• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH SOSIO KULTURAL KESEHATAN MASYARAKAT

N/A
N/A
Cintha Try Afradi

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH SOSIO KULTURAL KESEHATAN MASYARAKAT "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“SOSIO KULTURAL KESEHATAN MASYARAKAT”

KELOMPOK 5 :

1. Cintha Try Afradi (226110884) 2. Faliska Deatriani Kusuma (226110887) 3. Feyza Syifa Azzahra (226110890)

4. Nazyfah (226110901)

5. Neza Luna (226110902) 6. Rafy Abdillah (226110907)

Dosen Pengajar :

Nindy Audia Nadira, S.KM, M.KM

SARJANA TERAPAN PROMOSI KESEHATAN TINGKAT 1B POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RI PADANG

2022/2023

(2)

CEGAH STUNTING

A. Latar Belakang atau Gambaran Program Cegah Stunting

Dampak stunting pada anak-anak akan berpengaruh pada kulitas sumber daya manusia (SDM) dimasa yang akan datang. Sebagai bangsa yang sedang berpacu untuk melakukan pembangunan nasional yang adil dan merata, tentu membutuhkan dukungan SDM yang handal. Kebutuhan SDM yang handal tersebut tentu akan sulit dipenuhi apabila banyak dari anak-anak penerus bangsa yang mengalami stunting. Oleh karena itu, Pemerintah telah menetapkan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting pada 2018-2024.

Pada 9 Agustus 2017 Wakil Presiden RI telah menetapkan 5 Pilar dalam Pencegahan Stunting, yaitu:

1. Komitmen dan Visi Kepemimpinan.

2. Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan Perilaku.

3. Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Pusat, Daerah, dan Desa.

4. Ketahanan Pangan dan Gizi.

5. Pemantauan dan Evaluasi.

Hal tersebut menunjukan bahwa Program Percepatan Pencegahan Stunting merupakan program prioritas pemerintah yang didukung oleh pimpinan pemerintah pusat, yaitu Presiden dan Wakil Presiden, Kementerian/Lembaga terkait, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sampai dengan pemerintah desa. Bahkan ada 23 Kementerian/Lembaga yang dikerahkan untuk berkolaborasi dalam pencegahan stunting. Masing-masing Kementerian/Lembaga diharapkan dapat saling berkoordinasi dan berkonsolidasi pada tugas dan fungsinya masing-masing dengan tujuan yang sama yaitu untuk mendukung pencegahan stunting.

B. Tujuan Program Pencegahan Stunting

Tujuan Program Pencegahan Stunting sebagai berikut:

1. Memastikan agar semua sumber daya diarahkan dan dialokasikan untuk mendukung dan membiayai kegiatan-kegiatan prioritas, terutama meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi pada rumah tangga 1.000 HPK (ibu hamil dan anak usia 0-2 tahun).

(3)

2. Agar semua pihak di semua tingkatan dapat bekerja sama untuk mempercepat pencegahan stunting, dan

3. Melibatkan Kementerian/Lembaga, akademisi dan organisasi profesi, masyarakat madani, dunia usaha, dan mitra pembangunan/donor.

C. Peran Serta Masyarakat

1. Mengenali tanda-tanda stunting pada anak

Masyarakat harus dilatih untuk mengenali tanda-tanda stunting pada anak-anak, seperti tinggi badan yang pendek dan berat badan yang rendah. Hal ini akan membantu untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan perawatan dan perhatian khusus.

2. Menyediakan makanan bergizi

Masyarakat dapat membantu program stunting dengan menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak, baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua dan keluarga dapat memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan makanan yang seimbang dan bergizi, sementara masyarakat lainnya dapat membantu dengan menyediakan makanan sehat di sekolah atau pusat komunitas.

3. Mengikuti program kesehatan anak

Masyarakat dapat membantu dengan mengikuti program kesehatan anak yang disediakan oleh pemerintah atau lembaga kesehatan setempat. Ini termasuk pemeriksaan kesehatan dan imunisasi, serta edukasi tentang cara merawat anak dengan baik.

4. Memperjuangkan akses Kesehatan

Masyarakat dapat membantu dengan memperjuangkan akses kesehatan yang lebih baik untuk anak-anak, terutama di daerah pedesaan atau yang terpencil. Ini termasuk memastikan bahwa fasilitas kesehatan yang memadai tersedia dan bahwa orang tua memahami pentingnya kesehatan anak.

5. Mengikuti program pelatihan

Pemerintah sering mengadakan program pelatihan untuk membantu masyarakat memahami pentingnya nutrisi yang baik dan cara merawat anak-anak dengan benar.

Masyarakat dapat membantu program stunting dengan mengikuti pelatihan ini dan memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk membantu anak-anak mereka dan anak-anak lain di komunitas mereka.

(4)

D. Kaitan Program Pencegahan Stunting dengan Sosio Kultural

Program pencegahan stunting memiliki kaitan yang erat dengan sosio kultural karena kondisi stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosio kultural seperti tingkat pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan, dan praktik pemberian makan pada anak. Berikut beberapa kaitan antara program pencegahan stunting dengan sosio kultural :

1. Pengetahuan dan sikap terkait nutrisi

Pengetahuan dan sikap terkait nutrisi dapat mempengaruhi praktik pemberian makan pada anak. Dalam beberapa keluarga, misalnya, makanan yang dianggap bergizi mungkin tidak selalu tersedia atau terjangkau, sehingga praktik pemberian makan pada anak dapat menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, program pencegahan stunting perlu mengedukasi masyarakat tentang nutrisi yang tepat dan praktik pemberian makan yang baik.

2. Praktik pemberian makan pada anak

Praktik pemberian makan pada anak juga dipengaruhi oleh faktor sosio kultural, seperti kepercayaan dan tradisi. Misalnya, beberapa keluarga mungkin masih memegang tradisi pemberian air kelapa atau susu sapi murni sebagai makanan bayi yang baik, padahal air kelapa tidak memiliki nutrisi yang cukup, sementara susu sapi murni tidak cocok untuk bayi di bawah 1 tahun. Oleh karena itu, program pencegahan stunting perlu memperhatikan faktor-faktor sosio kultural dalam upaya mengubah praktik pemberian makan pada anak.

3. Akses terhadap layanan kesehatan

Akses terhadap layanan kesehatan juga sangat penting dalam pencegahan stunting. Keluarga yang tinggal di daerah terpencil atau miskin mungkin kesulitan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai, sehingga kondisi stunting pada anak bisa terus berlanjut. Oleh karena itu, program pencegahan stunting perlu memperhatikan akses terhadap layanan kesehatan yang adil dan merata, terutama bagi keluarga yang tinggal di daerah terpencil atau miskin.

4. Peran perempuan dalam keluarga

Peran perempuan dalam keluarga sangat penting dalam pencegahan stunting, karena biasanya perempuan yang lebih banyak terlibat dalam praktik pemberian makan pada anak. Oleh karena itu, program pencegahan stunting perlu

(5)

memperhatikan peran perempuan dalam keluarga dan memberikan dukungan untuk meningkatkan peran perempuan dalam upaya pencegahan stunting.

E. Kelebihan dan Kekurangan Program Pencegahan Stunting 1. Kelebihan Program Stunting:

a. Meningkatkan kesehatan anak: Program stunting bertujuan untuk meningkatkan kesehatan anak dengan memberikan asupan gizi yang cukup pada masa awal kehidupan. Dengan demikian, program stunting dapat membantu meningkatkan kesehatan anak dan mencegah terjadinya masalah kesehatan yang dapat mengganggu pertumbuhan anak.

b. Mengurangi biaya kesehatan: Dengan mencegah terjadinya stunting, program ini dapat membantu mengurangi biaya kesehatan yang harus dikeluarkan untuk mengobati masalah kesehatan yang disebabkan oleh kurang gizi.

c. Meningkatkan kualitas hidup: Anak-anak yang terkena stunting biasanya akan mengalami masalah kesehatan sepanjang hidupnya. Dengan mengurangi angka stunting, program stunting dapat membantu meningkatkan kualitas hidup anak dan masa depan mereka.

d. Mendorong perubahan perilaku masyarakat: Program stunting dapat membantu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam hal pemberian makan pada anak, akses terhadap layanan kesehatan, dan penggunaan sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

2. Kekurangan Program Stunting:

a. Sumber daya yang terbatas: Program stunting memerlukan sumber daya yang cukup, seperti dana, tenaga ahli, dan infrastruktur. Oleh karena itu, program ini dapat sulit dilaksanakan di daerah yang memiliki sumber daya yang terbatas.

b. Tantangan perubahan perilaku masyarakat: Perubahan perilaku masyarakat yang diperlukan dalam program stunting seringkali sulit dicapai, karena hal itu melibatkan perubahan tradisi dan kebiasaan yang sudah tertanam dalam masyarakat.

c. Masalah penyebarluasan informasi: Informasi tentang pentingnya gizi yang cukup dan praktik pemberian makan yang baik pada anak tidak selalu tersedia di seluruh masyarakat. Oleh karena itu, program stunting perlu melakukan upaya penyebaran informasi yang efektif dan terus-menerus agar dapat mencapai target yang diinginkan.

(6)

d. Tantangan dalam pemantauan dan evaluasi: Program stunting memerlukan pemantauan dan evaluasi yang terus-menerus untuk mengetahui efektivitas program tersebut. Tantangan dalam pemantauan dan evaluasi ini dapat terjadi karena kurangnya sumber daya dan infrastruktur yang memadai, sehingga sulit untuk mengevaluasi program secara terus-menerus

F. Aspek lainnya

Selain itu salah satu upaya promotif preventif dalam rangka menanggulangi berbagai masalah gizi dan kesehatan tersebut, Kementerian Kesehatan telah mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dengan fokus pada 3 (tiga) kegiatan yaitu meningkatkan aktifitas fisik,konsumsi sayur dan buah, dan deteksi dini penyakit.

Kegiatan intervensi spesifikyang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dalam penanggulangan masalah gizi antara lain:

a. Pemberian Tablet Tambah Darah untuk remaja putri, calon pengantin, ibu hamil b. Promosi ASI Eksklusif

c. Promosi Makanan Pendamping-ASI

d. Promosi makanan berfortifikasi termasuk garam beryodium e. Promosi dan kampanye Tablet Tambah Darah

f. Suplemen gizi mikro (Taburia) g. Suplemen gizi makro (PMT) h. Kelas Ibu Hamil

i. Promosi dan kampanye gizi seimbang dan perubahan perilaku j. Pemberian obat cacing

k. Tata Laksana Gizi Kurang/Buruk l. Suplementasi vitamin A

m. Jaminan Kesehatan Nasional

(7)

DAFTAR PUSTAKA

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-ternate/baca-artikel/15305/Program-Penurunan- Stunting-Apa-Susahnya.html

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/15355/Pendanaan-Program-Penurunan- Stunting.html#:~:text=Program%20Percepatan%20Pencegahan%20Stunting%20bertujuan,us ia%200%2D2%20tahun

https://amp.kompas.com/nasional/read/2021/09/13/17285331/rumitnya-masalah-stunting- dari-kesehatan-hingga-sosial-budaya

https://jatengprov.go.id/publik/peran-aktif-masyarakat-percepat-penurunan-stunting-jateng/

Referensi

Dokumen terkait

Puja dan puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT karena atas rahmatnya, skripsi yang berjudul Dampak Ekowisata terhadap Kondisi Sosio- Ekonomi dan

an dengan etnik Jawa. Akan tetapi dalam kaitan dengan ekspresi kultural, pengaruh pangan terhadap etnik Madura dapat dikatakan sangat kering. tidak satu pun me- ngandung

Kondisi faktor determinan utama pada masa transisi yaitu faktor sosio- ekonomi, determinan kultural, higiene dan nutrisi serta determinan medis dan kesehatan masyarakat

Islam sebagai pedoman hidup tentunya memiliki kaitan erat dengan kesehatan reproduksi mengingat Islam memiliki aturan-aturan dalam kehidupan manusia yang bertujuan untuk

Perubahan struktur kognitif merupakan fungsi dari pengalaman, dan kedewasaan akan terjadi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu (Budiningsih 2005). Teori

KESIMPULAN Dari paparan diatas mengenai kondisi lingkungan dalam implementasi program pengembangan destinasi pariwisata dapat disimpulkan bahwa kondisi sosio kultural masyarakat

Penegakan aturan dan peraturan tentang lingkungan: Pemerintah dapat menegakkan aturan dan peraturan yang berkaitan dengan lingkungan untuk mengurangi paparan terhadap faktor risiko

Dokumen ini berisi laporan mahasiswa akuntansi bernama Farhan Muhammad mengenai reportase media berita multidisiplin tentang program pencegahan stunting di Desa Kluwih dan berita