• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PERSEMBAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KATA PERSEMBAHAN "

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN HASIL JUMLAH TROMBOSIT PADA ANAK-ANAK PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Program studi Diploma Tiga Teknologi Labolatorium Medik STIKes Perintis Padang

Oleh :

FRESTI INDAH WULANDHARI 1713453055

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERINTIS PADANG

PADANG 2020

(2)

i

(3)

ii

(4)

iii

KATA PERSEMBAHAN

“Dan seandainya pohon-pohon dibumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta).

Ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah kering nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah sesungguhnya Allah maha perkasa lagi

maha bijaksana” (Q.S. Al luqman :27)

Sujud suyukurku kupersembahkan kepadamu Tuhan yang Maha Agung nan maha tinggi Adil nan Maha Penyayang atas takdirmu telah kau jadikan aku manuia

yang senantiasa berpikir, berilmu, beriman dan bersabar dalam menjalani kehidupan ini. Semoga keberhasilan ini menjadi satu langkah awal bagiku untuk

meraih cita-cita besarku.

Ya Allah

Cintayang tak pernah hilang,kasih yang tak pernah pudar, permohonan serta pertolongan yang tak berhenti mengalir. Tuhan, engkau berikan aku kesempatan

untuk bisa sampai dipenghujung awal perjuanganku.

Segala puji bagi Mu ya Allah.

Kupersembahkan sebuah karya kecil ini kepada orang yang sangat kusayangi Terima kasih Mama...

Kau kirim aku kekuatan lewat untaian kata dan iringan do’a Tak ada keluh kesah di wajahmu dalam mengantar anakmu ke gerbang masa depan yang cerah tuk

raih segenggam harapan dan impian menjadi kenyataan Mama...

Kau besarkan aku menjadi anak yang mandiri dan begitu banyak pengorbanan dan perjuangan yang telah kau berikan selama ini demi cita-citaku. Mama, kau rela menanggung rindu selama aku menyelesaikan studi ini. Tak mampu aku membalasnya, yang mampu kulakukan hanya ingin selalu membuatu tersenyum bangga dengan apa yang ku lakukan dengan hasil yang ku peroleh. Karya kecil

ini kupersembahkan untukmu Mama.

Terima kasih papa...

Kau pahlawan terhebat di duniaku. Terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah diberikan untuk hidup ku berkat doa kalian jugalah Akhirnya aku sampai pada titik sekarang ini, yang tak pernah menyerah mencari

rezeki untuk kebutuhan anaknya, tidak pernah mengeluh membimbing dan

(5)

iv

menjaga anak-anaknya agar menjadi orang yang sukses dan berpendidikan, Aku belum bisa membalas jasa kalian.

Papa Mama

Semoga karya kecil ini dapat sedikit mengobati segala jerih payah kalian walaupun hanya karya yang belum sempurna.ku persembahkan untuk kalian

berdua.

Terimakasih untuk adik ku Frestho Dwi laksono, Bhagas Tri laksono, Keyla Khairunnisa, Khairana Khairunnisa, Telah membantu orang tua selama aku tidak

bersama kalian. Terimakasih atas dukungannya, terima kasih telah menyayangiku, sabar menghadapi sifatku dan tetaplah semangat menyosong

derasnya badai kehidupan, ku menyayangi kalian.

Dosen pembimbing

Terimakasih ibu Renowati,S.SiT, M.Biomed yang telah membantu dan membimbingku dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.. Terimakasih juga kepada dosen penguji bapak Dr. Almurdi, DMM, M.Kes. Terima kasih bapak/ibu

yang telah membimbing anak bimbinganmu ini tanpa kenal waktu.

Terima kasih kuucapakan Kepada sahabat-sahabatku, teman seperjuanganku untuk 3 tahun ini, dimasa kuliah ku tanpa kalian aku juga bukan apa-apa.

Kepada orang yang aku sayang dan orang terdekat dengan ku yang selalu memberi semangat untukku menemani aku sampai selesai. Terima kasih untuk

selama ini ya.

“Dengan kalian aku mampu melewati ini”

Wasalam

Fresti Indah Wulandhari

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(6)

v DATA PRIBADI

Nama : Fresti Indah Wulandhari

Tempat/ Tanggal Lahir : Kinari / 15 Oktober 1998 Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Kebangsaan : Indonesia

Status Perkawinan : Belum Menikah

Alamat : Palo Balai Jorong Pamujan Tapi Aia No.Telp/Handphone : 082288110515

E-mail : [email protected]

PENDIDIKAN FORMAL

1. 2005-2011, SDN 04 Kinari

2. 2011-2014, SMP Negeri 2 Bukit Sundi 3. 2014-2017, SMA Negeri 1 Bukit Sundi

4. 2017-2020, D.III Teknologi Laboratorium Medis STIKes Perintis Padang

PENGALAMAN AKADEMIK

1. 2018, Praktek Lapangan Di Pukesmas Surantiah Pesisir Selatan 2. 2019, Praktek Lapangan Di RSUD M.Natsir Kota Solok

3. 2019, Praktek PMPKL di Kabupaten Koto Tangah Padang 4. 2019, Karya tulis Ilmiah

Judul :

“Gambaran Hasil Jumlah Trombosit Pada Anak-Anak Penderita Demam Berdarah Dengue”

(7)

vi ABSTRACT

Dengue hemorrhagic fever is caused by the dengue virus which is transmitted to humans through the bite of the Aedes aegypty mosquito. The high incidence of DHF is still a problem throughout the world, one of which is to detect the presence of the dengue virus in terms of platelet values. The decrease in platelets in patients with DHF is caused by decreased platelet production in the bone marrow or the process of platelet destruction is faster than the production process and occurs when the number of platelets <150,000 / mm³. This study aims to determine the number of platelets in DHF patients. This type of research is descriptive. Conducted at RSUD M. Natsir Solok. The population in this study were all DHF patients with a total sample of 58 patients during March-April 2020 who were taken randomly (random sampling). Platelet examination was carried out using a Hematology Analyzer. The results of the study based on age groups found that most dengue fever patients were aged 11-15 years as many as 26 patients (45%) with an average platelet count of 22,000 / mm³ and at ≤ 5 years of age there were 14 patients (24%) with an average number of platelets. 38,000 / mm³. Based on gender, most were male as many as 30 patients (52%) with an average platelet count of 28,000 / mm³ and women as many as 28 patients (48%) with an average platelet count of 24,000 / mm³.

Key words: Trombosit, DHF

(8)

vii ABSTRAK

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue di tularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty. Tingginya angka kejadian DBD masih merupakan kejadian masalah di seluruh dunia salah satu untuk mendeteksi keberadaan adanya virus dengue di lihat dari nilai trombosit. Terjadinya penurunan trombosit pada penderita DBD hal ini di sebabkan oleh menurunnya produksi platelet pada sumsum tulang atau proses hancurnya platelet lebih cepat dari proses produksi dan terjadi ketika jumlah keping darah <150.000/mm³.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah trombosit pada penderita DBD.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Dilakukan di RSUD M.Natsir Solok.

Populasi pada penelitian ini semua pasien DBD dengan jumlah sampel sebanyak 58 orang pasien selama bulan Maret-April 2020 yang diambil secara acak(random sampling).Pemeriksaan trombosit dilakukan dengan menggunakan alat Hematology Analyzer. Hasil penelitian berdasarkan kelompok umur didapatkan penderita DBD yang paling banyak pada umur 11-15 tahun sebanyak 26 pasien (45%) rata-rata jumlah trombosit 22.000/mm³ dan pada umur ≤ 5 tahun sebanyak 14 pasien (24%) rata-rata jumlah trombosit 38.000/mm³. Berdasarkan jenis kelamin, terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 30 pasien (52%) rata-rata jumlah trombosit 28.000/mm³ dan perempuan sebanyak 28 pasien (48%) rata-rata jumlah trombositnya 24.000/mm³.

Kata kunci : Trombosit, DBD

(9)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sesuai rencana dan tepat waktunya.

Shalawat dan salam untuk junjungan alam yang mulia Rasulullah Muhammad SAW yang telah berjuang mengantarkan seluruh umatnya ke alam yang beradat dan berilmu pengetahuan untuk bekal hidup dunia dan akhirat.

Adapun maksud dari penulis menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul

“Gambaran Hasil Jumlah Trombosit Pada Anak-anak Penderita Demam Berdarah Dengue ini adalah untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan program pendidikan tingkat Diploma Tiga Teknologi Laboratorium Medis Sekolah tinggi ilmu kesehatan Perintis Padang.

Selanjutnya dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari semua pihak yang memberi arahan yang membangun demi tercapainya penulisan yang sifatnya baik. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada :

1. Bapak Yendrizal Jafri, S.Kp. M. Biomed selaku ketua STIKes Perintis Padang.

2. Ibu Endang Suriani, SKM, M.Kes selaku ketua program studi Diploma Tiga Teknologi Laboratorium Medik sekaligus sebagai penguji nantinya.

3. Ibu Renowati, S.SiT, M.Biomed pembimbing dan Penguji yang telah mengarahkan, membina dan memberikan masukan kepada penulis demi tercapainya Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Bapak Dr Almurdi, DMM, M.kes. selaku penguji Karya Tulis Ilmah ini yang telah memberikan kritikan dan saran serta masukan bagi penulis.

5. Bapak/ibu dosen Teknologi Laboratorium Medik STIKes Perintis Padang.

6. Seluruh staf dan karyawan dan karyawati Teknologi Laboratorium Medis.

(10)

ix

7. Teman-teman seperjuangan, serta semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih belum sempurna.

Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang dapat membangun kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah. Harapan penulis, semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak nantinya.

Padang, Agustus 2020

Penulis

(11)

x DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

KATA PERSEMBAHAN ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

ABSTRACT ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Batasan Masalah ... 2

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.4.1 Tujuan Umum ... 3

1.4.2 Tujuan Khusus ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Demam Berdarah Dengue ... 4

2.1.1 Defenisi ... 4

2.1.2 Epidemiologi ... 4

2.1.3 Etiologi ... 5

2.1.4 Gejala Klinis ... 6

2.1.5 Patofisiologi ... 6

2.2 Trombosit ... 7

2.2.1 Definisi ... 7

2.2.2 Fungsi Trombosit ... 7

2.2.3 Kelainan Jumlah Trombosit ... 8

2.2.4 Pemeriksaan Hitung Jumlah Trombosit ... 9

2.2.5 Fakto-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Hitung Jumlah Trombosit ... 10

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 11

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 11

(12)

xi

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 11

3.3.1 Populasi ... 11

3.3.2 Sampel ... 11

3.4 Persiapan Penelitian ... 11

3.4.1 Persiapan Alat ... 11

3.4.2 Persiapan Bahan ... 11

3.5 Prosedur Kerja 3.5.1 Prosedur pengambilan Darah Vena ... 11

3.5.2 Prosedur Pemeriksaan Trombosit Dengan Alat Hematology \ Analyzer ... 12

3.6 Teknik Pengolahan dan Anaisa Data ... 12

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 14

4.1.1 Karakteristik Data ... 14

4.1.2 Gambaran Jumlah Trombosit pada pasien DBD ... 14

4.2 Pembahasan ... 16

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 18

5.2 Saran ... 18

DAFTAR PUSTAKA ... 19 LAMPIRAN

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian berdasarkan umur dan jenis

Kelamin ... 14 Tabel 4.2 Kadar trombosit pada anak penderita DBD ... 14 Tabel 4.3 Gambaran jumlah trombosit pada anak-anak berdasarkan umur dan jenis kelamin ... 15 Tabel 4.4 Distribusi frekuensi antibodi IgG dan IgM pasien DBD ... 15 Tabel 4.5 Distribusi frekuensi antibodi IgG dan IgM pasien DBD ... 16

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat Keterangan Izin penelitian ... 20

Lampiran 2. Surat Balasan keterangan penelitian ... 21

Lampiran 3. Data dan Hasil Penelitian ... 22

Lampiran 4. Dokumentasi ... 24

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh Virus Dengue ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (infodatin, 2016). Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang pada anak-anak umur kurang dari 15 tahun dan juga biasa menyerang pada orang dewas. Munculnya penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat (Kemenkes RI, 2016).

Di Indonesia, dilaporkan pertamakali di Surabaya pada tahun 1968 dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Depkes RI, 2015). Kemenkes RI (2016) mencatat di tahun 2015 bulan Oktober ada 3.219 kasus DBD dengan kematian mencapai 32 jiwa, November ada 2.921 kasus dengan 37 angka kematian, dan Desember 1.104 kasus dengan 31 kematian. Dibandingkan tahun 2014 Oktober tercatat 8.149 kasus dengan 81 kematian, November 7.877 kasus dengan 66 kematian, dan Desember 7.856 kasus dengan 50 kematian.

Indonesia termasuk daerah pandemi DBD dan mengalami epidemik sekali dalam 4-5 tahun. Faktor lingkungan dengan banyaknya genangan air bersih yang menjadi sarang nyamuk, mobilitas penduduk yang tinggi dan cepatnya transportasi antar daerah, menyebabkan sering terjadinya demam berdarah dengue. Indonesia termasuk dalam salah satu Negara yang endemik demam berdarah dengue karena jumlah penderitanya yang terus menerus bertambah dan penyebarannya semakin luas (Sungkar, dkk, 2010).

Dinas Kesehatan Sumatera Barat melaporkan bahwa kota Padang merupakan kota tertinggi angka kejadian demam berdarah dengue di Sumatera Barat,dilaporkan pada tahun 2014 angka kejadian DBD yaitu 666 kasus dan meningkat pada tahun 2015 yaitu 830 kasus DBD (Dinkes Sumbar, 2016).

(16)

2

Trombosit adalah keadaan dimana kadar platelet/trombosit turun dari nilai normal <150.000 bisa disebabkan karena penyakit akibat yang bisa di timbulkan yaitu perdarahan. Trombosit bisa menurun karena menurunnya produksi platelet pada sumsum tulang yang di sebabkan salah satunya karna virus DBD itu. Trombosit dihasilkan dalam sumsum tulang melalui fragmentasi sitoplasma megakariosit. Jumlah trombosit normal 150.000 – 400.000 mm³ dan lama hidup trombosit yang normal adalah 7-10 hari (Nugraha, 2015).

Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat mencatat sepanjang Januari 2019 14 kasus Demam Berdarah Dengue. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Solok, Sri Efianti di Arosuka, menyebutkan 14 kasus tersebut terjadi di wilayah Puskesmas Salayo di Jorong Sawah Baliak satu orang, Bawah Duku satu orang, Jorong Kapalo Koto satu orang. Kemudian di Jorong Dalam Nagari satu orang, Seberang Koto Baru satu orang, Lurah Nan Tigo satu orang, dan Kajai satu orang. Selain itu di Wilayah Puskesmas Paninjauan satu orang, Nagari Muara Panas dua orang, Nagari Tanjung bingkung satu orang, dan Singkarak tiga orang. Para penderita DBD telah mendapat perawatan di puskesmas setempat dan RSUD Arosuka. Dari 14 kasus semua kembali sembuh, tidak ada yang meninggal dunia. Berdasarkan masalah diatas saya tertarik mengambil judul Gambaran hasil jumlah trombosit pada anak-anak penderita demam berdarah dengue.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Gambaran Hasil jumlah Trombosit Pada anak-anak penderita Demam Berdarah ?

1.3 Batasan Masalah

Pada Penelitian ini,masalah yang akan dibahas adalah tentang gambaran hasil jumlah trombosit pada anak-anak penderita Demam Berdarah Dengue.

(17)

3

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum

Untuk Mengetahui Gambaran hasil jumlah trombosit pada anak-anak penderita Demam Berdarah Dengue.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Menentukan Distribusi berdasarkan jenis kelamin, umur pada anak- anak penderita DBD.

2. Menentukan jumlah trombosit pada anak-anak penderita DBD.

3. Menentukan jumlah trombosit berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada masyarakat, institusi, bagi diri sendiri dan sebagai salah salah satu sumber pengetahuan bagi peneliti selanjutnya.

(18)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Demam Berdarah Dengue

2.1.1 Definisi

Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Penyakit ini merupakan salah satu masalah utama kesehatan yang dihadapi oleh lebih dari 100 negara tropis dan subtropis.

(WHO, 2011) Demam berdarah dengue yang ditandai dengan adanya renjatan/syok disebut sebagai sindrom renjatan dengue atau sindrom syok dengue (Suhendro, Nainggolan, Chen et al., 2009). Penyakit ini ditandai dengan demam, nyeri kepala berat, mialgia, artalgia, mual, muntah, nyeri retroorbital, dan ruam. Penyakit dapat berkembang dalam bentuk ringan sampai berat yang berupa manifestasi perdarahan dan syok, atau demam berdarah dengue dan sindrom syok dengue (Jawetz, 2012).

Indonesia termasuk daerah pandemi DBD dan mengalami epidemik sekali dalam 4-5 tahun. Faktor lingkungan dengan banyaknya genangan air bersih yang menjadi sarang nyamuk, mobilitas penduduk yang tinggi dan cepatnya transportasi antar daerah, menyebabkan sering terjadinya demam berdarah dengue. Indonesia termasuk dalam salah satu Negara yang endemik demam berdarah dengue karena jumlah penderitanya yang terus menerus bertambah dan penyebarannya semakin luas (Sungkar dkk, 2010).

2.1.2 Epidemiologi

Epidemi penyakit yang berhubungan dengan demam dengue pertama kali dilaporkan dalam literatur atau pustaka kedokteran terjadi pada tahun 1779 di Batavia (sekarang disebut Jakarta). Dan pada tahun 1780 di Philadelphia. Sejak saat itu epidemik telah dilaporkan di Calcutta (1824, 1853, 1871, 1905), India Barat (1827), Hongkong (1901), Yunani (1927- 1928), Australia (1925-1926, 1942), Amerika Serikat (1922) dan Jepang (1942-1945).

(19)

5

Dengue sering terdapat di daerah tropis terutama di Asia Tenggara, Afrika dan bagian selatan Amerika. Pada tahun 1986 dan 1987 angka kejadian Dengue dilaporkan di Brasil. Pada tahun 1988 epidemik dengue dilaporkan terjadi di Meksiko dan pada tahun 1990 kira-kira seperempat dari 300.000 penduduk yang tinggal di Iquitos Peru menderita Demam Dengue.

Data yang terkumpul dari tahun 1968-1993 dilaporkan terbanyak terjadi pada tahun 1973 sebanyak 10.189 pasien dengan usia pada umumnya di bawah 15 tahun. Penelitian di Pusat Pendidikan Jakarta, Semarang, Yogya dan Surabaya juga ditemukan pada usia dewasa, dan terdapat kecenderungan peningkatan jumlah pasiennya.

2.1.3 Etiologi

Virus dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Jenis nyamuk ini mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas (Zulkoni, 2011). Wabah dengue sering terjadi pada masyarakat perkotaan dimana tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi. Transmisi demam berdarah biasanya terjadi saat musim hujan ketika suhu dan kelembaban kondusif bagi perkembangbiakan vektor (Jawetz, 2012).

Aedes aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia. Walaupun spesies ini ditemukan di kota-kota perlabuhan yang penduduknya padat, nyamuk ini juga ditemukan di pedesaan. Penyebaran Aedes aegypti dari pelabuhan ke desa disebabkan oleh larva Aedes aegypti yang terbawa melalui transportasi. Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi air bersih yang berdekatan letaknya dengan rumah penduduk, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perindukan tersebut berupa tempat perindukan buatan manusia seperti:

tempayan/gentong tempat 8 penyimpanan air minum, bak mandi, pot bunga, kaleng, botol, drum, ban mobil yang terdapat di halaman rumah atau di kebun yang berisi air hujan, juga berupa tempat perindukan alamiah; seperti kelopak daun tanaman (keladi & pisang), tempurung kelapa, tonggak bambu

(20)

6

dan lubang pohon yang berisi air hujan. Ditempat perindukan Aedes seringkali ditemukan larva Aedes albopictus yang hidup bersama-sama (Sutanto, 2015). Aedes aegypti tersebar luas di dunia yang terletak di daerah sesuai dengan garis geografi antara 400 Lintang Utara dan 400 Lintang Selatan, dan hanya hidup pada suhu antara 80-370 Celcius (Soedarto, 2011).

2.1.4 Gejala Klinis

1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (380C-400C).

2. Manifestasi pendarahan (hidung, gusi, mimisan, kulit lengan 3. Hepatomegali (pembesaran hati).

4. Syok, tekanan nadi kurang dari 20 mmHg, tekanan sistolik sampai kurang dari 80/menit.

5. Trombositopenia, pada hari ke 3-7 ditemukan trombosit dibawah 100.000/mm3. 6. Gejala klinik lain: lemah, mual, muntah, sakit perut, diare, kejang dan sakit kepala demam tinggi mendadak 2-7 hari yang disertai dua atau lebih manifestasi klinis berikut: sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mialgia, artralgia, ruam, manifestasi perdarahan, dan belum didiagnosa penyakit lain (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

2.1.5 Patofisiologi

Proses patologi infeksi Dengue dimulai ketika adanya hubungan erat antara host dan vektor yang membawa virus. Manusia terinfeksi dengan virus setelah nyamuk yang terinfeksi menghisap darah dari host (manusia).

Kasus yang jarang, transmisi virus dari manusia ke manusia melalui luka atau cedera akibat jarum suntik juga pernah dilaporkan.

Infeksi dengan virus Dengue mempunyai spektrum gambaran klinis yang luas. Pada banyak kasus terutama pada anak-anak dibawah 15 tahun, pasien biasanya asimptomatis atau memiliki riwayat demam yang ringan.

Demam dengue secara khas bersifat self-limited, akut, yang terjadi setelah periode inkubasi selama 4 – 7 hari. Pada anak lebih muda, dapat disertai dengan ruam makulo papular. Pada pasien yang lebih tua, penyakit biasanya ringan, dengan onset demam tinggi yang mendadak, sakit kepala,

(21)

7

nyeri retroorbital. Nyeri badan difus, kelemahan, muntah, serak, perubahan sensasi rasa dan ruam makulo papular. Virus dengue tidak ada di dalam aliran darah pada saat demam menghilang.

Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dengan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilak-tosin, histamin dan serotonin serta aktivasi sistem kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intra-vaskular.

Hal ini berakibat mengurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Plasma merembes selama perjalanan penyakit mulai dari saat pemulaan demam dan mencapai puncaknya pada saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat menurun sampai lebih dari 30%.

2.2 Trombosit 2.2.1 Definisi

Trombosit adalah sel tak berinti yang diproduksi oleh sumsum tulang, yang berbentuk cakram dengan diameter 2-5 μm. Trombosit dalam darah tersusun atas substansi fosfolipid yang berfungsi sebagai faktor pembeku darah dan hemostasis (menghentikan perdarahan). Jumlahnya dalam darah dalam keadaan normal sekitar 150.000 sampai dengan 400.000/mm³ darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1 sampai 2 minggu atau kira-kira 8 hari (Kee, 2008).

2.2.2 Fungsi Trombosit

Trombosit mempunyai peranan penting dalam pembentukan bekuan darah. Trombosit dalam keadaan normal bersirkulasi ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Terjadi kerusakan di suatu pembuluh, trombosit akan menuju ke daerah tersebut sebagai respon terhadap kolagen yang terpajan di lapisan sub endotel pembuluh. Trombosit melekat pada permukaan yang rusak dan mengeluarkan zat yang menyebabkan terjadinya vasokonstriksi pembuluh. Fungsi lain dari trombosit adalah mengubah bentuk dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh darah yang cedera. Trombosit akan menjadi lengket dan menggumpal bersama membentuk sumbat trombosit

(22)

8

yang secara efektif menambal daerah yang luka (Handayani dan Haribowo, 2008).

2.2.3 Kelainan Jumlah Trombosit 1. Trombositosis

adalah meningkatnya jumlah trombosit di atas normal pada peredaran darah yaitu lebih dari 400.000/mm³ darah. Trombositosis dapat bersifat primer atau sekunder.

2. Trombositopenia.

Dalam keadaan normal jumlah trombosit berkisar antara 150.000 - 400.000/mm³ darah. Apabila jumlah trombosit kurang dari normal maka keadaan ini disebut trombositopenia. Trombositopenia dibagi menjadi 4 derajat yaitu derajat 1 bila jumlah trombosit 75.000 – 150.000/mm³ darah, derajat 2 bila jumlah trombosit 50.000 - < 75.000/mm³ darah, derajat 3 bila jumlah trombosit 25.000 - > 50.000/mm³ darah dan derajat 4 bila jumlah trombosit kurang dari 25.000 mm³ darah (Alvina, 2011).

a. Trombositopeni (<100.000 mm³)

b. Hemokonsentrai (kenaikan Ht 20% di bandingkan fase) Bila patokan hemokonsentrasi dan trombositopeni menurut kriteria WHO 1999 di pakai secara murni, maka banyak penderita DBD tidak terjaring dan luput dari pengawasan. Kelompok kerja DBD sepakat jumlah trombosit<150.000 mm³ sebagai batas trompositopeni.

Dua kriteria klinis pertama di tambah trombositopeni dan hemokonsentrasi cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD. Secara klinia dibagi menjadi empat :

Derajat I Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif

Derajat II Perdarahan spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat, disertai gejala-gejala derajat I

(23)

9

Derajat III Dijumpai kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (≤29mmHg)

Derajat IV syok berat (profound shock), nadi tak teraba dan tekanan tak terukur

2.2.4 Pemeriksaan Hitung Jumlah Trombosit

Hitung jumlah trombosit dapat dilakukan dengan metode otomatis dan manual. Cara manual dapat dilakukan dengan metode langsung menggunakan bilik hitung dan tidak langsung pada sediaan apus darah tepi (Kee, 2008). Prinsip reaksi pada alat hemotologi otomatis bervariasi diantaranya adalah impedansi dan flowcytometri.

1. Metode Impedansi

Prinsip pengukuran impedansi didasarkan pada perubahan hambatan listrik pada celah yang telah diketahui ukurannya (aperture) ketika sebuah partikel dalam cairan konduktif melewati celah ini. Sel-sel darah disuspensikan ke dalam sejumlah cairan konduktif secara elektrik.

Hitunglekosit dilakukan sebagai sisa sel yang melewati celah. Impedansi listrik digunakan terutama di laboratorium hematologi untuk menghitung sel-sel darah seperti lekosit, eritrosit dan trombosit. Kelemahan metode impedansi adalah kemungkinan dua sel melewati celah secara bersamaan.Selain itu sel yang telah diukur akan kembali ke area pengukuran yang mengakibatkan sel akan dihitung dua kali oleh detektor (McPherson &Pincus, 2017).

2. Metode Flowcytometri

Adalah metode pengukuran jumlah dan sifat komponen sel dalam medium cairan bergerak. Setiap sel melewati celah satu persatu yang kemudian melalui sinar laser menimbulkan sinyal elektronik yang dicatat oleh instrumen sebagai karakteristik sel yang bersangkutan.

Prinsip kerja flowcytometri adalah sejumlah sel disuspensikan ke dalam suatu cairan konduktif. Sel-sel tersebut diberi tekanan hydrodinamik sehingga dapat melewati suatu lorong satu demi satu. Ketika sel sampai di suatu titik lorong, sel akan ditembak dengan sinar laser. Kemudian

(24)

10

hasil tembakan sinar laser akan dibaca oleh detektor (McPherson &

Pincus, 2017). Salah satu kelebihan alat hematologi otomatis adalah efisiensi waktu. Pemeriksaan menggunakan alat otomatis dapat dilakukan dengan cepat. Selain itu volume sampel yang dibutuhkan lebih sedikit. Kelebihan lainnya adalah ketepatan hasil yang dikeluarkan yang sudah melalui pemantapan mutu internal laboratorium.

2.2.5 Faktor-Faktor Mempengaruhi Hasil Hitung Jumlah Trombosit 1. Pra Analitik

Faktor yang mempengaruhi hasil hitung jumlah trombosit pada tahap pra analitik dapat terjadi seperti pada pemilihan sampel darah.

Penggunaan darah kapiler akan diperoleh hasil sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan darah vena. Darah yang tidak segera diperiksa atau penundaan pemeriksaan yang terlalu lama juga dapat menyebabkan perubahan jumlah trombosit (Sujud dkk, 2015).

2. Analitik

Tahap analitik adalah proses pengerjaan sampel sampai diperolehnya hasil pemeriksaan. Kesalahan analitik dalam bidang hematologi dapat terjadi berupa kesalahan sistematik atau acak.

Kesalahan sistematik dapat diakibatkan oleh kesalahan dalam sistem pengujian dan metode, umumnya disebabkan oleh prosedur kalibrasi yang tidak tepat, kurang optimalnya komponen alat, kerusakan reagensia.

Kesalahan acak biasanya diakibatkan tidak stabilnya instrument, perubahan suhu dan variasi operator (Sukorini dkk, 2010).

3. Pasca Analitik

Kesalahan pada tahap pasca analitik dapat terjadi bila keliru dalam memasukkan data sampel, salah mencatat dan melaporkan hasil pemeriksaan.

(25)

11 BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini bersifat deskriptif analitik untuk melihat gambaran hasil jumlah trombosit pada anak-anak penderita Demam Berdarah Dengue.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Februari-Agustus 2020 di RSUD M.natsir Kota Solok.

3.3 Populasi Dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi

Populasi Penelitian ini adalah seluruh pasien yang di diagnosa oleh klinis pada anak-anak di RSUD M Natsir Solok.

3.3.2 . Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil sebanyak 58 orang anak –anak yang diambil secara acak (random Sampling).

3.4 Persiapan penelitian 3.4.1 Persiapan Alat

Alat yang di gunakan pada penelitian ini adalah: Tabung EDTA, nelt, holder, torniqet , hematology analyzer, .

3.4.2 Persiapan Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah, Darah vena , Plester, alkohol 70%

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Prosedur Pengambilan Darah Vena

Dipersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, diposisikan lengan pasien, dipasang tourniqet 3-5 cm di atas lipatan siku, Palpasi daerah tusukan kearah vertikal dan horizontal untuk menentukan pembuluh darah yang akan di ambil darahnya, Dibersihkan daerah yang akan ditusuk dengan

(26)

12

kapas alkohol 70% ditunggu hingga kering, Setelah kering ditusuk vena yang telah dipilih masukkan tabung ke dalam holder dan dorong hingga posisi tertancap pada tabung, ambil darah secukupnya, Dicabut tabung vakum, lalu dilepaskan tuorniqet, Diletakkan kapas diatas tusukan, lalu ditarik jarum dan diletakkan plester.

3.5.2 Prosedur Pemeriksaan Trombosit denan alat Hematology Analyzer Metode

Kadar Trombosit diperiksa dengan metode impedensi dengan alat Hematology Analyzer.

Prinsip

Hematology analyzer ini bekerja berdasarkan prinsip flow cytometer.

Flow cytometer adalah metode pengukuran jumlah dan sifat sel yang di bungkus oleh cairan melalui celah sempit ribuan sel akan dialirkan melalui celah tersebut sedemikian rupa sehingga sel dapat lewat satu per satu, kemudin dilakukan perhitungan jumlah sel dan ukurannya.

Cara Kerja

Gunakan darah EDTA, Homogenkan sampel darah, kemudian masukkan probe kedalam tabung berisi sampel darah, tekan start key untuk memulai pengisapan sampel. Selama proses penghisapan,pastikan ujung probe terendam dalam sampel darah sehingga tidak ada udara yang terhisap,namun ujung probe jagan menyentuh dasar tabung, masukan no.ID pasien pada layar komputer, Jika sudah menghisap sampel, probe akan otomatis masuk ke dalam alat dan memulai proses perhitungan sampel, Hasil pemeriksaan akan ditampilkan di layar komputer dan Klik tanda print untuk memprint hasil pemeriksaan.

Interprestasi Hasil Trombosit

Nilai Normal Trombosit : 150.000 – 400.000/ mm³ 3.6 Teknik Pengolahan dan Analisa Data

Data hasil pemeriksaan Trombosit pada anak – anak penderita DBD di RSUD M.natsir Solok analisa data yang digunakan yaitu analisa secara

(27)

13

manual, lalu data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi menggunakan komputerisasidi sertai penjelasan, sedangkan dalam pengolahan data maka di gunakan rumus

x =

Keterangan :

: Frekuensi yang sedang dicari presentasinya f : Jumlah bagian

n : Jumlah frekuensi atau banyaknya individu k : konstanta 100%

Penyajian Data

Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berdasarkan variabel yang diteliti kemudian dinarasikan.

(28)

14 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Karakteristik Data

Telah dilakukan penelitian di RSUD M.Natsir Solok pada bulan Maret – April 2020. Data yang dikumpulkan sebanyak 58 pasien selama 1 tahun pada penderita DBD. Data yang diambil adalah hasil pemeriksaan trombosit berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin.

Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

Umur(tahun) f Persentase(%)

≤ 5 14 24

6 – 10 18 31

11 – 15 26 45

Total 58 100

Jenis Kelamin

Laki – laki 30 52

Perempuan 28 48

Total 58 100

Pada tabel 4.1 di atas di ketahui bahwa sebagian besar 45% berusia 11-15 tahun yang terbanyak menderita DBD, dan sebagian besar 52%

berjenis kelamin laki-laki.

4.1.2 Gambaran jumlah trombosit pada anak-anak penderita DBD

Penelitian yang telah dilakukan pada anak-anak penderita DBD dapat dilihat nilai/jumlah trombosit berdasarkan tabel 4.2 dibawah ini.

Tabel 4.2 Distribusi Freskuesi Trombosit Pada anak-anak Penderita DBD di RSUD M.Natsir Kota Solok

Trombosit (/mm³) F Persentase(%) Mean

Rendah ( < 150.000 ) 58 100 51.000

Normal (150.000-400.000) 0 0 0

Total 58 100 51.000

(29)

15

Pada tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa kadar trombosit pada anak- anak penderita DBD keseluruhan rendah 100% dengan rata-rata kadar trombosit 51/mm³.

Tabel 4.3 Gambaran Jumlah Trombosit Pada Anak-anak Penderita DBD Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin

Trombosit (/mm³)

Umur(tahun) Rendah Mean

f Persentase(%)

≤ 5 14 24 38.000

6-10 18

26

31 49.000

11-15 45 22.000

Total 58 100 109.000

Jenis Kelamin

Laki-laki 30 52 28.000

Perempuan 28 48 24.000

Total 58 100 52.000

Pada tabel 4.3 di atas di ketahui bahwa sebagian besar berumur 11-15 tahun yang terbanyak menderita DBD yaitu sebanyak 26 pasien (45%) dengan rata-rata 22/mm³ , sebagian kecil ≤ 5 tahun sebanyak 14 pasien (24%) dengan rata-rata 38/mm³, Berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak menderita DBD yaitu laki-laki sebanyak 30 pasien (52%) dengan rata-rata 28/mm³.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Antibodi IgG dan IgM Pasien DBD

Antibodi F Persentase(%)

IgM 24 41,4

IgG 13 22,4

IgM-IgG 21 36,2

Total 58 100

Pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pemeriksaan yang dilakukan pada pasien DBD terhadap IgG dan IgM. Pasien dengan hasil positif IgM terbanyak yaitu 24 orang (41,4%).

(30)

16

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Antibodi IgG dan IgM Pasien DBD

Antibodi F Persentase(%)

IgM IgG

24 34

41,4 58,6

Total 58 100

Pada tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa pemeriksaan yang dilakukan pada pasien DBD terhadap IgG dan IgM. Pasien dengan hasil positif IgM sebanyak 24 orang (41,4%), pasien dengan positif IgG sebanyak 34 pasien (58,6%).

4.2 Pembahasan

Pada karakteristik sebagian besar 45% berdasarkan umur 11 – 15 tahun yang terbanyak menderita DBD, dan sebagian besar 52% berjenis kelamin laki-laki, sedangkan 48% berjenis kelamin perempuan paling sedikit menderita DBD, Ini menunjukkan bahwa kasus DBD menjadi kasus yang harus diperhatikan khusus oleh masyarakat luas. Penelitian ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan oleh Megariani dkk tahun 2014, dimana pada usia dari balita sampai anak-anak lebih rentan terkena infeksi demam berdarah. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan anak terhadap penyakit yang masih rentan sehingga anak-anak rentang usia 0-11 tahun akan lebih sering terjangkit sakit penyakit. Nyamuk Aedes aegypti aktif pada pagi hingga siang hari 08.00-13.00 dan disore hari 15.00-17.00. Pada jam-jam ini balita akan cenderung berada dalam rumah dan tidur sedangkan yang bersekolah akan melakukan aktifitasnya disekolah namun nyamuk penyebab DBD ini cenderung menyukai tempat yang lembab, gelap dan ‘berbau’

manusia ditambah lagi jika kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani(2011), dimana dijelaskan bahwa kejadian tingginya resiko kejadian DBD pada anak usia kurang dari 15 tahun dapat disebabkan oleh tingkat imunitas yang masih rendah, faktor kebiasaan tidur siang dan kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk yang tergolong masih rendah. Selain

(31)

17

itu, anak-anak umumnya menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan diluar rumah seperti sekolah dan bermain ( Suryani, 2011).

Adapun pada kejadian DBD dan jenis kelamin, dimana berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian demam berdarah dengue di Kota solok.

Hasil ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyono, et al. (2010), yang mengatakan bahwa jenis kelamin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian DBD, dikarenakan waktu dan lokasi penelitian yang berbeda dari kedua peneliti. Tetapi hasil penelitian yang dilakukan sebanding dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Umaya dkk (2013), sehingga dapat memperkuat hasil dari penelitian ini, dimana jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan kejadian DBD. Hal ini dikarenakan baik Perempuan maupun Laki-laki memiliki potensi yang sama untuk terkena penyakit DBD, karena baik laki- laki maupun perempuan memiliki tempat aktivitas yang sama Depkes(2010).

(32)

18 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Hasil penelitian gambaran hasil jumlah trombosit pada anak-anak penderita DBD di RSUD M.Natsir Solok terhadap 58 sampel yang dilakukan pada bulan Maret-April 2020 dapat ditarik kesimpulan :

1. Berdasarkan Kelompok umur yang paling banyak 11-15 tahun sebanyak 26 orang (45%), degan rata-rata jumlah trombositya 22.000/mm³ dan kelompok umur ≤ 5 tahun 14 orang (24%), dengan jumlah rata-rata rombositnya 38.000/mm³.

2.Berdasarkan Jenis kelamin, laki-laki sebanyak 30 pasien (52%) rata-rata jumlah trombositnya 28.000/mm³ dan perempuan sebanyak 28 orang (48%), dengan rata-rata jumlah trombositnya 24.000/mm³.

5.2 Saran

1. Melakukan penyuluhan tentang DBD, menjelaskan tentang bahaya penyakit DBD.

2. Mengajak pasien melakukan pola hidup sehat.

3. Untuk peneliti selanjutnya disarankanuntuk melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk pasin DBD.

(33)

19

DAFTAR PUSTAKA

Badave GK, Swaroop PA, Rao PN. 2009. Importance of NS1 antigen detection and its association with platelet count for early diagnosis of dengue virus infection. Int J Curr Microbiol App Sci. 4(3):779- 84.

Chen, dkk. (2009). Demam Berdarah Dengue. In Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam p. 1709. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indnesia.

Depkes. (2010). Penemuan dan Tatalaksana Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Jakarta: Depkes RI.

Jilly J.G Masihor, dkk (2008). Hubungan Jumlah Trombosit Dan Jumlah Leukosit Pada Pasien Anak Demam Berdarah Dengue.

Kementrian Kesehatan, R. (2016). 'Infodatin: Hari Demam Berdarah Dengue.StatusDengue',April,p.9.Available at:

Megariani, dkk. (2014). Uji Diagnostik Pemeriksaan Antigen Nonstruktural 1 untuk Deteksi Dini Infeksi Virus Dengue pada Anak.

Soewarno, S. A. (2004). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DBD. , Jurnal Ilmiah Ilmu Ilmu Kesehatan .

Suhendro, N. L. (2009). Demam berdarah dengue.

WHO. (2015). Dengue and Severe Dengue Geneve: World Helath Organization .

WHO. (2016, November 6, 2016, ). Dengue and Severe Dengue. .

(34)

20

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian

(35)

21

Lampiran 2. Surat Balasan keterangan penelitian

(36)

22

Lampiran 3. Data Hasil Penelitian

No Kode

Sampel

Jenis kelamin

(L/P)

Trombosit (/mm³)

Ig M IgG

1. MR L 90.000 + +

2. SR P 73.000 +

3. AL P 21.000 +

4. TO P 72.000 +

5. RZ P 35.000 + +

6. DP P 29.000 +

7. SA P 86.000 +

8. FM L 100.000 +

9. SB P 76.000 +

10. AU L 55.000 +

11. AA P 89.000 +

12. NP P 80.000 +

13. AC L 5.000 +

14. CA P 88.000 +

15. GR L 54.000 +

16. SS P 44.000 +

17. MS L 78.000 + +

18. FM L 93.000 + +

19. YL P 22.000 +

20. SW P 30.000 +

21. HK L 80.000 +

22. SY P 91.000 + +

23. AF L 52.000 +

24. MA L 47.000 +

25. RO L 67.000 + +

26. FJ L 25.000 +

27. KA P 74.000 +

28. BH L 14.000 + +

29. AR L 4.000 +

30. YP P 13.000 + +

(37)

23

31. KS P 97.000 + +

32. YP P 13.000 +

33. AF L 40.000 + +

34. KK P 25.000 +

35. FM L 18.000 + +

36. KA L 6.000 + +

37. LA L 47.000 +

38. AB L 83.000 +

39. MA P 13.000 + +

40. RN P 62.000 +

41. DD P 14.000 + +

42. MA L 95.000 +

43. KA P 97.000 + +

44. FS L 50.000 + +

45. RY L 20.000 +

46. FP L 84.000 + +

47. FA L 88.000 +

48. MF L 21.000 + +

49. NB P 41.000 +

50. IH L 74.000 + +

51. QF P 8.000 +

52. NT P 12.000 +

53. SR P 38.000 +

54. AA L 34.000 + +

55. SR P 7.000 +

56. MA L 50.000 +

57. PA L 64.000 +

58. MH L 57.000 +

(38)

24

Lampiran 4 : Dokumentasi

Gambar

Tabel  4.2  Distribusi  Freskuesi  Trombosit  Pada  anak-anak  Penderita                               DBD di  RSUD M.Natsir Kota Solok
Tabel  4.3  Gambaran  Jumlah  Trombosit  Pada  Anak-anak  Penderita                DBD Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Antibodi IgG dan IgM Pasien DBD
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Antibodi IgG dan IgM Pasien DBD

Referensi

Dokumen terkait

Belum adanya laporan yang memetakan distribusi dari pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di SMC Telogorejo Semarang berdasarkan wilayah, jenis kelamin dan umur pada tahun 2013 -

Berdasarkan hasil penelitian ini Karakteristik IMT berdasarkan jenis kelamin memiliki keterkaitan yang cukup signifikan, yang dimana laki-laki memiliki persentase

Sampel dalam penelitian ini adalah data pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak yang memenuhi kriteria inklusi berupa; usia &lt; 18 tahun, mempunyai data umur, jenis kelamin,

Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa usia, status nutrisi dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian SSD, sedangkan kadar trombosit

Telah terjadi kecenderungan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue DBD dan Kejadian Luar Biasa KLB DBD di berbagai provinsi di Indonesia sehingga dilakukan upaya pencegahan melalui

Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Kejadian Demam Tifoid Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda Kota Banda Aceh Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan

Hasil penelitian juga sejalan dengan Sigarlaki 2007 faktor host yang berhubungan dengan kejadian DBD adalah host p-value = 0,013.9 Pengaruh Agent dengan Kejadian Demam Berdarah