentuan Decision 1/ CP.16, Paragraph 70 (REDD+) Under the UNFCCC untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan REDD+ (MEF, 2016). Dalam Dokumen TREH dari KLHK tersebut, definisi yang dipergunakan dalam TREH digunakan berdasarkan ketersediaan data dan konsistensi penyediaan datanya, yaitu kehutanan, deforestasi, degradasi dan dekomposisi hutan gambut. Luas hutan yang tercakup dalam TREH Indonesia sekitar 113,52 juta hektar meliputi tujuh kriteria hutan yaitu hutan terestrial primer, hutan terestrial sekunder, hutan mangrove primer,

Wetlands Supplement or the 2006 IPCC Guidelines

Is the soil used for rice cultivation?

Is this a

Flooded Land?

Is this a wetland for wastewater

treatment?

Is this coastal land?

Is this inland mineral

soil?

Is this organic soil wet?

Yes

No

No

No

No Vol.4, 2006 IPCC

Guidelines (To be read in conjunction with new guidance available in Chapters 4 and 5, Wetlands Supplement)

Vol.4, Chapter 7, 2006 IPCC Guidelines Yes

Chapter 6, Wetlands Supplement Yes

Chapter 4, Wetlands Supplement Yes

Chapter 5, Wetlands Supplement Yes

Chapter 3, Wetlands Supplement Yes

Chapter 2, Wetlands Supplement

1)

3), 4) 5)

7)

8)

10)

No Is the soil organic and/or

wet?

No

Vol.4, Chapters 5 and 11, 2006 IPCC Guidelines Chapters 2 and 5, and

Wetlands Supplement

No

Yes

2)

6)

9)

The numbers associated with the shapes in the decision tree refer to the notes which follow the decision tree .

Except for Chapter 4, the Wetlands Supplement only deals with greenhouse gas fluxes and carbon stock changes in soils. For guidance on other pools , refer to the 2006 IPCC Guidelines.

Start: Determine land-use category

Note 1: Determine land-use category

The Wetlands Supplement covers land with organic soils, and wet and drained mineral soils (see notes 2, 3, and 4 for the definition of these terms) across all the IPCC land-use categories (Forest Land, Cropland, Grassland,

2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands 1.5

Sumber (Source): IPCC 2013 Wetland Supplement

Gambar 1. Alur penentuan acuan yang digunakan dalam IPCC Guidelines.

Figure 1. Decision tree for finding the appropriate guidance in IPCC Guidelines.

(15)

hutan mangrove sekunder, hutan rawa primer, hutan rawa sekunder dan hutan tanaman (plantation). Dua data aktivitas yang masuk TREH Indonesia adalah deforestrasi dan degradasi hutan dimana perkiraan emisi yang dihasilkan dari aktivitas tersebut diperoleh dengan menghitung perubahan aboveground biomass melalui pendekatan remote sensing.

Soil pool hanya digunakan pada hutan gambut karena simpanan soil carbon di gambut yang sangat besar dibandingkan dengan hutan tropis lainnya.

Dalam perhitungan TREH, dibutuhkan data aktivitas (activity data) dan faktor emisi (emission factor). Pada studi ini, kedua jenis data tersebut ditentukan dengan mengikuti alur yang telah ditetapkan oleh IPCC dalam dokumen 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands, Methodological Guidance on Lands with Wet and Drained Soils, and Constructed Wetlands for Wastewater Treatment (Gambar 1). Pemilihan Chapter 4 dari dokumen IPCC Wetland tersebut sebagai acuan studi berdasarkan definisi “coastal

land” yaitu daratan yang terletak di pesisir yang dipengaruhi oleh pasang surut dan/atau air payau/air laut. Vegetasi yang masuk dalam kelompok ini adalah mangrove, padang lamun dan tidal freshwater/salt marshes (IPCC, 2014).

Lebih lanjut, Chapter 4 membagi Coastal Wetland berdasarkan pemanfataan lahan yang disebut Specific Management Activities (Gambar 2). Studi ini memilih

extraction” (untuk aquaculture) sebagai Specific Management Activities dominan yang memengaruhi emisi CO2 dari perubahan lahan hutan mangrove di Delta Mahakam selama tahun 1980-2001. Dengan kondisi ini diasumsikan bahwa biomasa, serasah, nekromas dan tanah telah hilang dalam kondisi aerobik sehingga menyebabkan emisi CO2 pada saat extraction berlangsung (IPCC, 2014).

B. Pengumpulan dan Analisa Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data hasil observasi untuk mengetahui kondisi

2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories: Wetlands 4.9

2 For extraction activities, CO2 emissions and removals are estimated for the initial change in carbon stocks that occur during the year the extraction activities take place. Once the activity/activities is/are completed, these lands are continually track ed but CO2 emissions and removals are reported as zero at Tier 1. Forest management practices in mangroves, drainage and rewetting are reported based on the area of land where it occurs, lands are tracked and CO2 emissions and removals subsequently are reported in the annual inventory.

Is biomass, DOM and soil being extracted from this coastal

wetland?

No

Extraction (including excavation, construction of

aquaculture and salt production ponds) Go to section 4.2.2 for CO2 Yes

Is the management activity aquaculture and is it in use?

No

Is this an area being managed to create or reestablish

seagrass meadows?

Aquaculture use Go to section 4.3.2 for N2O

No

Yes Does this coastal wetland

retain saturated soils and are mangrove forests managed for wood harvesting or other

practices?

Forest management practices in mangroves Go to section 4.2.1. for CO2 Yes

Was this a drained coastal wetland and is now being rewetted or managed

to create or reestablish its natural vegetation?

No

No

Has this coastal wetland been drained?

Rewetting, revegetation &

creation Go to section 4.2.3 for CO2

Rewetted soilsOR Go to section 4.3.1 for CH4

Rewetting, revegetation &

creation Go to section 4.2.3 for CO2

Drainage Go to section 4.2.4 for CO2 Yes

Yes Start

No guidance in this chapter

Yes

No

Sumber (Source): IPCC, 2013.

Gambar 2. Alur pemilihan bagian yang relevan untuk Tier 1 pendugaan emisi dan serapan GRK yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan khusus di kawasan lahan basah pesisir.

Figure 2. Decision tree to indicate relevant section for Tier 1 estimation of GHG emissions and removals due to specific management activities in coastal wetlands.

(16)

biofisik hutan mangrove di Delta Mahakam dan pengambilan sampel tanah di dua plot sampel permanen (PSP) hutan mangrove pada bulan April 2017 (Gambar 3, 0.775°S.

117.45°E). Data sekunder terdiri dari berbagai laporan dan referensi yang berkaitan dengan kondisi hutan mangrove dan pengelolaannya yang diperoleh dari studi literatur maupun data dari lembaga dan institusi terkait. Data sekunder termasuk data tutupan lahan Delta Mahakam dari hasil penelitian Dutrieux yang meliputi luas hutan mangrove pada tahun 1980, 1986, 1992, 1996, 1998, 1999 dan 2001 (Boisvilliers, 2014). Data tersebut digunakan sebagai activity data. Sedangkan nilai biomassa mangrove menggunakan data sekunder dari FCPF di Delta Mahakam Kalimantan Timur yang diperoleh dari website (http://puspijak.org/karbon/). Studi ini hanya menggunakan nilai rata-rata biomasa aboveground dari tujuh PSP hutan mangrove primer di Pulau Tunu dan sekitarnya di Delta Mahakam untuk memenuhi representasi kondisi lokasi pengambilan sample tanah di sekitar PSP hutan mangrove Pulau Tunu (Gambar 3). Pendugaan biomasa dilakukan

dengan menggunakan persamaan dari Ketterings et al. (2001); Chave et al. (2005);

dan Dharmawan dan Siregar (2010).

Untuk pendugaan potensi emisi CO2, total stok karbon untuk semua pool (aboveground, belowground, nekromas dan tanah) dihitung (Persamaan 1) dan kemudian dikonversikan menjadi CO2 equivalen (Persamaan 3) berdasarkan panduan dari IPCC Wetland.

Karena keterbatasan data, studi ini menghitung total stok dengan menggunakan data sekunder aboveground pool dari PSP FCPF yang berjumlah tujuh PSP sebagai asumsi biomasa hutan mangrove primer dan data primer soil pool dari pengambilan sampel lapangan (Persamaan 2). Sedangkan perubahan total stok karbon diperoleh dari persamaan linier dari nilai stok karbon antar waktu (time series). Total stok karbon dihitung dengan rumus:

Total stok karbon:

Sumber (Source): Website FCPF (FCPF website)

Gambar 3. Lokasi PSP (merah) dan pengambilan data lapang (kuning) di lokasi studi, Delta Mahakam Peta diperoleh dari Google Earth dengan modifikasi informasi lokasi PSP dari website FCPF.

Figure 3. PSP location (red) and sampling sites(yellow) in Mahakam Delta. Map is acquired from Google Earth, modified with PSP site information from FCPF website.

total ab bb nec so

C =C +C +C +C ...(1)

total ab so

C = C + C

...(2)

(17)

dimana:

Ctotal : Stok karbon pada semua penyimpanan

(carbon stock for all pools);

Cab : Stok karbon aboveground biomass (aboveground biomass carbon stock);

Cbb : Stok karbon belowground biomass (belowground biomass carbon stock);

Cnec :Stok karbon nekromas

(dead organic matter carbon stock);

Cso : Stok karbon tanah (soil carbon stock).

Emisi CO2 equivalen (Howard, Hoyt, Isensee, Pidgeon, & Telszewski, 2014):

Stok karbon tanah dihitung berdasarkan panduan dari Blue Carbon Protocol (Howard et al., 2014) dengan menggunakan data sampling tanah dari empat interval kedalaman, yaitu 0-15cm, 15-30cm, 30-50cm, 50-100cm.

Sampel tanah diambil dengan metode coring menggunakan open-faced auger di sekitar PSP hutan mangrove secara acak. Dari hasil coring tersebut, sampel tanah diambil 5cm pada setiap interval kedalaman dan disimpan dalam pembungkus plastik. Sampel dibawa ke Laboratorium Riset Kelautan, Balai Riset dan Observai Laut, dan dikeringkan sekitar 60°C untuk mendapatkan nilai bulk density (Persamaan 4). Kemudian dari sampel kering tersebut diambil sekitar 2mg untuk dianalisis kandungan organik dengan metode pembakaran hingga 450°C selama 4 jam (%

Loss on Ignition, Persamaan 5). Metode ini digunakan untuk mendapatkan nilai material organik yang terkandung di dalam sedimen yang kemudian dikonversikan dengan nilai karbon organik (Persamaan 6). Hasil dari perhitungan tersebut akan mendapatkan nilai stok karbon tanah (Persamaan 8). Sedangkan

emission factor tanah di tambak menggunakan data literatur dari Sidik & Lovelock (2013).

dimana:

BD : Berat isi (bulk density) (g/cm3)

Vsam : Volume sampel (sample volume) (cm3) Wdry1 : Berat kering (dry weight) (g)

Wdry2 : Berat kering sebelum pembakaran (dry mass before combustion)(mg) Wdry3 : Berat kering setelah pembakaran (dry mass after combustion)(mg)

%LOI : Pengabuan kering (Loss on Ignition)

%Corg : Persentase karbon organik tanah (percentage soil organic carbon):

Cdens : Densitas karbon (carbon density) (g/cm3)

Cso : Total stok karbon tanah

(total soil carbon stock) (g/cm3)

Analisis ketidakpastian (uncertainty analysis) tidak dilakukan dalam studi ini karena keterbatasan data sekunder yang memberikan nilai ketidakpastian (uncertainty) pada perhitungan luasan hutan mangrove dan stok karbon.Uncertainty dapat terjadi karena asumsi dan metode yang dipilih, dimana hal ini tidak tercantum dalam keterangan di data sekunder yang digunakan dalam studi ini (KLH, 2012).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Hutan Mangrove di Delta Mahakam antara tahun 1980-2011 Delta Mahakam terletak di daerah aliran sungai (DAS) Mahakam yang memiliki luas area sekitar 7,5 juta hektar (Allen, Laurier,

& Thouvenin, 1979) (Gambar 3). Total luas daratan Delta Mahakam diperkirakan 110.000 hektar dengan 42 pulau tersebar di mulut delta (Persoon dan Simarmata, 2014).

Berdasarkan beberapa studi yang dirangkum ...(3)

1 dry sam

BD W

= V ...(4)

2 3

2 dry dry 100

dry

W W

LOI W

 - 

= ×

 

 

% ...(5)

% C

org

= 0.415 % × LOI + 2.89

...(6)

% 100

dens org

C =BD+ C ...(7)

( ) ( )

..

so dens dens

C = C ×interval A C+ ×interval B + .(8)

CO2e=Ctotal × 3,67

(18)

dalam Dutrieux et al. (2014) dan Boisvilliers (2014), perubahan Delta Mahakam dapat terbagi empat fase. Pada awalnya Delta Mahakam adalah hamparan delta yang ditutupi oleh hutan mangrove yang rapat yang didominasi oleh jenis Nipah (Fase 0) dengan jenis mangrove lainnya seperti Avicennia spp, Heritiera littoralis, Rhizophora spp dan Sonneratia spp. Konversi hutan menjadi tambak belum terlihat, meskipun pembukaan

lahan hutan untuk kepentingan ekspolarasi gas dan minyak sudah berlangsung selama 40 tahun terakhir.

Perubahan tutupan lahan yang terjadi di Delta Mahakam terekam dalam studi yang dilakukan oleh Dutrieux et al. (2014) (Gambar 4). Deforestasi dan degradasi hutan mangrove Delta Mahakam mulai terjadi sejak awal tahun 1980, ditandai dengan maraknya alih fungsi lahan hutan mangrove menjadi

Tabel 1. Perubahan tutupanl ahan di lokasi studi di Delta Mahakam antara tahun 1980-2011. Data dimodifikasi dari Dutrieux et al., 2014

Table 1. Land cover change of study site in Mahakam Delta in periode of 1980-2011. Data is modified from Dutrieux et al., 2014

Tahun

(Year) Vegetasi/hektar (Vegetation/

hectare)

Tambak/hektar (Aquaculture ponds/hectare)

Total/hektar (Total/hectare)

Fase (Phase) 0 (pra 1980) 1980 102.200 0 102.200

Fase (Phase) 1 (1980 – 1991) 1986 101.916 292 102.208

Fase (Phase) 2 (1992 – 2001) 2001 29.540 74.843 104.383

Fase (Phase) 3 (2002 – 2011) 2011 45.000 63.000 108.000

Sumber (Source): Dutrieux et al., 2014.

Sumber (Source): Dutrieux et al., 2014

Gambar 4. Perubahan lahan hutan mangrove (garis hitam) dan tambak (garis putus) di Delta Mahakam selama 21 tahun yaitu mulai tahun 1980 (T-0) hingga tahun 2001 (T-21), dengan persamaan : Ymangrove = -3.183*X – 117.660, Ytambak = 3.230*X – 15.763.

Figure 4. Land cover change of mangrove forests (soild line) and ponds (dash) in Mahakam Delta between 1980 (T-0) and2001 (T-21), with equations : Ymangrove = -3,183*X – 117,660, Ytambak = 3,230*X – 15,763.

(19)

tambak budidaya udang (Fase 1). Deforestasi mencapai puncaknya pada Fase 2 dimana lebih dari 75% area Delta Mahakam menjadi tambak budidaya. Sebagai contoh, pada tahun 2001 sekitar 74.863 hektar hutan telah menjadi pertambakan. Kerusakan hutan mangrove di Delta Mahakam terus berlanjut hingga tahun 2011 dan meninggalkan 63.000 hektar hutan mangrove menjadi tambak (Tabel 1).

Laju pembangunan tambak di Delta Mahakam antara tahun 1980-2001 sangat signifikan, yaitu sekitar 3.230 hektar/tahun (Gambar 4). Nilai ini sebanding dengan laju deforestasi hutan mangrove, yaitu 3.183 hektar/tahun. Selisih nilai dimungkinkan oleh aktivitas pembukaan lahan tambak yang tidak hanya di hutan mangrove tetapi juga lahan non hutan mangrove atau di area tanah timbul.

Sebagai wilayah delta, tingkat sedimentasi di Delta Mahakam cenderung tinggi sehingga penambahan daratan dapat terus terjadi dan menimbulkan perluasan lahan mangrove secara alami (Dutrieux et al., 2014). Hal ini dapat terlihat dengan bertambahnya luas wilayah studi selama periode pengamatan (Tabel 1).

Pada tahun 2004 (Fase 3), mangrove kembali beregenerasi (recovery) baik secara alami maupun penanaman (plantation), ditandai dengan kenaikan luasan hutan mangrove sekitar 10.000 hektar, meliputi di area ex-tambak, jalur pipa dan tanah timbul, antara tahun 2001-2011 (Dutrieux et al., 2014). Hal ini disebabkan oleh banyaknya tambak yang ditinggalkan (non produktif) karena produksi yang menurun (Bosma, Sidik, van Zwieten, Aditya, & Visser, 2012).

Menurut kajian Boisvilliers (2014), mangrove yang beregenerasi secara alami memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih baik daripada penanaman (plantation).

B. Kontribusi Soil Pool terhadap Pendugaan Emisi CO2 dari Hutan

Deforestasi dan degradasi hutan memberikan implikasi bagi perubahan stok karbon hutan mangrove (Kauffman, Heider, Norfolk, & Payton, 2014; Lovelock, Ruess,

& Feller, 2011; Pendleton et al., 2012).

Kerusakan hutan mangrove akibat alih lahan hutan menjadi tambak yang terjadi pada Fase 1 dan Fase 2 (1980-2001) diasumsikan

Sumber (Source): modifikasiDutrieux et al (2014) dan data dari studi ini.

Gambar 5. Akumulasi emisi CO2 yang dilepaskan dari aktivitas deforestasi hutan mangrove Delta Mahakam selama 21 tahun (T0 = 1980, T21 = 2001), dengan skenario pelepasan CO2 dari aboveground (garis putus) dan total pelepasan CO2 dari aboveground dan tanah (garis titik).

Figure 5. Accumulation of CO2emission from mangrove deforestation in Mahakam Delta over 21 year (T0 = 1980, T21 = 2001), with scenario of the emission from aboveground (dash) and total emission from aboveground and soil (dots).

(20)

sebagai aktivitas deforestasi. Laju deforestasi di Delta Mahakam pada tahun 1992–2001 cukup tinggi seiring dengan meningkatnya pasar produk budidaya udang (Bosma et al., 2012). Kondisi tersebut juga mengikuti tren deforestasi di Indonesia yang mencapai puncaknya pada periode tahun 1996-2001 yaitu sekitar 2.255.196 hektar/tahun (MEF, 2016).

Dalam studi ini terdapat dua skenario perhitungan emisi CO2equivalen dengan nilai perubahan stok karbon pada saat konversi hutan menjadi tambak di tahun pengamatan, yaitu perhitungan aboveground pool dan gabungan aboveground dan soil pool. Dengan menggunakan data FCPF hutan mangrove di PSP Pulau Tunu, Delta Mahakam, rata- rata stok karbon aboveground pool hutan mangrove di Delta Mahakam diasumsikan

sekitar 117,2 MgC/hektar dari kisaran 53,2–

230,4 MgC/hektar. Stok karbon tanah berkisar antara 574,13-675,3 MgC/hektar (rata-rata = 624,7 MgC/hektar) dari pengambilan sampel tanah yang dilakukan di Pulau Tunu dan sekitarnya. Nilai tersebut mendekati nilai rata-rata stok karbon mangrove di Indonesia, yaitu 774,7 MgC/hektar (82%) stok karbon tanah, 159,1MgC/hektar (17%) aboveground dan 16,7 MgC/hektar (2%) belowground, dengan total stok karbon sekitar 950,5 MgC/

hektar (Alongi et al., 2016). Dari perhitungan stok karbon aboveground pool dansoil pool pada studi ini, setidaknya hutan mangrove primer Delta Mahakam menyimpan sekitar 741,9 MgC/hektar atau setara dengan 2.722,7 MgCO2/hektar, jauh lebih besar dari nilai faktor emisi hutan mangrove primer Kalimantan yang digunakan dalam TREH

Sumber (Source): modifikasiDutrieux et al (2014), Sidik dan Lovelock (2013), FCPF dan data dari studi ini.

Gambar 6. Emisi CO2e yang dilepas pada saat deforestasi hutan mangrove di Delta Mahakam selama tahun 1980- 2001 (T0 = 1980, T21 = 2001; Ytotal = 2,9x-10, Ysoil = 2,5x-8.5, Yabove = 0,46x-1,6). Selama konversi ini berlangsung nilai emisi CO2 bertambah dengan adanya CO2 yang dilepas dari permukaan tanah tambak

(Ytambak = 0,052x-0,26). Karbon terserap kembali setelah adanya gerakan restorasi hutan mangrove

sejak tahun 2001 hingga 2011 (T0 = 2001, T10 = 2011; Ytotseq = -4,9x, Yaboveseq = -0,67x).

Figure 6. CO2e released from mangrove deforestation in Mahakam Delta between 1980 and 2001 (T0 = 1980, T21 = 2001; Ytotal = 2.9x-10, Ysoil = 2.5x-8.5, Yabove = 0.46x-1.6). During the conversion, CO2 released from ponds contributes to the total CO2emission. (Ytambak = 0.052x-0.26). Carbon is sequestered after the restoration in 2001-2011(T0 = 2001, T10 = 2011; Ytotseq = -4.9x, Yaboveseq = -0.67x).

(21)

Indonesia, yaitu 455,2 MgCO2/hektar (MEF, 2016).

Pada perubahan lahan hutan mangrove pada Fase 1 (1980–1991) dan Fase 2 (1992–

2001) memberikan implikasi terlepasnya CO2e dengan rata-rata 0,4 Tg/tahun (Gambar 6).

Nilai CO2 tersebut setara dengan nilai karbon stok yang hilang karena biomasa pohon yang terangkat pada saat konversi lahan. Apabila stok karbon tanah (soil pool) masuk dalam perhitungan, maka nilai emisi CO2e akan bertambah sekitar 2,5 TgCO2e/tahun sehingga total CO2e menjadi 2,9 TgCO2e/tahun. Hal ini menguatkan hasil studi bahwa lebih dari 75%

dari stok karbon hutan mangrove tersimpan di tanah (Alongi, 2014). Selama deforestasi berlangsung, tambak yang berasal dari konversi hutan mangrove turut memberikan kontribusi emisi CO2. Dengan asumsi emisi CO2 dari permukaan tanah dasar tambak 16 MgCO2/hektar/tahun yang dihitung langsung dari pengukuran respirasi permukaan tanah (Sidik dan Lovelock, 2013), maka aktivitas budidaya di Delta Mahakam pada periode 1980-2001 memberikan kontribusi emisi CO2 rata-rata 52 GgCO2e/hektar/tahun.

C. Pengurangan Emisi melalui Carbon Removal dan Enhancement

Deforestasi dan degradasi hutan mangrove telah menarik perhatian sehingga

pemerintah dan masyakat bersama-sama berupaya mengembalikan kondisi Delta Mahakam dengan menyelenggarakan program rehabilitasi hutan mangrove Delta Mahakam. Berbagai kegiatan restorasi yang telah dilakukan termasuk yang dilakukan oleh KLHK dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) antara tahun 2010-2015 (Tabel 2). Selain itu, Total E&P Indonesie sebagai salah satu stakeholder utama di Delta Mahakam telah melakukan penanaman mangrove seluas 620 hektar sejak tahun 2000 (Dutrieux et al., 2014).

Pasca puncak deforestasi, perubahan luas hutan mangrove Delta Mahakam cukup signifikan dimana pada tahun 2011 luas hutan mangrove 1,5 kali lipat daripada luas pada tahun 2001. Bertambahnya tutupan hutan mangrove menandakan kembalinya kondisi hutan mangrove (recovery) dimana karbon terserap dan disimpan di dalam ekosistem mangrove atau disebut C sequestration.

Proses C sequestration merupakan salah satu bentuk perpindahan karbon (carbon removal) ke dalam sistem hutan, yang selama 10 tahun (2001-2011) diperkirakan berkisar 0,67–4,9 TgCO2e/tahun di hutan mangrove Delta Mahakam. Masuknya nilai stok karbon tanah tidak hanya akan memengaruhi perhitungan TREH tetapi juga pada TRH dimana nilai pendugaan serapan karbon (C sequestration)

Tabel 2. Luas penambahan area restorasi lahan basah dan vegetasi pesisir, termasuk kawasan restorasi mangrove selama tahun 2010-2015.=

Tabel 2. The size of restoration areas in wetland and coastaline which include mangrove restoration site in 2010- 2015

Tahun (Year)

Nasional

(National) Kalimantan Timur

(East Kalimantan)

KLHK KKP KLHK KKP

2010 - 60,5 - -

2011 10.410 29,7 600 -

2012 9.280 185,8 1.125 -

2013 12.403 280,9 800 3

2014 - 216,1 - 11,5

2015 491 493,9 - -

Sumber (Source): Statistik KLHK 2015(KLHK, 2016), Statistik KKP 2016 (tidak dipublikasi).

Gambar

Gambar 3. Lokasi PSP (merah) dan pengambilan data lapang (kuning) di lokasi studi, Delta Mahakam  Peta diperoleh dari Google Earth dengan modifikasi informasi lokasi PSP dari website FCPF.
Tabel 1. Perubahan tutupanl ahan di lokasi studi di Delta Mahakam antara tahun 1980-2011
Table 1.  Land  cover change of study  site in  Mahakam  Delta in periode of 1980-2011
Gambar 6. Emisi CO 2 e yang dilepas pada saat deforestasi hutan mangrove di Delta Mahakam selama tahun 1980- 1980-2001 (T 0  = 1980, T 21  = 2001; Y total  = 2,9x-10, Y soil  = 2,5x-8.5, Y above  = 0,46x-1,6)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemegang HTR atau pemegang izin HKm atau pemilik Pemegang HTR atau pemegang izin HKm atau pemilik hutan hak, karena keterbatasan biaya dapat mengajukan hutan hak, karena

Daftar perusahaan yang mendapat izin pinjam pakai kawasan hutan dari Menteri Kehutanan di Provinsi Nusa Tenggara Barat .... Daftar pemegang I UPHHK-HTI di Provinsi

Survei rutin yang dilaksanakan BPS adalah survei perusahaan kehutanan yang terdiri dari survei perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada hutan

Mewajibkan kepada pemegang izin usaha di bidang kehutanan untuk memiliki sumber daya manusia, sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan serta melaksanakan

Mewajibkan kepada pemegang izin usaha di bidang kehutanan untuk memiliki sumber daya manusia, sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan serta melaksanakan pengendalian

(1) Pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman, atau izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan perdagangan karbon, atau pemegang hak pengelolaan hutan

Peta ancaman kebakaran hutan dan lahan Provinsi Lampung Hasil analisis ancaman Karhutla per kabupaten ditemukan tiga kabupaten berdasarkan luas areal kawasan hutan dan lahan yang

2023ANALISIS PEMENUHAN KEWAJIBAN STAKEHOLDER PELAKU USAHA KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN DALAM PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN Jurnal Pembangunan Berkelanjutan, 61; 40-46 doi :