• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PATIENT SAFETY DALAM PRAKTEK KEBIDANAN PADA NEONATUS DAN BAYI

N/A
N/A
Armedya Labiba

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH PATIENT SAFETY DALAM PRAKTEK KEBIDANAN PADA NEONATUS DAN BAYI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PATIENT SAFETY DALAM PRAKTEK KEBIDANAN PADA NEONATUS DAN BAYI

Dosen Pengampu: Nana Usnawati, SST., M.Keb.

Mata kuliah: konsep kebidanan

Oleh : Kelompok 5

1. Armedya Labiba A (P27824423251) 2. Diska Linta Sabrianti (P27824423256) 3. Evi Merlina Puspita Dewi (P27824423261) 4. Lidia Sabattina (P27824423266)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL TENAGA KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN

(2)

KATA PENGANTAR

Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terselesaikannya Makalah ini, sebagai salah satu tugas mata kuliah Hak Azasi Anak dan Perempuan pendidikan Diploma IV Kebidanan Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Magetan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya.

Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu Nana Usnawati,SST., M.Keb selaku dosen mata kuliah Konsep Kebidanan dan juga rekan satu kelompok yang ikut serta dalam pembuatan makalah ini, sehingga makalah dapat terselesaikan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan pahala atas segala amal baik yang telah diberikan dan semoga makalah ini berguna bagi semua pihak yang memanfaatkan.

Magetan, Agustus 2023

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB 1 PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB 2...3

IDENTIFIKASI PENERAPAN PATIENT SAFETY NEONATUS DAN BBL ...3

BAB 3 PEMBAHASAN...5

3.1 Pengertian Pasien Safety...5

3.2 Tujuan Pasien Safety...5

3.3 Standar Pasien Safety...6

3.4 Sasaran Keselamatan Pasien...10

3.5 Kesalahan Medis...11

3.6 Penerapan Patient Safety Pada Neonatus...12

3.7 Pembahasan Berdasarkan Kasus...13

BAB 4 PENUTUP...14

4.1 Kesimpulan...14

4.2 Saran...14

DAFTAR PUSTAKA...15

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keselamatan pasien merupakan salah satu isu global dalam pelayanan kesehatan. World Health Organization (WHO) melaporkan pasien diseluruh dunia yang terancam mendapatkan cidera, bahkan kematian setiap tahunnya terkait dengan kesalahan prkatik kesehatan. Oleh kaerena itu, WHO mendeklarasikan lembaga word alliance for patient safety sebagai bentuk perhatian dunia terhadap keselamatan pasien di berbagai Negara ( Word Health Organization, 2016).

Keselamatan pasien (Patient Safety) adalah suatu system yang membuat asuhan pasien menjadi lebih aman, meliputi asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan risiko paisen, pelaporan dan insiden analisis insiden, kemampuan dasar belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cidera yang disebabkan. Oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau mengambil tindakan yang seharusnya diambil ( Kemenkes, 2017 ).

Penerapan Patient Safety perlu di lakukan Rumah sakit, Puskesmas maupun BPM. Pelayanan kesehatan pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan pasien. Terdapat ratusan prosedur macam obat, ratusan tes dan prosedur dan serta alat dengan teknologinya. Sementara itu tenaga profesi yang siap memberikan pelayanan 24 jam terus menenrus. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak di kelola dengan baik dapat menimbulkan kejadian tidak diharapkan (KTD).

(5)

Mengingat betapa pentingnya hal tersebut, maka sangatlah penting sebagai seorang bidan memahami tentang konsep patient safety, sehingga pada saat melakukan asuhan kebidanan mulai dari pengkajian, penetapan diagnosa kebidanan, intervensi, melakukan tindakan dan serta evaluasi tidak terjadi medical error.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian dari patient safety ? 1.2.2 Apa tujuan dari patient safety ? 1.2.3 Apa standart patient safety ?

1.2.4 Bagaimana sasaran keselamatan pasien ? 1.2.5 Bagaimana Kesalahan medis pasien?

1.2.6 Bagaimana penerapan patient safety pada neonatus ? 1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui pengertian dari patient safety.

1.3.2 Mengetahui tujuan dari patient safety.

1.3.3 Mengetahui stanndart dari patient safety.

1.3.4 Mengetahui sasaran keselamatan pasien.

1.3.5 Mengetahui kesalahan medis pasien.

1.3.6 Mengetahui penerapan patient safety pada neonatus.

(6)

BAB 2

IDENTIFIKASI PENERAPAN PATIENT SAFETY NEONATUS DAN BBL

Dilansir dari CNN Indonesia, Ibu yang bernama Siti Mauliah (S) asal Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengaku bayi laki-lakinya tertukar usai melahirkan di rumah sakit pada 18 Juli 2022. Hari pertama masih disusui. Ketika hari kedua bertemu bayinya lagi untuk menyusui, sudah merasa aneh karena secara psikologis mungkin merasa beda waktu menyusui di hari kedua. Pada hari ketiga setelah melahirkan saat akan pulang, seorang suster bertanya kepada ibu S perihal nama pasien.

Menurut pengakuan ibu S, disitu mulai tertukar gelangnya. Namun, saat dikonfirmasi kembali pada suster, yang bersangkutan bilang bahwa gelangnya hanya jatuh dan tertukar, bukan bayinya yang tertukar. Ketika akan pulang keesokan harinya Ibu S meminta gelang bayinya lagi, ternyata yang diberikan malah atas nama pasien lain. Di situ ibu S bertanya mengapa gelangnya atas nama pasien lain. Dikonfirmasi, alasan rumah sakit itu hanya tertukar gelang. Dan kasus ini berlarut hingga 1 tahun.

Kuasa hukum Ibu S mengatakan, bahwa kliennya telah melakukan tes DNA untuk memastikan apakah bayi tersebut anak kandung kliennya. Hasil tes DNA telah keluar menyatakan bahwa bayi tersebut bukan anak kandungnya. Atas kejadian ini, pihak ibu S meminta tanggung jawab rumah sakit. Karena belum ada kejelasan. Akhirnya melapor ke Unit PPA Polres Bogor.

Polisi pun mengaku telah menerima laporan tersebut. Kasi Humas POlres Bogor mengatakan saat ini laporan tersebut masih dalam proses penyelidikan.

Polisi akan menyampaikan informasi lebih lanjut soal penyelidikan kasus

(7)

ini.Informasi ini baru diketahui pihak RS setelah Ibu S kemudian datang sampai bertemu dengan manajemen RS sekitar bulan Mei di 2023. Dengan temuan itu, pihak RS lantas merasa perlu untuk melakukan tes dengan ibu berinisial B yang diduga sebagai ibu asli. Akan tetapi kuasa hukum RS menyebut B belum ingin tes karena mentalnya tidak siap

Kuasa hukum mengatakan pihak RS sudah mempertemukan S dengan keluarga ibu B. Selain itu, RS juga sambil membeberkan hasil tes DNA S dengan bayinya. Dia mengaku pihak RS sudah menyampaikan hasil tes DNA S kepada Ibu B secara terang-terangan dan terbuka. Satu minggu kemudian, Gregg mengataan pihak RS sudah mencoba berkomunikasi dengan Ibu S melalui sambungan telepon. Akan tetapi, Ibu B menyatakan belum bersedia. Di sisi lain, Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Yohannes Redhoi Sigiro mengatakan Ibu Siti masih merawat bayi yang ada di rumahnya dengan baik seperti anak sendiri meski membuat laporan itu. Pihak kepolisian juga mengkonfirmasi data dari rumah sakit berkaitan dengan data persalinan setahun yang lalu.

Selain itu petugas gabungan yang di dalamnya termasuk pejabat Dinkes Bogor berhasil membujuk orang tua bayi yang sempat menolak tes DNA, untuk akhirnya sepakat menjalani tes DNA. Pihak keluarga kedua bayi tertukar di Kabupaten Bogor menghadiri prosesi pengumuman tes silang DNA di Polres Bogor, Jumat (25/8). Selain itu prosesi tersebut turut dihadiri oleh pihak RS Sentosa. Hasil tes DNA terhadap dua bayi di Bogor menyatakan keduanya tertukar dari orang tua aslinya.

(8)

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1Pengertian Pasien Safety

Menurut Permenkes Nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan pasien, keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Keselamatan pasien merupakan indikatro yang paling utama dalam sistem pelayanan kesehatan, yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam menghasilkan pelayanan kesehatan yang optimal dan mengurangi insiden bagi pasien [ CITATION Muh21 \l 1057 ].

3.2Tujuan Pasien Safety

Menurut Permenkes Nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan pasien, Pengaturan Keselamatan Pasien bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan fasilitas pelayanan kesehatan melalui penerapan manajemen risiko dalam seluruh aspek pelayanan yang disediakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan.

Sedangkan tujuan keselamatan pasien secara internasional adalah : a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit

b. Meningkatkan akuntabilitas umah sakit terhadap pasien danmasyarakat

(9)

c. Menurunkan KTD

d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadipengulangan KTD

3.3Standar Pasien Safety

Menurut Permenkes Nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan pasien, standar patient safety adalah:

1. Hak pasien

Standarnya adalah Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasi pelayanan termasuk kemungkinan KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).

Kriterianya adalah :

a) Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.

b) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikanpenjelasan yang jelas dan benar kepadapasien dan keluargatentang rencana dab hasil pelayanan, pengobatan atauprosedur untuk pasien termasuk kemuningkan terjadinyaKTD

2. Mendidik keluarga pasien

Standarnya adalah Rumah sakit harus mendidik pasien tentangkewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Kriterianya adalah Keselamatan dalam memberikan pelayanandapat di tingkatkan dengan keterlibatan pasien adalah partnerdalam proses pelayanan, karena itu di rumah sakit harus adasistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarga pasiententang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhanpasien.

Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dankeluarga dapat:

a) Memberikan informasi yang jelas, lengkap dan jujur.

b) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab.

c) Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.

d) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.

e) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit f) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.

g) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

(10)

Standarnya adalah Rumah sakit menjamin kesinambunganpelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unitpelayanan. Kriterianya adalah:

a) Koordinasi pelayanan secara menyeluruh.

b) Koordinasi pelayanan disesuaikan kebituhan pasien dan kelayakan sumber daya

c) Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi d) Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien. Standarnya adalah Rumah sakit mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KTD. Kriterianya adalah:

a) Setiap rumah sakit melakukan rancangan (design) yang baik sesuai dengan "Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit".

b) Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja.

c) Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif.

d) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data semua data dan informasi hasil analisis.

5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien.

Standarnya adalah :

a) Pimpinan dorong dan jamin implementasi program keselamatan pasien melalui "7 Langkah Menuju Keselamatan Pasien di Rumah Sakit".

b) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif dan indentifikasi risiko keselamatan pasien dan mengurangi KTD.

c) Pimpinan dorong dan tumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien.

(11)

d) Pemimpin mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta tingkatkan keselamatan pasien.

e) Pemimpin mengukur dan mengkaji efektifitas konstribusi dalam meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

Kriterianya adalah :

a) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola programkeselamatan pasien.

b) Terdapat tim program proaktifuntuk identifikasi risikokeselamatan dan program meminimalkan insden.

c) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semuakomponendarirumahsakitterintegritasdanberpartisipasi.

d) Tersedia prosedur cepat tanggap" terhadap insiden,termasuk asuhankepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyimpanan informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.

e) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden.

f) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden.

g) Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelolaan pelayanan.

h) Tersedia sumber daya dan sisitem informasi yang dibutuhkan.

i) Tersedia sasaran terukur dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektifitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien.

Standarnya adalah :

(12)

a) Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dnegan keselamatan pasien secara jelas.

b) Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kopetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.

Kriterianya adalah :

a) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien.

b) Mengintegrasi topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

c) Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan komunikasi dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

d) Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Standarnya adalah :

a) Rumah sakit merencanakan dan mendesign proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.

b) Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Kriterianya adalah :

a) Disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesign proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.

(13)

b) Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi menejemen informasi yang ada.

7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamtan pasien Standarnya adalah terdiri dari :

a) Fasilitas pelayanan kesehatan merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal

b) Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat Kriterianya adalah terdiri dari :

a. Perlu disediakan anggaran utuk merencakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien

b. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada

3.4Sasaran Keselamatan Pasien

Menurut Permenkes Nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan pasien, secara nasional untuk seluruh Fasilitas pelayanan Kesehatan,diberlakukan Sasaran Keselamatan Pasien Nasional yang terdiri dari :

a. Sasaran 1: Identifikasi pasien dengan benar

Keadaan yang membuat identifikasi tidak tepat ialah saat pasien dalam keadaan disorientasi, terbius, koma, saat berpindah tempat dan kamar tidur, pindah lokasi dilingkungan rumah sakit, gangguan pendengaran, lupa identitas, atau dalam keadaan situasi lain. Proses identifikasi pasien ini harus terdapat minimal 2 dari 3 bentuk identifikasi, yakni nama pasien, tanggal lahir, serta nomor rekam medik, atau juga bentuk lain seperti barcode atau NIK (nomor induk kependudukan) dengan tujuan dapat memastikan ketepatan pasien yang mendapat tindakan dan menyelaraskan

(14)

b. Sasaran 2 : Peningkatan komunikasi efektif

Komunikasi dikatakan efektif jika tepat waktu, akurat, lengkap, tidak ambigu, dan diterima baik oleh penerima informasi yang bertujuan untuk meminimalkan kesalahan. Komunikasi dapat berbentuk verbal, elektronik, atau tertulis. Komunikasi yang rentan terjadi kesalahan ialah komunikasi verbal atau melalui sambungan telepon.

c. Sasaran 3 : meningkatkan keamanan obat-obatan yag harus diwaspadai Demi meningkatkan keamanan obat yang harus diwaspadai, rumah sakit harus menetapkan risiko spesifik dari masing-masing obat dengan memperhatikan peresepan, penyimpanan, penyiapan, pencatatan, serta memonitoring. Obat jenis high alert disimpan di bagian farmasi/unit/depo.

d. Sasaran 4 : Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar.

Pemberian tanda di tempat operasi, lokasi tempat operasi harus diberi tanda yang tepat dan dapat dikenali, termasuk sisi lateral, daerah struktur multipel, jari baik tangan maupun kaki, lesi, dan juga tulang belakang.

1) Melakukan verifikasi praoperasi, dilakukan sebelum pasien tiba di tempat operasi dengan memastikan ketepatan tempat, prosedur dan pasien, dokumen yang terkait, rontgen, dan hasil pemeriksaan yang relevan, tersedia peralatan medik khusus seperti implant yang dibutuhkan pasien.

2) Melakukan Time Out sebelum tindakan, dilakukan dengan semua anggota tim yang terlibat datang dan menyelesaikan pertanyaan yang belum terjawab atau hal lain yang masih diragukan

e. Sasaran 5 : Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan

(15)

Upaya untuk mengurangi infeksi dengan menerapkan hand hygiene sesuai dengan pedoman World Health Organization (WHO) dengn para staf diberikan pelatihan menggunakan sabun, disinfektan, dan handuk sekali pakai.

f. Sasaran 6 : Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh

Menjalankan program monitoring misalnya, pembatasan gerak atau juga pembatasan intake cairan untuk mengurangi risiko dengan menetapkan kebijakan dan prosedur yang sesuai dengan rumah sakit.

3.5Medical Error

Menurut[ CITATION And21 \l 1057 ] Medical Eroor/Kesalahan medis memang cukup marak didengar dan ditemui dalam dunia kesehatan dan hukum kesehatan. Sitilah kesalahan medis tentunya menjadi kajian tersendiri dalam hukum kesehatan dan beberapa ahli medis lainnya. Tidak terkecuali aspek pengertian kesalahan medis yang sangat multipersepsi di kalangan akademisi dan praktisi.

Terdapat pengelompokan tipe kesalahan medis antara lain : a. Diagnostik

1) Kesalahan atau keterlambatan diagnosis 2) Gagal atau terlambar melakukan tes

3) Menggunakan tes yang sudah ketinggalan zaman 4) Kegagalan dalam menindaklanjuti hasil tes b. Terapi

1) Kesalahan dalam melakukan tindakan bedah, prosedur atau tes

(16)

2) Kesalahan dalam memberikan terapi

3) Kesalahan dalam menetapkan dosis atau cara menggunakan sebuah obat

4) Keterlambatan dalam mengobati atau merespon hasil tes yang abnormal

5) Memberikan terapi yang tidak tepat indikasi c. Pencegahan

1) Kegagalan dalam memberikan pengobatan profilaksis

2) Kegagalan dalam memonitor atau menindaklanjuti pengobatan d. Lain-lain

1) Kegagalan dalam berkomunikasi

2) Faktor alat medis (tidak tersedia dan rusak) 3) Kegagalam sistem lainnya

3.6Penerapan Patient Safety Pada Neonatus

Menurut [CITATION Min18 \l 1057 ] penerapan patient safety pada neonatus yaitu :

a. Gunakan gelang pengenal di ekstremitas yang berbeda

b. Untuk bayi baru lahir yang masih belum diberi nama, data di gelng pengenal berisikan jenis kelamin bayi, nama ibu, tanggal dan jam lahir bayi, nomor rekam medis bayi dan modus kelahiran

c. Saat nama bayi sudah didaftarkan, gelang pengenal berisi data ibu dapat dilepas dan diganti dengan gelang pengenal yang berisikan data bayi

(17)

d. Gunakan gelang pengenal berwarna merah muda (pink) untuk bayi perempuan dan biru untuk bayi laki-laki

e. Pada kondisi di mana jenis kelamin bayi sulit ditentukan, gunakan gelang pengenal bewarna putih.

Menurut [ CITATION Chr18 \l 1057 ] terdapat salah satu penerapan safety patient pada perawatan bayi baru lahir yaitu menggunakan cara rooming in (rawat gabung), yaitu bayi dan ibu dirawat dalam satu ruangan agar ibu dapat dekat dan ikut merawat bayinya serta bayi dapat langsung mendapat ASI.

Pentingnya pemberian ASI bagi bayi tidak diragukan lagi, terlebih ASI yang pertama keluar yang disebut dengan colostrum, sehingga saat ini digalakkan metode inisiasi menyusu dini. Manfaat lain dari perawatan rooming in adalah menghindari terjadinya kasus-kasus bayi tertukar atau bahkan hilang yang akhir-akhir ini sering terjadi. Beberapa peneliti menyatakan bahwa rawat gabung juga dapat berefek pada terjadinya bounding (ikatan) antara ibu dan bayinya.

3.7Pembahasan Berdasarkan Kasus

Berkaca dari kasus di salah satu RS di kabupaen Bogor, ada dugaan kesalahan saat melakukan SOP patient safety terkait identifikasi pasien, dalam hal ini bayi Ibu S dan bayi ibu B. Petugas didapati lalai saat mengidentifikasi identitas bayi melalui gelang bayi, yang mencantumkan nama ibu, no RM, jenis kelamin sesuai paparan teori diatas. Dari pengakuan ibu S yang dilansir dari CNN, ada indikasi bahwa di RS tersebut tidak melakukan rawat gabung 24 jam. sehingga kemungkinan bayi untuk tertukar menjadi lebih besar.

terbukti bayi ibu S dan ibu B telah tertukar. dan butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan kasus ini.

Strategi dalam mengatasi masalah pada kasus tersebut yaitu dengan melakukan tes DNA, namun terdapat kendala dikarenakan Ibu B belum siap untuk melakukan tes DNA. Sehingga didapatkan hasil hanya pada Ibu S bahwa anak yang saat ini diasuh oleh Ibu S bukan merupakan anak

(18)

melakukan tes DNA tetapi Ibu B tetap belum bersedia. Selain itu pejabat Dinkes Bogor juga mencoba untuk membujuk Ibu B sehingga Ibu B mau untuk melakukan tes DNA. Pada tanggal 25 Agustus 2023, berdasarkan hasil tes DNA, Polres Bogor mengumumkan bahwa kedua bayi tersebut tertukar dari orang tua aslinya.

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan

Keselamatan Pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.

Pengaturan Keselamatan Pasien bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan fasilitas pelayanan kesehatan melalui penerapan manajemen risiko dalam seluruh aspek pelayanan yang disediakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Sasaran keselamatan pasien yaitu : Identifikasi pasien dengan benar, Peningkatan komunikasi efektif, Meningkatkan keamanan obat-obatan yag harus diwaspadai, Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar, Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, Mengurangi risiko cedera pasien akibat terjatuh.

4.2 Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan,untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan supaya menjadi lebih baiklagi dan semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi para pembaca

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Andi Muhammad Sofyan, Aris Munandar . (2021). ASPEK HUKUM PELAYANAN KESEHATAN, EUTANSIA, DAN ABORSI . Jakarta : Kencana.

Health, M. O. (2018). Policy & Procedure of Patient Identification\. No.

MoH/DGQAC/P&P/004/Vers.01.

INDONESIA, C. (2023, Agustus 12). Kronologi Bayi Tertukar Selama 11 Bulan di Bogor, Terkendala Tes DNA. Diambil kembali dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230812185158-20-

985330/kronologi-bayi-tertukar-selama-11-bulan-di-bogor-terkendala-tes- dna Diakses pada tanggal 28 Agustus pukul 11.00 WIB

INDONESIA, C. (2023, Agustus 27). Perjalanan Kasus Bayi Tertukar di Bogor hingga Akhirnya Selesai. Diambil kembali dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230827101821-20-

990992/perjalanan-kasus-bayi-tertukar-di-bogor-hingga-akhirnya-selesai Diakses pada tanggal 28 Agustus Pukul 11.30 WIB

Muhdar, Darmin, Tukatman, dkk. (2021). Manajemen Patient Safety . Klaten : Tahta Media Group.

Soetjaningsih, C. H. (2018). Seri Psikologi Perkembangan Sejak Pembuatan Sampai dengan Kanak-Kanak Akhir . Jakarta : KENCANA.

(20)

PMK RI. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan pasien 2017. Jakarta, Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang patient safety (keselamatan pasien) dengan kejadian pelanggaran patient

Keselamatan pasien rumah sakit adalah sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pelayanan kesehatan pasien lebih aman dan diharapkan dapat mencegah terjadinya cedera yang

J dalam hal ini menerapkan Enam tujuan penanganan  patient safety menurut (  Joint Commission International  ): mengidentifikasi pasien dengan benar, meningkatkan komunikasi secara

36 tahun 2009 yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patient safety) adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada pasien secara aman

Pada BAB 4 ini penulis akan melakukan pembahasan mengenai asuhan yang dilakukan dengan kesesuaian hasil asuhan dengan teori Asuhan kebidanan Komprehensif yang

Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu system yang membuat asuhan pasien di rumah sakit.. menjadi

Pendokumentasian Manajemen Kebidanan dengan Metode SOAP Menurut Thomas, adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan, pasien, keluarga pasien dan tim

tentang Layanan Klinis di UPTD Puskesmas Gandrungmangu I Referensi Permenkes RI Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien Permenkes RI Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan