i
Karya Tulis Ilmiah
Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan dan Perkecambahan Biji Kacang Hijau
Disusun oleh : Daniel Stenly Chandra (09)
Erik (12)
Nicholas Kevin Sangkereng (26) Raymond Tjionardes (27)
Reynaldy Widjaja (28)
SMA KATOLIK RAJAWALI XI IPA A
2021
ii
Halaman Pengesahan
Karya Tulis
Ilmiah “Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan dan Perkecambahan Biji Kacang Hijau”Oleh :
Daniel Stenly Chandra (09) Erik (12)
Nicholas Kevin Sangkereng (26) Raymond Tjionardes (27)
Reynaldy Widjaja (28) SMA KATOLIK RAJAWALI
XI IPA A 2021
Mengetahui/Menyetujui
Pembimbing Ketua Kelompok
Beto Adhi Nugraha Raymond Tjionardes
iii
Pernyataan Keaslian Karya
Kami, yang bertanda di bawah ini, dengan ini menyatakan keaslian Karya Tulis Ilmiah kelompok kami, Kelompok 4. Hal-hal yang mirip dalam rujukan percobaan yang hampir sama dengan kelompok kami, adalah rujukan dari percobaan dan Karya Tulis Ilmiah ini.
Makassar, 23 Februari 2021,
Daniel Stenly Chandra (09) Erik (12) Nicholas Kevin Sangkereng (26) Raymond Tjionardes (27) Reynaldy Widjaja (28)
iv
Lembar Persetujuan Publikasi
Kami, yang bertanda di bawah ini, dengan ini menyatakan bahwa karya tulis ilmiah ini boleh dipublikasikan demi kepentingan bersama dan demi kemajuan ilmu pengetahuan.
Makassar, 23 Februari 2021,
Daniel Stenly Chandra (09) Erik (12) Nicholas Kevin Sangkereng (26) Raymond Tjionardes (27) Reynaldy Widjaja (28)
v
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah kami.
Adapun tujuan dari karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan dan perkecambahan biji Kacang Hijau.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Kami menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
Akhir kata, kami berharap semoga karya tulis ilmiah ini berguna bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Makassar, 23 Februari 2021
Daniel Stenly Chandra (09) Erik (12) Nicholas Kevin Sangkereng (26) Raymond Tjionardes (27) Reynaldy Widjaja (28)
vi
Abstrak
Tumbuhan adalah organisme yang unik dengan berbagai cara untuk berkembang biak, salah satunya melalui biji. Kami sebagai pelajar sekaligus sebagai manusia yang adalah bagian dari alam, ingin mengetahui bagaimana alam dan lingkungan memengaruhi perkecambahan biji suatu tanaman. Dalam percobaan yang tertuang dalam karya tulis ilmiah ini, kami akan melakukan penelitian mengenai pertumbuhan tumbuhan Kacang Hijau (Vigna radiata) dengan pengaruh suhu yang menjadi faktor utamanya.
Tujuannya ialah agar kita semua dapat memahami pengaruh apa saja yang akan terjadi pada pertumbuhan Kacang Hijau dengan suhu tertentu, dan dengan demikian, dapat menjadi rujukan bagi penelitian dan eksperimen berikutnya, dalam perkembangan Ilmu pengetahuan dan sektor Agrikultur.
Dalam penelitian ini, kami berencana akan menggunakan empat buah wadah yang akan diisi dengan biji Kacang Hijau yang diberi perlakuan suhu yang berbeda sebelum ditanam di wadah lain dan diamati perkembangannya.
Keyword :
Kacang Hijau Germinasi Endosperma
Dormansi Biji Suhu dingin
vii
Daftar Isi
Halaman Judul ... i
Halaman Pengesahan ... ii
Pernyataan Keaslian Karya ... iii
Lembar Persetujuan Publikasi ... iv
Kata Pengantar ... v
Abstrak ... vi
Daftar Isi ... vii
Bab I Pendahuluan ... 1
1.1Latar Belakang ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 2
1.3Tujuan Penelitian ... 2
1.4Manfaat Penelitian... 2
1.5Tinjauan Pustaka ... 3
1.6Landasan Teori ... 4
1.7Metode dan Teknik Penelitian ... 5
1.8Sistematika Penyajian ... 6
Bab II Isi Penelitian ... 7
Bab III Kesimpulan dan Saran ... 26
3.1Kesimpulan ... 26
3.2Saran ... 26
Daftar Pustaka ... 27
Lampiran ... 28
1
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup di lingkungan yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Tentu saja, manusia termasuk ke dalam komponen biotik, yaitu komponen yang merupakan makhluk hidup.
Selain manusia, komponen biotik lainnya yaitu, tumbuhan dan hewan yang tidak terlepas dari lingkungan hidup manusia. Baik komponen biotik maupun abiotik memiliki korelasi dan ketergantungan yang penting satu sama lain.
Terlepas dari sikap manusia yang belakangan ini seringkali semena-mena terhadap alam dengan menebang pohon sembarangan, membakar hutan, membuang sampah ke laut, dan banyak lagi yang lainnya, manusia juga memiliki rasa ingin tahu yang mendorongnya untuk melakukan observasi dan riset terhadap lingkungan hidupnya.
Sebagai pelajar di SMA Katolik Rajawali yang masuk ke bidang studi IPA, kami memiliki minat dan ketertarikan terhadap alam sekitar, terutama sesama komponen biotik, yakni tumbuhan. Tumbuhan merupakan organisme autotrof yang memiliki anatomi dan fisiologi yang unik. Tumbuhan telah menjadi salah satu penunjang kehidupan karena tumbuhan memegang peran penting sebagai penyedia sumber pangan, penghasil oksigen, penyerap karbon dioksida, bahkan pencegah bencana longsor dengan menjadikan suatu wilayah sebagai daerah resapan yang baik. Tumbuhan juga dikatakan unik karena memiliki respon dan pertumbuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meneliti dan mencari tahu, apa yang menjadi penyebab dari perbedaan pertumbuhan itu, apakah lingkungannya? Apakah frekuensi penyiraman dan pemupukan? Ataukah wadah tempat tumbuhan itu ditanam?
Berhubungan dengan hal tersebut, kami akan mengadakan penelitian terhadap biji kacang hijau yang ditanam di media yang sama namun dirawat di
2 tempat yang berbeda-beda, yakni ditumbuhkan secara langsung, diletakkan di lemari, di kulkas, dan di freezer. Dengan adanya penelitian tersebut, kita bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama ini terkait perbedaan pertumbuhan biji kacang hijau di berbagai tempat yang berbeda.
1.2 Rumusan Masalah
1. Munculnya pertanyaan akan pengaruh perubahan kondisi pada biji Kacang Hijau terhadap pertumbuhan biji Kacang Hijau menjadi tanaman dewasa.
2. Ditemukannya perubahan pada biji suatu tanaman yang masih satu divisi dengan tanaman Kacang Hijau, setelah biji tersebut diberi perlakuan lingkungan tertentu.
3. Pertanyaan mengenai kemampuan berkecambah biji Kacang Hijau apabila diberikan perlakuan yang berbeda.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui bagaimana proses perkecambahan pada biji kacang hijau.
2. Mengetahui pengaruh suhu yang berbeda pada perkembangan dan perkecambahan pada biji kacang hijau.
3. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perkembangan dan perkecambahan pada biji kacang hijau.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah dapat mengetahui efek penempatan biji kacang hijau pada suhu yang berbeda, yaitu dengan ditumbuhkan secara langsung, diletakkan di lemari, di kulkas, dan di freezer, sehingga dapat dijadikan dasar dan acuan dalam penelitian dan perkembanan berikutnya, terutama dalam sektor Ilmu pengetahuan dan Agrikultur.
3
1.5 Tinjauan Pustaka
Menurut Achmad Aziz Jauhari, Dita Ayu Juniananta, Linggar Alvinsyah T, Riz Zaidan Febriano A, Wafda Ulin Nafishah, Yosa Marinda K, pada laporan percobaan berjudul " Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau" , suhu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkecambahan kacang hijau, sehingga jika diletakkan para tempat bersuhu dingin (10 derajat celcius), maka kacang hijau tidak mampu tumbuh, Jika diletakkan pada tempat bersuhu panas (35 derajat celcius) , maka kacang hijau tumbuh tinggi namun dalam keadaan tidak sehat . Jika diletakkan pada tempat bersuhu sedang (25 derajat celcius) maka kacang hijau tumbuh dengan sangat baik.
Menurut Irkham Asrofi, Indira Diah Pitaloka, Muhammad Fakhri Qolbi,dan Zeldi Ismail S.L ,pada laporan percobaan berjudul " Pengaruh Suhu Terhadap Perkecambahan Biji Kacang Kedelai" , pertumbuhan kecambah dipengaruhi suhu dimana kacang-kacang tersebut diletakkan. Kecambah akan tubuh dengan baik pada suhu yang optimal yaitu sekitar 30-40 derajat celcius . dimana kecambah yang diletakkan di suhu yang lebih panas lebih cepat tumbuh dibanding dengan kecambah yang diletakkan di suhu ruangan
Menurut Muhammad Ardhan Rajab (2016) , perbedaan jenis air akan memperngaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan dari tanaman kacang hijau. dimana tanaman kacang hijau dengan air hujan mampu untuk tumbuh lebih cepat karena air hujan mengandung H2CO3 , ion hidrogen , dan ion bikarbonat, selain itu air hujan juga mampu melarutkan zat hara sehingga kaya akan unsur N (Nitrogen) yang baik untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau.
disisi lain tanaman kacang hijau yang disiram dengan air laut tidak mengalami pertumbuhan.
Ketiga percobaan diatas yang menjadi tinjauan pustaka kami adalah percobaan yang memiliki kemiripan dengan eksperimen kelompok kami, tetapi terdapat pula perbedaan, seperti pada percobaan yang dilakukan oleh Achmad Aziz Jauhari, Dita Ayu Juniananta, Linggar Alvinsyah T, Riz Zaidan Febriano A, Wafda Ulin Nafishah, Yosa Marinda K, pada laporan percobaan berjudul "
Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau" dimana mereka
4 melakukan pada suhu panas, ruang, dan dingin, tetapi tidak dengan suhu beku seperti yang dilakukan kelompok kami, dan pada percobaan yang dilakukan oleh Irkham Asrofi, Indira Diah Pitaloka, Muhammad Fakhri Qolbi,dan Zeldi Ismail S.L ,pada laporan percobaan berjudul " Pengaruh Suhu Terhadap Perkecambahan Biji Kacang Kedelai", bahan percobaan yang digunakan adalah Biji Kacang Kedelai, dan pada percobaan yang dilakukan oleh Muhammad Ardhan Rajab (2016), perlakuan yang diberikan ialah perbedaan jenis air yang digunakan, bukan perbedaan perlakuan suhu seperti yang dilakukan kelompok kami.
1.6 Landasan Teori
Kacang Hijau (Vigna radiata) merupakan tumbuhan dikotil dari famili Fabaceae yang banyak dibudidayakan di daerah Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Kacang hijau yang biasa beredar di pasaran merupakan biji dari Tumbuhan Kacang Hijau, yang berfungsi sebagai alat reproduksi generatif dari tumbuhan berbiji (Spermatophyta). Kacang hijau ini merupakan biji yang dalam masa dormansi, atau dapat dikatakan dalam masa hibernasi pada biji tanaman, dan akan memulai germinasi atau perkecambahan apabila terjadi stimulus tertentu pada waktu dan tempat tertentu, yang memberikan keuntungan untuk pertumbuhan tanaman, seperti kadar air di sekitar biji yang cukup.
Masa dorman pada tanaman dapat berlangsung dalam jangka waktu yang variatif, tergantung spesies tanaman. Saat bergerminasi atau berkecambah, biji tanaman akan mengolah semua cadangan makanan yang diperoleh dari tanaman induk terdahulu, untuk pertumbuhan dan perkembangannya, hingga plumula atau daun mula-mula dapat tumbuh dan mengakumulasi klorofil sehingga siap untuk melakukan proses fotosintesis (pada kasus perkecambahan epigeal seperti pada Kacang Hijau, hingga kotiledon 'naik' ke atas permukaan tanah bersama dengan sistem tunas, dan berperan sebagai organ fotosintesis sementara daun sejati pertama berkembang) dan radikula atau akar mula-mula sudah tertanam ke substrat (tanah) dan siap menopang tubuh tumbuhan serta melakukan penyerapan air dan zat hara dari dalam tanah. Germinasi terjadi setelah biji
5 tanaman terhidrasi dengan cukup, dan biji menyerap air, maka setelah penyerapan tersebut, terjadi pelepasan hormon Gibberellin (GA) yang mengirim 'sinyal' menuju aleuron, lapisan tipis di sebelah luar endosperma.
Lapisan aleuron ini merespon sinyal gibberellin dengan melepas enzim-enzim yang menghidrolisis nutrisi yang disimpan dalam endosperma, seperti pati yang dihirolisis oleh enzim α-amylase menjadi gula yang siap diserap bersama nutrisi lainnya oleh kotiledon dan akan dialokasikan selama pertumbuhan embrio.
Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi germinasi biji yaitu kondisi dingin atau suhu rendah dalam periode waktu tertentu.
1.7 Metode dan Teknik Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, dimana langkah percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Takar biji kacang hijau pada wadah berukuran sedang, dengan jumlah dan massa yang sama. Kemudian, biji-bijian yang sudah ditakar, ditimbang dan dipastikan massa, jumlah dan volumnya sama antar satu wadah dengan wadah lainnya.
2. Buatlah pembagian 4 wadah, dimana :
• Wadah pertama untuk langsung ditumbuhkan
• Wadah kedua untuk diletakkan di lemari (Suhu ruang)
• Wadah ketiga diletakkan di kulkas/kamar (Suhu dingin)
• Wadah keempat diletakkan di freezer (Suhu beku/minus)
3. Pada wadah yang pertama, semua biji kacang hijau dipindah ke wadah tanam (berlabel wadah #1) yang sudah diberi kapas dan air secukupnya.
4. Sedangkan pada wadah yang kedua, ketiga dan keempat, disimpan di tempat yang sesuai dengan deskripsi di atas selama 3-4 hari.
5. Sesudah disimpan 3-4 hari, biji-bijian dalam wadah kedua, ketiga, dan keempat dikeluarkan dari tempat penyimpanan, lalu ditimbang massanya, dan dibandingkan dengan sebelum disimpan.
6 6. Setelah ditimbang, maka masing-masing biji yang terdapat pada masing-
masing wadah dipindahkan ke wadah tanam yang telah diberi kapas dan air secukupnya, dan wadah tanam yang digunakan diberi label yang membedakan masing-masing perlakuan terhadap biji-biji sebelumnya.
7. Langkah penanaman dilakukan dengan memindahkan biji-bijian dari wadah penyimpanan ke wadah yang sudah disediakan kapas dan air, serta diberi label masing-masing, dan setelah biji-bijian tersebut diletakkan, maka wadah penanaman ditutup, tetapi dengan meninggalkan beberapa lubang pada tutup wadah agar ada akses untuk pertukaran udara, dan wadah-wadah tersebut kemudian disimpan di tempat gelap dengan kelembapan dan suhu ruang selama 2-3 hari.
8. Setelah 2-3 hari berlalu, wadah penanaman dibuka kembali, dan dilihat serta diukur, panjang kecambah (tunas-akar) yang tumbuh, dan perbandingan antara kecambah yang berhasil tumbuh dengan yang tidak berhasil di masing-masing wadah. Usahakan, percobaan dilakukan lebih dari dua kali agar mendapat hasil yang signifikan.
Semua data yang telah diambil selama proses percobaan tadi, dimasukkan dan diolah dalam Ms. Excel, menghasilkan hasil grafik, kurva, dan/atau table sebagai hasil percobaan, yang akan diinterpretasi dalam karya tulis ilmiah.
1.8 Sistematika Penyajian
Karya tuis ilmiah ini disusun dan disajikan secara deskripsi dimana terdapat Bab I yang berisi pendahuluan, Bab II yang berisi isi, dan Bab III yang berisi penutup yang disusun secara berurutan dan sistematik.
7
Bab II Isi Penelitian
Percobaan dilakukan dengan metode yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, dan memakan waktu kurang lebih tujuh (7) hari, mulai dari persiapan hingga pengolahan data. Percobaan dilakukan secara terpisah di rumah masing- masing anggota kelompok, dan setiap anggota memilih perlakuan yang berbeda, dimana Erik (12) memilih perlakuan control dengan penanaman langsung tanpa perlakuan apapun, Raymond Tjionardes (27) memilih perlakuan penyimpanan pada suhu ruang sebelum penanaman, Nicholas Kevin Sangkereng (26) memilih perlakuan penyimpanan di dalam kulkas sebelum penanaman, dan Reynaldy Widjaja (28) memilih perlakuan penyimpanan dalam freezer sebelum penanaman.
Berikut ini dokumentasi rinci dari masing-masing tahap percobaan hingga pengolahan data yang dilakukan.
1) Dokumentasi pengukuran massa sebelum perlakuan penyimpanan pada suhu ruang, kulkas, dan freezer.
a) Dokumentasi pengukuran massa biji-biji Kacang Hijau sebelum perlakuan penyimpanan pada suhu ruang.
8 b) Dokumentasi pengukuran massa biji-biji Kacang Hijau sebelum
perlakuan penyimpanan di dalam kulkas.
c) Dokumentasi pengukuran massa biji-biji Kacang Hijau sebelum perlakuan penyimpanan di dalam freezer.
9 Meski diberi perlakuan yang berbeda, kami sepakat menetapkan standar massa dan waktu perlakuan pada biji-biji Kacang Hijau yang digunakan dalam percobaan dan penelitian ini, yakni sebesar 10 gram dan dilakukan selama tiga (3) hari untuk masing-masing perlakuan.
2) Dokumentasi pengukuran massa sesudah perlakuan penyimpanan pada suhu ruang, kulkas, dan freezer.
a) Dokumentasi pengukuran massa biji-biji Kacang Hijau sesudah perlakuan penyimpanan pada suhu ruang.
10 Setelah perlakuan penyimpanan biji-bijian pada suhu ruang selama tiga (3) hari, tidak terjadi perubahan massa yang signifikan, sehingga kami menganggap massa sesudah perlakuan adalah sama dengan massa sebelum perlakuan, yakni 10 gram.
b) Dokumentasi pengukuran massa biji-biji Kacang Hijau sesudah perlakuan penyimpanan pada kulkas.
Setelah perlakuan penyimpanan pada kulkas selama tiga (3) hari, diamati terjadi penambahan massa pada biji-bijian sebesar 5 gram, sehingga massa total akhir setelah perlakuan dan sebelum penanaman menjadi 15 gram. Pengamatan ini disertai laporan dari Nicholas Kevin Sengkereng (26) yang melakukan percobaan dengan perlakuan penyimpanan pada kulkas ini, yang mengatakan bahwa terdapat embun atau sedikit air pada biji-bijian setelah dikeluarkan dari kulkas, mengindikasikan bahwa kondisi lembab dan sejuk pada kulkas mengembunkan uap air yang berasal dari isi kulkas yang lainnya, hingga berkumpul pada biji-bijian yang digunakan dalam eksperimen ini dan menyebabkan kenaikan massa total dan terjadinya kontaminasi pada sampel yang diamati.
11 c) Dokumentasi pengukuran massa biji-biji Kacang Hijau sesudah
perlakuan penyimpanan pada freezer.
Setelah diberi perlakuan penyimpanan selama kurang lebih tiga (3) hari dalam freezer dan dikeluarkan lalu ditimbang dan diamati perubahan massanya, hasil pengukuran menunjukkan penurunan massa pada biji-bijian sebesar 1 gram dari semula 10 gram menjadi 9 gram.
12 3) Dokumentasi penanaman pada perlakuan control (tidak diberi perlakuan penyimpanan apapun), penyimpanan pada suhu ruang, penyimpanan pada kulkas, dan penyimpanan pada freezer.
a) Dokumentasi penanaman pada perlakuan control.
b) Dokumentasi penanaman setelah perlakuan penyimpanan pada suhu ruang.
13 c) Dokumentasi penanaman setelah perlakuan penyimpanan di dalam
kulkas.
d) Dokumentasi penanaman setelah perlakuan penyimpanan di dalam freezer.
14 Pada bagian penanaman ini, metode penanaman yang kami gunakan sedikit berbeda dengan yang tertulis dalam metode di bagian sebelumnya dan pada proposal kami, dimana kami memperluas jenis wadah tanam yang kami gunakan, bukan hanya toples yang diisi kapas atau tisu yang dibasahkan namun juga pot tanam, dengan syarat media tanam yang digunakan diletakkan dalam tempat yang gelap dan kondisi media yang lembab demi memicu terjadinya germinasi pada biji.
Hal demikian kami lakukan mengingat akan keterbatasan wadah botol plastic pada beerapa rekan kelompok kami, sehingga kami memperluas batasan untuk media tanam yang digunakan.
Selang tiga (3) hari penanaman, biji-bijian yang sudah ditanam dikeluarkan dari media tanam, kecambahnya dijejerkan bersama penggaris, lalu dipotret sebelum kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan aplikasi ImageJ dan pengolahan data di Microsoft Excel. Berikut adalah potret dari beberapa kecambah yang sudah dijejerkan dan siap untuk diukur panjangnya.
15 a) Potret jajaran kecambah dari perlakuan control
b) Potret jajaran kecambah dari perlakuan penyimpanan pada suhu ruang
c) Potret jajaran kecambah dari perlakuan penyimpanan dalam kulkas
16 d) Potret jajaran kecambah dari perlakuan penyimpanan dalam freezer
4) Setelah dijajarkan dilakukan pengukuran dan pengolahan data, seperti pada dokumentasi berikut:
17 Grafik yang kami gunakan menggunakan perhitungan rata-rata dari seluruh data yang kami ambil untuk menyamakan perhitungan dari jumlah sampel berbeda yang diambil untuk tiap perlakuan, dan di setiap grafik batang yang menyimbolkan nilai rata-rata terdapat satu batang tambahan yang disebut sebagai simpangan baku, yang merupakan ukuran persebaran data percobaan.
Berikut adalah hasil pengolahan data yang disajikan dalam table dan grafik beserta keterangan dari masing masing data.
• Keterangan jenis perlakuan pada data :
Control : Co
Suhu Ruang : Sr
Kulkas : Kl
Freezer : Fz
1) Tabel sampel hasil pengukuran sebelum pengolahan data
Perlakuan : Co
Nomor Panjang Kecambah (cm)
1 2.075
2 0.557
3 0.422
4 0.370
5 1.241
6 0.422
7 0.485
8 6.225
9 8.394
10 4.616
11 6.889
12 3.798
13 5.945
14 3.825
15 4.920
16 5.045
17 4.844
18 3.373
19 4.569
20 5.350
18
21 4.485
22 5.871
23 5.554
24 5.743
25 4.014
26 7.303
27 4.062
28 7.218
29 6.305
30 4.354
31 6.637
32 4.923
33 3.878
Perlakuan : Sr
Nomor Panjang Kecambah (cm)
1 3.479
2 4.219
3 2.687
4 4.740
5 3.104
6 2.939
7 3.193
8 3.580
9 3.785
10 3.895
11 3.865
12 4.316
13 4.366
14 3.802
15 5.307
16 3.998
17 3.771
18 5.486
19 3.606
20 3.809
19
Perlakuan : Kl
Nomor Panjang Kecambah (cm)
1 3.176
2 4.564
3 5.727
4 3.621
5 4.283
6 4.514
7 5.191
8 4.469
9 3.233
10 2.695
11 5.351
12 9.094
13 3.828
14 2.826
15 3.512
16 1.894
17 3.341
18 3.352
19 8.241
20 6.318
21 4.953
22 8.552
23 9.337
24 4.748
25 6.244
26 6.251
27 7.346
28 5.741
29 6.407
30 9.670
31 3.636
32 3.518
33 3.364
34 3.447
35 3.181
36 2.864
37 2.554
38 1.472
39 1.022
40 1.043
41 0.794
20
42 0.304
43 1.629
44 1.404
45 1.498
46 1.406
47 1.329
48 0.672
49 1.300
50 1.112
51 2.067
52 1.295
53 0.533
54 1.070
55 1.138
56 1.390
57 1.085
58 1.159
59 1.969
Perlakuan : Fz
Nomor Panjang Kecambah (cm)
1 7.492
2 6.515
3 4.212
4 4.730
5 3.116
6 2.626
7 2.785
8 9.066
9 5.522
10 6.776
11 6.896
12 4.258
13 2.795
14 7.156
15 3.546
16 6.881
17 6.939
18 5.864
19 5.902
20 7.493
21 6.800
22 6.025
23 4.737
21
24 3.326
25 4.907
26 4.042
27 4.244
28 4.192
29 3.511
30 4.204
31 4.467
32 4.461
33 3.994
34 5.120
35 6.470
36 2.717
37 6.154
38 3.441
39 6.814
40 4.336
41 6.036
42 4.246
43 2.371
44 5.175
2) Perubahan massa yang diamati pada biji setelah masing-masing perlakuan a) Table perbandingan massa pada biji sebelum dan setelah perlakuan
Perlakuan Massa biji sebelum perlakuan (gram)
Massa biji sesudah perlakuan (gram)
Perubahan massa biji
(gram)
Simpangan baku
Co 10 n/a 0 0
Sr 10 10 0 0
*Kl 10 15 5 3.535533906
Fz 10 9 -1 0.707106781
*Perlakuan Kl mengalami penambahan massa sebesar 5 gram menjadi 15 gram, disebabkan oleh kontaminasi uap air di dalam tempat penyimpanan, seperti yang sudah dijelaskan di bagian atas.
22 b) Grafik perubahan massa pada biji setelah perlakuan
Yang menjadi pusat perhatian kami dari data perubahan massa biji-bijian setelah perlakuan ini ialah penurunan massa sebesar 1 gram pada biji-biji yang telah dikeluarkan dari freezer, dimana hal ini mengindikasikan bahwa terjadi sedikit penggunaan endosperma, yang tidak lain adalah cadangan makanan pada biji-bijian selama 3 hari penyimpanan, demi menjaga kelangsungan hidup embrio. Hal ini menunjukkan adanya regulasi adaptasi biji pada suhu yang ekstrim seperti dalam freezer.
-4 -2 0 2 4 6 8 10
Co Sr *Kl Fz
Perubahan massa biji (gram)
Jenis Perlakuan
23 3) Persentase biji yang berhasil tumbuh atau bergerminasi
a) Table perbandingan persentase biji yang berhasil tumbuh dengan yang tidak
Perlakuan Persentase biji yang tumbuh
Persentase biji yang
tidak tumbuh Simpangan baku
Co 100% n/a 0
Sr 87% 13% 0.523259018
Kl 48.7179% 51.28% 0.018130925
Fz 62.50% 37.50% 0.176776695
b) Grafik perbandingan persentase biji yang berhasil tumbuh (bergerminasi)
0%
20%
40%
60%
80%
100%
120%
140%
Co Sr Kl Fz
Persentase biji yang tumbuh (%)
Jenis Perlakuan
24 4) Rata-rata panjang kecambah
a) Table rata-rata panjang kecambah
Perlakuan Rata-rata panjang kecambah (cm) Simpangan baku
Co 4.354910 2.207210
Sr 3.897350 0.712500
Kl 3.520920 2.440610
Fz 5.053636 1.607985
b) Grafik rata-rata panjang kecambah
Dari hasil pengamatan dan analisa terhadap grafik persentase biji yang berhasil bergerminasi dan panjang kecambah yang dihasilkan, membuktikan teori yang telah kami kemukakan dan cantumkan dalam proposal kami dan pada awal Karya Tulis Ilmiah ini, dimana suhu dingin memicu germinasi pada biji tanaman, hal ini nampak dari persentase kecambah yang berhasil bergerminasi dari perlakuan penyimpanan dalam freezer selama tiga hari yang tidak beda jauh dengan perlakuan penyimpanan pada suhu normal, bahkan rata-rata panjang kecambah tertinggi berasal dari biji-biji hasil perlakuan penyimpanan dalam freezer, dengan nilai maksimum dari persebaran datanya yang kurang lebih sama dengan nilai maksimum persebaran data pada perlakuan control.
0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0
Co Sr Kl Fz
Rata-rata panjang kecambah (cm)
Jenis Perlakuan
25 Sebenarnya, hasil yang mirip juga bisa kami dapatkan melalui perlakuan penyimpanan pada kulkas selama tiga hari, namun diakibatkan kontaminasi embun air dari tingkat kelembapan yang tinggi yang mengakibatkan pertambahan massa total sampel setelah diberi perlakuan, kemungkinan besar menurunkan persentase biji yang berhasil bergerminasi dan menurunkan rata-rata panjang kecambah pada biji. Sekalipun demikian, hasil yang mendekati pembuktian teori awal tetap dapat kita lihat melalui sebaran data pada perlakuan dengan penyimpanan di dalam kulkas selama tiga hari, dimana panjang kecambah maksimal mendekati nilai maksimum panjang kecambah baik pada perlakuan control maupun perlakuan penyimpanan dalam freezer.
26
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 KESIMPULAN
Dari percobaan, penelitian, dan analisis yang kami lakukan, kami memperoleh kesimpulan dan pembuktian dari teori yang mengatakan bahwa germinasi biji pada tumbuhan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal sekitar biji, salah satunya adalah suhu, dimana dalam teori tersebut salah satu faktor yang dapat memicu germinasi atau pertumbuhan biji ialah suhu yang dingin, dan hal ini terbukti melalui hasil perhitungan, analisis dan interpretasi kami terhadap percobaan yang kami lakukan pada bagian sebelumnya.
Percobaan ini juga menghasilkan kesimpulan bahwa semakin dingin suhu perlakuan yang diberikan kepada biji-bijian, maka semakin banyak terjadi penurunan massa total biji, tetapi di saat yang sama, suhu ekstrem juga meningkatkan probabilitas germinasi biji dan kesintasannya untuk jangka waktu yang lebih lama.
3.2 SARAN
Saran yang dapat kami sampaikan bagi pembaca atau siapapun yang membaca Karya Tulis Ilmiah ini, khususnya bagi yang berniat untuk melanjutkan dan mengembangkan penelitian yang kami telah lakukan, ialah agar sebaiknya penelitian ini dilanjutkan dan dikembangkan dalam skala yang lebih luas dan kondisi yang lebih bervariatif lagi, serta dengan pengaturan kelembapan atau humiditas yang lebih presisi, sehingga kedepannya dapat lebih menyempurnakan hasil tema, interpretasi, dan simpulan yang kami dapat dalam percobaan dan penelitian ini.
27
Daftar Pustaka
Urry, Lisa A. et. all. 2020. Campbell Biology: Twelfth Edition. London: Pearson.
Taiz, Lincoln and Eduardo Zeiger. 2002. Plant Physiology:Third Edition.
Sunderland, Massachusetts: Sinauer Associates.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6627095/ (2 Februari 2021)
28
Lampiran
29