• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL FORMULASI IBUPROFEN GEL

N/A
N/A
AJWA ZAFFIRAH MAS'UD

Academic year: 2024

Membagikan "JURNAL FORMULASI IBUPROFEN GEL "

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL FORMULASI IBUPROFEN GEL

Oleh :

1. Ajwa Zafirah mas’ud (AKF22003)

2. Fatimatus Zahro (AKF22024)

3. Methodius Mere (AKF22045)

4. Saila Ilmi Mutia Rofiq (AKF22065)

PROGRAM STUDI D3 FARMASI

POLITEKNIK KESEHATAN PUTRA INDONESIA MALANG 2023

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...i

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Tujuan...2

1.3 Manfaat...2

BAB II...3

TINJAUAN PUSTAKA...3

2.1 Definisi...3

2.2 Kelebihan dan Kekurangan...3

2.3 Penggolongan Gel...3

2.3.1 Berdasarkan sifat fasa koloid (Sharma dan Singh, 2018)...3

2.3.2 Berdasarkan sifat pelarut (Lieberman,1998)...4

2.3.3 Berdasarkan karakteristik cairan gel (gel hidrofilik dan gel hidrofobik)...4

2.4 Syarat Sediaan Gel...5

2.5 Karakteristik Sediaan Gel...5

2.6 Kegunaan Gel...6

2.7 Pengujian Standar Mutu Sediaan...6

BAB III...9

PEMBAHASAN...9

3.1 Formulasi Sediaan...9

3.1.1 Perhitungan Bahan...9

3.1.2 Alat dan Bahan...10

3.1.3 Cara Kerja...10

3.2 Uraian Bahan...11

3.2.1 Ibuprofen...11

3.2.2 Propilen glikol...12

3.2.3 Gliserin...13

3.2.4 HPMC (Hydroxypropyl Metil Cellulose)...14

3.2.5 TEA (Trietanolamin)...14

3.2.6 Aquadestillata...15

3.2.7 Metil Paraben...16

3.2.8 Propil Paraben...17

3.2.9 Aethanolum...18

(3)

3.3 Fungsi Bahan pada Formulasi...18 3.4 Alasan Pemilihan Bahan...19 DAFTAR PUSTAKA...22

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Semua orang pasti sudah kenal dengan obat ibuprofen. Ibuprofen adalah turunan dari asam arilasetat. Obat ini termasuk dalam golongan NSAID, yang memiliki sifat pereda nyeri dan antipiretik (Sweetman, 2009). NSAID adalah pengobatan yang paling umum digunakan untuk meredakan peradangan, terutama untuk meredakan nyeri terkait peradangan pada berbagai kondisi reumatik dan radang sendi. Ibuprofen memiliki efek samping reaksi alergi paling rendah yang berkaitan dengan intoleransi obat NSAID, Sehingga ibuprofen menjadi alternatif yang baik untuk pasien yang tidak toleran terhadap obat NSAID lainnya.

Dengan cara, enzim siklooksigenase (COX), yang mengkatalisis konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin. Prostaglandin juga terlibat dalam kontrol temperatur tubuh, transmisi nyeri, agregasi platelet. Prostaglandin tidak disimpan oleh sel, tetapi disintesis dan dilepaskan sesuai kebutuhan. Terdapat dua isoform enzim COX yaitu COX-1 dan COX-2. Enzim COX-1 diekspresi secara terus menerus dalam sebagian besar jaringan dan dianggap melindungi mukosa lambung. COX-1 terdapat dalam platelet, tetapi COX-2 tidak. Enzim COX-2 diproduksi secara terus menerus di dalam otak dan ginjal serta diinduksi pada tempat yang mengalami inflamasi. Penggunaan ibuprofen dibatasi karena memiliki efek samping pada saluran cerna, termasuk gastritis dan perdarahan saluran cerna (Lecy et al., 2009).

Sehingga dibuat rute topikal untuk mengurangi efek samping yang ditimbulkan.

Sediaan topikal dapat meningkatkan bioavailabilitas obat karena tidak mengalami first pass metabolism di hati dan memberikan penghantaran yang konsisten pada jangka waktu yang lama. Penelitian telah dikembangkan untuk meminimalkan efek samping ibuprofen maka dibuatlah dalam sediaan gel.

Gel adalah sistem semi-padat yang terdiri dari dispersi partikel anorganik kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 1989). Kandungan air

(5)

sehingga memudahkan penetrasi perkutan obat melalui kulit lebih mudah dibandingkan dengan salep dan krim. Untuk membuat sediaan gel yang baik dapat diperoleh dengan memformulasikan beberapa jenis bahan pembentuk gel, namun yang paling penting adalah memperhatikan pemilihan gelling agent. Dalam komposisi gel, komponen gelling agent merupakan faktor kritis yang dapat mempengaruhi sifat fisik gel yang dihasilkan.

Dalam praktikum ini digunakan basis gel HPMC (Hidroxy Metyl Cellulose) dimana HPMC sering digunakan dalam produk kosmetik dan obat karena dapat menghasilkan sediaan gel yang bening, mudah larut dalam air serta mempunyai toksisitas yang rendah. Serta senyawa peningkat penetrasi propilenglikol dan gliserin.

1.2 Tujuan

Dapat mengetahui rancangan formula, memproduksi serta melakukan evaluasi terkait sediaan ibuprofen gel.

1.3 Manfaat

Bagi penulis :

 Dapat menambah wawasan serta keterampilan dalam menyusun formulasi sediaan obat

 Dapat menambah pemahaman dalam menentukan jenis sediaan yang akan dibuat berdasarkan efek terapis

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Ibuprofen gel adalah gel pereda nyeri yang dioleskan di kulit dengan kandungan ibuprofen 5%. Ibuprofen gel bekerja dengan cara menghambat enzim yang memperoduksi prostaglandin. Dimana enzim prostaglandin ini merupakan senyawa yang dilepaskan tubuh saat mengalami sakit dan peradangan. Cara pakai ibuprofen gel ini adalah dengan mengoleskannya dibagian yang nyeri secukupnya.

2.2 Kelebihan dan Kekurangan a. Kelebihan

 Sediaan ini lebih mudah untuk diaplikasikan pada kulit

 Tidak meninggalkan lapisan berminyak pada kulit

 Mudah untuk dibersihkan dan memberikan sensasi dingin pada kulit

 Sediaan gel tidak lengket di kulit

 Memiliki daya lekat yang tinggi b. Kekurangan

 Jika terkena air atau keringat gel akan mudah hilang

2.3 Penggolongan Gel

Penggolongan gel dibagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut:

2.3.1 Berdasarkan sifat fasa koloid (Sharma dan Singh, 2018).

1. Sistem Dua Fase (Anorganik)

Dalam tipe ini, ukuran partikel fase terdispersi cukup besar dan membentuk struktur tiga dimensi di seluruh gel dan pasti thixotropic, yaitu bentuk setengah padat saat berdiri dan berubah menjadi cair saat diaduk.

(7)

2. Sistem Fase Tunggal (Organik)

Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang diedarkan secara seragam di dalam cairan sedemikian rupa sehingga tidak ada batas yang terlihat ditemukan antara makromolekul terdispersi dan cairan.

2.3.2 Berdasarkan sifat pelarut (Lieberman,1998) 1. Hidrogel (pelarut air)

Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung silang melalui ikatan kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau interaksi hidrofobik.Hidrogel bersifat lunak, elastis sehingga meminimalkan iritasi karena friksi pada jaringan sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik dan kekerasan yang rendah setelah mengembang. Contoh : bentonit magma, gelatin.

2. Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik)

Salah satu contohnya adalah plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan didinginkan secara shock cooled) dan dispersi logam stearat dalam minyak.

3. Xerogel Gel

Xerogel merupakan gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah diketahui sebagai xerogel. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang mengimbibisi, dan mengembangkan matriks gel. Contoh:

gelatin kering, tragakan ribbons, acacia tears, selulosa kering dan polystyrene.

2.3.3 Berdasarkan karakteristik cairan gel (gel hidrofilik dan gel hidrofobik).

1. Gel hidrofilik

Memiliki basis yang umumnya terdiri dari molekul-molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan dengan fase pendispersi. Sistem koloid hidrofilik lebih mudah dibuat dan memiliki kestabilann yang lebih besar dibanding hidrofobik. Gel hidrofilik umumnya mengandung komponen bahan pengembang, air, penahan lembab dan pengawet (Ansel dkk., 1999).

(8)

2. Gel hidrofobik

Memiliki basis yang umumnya mengandung parafin cair dan polietilen atau minyak lemak dengan bahan pembentuk gel koloidal silika atau aluminium atau zink sabun (Lieberman, 1998). Gel ini tersusun dari partikel partikel anorganik, bila ditambahkan ke dalam fase pendispersi maka akan terjadi interaksi antara basis gel dan fase pendispersi. Basis gel hidrofobik tidak secara spontan menyebar (Ansel dkk., 1999).

2.4 Syarat Sediaan Gel

1. Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi ialah inert,aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain.

2. Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol,pemerasan tube, atau selama penggunaan topikal.

3. Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang diharapkan.

4. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk menyebar dan penetrasi obat di dalam kulit.

5. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel.

2.5 Karakteristik Sediaan Gel

1. Swelling, yaitu ketika zat pembentuk gel dibiarkan bersentuhan dengan cairan yang melarutkannya, maka sejumlah besar cairan diserap oleh zat tersebut dan volumenya akan meningkat. Proses ini disebut swelling (pembengkakan). Fenomena ini terjadi sebagai hasil penetrasi pelarut ke dalam matriks.

2. Syneresis, yaitu terjadinya kontraksi secara spontan di dalammassa gel dan media cairan yang terjerap didalamnya akan dikeluarkan. Sineresis terjadi peningkatan seiring dengan penurunan konsentrasi gelling agent.

(9)

3. Ageing, biasanya sistem koloid secara alami menunjukkan agregasi yang lambat.

Proses ini dikenal sebagai ageing. Dalam gel, agieng menyebabkan pembentukan jaringan gelling agent secara bertahap.

4. Structure, sifat kekakuan gel terjadi karena adanya jaringan yang dibentuk oleh interlinking partikel gelling agent. Sifat partikel dan tegangan, mengokohkan dan mengurangi hambatan aliran.

5. Rheology, larutan gelling agent dan dispersi padatan yang diflokulasi bersifat semu, yaitu mengikuti sifat aliran Non-Newtonian yang ditandai dengan penurunan viskositas dengan peningkatan laju geser (Sharma dan Singh, 2018).

2.6 Kegunaan Gel

1. Sebagai sistem penghantaran obat yang diberikan secara topikal.

2. Untuk obat topikal yang dioleskan langsung ke kulit, selaput lendir atau mata.

3. Sebagai obat injeksi long acting secara intramuskuler.

4. Sebagai pengikat dalam granulasi tablet, koloid pelindung dalam suspensi, pengental dalam cairan oral dan basis supositoria.

5. Sebagai kosmetik seperti sampo, produk wewangian, pasta gigi, sediaan perawatan kulit dan rambut.

6. Gel NaCl untuk elektrokardiografi Sodium fluoride dan gel asam fosfat untuk profilaksis perawatan gigi.

7. Basis untuk patch testing

8. Pelumas atau lubricant (Sharma dan Singh, 2018).

2.7 Pengujian Standar Mutu Sediaan

Pengujian mutu fisik sediaan gel bertujuan untuk mengevaluasi sediaan dan membandingkan dengan standart yang ada pada literatur. Terdapat beberapa evaluasi sediaan gel yaitu sebagai berikut:

1. Daya lekat

Uji daya lekat adalah uji yang dilakukan secara visual dengan melihat

apakah sediaan dapat melekat sempurna apa tidak pada objeknya ketika diaplikasikan pada kulit. Daya lekat merupakan kemampuan sediaan untuk menempel pada lapisan epidermis (Zats & Gregory, 1996). Pengujian daya lekat bertujuan untuk mengetahui

(10)

kemampuan melekat sediaan gel yang dihasilkan pada saat penggunaan di tempat aplikasi. Semakin besar kemampuan gel untuk melekat, maka akan semakin baik penghantaran obatnya. Kemampuan daya lekat dipengaruhi oleh viskositas suatu sediaan. Semakin tinggi viskositas, maka daya lekat akan semakin besar, sedangkan daya sebarnya akan semakin kecil. Untuk menambah viskositas sediaan maka diperlukan bahan pengental atau thickening agent.

2. Uji organoleptis

Organoleptis merupakan pengujian kualitas suatu bahan atau produk menggunakan panca indra manusia. Organoleptis biasa dilakukan secara makroskopis dengan mendeskripsikan warna, kejernihan, transparansi, kekeruhan, dan bentuk sediaan (Lachman, 1994).

3. Uji homogenitas

Pemeriksaan homogenitas dapat dilakukan secara visual. Homogenitas gel diamati pada kaca objek di bawah cahaya, diamati apakah terdapat bagian-bagian yang tidak tercampurkan dengan baik. Gel yang stabil harus menunjukkan

susunan yang homogen (Lachman, 1994).

4. Uji PH

Nilai pH idealnya sama dengan pH kulit atau tempat pemakaian. Hal ini bertujuan untuk menghindari iritasi. pH normal kulit manusia berkisar antara 4,5–6,5 (Draelos & Lauren, 2006).

5. Uji viskositas

Viskositas merupakan gambaran suatu benda cair untuk mengalir. Viskositas menentukan sifat sediaan dalam hal campuran dan sifat alirnya, pada saat diproduksi, dimasukkan ke dalam kemasan, serta sifat-sifat penting pada saat pemakaian, seperti konsistensi, daya sebar, dan kelembaban. Selain itu, viskositas juga akan mempengaruhi stabilitas fisik dan ketersediaan hayatinya. Semakin tinggi viskositas, waktu retensi pada tempat aksi akan naik, sedangkan daya sebarnya akan menurun. Viskositas juga menentukan lama lekatnya sediaan pada kulit, sehingga obat dapat dihantarkan dengan baik. Viskositas sediaan dapat dinaikkan dengan menambahkan polimer (Donovan &

Flanagan, 1996).

(11)

6. Uji daya sebar

Uji daya sebar dilakukan untuk mengetahui kemampuan penyebaran sediaan gel saat dioleskan dikulit. Sebuah sampel dengan volume tertentu diletakkan diatas permukaan kaca lalu kaca tersebut diberi beban anak timbangan di atas permukaan kaca. Daya sebar berkaitan dengan kenyamanan pada pemakaian. Sediaan yang memiliki daya sebar yang baik sangat diharapkan pada sediaan topikal. Daya sebar sediaan semipadat berkisar pada diameter 3 cm-5 cm (Voight, 1994).

(12)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Formulasi Sediaan

3.1.1 Perhitungan Bahan

Ibuprofen 5%

Propilenglikol 15%

Gliserin 15%

HPMC 2,5%

TEA 3%

Propil Paraben 0,02%

Metil Paraben 0,18%

Ethanol q.s

Aquadestillata ad 100%

(13)

3.1.2 Alat dan Bahan

Alat Bahan

Mortir Ibuprofen

Stamper Propilenglikol

Gelas ukur 100 ml, 10 ml Gliserin

Beaker glass 100 ml HPMC

Kertas perkamen TEA

Sendok tanduk Propil Paraben

Batang pengaduk Metil paraben

Timbangan Ethanol

Pipet tetes Aquadest

Waterbath listrik Cawan porselen 3.1.3 Cara Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan

Nama Bahan Konsentrasi Perhitungan Bahan

Ibuprofen 5% 5/100 x 100 = 5 gram

Propilenglikol 15% 15/100 x 100 = 15 gram

Gliserin 15% 15/100 x 100 = 15 gram

HPMC 2,5% 2,5/100 x 100 = 2,5 gram

Air HPMC = 30 ml

TEA 3% 3/100 X 100 = 3 gram

Propil Paraben 0,02% 0,02/100 x 100 = 0,02 gram

Metil paraben 0,18% 0,18/100 x 100 = 0,18 gram

Aquadest 100% Aquadest ad 100 ml : 100

ml - ( 5 gram - 2,5 gram - 30 ml - 0,18 gram - 0,02 gram - 15 gram - 15 gram - 3 gram ) = 29,3 ml

(14)

2. Disetarakan timbangan 3. Fase hidrofobik :

a) Diukur aquadest sebanyak 30 ml dan dipanaskan diatas spirtus ad mendidih lalu dituangkan ke dalam mortir

b) Ditimbang HPMC sebanyak 2,5 gram dan ditaburkan ke dalam mortir ad mengembang

c) Ditimbang metil paraben sebanyak 0,18 gram ditimbang gliserin dan propilen glikol sebanyak 15 gram, ditimbang TEA sebanyak 3 gram dan dileburkan bersama diatas waterbath.

d) C + B gerus ad homogen 4. Fase hidrofilik:

a) Ditimbang ibuprofen sebanyak 5 gram dan dimasukkan ke dalam beakerglass dengan dilarutkan dengan 20 bagian air panas ( diaduk ad larut b) Ditimbang propil paraben sebanyak 0,02 gram dan dimasukkan ke dalam

mortir diaduk ad homogen

5. No 4 dituangkan ke dalam mortir digerus ad homogen

6. Ditambahkan sisa aquadest sebanyak 29, 3 ml digerus ad homogen 7. Dimasukkan ke dalam pot wadah dan diberikan etiket serta label

3.2 Uraian Bahan

Penggambaran; penjelasan (tentang sifat, keadaan, bentuk, inkompatibilitas, kelarutan, Ph, dan cara kerja) suatu bahan yang akan digunakan dalam formulasi sediaan.

3.2.1 Ibuprofen

Sinonim : Ibuprofenum

Rumus Molekul : C13H18O7 Struktur Molekul :

(15)

Berat Molekul : 206, 28

Pemerian : Serbuk hablur, putih hingga hampir putih, berbau khas lemah.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, dalam methanol, dalam aseton dan dalam kloroform; sukar larut dalam etil asetat.

OTT : -

Dosis :

 (Oral) : Dewasa: 3-4 x 200-400 mg/hari. Awalnya 400 mg kemudian, 400 mg 4-6 jam atau 100-200 mg 4 jam, sesuai kebutuhan. Maks : 3,2 g setiap hari.

 (Topikal) : Dewasa: Oleskan 50-125 mg atau 4-10 cm gel ke area nyeri empat kali sehari.

Efek samping : Reaksi anoflaktoid, resiko hiperkalemia, edema, kelainan fungsi hati, anemia, penglihatan kabur, skotmata, perubahan penglihatan karena mual, muntah, muntah,diare, konstipasi, dan ruam kulit

Interaksi obat : Aspirin, Digoxin, dan NSAID lainnya.

Penggunaan : Analgesik dan Antipiretik

Farmakologi : Menghambat sintesi prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan memblokir sycloxyginase 1 dan 2 merupakan dasar terjadinya efek antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik.

Sumber : Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta:

Depkes RI. Martindale 6th Edition, 2009. Mims Indonesia, 2019.

3.2.2 Propilen glikol

Sinonim : Propilena glikol, 1,2-propanadiol.

Rumus Molekul : CH3CH(OH)CH2OH Struktur Molekul :

(16)

Berat Molekul : 76, 09

Pemerian : Cairan kental, jernih,tidak berwarna ,rasa khas, praktistidak berbau, menyerap air pada udara lembab.

Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton dan dengan

kloroform, larut dalam eter dan beberapa minyak essensial tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.

Berat Jenis : 1,035

Konsentrasi : Propilen glikol sebagai thickening agent dibuat sediaan gel dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%.

pH : 3 - 6

OTT : Dengan zat pengoksidasi seperti Pottasium Permanganat.

Stabilitas : Higroskopis dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, lindungi dari cahaya, ditempat dingin dan kering. Pada suhu yang tinggi akan teroksidasi menjadi propionaldehid asam laktat, asam piruvat& asam asetat.

Stabil jika dicampur dengan etanol, gliserin, atau air.

Penggunaan : Thickening agent

Sumber : Rowe et.al., 2009. Farmakope edisi III. Jakarta: Depkes RI.

3.2.3 Gliserin

Sinonim : Glycerol, glycerin, croderol.

Rumus Molekul : C3H8O3

Struktur Molekul :

Berat Molekul : 92,09

Pemerian : Tidak berwarna, tidak berbau, viskos, cairan yang higroskopis, memiliki rasa yang manis, kurang lebih 0,6 kali manisnya dari sukrosa

(17)

Kelarutan : Gliserin praktis tidak larut dengan benzene, kloroform, dan minyak, larut dengan etanol 95%, methanol dan air.

Berat Jenis : 0,9062

Konsentrasi : Rentang gliserin yang digunakan sebagai humektan sebesar

≤30%.

pH : 6 - 7

OTT : -

Stabilitas : Pada suhu 20°C. Gliserin sebaiknya ditempat yang sejuk dan kering.

Penggunaan : Sebagai humektan dan pelembut.

Sumber : Rowe et.al., 2009. Farmakope edisi III. Jakarta: Depkes RI.

3.2.4 HPMC (Hydroxypropyl Metil Cellulose)

Sinonim : Hypromellose

Rumus Molekul : CH3CH(OH)CH2 Struktur Molekul :

Berat Molekul : -

Pemerian : serbuk putih atau putih kekuningan,tidak berbau dan berasa.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air panas, ethanol 95% dan eter, tetapi larut dalam campuran etanol 95% dan diklorometana, etanol 95% dan air dan larut pada air dingin.

Konsentrasi : Gelling agent dalam sediaan gel pada konsentrasi 5 - 15% . OTT : Tidak kompatibel dengan beberapa agen pengoksidasi. Karena Merupakan nonionik, hypromellose tidak akan kompleks dengan garam logam atau ion organik untuk membentuk endapan tak larut.

(18)

Stabilitas : Bubuk Hypromellose adalah bahan yang stabil, meskipun bersifat higroskopis setelah pengeringan. Hypromellose mengalami transformasi sol-gel reversibel pada pemanasan dan pendinginan.

pH : 3 - 11

Penggunaan : Emulgator, suspending agent, dan polimer dalam film coating.

Sumber : Rowe et.al., 2009. Voigt,1994. Farmakope edisi VI. Jakarta:

Depkes RI.

3.2.5 TEA (Trietanolamin)

Sinonim : Triethanolamine Rumus Molekul : C6H15NO3

Struktur Molekul :

Berat Molekul : 149,19 Konsnetrasi : -

pH : 10,5

Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna hingga kuning pucat dengan sedikit bau amoniak, bersifat sangat higroskopis, TEA akan berubah warna menjadi coklat apabila terpapar oleh udara dan cahaya langsung.

Kelarutan : Larut dalam air, metanol, karbon tetraklorida, dan aseton.

Stabilitas : Trietanolamin sangat higroskopis dan dapat berubah warna menjadi coklat dengan paparan udara dan cahaya.

OTT :

Akan bereaksi dengan asam mineral membentuk garam kristal dan ester. Dengan asam lemak yang lebih tinggi, trietanolamin akan memberntuk garam yang larut dalam air dan memiliki karakteristik sabun. Trietanolamin juga akan bereaksi dengan tembaga

(19)

untuk membentuk garam kompleks. Perubahan warna dan pengendapan akan terjadi dengan adanya garam logam kuat.

Penggunaan : Emulsifying agent. Trietanolamin (TEA) mengandung 10-15% dietanolamin dan 5% monoetanolamin.

Sumber : Rowe et.al., 2009.HOPE 6th Edition, 2009.

3.2.6 Aquadestillata

Sinonim : Air Suling, Aquadest Rumus Molekul : H2O

Struktur Molekul :

Berat Molekul : 18,02

Berat Jenis : 1

pH : 7

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa Stabilitas : Stabil di semua keadaan fisik.

OTT : Aquadest dapat bereaksi dengan obat eksipien basa yangrentan terhadap hidrolisis dalam lingkungan suhu tinggi.

Penggunaan : Pelarut.

3.2.7 Metil Paraben

Sinonim : Nipagin

Rumus Molekul : C8H8O3

(20)

Struktur Molekul :

Berat Molekul : 152,15

Pemerian : Tidak berawarna, tidak berasa, tidak berbau, serbuk hablur putih, rasa agak terbakar.

Kelarutan : Sukar larut dalam air, larut dalam air mendidih,

sukar larut dalam benzena, sukar larut dalam tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan eter.

Konsentrasi : 0,02 – 0,3%

pH : 3 - 6

Stabilitas : Mudah terurai oleh cahaya

OTT : Dengan senyawa bentonite, talk, tragakan, dan sorbitol.

Penggunaan : Sebagai bahan pengawet

Sumber : Farmakope Indonesia IV. Depkes R1, 2020. HOPE 6TH Edition.

3.2.8 Propil Paraben

Sinonim : Nipasol, Propylis parabenum Rumus Molekul : C10H12O3

Struktur Molekul :

(21)

Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, dan tidak berasa.

Sangat sukar larut dalamair ,larut dalam3,5 bagian etanol 95% P, dalam 3 bagian aseton P,dalam140 bagiangliserol P dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut

dalamalkil hidroksida.

Konsentrasi : 0,01 – 0,6%

pH : 4 – 8

Stabilitas : Stabil pada air pH 3 - 6 dengan autoclaving tanpa penguraian.

OTT : Magnesium trisiklat dan magnesium silikat.

Penggunaan : Sebagai bahan pengawet

Sumber : Farmakope Indonesia IV. Depkes R1, 2020. HOPE 6th Edition.

3.2.9 Aethanolum

Sinonim : Aethanolum, Ethanol 95%

Rumus Molekul : C2H6O Struktur Molekul :

Berat Molekul : 46,07

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas rasa panas,mudah terbakar dan memberikan nyala biruyang tidak berasap.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terhindar daricahaya, ditempat sejuk jauh dari nyala api.

Penggunaan : Sebagai zat tambahan, juga dapat membunuh kuman Sumber : Farmakope Indonesia IV. Depkes R1, 2020.

(22)

3.3 Fungsi Bahan pada Formulasi

3.4 Alasan Pemilihan Bahan

Nama Bahan Alasan

Ibuprofen Ibuprofen digunakan dalam manajemen

nyeri ringan hingga sedang, Ibuprofen sendiri merupakan obat golongan NSAID,

Nama Bahan Fungsi Kompatibilitas

Ibuprofen Zat aktif (Analgesik dan Antiinflamasi)

Kompatibel dengan

selulosa, laktosa

monohidrat magnesium stearat, PEG 6000, pati natrium glikolat

Propilenglikol Humektan

( Thickening agent) Klorobenzena, karbon tetraklorida, asam format, anilin.

Gliserin Humektan dan emolient Kompatibel dengan asam asetat, asam propionat, diethanolamin,

triethanolamin, karbon tetraklorida, klorofom,

HPMC Gelling agent Propilenglikol

monolaurate, polisorbat 80, polyoxy 35 castor oil

TEA Alkalizing agent Kompatibel dengan larutan

kalium kaustik, larutan soada kaustik

Propil Paraben Pengawet Beberapa polimer hidrofilik

dapat membantu

melarutkan propil paraben dalam sistem air. Pada produk yang sangat asam, nipasol mungkin tidak efektif sebagai pengawet.

Metil Paraben Pengawet penggunaan metil paraben

dalam formulasi berbasis minyak atau lemak.

Nipagin biasanya lebih stabil dalam produk dengan pH netral atau sedikit asam.

(23)

meredakan peradangan. Salah satu kelebihan Ibuprofen adalah memiliki 2 fungsi dalam satu zat tanpa perlu mengonsumsi obat/zat lain pada gejala yang berbeda.

Propilen glikol Propilen glikol merupakan zat tambahan yang selain sebagai humektan, propilen glikol juga dapat meningkatkan penetrasi (thickening agent) bahan obat kedalam kulit (daya lekat) , menjaga stabilitas sediaan dengan cara meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan dari suatu material

Gliserin Gliserin dapat membantu menjaga

kelembaban pada kulit karena dapat mengikat dan menahan air, sama seperti sifat propilen glikol dalam formula ini.

Namun, Gliserin menyebabkan rasa tacky dan berat pada kulit sehingga penggunaan gliserin sebagai humektan perlu dikombinasi dengan humektan lain.

Penggunaan kombinasi gliserin dan propilen glikol secara bersamaan dapat meningkatkan daya sebar sediaan. Serta penggabungan 2 humektan ini saling melengkapi kekurangan yang dimiliki gliserin ataupun propilen glikol sebagai humektan.

HPMC HPMC dapat menghasilkan gel yang

netral, jernih, tidak berwarna dan berasa, stabil pada pH 3-11 dan mempunyai resistensi yang baik terhadap serangan mikroba. vikositasnya yang stabil meski

(24)

disimpan pada jangka waktu yang lama.

HPMC juga tidak mengiritasi kulit dan tidak dimetabolisme oleh tubuh. HPMC merupakan basis gel hidrofilik, Keuntungan gel hidrofilik adalah daya sebarnya pada kulit baik, efek dingin yang ditimbulkan akibat lambatnya penguapan air pada kulit, tidak menyumbat pori-pori kulit, mudah dicuci dengan air dan memungkinkan pemakaian pada bagian tubuh yang berambut dan pelepasan obatnya baik.

TEA Digunakan sebagai pengemulsi

dan alkalizing agent yang dapat membentuk gel yang homogen dan stabil.

Propil paraben dan Metil paraben Kombinasi 2 bahan pengawet mampu menjaga sediaan lebih tahan lama dikarenakan Adanya penggunaan kombinasi paraben dapat meningkatkan aktivitas antimikroba, dimana metil paraben efektif pada jamur dan propil paraben efektif pada bakteri. Kombinasi 0,18% metil paraben dan 0,02% propil paraben akan menghasilkan kombinasi pengawet dengan aktivitas antimikroba yang kuat.

Aquadestillata Aquadest yaitu air murni yang dapat diperoleh melalui suatu tahap penyulingan.

Aquadest merupakan suatu air yang bebas terhadap kotoran maupun mikroba yang ada jika dibandingan dengan air biasa.

(25)

ibuprofen, diketahui ibuprofen sangat mudahlarut dalam Ethanol 95%.

DAFTAR PUSTAKA

Kishori, Thomas, S., Sowparmika, Yajnesh, H, Mashita, Shamia., A. Kumar, D.R., 2022. Formulation and Evaluation of Ibuprofen Gel. International jurnal of Pharmaceutical Sciencer Review and Research. 75(1):176-178

Nurahmanto, D., Mohrifah, I. R., Azis, R. F. N. I., Rosyidi, V. A, 2017. Formula sediaan gel dispersi padat ibuprofen: Studi Gelling Agent dan senyawa peningkat penetrasi. Jurnal Ilmiah Manuntung. 3(1): 96-105

Astriana, B., Satria, F., 2019. Optimasi propilen glikol dengan variasi konsentrasi 5%,10%,15% sebagai Thickening Agent terhadap daya lekat sediaan gel natrium dikolfenak. Diploma Thesis. Malang:Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang Juvita, I., 2019. Formula pasta gigi kombinasi ekstrak daun sirih hijau (Riper Betle Linn) dan gambir (uncaria gambir (Hunter) Roxb). Skripsi. Purwokerto: universitas

muhamadiyah purwokerto

Rove, R. C., Sheskey, P. J., Owen, S. C., 2016. Handbook of Pharmaceutical Excipients. London: Pharmaceutical Pers

Evaria, M. D., 2022. MIMS refrensi obat informasi ringkasan produk obat. Jakarta :Bhuana ilmu populer

Kementerian Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Kementerian Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Referensi

Dokumen terkait

Peningkat penetrasi perkutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah propilen glikol dan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi pengaruh dari Carbopol ® 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humektan pada level yang

Humektan yang dipakai dalam pasta gigi supaya tetap dalam konsistensi lunak (krim) ialah diantaranya gliserol, sorbitol, dan propilen glikol. Konsentrasi humektan hingga

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi propilen glikol sebagai humektan terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel ekstrak kulit

Penelitian tentang optimasi filming agent polivinil alkohol dan humektan propilen glikol dalam formula gel masker peel-off anti-acne dari ekstrak daun kemangi ( Ocimum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi pengaruh dari Carbopol ® 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humektan pada level yang

Emulgel zinc oxide nanopartikel dengan Carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humektan mempunyai aktivitas

Penambahan ekstrak kering sari tebu (Saccharum officinarum L.) pada formula yang mengandung propilen glikol sebagai humektan/oklusif sintetik dapat menambah peningkatan efektifitas