MASA DEPAN MASYARAKAT DAYAK DI IKN: PERAN HUNIAN CERDAS DALAM PENINGKATAN KUALITAS
HIDUP
Kristidesi, ST
Balai Prasarana Permukiman Wilayah Kalimantan Tengah
ABSTRAK
Perpindahan ibu kota negara Indonesia ke Kalimantan Timur merupakan langkah monumental dalam sejarah bangsa, yang membawa tantangan dan peluang bagi masyarakat lokal, khususnya suku Dayak. Sebagai etnis asli Kalimantan dengan sejarah dan budaya yang kaya, suku Dayak berhadapan dengan kesempatan untuk mendapatkan pengakuan nasional dan berkontribusi dalam pembangunan ibu kota baru. Namun, modernisasi dan urbanisasi yang cepat menimbulkan tantangan dalam pelestarian budaya dan lingkungan mereka. Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) dengan konsep smart city menawarkan peluang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Dayak melalui penerapan konsep hunian cerdas. Teknologi modern seperti smart building diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan, efisiensi energi, dan keamanan, serta mendukung pelestarian budaya melalui fasilitas yang memungkinkan pelaksanaan tradisi dalam konteks modern. Tantangan utamanya termasuk kesenjangan digital antara masyarakat perkotaan dan masyarakat Dayak, yang membatasi akses pendidikan dan ekonomi bagi masyarakat Dayak, Adaptasi budaya dalam rangka memastikan bahwa teknologi yang diperkenalkan tidak merusak nilai-nilai budaya lokal, melainkan mendukung dan memperkaya kehidupan masyarakat. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia dalam teknologi Dengan pendekatan inklusif dan berkelanjutan. Harapannya IKN dapat menjadi model kota masa depan yang harmonis, mengintegrasikan modernisasi dengan penghormatan terhadap kearifan lokal.
Kata kunci : Suku Dayak, Smart City, Hunian Cerdas, Teknologi Smart Building.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perpindahan ibu kota negara Indonesia ke Kalimantan Timur menjadi momentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Di balik perubahan besar ini, terdapat tantangan dan peluang yang perlu diperhatikan, terutama bagi masyarakat lokal seperti suku Dayak. Mereka adalah salah satu etnis asli yang memiliki sejarah panjang dan kaya budaya di pulau Kalimantan.
Perubahan ini menawarkan kesempatan bagi suku Dayak untuk lebih dikenal dan dihargai dimata nasional juga membuka jalan bagi mereka untuk berkontribusi dalam pembangunan ibu kota baru. Namun, mereka juga menghadapi tantangan dalam menjaga kelestarian budaya dan lingkungan mereka di tengah derasnya arus modernisasi dan urbanisasi. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa pembangunan ini dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan serta menghormati hak-hak serta kearifan lokal masyarakat Dayak.
Sebagai seorang perempuan Dayak yang tumbuh besar dalam budaya masyarakat Dayak yang kental, saya selalu merasa bahwa dibandingkan lokasi lain di nusantara, pembangunan di Bumi Kalimantan cenderung tertinggal, baik itu pembangunan fisik maupun kualitas manusianya.
Budaya masyarakat Dayak sesungguhnya sangat kaya dan belum banyak digali, terutama harmonisasi antara adat, kebiasaan, dan tradisi mereka dengan alam. Dalam wacana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN), sejujurnya ada rasa khawatir jika nantinya masyarakat Dayak akan terpinggirkan dan budaya mereka yang kaya perlahan akan hilang. Pembangunan yang masif sering kali mengorbankan nilai-nilai tradisional, dan tanpa upaya yang serius untuk melibatkan serta melestarikan kebudayaan lokal, ada risiko besar bahwa warisan budaya Dayak yang unik akan terkikis oleh arus modernisasi.
Secara umum masyarakat Dayak dikenal dengan kearifan lokal dan budaya yang kuat.
Mereka hidup dalam harmoni dengan alam, memanfaatkan sumber daya secara turun temurun dan berkelanjutan, dan memiliki struktur sosial yang unik. Namun, dengan adanya pembangunan ibu kota baru, masyarakat Dayak menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas dan kelangsungan hidup mereka dalam konteks tradisi dan adat istiadat. Proses urbanisasi dan modernisasi yang cepat dapat mengancam cara hidup tradisional mereka.
IKN (Ibu Kota Negara) dirancang sebagai sebuah kota modern dan pintar (smart city) yang akan menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia. Salah satu elemen kunci dalam pengembangan IKN adalah konsep hunian cerdas atau smart living. Masyarakat Dayak, sebagai warga lokal yang akan tinggal bersama di kota baru ini akan terpapar langsung oleh pengembangan kota dan pembangunan infrastruktur modern disini. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami bagaimana smart living dapat berperan dalam meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan mengintegrasikan teknologi modern seperti smart building diharapkan dapat memberikan kenyamanan, efisiensi energi, dan keamanan yang lebih baik. Selain itu, hunian cerdas juga dapat mendukung pelestarian budaya Dayak melalui fasilitas yang memungkinkan penghuninya untuk tetap menjalankan tradisi dan kegiatan budaya mereka dalam lingkungan yang lebih modern dan terhubung. Integrasi ini akan menjadikan IKN sebagai model kota masa depan yang harmonis, menggabungkan modernisasi dengan penghormatan terhadap kearifan lokal.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi kehidupan masyarakat Dayak di IKN?
2. Apa saja elemen hunian cerdas yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Dayak?
3. Apa tantangan dan peluang dalam implementasi hunian cerdas di IKN?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran hunian cerdas dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Dayak di IKN.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi para perencana kota, pemerintah, dan masyarakat mengenai pentingnya hunian cerdas dalam konteks kehidupan masyarakat Dayak di IKN.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Masyarakat Dayak dan Budaya Mereka
Dayak digunakan sebagai nama kolektif untuk suku bangsa asli pulau Kalimantan (termasuk juga wilayah Sabah serta Serawak Malaysia). Istilah Dayak mengacu pada asal kata ‘Daya’ yang berarti hulu, dengan merujuk kebiasaan masyarakat tersebut bermukim di wilayah hulu sungai daerah pedalaman. Kehidupan mistis, tinggal di pedalaman, bertato, aksesoris pakaian yang cantik, dan perempuan berparas cantik sudah sejak lama melekat sebagai identitas suku Dayak.
Dayak merupakan sebutan kolektif dari ratusan sub etnis yang ada. Perbedaan adat istiadat, daerah tinggal, bahasa dan kebiasaan menjadi beberapa acuan pemberian nama pada setiap sub. Nama ini biasanya exonym atau merupakan nama julukan dari orang luar kelompok mereka.
Penggolongan H.J. Malinckrodt (1928) yang dipaparkan oleh F. Ukur (1971) menyebutkan bahwa terdapat enam rumpun suku Dayak yang dikenal sebagai stammenras, yang terdiri dari 1) Kenya, Kayan, Bahau; 2) Ot Danum; 3) Iban; 4) Klemantan; 5) Dayak Moerot; dan 6) Poenan. Pendapat berbeda, dikemukakan bahwa suku Dayak dikelompokkan menjadi tujuh kelompok yakni Ngaju, Apukayan, Iban, Klemantan (Dayak darat), Murut, Punan dan Danun.
Masyarakat suku Dayak memiliki kehidupan yang sangat kaya akan budaya dan tradisi. Secara umum, masyarakat Dayak hidup dalam komunitas yang terdiri dari beberapa rumah adat yang disebut dengan “longhouse”. Longhouse ini merupakan bangunan besar yang dapat menampung beberapa keluarga dalam satu bangunan. Di dalam longhouse, setiap keluarga memiliki ruang tidur dan dapur tersendiri namun menggunakan ruang terbuka yang sama untuk berinteraksi dengan anggota komunitas lainnya.
Masyarakat suku Dayak memiliki sistem sosial yang kuat dimana mereka hidup dalam komunitas yang saling mendukung dan bekerja sama. Mereka memegang teguh nilai-nilai adat dan tradisi yang turun-temurun, seperti upacara adat, tari-tarian tradisional, permainan tradisional, serta kepercayaan animisme dan dinamisme. Selain itu, masyarakat suku ini juga memiliki kebiasaan berburu, bercocok tanam, dan berkebun sebagai sumber kehidupan utama mereka. Mereka juga melakukan pertukaran barang dagangan dengan suku-suku lainnya serta berdagang hasil pertanian mereka di pasar-pasar tradisional.
Sistem kepemimpinan suku Dayak biasanya dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut dengan “pemangku adat” atau “datu”. Pemangku adat ini bertugas untuk memfasilitasi kegiatan masyarakat, menjaga keharmonisan sosial, serta memimpin upacara adat dan ritual keagamaan.
Meskipun hidup di pedalaman hutan yang terpencil, masyarakat suku ini memiliki kehidupan yang harmonis dengan alam sekitar. Mereka membudayakan kebersihan lingkungan serta menjaga keanekaragaman hayati demi keberlanjutan hidup mereka.
Gambar 1: Masyarakat Dayak dan Budayanya
Sumber : Pinterest
B. Konsep Hunian Cerdas (Smart Living)
(Rapoport 1969) memaparkan bahwa manusia sebagai penghuni, rumah, budaya serta lingkungannya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan . sebuah rumah adalah sebuah gejala struktural yang bentuk dan organisasinya dipengaruhi oleh lingkungan budaya dan erat hubungannya dengan kehidupan penghuninya. Sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara penghuni dan rumahnya, dan keduanya dapat saling mempengaruhi.
Istilah “smart living” sering disebut dalam konteks Internet of Things (IoT) atau smart home. Hadirnya smart living disinyalir akan memberikan lebih banyak kenyamanan, keamanan dan efisiensi energi dalam kehidupan sehari-hari, melalui digitalisasi dan interkonektivitas perangkat. Smart living bisa dikatakan sebagai konsep teknologi baru dalam sebuah hunian, sekaligus sebagai jawaban konkrit untuk mengatasi minimnya ruang dan lahan terutama pada desain hunian kontemporer. Tujuan utama hadirnya konsep ini adalah menciptakan rumah pintar, untuk menunjang gaya hidup keluarga yang sehat dan menyenangkan. Dalam cangkupan teknologi, kehidupan pintar dapat di implementasi ke beberapa kategori yang mencangkup smart mobility, smart energy, smart infrastructure, smart health dan lainnya
Smart living pada hakikatnya berupa otomasi pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari rumah atau hunian (Smart home), transportasi (Transportation), hingga cakupan keseluruhan kota (smart city). Smart home technology atau teknologi rumah pintar, merujuk pada sistem pengaturan rumah yang nyaman, di mana peralatan IoT dapat dikontrol secara otomatis dari jarak dekat ataupun jauh, dari mana saja sejauh ada koneksi internet. Sistem Smart Home ini menggunakan perangkat telephone pintar ataupun perangkat jaringan lainnya – seperti tablet, Laptop, komputer ataupun device pintar lainnya. (Akbar, 2020)
Hunian cerdas mengintegrasikan teknologi digital dan ramah lingkungan untuk menciptakan lingkungan tempat tinggal yang efisien, nyaman, dan aman. Komponen utamanya meliputi smart building, sistem energi terbarukan, dan otomatisasi rumah. Smart building memanfaatkan sensor dan perangkat IoT untuk mengoptimalkan penggunaan energi dan meningkatkan keamanan, sementara sistem energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin memastikan pasokan energi yang berkelanjutan. Otomatisasi rumah memungkinkan
penghuni untuk mengontrol berbagai aspek rumah, seperti pencahayaan, suhu, dan keamanan, melalui perangkat pintar. Dengan demikian, hunian cerdas tidak hanya menawarkan kenyamanan dan efisiensi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
Gambar 2. Konsep hunian cerdas
Sumber: Pinterest
C. Teknologi Smart Building
Smart building adalah bangunan yang menggunakan teknologi untuk mengelola sumber daya secara efisien, termasuk energi, air, dan limbah. Teknologi ini memungkinkan pengaturan otomatisasi yang canggih, seperti sistem pencahayaan dan pengaturan suhu yang dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan penghuni, serta deteksi kebocoran air atau kebakaran secara real-time. Dengan adanya teknologi ini, smart building dapat mengurangi konsumsi energi dan biaya operasional, serta meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya.
Bangunan pintar bukanlah sebuah produk akan tetapi suatu pendekatan desain dengan pemikiran jauh ke depan, yaitu menerapkan paduan harmonis antara otomasi, komunikasi, dan perencanaan lingkungan agar tercipta bangunan komersial/perkantoran yang benar - benar baik.
Selain seluruh komponen gedung dirancang agar fleksibel dan terpadu, sistemnya juga diatur supaya benar-benar ekonomis dan efektif (Hendrananta & Thahir, 2019).
Bangunan pintar menerapkan integrasi teknologi berupa suatu perangkat berteknologi otomatisasi yang hemat enegi meliputi utilitas, keamanan, dan telekomunikasi bangunan yang memungkinkan dapat di program sesuai kebutuhan dan dapat dikontrol secara terpusat dan dilakukan otomatis. Sebuah bangunan pintar memiliki sistem pengendalian otomatis, dimana pemilik maupun pengguna bangunan dapat menikmati keuntungan secara finansial dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan maupun pengelolaan. Untuk memenuhi hal-hal tersebut diatas, sebuah bangunan pintar harus memenuhi tiga persyaratan utama yaitu (Wong & Wang 2005):
a) Bangunan harus memiliki sistem otomasi terkini untuk memantau berbagai macam fasilitas yang diperlukan, seperti pendingin udara, ventilasi, pencahayaan, keamanan kebakaran dan
sebagainya, sehingga tercipta suasana lingkungan yang nyaman dan aman bagi para pengguna;
b) Bangunan harus memiliki infrastruktur jaringan yang baik antar lantai gedung, sehingga arus data dapat dialirkan dengan lancar;
c) Bangunan harus menyediakan fasilitas telekomunikasi yang memadai.
Gambar 3. Konsep smart building
Sumber : AI Image Generator
D. Implementasi smart living di Ibu Kota Negara (IKN)
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara telah menetapkan bahwa ibu kota negara Indonesia akan pindah dari Jakarta ke Nusantara yang terletak di Kalimantan Timur. Rencana pembangunan Ibu Kota Nusantara dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Perincian Rencana Induk Ibu Kota Nusantara (Perpres 63/2022).
Peraturan tersebut menjelaskan bahwa prinsip dasar pengembangan kawasan ibu kota menggabungkan tiga konsep pembangunan perkotaan, yaitu kota hutan, kota spons, dan kota cerdas. Kota cerdas adalah pendekatan yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, pengelolaan data perkotaan, dan teknologi digital untuk merencanakan dan mengelola fungsi inti perkotaan secara efisien, inovatif, inklusif, dan tangguh.
IKN (Ibu Kota Negara) dirancang sebagai sebuah kota modern dan pintar (smart city) yang akan menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia. Beberapa tujuan utama dalam perancangan IKN meliputi:
1. Sentralisasi Pemerintahan: memindahkan pusat administrasi negara dari Jakarta ke IKN untuk mengurangi beban Jakarta yang sudah terlalu padat.
2. Pembangunan Berkelanjutan: mengembangkan kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi hijau dan praktik pembangunan yang mengedepankan konservasi energi serta pelestarian lingkungan.
3. Smart City: memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk meningkatkan efisiensi operasional, membagikan informasi kepada publik, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
4. Konektivitas dan Infrastruktur Modern: membangun infrastruktur modern yang terintegrasi, termasuk transportasi, energi, dan sistem komunikasi yang canggih.
5. Inklusivitas dan Kesejahteraan Sosial: menciptakan lingkungan yang inklusif dan berkeadilan bagi semua penduduk
Adapun konsep desain IKN mengacu pada 5 prinsip sebagai berikut:
1. Smart Workplace atau kota yang menjunjung tinggi kolaborasi dan keterhubungan antar semua pihak. Dengan menerapkan desain kompleks pemerintahan yang terkonsolidasi dan terkoneksi antar bangunan, akan mewujudukan lingkungan kerja yang sehat, people oriented, perkantoran dengan konsep hijau dan berkinerja tinggi.
2. Smart Living yang merupakan kota dengan mengedepankan kehidupan kompak berkinerja tinggi, efisien dan livable sehingga mewujudkan hunian Inklusif berbasis komunitas.
3. Smart Mobility dan Transportation yang diartikan sebagai ibu kota berbasis transit, mengutamakan pergerakan cepat, efisien dan sehat bagi warga kota yang ditunjang dengan 80 persen transit transportasi publik, iklim kondusif untuk pejalan kaki, serta mengadaptasi smart transport dan autonomous system.
4. Smart Nature Preservation atau kota yang tetap menjaga ekosistem alam dan hidup bersinergi dengan alam, misalnya meningkatkan kekayaan dan keberagaman flora dan fauna dan mengembangkan botanical garden dan International Center for Tropical Forestry.
5. Smart Transformation of Nation and Culture atau kota dengan mengedepankan kehidupan berbangsa dan berbudaya melalui ruang-ruang simbolis bersama untuk merayakan kesatuan dan kebhinnekaan nusantara.
Gambar 4. Konsep smart city
Sumber : AI Image Generator
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami dan menganalisis peran hunian cerdas dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Dayak di Ibu Kota Negara (IKN).
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena bertujuan untuk menggali secara mendalam fenomena sosial dan budaya yang kompleks terkait dengan hunian cerdas dan masyarakat Dayak. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih holistik tentang pengalaman, persepsi, dan pandangan masyarakat Dayak terhadap hunian cerdas.
B. Metode Studi Kasus
Metode studi kasus dipilih karena memberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap satu atau beberapa kasus tertentu dalam konteks nyata. Studi kasus dalam penelitian ini akan difokuskan pada masyarakat Dayak yang tinggal di Ibu Kota Negara, dengan tujuan memahami bagaimana implementasi konsep hunian cerdas dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka.
C. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Ibu Kota Negara (IKN), khususnya di wilayah permukiman yang dihuni oleh masyarakat Dayak. Lokasi ini dipilih karena IKN merupakan proyek pembangunan baru yang mengintegrasikan konsep hunian cerdas, sehingga relevan untuk mengkaji dampaknya terhadap masyarakat lokal.
Subjek penelitian ini adalah anggota masyarakat Dayak yang tinggal di IKN. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, dengan mempertimbangkan keterlibatan mereka dalam hunian cerdas dan representasi yang memadai dari berbagai kelompok masyarakat Dayak (misalnya, berdasarkan usia, jenis kelamin, status sosial, dan peran dalam komunitas).
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan menggunakan data sekunder seperti dokumen resmi, laporan proyek, artikel, dan publikasi lain yang relevan dengan penelitian ini juga Observasi yang dilakukan untuk mengamati secara langsung interaksi masyarakat Dayak mengenai penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Observasi ini juga bertujuan untuk memahami konteks sosial dan budaya yang mempengaruhi penerimaan dan penggunaan hunian cerdas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kehidupan Masyarakat Dayak di IKN
Dalam falsafah masyarakat Dayak, "Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’
Jubata," terdapat nilai luhur yang mencerminkan penghormatan mereka terhadap keadilan, kemanusiaan, pelestarian alam, dan keyakinan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kehendak Tuhan. Filosofi ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak menjunjung tinggi keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan, menjaga keseimbangan dengan alam, serta percaya bahwa kehidupan mereka diatur oleh kehendak Ilahi. Dalam konteks pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang akan berdampak langsung pada komunitas Dayak, sangat penting untuk memahami dan menghormati nilai-nilai tersebut. Suku Dayak sangat menghargai harmoni dan keseimbangan, sehingga pembangunan yang mempertimbangkan kearifan lokal dan keberlanjutan akan lebih mudah diterima dan mendukung kesejahteraan bersama.
Suku Dayak dikenal sebagai penjaga hutan yang menjunjung tinggi keseimbangan antara manusia dan alam. Kehidupan sehari-hari mereka erat kaitannya dengan alam sekitar, memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan. Masyarakat Dayak memiliki beragam pengetahuan tradisional, termasuk penggunaan tanaman obat untuk pengobatan, praktik pertanian yang ramah lingkungan, serta tata cara berburu dan meramu yang menghormati kelestarian alam. Melalui kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, mereka mampu menjaga harmoni dengan ekosistem hutan, menjadikan mereka contoh nyata dari kehidupan yang selaras dengan alam.
Dalam mencapai tujuan pembangunan kota cerdas (smart city), sangat penting untuk tidak meninggalkan kearifan lokal yang menjadi bagian integral dari identitas dan kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal, seperti yang dimiliki oleh masyarakat Dayak, bukan hanya warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga merupakan sumber pengetahuan dan praktik yang dapat berkontribusi positif dalam pembangunan kota cerdas. Masyarakat Dayak harus dipersiapkan untuk menerima dan menselaraskan perubahan yang datang dengan perkembangan teknologi dan urbanisasi. Ini melibatkan edukasi yang inklusif, pelibatan aktif dalam proses perencanaan, serta penyesuaian teknologi agar sesuai dengan nilai-nilai dan
kebutuhan lokal. Dengan demikian, pembangunan kota cerdas tidak hanya membawa kemajuan, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Dayak secara berkelanjutan.
Seiring dengan perubahan zaman, Suku Dayak berusaha untuk menjaga keberlanjutan budaya mereka. Mereka tetap mengajarkan bahasa dan adat istiadat kepada generasi muda, memastikan bahwa warisan leluhur mereka terus hidup dan berkembang. Selain itu, beberapa komunitas Dayak juga membuka diri terhadap pariwisata budaya, memperkenalkan pengunjung ke kehidupan tradisional mereka dan menunjukkan betapa pentingnya menghargai serta menghormati kekayaan budaya yang mereka miliki. Warisan budaya ini bukan hanya milik mereka, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari keanekaragaman budaya Indonesia secara keseluruhan, memperkaya mozaik budaya bangsa dan menunjukkan betapa kayanya warisan yang dimiliki oleh negara ini.
Masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam upaya membangun Ibu Kota Negara (IKN) yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu hal yang sangat krusial adalah melibatkan masyarakat adat dan komunitas lokal dalam setiap aspek kebijakan dan pembangunan di IKN. Pelibatan ini tidak hanya penting untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat, tetapi juga untuk melindungi dan mempromosikan budaya serta hak-hak mereka. Dengan demikian, pemerintah dapat memastikan bahwa pembangunan IKN tidak hanya modern dan maju, tetapi juga menghargai dan menjaga kearifan lokal yang telah ada selama berabad-abad. Melalui dialog yang terbuka dan partisipasi aktif dari masyarakat adat, IKN dapat menjadi contoh keberhasilan integrasi antara kemajuan teknologi dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisional.
B. Potensi Peningkatan Kualitas Hidup melalui Hunian Cerdas
Hunian cerdas memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Dayak melalui peningkatan efisiensi energi, kenyamanan, dan keamanan. Dengan teknologi seperti sistem otomatisasi rumah dan penggunaan energi terbarukan, beban biaya hidup dapat berkurang secara signifikan. Smart home memungkinkan pengaturan suhu, pencahayaan, dan perangkat elektronik secara optimal, yang tidak hanya menghemat energi tetapi juga memberikan kenyamanan yang lebih tinggi. Selain itu, energi terbarukan seperti panel surya dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional yang seringkali lebih mahal dan kurang ramah lingkungan. Keuntungan lainnya adalah peningkatan keamanan melalui sistem pengawasan canggih yang dapat memantau dan memberikan peringatan dini terhadap potensi bahaya. Semua ini secara keseluruhan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Dayak, membawa mereka menuju kehidupan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Pelestarian budaya lokal dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai lokal. Masyarakat Dayak, misalnya, dapat terus melestarikan budaya mereka dalam konteks modern melalui rumah adat yang dilengkapi dengan teknologi pintar. Integrasi ini memungkinkan rumah adat Dayak tetap mempertahankan bentuk dan fungsi tradisionalnya, sambil menambahkan fitur-fitur modern seperti sistem pengelolaan energi yang efisien, teknologi keamanan, dan perangkat IoT (Internet of Things) yang memudahkan penghuninya. Dengan cara ini, nilai-nilai budaya Dayak dapat tetap hidup dan relevan dalam era digital tanpa kehilangan keaslian dan identitasnya.
Penerapan teknologi cerdas juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Dayak. Dengan adopsi teknologi cerdas, masyarakat Dayak memiliki kesempatan untuk terlibat dalam berbagai aspek pengembangan, instalasi, dan pemeliharaan sistem pintar. Keterlibatan ini tidak hanya memberikan pekerjaan baru yang berteknologi tinggi, tetapi juga meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam bidang teknologi modern. Selain itu, penerapan teknologi cerdas dapat mendorong industri pariwisata berbasis teknologi, di mana masyarakat Dayak dapat menjadi pemandu wisata atau pengelola destinasi yang mengintegrasikan unsur
teknologi, budaya, dan alam. Hal ini akan memberikan nilai tambah bagi pariwisata lokal dan meningkatkan daya tarik daerah mereka sebagai tujuan wisata yang unik dan modern. Dengan demikian, teknologi cerdas berpotensi besar untuk memperluas peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dayak.
Untuk mewujudkan hunian cerdas yang selaras dengan budaya masyarakat, diperlukan kerjasama dan perhatian serius dari pemerintah. Adanya upaya edukasi dan penjelasan kepada masyarakat adat sangat penting untuk membuka wawasan mereka tentang manfaat teknologi cerdas serta potensi peningkatan kualitas hidup yang dapat diperoleh. Melalui pendekatan yang inklusif dan berbasis pada dialog yang konstruktif, pemerintah dapat memastikan bahwa integrasi teknologi tidak hanya sesuai dengan kebutuhan modern, tetapi juga menghormati dan mempertahankan nilai-nilai serta kearifan lokal. Dengan demikian, hunian cerdas tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan, tetapi juga memperkuat keberagaman budaya dan memastikan bahwa inovasi teknologi berjalan seiring dengan pelestarian warisan budaya masyarakat setempat.
C. Tantangan Implementasi Hunian Cerdas dan Solusinya
Salah satu tantangan utama dalam pengembangan Ibu Kota Negara adalah kesenjangan digital yang mencolok antara masyarakat perkotaan dan masyarakat Dayak. Masyarakat perkotaan seringkali memiliki akses yang lebih baik terhadap teknologi dan internet dibandingkan dengan masyarakat Dayak yang tinggal pelosok daerah. Kesenjangan ini tidak hanya membatasi kesempatan pendidikan dan ekonomi bagi masyarakat Dayak, tetapi juga menghambat mereka dalam berpartisipasi penuh dalam kehidupan modern. Untuk mengatasi masalah ini, salah satu solusi efektif adalah dengan memperluas akses internet dan infrastruktur teknologi ke daerah- daerah terpencil. Pengembangan jaringan internet yang lebih merata dan peningkatan fasilitas teknologi di daerah-daerah tersebut akan membantu mengurangi kesenjangan digital, memungkinkan masyarakat Dayak untuk lebih mudah mengakses informasi, layanan, dan peluang yang tersedia di era digital ini. Dengan demikian, upaya ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Dayak tetapi juga berkontribusi pada pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Ibu Kota Negara.
Adaptasi budaya dalam integrasi teknologi cerdas harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak nilai-nilai budaya masyarakat lokal. Dalam konteks masyarakat Dayak, pelibatan masyarakat adat dalam proses perencanaan dan implementasi teknologi cerdas sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi yang diterapkan tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga sejalan dengan nilai-nilai dan kebutuhan mereka. Melibatkan masyarakat Dayak dalam setiap tahap pengembangan akan memastikan bahwa teknologi yang diperkenalkan mendukung cara hidup mereka, melestarikan tradisi, dan memperkuat identitas budaya mereka. Dengan pendekatan ini, teknologi cerdas dapat diintegrasikan secara harmonis, memperkaya kehidupan masyarakat tanpa mengorbankan warisan budaya yang berharga
Tantangan berikutnya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang terampil dalam teknologi. Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu adanya program pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus bekerja sama dalam merancang dan menyediakan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan teknologi masa depan. Hal ini penting agar masyarakat lokal khususnya suku Dayak tidak hanya memiliki keterampilan dasar, tetapi juga mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi yang terus berubah. Dengan pendekatan ini, diharapkan akan tercipta sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten dalam teknologi saat ini, tetapi juga siap menghadapi tantangan teknologi di masa depan.
KESIMPULAN
Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang berkelanjutan perlu mempertimbangkan nilai- nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Dayak. Filosofi hidup masyarakat Dayak yang mengedepankan keadilan, kemanusiaan, pelestarian alam, dan keyakinan pada kehendak Ilahi harus dihormati dan dipertimbangkan dalam proses pembangunan. Kearifan lokal mereka, yang meliputi pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana dan praktik tradisional yang harmonis dengan lingkungan, menawarkan ide rancangan kota cerdas (smart city) yang tidak hanya modern tetapi juga sensitif terhadap budaya lokal.
Hunian cerdas berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Dayak dengan mengoptimalkan banyak hal seperti efisiensi energi, kenyamanan, dan keamanan. Integrasi teknologi melalui sistem otomatisasi rumah dan penggunaan energi terbarukan dapat mengurangi biaya hidup dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, pelestarian budaya lokal tetap penting, dan teknologi harus diintegrasikan dengan cara yang menghormati dan mempertahankan nilai-nilai budaya tradisional Dayak. Penerapan teknologi cerdas juga dapat membuka peluang ekonomi baru, memperluas keterampilan, dan meningkatkan daya tarik pariwisata, berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Tantangan dalam implementasi hunian cerdas terhadap masyarakat Dayak mencakup beberapa hal seperti kesenjangan digital, adaptasi budaya, dan keterbatasan sumber daya manusia. Memperluas akses teknologi dan internet ke daerah terpencil, melibatkan masyarakat Dayak baik dalam perencanaan dan implementasi teknologi, serta menyediakan pendidikan dan pelatihan yang tepat adalah solusi kunci untuk mengatasi tantangan ini. Dengan pendekatan inklusif dan berbasis dialog antar pihak, integrasi teknologi cerdas dapat dilakukan secara harmonis, mendukung modernisasi sambil menjaga dan memperkuat warisan budaya masyarakat Dayak.
DAFTAR PUSTAKA
Suku Dayak: Asal Usul, Ciri, Kebudayaan dan Sejarah (selasar.com)
Suku Dayak - Jejak Sejarah & Tradisi Masyarakat Dayak (archipelagoid.com) 3214201004-Master_Theses.pdf (its.ac.id)
Smart Living, Konsep Hunian Cerdas Pilihan Kawula Muda (99.co) http://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit
(PDF) Bangunan Pintar dan Penerapannya di Indonesia Smart Buildings and Its Application in Indonesia (researchgate.net)
pedoman-bangunan-cerdas-nusantara.pdf (ikn.go.id)
Mengenal 5 Prinsip dalam Konsep Desain IKN Nusantara (kompas.com)