• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAIDAH-KAIDAH RUMUSAN KODE ETIK PSIKOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KAIDAH-KAIDAH RUMUSAN KODE ETIK PSIKOLOGI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KAIDAH-KAIDAH RUMUSAN

KODE ETIK PSIKOLOGI

(2)

Pengertian Kode Etik

(3)

Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.

FUNGSI KODE ETIK

(4)

PRINSIP KODE ETIK PSIKOLOGI

MENURUT APA (American Psychological

Association) PRINSIP KODE ETIK PSIKOLOGI

MENURUT APA (American Psychological

Association) Prinsip 1: Mengenai Tanggung jawab

Prinsip 2: Mengenai Kompetensi

Prinsip 3: Mengenai Standar Moral dan Hukum

Prinsip 4: Mengenai Pertanyaan Publik

Prinsip 5: Mengenai Konfidensialitas Prinsip 6: Mengenai Kesejahteraaan Pengguna

Prinsip 7: Mengenai Relasi Profesional

Prinsp 8: Mengenai Penggunaan Teknik-Teknik Asesmen

Prinsip 9: Mengenai Pencarian Dalam Aktivitas Riset

Prinsip 1: Mengenai Tanggung jawab Prinsip 2: Mengenai Kompetensi

Prinsip 3: Mengenai Standar Moral dan Hukum

Prinsip 4: Mengenai Pertanyaan Publik

Prinsip 5: Mengenai Konfidensialitas Prinsip 6: Mengenai Kesejahteraaan Pengguna

Prinsip 7: Mengenai Relasi Profesional

Prinsp 8: Mengenai Penggunaan Teknik-Teknik Asesmen

Prinsip 9: Mengenai Pencarian

Dalam Aktivitas Riset

(5)

1.

Perhormatan pada harkat-martabat manusia

2.

Integritas dan sikap ilmiah

3.

Profesional

4.

Keadilan

5.

Manfaat

   Prinsip umum kode etik

psikologi dalam HIMPSI

(6)

SYARAT SYARAT

PSIKOLOGI

(7)

Tanggung Jawab Psikologi

Ilmuwan psikologi dan psikolog

mengutamakan kompetensi, obyektivitas, kejujuran, menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahlian serta

menyadari konsekuensi tindakannya.

(8)

Apabila tanggung jawab etika psikologi bertentangan dengan peraturan hukum, hukum pemerintah atau peraturan lainnya, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus menunjukkan komitmennya terhadap kode.

Apabila tuntutan organisasi dimana Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi berafiliasi atau bekerja bertentangan dengan Kode Etik Psikologi Indonesia, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib menjelaskan sifat dan jenis konflik, memberitahu komitmennya terhadap kode etik dan jika memungkinkan menyelesaikan konflik tersebut dengan berbagai cara sebagai bentuk tanggung jawab dan kepatuhan terhadap kode etik.

Pelanggaran terhadap etika profesi psikologi dapat dilakukan oleh Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi, perorangan, organisasi pengguna layanan psikologi serta pihak-pihak lain

Apabila tanggung jawab etika psikologi bertentangan dengan peraturan hukum, hukum pemerintah atau peraturan lainnya, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus menunjukkan komitmennya terhadap kode.

Apabila tuntutan organisasi dimana Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi berafiliasi atau bekerja bertentangan dengan Kode Etik Psikologi Indonesia, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib menjelaskan sifat dan jenis konflik, memberitahu komitmennya terhadap kode etik dan jika memungkinkan menyelesaikan konflik tersebut dengan berbagai cara sebagai bentuk tanggung jawab dan kepatuhan terhadap kode etik.

Pelanggaran terhadap etika profesi psikologi dapat dilakukan oleh Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi, perorangan, organisasi pengguna layanan psikologi serta pihak-pihak lain

PENYELESAIAN ISU ETIKA

(9)

 Kerjasama antara Pengurus Himpsi dan Majelis Psikologi Indonesia menjadi bahan pertimbangan dalam penyelesaian kasus pelanggaran Kode Etik.

Kerjasama tersebut dapat dilakukan dalam pelaksanaan tindakan investigasi, proses penyidikan dan persyaratan yang diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan dengan memanfaatkan sistem di dalam organisasi yang ada. Dalam pelaksanaannya diusahakan untuk menyelesaikan

permasalahan yang ada dengan tetap memegang teguh prinsip kerahasiaan

 Apabila terjadi pelanggaran Kode Etik Psikologi Indonesia, Pengurus Pusat bekerjasama dengan Pengurus Wilayah terkait dapat memberi masukan

kepada Majelis Psikologi Wilayah atau Pusat dengan prosedur sebagai berikut: a. Mengadakan pertemuan guna membahas masalah tersebut b.

Meminta klarifikasi kepada pihak yang melakukan pelanggaran c.

Berdasarkan klarifikasi menentukan jenis pelanggaran

(10)

 Majelis Psikologi akan melakukan klarifikasi pada anggota yang dipandang melakukan pelanggaran. Berdasarkan keterangan anggota yang bersangkutan dan data-data lain yang berhasil

dikumpulkan, maka Majelis Psikologi akan mengambil keputusan tentang permasalahan pelanggaran tersebut.

 Jika anggota yang diputuskan melakukan pelanggaran oleh majelis psikologi tidak puas dengan keputusan yang dibuat majelis, apabila dipandang perlu, Pengurus Pusat bekerjasama dengan Pengurus Wilayah terkait dapat mendampingi Majelis Psikologi untuk membahas masalah tersebut, baik kepada anggota yang bersangkutan maupun untuk diumumkan sesuai dengan

kepentingan.

Referensi

Dokumen terkait

(3) Pelanggaran kode etik psikologi adalah segala tindakan Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang menyimpang dari ketentuan yang telah dirumuskan dalam Kode Etik Psikologi

(3) Apabila Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi telah melakukan layanan Psikologi sesuai prosedur yang diatur dalam Kode Etik dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah

Pada Australia, Kode Etik Profesional memberikan prinsip-prinsip dan pedoman yang harus diamati oleh semua anggota Asosiasi Psikologi Klinis Australia ( ACPA ) dalam

Menurut Association for Computing Mechinary (ACM) Komitmen terhadap kode etik professional diharapkan bagi setiap anggota ACM, kode ini mencakup 24 keharuskan yang dirumuskan

(3) Pelanggaran kode etik psikologi adalah segala tindakan Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang menyimpang dari ketentuan yang telah dirumuskan dalam Kode Etik

menjalankan pekerjaannya. Kode etik bagi akuntan Islam meliputi:1) Aspek Syari’ah sebagai prinsip dasar dari kode etik akuntan, 2) Prinsip etika untuk akuntan, 3) Peraturan

3) Apabila Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi telah melakukan layanan Psikologi sesuai prosedur yang diatur dalam Kode Etik dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmiah

Kode Etik Psikologi BAB III tentang kompetensi, pasal 7 ayat 2 berbunyi “Psikolog dapat memberikan layanan sebagaimana yang dilakukan oleh Ilmuwan Psikologi serta secara khusus dapat