• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEJAHATAN PERANG DALAM KASUS ROHINGYA

N/A
N/A
syarifah hasna

Academic year: 2024

Membagikan "KEJAHATAN PERANG DALAM KASUS ROHINGYA "

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

1 KEJAHATAN PERANG DALAM KASUS ROHINGYA

PENDAHULUAN

Rohingya merupakan kelompok etnis yang tinggal di wilayah Rakhine, Myanmar. Warga etnis Rohingya menganut agama Islam. Di wilayah Myanmar, etnis Rohingya ini merupakan etnis minoritas meskipun menurut sejarawan mereka sudah tinggal di wilayah Rakhine sejak tahun 1826 dan bertambah setiap tahunnya. Disisi lain, penduduk mayoritas yang menganut agama Buddha tidak menerima kehadiran Rohingya. Menurut mereka, Rohingya merupakan pendatang baru sehingga Myanmar menganggap bahwa mereka berhak mendapat kewarganegaraan sebagai kelompok masyarakat adat. Selain Rohingya merupakan etnis yang minoritas karena menganus agama Islam, mayoritas penduduk Rakhine juga melihat melalui segi ekonomi yang dimana Rohingya merupakan pesaing dalam perebutan sumber daya. Akibat hal ini, penduduk Rohingya merasa tidak mendapat keadilan di tempat yang mereka anggap sebagai wilayah mereka sejak bertahun – tahun lalu.

Perbedaan perspektif mengenai kepercayaan dan ekonomi antara penduduk mayoritas di Rakhine dengan penduduk Rohingya menyebabkan konflik berkepanjangan yang mulai diangkat ke dunia Internasional pada tahun 2016.

Konflik ini mengakibatkan banyaknya penduduk Rohingya yang mengungsi ke negara – negara tetangga Myanmar karena mereka mendapat tindakan yang bersifat diskriminatif oleh penduduk mayoritas di Rakhine, yaitu merusak dan menghanguskan tempat tinggal mereka. Tindakan diskriminatif ini mengakibatkan ribuan orang kehilangan nyawa, mengalami gangguan jiwa, dan kehilangan harta bendanya serta keluarga mereka.

Dalam melihat tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh mayoritas penduduk Myanmar, tindakan ini termasuk Genocide dan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Di dunia internasional, isu mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) diatur dalam perjanjan – perjanjian internasional, diantaranya adalah Universal Declaration of Human Rights (UDHR), Statuta Roma, International Covenant on

(2)

2 Civil and Political Rights (ICCPR), International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (ICESCR), Convention on the Rights of Child (CRC), Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) dan International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD).

Jika melihat dari tindakan genocide yang dilakukan oleh Myanmar, dalam pasal 6 dan pasal 7 Statuta Roma yang sangat jelas mengatakan bahwa yang disebut genocide, yaitu “perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau untuk sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, rasa atau keagamaan.” Sedangkan dalam pasal 7 yang disebut dengan kejahatan terhadap kemanusiaan, yaitu “perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik yang ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil.” (Statuta Roma, 1998)

Dalam mengatasi kasus yang dilakukan oleh Myanmar kepada etnis Rohingya, dapat diatasi melalui ICC atau International Criminal Court dengan catatan Myanmar meratifikasi seluruh perjanjian internasional mengenai HAM yang telah disebutkan diatas. Tetapi, Myanmar tidak meratifikasi seluruh perjanjian internasional tersebut sehingga Myanmar tidak terikat dan bertanggung jawab. Hal ini yang menyebabkan tidak dapat berjalannya proses hukum.

Meskipun begitu, dalam pasal 17 ayat (1) huruf (a) yang mengatakan “Kasusnya sedang diselidiki atau dituntut oleh suatu negara yang mempunyai jurisdiksi atas kasus tersebut, kecuali kalau negara tersebut tidak bersedia atau benar-benar tidak dapat melakukan penyelidikan atau penuntutan” (Statuta Roma, 1998). Menurut pasal ini, ICC dapat mengambil alih kasus ini dan menetapkan sanksi hukum terhadap Myanmar yang berbentuk pengenaan prinsip tanggung jawab pidana individu (individual criminal responsibility) yang terdapat dalam pasal 25, serta tanggung jawab komandan dan atasan (commander and superior responsibility) yang terdapat dalam pasal 27. (Statuta Roma, 1998).

(3)

3 Penulis mengambil kesimpulan, dalam kasus genocide dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Myanmar kepada Rohingya harus cepat diselesaikan.

Pemerintah Myanmar harus mengambil sikap tegas atas perbuatan yang dilakukan oleh penduduknya sendiri. Dikarenakan, Dewan Keamanan PBB tidak dapat meneruskan kasus ini ke Mahkamah Pidana Internasional walaupun Myanmar telah terbukti melanggar banyak pasal tetapi tidak dapat diterapkan sanksi karena Myanmar sendiri yang tidak meratifikasi satupun perjanjian internasional yang membahas mengenai Hak Asasi Manusia. Dalam kasus ini, PBB hanya dapat bertindak sebagai mediator dan memberikan usulan kepada kedua pihak sehingga masalah dapat terselesaikan tanpa satu pihak merasa dirugikan meskipun hingga sekarang pengungsi Rohingya masih menjadi masalah untuk banyak negara.

“Istilah hukum pidana internasional semula diperkenalkan dan dikembangkan oleh pakar-pakar hukum internasional dari Eropa daratan seperti Freiderich Meili pada tahun 1910 dari Swiss, Georg Schwarzenberger pada tahun 1950 dari Jerman, Gerhard Mueller pada tahun 1965 dari Jerman, J.P Francois pada tahun 1967, Rolling dan Van Bemmelen pada tahun 1979 dari Belanda, kemudian diikuti oleh pakar hukum dari Amerika Serikat seperti Edmund Wise pada tahun 1965 dan Cherif Bassiouni pada tahun 1986 (Efendi, 2014 : 37).1 Pidana Internasional menunjukkan adanya suatu peristiwa kejahatan yang sifatnya internasional, yaitu kejahatan-kejahatan yang diatur dalam konvensi-konvensi internasional sebagai tindak pidana internasional.Hukum Pidana internasional adalah hukum yang menentukan hukum pidana nasional yang akan diterapkan terhadap kejahatan-kejahatan yang nyata-nyata telah dilakukan bilamana terdapat unsur-unsur internasional didalamnya antara lain individu, negara, dan badan swasta. Hukum pidana internasional sebagai cabang ilmu baru dalam sejarah perkembangannya tidak terlepas dan bahkan berkaitan erat dengan sejarah perkembangan Hak Asasi Manusia (Effendi, 2014 : 34).2

1Effendi, Tolib. 2014. Hukum Pidana Internasional. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Yustisia.

Diakses pada tanggal 29 Desember 2019 jam 13.20 WIB

2Ibid.

(4)

4

“ICC adalah pengadilan permanen dan independen yang mampu melakukan penyelidikan dan mengadili setiap orang yang melakukan pelanggaran berat terhadap kejahatan internasional. Hukum pidana internasional memiliki sumber utama yaitu Statuta Roma. Statuta Roma 1998 tentang pendirian International Criminal Court, Mahkamah Pidana Inernasional yang bersifat permanen merupakan dasar hukum bagi pembentukan dan keberlakuan dari Pengadilan Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC). Sejak disahkan tanggal 17 Juli 1998, Statuta Roma telah mengalami perubahan melalui review conference yang diadakan di Kampala dari tanggal 21 Mei-11 Juni 2010.

Genosida yang diartikan sebagai pembunuhan dengan sengaja, penghancuran atau pemusnahan kelompok atau anggota kelompok tersebut, pertama kali dipertimbangkan sebagai subkatagori dari kejahatan terhadap kemanusiaan (Effendi, 2014 : 111).3

Pengaturan terkait dengan genosida antara lain, piagam mahkamah militer internasional Nurnberg, Konvensi Genosida 1948, Statuta ICTY, Statuta ICTR, Statuta Roma 1998. Sedangkan lembaga pemidanaan genosida antara lain, Pemidanaan oleh Pengadilan Nasional, Pemidanaan oleh Pengadilan Hibrida, dan Pemidanaan oleh Mahkamah Pidana Internasional. Mahkamah Militer Internasional Nurnberg dan Mahkamah Militer Internasional Tokyo merupakan titik dasar bagi pembentukan mahkamah kejahatan internasional pada masa berikutnya yaitu, Mahkamah Militer Internasional Nurnberg,“International Criminal Tribunal for the Former Yugoslovia (ICTY), International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR), International Criminal Court (ICC) (Siswanto, 2015 : 83). 4

“Data dari Amnesty International 2011-2017, setelah konflik ini mulai berkecamuk, orang-orang Rohingnya telah mengalami penderitaan yang cukup panjang akibat pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Pemerintah

3Ibid.

4Siswanto, Arie. 2015. Hukum Pidana Internasional. Yogyakarta : C.V Andi Offset. Diakses pada tanggal 29 Desember 2019 jam 14.30 WIB

(5)

5 Junta Myanmar. Kebebasan bergerak orang Rohingnya sangat terbatas, mereka juga mengalami berbagai bentuk pemerasan dan dikenakan pajak secara sewenang-wenang, perampasan tanah, pengusiran paksa, dan penghancuran rumah dan pengenaan biaya administrasi yang tinggi pada pernikahan.

Sebenarnya perselisihan antara etnis Rohingnya dan pemerintah Myanmar bukanlah konflik tentang agama, yakni berdasarkan Pasal 3 Burma Citizenship Law tahun 1982 menyatakan bahwa rohingnya hanya merupakan warga pendatang yang ditempatkan oleh kolonial Inggris dari Bhanglades hal tersebut ditegaskan kembali oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Myanmar pada 21 Februari 1992. Etnis muslim rohingnya merupakan imigran gelap dan belum mendapat status kewarganegaraan dari Pemerintah Myanmar. Oleh karena hal tersebut sehingga pemerintah Myanmar melakukan diskriminasi terhadap etnis muslim rohingnya tersebut.”

“Mereka telah dipekerjakan sebagai buruh paksa di jalan dan di kamp-kamp militer, meskipun jumlah tenaga kerja paksa di Rakhaing utara telah menurun selama beberapa tahun terkhir. Perlakuan diskriminatif tersebut telah memaksa mereka memilih untuk menjadi manusia perahu dan meninggalkan Myanmar untuk mencari keamanan di negara lain. Negara-negara yang menjadi tempat transit dan tujuan mereka antara lain adalah Bangladesh, Malaisya, Pakistan, Saudi Arabia, Thailand, Indonesia, dan Australia (Nalom Kurniawan , 2107 : 881).5 Sebenarnya perselisihan antara etnis Rohingnya dan pemerintah Myanmar bukanlah konflik tentang agama, yakni berdasarkan Pasal 3 Burma Citizenship Law tahun 1982 menyatakan bahwa rohingnya hanya merupakan warga pendatang yang ditempatkan oleh kolonial Inggris dari Bhanglades hal tersebut ditegaskan kembali oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Myanmar pada 21 Februari 1992.”

5Nalom Kurniawan,2017.Kasus Rohingya dan Tanggung Jawab Negara dalam Penegakan Hak Asasi Manusia.Jurnal Konstitusi, Volume 14, Nomor 4, Desember 2017. Diakses pada tanggal 29 Desember jam 19.28 WIB

(6)

6

“Atas dugaan Genosida, Myanmar digugat ke Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag yang sidangnya dimulai hari Selasa 10 desember 2019 hingga Kamis 12 desember 2019 oleh negara kecil Afrika barat, Gambia. Myanmar dituduh melakukan genosida terhadap warga Muslim Rohingya. Dalam persidangan di Belanda ini, Aung San Suu Kyi akan memimpin sendiri tim pengacara Myanmar.

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Genosida Rohingya Pandangan Hukum Pidana Internasional?

2. Bagaimana upaya penyelesaian sengketa yang terjadi antara Myanmar dengan etnis rohingnya ditinjau dari perspektif hukum pidana internasional?”

PEMBAHASAN

Genosida Rohingya Pandangan Hukum Pidana Internasional

Komunitas Rohingya telah mengalami berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia, termasuk genosida, terutama sejak tahun 1978. Hak Rohingya atas kebebasan bergerak telah sangat dibatasi dan berlakunya Undang-Undang Kewarganegaraan yang mewajibkan Myanmar untuk secara bebas mendiskriminasi orang-orang yang tidak memiliki hak asasi manusia. Status warga negara.

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bahwa tindakan Myanmar merupakan kejahatan genosida, serta upaya untuk menyelesaikan perselisihan antara Myanmar dan etnis Rohingya. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian hukum normatif, khususnya dengan mempelajari literatur dan literatur tentang genosida, dan dengan menggunakan pendekatan historis, pendekatan hukum, pendekatan konseptual dan pendekatan kasus.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tindakan Myanmar terhadap Muslim Rohingya memang merupakan genosida, berdasarkan beberapa faktor yang sesuai dengan pasal 6 Statuta Roma 1998.

(7)

7 Kasus tersebut diputus oleh Mahkamah Internasional Pengadilan Pidana Internasional bekerjasama dengan ICC Pengadilan. Kesimpulannya adalah Myanmar melakukan genosida terhadap kelompok etnis Rohingya dan melakukan diskriminasi terhadap etnis minoritas. Selanjutnya upaya penyelesaian sengketa dilakukan dengan proses peradilan atau mekanisme hukum dan diselesaikan oleh ICC (International Criminal Court).

Istilah hukum pidana internasional pada awalnya diperkenalkan dan dikembangkan oleh para ahli hukum internasional dari benua Eropa, seperti Freiderich Meili di Swiss pada tahun 1910, Georg Schwarzenberger di Jerman pada tahun 1950, Gerhard Mueller di Jerman pada tahun 1965, JP François pada tahun 1967, Rolling and Van Bemmelen tahun 1979 dari Belanda, kemudian pengacara dari Amerika Serikat seperti Edmund Wise tahun 1965 dan Cherif Bassiouni tahun 1986 (Efendi, 2014: 37).

Etnis Muslim Rohingya adalah imigran ilegal dan belum diberikan kewarganegaraan oleh pemerintah Myanmar. Untuk itu, pemerintah Myanmar melakukan diskriminasi terhadap Muslim Rohingya. Komunitas Rohingya telah menghadapi berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia, termasuk genosida, terutama sejak tahun 1978. Hak kebebasan bergerak Rohingya sangat dibatasi dan sebagian besar tidak diakui sebagai warga negara Rohingya.

Tujuan penelitian ini terdiri dari tujuan umum pertama dan tujuan khusus kedua, yang merupakan tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah etnis Rohingya di Myanmar. Menambah pengetahuan khususnya di bidang hukum pidana internasional terkait genosida dan hukum pidana internasional. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah yang pertama untuk menganalisis dan mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan oleh Myanmar terhadap kelompok etnis Rohingya adalah kejahatan genosida.

(8)

8 Tujuan selanjutnya adalah untuk mengetahui bagaimana penyelesaian sengketa antara pemerintah Myanmar dan etnis Rohingya dari perspektif hukum pidana internasional.

Dari konteks di atas, peneliti memperoleh dua rumusan masalah, yaitu apakah kejahatan yang dilakukan Myanmar adalah genosida dan bagaimana upaya penyelesaian sengketa antara Myanmar dengan etnis Rohingya dilihat dari perspektif hukum pidana internasional.

Dalam sengketa ini, cara-cara non-hukum, seperti mediasi, konsiliasi dan negosiasi, telah digunakan untuk menyelesaikan sengketa, namun belum menemukan titik terang dalam sengketa tersebut. Jika metode di luar pengadilan telah digunakan oleh negara untuk mengakhiri perselisihan yang muncul, tetapi masih belum mencapai kesepakatan, mereka dapat diambil oleh Dewan Keamanan Amerika Serikat melalui Mahkamah Pidana Internasional (Susanti, 2014: 17). Didalam yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional terdapat empat yurisdiksi, yaitu :

a. Yurisdiksi Material : Mahkamah Pidana Internasional berwenang mengadili kejahatan yang tercakup dalam Statuta Roma 1998, yaitu dalam Pasal 6 sampai 8, termasuk genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, agresi dan kejahatan perang (Parthiana, 2015:

361). Adapun kasus yang muncul di Myanmar, kejahatannya adalah genosida.

b. Yurisdiksi Personal : Dalam Pasal ke 25, Mahkamah Pidana Internasional hanya mengadili orang perseorangan, tanpa memandang status sosialnya, baik PNS maupun orang lain (Susanti, 2014:18). Dalam kasus Myanmar, individu adalah orang yang bertanggung jawab.

c. Yurisdiksi Teritorial : Pengadilan Kriminal Internasional dapat mengadili kasus-kasus yang timbul di Negara Pihak di mana kejahatan itu dilakukan atau terjadi. Hal ini diatur dalam Pasal 12 Statuta Roma tahun 1998 (Effendi, 2014: 245). NS. Yurisdiksi Sementara:

(9)

9 Sesuai dengan Pasal 11 ayat (1) dan (2) Statuta Roma tahun 1998, Mahkamah Pidana Internasional hanya berwenang mengadili kejahatan yang dilakukan setelah berlakunya ICC secara internasional, yaitu 1 Juli 2002 (Widyawati, 2014:152). Berkenaan dengan kasus di Myanmar bahwa kejahatan itu dilakukan setelah berlakunya secara resmi Pengadilan Kriminal Internasional.

Namun dari cara penyelesaian sengketa pidana internasional, terkait sengketa yang muncul, penyelesaiannya dapat diselesaikan oleh Mahkamah Pidana Internasional, meskipun Myanmar bukan merupakan negara peserta yang telah meratifikasi Mahkamah Pidana Internasional, tetapi seluruh dunia tunduk pada Pengadilan Kriminal Internasional yurisdiksi Pengadilan Kriminal Internasional.

Semua warga negara berada di bawah yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional karena pertama, negara telah meratifikasi Statuta Mahkamah Pidana Internasional, kedua, negara mengakui yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional secara ad hoc, ketiga, Dewan Keamanan Dewan menyelesaikan sengketa ini ke Mahkamah Pidana Internasional agar kasusnya bisa dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional (Susanti, 2014: 19).

upaya penyelesaian sengketa yang terjadi antara Myanmar dengan etnis rohingnya ditinjau dari perspektif hukum pidana internasional

“Dalam Rome Statute of The International Criminal Court 1998 (Statuta Roma tahun 1998) Art 5 dijelaskan mengenai definisi dari pelanggaran HAM yang berbunyi: (Aviantina,2014:12)6

6Aviatina, 2014, Penyelesaian Kasus Pelanggaran Ham Berat Terhadap Etnis Rohingya Di Myanmar Berdasarkan Hukum Internasional. Vol. 2. 2014. Diakses pada tanggal 30 Desember 2019 jam 12.15 WIB

(10)

10

“The jurisdiction of the Court shall be limited to the most serious crimes of concern to the international community as a whole. The Court has jurisdiction in accordance with this statute with respect to the following crimes: (4 Art 5, Rome Statute of The International Criminal Court 1998)”

(a) The crime of genocide;

(b) Crimes against humanity;

(c) War crimes;

(d) The crime of aggression;

“Konflik etnis Rohingya ini merupakan konflik yang didasari atas perlakuan diskriminasi karena perbedaan etnis dan agama. Etnis rohingya tidak diakui keberadaannya oleh negara Myanmar dan tidak mendapatkan kewarganegaraan. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Peraturan Kewarganegaraan Myanmar (Burma Citizenship Law 1982), Myanmar menghapus Rohingya dari daftar delapan etnis utama yaitu Burmans, Kachin, Karen, Karenni, Chin, Mon, Arakan, Shan dan dari 135 kelompok etnis kecil lainnya. President Myanmar Thein Sein melakukan pengusiran pada etnis ini dengan mengatakan dalam forum internasional, bahwa “Rohingya are not our people and we have no duty to protect them”, Presiden Thien Sein menginginkan etnis Rohingya dikelola oleh UNHCR (United Nations High Comissioner for Refugee) atau ditampung di negara ketiga. Selain itu, Presiden Thein Sein menyebut etnis Rohingya di Arakan sebagai “a threat to national security”.

Pernyataan yang dilakukan oleh Presiden Thein Sein berdampak buruk bagi etnis rohingya yang tidak hanya berasal dari pemerintah saja tapi juga dari masyarakat Myanmar.”Etnis Rohingnya mengungsi ke Thailand dan kemudian diusir pula.

Padahal dalam DUHAM pada The article 14 of the Universal Declaration of Human Rights, menyatakan bahwa (Yordan, 2013:165)7

7Y Gunawan, BURMA’S ROHINGYA CASE IN INTERNATIONAL LAW

PERSPECTIVE.JURNAL MEDIA HUKUM.VOL. 20 NO.1 JUNI 2013. Diakses pada laman

(11)

11

“Everyone has the right to seek and to enjoy in other countries asylum from persecution.”

“This right may not be invoked in the case of prosecutions genuinely arising from non-political crimes or from acts contrary to the purposes and principles of the United Nations.”

“Kejahatan terhadap kemanusiaan yang dialami oleh etnis rohingya berupa pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa (crimes against humanity of deportation or forcible transfer of population). Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa (Crimes Against Humanity of Deportation or forcible transfer of population) dalam pasal 7 ayat 2 huruf c Statuta Roma dijelaskan bahwa pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa berarti pemindahan orang secara paksa dengan cara pengusiran atau tindakan pemaksaan lainnya dari daerah dimana mereka tinggal secara sah tanpa diberikan alasan yang diijinkan oleh hukum internasional. Kata paksa disini tidak hanya terbatas pada paksaan fisik saja, namun dapat berupa ancaman kekerasan atau yang dapat memberikan tekanan psikologis.”

“Muladi memberikan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh negara sebagai bentuk pertanggungjawaban atas terjadinya pelanggaran HAM, antara lain : (Muladi,2011:177-178).8”“Pertama, negara harus menjalankan terlebih dahulu willingness and ability untuk mengadili, jika tidak mau atau tidak mampu dalam mengadili maka kasus tersebut akan diambil alih oleh pengadilan pidana internasional; Kedua, negara berdasarkan prinsip equality before the law harus mencegah terjadinya impunity; Ketiga, karena pengadilan HAM berat merupakan pengadilan sesudah terjadinya konflik, negara harus terlebih dahulu dapat

http://journal.umy.ac.id/index.php/jmh/article/viewFile/1411/1455 tanggal 30 Desember 2019 jam 15.37 WIB

8Muladi, 2011. Statuta Roma Tahun 1998 Tentang Mahkamah Pidana Internasional Dalam Kerangka Hukum Pidana Internasional dan Implikasinya Terhadap Hukum Pidana Nasional,Bandung: Alumni. Diakses pada tanggal 30 Desember 2019 jam 19.12 WIB

(12)

12 menyelesaikan konflik seperti dengan cara membentuk komisi kebenaran dan rekonsiliasi; Keempat, pengadilan HAM berat didasarkan atas kejahatan- kejahatan yang diatur dalam hukum internasional; Kelima, negara harus berusaha untuk memenuhi terlebih dahulu ketentuan yang diatur dalam UN Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime and Abuse of Power 1985;

Keenam, negara harus memastikan dan sanggup bahwa kejahatan pelanggaran HAM berat tidak akan terulang lagi dikemudian hari. Ketujuh, negara harus melindungi saksi dan korban; Kedelapan, negara mematuhi berbagai ketentuan- ketentuan internasional yang berhubungan dengan perlindungan HAM. Sebagai contoh pada kasus ini pemerintah Myanmar tidak dapat mengambil suatu tindakan yang tegas untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di negaranya, bahkan terkesan membiarkan permasalahan tersebut berlarut-larut terjadi. Apabila ditinjau berdasarkan hukum internasional, jika suatu negara dirasa tidak mau untuk mengadili para pelaku tindak kejahatan maka kasus tersebut dapat diambil alih oleh Dewan Keamanan PBB. Dengan ini kasus yang terjadi di Myanmar dapat diambil alih oleh Dewan Keamanan PBB untuk merekomendasikan penyelesaian apa yang digunakan untuk mengakhiri kasus yang terjadi di Myanmar.”

“Pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar kepada etnis ronghingya adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang pengusiran secara paksa, pengusiran secara paksa disini dengan melakukan Tindakan- tindakan sistematis sebagai berikut”

• Upaya mengintimidasi“kaum Rohingya dan memaksa mereka keluar dari wilayah arakan dengan melakukan operasi King Dragon pada tahun 1978”

• Tidak diakuinya kewarganegaraan“kaum Rohingya sebagai bagian dari 135 kelompok etnis resmi di Myanmar pada tahun 1982”

• Pengembalian secara paksa“para pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh akibat tidak mampu bertahan dalam situasi konflik yang berkepanjangan pada tahun 1990, serta pemusnahan rumah ibadah (Masjid) dan sekolah pada tahun 2001”

(13)

13

• Munculnya Gerakan“Rohingya elimination group yang didalangi oleh kelompok ekstrimis yang menamakan dirinya 969. Gerakan ini bertujuan untuk menghapus kaum Rohingya dari Bumi arakan. Akibat dilakukannya gerakan ini, sekitar 140.000 orang dipaksa tinggal di kamp konsentrasi yang menyebabkan 200 orang tewas.”

• Terjadinya eksodus besar-besarnya warga rohingya dengan menggunakan kapal untuk mengungsi ke Indonesia, Malaysia, dan Thailand.“Eksodus ini menyebabkan ribuan orang terkatung-katung di lautan dan banyak diantaranya meninggal dalam perjalanan. UNCHR mempekirakan setidaknya terdapat 150.000 orang melarikan diri dari perbatasan Myanmar-Bangladesh sejak Januari 2012-2015”

• Pembantalan terhadap muslim yang terjadi“pada bulan Oktober 2016 yang menewaskan 150 orang dan 3 desa yang hangus dibakar.”

“Padahal dalam Pasal 5 konvensi Internasional tentang penghapusan semua bentuk diskriminasi rasial tahun 1965, yang berbunyi sebagai berikut: Untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dasar yang dicantumkan dalam pasal 2 Konvensi ini, negara-negara pihak melarang dan menghapuskan semua bentuk diskriminasi rasial serta menjamin hak setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, asal bangsa dan suku bangsa, untuk diperlukan sama di depan hukum, terutama untuk menikmati hak dibawah ini:

i. Hak untuk diperlakukan dengan sama di depan pengadilan dan badan- badan peradilan lain;

ii. Hak untuk rasa aman dan hak atas perlindungan oleh negara dari kekerasan dan kerusakan tubuh, baik yang dilakukan aparat pemerintah maupun suatu kelompok atau lembaga;

iii. Hak politik, khususnya hak ikut serta dalam pemilihan umum untuk memilih dan dipilih atas dasar hak pilih yang universal dan sama, ikut serta dalam pemerintahan maupun pelaksanaan maslah umum pada tingkat manapun, dan untuk memperoleh kesempatan yang sama atas pelayanan umum;

iv. Hak sipil lainnya, khususnya;

(14)

14 (i) Hak untuk bebas berpindah dan bertempat tinggal dalam wilayah negara

yang bersangkutan;

(ii) Hak untuk meninggalkan suatu negara, termasuk negaranya sendiri, dan kembali ke negaranya sendiri;

(iii) Hak untuk memiliki kewarganegaraan;

(iv) Hak untuk menikah dan memilih teman hidup;

(v) Hak untuk memiliki kekayaan baik atas nama sendiri ataupun Bersama dengan orang lain;

(vi) Hak waris;

(vii) Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama;

(viii)Hak untuk berpendapat dan menyampaikan pendapat;

(ix) Hak berkumpul dan berserikat secara bebas dan damai;

v. Hak ekonomi, sosial, dan budaya, khususnya :

(i) Hak untuk bekerja, memilih pekerjaan secara bebas, mendapatkan kondisi kerja yang adil dan memuaskan, memperoleh perlindungan dari pengangguran, mendapat upah yang layak sesuai pekerjaannya, memperoleh gaji yang adil dan menguntungkan;

(ii) Hak untuk membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja;

(iii) Hak atas perumahan;

(iv) Hak untuk mendapat pelayanan kesehatan, perawatan medis, jaminan sosial dan pelayanan-pelayanan sosial;

(v) Hak atas pendidikan dan pelatihan;

(vi) Hak untuk berpartisipasi yang sama dalam kegiatan kebudayaan;

(vii) Hak untuk dapat memasuki suatu tempat atau pelayanan manapun yang dimaksudkan untuk digunakan masyarakat umum, seperti transportasi, hotel, restoran, warung kopi, teater, dan taman.”

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menangani kasus pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohingya salah satunya melalui Mekanisme Peradilan Pidana Internasional yaitu di International Criminal Court (ICC) karena berdasarkan fakta fakta yang ada, tindakan pemerinta Myanmar

(15)

15 terhadap Rohingya dapat dikategorikan sebagai tindakan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 7 Statuta Roma.

Penjelasan dari peraturan Pasal 6 Statuta Roma Tahun 1998 diatas memberikan pengertian bahwa Genosida berarti“tindak kejahatan dengan maksud untuk menghancurkan secara keseluruhan atau sebagian suatu kelompok berdasarkan bangsa, ras, etnik ataupun agama. Perbuatan penghancuran yang dimaksud tersebut dapat dilakukan dengan berbagai bentuk kejahatan seperti:

(Ketut, 2018:4-5)9

• “Membunuh anggota kelompok”

• “Menyebabkan luka parah atau merusak mental anggota kelompok”

• “Dengan sengaja mengancam jiwa anggota kelompok yang menyebabkan luka fisik baik sebagian maupn keseluruhan”

• “Melakukan tindakan yang dimaksud untuk mencegah kelahiran dalam kelompok”

• Memindahkan anak anak secara paksa dari suatu kelompok ke kelompok lain.

Pada Pasal 6 Statuta Roma maka apa yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap etnis Rohinya ini dapat dikategorikan sebagai tindakan genosida. Hal ini dikarenakan kekejaman militer Myanmar telah mengakibatkan tidak hanya satu atau dua bahkan ribuan orang etnis Rohingya kehilangan nyawa serta mengalami gangguan jiwa sehingga mengakibatkan etnis Rohingya yang masih bertahan hidup untuk mengungsi ke negara lain seperti Banglades, Malaysia dan Indonesia.

Selain itu kasus Rohingya ini juga masuk dalam kejahatan terhadap kemanusiaan yang diatur dalam pasal 7 Statuta Roma. Penjelasan dari bunyi Pasal

9Ketut Alit Putra, Analisis Tindak Kejahatan Genosida Oleh Myanmar Kepada Etnis Rohingnya Ditinjau Dari Perspektif Hukum Pidana Internasional.e-Journal Komunitas YustisiaUniversitas Pendidikan Ganesha Jurusan Ilmu Hukum (Volume 1 No. 1 tahun 2018). Diakses pada tangggal 30 Desember 2019 jam 19.43 WIB

(16)

16 tersebut,“bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan merupakan salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai serangan yang meluas atau sitematis yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langung terhadap penduduk sipil, tindakan tersebut berupa:(Anis, 2014:31)10

• “Pembunuhan”

• “Pemusnahan”

• “Perbudakan”

• “Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa”

• “Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenng yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum Internasional”

• “Penyiksaan”

• “Perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan secara paksa, atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara”

• “Penganiayaan terhadap suatu tertentu atau perkumpulannya yang didasari persamaan politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum Internasional”

• “Pengilangan orang secara paksa”

• “Kejahatan apartheid”

• “Tindakan-tindakan lain yang tidak berperikemanusiaan, dilakukan

dengan sengaja yang menyebabkan penderitaan terhadap tubuh atau mental atau kesehatan fisik.”

Dilihat dari Pasal 7 Statuta Roma diatas kasus Rohingya ini juga dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim junta militer

10Anis Widyawati, 2014, Hukum Pidana Internasional, Jakarta, Sinar Grafika.. diakses pada tanggal 30 Desember 2019 jam 20.28

(17)

17 Myanmar yaitu salah satunya berupa pembersihan etnik atau pemindahan paksa penduduk.

“Adapun bentuk-bentuk mekanisme diplomasi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan kasus yang terjadi di Myanmar ialah dengan menggunakan Mediasi. Mediasi adalah cara penyelesaian dengan melalui perundingan yang diikutsertakan pihak ketiga sebagai penengah. Pihak ketiga disini disebut sebagai mediator. Mediator disini tidak hanya negara tetapi dapat individu, organisasi internasional dan lain sebagainya.” Mengenai kasus yang terjadi pada etnis rohingya, PBB dapat sebagai mediator untuk menengahi para pihak yang bersengketa (etnis rohingya dengan pemerintah Myanmar dan penduduk warga negara Myanmar). “Serta PBB dapat membantu memberikan usulan-usulan bagi para pihak untuk menyelesaikan masalah yang terjadi tanpa adanya salah satu pihak yang dirugikan. Dalam menyikapi kasus yang terjadi di Myanmar terhadap etnis rohingya, PBB memang telah mengecam keras kepada pemerintah Myanmar untuk segera mengakhiri kekerasan yang terjadi. Namun, hal tersebut tidak ditanggapi dengan baik oleh pemerintah Myanmar dan hingga saat ini masih belum ada upaya penyelesaian.”“Jika dalam menggunakan cara mediasi sudah digunakan oleh negara dalam mengakhiri permasalahan yang terjadi, namun masih belum dapat menyelesaikan masalah yang terjadi dengan hal ini kasus yang terjadi dapat diambil alih oleh Dewan Keamanan PBB untuk diselesaikan menggunakan cara melalui Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court). (Simon, 2009:31)11

“Setelah mengecam Myanmar, PBB membentuk ti, Misi Pencari Fakta Internasional PBB terkait Myanmar (Independent International Fact Finding Mission) pada bulan Agustus 2018 menyatakan taktik militer "sangat tidak sepadan dengan ancaman keamanan yang ada" dan "keperluan militer tidak pernah dapat menjadi pembenaran bagi pembunuhan tanpa pandang bulu,

11Simon, 2009. Mengenal ICC Mahkamah Pidana Internasional, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional, Jakarta. Diakses pada tanggal 30 Desember 2019 jam 22. 17 WIB

(18)

18 perkosaan berkelompok terhadap perempuan, penyerangan pada anak-anak dan pembakaran keseluruhan desa". Myanmar menolak laporan tersebut, dengan menyatakan bahwa operasinya selalu hanya menyasar ancaman milisi atau pemberontak.

“Titik terang atas keadilan bagi Bangsa Rohingnya adalah setelah Negara Gambia mengajukan tuntutan di ICJ atau Mahkamah Internasional di Den Haag pada hari Senin , 11 November 2019 atas Kekejaman yang dilakukan Myanmar kepada Suku Rohingnya. Negara yang mayoritas penduduknya Muslim tersebut mendapatkan dukungan dari 57 anggota Organisasi Kerja Sama Islam dan tim pengacara internasional. Gambia dan Myanmar menandatangani Konvensi Genosida 1948, yang mengharuskan negara-negara ini mencegah dan menghukum kejahatan genosida. Gambia mendesak mahkahmah untuk mengeluarkan sebuah keputusan guna memastikan Myanmar segera” "menghentikan kekejaman dan genosida terhadap warga Rohingya-nya sendiri."”

Tuntutan tersebut dipimpin oleh“Abubacarr M Tambadou, Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman Gambia. Dia sebelumnya bekerja di ICC untuk Rwanda guna menyelidiki genosida pada tahun 1994. Tambadou mengatakan bahwa dirinya terdorong untuk bertindak setelah mendengar sejumlah cerita pembunuhan kejam, perkosaan dan penyiksaan dari korban selamat saat dirinya mengunjungi kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.”Tuntutan itu memperhatikan juga empat yurisdiksi pada ICC yaitu : (Parthiana, 2015:33)12

1. Rationae materiae:“kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan kejahatan agresi, seperti yang dijelaskan dalam pasal 5-8 Statuta Roma tahun 1998. Berkaitan dengan kasus yang terjadi bahwa yang dialami oleh etnis rohingya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.”

12Parthiana, Wayan. 2015. Hukum Pidana Internasional. Bandung : CV. Yrama Widya. Diakses pada tanggal 31 Desember 2019 jam 09.31 WIB

(19)

19 2. Rationae personae:“berdasarkan pasal 25 Statuta Roma tahun 1998, ICC hanya mengadili individu tanpa memandang apakah ia merupakan seorang pejabat negara dan sebagainya. Berkaitan dengan kasus yang terjadi di Myanmar maka disini yang bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan adalah individu.”

3. Ratione loci :“ICC dapat mengadili kasus-kasus yang terjadi di negara peserta dimana menjadi lokasi tempat terjadinya kejahatan hal ini diatur dalam pasal 12 Statuta Roma tahun 1998.”

4. Ratione temporis :“berdasarkan pada pasal 11 statuta roma tahun 1998, bahwa ICC hanya dapat mengadili kejahatan yang dilakukan setelah tanggal 1 Juli 2002. Berkaitan dengan kasus yang terjadi di Myanmar bahwa kejahatan yang terjadi sesudah tanggal tersebut.”

PENUTUP

“Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak ia lahir atau dimulainya ia berinteraksi dengan masyarakat. Hak tersebut tidak dapat diambil oleh siapapun bahkan negara mempunyai tanggungjawab untuk melindungi hak-hak yang dimiliki oleh setiap individu, tidak peduli apakah ia individu yang termasuk dalam etnis mayoritas ataupun etnis minoritas. Mengenai etnis minoritas sudah terdapat perlindungan terhadap etnis minoritas tentang hak- hak yang dimilikinya yang berdasarkan hukum internasional secara umum sudah diatur dalam instrument-instrument internasional, seperti Deklarasi mengenai Hak-hak Penduduk yang Termasuk Kelompok Minoritas Berdasarkan Kewarganegaraan, Etnis, Agama, dan Bahasa 1992, Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik 1966, Konvensi Internasional tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial 1965.

Peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di Rohingya telah menggugah rasa kemanusiaan banyak pihak. Tidak diakuinya etnis Rohingya ke dalam bagian

(20)

20 daftar etnis yang berada di negeri Myanmar tersebut, merupakan upaya peniadaan terhadap HAM warga negara yang telah tinggal beberapa generasi di bagian wilayah negara tersebut juga termasuk genosida. Tindakan itu bahkan ditindaklanjuti dengan tidak diberikannya status kewarganegaraan bagi etnis Rohingya. Bahkan, upaya penghapusan identitas dengan tidak mengakui nama

‘Rohingya’, oleh pemerintahan Myanmar, dapat dikategorikan sebagai suatu upaya yang sistematis untuk menghilangkan identitas etnis tertentu. Tindakan yang lebih mencemaskan adalah, adanya dugaan konfrontasi fisik berupa operasi militer yang diduga menewaskan ratusan masyarakat sipil tak berdosa. Tindakan konfrontasi fisik yang terjadi, telah menjadi pemicu terjadinya gelombang pengungsi etnis Rohingya ke beberapa negara. Atas dasar hal-hal tersebut Gambia yang sama sama meratifikasi konvensi Internasional tentang Penegahan dan Hukuman Kejahatan Genosida (CPPCG) menuntut Myanmar di Mahkamah Internasional.”

(21)

21 Daftar Pustaka

Anis Widyawati, 2014, Hukum Pidana Internasional, Jakarta, Sinar Grafika.

Aviatina, 2014, Penyelesaian Kasus Pelanggaran Ham Berat Terhadap Etnis Rohingya Di Myanmar Berdasarkan Hukum Internasional. Vol. 2. 2014

Effendi, Tolib. 2014. Hukum Pidana Internasional. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Yustisia

Ketut Alit Putra, Analisis Tindak Kejahatan Genosida Oleh Myanmar Kepada Etnis Rohingnya Ditinjau Dari Perspektif Hukum Pidana Internasional.e-Journal Komunitas YustisiaUniversitas Pendidikan Ganesha Jurusan Ilmu Hukum (Volume 1 No. 1 tahun 2018)

Muladi, 2011. Statuta Roma Tahun 1998 Tentang Mahkamah Pidana Internasional Dalam Kerangka Hukum Pidana Internasional dan Implikasinya Terhadap Hukum Pidana Nasional,Bandung: Alumni

Nalom Kurniawan,2017.Kasus Rohingya dan Tanggung Jawab Negara dalam Penegakan Hak Asasi Manusia.Jurnal Konstitusi, Volume 14, Nomor 4, Desember 2017

Parthiana, Wayan. 2015. Hukum Pidana Internasional. Bandung : CV. Yrama Widya

Siswanto, Arie. 2015. Hukum Pidana Internasional. Yogyakarta : C.V Andi Offset Simon, 2009. Mengenal ICC Mahkamah Pidana Internasional, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional, Jakarta.

Y Gunawan, BURMA’S ROHINGYA CASE IN INTERNATIONAL LAW PERSPECTIVE.JURNAL MEDIA HUKUM.VOL. 20 NO.1 JUNI 2013. Diakses pada laman http://journal.umy.ac.id/index.php/jmh/article/viewFile/1411/1455 tanggal 30 Desember 2019 jam 15.37 WIB

(22)

22 Lembar Penilaian Sejawat

Nomor Mahasiswa

Nama Presentase Bekerja(0- 100)

UK 1 UK 2 UK 3

20170610052 Syamsu Rijal Rifai

80 Ya Ya Ya

20170610083 Bilal Rabbani Syauki

80 Ya Tidak Ya

20170610156 Muhammad Fajar Siddiq

80 Ya Tidak Ya

20170610447 Lister Al- Ikhlas

80 Ya Tidak Ya

Referensi

Dokumen terkait

Mengenai penegakan hukum pidana internasional terhadap Presiden Sudan Umar Al-Basir atas tuduhan telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan kejahatan kemanusiaan digolongkan sebagai pelanggaran HAM berat karena dilakukan secara sistematis dan meluas, status

Salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematis yang ditujukan terhadap penduduk

Kuala (UNSYIAH), Banda Aceh. Fokus penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti gabungan ini adalah mengenai implementasi hukum humaniter di Indonesia, di mana salah

Kembali kepada, kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan, dalam konteks hukum pidana internasional tidak terdapat satu pun definisi atau pengertian yang baku

(yang termasuk kejahatan kemanusiaan adalah pembunuhan, pemusnahan, pebudakan, deportasi dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang dilakukan terhadap populasi sipil mana pun,

(iii) Secara sengaja melancarkan serangan terhadap orang, instalasi, material, unit- unit atau kendaraan yang terkait dengan kegiatan kemanusiaan atau misi perdamaian

Sedangkan kejahatan terhadap manusia adalah perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistemik yang diketahunya bahwa serangan tersebut ditunjukan secara