Kelon Essensial Bedah
Bedah Plastik dan Ortopedi
Mediko made the med-easy!
Bedah Plastik
Dasar Bedah Plastik
Penutupan luka
Konsep umum penutupan defek kulit mengikuti skema anak tangga rekonstruksi dengan urutan : 1. Penyembuhan sekunder (membiarkan luka sembuh sendiri)
2. Penutupan sederhana dengan penjahitan langsung 3. Penutupan menggunakan skin graft
4. Transfer jaringan flap secara lokal, regional, hingga jauh
Bedah Plastik → tindakan bedah yang bertujuan mengobah dan memperbaiki bentuk
Faktor yang menentukan kualitas bekas jahitan pada kulit
• Lamanya benang jahit berada di tempat jahitan
• Tegangan jahitan
• Jenis benang
• Lokasinya pada tubuh
• Adanya infeksi
• Kecenderungan pembentukan keloid
• Benang jahit yang ada di bawah kulit
• Posisi pertemuan tepi luka
Skin Grafting • Tindakan memindahkan sebagian atau keseluruhan tebal kulit dari satu tempat ke tempat lain secara bebas
• Jaringan bergantung pada pertumbuhan pembuluh darah kapiler baru di jaringan penerima (resipien)
o Split thickness skin grafting → transplantasi kulit bebas terdiri dari epidermis dan sebagian tebal dermis
o Full thickness skin grafting → transplantasi kulit bebas terdiri dari epidermis dan seluruh tebal dermis, tanpa lapisan lemak di bawahnya
Indikasi • Penutupan luka secara primer tidak dapat ditentukan
• Jaringan sekitar luka tidak cukup baik (luas, kualitas, lokasi, dan tampilan) untuk dapat dipakai sebagai penutup luka
• Luka pasca eksisi tumor ganas yang tidak diyakini bebas tumor
Skin Flap • Pemindahan jaringan kulit dan jaringan lemak di bawahnya yang diangkat dari tempat asalnya untuk menutupi suatu defek dan mempunyai vaskularisasi sendiri
• Dipilih untuk menutup defek yang tidak bisa ditutup dengan penjahitan primer
• Flap dapat berupa → flap kulit, fasiokutan, muskulokutan, tulang
• Berdasarkan komposisi vaskularisasi
o Flap acak → mengandalkan kapiler pembuluh darah kecil dermis dan subdermis o Flap aksial → mengandung arteri pemasok nutrisi di dalamnya
Graft Flap
Limited to transplantation of skin Can carry other tissues Depend on recipient site of nutrition Has its own blood supply
Cosmetic – may discolor or contract Better color take and less likely to contract Less adaptable to weight bearing Most adaptable to weight bearing
Less able to survive on a bed with questionable nutrition Can be used on a bed with questionable nutrition Requires pressure dressing Does not require pressure dressing
Cannot bridge defect Can bridge defect
LUKA BAKAR
Kriteria Berat Ringan luka bakar (American Burn Association)
Luka Bakar Ringan Luka bakar derajat II <15%
Luka bakar derajat II <10% pada anak-anak Luka bakar derajat III <2%
Luka Bakar Sedang Luka bakar derajat II 15-25% dewasa Luka bakar derajat II 10-20% anak-anak Luka bakar derajat III <10%
Luka Bakar Berat Luka bakar derajat II >25% dewasa Luka bakar derajat II >20% anak-anak Luka bakar derajat III >10%
Luka bakar mengenai wajah, telinga, mata, dan genitalia/perineum
Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain
Tatalaksana Awal Luka Bakar
Kontrol airway
Nilai adanya sumbatan jalan nafas dan lakukan penaganan bila terdapat sumbatan jalan napas Menghentikan proses trauma bakar
• Segera tanggalkan pakaian untuk menghentikan proses trauma bakar
• Pakaian yang mengandung bahan kimia harus ditinggalkan secara hati-hati
• Permukaan tubuh yang terkena dicuci dengan air bersih dan selanjutnya pasien diselimuti kain hangat
Pemberian Cairan intravena
• Pasien dengan luka bakar >20% luas permukaan tubuh memerlukan resusitasi cairan
• Akses intravena dipasang pada daerah yang tidak terkena luka bakar
• Cairan dimulai dengna Ringer Laktat
Bila ada luka bakar melingkar pertimbangkan Escharectomy
Kategori Usia Cairan Urine Output Api Dewasa 2 ml/kg x %TBSA 0,5 ml/kg/jam
Anak < 14 th 3 ml/kg x %TBSA 1 ml/kg/jam Infant dan
anak < 30 kg
3 ml/kg x %TBSA 1 ml/kg/jam Trauma
elektrik
Usia
berapapun
4 ml/kg x %TBSA 1-1,5 ml/kg/jam sampai URINE BERSIH
Kontrol airway
2
Trauma Inhalasi
P aparan saluran napas terhadap suhu tinggi dan atau asap sisa pembakaran dapat menyebabkan edema jalan napas
Kapan curiga?
1. Riwayat terbakar di dalam ruang tertutup 2. Riwayat terpapar pada ledakan
3. Luka bakar mengenai muka 4. Bulu hidung dan alis terbakar
5. Dijumpai deposit karbon dan tanda radang akut daerah orofaring 6. Sputum mengandung karbon
Tatalaksana : Intubasi ET!
Prinsip penanganan lokal luka bakar
• Luka bakar derajat I dan II yang menyisakan elemen epitel kelenjar sebasea, kelenjar keringat, atau pangkal rambut → diharapkan dapat sembuh sendiri; perlu dilakukan pencegahan infeksi
• Luka dalam → buang jaringan kulit yang mati dan berikan obat topical yang daya tembusnya tinggi
Jenis obat topikal
• Silver Sulfadiazine → bakteriostatik
• Moist exposure burn ointment
• Antibiotik → sediaan kasa/tulle
• Antiseptik → povidon iodine atau nitras argent 0,5%
• Kompres nitras agent yang selalu dibasahi tiap 2 jam
Pasien luka bakar yang perlu dirujuk ke pusat luka bakar
• Luka bakar derajat II dan III >10% luas permukaan tubuh pada semua pasien luka bakar
• Luka bakar derajat II dan III yang mengenai wajah, mata, telinga, tangan, kaki, genitalia, atau perineum, atau yang mengenai kulit sendi utama
• Luka bakar derajat III tanpa melihat ukuran maupun usia pasien
• Luka bakar listrik termasuk tersambar petir
• Luka bakar kimia
• Trauma inhalasi
• Luka bakar pada penderita yang karena penyakit yang sedang dideritanya dapat mempersulit penanganan, memperpanjang pemulihan, atau dapat mengakibatkan kematian
• Luka bakar dengan cedera penyerta yang menambah resiko morbiditas dan mortalitas
Teknik Pembalutan Luka
Circular Turn
Teknik overlapping penuh pada setiap putaran balutan
Spiral turn
Teknik overlapping setengah lebar balutan pada setiap putaran yang dipasang secara ascending dari distal ke proksimal ekstremitas
Spiral reverse turn
Teknik pembalutan spiral turn yang dibalikkan arah putarannya pada setiap setengah putaran (digunakkan pada paha, tungkai bawah, lengan bawah)
Spica turn (figure of eight)
• Teknik balutan ascending dan descending pada setiap putaran
• Pada setiap putaran ascending dan descending selalu overlapping dan menyilang dari proksimal ke distal sehingga membentuk sudut
• Biasanya digunakan pada cedera bahu, panggul, pergelangan kaki
Teknik Pembalutan Kepala
Teknik Pembalutan lengan bawah dengan metode circular turn
Teknik Pembalutan lengan bawah dengan metode spiral
reverse turn
Teknik Pembalutan pada Siku/Lutut
Teknik Pembalutan pada bahu
dengan metode Figure of Eight
Teknik Pembalutan pada dorsal tangan
Teknik Pembalutan Pada Jari
Teknik Pembalutan pada Kaki
Bedah Plastik : Le-Fort Fracture
Le fort 1 : floating jaw Le fort 2 : floating maxilla
Le fort 3 : floating face BARTON FIXATION
DIPAKAI PADA FRAKTUR MAXILLOMANDIBULAR
Tukak
Tukak Dekubitus
• Akibat penekanan yang lama pada kulit (kondisi koma, sakit berat)
• Jaringan lunak yang tertekan akan mengalami iskemia berkepanjangan
• Daerah rentan → sacrum, calcaneus, occiput
• Pencegahan → mengubah posisi tiap 2 jam untuk mengembalikan aliran darah dan penggunaan bantalan lunak
• Tatalaksana → debridemen
Kadar glukosa tinggi menyebabkan rusaknya dinding pembuluh darah, penurunan aliran darah, neuropati perifer, kurangnya asupan nutrisi dan oksigen pada jaringan tubuh
Ulkus Gangren
Tukak Diabetes
Klasifikasi
Tatalaksana
Kontrol infeksi
Antibiotik spectrum luas (ciprofloxacin) + anaerob (metronidazole)
Kontrol luka
• Evakuasi jaringan nekrotik/pus secepat mungkin
• Menutup luka dengan balutan lembab Kontrol mekanik
Mengistirahatkan kaki, menghindari tekanan pada kaki yang luka
Nekrotomi/debridement
• Ada kerusakan jaringan + pus pada luka terinfeksi
• Ada debris + jaringan nekrotik
Indikasi Amputasi
• Nekrotik luas, gas gangrene
• Ulkus berulang
• Tidak ada perbaikan dengan obat antiibiotik adekuat
• Gagal revaskularisasi
• Deformitas anatomis berat
DX Histologic
Ganglion cyst
• Cyst which consist of condensed clear fluid
• Thin tissue wall
• Originated from synovial membrane/tendon sheath
DX Histologic
Lipoma Soft mass,
pseudofluctuant with a slippery edge
Atherom cyst a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes blocked. Skin Color is
usually normal, and there is a punctum (comedo, blackhead) on the dome
Kista
Teknik Eksisi Lipoma
Alat dan Bahan
Lidocaine, disposable syringe, povidone iodine, kasa steril, scalpel dan bisturi no. 11, needle holder, jarum dan benang jahit, hemostat bengkok, gunting perban, perban
Prosedur
1.Disinfeksi daerah lipoma dan sekitarnya
2.Lakukan anestesi lokal → lalu insisi pada lipoma
3.Gunakan hemostat untuk melepaskan perlekatan dengan jaringan sekitarnya
4.Keluarkan massa lipoma
5.Lakukan penjahitan pada luka bekas insisi 6.Tutup dengan kasa steril dan perban
Teknik Eksisi Kista Epidermoid
• Alat dan prosedur pada umumnya sama dengan teknik eksisi lipoma
• Yang dikeluarkan adalah kista beserta kantongnya
• Hindari melakukan insisi langsung ke dalam kista dan membuat kista ruptur
Teknik Insisi dan Drainase Abses
Alat dan Bahan Lidocaine, disposable syringe, povidone iodine, kasa steril, scalpel dan bisturi no. 11, hemostat bengkok, gunting perban, perban
Prosedur
1.Disinfeksi daerah abses dan sekitarnya
2.Lakukan anestesi pada daerah sekeliling abses
3.Lakukan insisi puncak abses dan biarkan pus mengalir keluar
4.Beri tekanan pada sekeliling abses untuk mengeluarkan lebih banyak pus
5.Pasang drain pada kavitas abses dan biarkan ujung drain menonjol keluar dari luka untuk drainase pus
6.Beri antibiotic ointment pada sekeliling luka untuk mencegah drain melengket pada kasa diatasnya
7.Tutup luka dengan kasa steril untuk menampung pus yang keluar
Hiperplasia
Kalus
• Penebalan kulit berupa hyperkeratosis setempat akibat trauma ringan kronik
• Timbul pada kulit diatas tonjolan tulang
• Bila trauma kronik dihentikan → kalus akan hilang Klavus
• Kalus di plantar pedis atau plantar jari kaki yang tumbuh ke dalam
• Terdapat puncah keratinisasi menuju ke dalam pada tengah klavus
• Tatalaksana → eksisi
Kalus
Klavus
Jaringan Parut
Keloid
• Kelainan kulit akibat deposisi kolagen berlebihan selama proses proliferasi penyembuhan luka
• Parut tumbuh ke atas dan lateral melampaui batas luka
• Tatalaksana → eksisi jaringan parut
Parut Hipertrofik
• Jaringan parut berlebih akibat penyimpangan penyembuha luka
• Tampak sebagai penebalan jaringan berwarna kemerahan,
tertutup epitel tipis, terbatas di daerah luka
Labioskizis
Sumbing
Celah pada bibir, kegagalan fusi prosesus nares medialis dengan prosesus maksilaris Klasifikasi
Incomplete
Complete
Garis sumbing tidak mencapai dasar lubang hidung; dasar lubang hidung harus intak (Simonart’s band)
Melibatkan seluruh ketebalan biir dan prosesus alveolaris (palatum primer); meluas menuju dasar lubang hidung
Unilateral/bilateral
Tatalaksana Labioplasti dengan teknik Millard
Rule of 10
• Usia minimal 10 minggu
• Berat badan minimal 10 pon (5 kg)
• Kadar Hb 10 g/dl
• Leukosit <10 rb
Palatoskizis Celah pada palatum
• Terdapat hubungan antara rongga mulut dan hidung → pasien sering tersedang saat minum dan suara sengau
• Koreksi → Palatoplasti; sebelum anak mulai bicara
Labiopalatoskizis Celah pada bibir dan palatum
Tatalaksana
• Cheiloraphy (operasi bibir) → syarat rule of 10
• Palatoraphy (operasi palatum) → anak usia 10-12 bulan Memberi kesempatan soft palate untuk mengalami penyembuhan jaringan pasca operasi → pasien bisa dilakukan speech therapy
• Bila setelah speech therapy masih sengau → Pharyngoplasty (mengecilkan suara nasal) pada usia 5-6 tahun
Skenario Kasus
Kasus 1
• Wanita 35 tahun, dibawa ke IGD RS A karena dibakar oleh suaminya di bagian dada dan perut 30 menit yang lalu karena cemburu.
• Dari pemeriksaan fisik didapatkan BB: 50kg
• TD = 110/70mmHg, Nadi:98 x/menit, S:36.9OC , RR: 20x/m.
• Pemeriksaan status lokalis: luka bakar pada perut dan dada, luka
kemerahan dengan bulae (+).
Diskusi Kasus
a. Hubungan anamnesis dan pemeriksaan fisik thd kemungkinan kasus pasien
b. Diagnosis ( derajat dan luas ) c. Tatalaksana
d. Komplikasi apa yang mungkin terjadi
Kasus 2
• Seorang pria 37 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan muncul benjolan pada tangan kanannya sejak 1 bulan lalu.
Benjolan tidak nyeri dan tidak gatal.
• TTV dalam batas normal
• Pemeriksaan didapatkan nodul
dermis mobile dengan jaringan
bawah kulit dan memiliki
punctum ditengah lesi.
Diskusi Kasus
a. Hubungan anamnesis dan pemeriksaan fisik thd kemungkinan kasus pasien
b. Diagnosis dan Diagnosis banding
c. Tatalaksana
Bedah Ortopedi
Fraktur
Hilangnya kontinuitas tulang akibat trauma, stress berulang, kelainan pada tulang (fraktur patologis) Mekanisme Fraktur
Rotasi/Twisting Compression Bending Tension
Fraktur Spiral Fraktur
Oblique
Fraktur Butterfly
Fraktur Transversal
Berdasarkan Garis Fraktur
Fraktur komplit Garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang Fraktur inkomplit Garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang (hanya 1 sisi korteks) →
hairline fracture, greenstick fracture, buckle fracture Berdasarkan bentuk garis Fraktur
Berdasarkan ada tidaknya pergeseran
Fraktur displaced Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur (dislokasi fragmen) Fraktur undisplaced Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser
Fraktur Terbuka
Terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar/permukaan kulit Derajat Fraktur Terbuka menurut Gustilo and Anderson
Laserasi <1 cm, kerusakan jaringan tidak berarti, luka relative bersih, tidak ada fraktur kominutif
Derajat I
Laserasi >1 cm, tidak ada kerusakan jaringan yang hebat/avulsi, ada kontaminasi Derajat II
Luka lebar dan rusak hebat, atau hilangnya jaringan di sekitarnya, terdapat kontaminasi hebat
• Derajat IIIA → tulang yang fraktur masih ditutupi jaringan lunak
• Derajat IIIB → terdapat periosteal stripping yang luas dan penutupan luka dilakukan dengan flap lokal atau flap jauh
• Derajat IIIC → fraktur disertai kerusakan pembuluh darah, tidak teraba pulsasi arteri distal
Derajat III
Pembuatan Diagnosis Fraktur 1. Open/Close
2. Nama tulang
3. Sebelah kanan/kiri
4. Bagian tulang sebelah mana (1/3 medial, anterior, dll) 5. Jenis (comminuted, dll)
6. Displaced/undisplaced
7. Grade
Prinsip Penanganan Fraktur
Recognize Mengenali kerusakan apa saja yang terjadi baik pada jaringan lunak maupun tulang, dan mengetahui mekanisme trauma
• Ada riwayat trauma
• Rasa nyeri dan bengkak pada bagian tulang yang patah
• Deformitas (angulasi, rotasi, diskrepansi)
• Nyeri tekan, krepitasi
• Gangguan fungsi musculoskeletal akibat nyeri
• Putusnya kontinuitas tulang
• Gangguan neurovaskular
• Two views → mencakup 2 view yaitu AP dan lateral view
• Two joints → meliputi sendi yang berada di atas dan bawah daerah fraktur
• Two limbs → diperlukan foto dari ekstremitas yang normal
• Two injuries
• Two occasions → terdapat beberapa jenis fraktur yang sulit dinilai segera setelah trauma, sehingga dibutuhkan pemeriksaa x-foto 1-2 minggu setelahnya Manifestasi Klinis Prinsip pemeriksaan radiologi
Look
Warna dan perfusi ekstremitas, keadaan luka (terbuka/tertutup), ada tidaknya kontaminasi, deformitas (angulasi/pemendekan), pembengkakan, perubahan warna/memar, perdarahan eksternal yang aktif
Feel
• Menilai suhu, nyeri tekan, fungsi sensorik, pulsasi arteri dan capillary refill time
• Lakukan log roll → palpasi untuk menentukan adanya laserasi, jarak yang melebar antara prosesus spinosus, hematoma, defek bagian belakang pelvis
Move
• Menilai pergerakan aktif, pergerakan pasif, range of motion
• Pada pasien fraktur gerakan akan terbatas karena nyeri
Pemeriksaan Saraf Perifer Ekstremitas Superior
Pemeriksaan Saraf Perifer Ekstremitas Inferior
Reduction Bertujuan untuk memberikan aposisi yang adekuat dan alignment yang normal dari fragmen tulang
• Bila pergeseran sedikit/tidak ada
• Pergeseran tidak berarti
• Reduksi tampak tidak akan berhasil (fraktur kompresi vertebra)
Redukti Tertutup Reduksi Terbuka
Fraktur dengan pergeseran minimal Reposisi tertutup gagal → dapat disebabkan kesulitan dalam mengontrol fragmen tulang atau akibat jaringan tulang yang terselip di antaranya
Fraktur pada anak Terdapat fragmen tulang articular yang memerlukan posisi reposisi yang akurat
Fraktur yang stabil setelah reduksi dan diretensi dengan splint & cast
Untuk memasang fraksi pada tulang fraktur Kondisi tidak perlu dilakukan reduksi
Reduksi tertutup
Retaining Mempertahankan hasil reposisi dengan fiksasi (imobilisasi)
• Traksi diaplikasikan pada ekstremitas distal dari daerah fraktur, sehingga menimbulkan tarikan terus menerus
• Dilakukan pada patah tulang femur Continuous Traction
Digunakan setelah fraktur menyatu (mengalami union) yaitu 3-6 minggu setelah pemaiakan gips/traksi
Cast Splintage/Gips Functional Bracing
Fiksasi Internal/Eksternal
Continuous Traction Gips
Functional
Bracing Fiksasi Internal
Fiksasi Eksternal
Teknik Melakukan Pembidaian
Alat Kayu/spalk (panjang kayu harus sama dengan panjang daerah yang akan di bidai), kasa gulung/perban elastis
Prosedur
1. Periksa ada tidaknya gangguan neurovaskuler bagian distal daerah yang cedera
2. Stabilisasi manual pada tungkai yang mengalami cedera dengan gentle inline traction (traksi perlahan hingga alignment tulang lurus)
3. Memberi padding (bantalan) pada tulang-tulang menonjol untuk mencegah ulkus decubitus
4. Pemasangan bidai dilakukan melewati sendi proksimal dan distal dari tulang yang patah
→ fiksasi dengan verban gulung atau verban elastis dengan metode roll on 5. Elevasi tungkai yang telah tepasang bidai
6. Lakukan pemeriksaan neurovaskuler kembali
Rehabilitasi Tujuan
• Mengurangi edema pada ekstremitas → dilakukan dengan cara elevasi ekstremitas dan memulai pergerakan aktif segera setelah keadaan memungkinkan
Pergerakan aktif bermanfaat untuk mengurangi edema, stimulasi sirkulasi, mencegah perlekatan jaringan lunak, dan membantu proses penyembuhan fraktur
• Memelihara gerak sendi
• Melatih kekuatan otot
• Melatih pasien agar dapat aktivitas kembali seperti normal
Fraktur Clavicula
Gejala Klinis
• Riwayat trauma terjatuh dengan tangan terulur atau trauma dengan arah gaya dari sisi lateral bahu
• Nyeri bahu
• Fraktur fragmen medial →
sternocelidomastoideus menarik fragmen medial secara posterosuperior
• Fraktur fragmen lateral → otot pectoralis dan berat tangan menarik fragmen lateral secara inferomedial
• Gambaran floating shoulder pada fraktur clavicula 1/3 lateral
Klasifikasi
Pemeriksaan Penunjang
Sisi medial fraktur tertarik ke atas dan sisi lateral tertarik ke
bawah
X-Foto Polos Bahu AP
Tatalaksana
Imobilisasi dengan teknik figure of 8 atau arm sling Durasi : 2-4 minggu dan penguatan 8-10 minggu Indikasi
• Fraktur stabil
• Fraktur klavikula distal pada anak-anak (tulang masih imatur)
• Fraktur hair line/stress fracture → garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang
ORIF (Open Reduction Internal Fixation
)
Indikasi absolut
• Fraktur terbuka/impending terbuka
• Cedera arteri atau vena subclavia
• Floating shoulder
Indikasi relatif
• Pola fraktur tidak stabil
• Cedera plexus brachialis
• Cedera kepala tertutup
• Kejang
• Politrauma
• Digunakan untuk imobilisasi pada kasus cedera bahu, lengan atas, dan lengan bawah
• Menggunakan balutan segitiga berukuran 50- 100 cm terbuat dari katun
1. Melakukan pemeriksaan neurovaskuler distal 2. Memposisikan esktremitas atas pada posisi
adduksi dan rotasi interna sendi bahu, sendi siko fleksi 90 derajat
3. Pemasangan mitella dengan sisi runcing ke arah sendi siku, dan dua sisi runcing lainnya diikatkan ke samping leher
4. Bagian akral diusahakan tidak ditutup mitella 5. Periksa kembali neurovaskuler distal
Teknik Memasang Arm Sling/Mitella
Fraktur Forearm
Monteggia Galeazzi
Fraktur Proksimal Ulna Distal Radius
Dislokasi Caput Radius (Proksimal) Distal sendi radio-ulnar
Mekanisme trauma Jatuh dalam posisi ronasi forearm Jatuh dalam posisi fleksi siku
Tatalaksana ORIF Reduksi terbuka (dewasa)
Reduksi tertutup (anak-anak)
Monteggia Galeazzi
Colles Smith
Fraktur Distal radius
Displace Ke arah posterior Ke arah anterior
Angulasi Dorsal Ventral/palmar
Colles Smith
Pemeriksaan Penunjang
X-Foto Polos
• Transverse/short oblique fracture pada 1/3 distal os radius dengan angulasi
• Pelebaran ruang distal-radio-ulnar-joint pada radiografi antero- posterior
Tatalaksana
• Open fracture → stabilisasi os radius dan distal-radio-ulnar-joint
• Pada anak-anak → close reduction dan casting (tulang masih imatur)
• Pada dewasa → harus dilakukan ORIF
Fraktur Pada Anak
Fraktur Lempeng Epifisis
Fraktur Greenstick
• Fraktur inkomplit, akibat trauma bending pada tulang anak
• Ditandai dengan adanya sisi korteks dan periosteum yang tetap intak, pada sisi lainnya terjadi disrupsi
Fraktur Torus/Buckle
• Dijumpai pada metafisis yang disertai kompresi sepanjang sumbu aksis tulang
• Korteks kolaps, periosteum intak; pada sisi lain korteks bengkok menjauhi growth plate
Fraktur Greenstick
Fraktur Torus/Buckle
Penyembuhan Tulang
Direk/Primer
•
Membutuhkan fiksasi internal dan kontak korteks yang erat
→stabilitas absolut
•
Formasi callus minimal
•
Tidak boleh ada celah fraktur
•
Kompresi interfragmen
→meminimalisir gerakan pada lokasi fraktur
•
Bergantung pada
remodeling haversiandengan pembentukan tulang oleh osteosit (cutting cones)
•
Syarat remodeling Haversian
oPelaksanaan reduksi tepat
oFiksasi stabil
o
Eksistensi supply darah cukup
Indirek/Sekunder
•
Fase Reaktif
o
Fase hematom dan inflamasi
oPembentukan jaringan
granulasi
•
Fase reparative
o
Pembentukan callus
o
Pembentukan tulang lamellar
•
Fase remodelling
Jenis Penyembuhan Tulang
Union •
Stabilitas mekanik tulang kembali normal
•
Tidak ada nyeri pada lokasi fraktur
•
Pada radiologi tampak 3 dari 4 korteks dengan
bridging callusDelayed Union
Fraktur belum tersambung dalam waktu 3 bulan, callus bertambah secara progresif
Non- Union •
Tidak ada perkembangan secara klinis maupun radiologis dalam 3 bulan berturut-turut
• Pseudoarthrosis (+) →
pembentukan jaringan fibrosis pada lokasi fraktur
Malunion
Kegagalan fiksasi tulang (neglected, kegagalan pembedahan)
Dislokasi dan Subluksasi
Permukaan sendi mengalami perpindahan (displacement) total dan tidak ada kontak sama sekali
Dislokasi
Permukaan sendi mengalami perpindahan, masih ada kontak antar permukaan sendi
Subluksasi
Dislokasi Bahu
Dislokasi bahu terjadi bila os humerus terlepas dari scapula pada sendi glenohumeral Gejala Klinis
• Sendi bahu tidak dapat digerakkan
• Pasien menyangga tangan yang sakit dengan tangan yang lain
• Pasien tidak bisa memegang bahu yang berlawanan
• Kontur bahu hilang
• Bonggol sendi tidak teraba pada tempatnya
Klasifikasi
• lengan ditahan saat abduksi dan sedikit rotasi eksternal (abduksi lebih tampak dengan dislokasi subglenoid)
• Pasien tidak dapat aduksi atau memutar bahu secara internal
Dislokasi Anterior
Dislokasi Posterior
• lengan dipegang dalam posisi sling dengan adduksi dan rotasi internal
• Abduksi dan rotasi eksternal menyebabkan rasa sakit yang luar bias
Normal Dislokasi Anterior
Dislokasi Posterior
Pemeriksaan Penunjang
Dislokasi Anterior Dislokasi Posterior
X-Foto Polos
Subluksasi Caput Radius
•
Mekanisme
→ penarikan atau mengayunkan anak•
Predileksi anak usia 0-7 tahun karena jaringan penyokong sendi masih belum sempurna
Pemeriksaan Fisik
Pronasi dan fleksi antebrachiiGambaran radiologis
Tatalaksana
Topang siku dengan tangan
Supinasi antebrachii, memberikan tekanan pada kepala radius dengan jempol
Lakukan fleksi antebrachii
Dislokasi Sendi Panggul
• Disebabkan high energy trauma
• Caput femoralis rentan terhadap avascular nekrosis → karena vaskularisasi hanya berasal dari arteri femoralis circumflex
Dislokasi panggul posterior
• Berhubungan dengan cedera n. sciatik dan avascular necrosis
• Kaki tampak adduksi, internal rotasi, sedikit fleksi
Dislokasi panggul anterior
• Berhubungan dengan cedera n.
obturator
• Kaki tampak abduksi, eksternal rotasi, sedikit fleksi
Gambaran Klinis Pemeriksaan Penunjang
X-Foto Polos Pelvis AP dan Frog lateral
Dislokasi panggul anterior
Dislokasi panggul posterior
Tatalaksana
Golden period <6 jam
• Reduksi tutup (dalam sedasi)
• Reduksi terbuka (jika gagal reduksi tertutup atau terdapat incarserated intra-articular fragment)
• ORIF
Sindroma Kompartemen
• Sirkulasi dalam suatu kompartemen tertutup terancam gagal akibat peningkatan tekanan
→ dapat menyebabkan nekrosis otot, saraf, dan kulit akibat pembengkakan
• Bila sindom kompartemen tidak tertangani → jaringan otot dan saraf yang iskemik diganti dengan jaringan fibrosa (Volkmann contracture)
Etiologi
Crush injury, fraktur tertutup, luka bakar,
gigitan ular, injeksi obat/agen sclerosis
intraarteri
Manifestasi Klinis
• Nyeri
(disproportionate pain), dapat refrakter terhadap pemberian analgesic, reduksi, maupun imobilisasi
•
Predileksi
→ekstremitas atas dan bawah
•
Gangguan sensorik, paresthesia, edema ekstremitas distal
•
Ekstemitas tegang, bengkak
•
Pengukuran tekanan jaringan kompartemen
>20-30 mmHgdiatas tekanan diastolik
Pain – Pulse - Pallor – Paresthesia - Paralysis Tanda Khas!
Wick Catheter
(mengukur tekanan kompartemen)
Indikasi Fasciotomi Tatalaksana → Fasciotomi
• Nyeri dengan gerakan pasif otot
• Paresis atau paresthesies yang merujuk ke kompartemen yang sama
• ICP – tekanan darah <40 mmgHg
• ICP - tekanan darah diastolik <10 mmHg
Osteomielitis
• Peradangan pada tulang
• Etiologi
o Penjalaran langsung dari infeksi jaringan lunak (pada dewasa) o Penyebaran hematogen (pada anak atau IV drug user)
Patogen
Staphylococcus aureus, Salmonela typhi, Pseudomonas, Staphylococcus EpidermidisManifestasi Akut
Kronik
letargi, nyeri, akut, eritema, nyeri tekan, gangguan ROM Tanda patognomonik → sinus tract
Sinus Tract
Pemeriksaan Penunjang X-Foto
Osteomyelitis Akut Reaksi Periosteal
Osteomyelitis Subakut
Broddie Absces Osteomyelitis Kronis Sequestrum Nekrosis segmen tulang
Involucrum Terbentuknya formasi tulang baru
Pemeriksaan Penunjang MRI → Gold Standard
Dapat melihat struktur tulang, sumsum, jaringan CT Scan • Pilihan terbaik ke 2 setelah MRI
• Pada fase kronik lebih baik daripada MRI
Tatalaksana
• IV antibiotic sesuai kultur
• Sebelum dilakukan kultur dapat diberikan antibiotic broad spectrum
o Clindamycin 600 mg IV tiap 6 jam (anaerob)
o Vancomycin 1 gr IV tiap 12 jam (MRSA)
Indikasi operasi
• Kegagalan terapi antibiotic
• Surgical hardware yang terinfeksi
• Osteomyelitis kronis dengan nekrosis tulang dan jaringan lunak
Tumor Tulang
Tumor Jinak - Osteoid Osteoma
• Tumor tulang jinak, tersering usia 10-30 tahun, laki-laki lebih banyak
• Predileksi → femur, tibia, humerus, tangan dan kaki
Manifestasi Klinis Nyeri berat membaik dengan NSAID, nyeri terlokalisir, tajam, memberat pada malam hari
Pemeriksaan Penunjang X-Foto Polos
Gambaran central nidus radiolusen (< 2 cm), dikelilingi reaksi sklerotik di tepinya
Tatalaksana
Eksisi nidus (CT guided radiofrequency ablation)
Gold standard → histopatologi
Osteokondroma
• Tumor anak-anak yang tumbuh di sekitar lempeng pertumbuhan → seiring pertumbuhan dapat bergeser ke metafisis bahkan diafisis tulang
• Gambaran radiologi → tumor menonjol dan
bertangkai (pedunculated mushroom)
Giant Cell Tumor
•
Tumor terletak eksentrik pada daerah epifisis tulang, biasanya mengenai pasien >20 tahun
•
Dapat merusak korteks tulang dan tembus ke jaringan lunak
•
Tumor tumbuh aktif, agresif, cepat membesar
•
Gambarna radiologi
→ osteolitik dengan tepi tegas (soap bubble appearance)Displasia Fibrosa
•
Tumor jinak tulang dimana jaringan medulla diganti jaringan fibrosa
•
Umumnya menyerang remaja laki-laki
•
Lokasi terseing
→costa, ekstremitas bawah dan atas
•
Gambaran radiologi
→ lesi kistik dengan batas sklerotik disertai pembengkakan tulangGiant Cell Tumor
Displasia
Fibrosa
Tumor Ganas - Osteosarkoma
• Tumor ganas tulang primer, terbanyak pada usia 10-30 tahun
• Predileksi : distal femur, proksimal tibia Gejala Klinis
• Nyeri tulang, lebih terasa pada malam hari/setelah aktivitas
• Bengkak, kemerahan, teraba hangat
• Demam, cepat lelah, penurunan berat badan
Pemeriksaan Penunjang
• Dapat memperlihatkan detil lesi dan mendeteksi matriks ossifikasi minimal
• Mendeteksi metastasis paru
• Sebagai alat tuntunan biopsy tulang
Sunburst appearance Codman triangle X-Foto Polos
CT Scan
• Evaluasi ekstensi local tumor
• Menilai perluasan massa ke intramedular, ke jaringan lunak, intraartikular, dan keterlibatan sturktur neurovaskular
MRI
Dengan biopsy jarum halus (FNAB) atau core biopsy bila FNAB inkonklusif
Biopsi
Kondrosarkoma
• Tumor ganas kartilago hyalin
• Banyak pada usia > 40 tahun
• Mngenai area medulla, meluas ke korteks
• Predileksi : tulang panjang tubuler (femur, tibia, humerus), tulang aksial (os ilium, os ischium, os pubis)
Pemeriksaan Penunjang
X-Foto Polos
Kalsifikasi intramedular menyerupai popcorn
Sarkoma Ewing
•
Keganasan tulang terbanyak pasien usia 10-20 tahun
•
Predileksi : metafisis tulang panjang dan tulang pipih pada bahu dan
pelvic girdlesGejala Klinis
•
Nyeri ringan hilang timbul, membaik dengan analgesic
•
Demam, bengkak, eritema
Pemeriksaan Penunjang
•
Peningkatan LED, CRP, leukositosis
•
Pemeriksaan X-Foto Polos
X-Foto Polos
Lesi destruktif (moth eaten appearance) dikelilingi
reaksi periosteal (onion skin appearance)
Osteoid Osteoma Penebalan korteks dengan area radiolusen (nidus) Osteokondroma Pedunculated mushroom
Giant Cell Tumor Soap bubble appearance Osteosarkoma Sunburst, codmann triangle Kondrosarkoma Popcorn appearance
Sarkoma Ewing Onion skin
Gambaran Radiologi
Skenario Kasus
Kasus 1
• Anamnesis: Tn. M usia 28 tahun datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan nyeri pada lutut kiri. Keluhan disertai dengan kesulitan berjalan dan bengkak. Sebelumnya, pasien sempat terpeleset saat bermain bola.
• Pada pemeriksaan fisik, didapatkan TTV dalam batas normal.
• Status lokalis didapatkan edema lutut kiri, anterior drawer test (+),
varus stress test (-), valgus stress test (-), lachman test (+),
McMurray test (-), posterior sag sign (-), posterior drawer sign (-)
Diskusi Kasus
a. Hubungan anamnesis dan pemeriksaan fisik thd kemungkinan kasus pasien
b. Pemeriksaan Penunjang
c. Diagnosis dan Diagnosis banding
d. Tatalaksana
Kasus 2
• Anamnesis: Seorang wanita usia 44 tahun jatuh dari sepeda motor dan menapak dengan telapak tangan kanan. Pergelangan tangan kanan terasa nyeri dan bengkak.
• Pemeriksaan Fisik:
• TTV dalam batas normal
• Look: Pergelangan tangan bengkak, angulasi kedorsal
• Feel: Nyeri tekan +, Nyeri Sumbu +, Krepitasi +
• Move: ROM terbatas karena nyeri.
Diskusi Kasus
a. Hubungan anamnesis dan pemeriksaan fisik thd kemungkinan kasus pasien
b. Pemeriksaan Penunjang? Apa yang diharapkan?
c. Sebutkan syarat foto fraktur yang baik!
d. Diagnosis dan Diagnosis banding
e. Tatalaksana