TUGAS STUDI KASUS
MATA KULIAH TEORI MEDAN ELEKTROMAGNETIK
“Penggunaan Sinar X”
Disusun Oleh:
Kelompok 4
Grace Evelline Imanuela Rau 20101104004 Joshua Anumpitan Tatura 20101104011
PROGRAM STUDI FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SAM RATULANGI
2023
1. Sinar X
a. Pengertian Sinar X
Sinar X ditemukan pada tahun 1895 oleh W.C. Rongen. Sinar tersebut merupakan sejenis yang keluar dari sebuah tabung muatan (discharge tube), yang diberi nama sinar X.
Tabung tersebut mengandung gas dengan tekanan yang sangat rendah, yaitu 0,02 Torr.
Elektroda di dalam tabung tersebut dialiri listrik bertegangan tinggi sehingga menghasilkan sinar electron pada katoda. Elektron ini menumbuk anoda sehingga mengemisikan sinar X.
(Setianingsih & Sutarno, 2018).
Sinar-X merupakan pancaran dari gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, panas, cahaya dan sinar ultraviolet, tetapi dengan gelombang yang sangat pendek. Sinar-X mempunyai sifat heterogen serta memiliki panjang gelombang yang bervariasi dan tidak terlihat. perbedaan sinar-X dengan sinar elektromagnetik lainnya juga terletak pada panjang gelombang (Stanford University, 2017). Sinar-X memiliki panjang gelombang yaitu 1/10.000 cm panjang gelombang cahaya, karena memiliki panjang gelombang yang pendek maka sinar-X dapat menembus benda-benda. Panjang gelombang elektromagnetik dinyatakan dalam satuan angstrom 1A= cm. (1/100.000.000cm) (Rasad, 2015).
Hasil percobaan Charles Glover Varkla memberikan kesimpulan bahwa sinar X adalah radiasi elektromagnetik transversal, seperti halnya cahaya tampak, tetapi dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendej. Jangkauan panjang gelombang sinar X diperkirakan mulai dari panjang gelombang cahaya ungu hingga sinar gamma, yaitu 0,01 – 10 nm, frekuensi 3 x 10 16 Hz sampai 3 x 10 19 Hz dan energy 120 eV sampai 120keV (Gambar 1). Sinar X dalam rentang 0.12 – 12 keV (10 to 0.10nm) termasuk sonar X lunak, sedangkan 12 – 120keV (0.10 – 0.01 nm) termasuk sinar X keras.
Gambar 1 Pembagian daerah spectrum elektromagnetik (Nelson, 2010)
Gelombang elektromagnetik memiliki dualism sifat, yaitu bersifat gelombang dan bersifat partikel (hasil percobaan Arnold ommerfeld dan Arthur Compton), namun pembahasan difraksi sinar X umumnya banyak menggunakan sifat sinar X sebagai gelombang.
Sebagai gelombang elektromagnetik, sinar X menjalar dalam medium apapun dengan kecepatan yang hamper tetap yaitu setara dengan kecepatan cahaya di dalam vakum (=3.0 x 108 m/s) dan perbedaan selalu kurang dari 0.01%. Oleh karena itu, secara praktis sinar X tidak dideviasikan oleh refraksi. Indeks refraksi sinar X hanya sedikit lebih kecil dari satu (0,99999). Sinar X selalu menjalar sepanjang garis lurus dan tidak dapat dibelokkan oleh lensa. Namun sinar X dapat dipantulkan oleh cermin.
b. Terbentuknya sinar-X
Sinar-X diproduksi dalam tabung yang hampa udara, didalamnya terdapat filament sebagai katoda dan bidang target sebagai anoda. Filamen dipanaskan sehingga membentuk awan-awan elektron. Antara anoda dan katoda diberi beda potensial yang tinggi, yang menyebabkan elektron bergerak dengan kecepatan tinggi hingga menumbuk bidang target.
Hasil dari peristiwa ini selanjutnya terbentuk radiasi sinar-X yang berkisar 1% dari jumlah energi yang disalurkan dan 99% akan membentuk panas pada katoda (Bushong, 2013).
Gambar 2 Tabung sinar X (Yulihendra, 2002) c. Sifat-sifat sinar-X
Menurut Rasad (2015), sinar-X memiliki beberapa sifat berikut : 1) Daya tembus
Sinar-X dapat menembus bahan, dengan daya tembus yang sangat besar yang digunakan dalam radiografi. Semakin tinggi tegangan tabung (besarnya kV) yang digunakan, maka makin besar daya tembusnya.
2) Radiasi Hambur
Apabila berkas sinar-X melalui suatu bahan atau suatu zat, maka berkas tersebut akan bertebaran ke segala jurusan, yang akan menimbulkan radiasi sekunder (radiasi hambur) pada bahan atau zat yang akan dilaluinya. Hal ini akan mengakibatkan pada gambaran radiograf serta film akan terjadi pengaburan kelabu secara menyeluruh.
Maka dari itu untuk mengurangi akibat radiasi hambur ini, antara subjek dan film rontgen diletakkan grid.
3) Penyerapan
Sinar-X dalam radiografi akan diserap oleh bahan atau suatu zat sesuai dengan berat atom atau kepadatan bahan atau zat tersebut.
4) Efek fotografik
Sinar-X dapat menghitamkan emulsi film (emulsi perak bromida) setelah diproses secara proses kimiawi (dibangkitkan) di dalam kamar gelap.
5) Pendar flour (Fluorosensi)
Sinar-X akan menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti kalsium-tungstat atau zink- sulfid memedarkan cahaya (luminisensi), bila bahan tersebut dikenai radiasi sinar-X.
Luminisensi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : a) Fluorosensi
Fluorosensi akan memendarkan cahaya sewaktu ada radiasi sinar-X saja.
b) Fosforisensi
Pemendararan cahaya akan berlangsung beberapa saat walaupun radiasi sinar-X sudah dimatikan (after-glow).
6) Ionisasi
Efek primer sinar-X yang apabila mengenai bahan atau zat akan menimbulkan ionisasi partikel-partikel bahan atau zat tersebut.
7) Efek biologik
Sinar-X akan menimbulkan perubahan-perubahan biologik pada jaringan. Efek tersebut digunakan dalam pengobatan radioterapi.
2. Interaksi Sinar X dengan Materi
Suatu materi ada yang disusun oleh campuran zat/substansi dan ada yang disusun oleh satu macam zat/substansi. Suatu zat/substansi dapat merupakan senyawa atau unsur. Senyawa kovalen disusun oleh molekul kovalen atau framework kovalen, sedangkan senyawa ionic disusun oleh ion-ion. Molekul atau framework disusun oleh atom-atom. Baik atom maupun ion mengandung electron-elektron.
a. Interaksi sinar X dengan electron
Ketika sinar X menumbuk suatu electron, maka sinar X tersebut dihamburkan oleh electron ke segala arah. Fenomena hamburan sinar X oleh electron dapat diterangkan dengan teori hamburan Thomson dan teori hamburan Compton. Terdapat perbedaan antara kedua teori tersebut. Pada teori Thomson, sinar X yang dihamburkan oleh electron bersifat koheren, yaitu memiliki frekuensi sama dengan sinar X yang dating. Hal itu berarti bahwa tidak ada perubahan energy, atau disebut hamburan elastis. Sedangkan pada teori Compton, terdapat perbedaan panjang gelombang antara sinar X dating dan sinar X yang dihamburkan, sehingga terjadi perubahan energy atau disebut hamburan non elastis. Hamburan Compton terdapat pada Gambar 3. Hamburan Compton lebih mudah dipahami dengan menganggap bahwa sinar X sebagai partikel (foton) dengan energy sebesar hv0, daripada menganggapnya sebagai gelombang.
Menurut teori Thomson, walaupun sinar X dihamburkan oleh electron ke segala arah, namun intensitas sinar yang didifraksikan bergantung pada sudut hamburan. Intensitas sinar yang dihamburkan oleh electron tunggal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
𝐼 = 𝐼0 𝑒4
𝑟2𝑚2𝑐4𝑠𝑖𝑛2𝑎……….(1.1)
Dengan masing-masing variable : e = muatan electron
m = massa r = jarak electron
I0 = intensitas sinar X dating c = kecepatan cahaya
a = sudut antara arah hamburan dana rah percepatan electron
Gambar 3. Hamburan Compton – hamburan sinar X oleh electron (Waseda dkk., 2011) Elektron bebas selalu bergerak sehingga tidak ada gaya luar, akibatnya hamburan Compton merupakan efek yang paling dominan. Namun demikian, intensitas hamburan tersebut secara akurat digambarkan oleh rumus Thomson. Jika ada satu seri electron bebas, maka panjang gelombang yang dihamburkan oleh electron-elektron tersebut berbeda-beda sehingga tidak menyebabkan inteferensi.
b. Efek Fotolistrik
Efek fotolistrik adalah efek yang timbul karena interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan elektron-elektron dalam atom bahan. Pada peristiwa ini energi foton diserap seluruhnya oleh elektron yang terikat kuat oleh suatu atom sehingga elektron tersebut terlepas dari ikatan inti atom elektron yang terlepas itu disebut “fotoelektron”. Karena interaksinya terjadi dengan elektron yang terikat kuat, maka efek fotolistrik harus dianggap sebagai interaksi atara foton dengan atom secara keseluruhan, bukan hanya dengan elektron saja. Untuk itu lebih sering dikatakan bahwa efek fotolistrik merupakan interaksi antara foton dengan awan elektron atom. Efek fotolistrik terutama terjadi pada foton berenergi rendah, yaitu berkisar antara 0,01 MeV hingga 0,5 MeV, dan dominan pada energi foton dibawah 0,1 MeV. Radiasi elektromagnetik dengan energi fotonnnya kecil akan berinteraksi dengan elektron-elektron yang berada di orbit luar atom. Semakin besar energi foton maka elektron- elektron yang berada pada orbit lebih dalam akan dilepaskan. Efek fotolistrik ini umumnya banyak terjadi pada materi dengan Z yang besar, seperti pada tembaga (Z = 29) atau timah hitam (Z = 82).
Gambar 4. Efek fotolistrik (Bushong, 2013)
c. Hamburan Compton
Hamburan Compton terjadi karena foton dengan energi bertegangan tinggi berinteraksi dengan elekton yang tidak terikat secara kuat oleh inti, yaitu elektron yang berada pada kulit terluar dari atom. Elektron itu dilepaskan dari ikatan inti atom dan bergerak dengan energi kinetik tertentu disertai foton lain dengan energi yang lebih rendah disertai foton datang. Foton lain itu disebut foton hamburan dengan energi hµ’ dan terhambur dengan sudut Θ terhambur dengan foton datang. Karena ada energi ikat elektron yang harus dilawan, meskipun sangat kecil, hamburan Compton ini termasuk proses interaksi inelastik. Namun, untuk mempermudah proses perhitungan maupun eksperimen, proses ini diperlukan sebagai proses elastik. Kemungkinan terjadinya hamburan Compton berkurang bila energi foton datang bertambah dan bila Z bahan bertambah, tetapi penurunan ini tidak secepat pada efek fotolistrik. Dalam proses ini, setiap electron bertindak sebagai pusat hamburan, karena itu sifat hamburan bahan bergantung terutama pada kerapatan elektron per satuan massa. Dalam hamburan Compton ini, energi foton datang yang diserap atom diubah menjadi energi kinetik elektron dan foton hamburan yang berenergi lebih rendah. Elektron selanjutnya akan kehilangan energinya melalui proses ionisasi atom bahan.
Gambar 5. Hamburan Compton (Bushong 2013)
d. Hamburan sinar X oleh atom
Dalam suatu atom, electron diamsumsikan memiliki keadaan energy yang berbeda- beda.. Jika interaksi electron dengan sinar X menyebabkan keadaan electron tidak berubah,
maka foton yang diemisikan oleh atom memiliki energy atau panjang gelombang yang sama dengan foton yang dating. Karena itu, hamburan yang dihasilkan bersifat koherwn (hamburan Thomson). Gelombang koheren adalah gelombang-gelombang yang memiliki panjang gelombang dan fasa sama satu sama lain. Dalam fasa yang sama artinya puncak maksmum gelombang tampak di satu sisi.
Sebaliknya, jika interaksi electron dengan sinar X menyebabkan electron mengalami perubahan tingkat energi, maka foton yang dihamburkan memiliki energy (atau panjang gelombang) yang berbeda dengan foto yang dating. Karena itu hamburan yang dihasilkan termasuk hamburan inkoheren atau hamburan Compton. Gelombang inkoheren adalah gelombanggelombang yang memiliki panjang gelombang dan fasa yang berbeda satu sama lain.
Jika atom diradiasi dengan sinar X dengan energy yang tidak mencukupi untuk terjadinya transisi electron, maka yang kita observasi terutama adalah yang bersifat koheren.
Total intensitas sinar X yang dihamburkan oleh sebuah electron terikat sama dengan intensitas hamburan koheren yang dihamburkan oleh electron bebas, sebagaimana diberikan oleh rumus Thomson.
𝐼𝑒−𝑘𝑎𝑡𝑎𝑛𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝐼𝑒 = 𝐼𝑒𝑖𝑘𝑜ℎ𝑒𝑟𝑒𝑛+ 𝐼𝑒𝑖𝑖𝑛𝑘𝑜ℎ𝑒𝑟𝑒𝑛……….(1.2)
Jika sinar X menumbuk atom yang mengandung sejumlah inti dan sejumlah electron, maka setiap electron menghasilkan intensitas hamburan koheren (hamburan Thomson).
Karena massa inti jauh lebih besar dari electron, maka sinar X tidak dapat mengosilasikan inti ke keadaan yang dapat diapresiasi. Karena itu yang diperhitungkan hanya hamburan oleh electron. Gambaran hamburan sinar X oleh electron terdapat pada Gambar 6.
Gambar 6. Hamburan sinar X oleh atom (Waseda dkk., 2011)
Atom dengan nomor atom Z memiliki electron sebanyak Z. Gelombang yang dihamburkan oleh electron-elektron di dalam atom memiliki arah yang berbeda-beda.
Gelombang yang dihamburkan secara koheren oleh tiap-tiap atom memiliki panjang gelombang yang sama sehingga akan mengalami interferensi. Total amplitude yang dihamburkan merupakan jumlah amplitude yang dihamburkan oleh tiap electron.
e. Hamburan sinar X oleh padatan
Ketika sinar X menumbuk suatu atom, maka terjadi hamburan ke segala arah seperti pada electron. Namun, ketika atom-atom berada dalam fondasi Kristal, maka arah hamburan hanya tertentu saja (Gambar 7), karena sinar X yang dating mengalami interferensi konstruktif dan destruktif akibat penataan atom yang teratur dalam Kristal tersebut.
Gambar 7. Arah hamburan sinar X tertentu oleh Kristal (Waseda dkk., 2011)
Max von Laue menemukan bahwa senyawa Kristal beraksi sebagai kisi difraksi 3 dimensi untuk panjang gelombang sinar X yang mirip dengan jarak bidang dalam kisi-kisi Kristal tersebut. Difraksi sinar X terjadi akibat interferensi konstruktif sinar X monokromatik pada Kristal.
Pada interferensi konstruktif, ketika 2 gelombang dalam fasa yang sama satu sama lain, sehingga puncak dan lembah masing-masing gelombang dalam posisi yang sama serta memiliki amplitude yang sama, akibatnya resultan gelombang merupakan dua kali amplitude asalnya. Pada interferensi destruktif, ketika 2 gelombang dengan amplitude sama namun dalam fasa yang berbeda, maka posisi puncak salah satu gelombang sama dengan posisi lembah gelombang yang lain, akibatnya resultan gelombang saling meniadakan. Gambaran interferensi konstruktif dan destruktif terdapat pada Gambar 8.
Gambar 8. Interferensi sinar X konstruktif (a) dan destruktif (b). (Leng, 2008)
f. Produksi Pasangan
Produksi pasangan terjadi karena interaksi antara foton dengan medan listrik dalam inti atom berat dan terjadi disekitar partikel bermuatan. Dalam proses ini, dapat dianggap bahwa foton berinteraksi dengan atom secara keseluruhan. Jika interaksi itu terjadi, maka foton akan lenyap dan sebagai gantinya timbul pasangan dengan 0,51 MeV (m˳c²), maka produksi pasangannya hanya dapat terjadi pada energi foton datang ≥ 1,02 MeV (2m˳c²).
Kedua partikel ini akan kehilangan energinya melalui proses ionisasi atom didalam bahan.
Positron yang terbentuk juga dapat berinteraksi dengan elektron dalam bahan melalui proses anhilasi. Dalam proses ini, massa dari kedua partikel berubah menjadi dua foton dengan energi masing-masing 0,51 MeV terpancar dengan arah yang saling berlawanan. Produksi pasangan hanya penting untuk radiasi elektromagnetik energi tinggi, produksi pasangan meningkat seiring dengan meningkatnya energi elektromagnetik yang datang. Proses ini juga proposional dengan Z² bahan penyerap. Oleh karena itu, produksi pasangan ini lebih sering terjadi pada bahan dengan nomor atom yang tinggi.
Gambar 9. Produksi Pasangan (Bushong, 2013) g. Efek Radiasi sinar-X terhadap Biologi
Menurut International Commission on Radiological Protection (ICRP) efek radiasi pengion terhadap biologi dibagi menjadi dua yaitu : efek stokastik dan efek deterministik (Akhadi, 2000).
a. Efek stokastik
Efek stokastik adalah efek yang berkaitan dengan paparan radiasi dosis rendah yang dapat muncul pada tubuh manusia dalam bentuk kerusakan somatik atau cacat pada keturunan (kerusakan genetik). Efek stokastik yang mengenal dosis ambang. Maka sekecil apapun dosis radiasi yang diterima oleh tubuh ada kemungkinan untuk menyebabkan kerusakan sel somatik maupun sel genetik. Yang dimaksud dosis radiasi rendah adalah dosis radiasi dari 0,25 sampai 1000 uSv. Munculnya efek stokastik berlangsung lama setelah terkena radiasi dan hanya dialami oleh beberapa orang diantara anggota kelompok yang terkena radiasi (Akhadi, 2000).
b. Efek Deterministik
Efek deterministik adalah efek yang berkaitan dengan paparan radiasi dosis tinggi yang kemunculanya dapat langsung dilihat atau dirasakan oleh individu yang terkena radiasi. Efek deterministik dapat muncul seketika hingga beberpa minggu setelah
penyinaran. Efek ini mengenal adanya dosis ambang. Maka hanya radiasi dengan dosis tertentu yang dapat menimbulkan efek deterministik, radiasi yang dibawah dosis ambang tidak menimbulkan efek deterministik tertentu. Sebagai contoh dari efek deterministik adalah erythema kulit (kulit memerah) yang disebabkan karena paparan radiasi sebesar 3- 6 Sv, atau kerontokan rambut akibat oleh paparan radiasi sebesar 6-12 Sv (Akhadi, 2000).
3. Metode Analisis Material dengan Sinar X
Spektrometri sinar X yang paling umum digunakan untuk analisis material adalah spektrometri fluoresensi sinar X (XRF) dan mikroanalisis sinar X pada mikroskopi electron.
Beda keduanya adalah bahwa XRF menggunakan instrument yang berdiri sendiri, sedangkan mikroanalisis sinar X menggunakan instrument bagian dari alat SEM atau TEM.
XRF merupakan metode spektroskopi yang digunakan untuk menentukan kandungan kimiawi suatu bahan dengan cara mendeteksi sinar X karakteristik yang diemisikan (fluoresensi) oleh atom-atom dalam bahan akibat diradiasi dengan berkas radiasi berenergi tinggi. Radiasi karakteristik tersebut mengandung informasi pada sifat dan kelimpahan komponen material. Terdapat 2 macam spektroskopi flueresensu sinar X, yaitu spektroskopi disperse panjang gelombang (Wavelength Dispersive Spectroscopy/WSDS) dan spektroskopi disperse energy (Energy Dispersive Spectroscopy/EDS). Pada WDS, analisis kimia didasarkan pada panjang gelombang sinar X karakteristik, sedangkan pada EDS, analisis didasarkan pada energy sinar X.
XAS merupakan teknik analisis yang mengukur struktur yang bergantung pada energy dengan koefisien absorpsi sinar X yang berdekatan dengan tepi adsopsi (the absorption edge) unsur tertentu. XASdapat digunakan untuk mendapatkan informasi tentang tingkat oksidasi logam. XAS merupakan teknik analitik yang sudah popular digunakan untuk karakterisasi semikonduktor dalam padatan dan liquid, kristalin dan amorf, bulk dan nanomaterial.
Difraksi sinar X merupakan metode karakterisasi material yang di dasarkan pada hamburan koheren sinar X oleh awan electron dan interferensi konstruktif yang terjadi antara sinar X yang dihamburkan oleh sederatan atom-atom dalam Kristal. Metode difraksu sinar X didasarkan pada sinar X yang dihamburkan pada sudut tertentu (sudut Bragg) oleh atom-atom yang tertata dalam system Kristal. XRD dapat digunakan untuk identifikasi senyawa secara kualitatif maupun kuantitatif untuk menentukan kelimpahan senyawa dalam campuran.
4. Keunggulan Metode Difraksi Sinar X
Keunggulan metode difraksi sinar X adalah difraktogram yang spesifik terhadap koposisi kimia dan struktur Kristal material, artinya material yang mengandung komposisi kimia sama namun fasa (struktur)nya berbeda atau komposisi berbeda namun fasa (struktur) sama menghasilkan pola difraktogram yang berbeda sehingga dapat diidentifikasi.
Oleh karena itu, difraksi sinar X dapat digunakan untuk mengidentifikasi material polimorf. Sebagai contoh material yang mengandung campuran a alumina dan y alumina atau material yang mengandung campuran TiO2 anatase, rutil dan brookit.
5. Manfaat Sinar X
- Untuk memastikan bagian dalam tubuh yang mengalami sakit;
- Untuk memantau perkembangan suatu jenis penyakit, misalnya osteoporosis, radang sendi, penyumbatan pembuluh darah, kanker tulang, tumor payudara, gangguan pencernaan, pembesaran jantung, berbagai jenis infeksi, kerusaka gigi, dan lain sebagainya; dan
- Untuk dapat melihat efek dari pengobatan medis yang telah dilakukan.
6. Bahaya Pemanfaatan Sinar X
- Paparan radiasi dosis tinggi selama jangka waktu tertentu dapat menyebabkan penyakit radiasi / sindrom radiasi akut (pingsan, kebingungan, mual, muntah, diare, kerontokan pada rambut, luka pada kulit dan mulut, serta terjadinya perdarahan);Efek jangka pendek (perubahan warna kulit, mual, muntah, diare, dan jumlah sel darah rendah);
- Efek jangka panjang (mulut kering, kesulitan menelan, katarak, dan kerusakan pada kulit);
- Melemahkan tulang;
- Menyebabkan gangguan anemia aplastik (kondisi kesehatan dimana tubuh berhenti dalam memproduksi sel darah yang baru);
- Infertilitas;
- Pada wanita hamil (resiko semua jenis kanker, tumor sistem saraf, dan leukemia pada janin saat ia telah lahir nantinya);
- Rusaknya kelenjar tiroid;
- Meningkatkan resiko terjangkitnya kanker;
- Meningkatkan resiko kerusakan genetik; dan
- Membunuh sel-sel dalam tubuh (baik sel kanker maupun sel sehat).
7. Meminimalkan Risiko Bahaya Sinar X
- Pemanfaatanhanya untuk situasi darurat;
- Hindari pemanfaatan untuk wanita yang sedang hamil;
- Gunakan perisai pelindung saat sedang dlakukan penyinaran Sinar X;
- Meminimalkan waktu paparan; dan
- Pengaturan jarak antara tubuh dan sumber radiasi dua kali lipat.
REFERENSI
Setianingsih, T., & Sutarno. (2018). PRINSIP DASAR DAN APLIKASI METODE DIFRAKSI SINAR-X. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Nelson, SA., 2010, X-Ray Crystalllography, Mineralogy, Tulane University, http://www.tulane.edu/~sanelson/eens211/x-ray.pdf
Leng, Y., 2008, Materials characterization Intoduction to Microscopic and Technology, John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd.
Poltekes Kemenkes Semarang (online). Diakses pada 04 November 2023 dari https://repository.poltekkes-smg.ac.id/repository/BAB%202%20P1337430116015.pdf Dr. Gondohutomo, Amino (2019). MANFAAT & BAHAYA SINAR X BAGI MANUSIA.
Diakses pada 05 November 2023 dari https://ppid.rs-amino.jatengprov.go.id/manfaat- bahaya-sinar-x-bagi-manusia/